14 Agustus 2026

Saat Efek Samping Beneran Terjadi

Instalasi Radioterapi akhir Oktober 2023

Dokter yang menangani radioterapi menarik napas panjang sebelum berkata pelan, “Kemungkinan efek samping radiasi.”

Kalimatnya pendek, tapi nyaris membuat kepala saya meledak.

Penjelasan singkatnya, radioterapi dengan target area panggul untuk kanker kolorektal memang punya resiko memicu efek samping pada saluran kemih, diantaranya terjadi penyempitan sampai penyumbatan.

Sementara penjelasan Google bukan hanya lebih lengkap, juga lebih nonjok. Sinar radiasi dirancang untuk mematikan sel kanker. Masalahnya, jaringan normal di sekitarnya juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang, radiasi dapat menyebabkan peradangan kronis yang memicu terbentuknya jaringan parut pada saluran kemih. Jaringan parut itu kemudian bisa menyebabkan penyempitan, bahkan  penyumbatan.

Saya pengin misuh sekeras kerasnya. Beruntung peringatan halus di kepala mencegah rombongan penghuni kebun binatang yang sudah diujung lidah terucap: “Tidak ada teraapi yang aman untuk kanker. Peluangmu hanya memperpanjang umur. Peluang itu masih ada, jangan kamu sia-siakan.”

Diantara batin yang masih rame, mendadak saya teringat nasehat ibu puluhan tahun lalu, ketika saya nyaris mutung karena merasa nasib saya terus terusan sial, “Ombak bisa membunuh, tapi juga bisa melahirkan pelaut tangguh.”

Saya menjadi seperti sekarang bukan karena hidup selalu ramah. Saya kuat karena berani menghadapi kesulitan. Kadang mudah, kadang harus babak belur dulu, baru bisa berdiri lagi. 

Begitu pula dengan terapi penyakit. Herbal atau medis, semua berlaku seperti ombak, bisa membuat pasien menjadi lebih kuat, atau sebaliknya.  

Setelah mobil yang membawa istri saya menghilang di balik tikungan, saya berjalan gontai menuju parkiran motor.

Gamparan-gamparan mental seperti ini sering saya alami sejak Yuni didiagnosa kanker. Sekeras apapun perangai saya sehari-hari, ada saat-saat tertentu air mata tidak bisa diajak kompromi. Itu sebabnya saya memilih motoran, tidak ikut di mobil bersama istri saya.

Saya mulai memahami satu hal: menjadi kuat bukan berarti tidak pernah takut atau menangis.
Kadang hanya berarti tetap berjalan meskipun kaki rasanya sudah tidak mau diajak kerja sama.

Alam semesta tidak kenal konsep benar atau salah, baik atau buruk. Hanya ada konsekuensi terhadap tindakan yang kita pilih. Repotnya, konsekuensi itu tidak pernah benar-benar bisa diperkirakan. Selalu ada faktor X yang membuat hasil akhir bisa beda jauh dari keadaan yang diharapkan. Bagi sebagian orang bisa berarti kegagalan, tapi saya memilihnya sebagai pelajaran.

Tiba-tiba muncul pertanyaan yang menyebalkan, “Pelajaran apa yang kamu dapat dari efek samping itu?”

Sampai sekarang saya tidak punya jawabnya. Sakit tetap sakit. Efek samping tetap efek samping. Tidak semua pengalaman buruk harus dipaksa memiliki makna hanya supaya saya merasa lebih nyaman.

Sekitar sepuluh hari sebelumnya Yuni menjalani operasi untuk membuka sumbatan di saluran kemih.

Operasi itu sempat tertunda karena Yuni ternyata alergi terhadap antibiotik yang disuntikkan menjelang operasi.

Awalnya tidak terjadi apa-apa, tapi sekitar satu jam kemudian Yuni mulai kesakitan. Air kencing yang sudah beberapa hari tidak lancar keluar, dan sebagian tertahan di kandung kemih yang mengalami infeksi, menimbulkan nyeri yang ternyata tidak mampu diatasi oleh obat pereda nyeri.

Sepanjang pernikahan kami, saya tidak pernah mendengar sekalipun istri saya mengeluh, tapi hari itu Yuni sampai menangis dan merintih.

Jiwa pengecut saya sudah berteriak kencang, menyuruh saya segera keluar dari kamar rawat inap, tapi sedikit rasa tanggung jawab yang entah muncul dari mana, membuat saya bertahan di sebelah tempat tidur sambil menggenggam tangan Yuni.

Disaat saya bingung tidak tahu harus berbuat apa selain hanya memandangi Yuni yang semakin sering merintih, otak saya mengajukan gagasan absurd, “Minta morfin.”

Ketika saya hanya bengong, satu bentakan keras bergema di kepala, “CEPAT, BEGO!”

Perlahan saya lepas genggaman tangan Yuni yang sudah mengeras, lalu bergegas menuju ruang perawat.

Minta morfin?

Dulu, pasca operasi kanker, ketika dokter meresepkan MST sebagai obat pereda nyeri, saya bujuk Yuni supaya minta obat lain. Dokter sempat kaget, lalu hanya memberi Paracetamol sebagai penggantinya. Dengan kemauan keras, Yuni rela nahan sakit sepanjang hari, dan hanya minum Paracetamol menjelang tidur malam, supaya bisa istirahat sesaat.

Sekarang saya mau minta morfin?

Hidup kadang punya selera humor yang aneh. Dihadapan perawat, tanpa kompromi dulu, mulut malah minta kateter dicopot. Perawat hanya menggeleng. Kateter tidak bisa dilepas begitu saja.

Masih belum menyerah, dan mengabaikan persetujuan otak, mulut saya minta kateter diganti.

Dokter yang kemudian dihubungi melalui telepon ternyata setuju.

Entah kebetulan, keajaiban atau apa, saya tidak perduli, begitu kateter dilepas, urin langsung membanjir keluar. Setelah kateter diganti, Yuni berangsur tenang.

Tak lama kemudian dokter datang memeriksa, lalu memutuskan operasi akan dilakukan selepas magrib.

Ketika Yuni menjalani operasi, saya tidak ikut ke ruang yang disediakan untuk keluarga pasien menunggu. Badan tiba-tiba berasa remuk macam habis ditonjok orang sekampung.

Saya menuju lobby depan, niatnya mau mendaftar untuk konsul ke dokter. Terpaksa batal setelah sadar tidak bawa dompet. Dikantong hanya ada recehan 33 ribu. Saya termenung di depan lift, tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Mau kembali ke kamar di lantai dua, malah keburu lapar. Akhirnya saya masuk kantin.

Makan malam saya terganggu oleh suara gaduh dari meja sebelah. Sebenarnya tidak ada niat nguping, tapi suara mereka cukup keras untuk ruang kantin yang kecil dan mulai sepi pengunjung. Rupanya ada tindakan medis yang terpaksa ditunda karena harus mendapatkan persetujuan dari pihak asuransi terlebih dahulu.

Biasanya saya akan ikut kesal mendengar masalah seperti itu. Malam itu justru muncul perasaan lain. Saya merasa beruntung, ketika beberapa kali menghadapi kondisi darurat medis, saya bisa mengambil keputusan sendiri tanpa harus nunggu persetujuan pihak luar.

Apa pun yang dokter sarankan, kalau saya setuju, tinggal tanda tangan. Selesai. Meskipun setelah itu kadang saya garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Mandiri memang menyenangkan ………….. Sampai tagihannya datang.

Saya sadar, setelah membuat begitu banyak keputusan, dan beberapa di antaranya terpaksa saya ambil tanpa sempat berpikir panjang, saya tidak boleh terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Dalam situasi tertentu, keputusan terbaik sering diambil berdasar pilihan yang paling masuk akal berdasarkan informasi yang tersedia saat itu.

Kita baru bisa menilai apakah keputusan itu benar atau keliru setelah semuanya terjadi. Sementara hidup tidak menyediakan tombol undo. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima konsekuensinya.

Kalau kemudian muncul efek samping yang tidak ringan, saya tidak perlu mencari alasan untuk menghindar dari tanggung jawab. Bukan berarti saya harus menyalahkan diri sendiri, tapi saya harus tetap berada di sini. Tetap menemani. Tetap mengambil keputusan. Tetap belajar. Dan, mungkin yang paling penting, tetap menyediakan uang untuk semua konsekuensi yang tidak pernah masuk dalam rencana anggaran.

Setelah perjalanan panjang ini, saya mulai sadar bahwa rencana pensiun saya mungkin harus ditunda, karena bertahan tetap sehat setelah sakit ternyata tidak pernah murah.

Marah, atau bahkan putus asa, tidak akan membuat alam semesta menghilangkan ombak dari lautan kehidupan saya. Tidak tersedia pilihan lain kecuali terus berlayar. Menghadapi ombak, dihantam badai, sekedar tersesat diparkiran, atau menghadapi kenyataan bahwa di kantong cuma ada Rp33 ribu.

Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

Tidak ada komentar: