16 Agustus 2026

Menyantet Diri Sendiri

 

Ketika ditanya pekerjaan, saya jawab sudah pensiun, sekarang jadi paranormal.

Petugas sensus yang mungkin merasa menemukan profesi langka langsung melanjutkan pertanyaan, “Terapi alternatif, ya, Pak?”

“Nyantet.”

Saya tertawa melihat wajahnya mendadak tegang. Setelah sadar sedang dikerjain, dia ikut tertawa. Entah karena lega atau karena sudah telanjur mencatat saya sebagai warga yang agak mencurigakan.

Ngomong-ngomong soal santet, apakah benar ada orang mampu memasukkan paku, pecahan beling, kawat, atau benda-benda aneh lainnya ke tubuh orang lain melalui ritual tertentu?

Saya tidak tahu.

Saya belum pernah menyaksikan langsung korban santet dengan isi tubuh mirip gudang material.

Tapi kalau ditanya, apakah santet beneran ada, saya bisa menjawab dengan tegas, ada. Bahkan sebenarnya, meskipun tidak pernah belajar ilmu gaib, kita semua adalah ahli santet. Bedanya, kita tidak nyantet orang lain, melainkan nyantet diri sendiri.

Tidak ada satupun yang menyadari, apalagi sengaja melakukannya. Semuanya berlangsung pelan-pelan dalam sunyi.

Santet jenis ini tidak membutuhkan kemenyan, sesajen, mantra, energi gaib, bantuan jin, apalagi benda pusaka. Modalnya jauh lebih sederhana: pikiran yang dibiarkan liar, emosi yang tidak dikendalikan, kebiasaan buruk yang dipelihara, dan kemampuan luar biasa untuk mengabaikan konsekuensi.

Kita membiarkan emosi menguasai akal sehat. Marah sedikit, dipelihara menjadi dendam. Kesal sedikit, dibawa tidur. Mendengar berita yang belum jelas, langsung percaya. Membaca kabar provokatif, darah naik. Belum selesai memeriksa fakta, jempol sudah bekerja lebih cepat daripada otak.

Besoknya badan protes. Kepala pusing, perut bermasalah, jadwal tidur berantakan, jantung berdebar, tekanan darah naik. Lalu kita bingung, “Kok hidup saya begini amat?” Sementara si pelaku santet masih cengar-cengir di depan cermin. Kita sendiri.

Tentu saja bukan berarti semua penyakit dan kesialan adalah akibat pikiran atau perilaku kita. Hidup punya banyak faktor yang tidak bisa kita kendalikan. Tetapi ada bagian yang jelas-jelas berada dalam wilayah tanggung jawab kita: bagaimana kita makan, bagaimana kita bereaksi, bagaimana kita memperlakukan tubuh, bagaimana kita mengelola emosi, dan bagaimana kita membiarkan pikiran bekerja. Bagian inilah yang sering diabaikan.

Dulu saya beranggapan bahwa nasib buruk terjadi atas kehendak Tuhan. Bisa sebagai ujian, bisa sebagai hukuman.

Belakangan saya mulai bertanya-tanya: Bagaimana Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun bisa sekaligus menjadi Pemarah dan suka menghukum?

Kalau semua kesialan adalah ujian iman, kapan selesainya?

Kalau setiap penyakit adalah hukuman, mengapa ada orang yang kemudian sembuh sementara yang lain jadi lebih parah? 

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat saya lebih memilih  konsep konsekuensi ketimbang konsep reward and pinishment.  Sakit perut setelah menghabiskan cabai sekilo dalam sekali makan adalah konsekuensi. Tidak ada kaitannya dengan Tuhan.

Perbuatan baik membawa konsekuensi baik. Kecerobohan dan perbuatan buruk membawa konsekuensi buruk. Tidak semuanya langsung terlihat, tetapi bukan berarti tidak ada. Dan konsekuensi itu tidak selalu berasal dari tindakan fisik. Pikiran dan emosi juga ikut bekerja.

Kita mungkin tidak pernah memukul orang, tetapi setiap hari memelihara kemarahan. Tidak pernah menenggak racun, tetapi terus-menerus memproduksi stres. Tidak pernah menyentuh paku, tetapi hidup dengan ketakutan dan kecemasan yang tidak ada habisnya. Tidak pernah menyulut api, tetapi setiap hari membakar diri sendiri dengan kebencian.

Tubuh tidak selalu bisa membedakan antara masalah yang benar-benar terjadi dan masalah yang terus-menerus kita putar di kepala.

Saya pernah mengalami sendiri masa ketika saya mencitrakan diri sebagai orang yang punya kuasa dan ditakuti. Secara finansial saya berhasil. Saya punya power, dan ada banyak teman yang bersedia berantem demi saya.

Dari luar kelihatan keren. Sementara sesungguhnya saya sering merasa sepertihidup sendiri di dunia yang sepi, dan selalu merasa was-was.

Pengalaman mengajarkan bahwa konsekuensi buruk lebih mudah di hadapi saat saya berani mengakui diri sendiri sebagai biang masalahnya, ketimbang kalau semuanya dilempar kepada Tuhan .

Gagal dianggap sebagai kehendak Tuhan. Bonyok sehabis berantem dibilang takdir. Punya duit banyak dianggap sebagai ujian. Apakah kalau salah makan sampai masuk rumah sakit, Tuhan juga yang disalahkan?

Saya pernah harus nenggak segenggam obat dalam sekali minum karena waktu muda tidak pernah perduli terhadap konsekuensi dari pola makan ugal-ugalan dan mengkonsumsi suplemen secara sembarangan. Banyak peringatan saya abaikan. 

Ketika tubuh mulai memberi sinyal, saya tetap cuek. Sampai akhirnya tubuh mencapai batas toleransinya. Sayapun ambruk. Mau mencari kambing hitam sampai ke ujung Galaksipun percuma. Bukti-buktinya jelas: saya sendiri yang menanam benihnya.

Kemudian pandemi menghalangi jadwal kontrol, menyebabkan saya tidak lagi mendapat obat. Seandainya gangguan kesehatan yang saya alami adalah hukuman dari Tuhan, sudah pasti saya tidak akan mampu bertahan lebih dari sehari tanpa obat. Ternyata bukan hanya bertahan, saya bahkan akhirnya terbebas sama sekali dari ketergantungan obat.

Dari pengalaman itu saya justru mendapatkan kesimpulan: sepertinya sejak awal Tuhan tidak pernah menginginkan saya sakit. Saya sendiri yang mengundang penyakit, melalui pola hidup dan kebiasaan makan ugal-ugalan, 

Sampai di sini, misteri santet mulai terbaca. Tidak perlu ada orang lain yang berniat mencelakai. Tidak perlu paku, tidak perlu jarum, tidak perlu beling, tidak perlu kawat, apalagi remukan bangkai pesawat terbang. Cukup makan sembarangan, hidup sembarangan, berpikir sembarangan, marah sembarangan, dan mengabaikan semua peringatan tubuh. 

Ketika hari panen tiba, satu persatu konsekuensinya muncul: Trigliserida sering njeplak di atas 1000, asam urat gampang naik, vertigo dan aritmia menjadi langganan. Meskipun tidak ada benda keramat masuk tubuh melalui ritual gaib, hidup saya tidak pernah baik-baik lagi.

Santet tradisional membuat orang bertanya, “Siapa yang melakukan ini kepada saya?”, sementara santet versi saya justru membuat pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang selama ini saya lakukan kepada diri sendiri?”



Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri WOLES ZONE

Tidak ada komentar: