16 Agustus 2026

Menyantet Diri Sendiri

 

Ketika ditanya pekerjaan, saya jawab sudah pensiun, sekarang jadi paranormal.

Petugas sensus yang mungkin merasa menemukan profesi langka langsung melanjutkan pertanyaan, “Terapi alternatif, ya, Pak?”

“Nyantet.”

Saya tertawa melihat wajahnya mendadak tegang. Setelah sadar sedang dikerjain, dia ikut tertawa. Entah karena lega atau karena sudah telanjur mencatat saya sebagai warga yang agak mencurigakan.

Ngomong-ngomong soal santet, apakah benar ada orang mampu memasukkan paku, pecahan beling, kawat, atau benda-benda aneh lainnya ke tubuh orang lain melalui ritual tertentu?

Saya tidak tahu.

Saya belum pernah menyaksikan langsung korban santet dengan isi tubuh mirip gudang material.

Tapi kalau ditanya, apakah santet beneran ada, saya bisa menjawab dengan tegas, ada. Bahkan sebenarnya, meskipun tidak pernah belajar ilmu gaib, kita semua adalah ahli santet. Bedanya, kita tidak nyantet orang lain, melainkan nyantet diri sendiri.

Tidak ada satupun yang menyadari, apalagi sengaja melakukannya. Semuanya berlangsung pelan-pelan dalam sunyi.

Santet jenis ini tidak membutuhkan kemenyan, sesajen, mantra, energi gaib, bantuan jin, apalagi benda pusaka. Modalnya jauh lebih sederhana: pikiran yang dibiarkan liar, emosi yang tidak dikendalikan, kebiasaan buruk yang dipelihara, dan kemampuan luar biasa untuk mengabaikan konsekuensi.

Kita membiarkan emosi menguasai akal sehat. Marah sedikit, dipelihara menjadi dendam. Kesal sedikit, dibawa tidur. Mendengar berita yang belum jelas, langsung percaya. Membaca kabar provokatif, darah naik. Belum selesai memeriksa fakta, jempol sudah bekerja lebih cepat daripada otak.

Besoknya badan protes. Kepala pusing, perut bermasalah, jadwal tidur berantakan, jantung berdebar, tekanan darah naik. Lalu kita bingung, “Kok hidup saya begini amat?” Sementara si pelaku santet masih cengar-cengir di depan cermin. Kita sendiri.

Tentu saja bukan berarti semua penyakit dan kesialan adalah akibat pikiran atau perilaku kita. Hidup punya banyak faktor yang tidak bisa kita kendalikan. Tetapi ada bagian yang jelas-jelas berada dalam wilayah tanggung jawab kita: bagaimana kita makan, bagaimana kita bereaksi, bagaimana kita memperlakukan tubuh, bagaimana kita mengelola emosi, dan bagaimana kita membiarkan pikiran bekerja. Bagian inilah yang sering diabaikan.

Dulu saya beranggapan bahwa nasib buruk terjadi atas kehendak Tuhan. Bisa sebagai ujian, bisa sebagai hukuman.

Belakangan saya mulai bertanya-tanya: Bagaimana Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun bisa sekaligus menjadi Pemarah dan suka menghukum?

Kalau semua kesialan adalah ujian iman, kapan selesainya?

Kalau setiap penyakit adalah hukuman, mengapa ada orang yang kemudian sembuh sementara yang lain jadi lebih parah? 

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat saya lebih memilih  konsep konsekuensi ketimbang konsep reward and pinishment.  Sakit perut setelah menghabiskan cabai sekilo dalam sekali makan adalah konsekuensi. Tidak ada kaitannya dengan Tuhan.

Perbuatan baik membawa konsekuensi baik. Kecerobohan dan perbuatan buruk membawa konsekuensi buruk. Tidak semuanya langsung terlihat, tetapi bukan berarti tidak ada. Dan konsekuensi itu tidak selalu berasal dari tindakan fisik. Pikiran dan emosi juga ikut bekerja.

Kita mungkin tidak pernah memukul orang, tetapi setiap hari memelihara kemarahan. Tidak pernah menenggak racun, tetapi terus-menerus memproduksi stres. Tidak pernah menyentuh paku, tetapi hidup dengan ketakutan dan kecemasan yang tidak ada habisnya. Tidak pernah menyulut api, tetapi setiap hari membakar diri sendiri dengan kebencian.

Tubuh tidak selalu bisa membedakan antara masalah yang benar-benar terjadi dan masalah yang terus-menerus kita putar di kepala.

Saya pernah mengalami sendiri masa ketika saya mencitrakan diri sebagai orang yang punya kuasa dan ditakuti. Secara finansial saya berhasil. Saya punya power, dan ada banyak teman yang bersedia berantem demi saya.

Dari luar kelihatan keren. Sementara sesungguhnya saya sering merasa sepertihidup sendiri di dunia yang sepi, dan selalu merasa was-was.

Pengalaman mengajarkan bahwa konsekuensi buruk lebih mudah di hadapi saat saya berani mengakui diri sendiri sebagai biang masalahnya, ketimbang kalau semuanya dilempar kepada Tuhan .

Gagal dianggap sebagai kehendak Tuhan. Bonyok sehabis berantem dibilang takdir. Punya duit banyak dianggap sebagai ujian. Apakah kalau salah makan sampai masuk rumah sakit, Tuhan juga yang disalahkan?

Saya pernah harus nenggak segenggam obat dalam sekali minum karena waktu muda tidak pernah perduli terhadap konsekuensi dari pola makan ugal-ugalan dan mengkonsumsi suplemen secara sembarangan. Banyak peringatan saya abaikan. 

Ketika tubuh mulai memberi sinyal, saya tetap cuek. Sampai akhirnya tubuh mencapai batas toleransinya. Sayapun ambruk. Mau mencari kambing hitam sampai ke ujung Galaksipun percuma. Bukti-buktinya jelas: saya sendiri yang menanam benihnya.

Kemudian pandemi menghalangi jadwal kontrol, menyebabkan saya tidak lagi mendapat obat. Seandainya gangguan kesehatan yang saya alami adalah hukuman dari Tuhan, sudah pasti saya tidak akan mampu bertahan lebih dari sehari tanpa obat. Ternyata bukan hanya bertahan, saya bahkan akhirnya terbebas sama sekali dari ketergantungan obat.

Dari pengalaman itu saya justru mendapatkan kesimpulan: sepertinya sejak awal Tuhan tidak pernah menginginkan saya sakit. Saya sendiri yang mengundang penyakit, melalui pola hidup dan kebiasaan makan ugal-ugalan, 

Sampai di sini, misteri santet mulai terbaca. Tidak perlu ada orang lain yang berniat mencelakai. Tidak perlu paku, tidak perlu jarum, tidak perlu beling, tidak perlu kawat, apalagi remukan bangkai pesawat terbang. Cukup makan sembarangan, hidup sembarangan, berpikir sembarangan, marah sembarangan, dan mengabaikan semua peringatan tubuh. 

Ketika hari panen tiba, satu persatu konsekuensinya muncul: Trigliserida sering njeplak di atas 1000, asam urat gampang naik, vertigo dan aritmia menjadi langganan. Meskipun tidak ada benda keramat masuk tubuh melalui ritual gaib, hidup saya tidak pernah baik-baik lagi.

Santet tradisional membuat orang bertanya, “Siapa yang melakukan ini kepada saya?”, sementara santet versi saya justru membuat pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang selama ini saya lakukan kepada diri sendiri?”



Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri WOLES ZONE

14 Agustus 2026

Saat Efek Samping Beneran Terjadi

Instalasi Radioterapi akhir Oktober 2023

Dokter yang menangani radioterapi menarik napas panjang sebelum berkata pelan, “Kemungkinan efek samping radiasi.”

Kalimatnya pendek, tapi nyaris membuat kepala saya meledak.

Penjelasan singkatnya, radioterapi dengan target area panggul untuk kanker kolorektal memang punya resiko memicu efek samping pada saluran kemih, diantaranya terjadi penyempitan sampai penyumbatan.

Sementara penjelasan Google bukan hanya lebih lengkap, juga lebih nonjok. Sinar radiasi dirancang untuk mematikan sel kanker. Masalahnya, jaringan normal di sekitarnya juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang, radiasi dapat menyebabkan peradangan kronis yang memicu terbentuknya jaringan parut pada saluran kemih. Jaringan parut itu kemudian bisa menyebabkan penyempitan, bahkan  penyumbatan.

Saya pengin misuh sekeras kerasnya. Beruntung peringatan halus di kepala mencegah rombongan penghuni kebun binatang yang sudah diujung lidah terucap: “Tidak ada teraapi yang aman untuk kanker. Peluangmu hanya memperpanjang umur. Peluang itu masih ada, jangan kamu sia-siakan.”

Diantara batin yang masih rame, mendadak saya teringat nasehat ibu puluhan tahun lalu, ketika saya nyaris mutung karena merasa nasib saya terus terusan sial, “Ombak bisa membunuh, tapi juga bisa melahirkan pelaut tangguh.”

Saya menjadi seperti sekarang bukan karena hidup selalu ramah. Saya kuat karena berani menghadapi kesulitan. Kadang mudah, kadang harus babak belur dulu, baru bisa berdiri lagi. 

Begitu pula dengan terapi penyakit. Herbal atau medis, semua berlaku seperti ombak, bisa membuat pasien menjadi lebih kuat, atau sebaliknya.  

Setelah mobil yang membawa istri saya menghilang di balik tikungan, saya berjalan gontai menuju parkiran motor.

Gamparan-gamparan mental seperti ini sering saya alami sejak Yuni didiagnosa kanker. Sekeras apapun perangai saya sehari-hari, ada saat-saat tertentu air mata tidak bisa diajak kompromi. Itu sebabnya saya memilih motoran, tidak ikut di mobil bersama istri saya.

Saya mulai memahami satu hal: menjadi kuat bukan berarti tidak pernah takut atau menangis.
Kadang hanya berarti tetap berjalan meskipun kaki rasanya sudah tidak mau diajak kerja sama.

Alam semesta tidak kenal konsep benar atau salah, baik atau buruk. Hanya ada konsekuensi terhadap tindakan yang kita pilih. Repotnya, konsekuensi itu tidak pernah benar-benar bisa diperkirakan. Selalu ada faktor X yang membuat hasil akhir bisa beda jauh dari keadaan yang diharapkan. Bagi sebagian orang bisa berarti kegagalan, tapi saya memilihnya sebagai pelajaran.

Tiba-tiba muncul pertanyaan yang menyebalkan, “Pelajaran apa yang kamu dapat dari efek samping itu?”

Sampai sekarang saya tidak punya jawabnya. Sakit tetap sakit. Efek samping tetap efek samping. Tidak semua pengalaman buruk harus dipaksa memiliki makna hanya supaya saya merasa lebih nyaman.

Sekitar sepuluh hari sebelumnya Yuni menjalani operasi untuk membuka sumbatan di saluran kemih.

Operasi itu sempat tertunda karena Yuni ternyata alergi terhadap antibiotik yang disuntikkan menjelang operasi.

Awalnya tidak terjadi apa-apa, tapi sekitar satu jam kemudian Yuni mulai kesakitan. Air kencing yang sudah beberapa hari tidak lancar keluar, dan sebagian tertahan di kandung kemih yang mengalami infeksi, menimbulkan nyeri yang ternyata tidak mampu diatasi oleh obat pereda nyeri.

Sepanjang pernikahan kami, saya tidak pernah mendengar sekalipun istri saya mengeluh, tapi hari itu Yuni sampai menangis dan merintih.

Jiwa pengecut saya sudah berteriak kencang, menyuruh saya segera keluar dari kamar rawat inap, tapi sedikit rasa tanggung jawab yang entah muncul dari mana, membuat saya bertahan di sebelah tempat tidur sambil menggenggam tangan Yuni.

Disaat saya bingung tidak tahu harus berbuat apa selain hanya memandangi Yuni yang semakin sering merintih, otak saya mengajukan gagasan absurd, “Minta morfin.”

Ketika saya hanya bengong, satu bentakan keras bergema di kepala, “CEPAT, BEGO!”

Perlahan saya lepas genggaman tangan Yuni yang sudah mengeras, lalu bergegas menuju ruang perawat.

Minta morfin?

Dulu, pasca operasi kanker, ketika dokter meresepkan MST sebagai obat pereda nyeri, saya bujuk Yuni supaya minta obat lain. Dokter sempat kaget, lalu hanya memberi Paracetamol sebagai penggantinya. Dengan kemauan keras, Yuni rela nahan sakit sepanjang hari, dan hanya minum Paracetamol menjelang tidur malam, supaya bisa istirahat sesaat.

Sekarang saya mau minta morfin?

Hidup kadang punya selera humor yang aneh. Dihadapan perawat, tanpa kompromi dulu, mulut malah minta kateter dicopot. Perawat hanya menggeleng. Kateter tidak bisa dilepas begitu saja.

Masih belum menyerah, dan mengabaikan persetujuan otak, mulut saya minta kateter diganti.

Dokter yang kemudian dihubungi melalui telepon ternyata setuju.

Entah kebetulan, keajaiban atau apa, saya tidak perduli, begitu kateter dilepas, urin langsung membanjir keluar. Setelah kateter diganti, Yuni berangsur tenang.

Tak lama kemudian dokter datang memeriksa, lalu memutuskan operasi akan dilakukan selepas magrib.

Ketika Yuni menjalani operasi, saya tidak ikut ke ruang yang disediakan untuk keluarga pasien menunggu. Badan tiba-tiba berasa remuk macam habis ditonjok orang sekampung.

Saya menuju lobby depan, niatnya mau mendaftar untuk konsul ke dokter. Terpaksa batal setelah sadar tidak bawa dompet. Dikantong hanya ada recehan 33 ribu. Saya termenung di depan lift, tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Mau kembali ke kamar di lantai dua, malah keburu lapar. Akhirnya saya masuk kantin.

Makan malam saya terganggu oleh suara gaduh dari meja sebelah. Sebenarnya tidak ada niat nguping, tapi suara mereka cukup keras untuk ruang kantin yang kecil dan mulai sepi pengunjung. Rupanya ada tindakan medis yang terpaksa ditunda karena harus mendapatkan persetujuan dari pihak asuransi terlebih dahulu.

Biasanya saya akan ikut kesal mendengar masalah seperti itu. Malam itu justru muncul perasaan lain. Saya merasa beruntung, ketika beberapa kali menghadapi kondisi darurat medis, saya bisa mengambil keputusan sendiri tanpa harus nunggu persetujuan pihak luar.

Apa pun yang dokter sarankan, kalau saya setuju, tinggal tanda tangan. Selesai. Meskipun setelah itu kadang saya garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Mandiri memang menyenangkan ………….. Sampai tagihannya datang.

Saya sadar, setelah membuat begitu banyak keputusan, dan beberapa di antaranya terpaksa saya ambil tanpa sempat berpikir panjang, saya tidak boleh terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Dalam situasi tertentu, keputusan terbaik sering diambil berdasar pilihan yang paling masuk akal berdasarkan informasi yang tersedia saat itu.

Kita baru bisa menilai apakah keputusan itu benar atau keliru setelah semuanya terjadi. Sementara hidup tidak menyediakan tombol undo. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima konsekuensinya.

Kalau kemudian muncul efek samping yang tidak ringan, saya tidak perlu mencari alasan untuk menghindar dari tanggung jawab. Bukan berarti saya harus menyalahkan diri sendiri, tapi saya harus tetap berada di sini. Tetap menemani. Tetap mengambil keputusan. Tetap belajar. Dan, mungkin yang paling penting, tetap menyediakan uang untuk semua konsekuensi yang tidak pernah masuk dalam rencana anggaran.

Setelah perjalanan panjang ini, saya mulai sadar bahwa rencana pensiun saya mungkin harus ditunda, karena bertahan tetap sehat setelah sakit ternyata tidak pernah murah.

Marah, atau bahkan putus asa, tidak akan membuat alam semesta menghilangkan ombak dari lautan kehidupan saya. Tidak tersedia pilihan lain kecuali terus berlayar. Menghadapi ombak, dihantam badai, sekedar tersesat diparkiran, atau menghadapi kenyataan bahwa di kantong cuma ada Rp33 ribu.

Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

12 Agustus 2026

Ada "selang" di Ginjal Istriku

 

Sambil nunggu saya mengumpulkan catatan terapi kanker Kolorektal yang terselip, sekarang lompat dulu ke terapi paling akhir yang dijalani istri saya sejak Februari 2026.

Senin malam, 10 Agustus 2026, selepas magrib, istri saya menjalani pelepasan stent yang sudah terpasang sejak 19 Mei lalu.

Saya sempat sedikit senewen. Saat tindakan medis Mei lalu, ada sedikit kejutan dari ruang operasi. Saya sedang liyer-liyer sambil mendengarkan musik melalui headphone di ruang tunggu, tiba-tiba saya dipanggil masuk.

Kaget, saya cuma bisa bengong.

Barangkali karena tidak sabaran, nyawa saya duluan beranjak mengikuti perawat. Saya buru-buru melepas headphone dan masuk.

Setiba di dalam saya sempat limbung. Phobia jarum mendadak kambuh. Saya berusaha keras tidak jatuh. Selain biar tidak membuat kekacauan, saya juga harus berlagak tegar di hadapan istri yang saat itu sedang bicara dengan dokter. Jadi, meskipun lutut terasa gemeteran, wajah tetap dibuat seolah-olah semuanya terkendali.

Sambil menunjukkan rekaman di layar monitor, dokter memberitahu, stent pertama yang terpasang sejak 8 Februari ternyata masih harus diganti. Saluran kemih dari ginjal kanan masih tersumbat.

Saya langsung setuju. Selain memang tidak ada pilihan lain, saya ingin cepat-cepat keluar, supaya tidak keburu ambruk. Masalahnya  bukan lagi sekedar phobia jarum. Rekening bank saya nyaris blong. Setelah dikurangi DP operasi, saldonya tinggal beberapa juta. Bagaimana kalau nanti nambahnya banyak?

Seandainya ada yang tanya, kenapa enggak pakai BPJS?

Sebenarnya pengin, tapi pengalama menghadapi penyakit penyerta dan efek samping yang beberapa kali muncul tanpa permisi selama setahun istri saya menjalani terapi kanker, membuat saya terpaksa memilih mandiri. Banyak keputusan harus diambil cepat. Kadang tanpa ada  kesempatan untuk mikir.

Bukan sok berduit. Saat sedang menghadapi keadaan darurat medis, saya tidak ingin bentrok dengan ketentuan administrasi BPJS. 

Meskipun hasil BNO (Blass Nier Overzicht) tanggal 3 Agustus menyiratkan kondisi baik, dan dokter juga sudah tegas mengatakan stent yang tinggal sebelah bisa dicopot ( yang sebelah kiri copot sendiri 3 hari setelah pemasangan ke dua ), otak saya tetap belum bisa benar-benar tenang.

“Jadi kamu capek?”

Saya jelalatan. Suara itu terdengar sangat jelas, tapi sudah pasti tidak diucapkan oleh orang-orang yang ada di ruang tunggu.

“Tidak, tidak, tidak!” Suara saya nyaris terucap.

Dalam hati saya minta maaf kepada Tuhan, kepada alam semesta, dan kepada istri saya yang sedang terbaring di dalam. Saya tidak capek. Saya justru berterimakasih mampu berjuang sampai sejauh ini.

Semua yang terjadi bukan bencana, bukan hukuman, juga bukan nasib sial, melainkan konsekuensi dari pilihan di masa lalu. Ini bukan kalimat basa-basi dari orang yang patah arang lalu mencoba sok bijak. Senyatanya memang begitu yang saya rasakan. 

Semua bermula pada awal Januari. Saat saya terlanjur janjian konsultasi pajak, istri saya memberitahu, bagian pinggang sudah beberapa hari terasa pegal. Dia minta ijin ke dokter tanpa nunggu saya.

Sekitar jam 10, anak yang menemani ibunya ke klinik mengirim foto hasil tes urine. Ada indikasi infeksi.

Entah kenapa, otak saya langsung mengaitkan hasil tes urin yang belum dikonsultasikan ke dokter itu dengan infeksi dan penyumbatan saluran kemih yang dialami istri saya bulan Oktober 2023, sampai harus menjalani operasi.

Ketika tahu istri saya ternyata periksa ke dokter umum di klinik lain, bukan di rumah sakit yang punya rekam medis mengenai riwayat kesehatannya, saya langsung minta mereka segera menuju rumah sakit untuk konsultasi ke spesialis urologi.

Selama perjalanan dari kantor pajak menuju rumah sakit, yang sebenarnya dekat, tapi jalurnya mutar jauh, berulang kali otak saya nebak-nebak kemungkinan terjadi infeksi sistemik.

“Ini bukan seperti dulu. Kemungkinan sudah sampai ke ginjal.”

Saya tidak punya latar belakang pendidikan medis, tapi sejak istri saya didiagnosa kanker, saya banyak belajar tentang penyakit, terapi dan efek samping pengobatannya, membuat otak saya sedikit sok tahu.

Ketika urolog menjelaskan hasil cek urin dari klinik, mulut saya tanpa permisi langsung bertanya, “Apakah ada kemungkinan infeksi sistemik?”

Dokter sempat kaget, tapi kemudian menyatakan bahwa dugaan itu memang perlu dipertimbangkan. Untuk memastikan kondisi sebenarnya, istri saya diminta menjalani USG.

Hasil USG membuat saya stres. Kedua saluran dari ginjal mengalami infeksi. Yang kanan tersumbat, menyebabkan ginjal kanan mengalami radang.  Sistem tubuh saya langsung kocar kacir. Jadwal BAB setiap pagi macet total. Tidur malam tidak pernah nyenyak. Saya berulangkali terjaga dengan otak riuh dengan berbagai skenario.

Lucunya, setelah ketemu dokter, dan mendengar diagnosanya sama persis dengan dugaan saya sebelumnya, otak malah langsung tenang. Bahkan sebelum dokter mengatakan, otak saya sudah duluan nebak bakal dipasang stent.  

Sejak membaca hasil USG saya langsung ngobrak Google, mencari tahu kemungkinan tindakan yang bakal dilakukan dokter. Otak saya tidak yakin kondisi istri bisa selesai hanya dengan obat saja.

Google selalu punya jawaban, meskipun kadang terlalu terbuka ketika menjelaskan tentang kemungkinan buruknya.

Diantara kegelapan malam yang gerah di ruang tamu, tempat saya biasa mojok ketika otak sedang rame, pikiran saya melayang jauh ke masa ketika saya sering diajak offroad oleh teman. Aturan utama yang selalu saya ingat, “Apapun yang terjadi, jangan pernah mengeluh!”. Sambat selain tidak menyelesaikan masalah, hanya akan menambah buruk keadaan.

Tidak ada gunanya berdiri di tengah hutan sambil berteriak, "Kenapa jalannya begini?"

Jalannya memang begitu, yang harus disesuaikan adalah cara kita menghadapinya.

 

“Sudah selesai pak!” Suara perawat memecah lamunan.

Di hadapan saya dua perawat berdiri di samping tempat tidur. Istri saya terbaring dengan mata terpejam.

Saya buru-buru berkemas, lalu berjalan mengikuti mereka menuju kamar.

“Kenapa masih tidur?” Otak saya mulai bertingkah lagi.

Dua kali waktu stent dipasang, istri saya keluar ruang operasi sudah dalam keadaan sadar. Kalau kali ini cuma nyopot, kenapa masih tidur?

Di kamar, setelah menyerahkan kantong plastik berisi stent yang dicopot, perawat menjelaskan kondisi istri saya. Tidak ada masalah. Atas pertimbangan tertentu kali ini istri saya dibius total. Diperkirakan baru akan sadar penuh sekitar dua jam kemudian.

Kalau makan malam sudah diantar, boleh langsung makan.

Lega.

Masalahnya, tubuh saya punya cara sendiri untuk menikmatinya: Saya mendadak demam.

Hampir dua jam saya duduk meringkuk di kursi. Saya tahu tidak sedang sakit. Demam itu hanya pelepasan ketegangan yang tertahan sejak pagi. Begitu keadaan aman, tubuh seolah berkata, “Sekarang giliranku!”

Beruntung, sesaat sebelum istri saya beneran sadar, demamnya sudah mulai berkurang.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

21 Juni 2026

Kemo Pertama


Kemo pertama dijadwalkan tanggal 12 Oktober 2022, diperkirakan berlangsung mulai jam 8 pagi sampai sore. Setelah menjalani pemeriksaan rutin di UGD, Yuni dibawa ke paviliun Gardenia di lantai dua.

Ada kejutan kecil. Ternyata pendamping pasien boleh masuk ke ruang kemoterapi. Dalam bayangan saya semula, ruang kemo seperti wilayah steril penuh aturan ketat. Keluarga pasien cuma boleh menunggu sambil mondar-mandir di luar dengan wajah tegang.

Kejutan berikutnya datang dari diri saya sendiri. Entah kenapa, kali ini saya cukup punya nyali, sanggup memperhatikan tangan Yuni dicubles jarum tanpa memalingkan muka. Prestasi kecil untuk manusia yang biasanya melihat jarum suntik saja lutut langsung diskusi sendiri.

Tapi keberanian itu langsung minta pensiun dini begitu Yuni bercerita tentang sensasi "gigitan semut-semut kecil" saat cairan infus pendahuluan mulai masuk. Seluruh badan saya sontak nggregesi. Kulit merinding, dan perut siap-siap protes.

Saya sempat menyusun rencana evakuasi diri. Mulai melirik kursi paling pojok. Atau pura-pura beli minum sampai kemoterapinya selesai. Tapi entah dari mana, muncul bentakan tanpa suara di kepala saya: “Ngapain ikut masuk kalau akhirnya malah ngacir?”

Akhirnya saya bertahan. Duduk di dekat tempat tidur, berusaha terlihat tegar walaupun isi kepala sebenarnya sudah muter-muter seperti kipas angin rusak.

Menjelang prosedur pra-kemo selesai, masuk pesan WA dari teman, seorang penyintas kanker, “Enggak lupa bawa bekal makan siang kan?”

Saya langsung melongo. Lah, iya. Kenapa tidak mikir sampai ke situ? Terlalu sibuk mikir biaya, sampai lupa kalau manusia tetap harus makan meskipun sedang panik nasional.

Tapi, selagi saya menyesali kelalaian saya, petugas dari pantry masuk, menyerahkan snack untuk pasien. Sedikit lega. Paling tidak pasien enggak kelaparan. Tapi lega itu tidak bertahan lama, karena snack-nya bukan jenis "asal ada".

Otak saya langsung menyalakan alarm. Jangan-jangan Yuni masuk kelas VIP, menyesuaikan kelas rawat inap sebelumnya.

Kalkulator di kepala langsung aktif mode red alert. Baru saat itu saya sadar, sebenarnya belum benar-benar memahami rincian biaya kemoterapi ini. Sebelumnya memang diminta deposit sekitar 4,7 juta rupiah. Tapi waktu petugas menjelaskan rinciannya, otak saya lebih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Keringat dingin mengalir lebih deras saat makan siang diantar. Bukan makan siang ala “yang penting matang”. Menunya tidak beda dari yang disajikan di ruang rawat inap VIP.

Sebenarnya duit ada. Tapi kali ini saya menghadapi kanker, bukan sakit yang hanya membutuhkan rawat inap seminggu atau dua minggu. Terapi kanker adalah lomba marathon yang tidak ketahuan di mana garis finishnya, dan ada biaya ekstra yang juga harus saya perhitungkan. Saya harus cermat ngatur duit. Kehabisan napas di tengah perjalanan bukan pilihan.

Supaya ekspresi wajah saya yang galau macam diuber debt collector tidak terlihat oleh Yuni, saya sedikit menjauh, sambil membalas WA dari teman. Saya beritahu kalau pasien diberi makan siang dan snack.

Balasannya membuat jantung saya nyaris salto. “Lha iya, wong kamu di VIP.”

Saya langsung teringat cerita teman lain. Kerabatnya harus membawa bekal sendiri setiap kali menjalani kemoterapi. Mungkin karena di kelas dua atau tiga. Itupun biaya sekali kemo 15an juta. Lalu, berapa yang harus saya bayar untuk kelas VIP?

Kemo ini dijadwalkan sebanyak 6 siklus. Seandainya satu siklus biayanya 15 juta, untuk kemonya saja butuh dana paling tidak 90 juta.

MAK!!!

Setelah lumayan lama jungkir balik di kepala sendiri, akhirnya saya menyerah. Bukan menyerah pada keadaan, tapi berhenti melawan hal-hal yang belum tentu terjadi. Suka atau tidak, saya harus tetap waras. Bukan karena kuat, tapi supaya tidak runtuh.

Menjelang jam 3 seluruh proses kemo selesai. Setelah menerima obat kemo oral yang harus diminum mulai besoknya sampai hari ke 20, kami diijinkan pulang.

Saya berjalan di belakang Yuni sambil bingung. Tidak ada tagihan susulan. Tiga puluh hari kemudian, ketika membayar biaya kemo siklus kedua, saya mendapat kepastian. Biaya kemo di kelas 3 memang 4,7 juta.  


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

16 Mei 2026

Selalu Ada Drama di Kepalaku


Akhir 2022.

Begitu saya setuju kemo, otak langsung kerasukan Mang Ucup versi panik. Belum keluar ruang dokter, otak sudah teriak-teriak di kepala, “Dari mana duitnya?!”

Ada teori, otak tidak bisa tenang saat menghadapi kondisi tidak menentu. Maunya semua serba jelas: besok makan apa, uang ada berapa, dan apakah hidup akan berubah jadi sinetron azab atau tidak.

Biar tidak terus ribut sampai berjilid-jilid, saya beri solusinya, “Nanti setiba di rumah, taruh ember di bawah pancuran talang. Siapa tahu malam ini hujan duit, kita tidak perlu repot ngumpulin.”

Otak langsung tenang. Tapi tidak lama. Pantat baru nyentuh jok mobil, otak sudah menyajikan ilustrasi kepala Yuni gundul plontos. Dengan alasan butuh konsentrasi untuk nyetir, saya minta otak berhenti membuat skenario drama.

Nurut. Tapi beberapa detik kemudian, entah dari lorong memori sebelah mana, tiba-tiba muncul bayangan Sora Aoi.

Mobil yang sudah sempat mundur langsung saya hentikan. “Kita sama-sama bingung, tapi enggak gitu juga caranya. Sekarang fokus ke jalan. Nanti di rumah kita puyeng lagi barengan.”. Lalu saya segera meluncur dari parkiran rumah sakit, menuju lobby utama, sambil mencoba berpura-pura waras

Menjelang tidur otak malah menggelar acara “Kilasan Memori Lama”, diantaranya membawa saya kembali ketika ada teman menjalani perawatan kanker. Biaya sekali kemo belasan juta. Sementara kemonya berlangsung sampai 8 siklus. Belum obat tambahan. Belum pemeriksaan ini-itu. Belum biaya tak terduga yang biasanya muncul dengan santai seperti iklan YouTube.

Alih-alih istirahat, saya mecicil sampai pagi dengan pikiran semrawut.

Besoknya, meskipun ngantor, saya tidak bekerja. Otak yang mampet dan ngantuk berat membat saya hanya glundang-glundung di kamar OB. Tidak bisa tidur, tapi melekpun ogah. Sementara isi kepala sudah seperti festival sound horeg.

Drama yang disajikan otak semakin meriah setelah saya tahu istri saya akan menerima dua macam obat kemo. Oxaliplatin melalui infus, dan Taceral yang diminum seperti obat biasa.

Masalahnya, saya baru ingat belum bertanya tentang resiko dari urin pasien terhadap orang sehat dua hari setelah konsultasi berlalu. Ketika bertanya pada mbah Gugel, saya mendapat jawaban lugas dan sukses bikin bulu kuduk njengat: Urine pasien mengandung sisa obat yang bersifat toksik selama 48 sampai 72 jam setelah pengobatan.

Kalau obat infus yang hanya diberikan sebulan sekali saja resikonya sampai 3 hari, bagaimana dengan obat oral yang diminum setiap hari selama 20 hari? Sedangkan sekedar menyentuh obatpun harus menggunakan sarung tangan pelindung, dan bekas kemasannya harus di kembalikan ke rumah-sakit – tidak boleh dibuang sembarangan.

Tapi hidup kadang suka aneh. Banyak pikiran malah membuat urusan jadi lancar. Siklus kemo pertama tahu-tahu sudah berlalu. Biaya kemo di kelas 3 lumayan terjangkau. Tidak sampai 30% dari biaya yang dibayar oleh teman saya. Kerepotan di kamar mandi teratasi dengan sendirinya. Istri saya ternyata sudah tahu tata cara buang air yang aman, termasuk selalu menutup kloset sebelum menyiram.

Paling penting, siklus pertama berlalu tanpa kendala terhadap pasien.

Bahkan sampai siklus ketiga berlalu, gejala botak tidak nampak. Rambut memang rontok lebih banyak dari biasanya, tapi masih dalam batas wajar. Tapi siklus ke empat terpaksa ditunda, karena trombosit ngedrop sampai hanya tinggal 26.000.

Setelah trombosit kembali normal, dokter memutuskan melakukan operasi terlebih dahulu untuk mengangkat kankernya.

Di titik itu saya mulai sadar, kadang yang paling melelahkan dari sebuah perjalanan bukan hanya penyakitnya — tapi isi kepala yang hobi lari lebih dulu ke segala kemungkinan buruk.

01 April 2026

Dendam di Ujung Lorong


Sebelumnya disclaimer dulu: Kalau Anda sedang makan, ada baiknya tunda dulu niat membaca. Postingan ini punya potensi mampu membuat masakan chef kaliber Internasional sekalipun ditolak oleh mulut dan perut.

Bagi yang masih bertahan, saya ucapkan selamat membaca.


Saya punya kebiasaan bongkar sampah biologis setiap hari antara jam 5.30 sampai jam 7. semacam happy hour yang tidak boleh disia-siakan. Sekali saja berani absen, materi yang tertunda itu bakal marah, lalu akan melampiaskan dendamnya dua sampai tiga hari kemudian. Repotnya, mereka tidak sekedar mogok tidak mau keluar, tapi sekaligus memberi pelajaran keras sypaya lain kali saya tidak lagi main-main dengan kewajiban saya.

Biasanya, setelah lewat jam 7, saya masih diberi toleransi sekitar satu jam. Semacam kesempatan untuk bertobat. Tapi kalau tetap nekat mengabaikan, maka sanksi tegas segera diberikan. Bukan sekadar tidak mau keluar, mereka mulai unjuk rasa.

Entah guling-guling atau lompat lompatan, yang jelas mereka menciptakan sensasi seolah di bagian ujung lorong bakal terjadi bencana besar. Masalahnya, ketika akhirnya saya menyerah, lalu duduk di singgasana keramat dengan penuh harap—bahkan sampai pinggang pegal dan pantat kesemutan—Tidak ada satupun yang nongol.

Hanya ada kosong dan hening.

Tapi pelampiasan hukuman tidak berhenti sampai di situ. Selain pendendam, solidaritas mereka ternyata lumayan tinggi. Besok pagiya, kloter selanjutnya, alih-alih memaksa gerombolan yang sedang mogok  segera keluar, malah bergabung. Bersama sama menciptakan sensasi bakal terjadi erupsi besar. Tapi ketika saya kembali duduk di singgasana, bahkan sampai satu album orkestra Paul Mauriat rampung, tak satupun keluar. Yang terjadi kemudian, malah sensasinya ilang.

Saya pikir, mereka lelah, lalu Istirahat. Maka sayapun berangkat ngantor.

Ternyata mereka hanya mencari momen terbaik untuk menuntaskan dendam. Saat saya dalam perjalanan, jauh dari rumah, jauh pula dari kantor, di ujung lorong terjadi gempa tremor dengan intensitas tinggi.

Tentu saja saya kalang-kabut. Lalu lintas sedang padat-padatnya, sementara motor tua saya tidak mampu diajak adu balap, membuat keringat dingin sebesar biji jagung spontan berhamburan, mengiring perjuangan saya menjinakkan tremor supaya tidak keburu terjadi erupsi. Sumpah serapah di sepanjang perjalanan tidak lagi saya hiraukan. Saya hanya fokus berusaha supaya tidak ada lava mengalir.

Biasanya perjalanan menuju kantor saya tempuh sekitar 20an menit. Kali ini bukan hanya terasa lebih lama, tapi memang senyatanya lebih lama. Perjalanan saya terhalang kereta api. Bukan hanya satu rangkaian, tapi dua sekaligus berpapasan di depan hidung. Masih ditambah petugas pintunya tidak segera membuka palang meskipun kereta sudah melintas. Seolah dia solider dengan para demonstran di ujung lorong.

“Ndang buka-en cuuukkkk!!! Selak mbledhos iki lho.”

Begitu ujung palang sedikit terangkat, saya langsung menerobos sambil nunduk, lalu melaju secepat mungkin. Tapi apes, setiba di kantor baru ingat, hari itu tanggal merah. Libur nasional. Buru-buru saya ambil ponsel dari tas, lalu telepon penjaga kantor, mnta segera dibukakan pintu. Tapi setelah nyambung, ternyata dia sedang ke bengkel, kemarin memang saya suruh rotasi ban mobil.

Tidak ingin buang waktu, termasuk sekedar untuk misuh sekalipun, saya segera tancap gas, pulang. Tremor semakin kuat, intensitasnya semakin tinggi.

Sampai hari ini saya belum bisa membayangkan bagaimana kelakuan saya dijalan saat itu. Rel di perlintasan yang terlalu menonjol di permukaan aspal tidak lagi saya hiraukan. Terobos saja, asal tidak nyungsep. Saya sempat mendengar beberapa orang ngegas, mengucapkan kata-kata mutiara. Tapi bodo amat.

Menjelang tiba di rumah, ternyata perjuangan saya tidak dihargai. Bukan keburu erupsi, melainkan tremornya mendadak lenyap begitu saja. Di ujug lorong juga terasa sepi. Tidak ada demo. Tidak ada sensasi apapun. Bahkan setelah beberapa menit saya duduk di singgasana, suasana tetap tenang. Sampai akhirnya saya tahu diri, lalu minta maaf, dan berjanji, lain kali tidak akan mengabaikan happy hour lagi.

Ajaib. Setelah itu, dengan tertib dan santun, mereka keluar satu persatu, sampai tuntas. Tidak berisik dan tanpa drama. 


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri WOLES ZONE

01 Maret 2026

Sejuta Drama di Otak Yang Susah Diajak Tenang

Radiasi dijadwalkan sebanyak 25 kali, dimulai pertengahan Juli 2022. Sebelum radiasi yang sesungguhnya, terlebih dahulu dilakukan simulasi. Otak saya yang masih ruwet sempat bertanya tanya, untuk apa? Memangnya dokter dan petugasnya perlu latihan dulu?

Ternyata simulasi itu untuk memetakan lokasi yang akan disinar, dan menentukan masker yang akan menutup bagian tubuh yang tidak masuk sebagai target. Bagian bawah perut istri saya diberi coretan di beberapa titik. Rasanya seperti melihat teknisi mau pasang parabola, cuma yang ini antenanya organ dalam.

Meskipun sudah sedikit ngerti tentang radiasi berikut efek sampingnya, dan sudah pula mendapat penjelasan dari dokter, otak saya tetap tidak bisa tenang. Hari pertama radiasi, otak saya sibuk bikin festival drama.

Skenario “bagaimana seandainya” muncul satu per satu, membuat saya jadi lapar berat – padahal saat itu saya sedang menjalani diet untuk Trigliserida yang nangkring di atas 1000mg/dL.

Ruang tunggu yang nyaman, sejuk dan tenang tidak mampu membuat otak sedikit tenang. Bahkan ketika nalar saya berulang kali memberi peringatan, Trigliserida di atas 1000 ibarat kaki kanan di rumahsakit, kaki kiri ancang ancang ke kuburan, saya tidak lagi perduli.

Seluruh rangkaian radiasi hanya berlangsung kurang dari 30 menit. Antrian juga hanya 2 pasien. Tapi waktu yang hanya singkat itu bukan halangan, dua porsi migoreng dan segelas teh manis di kantin Sebelah instalasi radioterapi ludes tanpa sisa.

Radiasi dijadwalkan lima kali seminggu, mulai Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu mungkin untuk memberi kesempatan tubuh istirahat – sebenarnya mengenai jeda ini juga sudah dijelaskan oleh dokter saat konsul pertama menjelang simulasi, tapi saat itu otak saya lebih fokus mikir biaya.

Setelah terkuras untuk biopsi dan kolostomi, tiga rekening tabungan saya total saldonya kurang dari 8 juta, padahal biaya sekali radiasi sekitar 3 juta.

Sebenarnya ada 3 pelanggan yang masih nunggak belum melunasi tagihan lebih dari 5 tahun. Tapi ketika saya tagih, alih alih bayar, malah ngamuk.

Sempat kepikiran jual emas tabungan, tapi kata konsultan pajak saya, pajaknya terlalu besar. Rupanya selisih antara harga jual dengan harga beli dianggap sebagai keuntungan. Ada pajaknya.

Emas itu saya beli tahun 1998, seharga 32 ribu per gram. Seandainya laku 900 ribu per gram, yang 868 ribu dianggap sebagai keuntungan. Per 100 gram dianggap mendapat keuntungan 86,8 juta. Bisa kena pajak lebih dari 13 juta.

Konsultan memberi saran, mending jual mobil. Masalahnya, mobil itu salah satu sumber penghasilan saya. Kalau dijual, sama saja memotong tangan untuk membeli perban. Tapi berhubung tidak nemu cara lain, akhirnya saran itu saya turuti.

Alhamdulillah seluruh 25 sesi radiasi berlangsung lancar. Tidak ada efek samping berarti, kecuali gejala-gejala ringan seperti pada umumnya.

Sebelumnya dokter bedah digestif, yang akan menangani kankernya, memberi tahu, “Seandainya lancar, saya harap massanya bisa susut 15 sampai 20 persen.” Kaitannya tentu dengan volume massa yang akan diambil.

Berdasar hasil MRI setelah radiasi, ternyata massa susut lebih banyak. Tapi karena itu pula, dokter malah memutuskan kemoterapi dulu sebelum kankernya diambil.

Keputusan itu membuat saya merasa seperti ketemu emak-emak sen kiri belok kanan. Sebelumnya tidak ada wacana kemo. Rencananya, selesai radiasi langsung operasi.

Barangkali karena uang penjualan mobil masih tersisa lumayan, otak saya membuat skenario lain: Tanpa basa basi menampilkan bayangan istri saya gundul plontos.

Saya berulang kali memaksa diri fokus pada urusan rasional—biaya, jadwal, dan prosedur. Tapi otak ini bandel. Visualisasinya makin jelas. Sampai suatu hari, tanpa sadar saya misuh pelan tapi tegas, “Could you please shut the f**k up?”

Misuhnya saja sudah membuat orang-orang di sekitar njenggirat. Pakai bahasa Inggris pula. Membuat saya lebih mirip wong gendeng stres.

Buru-buru saya dekatkan ponsel ke telinga, berlagak sedang telepon. Sambil pelan-pelan geser, lalu ngacir.

Di balik semua drama itu, saya belajar satu hal penting: sering kali yang paling melelahkan bukan radiasinya, bukan kemoterapinya, bahkan bukan tagihan biayanya. Yang paling melelahkan adalah otak sendiri—yang merasa paling pintar mengantisipasi masa depan, padahal kenyataannya cuma ahli menakut-nakuti diri sendiri.

Istri saya menjalani semuanya dengan lebih tenang daripada saya. Dia yang disinar, dia yang akan dikemo, tapi justru saya yang sibuk bikin film horor di kepala sendiri.

Mungkin memang begitu. Setiap orang punya medan perangnya masing-masing. Ada yang berperang di tubuh. Ada yang berperang di pikiran.

Dari 25 kali radiasi itu, saya sadar: kadang yang perlu disinar bukan cuma sel kanker. Pikiran yang terlalu liar juga perlu “disinari” dengan sedikit logika, sedikit iman, dan kalau perlu dua porsi mi goreng dan segelas teh manis.

Trigliserida biar Tuhan yang atur.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL