Ada kejutan kecil. Ternyata pendamping pasien boleh masuk ke
ruang kemoterapi. Dalam bayangan saya semula, ruang kemo seperti wilayah steril
penuh aturan ketat. Keluarga pasien cuma boleh menunggu sambil mondar-mandir di
luar dengan wajah tegang.
Kejutan berikutnya datang dari diri saya sendiri. Entah
kenapa, kali ini saya cukup punya nyali, sanggup memperhatikan tangan Yuni
dicubles jarum tanpa memalingkan muka. Prestasi kecil untuk manusia yang
biasanya melihat jarum suntik saja lutut langsung diskusi sendiri.
Tapi keberanian itu langsung minta pensiun dini begitu Yuni
bercerita tentang sensasi "gigitan semut-semut kecil" saat cairan
infus pendahuluan mulai masuk. Seluruh badan saya sontak nggregesi.
Kulit merinding, dan perut siap-siap protes.
Saya sempat menyusun rencana evakuasi diri. Mulai melirik kursi
paling pojok. Atau pura-pura beli minum sampai kemoterapinya selesai. Tapi
entah dari mana, muncul bentakan tanpa suara di kepala saya: “Ngapain ikut
masuk kalau akhirnya malah ngacir?”
Akhirnya saya bertahan. Duduk di dekat tempat tidur,
berusaha terlihat tegar walaupun isi kepala sebenarnya sudah muter-muter
seperti kipas angin rusak.
Menjelang prosedur pra-kemo selesai, masuk pesan WA dari
teman, seorang penyintas kanker, “Enggak lupa bawa bekal makan siang kan?”
Saya langsung melongo. Lah, iya. Kenapa tidak mikir sampai
ke situ? Terlalu sibuk mikir biaya, sampai lupa kalau manusia tetap harus makan
meskipun sedang panik nasional.
Tapi, selagi saya menyesali kelalaian saya, petugas dari
pantry masuk, menyerahkan snack untuk pasien. Sedikit lega. Paling tidak pasien
enggak kelaparan. Tapi lega itu tidak bertahan lama, karena snack-nya bukan jenis
"asal ada".
Otak saya langsung menyalakan alarm. Jangan-jangan Yuni
masuk kelas VIP, menyesuaikan kelas rawat inap sebelumnya.
Kalkulator di kepala langsung aktif mode red alert. Baru
saat itu saya sadar, sebenarnya belum benar-benar memahami rincian biaya
kemoterapi ini. Sebelumnya memang diminta deposit sekitar 4,7 juta rupiah. Tapi
waktu petugas menjelaskan rinciannya, otak saya lebih sibuk dengan pikirannya
sendiri.
Keringat dingin mengalir lebih deras saat makan siang
diantar. Bukan makan siang ala “yang penting matang”. Menunya tidak beda dari
yang disajikan di ruang rawat inap VIP.
Sebenarnya duit ada. Tapi kali ini saya menghadapi kanker,
bukan sakit yang hanya membutuhkan rawat inap seminggu atau dua minggu. Terapi
kanker adalah lomba marathon yang tidak ketahuan di mana garis finishnya, dan ada
biaya ekstra yang juga harus saya perhitungkan. Saya harus cermat ngatur duit. Kehabisan
napas di tengah perjalanan bukan pilihan.
Supaya ekspresi wajah saya yang galau macam diuber debt
collector tidak terlihat oleh Yuni, saya sedikit menjauh, sambil membalas WA
dari teman. Saya beritahu kalau pasien diberi makan siang dan snack.
Balasannya membuat jantung saya nyaris salto. “Lha iya, wong
kamu di VIP.”
Saya langsung teringat cerita teman lain. Kerabatnya harus
membawa bekal sendiri setiap kali menjalani kemoterapi. Mungkin karena di kelas
dua atau tiga. Itupun biaya sekali kemo 15an juta. Lalu, berapa yang harus saya
bayar untuk kelas VIP?
Kemo ini dijadwalkan sebanyak 6 siklus. Seandainya satu
siklus biayanya 15 juta, untuk kemonya saja butuh dana paling tidak 90 juta.
MAK!!!
Setelah lumayan lama jungkir balik di kepala sendiri,
akhirnya saya menyerah. Bukan menyerah pada keadaan, tapi berhenti melawan
hal-hal yang belum tentu terjadi. Suka atau tidak, saya harus tetap waras. Bukan
karena kuat, tapi supaya tidak runtuh.
Menjelang jam 3 seluruh proses kemo selesai. Setelah
menerima obat kemo oral yang harus diminum mulai besoknya sampai hari ke 20,
kami diijinkan pulang.
Saya berjalan di belakang Yuni sambil bingung. Tidak ada
tagihan susulan. Tiga puluh hari kemudian, ketika membayar biaya kemo siklus
kedua, saya mendapat kepastian. Biaya kemo di kelas 3 memang 4,7 juta.
Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL
