27 Maret 2023

Fortuna Fortis Adiuvat

 


Orang Romawi kuno bilang, "Fortuna Fortis Adiuvat." Keberuntungan berpihak kepada orang yang berani.

Kalimat itu terdengar gagah, penuh semangat, dan cocok dicetak besar di poster motivasi. Tapi sepertinya mereka tidak pernah mengalami betapa menyesakkannya hidup ketika tagihan rumah sakit datang bertubi-tubi, sampai sempat lupa cara bernapas. Atau duduk di depan dokter yang wajahnya tetap datar saat ia berkata, "Ini kanker stadium tiga."

Keberanian saya selama ini paling banter cuma parkir di tempat terlarang—itu pun sambil deg-degan, takut ketahuan polisi. Tapi hidup, seperti biasa, senang memberi kejutan level dewa. Sejak istri saya didiagnosis kanker, hidup kami seperti naik roller coaster, terguncang keras dan naik turun tanpa tahu kapan akan berhenti.

Dari sanalah saya belajar, ternyata fortuna, Dewi Keberuntungan, juga bisa datang kepada orang yang nekat jalan terus meskipun dengan jantung empot-empotan dan nyali tinggal kulitnya saja. Mungkin, tindakan nekad semacam itu, meski penuh gemetar dan ragu, justru merupakan wujud dari keberanian yang sesungguhnya. Keberanian yang diam-diam bertahan di tengah badai.

Entahlah.

Realitanya, sekalipun dengan pikiran kacau dan jantung gedebugan, saya tetap bisa melewati hari-hari yang sulit dan menakutkan dengan berbagai cara yang lebih mirip nasib mujur ketimbang hasil dari rencana matang. Tapi mungkin, kebetulan itu juga cara Tuhan menunjukkan bahwa kita tidak sendirian.

Kata orang, keberanian itu privilege anak muda yang yang masih punya energi untuk lari dari debt collector, atau petualang yang mendaki gunung sambil tersenyum. Ternyata, keberanian versi lansia 60-an seperti saya justru unik. Meskipun terpaksa dan sambil nyaris jantungan, ternyata saya tetap bisa melangkah, melewati banyak tantangan yang sebenarnya membutuhkan nyali besar untuk menghadapinya.

Hidup Tidak Adil, Tapi Bukan Alasan untuk Berhenti

Hidup ini seperti permainan catur di mana kita cuma punya pion dan raja—sementara lawan punya seluruh pasukan. Aturannya tidak jelas, kadang licik, dan seringkali terasa kejam. Tapi satu hal yang saya pelajari: berani bukan soal menang.

Berani adalah ketika saya tahu, peluang tipis, tapi tetap memilih bertahan.
Berani adalah ketika saya menangis di kamar mandi, lalu keluar dengan wajah tenang. Berani adalah percaya bahwa setiap langkah, betapapun goyahnya, masih berarti.

Saya tidak berharap hidup tiba-tiba cerah seperti iklan skincare. Tapi saya percaya, selama saya masih bergerak—meski sambil gemetar—akan selalu ada pintu yang terbuka, sekecil apa pun. Mungkin Fortuna tidak datang dengan hadiah besar, tapi cukup dengan angin segar yang mengingatkan: "Kamu tidak sendirian."

Untuk Anda yang Juga Merasa Kalah

Jika hari ini Anda merasa seperti pion terakhir di papan catur, ingat ini:

  • Hidup tidak adil, tapi bukan akhir cerita. Kebahagiaan bisa datang dari hal-hal kecil yang luput dari perhitungan.
  • Keberanian itu tidak selalu gagah. Kadang ia hanya bisikan, "Coba lagi besok."
  • Tidak perlu jadi pahlawan. Cukup jadi diri sendiri yang tetap bangun, meski dunia terasa berat.


LABEL: JEJAK WAKTU

25 Maret 2023

Ketika Surat Cinta Lebih Sangar Ketimbang Debt Collector


Barangkali lantaran wajah saya lebih sering terlihat kusut, dokter menduga gangguan kesehatan yang saya alami disebabkan oleh beban pikiran, sehingga dokter menyarankan supaya saya konsul ke psikolog.

Meskipun saya merasa bisa mengatasi gejolak pikiran, tapi sejujurnya, memang banyak yang saya pikirkan dan banyak yang membuat saya kuwatir. Saya tahu, berlagak tidak cemas sama buruknya dengan membiarkan ketakutan menguasai pikiran. Masalahnya, saya tidak tahu harus bagaimana, selain berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu yang membuat saya cemas belum tentu akan terjadi.

Setelah pandemi usai, dan aktifitas mulai normal kembali, pelan-pelan saya mulai sadar, saat menghadapi masalah, otak saya ternyata lebih santai. Barangkali, beban pikiran yang numpuk selama pandemi, memaksa otak membuat penyesuaian, dan berujung menjadi lebih santai. Hanya kadang-kadang saja masih kambuh cemas.

Jadi agak aneh, kenapa ketika saya mulai merasa pikiran saya baik-baik saja, justru dokter menyarankan konsultasi ke psikolog?

Terlalu banyak menerima perhatian dan dibantu justru membuat saya cenderung jadi cengeng. Saya merasa lebih tegar justru ketika harus sendiri menghadapi kesulitan. Tanpa dibantu oleh  siapapun..

Memang, psikolog punya metode khusus, bukan sekadar memberi nasihat. Tapi tetap saja, saya sempat kuwatir… (Nah kan, malah jadi kuwatir lagi).

Sudahlah, saya memilih pasrah saja. Apapun yang terjadi, akan saya lakoni sendiri. (Meski sebenarnya saya tahu, tidak beneran sendiri. Ada Tuhan). Alam semesta memberi saya cukup bekal, tidak ada alasan untuk membiarkan diri takluk pada bayang-bayang ketakutan yang diciptakan oleh pikiran.

Ketika pertama kali saya menolak saran dokter, beliau masih sabar. Tapi penolakan kedua membuat nada bicaranya berubah. Dengan suara pelan tapi menekan, dokter berkata bahwa saya benar-benar membutuhkan bantuan psikolog. Menurutnya, siapa pun yang melihat saya saat itu, bisa langsung tahu bahwa saya sedang memikul beban berat.

Saya tidak membantah. Bahkan saya setuju. Sekitar lima minggu belakangan saya memang menghadapi masalah cukup serius. Lumayan menguras energi, fisik maupun mental. Terutama karena melibatkan pihak ketiga sebagai biang keroknya. Tapi, sepusing apapun, saya sangat yakin, bantuan psikolog tidak akan berarti apa-apa. Untuk yang satu ini saya benar-benar tidak butuh diberi nasehat, tidak butuh diberi peneguhan mental, juga tidak butuh support dari siapapun.

Disaat saya sedang bingung mencari cara untuk memberi pengertian pada dokter, telepon seluler saya berdering. Biasanya, ketika sedang bersama orang lain, saya tidak pernah menerima panggilan, tapi kali ini beda. Saya memang menunggu panggilan itu, makanya saya minta ijin untuk menerima.

Saat mengembalikan ponsel ke dalam tas, saya melihat lipatan surat terselip diantara kertas-kertas lain. Saya ambil surat itu, lalu saya serahkan kepada dokter sambil berkata, “ini yang menyebabkan saya kusut.”

Sesaat setelah  membaca seluruh isinya, dokter menghela nafas panjang sambil merebahkan badan  ke sandaran kursi. Surat itu masih dipegang menggunakan dua tangan sambil sesekali matanya melirik ke arah tulisan.

Ketika dokter mengembalikan surat, saya lihat wajahnya berubah, nampak seperti galau.

Saya memberanikan diri bertanya, “Dokter juga menerima?”

Ada sedikit senyum kecut menghias wajahnya sebelum dokter mengangguk, “Dua hari lalu. Baru sekali, tapi tagihannya besar.”

“Kalau dokter berkenan, mungkin saya bisa bantu mengurai masalahnya.”

Dokter tidak menjawab. Hanya memandang saya dengan tatapan sedikit curiga.

“Saya bukan konsultan, tidak perlu dibayar. Meskipun mungkin tidak bisa membantu mencari solusinya, tapi saya bisa membantu memetakan isi suratnya.”

Perlahan dokter menarik laci meja, lalu mengeluarkan sepucuk surat bersampul cokelat, persis seperti yang saya terima. Isinya ringkas, sederhana, tapi seperti biasa, membuat penerima yang tidak paham pola kerjanya, senewen tujuh turunan.

Selesai membaca, saya masukkan kembali surat ke dalam sampulnya, lalu menyerahkan kepada dokter sambil bertanya, “Ada penghasilan 2019 yang belum dilaporkan?”  

“Mereka bisa tahu?”

“Tergantung dari mana sumbernya. Kalau dari perusahaan farmasi, bisa terlacak dari laporan pajak penghasilan.”

Dokter menunduk, memandangi meja, seolah mencari sesuatu, sebelum akhirnya tertawa dan berkata, “Jadi, siapa sebenarnya  yang perlu ketemu psikolog?”

Kamipun tertawa bersama.

Enggak nyangka, “surat cinta” bersampul cokelat dari Direktorat Jenderal Pajak yang selama ini menjadi momok bagi Wajib Pajak, malah membuat kami menjadi teman seperjuangan.


LABEL: JEJAK WAKTU

15 Maret 2023

Menjadi Pawang di Suaka Margasatwa

 


Setelah pandemi berlalu, alhamdulillah saya merasa lebih sehat dari sebelumnya. Tapi saya sadar, tubuh saya sekarang lebih mirip suaka margasatwa – tenang di luar, tapi di dalam banyak macan tidur yang bisa bangun dan ngamuk kapan saja, tanpa permisi.

Sejak itu, saya mulai belajar banyak hal. Terutama yang berkaitan dengan segala sesuatu yang bisa menyebabkan macan-macan itu terusik.

Dulu saya pikir, sayur dan buah adalah sahabat sejati tubuh. Ternyata, untuk kondisi fisik saya sekarang, tidak semua seramah sebelumnya. Ada batasan porsi tertentu yang tidak boleh saya langgar, supaya mereka tetap memberi mafaat tanpa menusuk dari belakang.

Saya tidak lagi diet ketat, karena kalau sampai dibuat seperti itu, bisa jadi saya hanya bisa makan dan minum di angan-angan saja. Nyaris semua apapun yang masuk mulut selalu membawa resiko mengusik macan-macan yang sedang tidur.

Sambil menjaga ketenangan macan-macan penghuni suaka, semua yang masuk mulut saya catat, lengkap berikut tanggal dan jamnya. Lalu saya amati kondisi saya dua sampai tiga hari berikutnya. Kalau aman, konsumsinya lanjut terus, dalam porsi yang sama.

Tapi seandainya muncul gejala terjadi gangguan, entah sekedar diare, mual, mendadak pusing berkepanjangan atau sandal tiba-tiba terasa kekecilan (berarti kaki sedikit bengkak), segera saya telusuri, asupan mana yang sekiranya pantas jadi tersangka.   

Salah satu tersangka yang sudah berulangkali tertangkap tangan adalah brokoli rebus. Saya mengkonsumsi brokol karena bisa membantu mengurangi kadar Trigliserida lumayan. Masalahnya, ketika saya konsumsi terus menerus sampai lebih dari 5 hari berturutan, pada hari ke enam, kencing saya mulai bau dan sedikit keruh.  

Entah apa yang dilakukan oleh brokoli di dalam sana, tapi setelah tahu efek sampingnya, saya tidak perlu nunggu sampai hari ke enam baru jeda. Hanya berhenti saja sementara, sekitar seminggu, kemudian mulai lagi makan brokoli. Begitu juga  dengan yang lain.  

Tidak ada yang memberi petunjuk untuk diet dengan cara seperti itu. Saya rekayasa sendiri berdasar kondisi badan sehari-hari. Tapi supaya tidak ngawur-ngawur amat, sebulan sekali saya rutin cek lab. Saya pelajari kaitan antara menu makan dengan perubahan yang terjadi pada setiap variabel yang diperiksa.

Meskipun ketika hasil cek lab menyatakan semua normal, saya tidak beranggapan  biang masalahnya sembuh. Mereka hanya sedikit tenang, seperti para macan yang sedang tidur.

Saya tidak lagi mengejar kesembuhan, karena sadar bahwa tubuh ini sudah mirip ekosistem yang mulai rapuh, di mana setiap asupan, setiap obat, bahkan setiap pikiran bisa jadi pemicu kekacauan.

Saya belajar untuk hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Bukan dengan menyerah, tapi dengan lebih mengenal diri sendiri. Mengenal batas, menghormati sinyal, dan mempercayai insting. Saya tidak lagi takut pada gejala, karena mereka adalah bahasa tubuh yang mencoba berbicara. Dan saya belajar menjadi pendengar yang lebih baik.

Dan kalau suatu hari nanti, perjalanan ini harus berakhir lebih cepat dari yang saya harapkan, saya ingin percaya bahwa saya telah hidup dengan jujur pada diri sendiri, penuh kesadaran, dan setia pada prinsip, bahwa kesehatan bukan soal angka di kertas hasil lab, tapi tentang seberapa damai saya bisa menjalaninya.

Seperti kata Whitney Houston, “If I fail, if I succeed, at least I'll live as I believe”.

Terima kasih untuk semua yang telah menemani, membaca, dan memahami—meski hanya dari kejauhan. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.


LABEL: JEJAK WAKTU

14 Maret 2023

Drama Kecil di Sepenggal Perjalanan


Beberapa hari belakangan, setelah rampung ritual pagi beres-beres rumah, godaan ngantuk campur males datang lagi. Pernah saya turuti. Pikir saya, tidur sebentar apa salahnya? Ternyata bablas sampai jam 10. 

Gembul, teman imajiner saya yang kadang sok bijak, pernah berkata, “Kalau kamu susah dibangunkan, padahal tubuh sudah seharusnya aktif, itu pertanda kamu sedang melarikan diri dari realita. Bawah sadarmu sedang memberontak.”

Saya tidak tahu, apakah harus senang atau kuwatir ketika Gembul berlagak jadi psikolog. Bagaimana seandainya tebakan itu benar?

Akhirnya saya memaksa diri melawan. Meski ngantuk dan pikiran terus menggoda, saya tetap mandi, sarapan, lalu mulai mengerjakan apa saja yang bisa membuat badan bergerak. Setelah satu jam bertahan, ngantuk dan malesnya hilang. Ternyata segampang itu.

Dua, tiga, empat hari berlalu, dan saya baik-baik saja. Semangat mulai kembali, tubuh terasa lebih ringan. Tapi pada hari kelima, saat sedang di kantor, sekitar jam 11, dunia tiba-tiba berputar lagi.

Bukan hanya mata nagih tidur, capek dan pegal-pegal yang selama 4 hari lumayan berkurang, mendadak kambuh, lebih parah. Ketika saya berusaha tidak menyerah, tapi tubuh seolah berontak. Beberapa kali saya nyungsep sampai kejedot laptop. Bahkan akhirnya saya tertidur di meja. Baru bangun menjelang bubaran kantor. Itupun gara-gara suasana berisik ketika yang lain siap-siap pulang.

Hari berikutnya saya minum kopi lebih banyak. Ternyata sama saja, tidak ngaruh. Sejak saat itu kerja saya jadi kacau. Di kantor lebih banyak molornya ketimbang menyelesaikan pekerjaan. Beruntung, staff saya mumpuni, sehingga tidak banyak pekerjaan yang terbengkelai, kecuali urusan yang memang tidak bisa diselesaikan orang lain.

Suatu saat saya nekad memaksa diri tidak tidur siang. Tanpa ngopi pula. Badan terasa remuk total. Tapi saya bertekad tidak akan menyerah. Kalau hidup mulai keras, tidak ada pilihan lain kecuali dibalas dengan semangat.

Masalahnya, kali ini saya salah perhitungan. Saya lupa bahwa segala sesuatu punya batas.

Motor saya baru jalan beberapa ratus meter dari kantor, vertigo yang sudah hampir terlupakan, mendadak kambuh. Saya buru-buru menepi, turun dari motor, dan terjatuh di pinggir jalan.

Berdasar pengalaman sebelumnya, kalau vertigo sudah menyapa, berarti saya sudah melampaui batas. Sedikit lagi dipaksa, akan ada bom waktu meledak. Saya sempat panik, dan nyaris berteriak minta tolong, sebelum sadar, saya berada di persawahan yang sepi.

Mau dibilang kesasar sebenarnya enggak juga. Rute ini sering saya lewati manakala saya bosen melalui jalan aspal. Celakanya, terlalu panik membuat saya lupa, di dalam tas ada dua telepon seluler. Biasanya, sampai jam 5 beberapa orang masih ngobrol-ngobrol di kantor. 

Setelah dunia sedikit tenang, saya memutuskan balik ke kantor. Tapi, baru jalan beberapa meter, terdengar teriakan sangat keras. Awalnya saya sangka Gembul  mendadak muncul. Ternyata saya dibentak pengendara motor lain yang nyaris nabrak, lantaran saya limbung. 

Setiba di kantor, ternyata sudah sepi. Penjaga malam pamit telat, sementara saya tidak bawa kunci. Gembul memberi saran, titip motor ke tetangga sebelah, tapi entah kenapa saya malah merasa seperti mendapat tantangan.

"You can if you think you can," seru saya pada diri sendiri.

"WOOOEEYYYYY." Teriakan Gembul melengking ketika saya mulai ngegas motor.

Perjalanan pulang sejauh enam kilometer berubah jadi medan drama. Klakson bertalu-talu, teriakan dan makian bercampur dengan ngantuk dan tubuh yang terus berontak.

Akhirnya saya nyungsep di pinggir jalan.

Sesaat terjadi pertarungan seru di kepala, antara keinginan nekad jalan terus atau titip motor di pos jaga perlintasan kereta, tidak jauh dari tempat saya berhenti.

"Kalau pengin bunuh diri bukan begini caranya. Sebentar lagi kereta api lewat, tabrak noh!" Gembul mulai gusar.

Tak lama kemudian kereta api beneran lewat. Tentu saja saya tidak punya nyali nabrak. Selain masih pengin hidup, saya justru khawatir hanya lecet saja di hidung ditambah separo badan ambyar. Apa enaknya hidup dengan keadaan seperti itu?

"Oke, baik, kerjakan saja sesuka hatimu, SUPERMAN!" Gembul mulai kalap ketika akhirnya saya memaksa jalan lagi.

Sebelum berangkat, saya atur napas terlebih dahulu. Tarik panjang, masuk sampai perut, tahan, lalu hembuskan pelan, lebih lama ketimbang saat narik. Saya lakukan beberapa kali. Gak ngaruh apa-apa, tapi setidaknya membuat saya sedikit lebih tenang.

Saya konsentrasi penuh ke jalan dengan satu pikiran, selamat sampai di rumah dan tidak ngrusuhi orang lain.

Malamnya saya tidur lebih cepat. Selesai makan langsung rebahan dan pules sampai menjelang subuh. Bangun masih seperti biasa, ngantuk, dan sekujur tubuh berasa remuk. Tapi saya tetap keluar, dan seperti biasa, cuci piring dilanjut nyapu halaman. 

 Lalu Gembul muncul lagi.

“Kamu baik-baik saja?”

“Enggak. Tapi aku masih hidup. Kemarin ada banyak momen yang bisa membuat aku mati, tapi sampai pagi ini Tuhan masih kasih aku hidup. Pasti Tuhan bakal tunjukkan cara untuk menghadapi semua masalahku.”

Niat saya biar Gembul sedikit tenang, tapi sebenarnya saya juga sedang berusaha menguatkan diri sendiri. 

(bersambung)

LABEL: JEJAK WAKTU


03 Maret 2023

Ketika Hari Biasa Terasa Aneh


Yang Ini Nyomot dari Google

Hari ini, seperti biasa, saya bangun dengan semangat … untuk tidur lagi. Tapi hidup tidak semudah menekan tombol snooze di alarm HP. Jadi saya memaksa diri bangkit dari kasur dengan niat mulia, hari ini harus produktif! 

Awalnya semua berjalan normal. Sarapan, walaupun dengan menu seadanya, mengikuti petunjuk diet, mandi pakai air yang sukses membuat saya sadar bahwa hidup ini keras, dan mulai beraktivitas dengan langkah mantap. Sampai akhirnya saya sadar satu hal penting, sandal yang saya pakai beda sebelah.

Lebih lucunya lagi, saya baru sadar setelah sekitar satu jam keluyuran di Jogjatronik Mall, sambil merasa ada yang “tidak beres dengan langkah hidup ini.” Ternyata bukan nasib yang berat, tapi sandal yang tidak serasi.

Spontan saya tolah-toleh, berharap tidak ada satupuun yang tahu. Tapi malah membuat embak-embak penjaga toko tersenyum. Akhirnya terpaksa ambil jurus cuek. Bodo amat.  Saya ambil sisi positifnya saja, saya sedang  menciptakan tren sandal baru.

Intinya, hari ini tidak ada yang terlalu spesial, kecuali kejadian yang bikin saya mikir, “Hidup kadang absurd, tapi ya sudahlah.” Karena justru dari hal-hal kecil, saya bisa ketawa—meski cuma bersama diri sendiri.

Kalau Anda sampai di sini, terimakasih untuk waktu Anda, semoga setidaknya tulisan ini bisa bikin senyum sedikit. Sampai jumpa di curhatan berikutnya, yang mungkin lebih kacau (atau lebih lucu).


LABEL: JEJAK WAKTU

Disiplin, Teman yang Dulu Sering Saya PHP

Setelah memutuskan untuk restart hidup —dengan semangat baru, rematik lama, dan impian yang (ajaibnya) masih hangat—saya sampai pada satu kesimpulan penting, Saya punya masalah serius dengan disiplin.

Saya tahu, disiplin itu baik dan perlu. Bahkan saya pernah menulis tentang pentingnya disiplin di kertas warna-warni yang saya tempel di cermin kamar mandi. Kenyataannya, hidup saya lebih sering berjalan dengan prinsip legendaris, “Kalau bisa nanti, kenapa harus sekarang?”

Saya Punya Jadwal, Tapi Tidak Saya Baca

Pernah suatu masa, saya begitu termotivasi, sampai membuat jadwal harian secantik peta harta karun. Ada blok-blok waktu warna-warni: "Bangun jam 4 pagi! Jalan pagi! Nulis 1.000 kata sebelum sarapan!"

Realitanya, sampai jam 6 pagi saya masih tenggelam dalam dialog batin dengan bantal. Jalan paginya bergeser jadi jalan ke dapur. Nulis blog? Ya... itu rencananya, ngopi dulu lah. 

Sambil ngopi, buka medsos, lalu bilang ke diri sendiri, "Nanti juga nulis kok."

Disiplin ternyata bukan hanya soal niat, tapi, terutama, menyangkut komitmen, dan kebiasaan

Kepala Mau, Badan Wegah

Ada saat di mana saya duduk serius, menatap kalender digital, lalu membatin dengan penuh tekad: "Mulai sekarang aku akan disiplin, hidup harus teratur!"

Lima menit kemudian ......

Saya sudah tergoda cek Facebook, menyapa teman di WhatsApp, atau mendadak merasa sangat penting untuk menyortir foto-foto tahun 1992. Pokoknya semua dikerjakan—kecuali yang seharusnya.

Saya jadi punya pikiran, membiasakan disiplin mirip ngajari kucing berenang. Mungkin bisa, tapi butuh kesabaran, waktu, dan sedikit bonus cakaran.

Mulai dari Hal Sepele (Tapi Konsisten)

Akhirnya, saya ganti taktik. Daripada pasang target produktivitas level CEO, saya mulai dari hal kecil dan gampang dilakukan:

  • Bangun tepat jam 4. Kalau masih ngantuk, ya minimal bangun. Setelah itu mau bengong di tempat tidur juga nggak apa-apa.
  • Menulis satu paragraf setiap hari. Walaupun sebenarnya lebih pantas disebut curhat kepada keyboard.
  • Minum air putih menggantikan kopi. Ini masih berjuang, tapi saya sudah belajar tidak menangis saat melihat iklan kopi di TV.

Setelah bisa sehari, saya ulangi. Lagi dan lagi. Prinsipnya: lakukan meski malas, meski wegah, meski rematik ikut demo.

Tapi...

Begitu strategi kecil ini saya coba terapkan ke target lain, seperti tidur malam tepat waktu, semuanya bubar jalan. Jadwal tidur jam 9 malam selalu gagal total karena banyak “urusan penting.” Biasanya urusan pekerjaan. Atau video lucu di YouTube. Tapi saya suka menyebut semuanya "kerja."

Sering saya berpikir, andai bisa ikut pelatihan ala militer, yang dibangunin pakai gedoran dan teriakan, disuruh push-up kalau ngantuk. Karena jujur saja, saya butuh seseorang seperti almarhumah ibu saya dulu. Tegas, galak, tapi efektif.

“Harus orang lain? Tidak bisa kamu sendiri yang melakukannya?”

Itu suara Gembul—teman imajiner saya yang selalu muncul kalau saya mulai banyak ngeles.

Sambil menimang kaleng Coca Cola, dia bilang, “Kalau kamu tidak bisa disiplin sendiri, semua pencapaianmu hanya numpang sukses. Bahkan usaha rental mobil, satu-satunya sumber penghasilan  yang masih tersisa, tetap bertahan semata-mata berkat keteguhan partnermu. Kalau dia pergi, kamu bisa ambruk kapan aja.”

Glek!!!!!

Pahit memang.

Disiplin sejati bukan tentang mematuhi aturan orang lain, tapi patuh pada aturan yang kita buat sendiri.

“Jadi, Apa Rencanamu, Pak Tua? Disiplin itu bukan soal berubah drastis, tapi soal berlatih konsisten meski pelan, dan meski sering jatuh.”

Saya menatap Gembul. Seperti biasa, berharap dia punya satu saja saran jitu, cara menjadi komandan atas diri sendiri. Tapi sebelum saya sempat membuka mulut, dia sudah keburu menghilang, entah ke mana. Mungkin kembali ke dunia kaleng Coca Cola.

Sebagai gantinya, saya berhadapan dengan teman imajiner lain. Sosoknya tidak jelas, tapi saya sering membayangkan dia mirip kembaran Hellboy. Kali ini dia muncul dengan wajah tua, mengenakan sarung dan  sebatang rokok terselip di telinga.

“Bangun jam 4 pagi, lalu cuci piring!” lanjutnya tegas, tanpa menunggu jawaban.

Menurut dia, secara sukarela menyelesaikan pekerjaan remeh—yang tidak akan menimbulkan resiko apa-apa kalau ditunda—adalah cara paling dasar melatih kemauan.

“Kamu tidak akan pernah bisa disiplin kalau tidak punya kemauan!”

Logikanya masuk akal. Maka tanpa pikir panjang, saya mengangguk. Sepakat.

Keputusan yang ternyata sangat prematur.

 

Cuci Piring Jam 4 Pagi Ternyata Misi Berat

Teorinya sederhana, bangun jam 4 pagi, lalu cuci piring. Prakteknya lebih mirip misi rahasia di film mata-mata, penuh tantangan, jebakan, dan keringat dingin.

Di malam sebelumnya saya harus mengkarantina semua perlengkapan makan dan masak, mencegah tamu tak diundang seperti tikus dan kecoak datang berpesta tengah malam. Itu berarti, setelah makan malam selesai, saya harus ekstra rapi. Padahal biasanya, semua dibereskan oleh anak. Sementara saya mengerjakan tugas berat lain, rebahan dan menatap plafon sambil berfilosofi.

Paginya, misi dimulai. Dapur saya sempit, dan tempat cuci piring letaknya di luar. Jadi untuk membawa semua peralatan kotor itu, saya harus mondar-mandir 3–4 kali. Kadang sambil ngucek mata. Kadang sambil mengeluh dalam hati, “Kenapa saya setuju ide konyol ini kemarin?”

Barang yang harus dicuci sebenarnya tidak banyak. Tapi karena udara dingin pagi bercampur rasa ngantuk, ditambah gangguan bisikan, “Nanti saja dilanjutkan, bikin kopi dulu,”—semua jadi molor.

Dan tentu saja, setelah jeda subuh, saya tergoda untuk berhenti sejenak. Tapi ternyata, sejenak itu berubah jadi lama. Akhirnya piring baru bersih semua sekitar jam tujuh.

Hellboy Tua Ternyata Serius

Hellboy versi tua tidak main-main. Besok paginya, ketika jam 4 sudah lewat, dan saya masih ketap-ketip di kasur, dia berteriak keras. Gayanya persis komandan militer yang marah melihat prajurit bangun kesiangan.

Meskipun dia cuma sosok imajiner, tapi suaranya yang nyaring terdengar tegas dan  jelas di kepala.

Refleks saya bangkit. Setengah sadar, saya loncat dari tempat tidur, buru-buru keluar kamar. Karena masih ngantuk berat, saya langsung nyungsep, kejedot pintu kamar.

Teriakan setan merah itu makin menjadi-jadi. “Kalau masih pengin kejedot, ada dua pintu lagi! Coba pakai sprint biar jedotannya mantep!!!”

Sambil memegang jidat yang mulai benjol, saya jalan sempoyongan menuju meja makan. Seperti biasa, rutinitas pagi saya awali dengan segelas air putih hangat.

Tapi pagi itu, kombinasi ngantuk dan kepala nyut-nyutan membuat saya lupa satu langkah penting, cek suhu air. Setelah menuang air ke dalam mug, langsung saya seruput.

Bibir serta lidah saya serasa terbakar.

“Panas ya? Kasih air es, biar dingin!” katanya dengan nada mengejek.

Saya sudah kesal, reflek membalas, “Mending kamu jadi ayam saja, biar enggak cerewet!”

Entah kenapa, kalimat itu malah membuat wujudnya berubah jadi durian, buah yang paling dia benci.

Tentu saja akhirnya saya jadi korban. Sepanjang hari durian cerewet itu merengek-rengek minta dikembalikan ke wujud semula. Sudah saya coba berbagai cara. Gagal semua. Saking putus asanya, saya sempat nekat membayangkan ... Sora Aoi.

(Ya, itu pun tidak berhasil. Malah jadi bumerang.)

🙈 Yang sudah tahu siapa itu Sora Aoi, .... tolong jangan ketawa. Yang belum tahu, lupakan saja. Anggap saya sedang keseleo pikiran.

Hellboy tua—yang akhirnya kembali ke wujud semula— menari-nari kegirangan.

"Bagaimana caramu bisa balik?"

"Kamu gagal karena berusaha terlalu keras. Aku bisa kembali setelah pikiranmu tenang."

Tenang? Jadi, keliru membayangkan tadi membuat pikiran tenang? Teori dari mana itu?

"Teori cara mengatasi ngantuk, pegel-pegel, dan capek."

"Maksudmu, membayangkan dia bisa—"

"HEEEYYYYY! JANGAN BERLAGAK BEGO!" dia langsung ngegas. "Terlalu fokus pada masalah bikin pikiran tegang. Tidak ada hubungannya dengan dia, kecuali kamu sengaja cari masalah baru."

Tanpa dicari pun, masalah datang sendiri. Ngapain juga repot-repot nambah?

Saya masih terus belajar. Kadang gagal, kadang... gagal lagi. Tapi saya percaya satu hal, Disiplin bukan soal berubah drastis, tapi soal berlatih konsisten meski pelan, dan meski sering jatuh. 

Sekarang saya belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Disiplin bukan berarti jadi robot. Tapi punya arah. Punya tujuan, dan cukup sayang pada diri sendiri untuk melakukan hal yang baik, walau kadang tidak enak.

Saya tidak ingin lagi hidup asal mengalir. Karena kadang, yang mengalir itu bukan rejeki, tapi waktu yang terbuang.

Jadi, buat siapa saja (dan saya juga tentunya) yang sedang belajar disiplin, ingat, “Disiplin bukan soal sempurna. Tapi soal tetap mencoba, bahkan saat ingin menyerah dan rebahan.”

 

LABEL: JEJAK WAKTU

01 Maret 2023

Lansia Reborn

Katanya, hidup dimulai umur 40. Tapi saya pikir, hidup saya baru benar-benar mulai setelah 60.

Saya pernah sibuk—sangat sibuk. Berangkat pagi, pulang larut, dan tentu saja mendapatkan hasil besar.

Hidup saya ibarat mobil yang melaju di jalan tol. Ngebut, dan hanya berhenti sebentar, sekedar istirahat. Sampai kemudian, tiba-tiba, mogok. Lalu, seperti sudah janjian sebelumnya, semua berubah dalam waktu bersamaan. Bermula dari gangguan kesehatan ringan, karena agak saya abaikan, kemudian menjadi serius. Bukan hanya menggerogoti fisik, tapi juga menggerus funansial.

Dengan kondisi kesehatan yang bisa dibilang "meriah sedikit berisik", dan finansial pas-pasan, saya memutuskan, harus bangkitMeskipun saya tahu, tidak akan mudah. Apalagi kalau langkahnya harus hati-hati, menyesuaikan dengan tekanan darah yang naik turun seperti roller coaster, dan trigliserida yang sering unjuk gigi .

Waktu masih muda, jatuh tinggal bangun. Sekarang? Jatuh bisa jadi konten viral plus rujukan ke fisioterapi.

Tapi justru di situlah tantangannya. Saya sadar, sekarang bukan lagi masanya adu cepat. Juga bukan mengejar yang sudah lewat. Tapi tentang keberanian untuk berkata pada diri sendiri, “Saya masih di sini. Saya masih mau mencoba.”

Walau lambat dan tertatih, saya tetap melangkah. Karena diam di tempat lebih menyakitkan. Duduk terlalu lama bikin pinggang protes, berdiri kelamaan dengkul ikut orasi. Jadi, lebih baik bergerak pelan-pelan sambil bawa minyak kayu putih dan semangat hidup.

Masalah finansial, jangan ditanya. Meskipun dulu kuliah di fakultas Teknik jurusan Sipil, ujian saya justru tidak pernah lepas dari ekonomi. Sekarang saya sedang magang di jurusan “hemat sambil tetap waras.” Rasanya seperti diet. Bedanya,  bukan makanan yang dikurangi—melainkan belanja online dan langganan streaming yang jarang ditonton.

Percaya atau tidak, selama perjalanan yang sedikit ngeri-ngeri sedap itu, saya menemukan pemahaman baru. Ternyata, hidup  bukan tentang punya segalanya, tapi tentang bisa tersenyum dengan apa yang ada (meski kadang senyumnya sambil nyengir nahan dengkul yang nyeri).

Gangguan kesehatan menjadi teman seperjalanan. Kalau tubuh ini ibarat rumah, sudah banyak bagian yang butuh renovasi. Ya sudah, diterima saja. Saya ajak ngobrol rematik dan trigliserida seperti teman lama. "Hari ini kita santai dulu ya, jangan cari ribut."

Yang penting, saya bisa mulai jalan lagi. Dari awal yang tidak nyaman, dari titik yang kadang membuat ingin menyerah. Tetap saya jalani, karena saya percaya, setiap langkah kecil, meski pelan dan gemetar, tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.

Kalau perjalanan hidup saya dibuat sinetron, mungkin  judulnya: “Lansia Reborn”. 

Jadi, buat kamu yang mungkin merasa “sudah terlalu tua” atau “sudah terlambat”—hei, saya di sini, 60 tahun lebih, pernah (dan sedang) ada di titik itu, dengan lutut yang lebih meriah ketimbang konser heavy metal.

Hidup bukan lomba lari cepat. Lebih mirip jalan pagi di taman. Yang penting, nikmati tiap langkah, dan hirup udara segar. Dengan semangat baru, humor receh, dan sebotol minyak angin.

Kita jalan bareng. Pelan saja, tapi pasti. “Jangan takut memulai ulang. Kali ini kita bukan mulai dari nol. Kita mulai dari pengalaman.” 


LABEL: JEJAK WAKTU


07 Februari 2023

Perseteruan di Lorong Rumahsakit

Di antara sekian banyak entitas non fisik yang sesekali mampir ke kepala saya—mulai dari suara-suara bijak, bayangan masa lalu, sampai pengingat "besok bayar tagihan listrik"—ada satu yang paling rutin datang dan cukup mencolok: seekor kucing.

Bukan kucing biasa, tentu saja. Dia muncul dalam khayalan saya, lengkap dengan ekor, telinga tajam, dan mata yang bisa melihat isi dompet saya. Dan yang paling penting: dia bisa bicara.

Namanya berubah-ubah, tergantung suasana hati saya. Kadang saya panggil “Belang,” kadang “Empus.” Terakhir "Gembul", dan entah kenapa kemudian menjadi nama tetapnya. Sebenarnya, dipanggil apapun, kecuali "Bundel" - karena ekornya bundel macam gulungan benang nempel di pantat, dia tidak pernah protes. 

Kucing satu ini punya kebiasaan aneh. Setiap kali muncul selalu menimang sekaleng Coca Cola, tapi belum pernah sekalipun saya melihat dia minum. 

"Doyan begituan juga? Dapat nyolong apa endorsan?"

Ternyata hanya gaya-gayaan. Begitu gleg, seteguk, langsung keseleg. 

Pada sebagian besar kemunculannya, dia lebih mirip komedian ketimbang penasehat. Misalnya, saat saya sedang merenung soal arah hidup, dia dengan santainya berkata,

“Kalau bingung arah, coba tidur miring ke kiri. Bagus buat pencernaan.”

Tapi anehnya, kadang-kadang, di tengah semua tingkah konyolnya, dia bisa sangat serius dan nasehatnya sering tepat sasaran.

Seperti waktu saya nyaris menyerah karena semua terasa berat. Dia duduk tenang di ujung meja, menatap saya dengan mata segede kelereng, lalu berkata,

“Kamu masih hidup, berarti Tuhan tidak menghendaki kamu berakhir macam kecoak keinjek. Sekali waktu kamu pernah menjadi pemenang, mengalahkan jutaan pesaingmu di dalam sana. Buktikan kalau kemenangan itu bukan sekedar kebetulan belaka, tapi karena kamu memang terkuat.”

Awalnya saya bingung, kapan itu terjadi? Ternyata gulungan bulu itu membahas kejadian saat saya masih berupa sel tunggal, adu balap rebutan sel telur.  

Sejak itu, saya mulai menganggap kehadirannya bukan sekadar gangguan imajinatif. Tidak sedikit dari pendapatnya, sekalipun kadang terasa konyol, membawa pemahaman baru terhadap pertanyaan-pertanyaan  yang sebelumnya tidak  saya temukan jawabnya.

Seakan seekor kucing belum cukup, ketika saya sering ngelamun di selasar rumah-sakit saat istri saya menjalani perawatan kanker, muncul satu lagi. Kali ini tanpa wujud, dan sempat membuat saya keliru menyangka sebagai salah satu makhluk penghuni rumah-sakit. Dia banyak membantu saya memahami penjelasan dokter mengenai kondisi istri saya. Tapi, entitas-entitas macam itu nampaknya punya satu kesamaan, punya penyakit konyol kambuhan.

Pada awal-awal kehadirannya, pendatang baru ini sempat membuat saya merinding. Masalahnya, dia lebih sering  muncul malam hari, ketika saya sedang ketap-ketip tidak bisa tidur. Tanpa permisi, tiba-tiba mak bedunduk, saya merasa seolah-olah ada yang duduk di sebelah. Berulang kali terjadi seperti itu, sampai akhirnya saya mencoba memberi dia wujud. 

Saya coba wujud berbagai binatang, dia tidak protes, tapi malah saya merasa tidak nyaman. Suatu saat, terbayang durian, eh, ganti dia histeris macam kebakaran jenggot. Ternyata dia sangat membenci durian. 

Tiba-tiba Gembul punya ide serem, "Dia kan sebangsa setan, kali saja pocong lebih cocok"  

"Setan bapak kau!" 

Selanjutnya, merekapun ribut. 

"Guys, guys, ini rumah-sakit. Kalau berantem pindah kuburan sono" Saya mencoba melerai. Tiba-tiba, sosok tinggi besar berwarna merah dengan tampang sangar muncul persis di hadapan saya. "Istrimu sedang sakit, jangan pernah berpikir apapun tentang kuburan."

Seketika saya sesak nafas. Bukan takut pada sosok itu, melainkan kepikiran, istri saya besok siang akan menjalani operasi mengangkat kankernya. 

Begitu saya kembali tenang, sosok merah itu tidak terlihat lagi. Tapi saya masih merasakan kehadirannya. Entah kenapa, mendadak saya teringat wujud setan merah dengan tanduk puthul di film Hellboy. Penampakan tadi sangat mirip. 

"Kenapa kamu mengambil wujud seperti itu?" Saya jadi penasaran.

Menurutnya, dia akan terlihat dengan wujud seperti apapun yang diberikan oleh pikiran saya. Padahal tadi saya tidak mikir apapun selain  kuwatir terhadap kondisi istri saya. Atau mungkin, wujud itu merupakan refleksi dari kecemasan saya. Entahlah.

Selain wujud yang menurut saya sedikit gimana gitu, saya masih penasaran dengan asal usul Gembul dan pendatang ini. Siapa atau apa mereka sebenarnya? Seandainya berasal dari aktifitas otak, terdapat banyak suara muncul di kepala, mengapa hanya Gembul yang memiliki penampakan? Kenapa pula ada yang baru muncul sekarang?  

Banyak pikiran membuat saya capek, lalu tertidur di selasar. Terbangun kembali ketika saya merasakan guncangan lunak di bahu.

Dua sapam berdiri sebelahan, salah satu berkata,  "Maaf pak, tidak boleh tidur di sini". 

Setelah mereka yakin saya sedang menunggu pasien, saya diijinkan kembali ke kamar tempat istri dirawat. 

Baru sedikit lewat tengah malam. Sebagian lampu di lorong rumah-sakit  tetap dibiarkan menyala, tapi suasana sepi dan dinginnya AC membuat saya sedikit merinding. 

"Di sini bersih, tidak ada apa-apa." Sosok Hellboy muncul di ujung lorong. Tentu saja membuat saya kaget setengah mati. Beruntung tidak kelepasan teriak atau ngompol. 

"Bule jelek, bikin kaget!" Gembul yang mendadak ada di sebelah saya uring-uringan.

"Siapa yang bule?" Hampir bersamaan saya dan kembaran Hellboy bertanya.

"Karung beras warna merah itu kan bule!"

Langsung pecah perang diantara keduanya. Anehnya, saya tidak merasa takut lagi. Kali ini saya biarkan mereka ribut, karena saya akhirnya sadar, serame apapun, tidak akan mengganggu pasien. Bahkan lama-lama saya mulai menikmati keributan mereka. 

Setiba di kamar, saya langsung berbaring di tempat tidur yang memang disediakan untuk penunggu. Sebelum kembali terlelap saya sempat mendengar Gembul berteriak di kejauhan,  "Bujel, bule jelek. Kembalikan ekorku!"


LABEL: JEJAK WAKTU


01 Februari 2023

Penasehat Dari Sebelah Sono


Setiap orang punya cara masing-masing untuk berdialog dengan diri sendiri. Ada yang menulis jurnal, ada yang ngajak bicara kucing (yang hanya menjawab dengan dengkuran – atau malah sering minta makan), dan ada juga yang, seperti saya, punya tamu tak diundang dalam kepala.

Ini bukan kisah horor. Tidak ada sosok misterius ndhekem di bawah pohon mangga sambil berbisik, "Jangan lupa bayar BPJS." Tapi ada satu entitas non fisik—atau beberapa, saya belum yakin jumlahnya—yang suka muncul saat saya sedang serius merenungi hidup.

Biasanya sosok itu nyelonong begitu saja, tanpa permisi, saat saya sedang duduk tenang, mengenang masa lalu, menimbang-nimbang keputusan yang pernah saya ambil puluhan tahun lalu, ketika tiba-tiba terdengar suara (dalam hati, tentu saja):

“Tahu nggak, kalau waktu itu kamu tidak asal-asalan nenggak sembarang suplemen dan sedikit saja rajin olah-raga, sekarang kamu masih bisa menikmati semua makanan kesukaanmu!”

Padahal saya sedang merenungi lensa kamera yang retak gara-gara kepleset waktu motret Merapi, bukan mikir makanan.

Kadang mereka ini seperti radio rusak—menanggapi renungan saya dengan komentar yang sama sekali nggak nyambung. Tapi anehnya, saya tidak pernah merasa terganggu. Malah, mereka sering membuat saya tertawa sendiri.

Ada kalanya suara-suara itu memberi saran yang masuk akal. Seperti saat saya bingung antara beli es krim atau patuh diet:

“Hasil cek terakhir, trigliseridamu di atas 1000. Sebaiknya jangan terlalu sering melanggar diet. Tapi kalau kamu pengin sekali-kali merasakan masuk ICU, terus sekujur tubuh dicublesi jarum, seliter es krim sehari selama beberapa minggu kurasa cukup sebagai pengantar.”

Nah lho.

Saya menyebut mereka "Penasehat dari sebelah sono". Mereka bukan malaikat, bukan jin, apalagi ilham surgawi. Dalam persepsi saya, mereka lebih seperti gerombolan penggembira—dengan anggota yang kadang bijak, kadang absurd. Ada yang cerewet seperti teman lama, ada yang filosofis ala guru spiritual, dan ada juga yang tampaknya hanya mampir untuk bikin rame suasana.

Saya pernah mencoba mengabaikan mereka. Tapi justru saat saya tidak mendengarkan, mereka makin heboh. Jadi sekarang saya terima saja kehadiran mereka. Anggap saja mereka bagian dari proses berpikir saya yang unik.

Tentu saja, saya sadar sepenuhnya bahwa semua ini hanyalah bagian dari imajinasi. Tapi bukankah hidup ini juga penuh dengan hal-hal yang tidak selalu bisa dijelaskan logika?

Kalau Anda juga pernah mengalami hal serupa—entah itu suara hati, insting, atau "komentator dalam kepala"—jangan khawatir. Bukan berarti Anda mulai gila. Mungkin hanya terlalu sering berpikir mendalam.

Dan siapa tahu, di balik komentar absurd mereka, terselip juga sepotong kebijaksanaan yang bisa membawa kita ke arah yang lebih baik.

Atau minimal, menghibur di tengah kesunyian.


LABEL: JEJAK WAKTU

26 Januari 2023

Kompakan Pikun

 


Reaksi spontan saya ketika seseorang video call, memberi tahu akan ngirim cek bertanggal 26 Januari, "Mosok mundur lagi?"

"Sekarang kan tanggal 26?"

Jawaban itu membuat saya keseleg, lalu buru-buru menemui anak semata wayang saya, Adella, "Del, sekarang tanggal 26!"

"ASTAGAAA ......" anak saya njenggirat.

Tiga hari lalu saya sudah berpesan, tanggal 26 jangan sampai lupa. Malah pikun bareng.

SELAMAT ULANG-TAHUN SRI WAHYUNI. MAAF YA, TELAT, LUPAAAAA 

#Berhubung anakku yang belum 25 juga lupa, berarti kali ini bukan akibat faktor umur#


LABEL: JEJAK WAKTU

23 Januari 2023

Tidak Kalah, Hanya Berubah

 


Awal yang Tak Terduga
Sampai 2018, sudah lima tahun lebih saya lalui bersama rasa lelah absurd—seperti baru menuntaskan ekspedisi ke puncak Himalaya, padahal aktivitas terberat saya hanya menggerakkan mouse komputer. Tubuh ini bagai mobil tua yang mesinnya terus menggerutu, meski hanya dipakai belanja ke warung tetangga.

Bermula dari sedikit capek yang terasa hampir sepanjang hari, lalu muncul  angka di hasil cek lab, yang memaksa saya berhenti bercanda: Trigliserida, 565. Tiga kali lipat batas normal.

Ketika akhirnya saya ketahuan tidak patuh perintah diet, dokter memberi dua pilihan telak: ubah hidup sekarang, atau tunggu stroke datang menjemput.

Perang Melawan Diri Sendiri
Bulan pertama patuh diet lebih mirip siksaan. Gorengan, es krim, dan tongseng kambing—teman-teman setia di meja makan yang sukses membuat berat badan naik sampai 67kg, dari sebelumnya hanya 55—terpaksa saya tinggal demi sayur yang rasanya seperti amplas.

Setelah ditambah Gemfibrozil selama 30 hari dan Aerobik tiga kali seminggu, meskipun saya lakukan dengan setengah hati, ternyata memberi hasil nyata: trigliserida turun ke 280, berat badan menyusut 6,5 kg.

Tapi kemenangan kecil itu juga minta bayaran ekstra. Bulan kedua berat badan anjlog sampai 56 kg. Perut kerap mual, dan lidah kehilangan selera. Sementara capek yang semula sempat berkurang, malah ngundang teman, pegel-pegel di sekujur tubuh.

Pandemi, Musuh yang Tak Terlihat
Tahun demi tahun berlalu, koleksi dokter saya makin lengkap, obatnya juga makin variatif. Berasa main game RPG—musuhnya makin banyak. Lalu, datanglah pandemi. Waktu orang-orang dibuat ketakutan oleh virus corona, saya lebih repot mikir vertigo, aritmia, dan gatal sekujur badan yang sumbernya entah di mana.

Di sinilah semuanya berubah drastis. WA tidak lagi meriah dan penuh tawa canda seperti sebelumnya, berganti kabar kematian yang muncul hampir setiap saat. Tidak jarang, pagi atau sore sebelumnya masih saling berbagi kabar, hari berikutnya sudah meninggal – dan tragisnya, dimakamkan tanpa boleh dihadiri oleh siapapun.

Tak lama kemudian, pemerintah memberlakukan pembatasan sosial, membuat aktivitas serba terbatas. Keluar rumah dibatasi, harus jaga jarak, pakai masker, dan jadi sering ngomong tanpa kelihatan mulut. Jadwal kontrol kesehatan saya jadi kacau.

Saya panik dan marah, sekalipun tidak tahu siapa yang mesti jadi sasaran. Sebelumnya, tiga kali sehari saya nenggak segenggam obat, lalu tiba-tiba harus terhenti begitu saja, gara-gara rumah-sakit berubah menjadi arena horor akibat rumor “banyak pasien dicovidkan”.

Pelajaran dari Kekacauan
Sama sekali tanpa obat sebenarnya sangat berat bagi saya. Selain merasa semakin tidak nyaman, saya menjadi gampang tersinggung dan selalu kebelet marah.

Supaya orang rumah tidak jadi korban konyol, saya nekad, tiap hari kelayaban. Kadang nengok kantor. Kadang hanya nongkrong di warung tetangga yang kebetulan tidak tutup. Kadang hanya bengong saja di pinggir jalan.  

Tapi entah kenapa, berada di luar justru membuat badan terasa lebih enak, ketimbang hanya tiduran sambil ngemil di rumah. Terutama setelah saya ikutan menjadi kurir belanja. Sedikit istirahat, membuat saya sering lupa kalau badan sedang tidak baik-baik saja.

Di saat hiruk pikuk pandemi mulai reda dan kehidupan mulai kembali normal, saya baru sadar, ternyata saya masih hidup dan mampu beraktifitas sewajarnya, meskipun lebih dari setahun sama sekali tidak minum obat. Saya bahkan tidak ingat lagi kapan terakhir vertigo kambuh.

Kadang saya masih ngantuk tanpa sebab. Sekujur tubuh masih terasa pegal, tapi tidak ada lagi nyeri di bagian ulu hati. Tidak mual, dan yang paling saya suka, makan apapun kembali terasa enak.

Apakah saya sembuh?

Seperti sering terjadi, tidak merasa sakit bukan berarti beneran sehat. Sampai hari ini, lengah sedikit trigliserida bisa njeplak sampai di atas 1000. Kejang otot di pinggang dan perut bagian atas masih kambuhan. Belum lagi kondisi mata kanan yang minusnya sudah lebih dari 10, sedangkan mata kiri hanya bisa membaca tulisan pada jarak kurang dari 4cm.

Pada akhirnya, saya memilih lebih banyak memperhatikan diri sendiri—belajar ngobrol dengan hati yang dulu sering saya abaikan. Saya mulai menulis, kembali hunting foto, dan pelan-pelan mencoba mengisi ulang energi yang sudah lama tekor. Hidup memang tidak kembali seperti dulu. Kadang melelahkan. Tapi tetap layak disyukuri.

Pandemi memberi pelajaran bahwa hidup bukan tentang menjadi pemenang tanpa luka. Melainkan berubah tanpa kehilangan diri sendiri. Dan hari ini, dengan segelas air putih di tangan dan matahari pagi di beranda, saya memutuskan untuk menata kembali segala sesuatu yang sempat berantakan.


LABEL: JEJAK WAKTU


Ketika Satu Pintu Terbuka

 


Satu pintu tiba-tiba terbuka di hadapan saya. Entah kenapa, saya tergoda untuk masuk. Tapi begitu saya tiba di dalam, segala sesuatu yang terlihat indah dari luar, ternyata hanya ilusi. Dari tempat saya berdidi di ambang, yang terlihat jelas hanya sejengkal saja. Selebihnya berkabut dan gelap. Sepertinya saya berada di dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia kasat mata.

Sesaat saya sempat bertanya pada diri sendiri, “Untuk apa saya berada di sini? Apa yang saya cari?”

Kalau mau jujur pada diri sendiri, kehidupan saya sebenarnya baik-baik saja. Sekalipun secara finansial hanya tipis, tapi rejeki selalu datang. Sekalipun badan pegel-pegel, ngantukan dan gampang capek, saya masih bisa dolan dan berkarya dengan baik. Membuang waktu, menjelajahi ruang antah berantah, seperti kurang bersyukur dengan realita yang sudah saya terima. Kenapa tidak memanfaatkan waktu untuk urusan lain yang lebih jelas manfaatnya. Atau, bisa juga untuk mendapatkan lebih banyak bekal akhirat. Sudah lewat 60 lho. Setiap saat bisa dipanggil.

Sesuatu di kepala menjawab, “Kamu sudah menjalani hidupmu dengan baik. Kalau kamu memanfaatkan sebagian kecil waktumu untuk menjelajah lebih jauh, bukan berarti tidak bersyukur. Justru sebaliknya, aktifitas itu sebagai perwujudan syukurmu memiliki akal budi. Ibarat tangan, yang punya fungsi utama untuk memegang dan meraba. Tidak salah kalau kemudian ada yang mengembangkan ketrampilan tangannya, sehingga bisa menjadi pemahat, pelukis, atau koki”

Suara lain menambahkan, “Meskipun yang kamu hadapi tidak kasat mata, tapi mempelajari pikiran sama seperti belajar anatomi tubuh. Kamu masih tetap ada di duniamu, tidak masuk ke dunia khayal atau mistis. Semua yang ada di sini bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.”

Saya sempat menganggap suara itu sebagai godaan yang menjerumuskan, seandainya tidak merasakan kehadiran dua entitas yang sepertinya sangat familiar. Gebul dan Hellboy, dua teman khayalan yang sering muncul tanpa permisi. Sebenarnya mereka tidak punya wujud, hanya ada suara belaka di kepala, tapi supaya saya tidak merasa berhadapan dengan mahluk halus, mereka saya beri wujud kucing dan setan merah Hellboy. Tapi kali ini pikiran saya tidak bisa membayangkan wujud mereka.

Sebelum saya bertanya, salah satu memberi penjelasan, “Di sini kamu harus belajar tidak menghakimi. Wujud yang kamu berikan pada kami berasal dari penghakiman yang dilakukan oleh nalarmu. Kalau kamu pengin jalan terus, berhentilah berprasangka, jangan menghakimi, dan jangan gampang terhasut. Kebenaran ilmu pengetahuan hanya bisa kamu temukan selama pikianmu tidak gampang diprovokasi oleh lingkungan.”

Saya jadi ingat gambar tiga monyet lucu yang saya temu di Google. Satu berkacamata, satu lagi mengenakan masker menutup wajah dan mulut, yang ke tiga mengenakan headphone di telinga. Gambar itu versi lucu dari three wise monkey, yang dianggap melambangkan see no evil, speak no evil, hear no evil. Saya rasa yang diucapkan Gembul tentang berprasangka, menghakimi dan gampang diprovokasi, agak nyambung ….. eh, tidak ada Gembul lagi ya?

Giliran Hellboy bicara, “Hanya sekedar nama, tidak apa-apa. Selama kamu tidak beranggapan dia sebagai kucing dan aku sebagai dhemit merah.”

“Baiklah, mulai sekarang Gembul dan Hellboy hanya sekedar nama.”

“Kenapa Hellboy? Sepertinya kamu suka dengan penampakan setan merah itu.”

 “Suka saja. Tapi baiklah, kita ganti. Karena tandukmu puthul, sekarang namamu Bujel.”

Terdengar suara tawa Gembul berkepanjangan diselingi sumpah serapah Bujel. Lalu, seperti sebelumnya, dua entitas itupun ribut lagi.

 Jadi, sekarang saya sedang menjelajahi pikiran? Dunia yang dalam anggapan saya sebelumnya, hanya beda tipis dari khayalan, karena di sini saya bisa membayangkan apa saja sebagai sesuatu yang nyata.

Entah Bujel, Gembul atau ada yang lain, memberi peringatan, “Hati-hati dengan pikiranmu. Tidak jarang, yang kamu pikirkan terwujud secara nyata pada arah sebaliknya.”

“Aku tidak paham.”

“Kamu ke dokter, diet, olah-raga. Pagi, siang sore meyakinkan dirimu bisa kembali sehat dengan niatan pengin sembuh. Tapi kalau pada saat yang sama kamu biarkan pikiranmu berkeluh kesah tentang kondisi fisikmu, tentang pegel-pegel, tentang matamu yang sangat rabun, kamu akan sembuh pada arah yang berlawanan. Karena mati juga terbebas dari segala penyakit, sembuh tapi dalam arah berbeda. Bawah sadar hanya merespon hati, bukan otak. Supaya keinginanmu terwujud, otak harus selaras dengan hati”

What the hell …….

Lagi-lagi kena tegur, “Kalau masih demen ngumpat, pilih umpatan yang tidak punya konotasi negatif, supaya tidak memancing emosi terlibat secara negatif.”

Hampir saja saya bertanya, memang ada umpatan macam itu? Ternyata ada. Saya sering mengucap TELOOOO, WEDHUUUSSSS, JAMBU. 

"Kalau aku harus menjaga supaya emosi tetap positif, kenapa kalian  sering ribut?"

“Kami hanya refleksi dari pikiranmu, selama kamu menikmati saat emosimu terlibat, akan terus seperti itu. Kamu tidak dilarang melibatkan emosi, selama masih dalam arahanmu.”

Spontan saya tarik nafas panjang dan dalam, lalu tahaaaannnn ……

“Bukan seperti itu. Mengarahkan tidak sama dengan memaksakan kehendak.”

“Apakah mengatur nafas sama dengan memaksakan kehendak?”

“Hanya ketika niatmu ingin memaksa mengendalikan emosi.”

Lha kok ruwet?

“Dalam dunia mental,  selama kamu belum mampu mengarahkan pikiran dan emosimu, setiap langkah ibarat meniti jembatan setapak. Meleng sedikit, jatuh.”

We, lah.

Saya tahu, sambat tidak pernah menyelesaikan masalah. Tapi ketika beban sudah luber, kadang tanpa sadar mulut ini mengeluh. Selain terjadi secara spontan, sebenarnya saya memang tidak tahu cara mengurangi tekanan beban selain sambat atau kadang misuh. 

Dulu sekali, ketika masih belajar olah nafas, salah satu guru saya pernah mengajarkan caranya, dengan mengabaikan apapun tekanan yang saya rasakan. Masalahnya saya bukan Rambo, sosok fiktif yang konon bahkan mampu mengabaikan rasa sakit akibat siksaan musuh. Sementara saya, mengabaikan bayangan sakitnya dicubles jarum suntik saja tidak kuasa. Padahal hanya bayangan, tidak beneran disuntik. Meskipun saat benar-benar dicubles, ternyata sering tidak merasakan apa-apa. Tau-tau sudah selesai, sementara otak masih ribut membayangkan bagaimana sakitnya nanti.

Eh, sebentar! Kenapa jadi berasa sepi?

”mBul? Bujel? …… “

Tidak ada respon. Tetap sunyi. Sepertinya hanya ada saya – pengin nambahi, ada Tuhan juga. Tapi  Tuhan ada di mana?

“Tidak perlu dicari. Sadari saja bahwa Tuhan bersamamu”

Saya tolah-toleh, mencari, barangkali Gembul dan Bujel sedang iseng main petak umpet. Tapi berulangkali saya panggil, sama sekali tidak ada jawaban. Lalu siapa yang bicara? Sudah pasti bukan makhluk halus. Saya tidak pernah punya keinginan berurusan dengan makhluk macam itu.

Suara itupun kembali terdengar, “Kamu bukan setitik air yang dibuang ke laut. Kamu adalah setitik yang menjadi bagian dari lautan. Setiap titik di badanmu adalah bagian dari Alam Semesta. Kamu adalah miniatur dari Alam Semesta. ”

Sebenarnya saya tidak paha-paham amat, tapi, oke, saya terima. Saya bukan sesuatu yang ditambahkan ke Alam Semesta, melainkan sebagai bagian darinya. Begitu pula dengan yang lain. Maka sebenarnya saya tidak pernah sendiri.


LABEL: DI UJUNG PERBATASAN

01 Januari 2023

Old & New, Home Alone

Sebenarnya saya berencana menghabiskan malam pergantian tahun 2022 ke 2023 di rumah sakit. Istri saya sudah tiga hari dirawat karena trombosit dan HB-nya ngedrop. Eh, malah apes, menjelang tengah hari perut saya tiba-tiba kolaps. Diare tiga kali dalam hitungan jam. Badan lemas, kepala pusing. Tapi saya masih bertahan di kantor sampai tutup buku selesai. Menjelang Ashar, saya menyerah. Pulang.

Perjalanan pulang serasa lomba marathon, panjang dan melelahkan. Motor nyaris kehabisan bensin, sementara SPBU terdekat berada di arah berlawanan  dengan jalur pulang. Toko pakan kucing dekat rumah, yang biasanya buka hingga malam ternyata sudah tutup, membuat perjalanan semakin jauh. Setiba di depan rumah saya baru ingat, belum beli makan malam. 

Saya tahu betul kebiasaan tubuh saat sedang tidak enak badan. Begitu nyenggol sofa, langsung kambuh malas. Maka, selagi masih di luar dan belum tergoda untuk rebahan, harus beli makan dulu. Saya tidak ingin masuk angin lagi hanya gara-gara telat makan. 

Ternyata, perjalanan yang lebih panjang, ditambah sedikit maksa bertahan tidak keburu ambruk, untuk memberi makan kucing dan ayam, greges-greges, mual dan pegel-pegelnya tidak terasa lagi. Terutama setelah melahap nasi bungkus yang semula saya siapkan untuk makan malam.

Menjelang Magrib, setelah mandi air hangat, badan terasa lebih segar. Saya pun bersiap berangkat ke rumah sakit. Tapi begitu keluar halaman,  badan tiba-tiba menggigil. Terpaksa putar balik, dan langsung meringkuk dalam selimut.

Mendekati pergantian tahun, perut mulai keroncongan. Di rumah hanya tersisa kurma, wafer, dan beberapa bungkus mi instan. Sementara lidah Jawa saya tetap minta nasi.

Beruntung, masih ada warung yang buka.

“Sendiri saja, Pak?” tanya penjualnya. Padahal dia tahu saya datang sendiri.

Begitulah asyiknya Indonesia. Bermula dari pertanyaan basa-basi, berkembang menjadi obrolan gayeng.

Perut saya ternyata cuma aleman. Setelah empat suap, semangat ngunyah langsung ambyar. Nasi setengah porsi yang sebenarnya cuma segenggam, mendadak nampak segunung.

Di saat saya bingung cari alasan untuk berhenti makan, ponsel penjual nasi berdering. Suara dari loudspeaker terdengar cukup jelas. Orang di sebelah sana memberi tahu, istrinya baru saja melahirkan.

“Tutup saja, Mas. Nggak apa-apa,” saya langsung memanfaatkan situasi, menyelamatkan diri dari rasa bersalah karena makan masih tersisa banyak.

Saya pulang jalan kaki, ditemani suara jedoran mercon menyambut tahun baru.

Setiba di depan pagar rumah, para kucing muncul satu per satu dan mulai ribut. Saya kira mereka minta makan, ternyata cuma pengin ditemani. Mereka selonjoran manis di sekitar saya.

Tahun sudah berganti. Jedoran mercon mulai reda. Satu per satu kucing-kucing pergi. Tinggal saya sendiri, termenung di teras.

Di saat mata mulai ngantuk, saya merasakan kehadiran sesuatu di arah pintu masuk rumah. Hampir saja saya kabur. Tapi percuma. Kalau yang datang itu punya niat buruk, saya tidak punya tempat untuk ngumpet.

Saya punya teman-teman khayalan, tapi setiap kali mereka datang, saya tidak merasakan sensasi apapun. Beda dengan yang ini. Saya bisa tahu persis dimana dia berada. Bahkan saya merasakan ketika dia sedang “melihat” saya atau “memandang” ke arah lain.

Saya tidak tahu harus bagaimana, selain diam dan menunggu. Supaya pikiran tidak ngelantur ke sana ke mari, awalnya saya menyanyi dalam hati, kemudian memutar musik instrumental di ponsel.

Setelah beberapa lagu berlalu, dan mata semakin berat, saya memberanikan diri bicara, “Aku ngantuk, boleh tidur?”

Entah kebetulan atau hanya perasaan saya, setelah itu sensasi aneh di dekat pintu tidak terasa lagi. Suasana yang semula tenang dan tidak terasa sepi, mendadak berubah menjadi hening, dingin dan terasa, saya sedang sendiri.

Saya pun berdiri, mengucapkan terima kasih sudah ditemani, lalu bergegas masuk rumah.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL