Ketika ditanya pekerjaan, saya jawab sudah pensiun, sekarang
jadi paranormal.
Petugas sensus yang mungkin merasa menemukan profesi langka
langsung melanjutkan pertanyaan, “Terapi alternatif, ya, Pak?”
“Nyantet.”
Saya tertawa melihat wajahnya mendadak tegang. Setelah sadar
sedang dikerjain, dia ikut tertawa. Entah karena lega atau karena sudah
telanjur mencatat saya sebagai warga yang agak mencurigakan.
Ngomong-ngomong soal santet, apakah benar ada orang mampu memasukkan paku, pecahan beling, kawat, atau benda-benda aneh lainnya ke
tubuh orang lain melalui ritual tertentu?
Saya tidak tahu.
Saya belum pernah menyaksikan langsung korban santet dengan isi tubuh mirip gudang material.
Tapi kalau ditanya, apakah santet beneran ada, saya bisa
menjawab dengan tegas, ada. Bahkan sebenarnya, meskipun tidak pernah belajar
ilmu gaib, kita semua adalah ahli santet. Bedanya, kita tidak nyantet orang
lain, melainkan nyantet diri sendiri.
Tidak ada satupun yang menyadari, apalagi sengaja melakukannya. Semuanya berlangsung pelan-pelan dalam sunyi.
Santet jenis ini tidak membutuhkan kemenyan, sesajen,
mantra, energi gaib, bantuan jin, apalagi benda pusaka. Modalnya jauh lebih
sederhana: pikiran yang dibiarkan liar, emosi yang tidak dikendalikan,
kebiasaan buruk yang dipelihara, dan kemampuan luar biasa untuk mengabaikan
konsekuensi.
Kita membiarkan emosi menguasai akal sehat. Marah sedikit,
dipelihara menjadi dendam. Kesal sedikit, dibawa tidur. Mendengar berita yang
belum jelas, langsung percaya. Membaca kabar provokatif, darah naik. Belum
selesai memeriksa fakta, jempol sudah bekerja lebih cepat daripada otak.
Besoknya badan protes. Kepala pusing, perut bermasalah,
jadwal tidur berantakan, jantung berdebar, tekanan darah naik. Lalu kita
bingung, “Kok hidup saya begini amat?” Sementara si pelaku santet masih cengar-cengir
di depan cermin. Kita sendiri.
Tentu saja bukan berarti semua penyakit dan kesialan adalah
akibat pikiran atau perilaku kita. Hidup punya banyak faktor yang tidak bisa
kita kendalikan. Tetapi ada bagian yang jelas-jelas berada dalam wilayah
tanggung jawab kita: bagaimana kita makan, bagaimana kita bereaksi, bagaimana
kita memperlakukan tubuh, bagaimana kita mengelola emosi, dan bagaimana kita
membiarkan pikiran bekerja. Bagian inilah yang sering diabaikan.
Dulu saya beranggapan bahwa nasib buruk terjadi atas
kehendak Tuhan. Bisa sebagai ujian, bisa sebagai hukuman.
Belakangan saya mulai bertanya-tanya: Bagaimana Tuhan yang
Maha Pengasih dan Maha Pengampun bisa sekaligus menjadi Pemarah dan suka
menghukum?
Kalau semua kesialan adalah ujian iman, kapan selesainya?
Kalau setiap penyakit adalah hukuman, mengapa ada orang yang
kemudian sembuh sementara yang lain jadi lebih parah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat saya lebih memilih konsep konsekuensi ketimbang konsep reward and pinishment. Sakit perut setelah menghabiskan
cabai sekilo dalam sekali makan adalah konsekuensi. Tidak ada kaitannya dengan Tuhan.
Perbuatan baik membawa konsekuensi baik. Kecerobohan dan perbuatan buruk membawa konsekuensi buruk. Tidak semuanya langsung terlihat, tetapi bukan berarti tidak ada. Dan konsekuensi itu tidak selalu berasal dari tindakan fisik. Pikiran dan emosi juga ikut bekerja.
Kita mungkin tidak pernah memukul orang, tetapi setiap hari
memelihara kemarahan. Tidak pernah menenggak racun, tetapi terus-menerus
memproduksi stres. Tidak pernah menyentuh paku, tetapi hidup dengan ketakutan
dan kecemasan yang tidak ada habisnya. Tidak pernah menyulut api, tetapi setiap
hari membakar diri sendiri dengan kebencian.
Tubuh tidak selalu bisa membedakan antara masalah yang
benar-benar terjadi dan masalah yang terus-menerus kita putar di kepala.
Saya pernah mengalami sendiri masa ketika saya mencitrakan
diri sebagai orang yang punya kuasa dan ditakuti. Secara finansial saya
berhasil. Saya punya power, dan ada banyak teman
yang bersedia berantem demi saya.
Dari luar kelihatan keren. Sementara sesungguhnya saya
sering merasa sepertihidup sendiri di dunia yang sepi, dan selalu merasa was-was.
Pengalaman mengajarkan bahwa konsekuensi buruk lebih mudah
di hadapi saat saya berani mengakui diri sendiri sebagai biang masalahnya,
ketimbang kalau semuanya dilempar kepada Tuhan .
Gagal dianggap sebagai kehendak Tuhan. Bonyok sehabis
berantem dibilang takdir. Punya duit banyak dianggap sebagai ujian. Apakah kalau
salah makan sampai masuk rumah sakit, Tuhan juga yang disalahkan?
Saya pernah harus nenggak segenggam obat dalam sekali minum karena waktu muda tidak pernah perduli terhadap konsekuensi dari pola makan ugal-ugalan dan mengkonsumsi suplemen secara sembarangan. Banyak peringatan saya abaikan.
Ketika tubuh mulai memberi sinyal, saya tetap cuek. Sampai akhirnya tubuh mencapai
batas toleransinya. Sayapun ambruk. Mau mencari kambing hitam sampai ke ujung
Galaksipun percuma. Bukti-buktinya jelas: saya sendiri yang menanam benihnya.
Kemudian pandemi menghalangi jadwal kontrol, menyebabkan
saya tidak lagi mendapat obat. Seandainya gangguan kesehatan yang saya alami
adalah hukuman dari Tuhan, sudah pasti saya tidak akan mampu bertahan lebih
dari sehari tanpa obat. Ternyata bukan hanya bertahan, saya bahkan akhirnya terbebas
sama sekali dari ketergantungan obat.
Dari pengalaman itu saya justru mendapatkan kesimpulan: sepertinya sejak awal Tuhan tidak pernah menginginkan saya
sakit. Saya sendiri yang mengundang penyakit, melalui pola hidup dan kebiasaan makan ugal-ugalan,
Sampai di sini, misteri santet mulai terbaca. Tidak
perlu ada orang lain yang berniat mencelakai. Tidak perlu paku, tidak perlu
jarum, tidak perlu beling, tidak perlu kawat, apalagi remukan bangkai pesawat
terbang. Cukup makan sembarangan, hidup sembarangan, berpikir sembarangan,
marah sembarangan, dan mengabaikan semua peringatan tubuh.
Ketika hari panen tiba, satu persatu konsekuensinya muncul: Trigliserida sering njeplak di atas 1000, asam urat gampang naik, vertigo dan aritmia menjadi langganan. Meskipun tidak ada benda keramat masuk tubuh
melalui ritual gaib, hidup saya tidak pernah baik-baik lagi.
Santet tradisional membuat orang bertanya, “Siapa yang
melakukan ini kepada saya?”, sementara santet versi saya justru membuat
pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang selama ini saya lakukan kepada diri
sendiri?”
Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri WOLES ZONE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar