Instalasi Radioterapi akhir Oktober 2023
Dokter yang menangani radioterapi menarik napas panjang
sebelum berkata pelan, “Kemungkinan efek samping radiasi.”
Kalimatnya pendek, tapi nyaris membuat kepala saya meledak.
Penjelasan singkatnya, radioterapi dengan target area
panggul untuk kanker kolorektal memang punya resiko memicu efek samping pada
saluran kemih, diantaranya terjadi penyempitan sampai penyumbatan.
Sementara penjelasan Google bukan hanya lebih lengkap, juga
lebih nonjok. Sinar radiasi dirancang untuk mematikan sel kanker. Masalahnya,
jaringan normal di sekitarnya juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang,
radiasi dapat menyebabkan peradangan kronis yang memicu terbentuknya jaringan
parut pada saluran kemih. Jaringan parut itu kemudian bisa menyebabkan
penyempitan, bahkan penyumbatan.
Saya pengin misuh sekeras kerasnya. Beruntung peringatan
halus di kepala mencegah rombongan penghuni kebun binatang yang sudah diujung
lidah terucap: “Tidak ada teraapi yang aman untuk kanker. Peluangmu
hanya memperpanjang umur. Peluang itu masih ada, jangan kamu sia-siakan.”
Diantara batin yang masih rame, mendadak saya teringat
nasehat ibu puluhan tahun lalu, ketika saya nyaris mutung karena merasa nasib
saya terus terusan sial, “Ombak bisa membunuh, tapi juga bisa melahirkan pelaut
tangguh.”
Saya menjadi seperti sekarang bukan karena hidup selalu
ramah. Saya kuat karena berani menghadapi kesulitan. Kadang mudah, kadang harus
babak belur dulu, baru bisa berdiri lagi.
Begitu pula dengan terapi penyakit. Herbal atau medis, semua berlaku seperti ombak, bisa membuat pasien menjadi lebih kuat, atau sebaliknya.
Setelah mobil yang membawa istri saya menghilang di balik
tikungan, saya berjalan gontai menuju parkiran motor.
Gamparan-gamparan mental seperti ini sering saya alami sejak
Yuni didiagnosa kanker. Sekeras apapun perangai saya sehari-hari, ada saat-saat
tertentu air mata tidak bisa diajak kompromi. Itu sebabnya saya memilih motoran,
tidak ikut di mobil bersama istri saya.
Saya mulai memahami satu hal: menjadi kuat bukan berarti
tidak pernah takut atau menangis.
Kadang hanya berarti tetap berjalan meskipun kaki rasanya sudah tidak mau
diajak kerja sama.
Alam semesta tidak kenal konsep benar atau salah, baik atau
buruk. Hanya ada konsekuensi terhadap tindakan yang kita pilih. Repotnya,
konsekuensi itu tidak pernah benar-benar bisa diperkirakan. Selalu ada faktor X
yang membuat hasil akhir bisa beda jauh dari keadaan yang diharapkan. Bagi
sebagian orang bisa berarti kegagalan, tapi saya memilihnya sebagai pelajaran.
Tiba-tiba muncul pertanyaan yang menyebalkan, “Pelajaran apa
yang kamu dapat dari efek samping itu?”
Sampai sekarang saya tidak punya jawabnya. Sakit tetap
sakit. Efek samping tetap efek samping. Tidak semua pengalaman buruk harus
dipaksa memiliki makna hanya supaya saya merasa lebih nyaman.
Sekitar sepuluh hari sebelumnya Yuni menjalani operasi untuk
membuka sumbatan di saluran kemih.
Operasi itu sempat tertunda karena Yuni ternyata alergi
terhadap antibiotik yang disuntikkan menjelang operasi.
Awalnya tidak terjadi apa-apa, tapi sekitar satu jam
kemudian Yuni mulai kesakitan. Air kencing yang sudah beberapa hari tidak
lancar keluar, dan sebagian tertahan di kandung kemih yang mengalami infeksi,
menimbulkan nyeri yang ternyata tidak mampu diatasi oleh obat pereda nyeri.
Sepanjang pernikahan kami, saya tidak pernah mendengar
sekalipun istri saya mengeluh, tapi hari itu Yuni sampai menangis dan merintih.
Jiwa pengecut saya sudah berteriak kencang, menyuruh saya
segera keluar dari kamar rawat inap, tapi sedikit rasa tanggung jawab yang
entah muncul dari mana, membuat saya bertahan di sebelah tempat tidur sambil
menggenggam tangan Yuni.
Disaat saya bingung tidak tahu harus berbuat apa selain
hanya memandangi Yuni yang semakin sering merintih, otak saya mengajukan
gagasan absurd, “Minta morfin.”
Ketika saya hanya bengong, satu bentakan keras bergema di
kepala, “CEPAT, BEGO!”
Perlahan saya lepas genggaman tangan Yuni yang sudah mengeras,
lalu bergegas menuju ruang perawat.
Minta morfin?
Dulu, pasca operasi kanker, ketika dokter meresepkan MST
sebagai obat pereda nyeri, saya bujuk Yuni supaya minta obat lain. Dokter
sempat kaget, lalu hanya memberi Paracetamol sebagai penggantinya. Dengan
kemauan keras, Yuni rela nahan sakit sepanjang hari, dan hanya minum
Paracetamol menjelang tidur malam, supaya bisa istirahat sesaat.
Sekarang saya mau minta morfin?
Hidup kadang punya selera humor yang aneh. Dihadapan
perawat, tanpa kompromi dulu, mulut malah minta kateter dicopot. Perawat hanya menggeleng.
Kateter tidak bisa dilepas begitu saja.
Masih belum menyerah, dan mengabaikan persetujuan otak, mulut
saya minta kateter diganti.
Dokter yang kemudian dihubungi melalui telepon ternyata setuju.
Entah kebetulan, keajaiban atau apa, saya tidak perduli, begitu
kateter dilepas, urin langsung membanjir keluar. Setelah kateter diganti, Yuni
berangsur tenang.
Tak lama kemudian dokter datang memeriksa, lalu memutuskan
operasi akan dilakukan selepas magrib.
Ketika Yuni menjalani operasi, saya tidak ikut ke ruang yang
disediakan untuk keluarga pasien menunggu. Badan tiba-tiba berasa remuk macam
habis ditonjok orang sekampung.
Saya menuju lobby depan, niatnya mau mendaftar untuk konsul ke dokter.
Terpaksa batal setelah sadar tidak bawa dompet. Dikantong hanya ada recehan 33
ribu. Saya termenung di depan lift, tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Mau kembali ke kamar di lantai dua, malah keburu lapar. Akhirnya
saya masuk kantin.
Makan malam saya terganggu oleh suara gaduh dari meja
sebelah. Sebenarnya tidak ada niat nguping, tapi suara mereka cukup keras untuk
ruang kantin yang kecil dan mulai sepi pengunjung. Rupanya ada tindakan medis
yang terpaksa ditunda karena harus mendapatkan persetujuan dari pihak asuransi
terlebih dahulu.
Biasanya saya akan ikut kesal mendengar masalah seperti itu.
Malam itu justru muncul perasaan lain. Saya merasa beruntung, ketika beberapa
kali menghadapi kondisi darurat medis, saya bisa mengambil keputusan sendiri
tanpa harus nunggu persetujuan pihak luar.
Apa pun yang dokter sarankan, kalau saya setuju, tinggal
tanda tangan. Selesai. Meskipun setelah itu kadang saya garuk-garuk kepala yang
sebenarnya tidak gatal.
Mandiri memang menyenangkan ………….. Sampai tagihannya datang.
Saya sadar, setelah membuat begitu banyak keputusan, dan
beberapa di antaranya terpaksa saya ambil tanpa sempat berpikir panjang, saya
tidak boleh terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Dalam situasi tertentu,
keputusan terbaik sering diambil berdasar pilihan yang paling masuk akal
berdasarkan informasi yang tersedia saat itu.
Kita baru bisa menilai apakah keputusan itu benar atau
keliru setelah semuanya terjadi. Sementara hidup tidak menyediakan tombol undo.
Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima konsekuensinya.
Kalau kemudian muncul efek samping yang tidak ringan, saya tidak
perlu mencari alasan untuk menghindar dari tanggung jawab. Bukan berarti saya
harus menyalahkan diri sendiri, tapi saya harus tetap berada di sini. Tetap
menemani. Tetap mengambil keputusan. Tetap belajar. Dan, mungkin yang paling
penting, tetap menyediakan uang untuk semua konsekuensi yang tidak pernah masuk
dalam rencana anggaran.
Setelah perjalanan panjang ini, saya mulai sadar bahwa
rencana pensiun saya mungkin harus ditunda, karena bertahan tetap sehat setelah
sakit ternyata tidak pernah murah.
Marah, atau bahkan putus asa, tidak akan membuat alam
semesta menghilangkan ombak dari lautan kehidupan saya. Tidak tersedia pilihan lain
kecuali terus berlayar. Menghadapi ombak, dihantam badai, sekedar tersesat
diparkiran, atau menghadapi kenyataan bahwa di kantong cuma ada Rp33 ribu.
Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL