Tampilkan postingan dengan label Kanker Kolorektal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker Kolorektal. Tampilkan semua postingan

14 Agustus 2026

Saat Efek Samping Beneran Terjadi

Instalasi Radioterapi akhir Oktober 2023

Dokter yang menangani radioterapi menarik napas panjang sebelum berkata pelan, “Kemungkinan efek samping radiasi.”

Kalimatnya pendek, tapi nyaris membuat kepala saya meledak.

Penjelasan singkatnya, radioterapi dengan target area panggul untuk kanker kolorektal memang punya resiko memicu efek samping pada saluran kemih, diantaranya terjadi penyempitan sampai penyumbatan.

Sementara penjelasan Google bukan hanya lebih lengkap, juga lebih nonjok. Sinar radiasi dirancang untuk mematikan sel kanker. Masalahnya, jaringan normal di sekitarnya juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang, radiasi dapat menyebabkan peradangan kronis yang memicu terbentuknya jaringan parut pada saluran kemih. Jaringan parut itu kemudian bisa menyebabkan penyempitan, bahkan  penyumbatan.

Saya pengin misuh sekeras kerasnya. Beruntung peringatan halus di kepala mencegah rombongan penghuni kebun binatang yang sudah diujung lidah terucap: “Tidak ada teraapi yang aman untuk kanker. Peluangmu hanya memperpanjang umur. Peluang itu masih ada, jangan kamu sia-siakan.”

Diantara batin yang masih rame, mendadak saya teringat nasehat ibu puluhan tahun lalu, ketika saya nyaris mutung karena merasa nasib saya terus terusan sial, “Ombak bisa membunuh, tapi juga bisa melahirkan pelaut tangguh.”

Saya menjadi seperti sekarang bukan karena hidup selalu ramah. Saya kuat karena berani menghadapi kesulitan. Kadang mudah, kadang harus babak belur dulu, baru bisa berdiri lagi. 

Begitu pula dengan terapi penyakit. Herbal atau medis, semua berlaku seperti ombak, bisa membuat pasien menjadi lebih kuat, atau sebaliknya.  

Setelah mobil yang membawa istri saya menghilang di balik tikungan, saya berjalan gontai menuju parkiran motor.

Gamparan-gamparan mental seperti ini sering saya alami sejak Yuni didiagnosa kanker. Sekeras apapun perangai saya sehari-hari, ada saat-saat tertentu air mata tidak bisa diajak kompromi. Itu sebabnya saya memilih motoran, tidak ikut di mobil bersama istri saya.

Saya mulai memahami satu hal: menjadi kuat bukan berarti tidak pernah takut atau menangis.
Kadang hanya berarti tetap berjalan meskipun kaki rasanya sudah tidak mau diajak kerja sama.

Alam semesta tidak kenal konsep benar atau salah, baik atau buruk. Hanya ada konsekuensi terhadap tindakan yang kita pilih. Repotnya, konsekuensi itu tidak pernah benar-benar bisa diperkirakan. Selalu ada faktor X yang membuat hasil akhir bisa beda jauh dari keadaan yang diharapkan. Bagi sebagian orang bisa berarti kegagalan, tapi saya memilihnya sebagai pelajaran.

Tiba-tiba muncul pertanyaan yang menyebalkan, “Pelajaran apa yang kamu dapat dari efek samping itu?”

Sampai sekarang saya tidak punya jawabnya. Sakit tetap sakit. Efek samping tetap efek samping. Tidak semua pengalaman buruk harus dipaksa memiliki makna hanya supaya saya merasa lebih nyaman.

Sekitar sepuluh hari sebelumnya Yuni menjalani operasi untuk membuka sumbatan di saluran kemih.

Operasi itu sempat tertunda karena Yuni ternyata alergi terhadap antibiotik yang disuntikkan menjelang operasi.

Awalnya tidak terjadi apa-apa, tapi sekitar satu jam kemudian Yuni mulai kesakitan. Air kencing yang sudah beberapa hari tidak lancar keluar, dan sebagian tertahan di kandung kemih yang mengalami infeksi, menimbulkan nyeri yang ternyata tidak mampu diatasi oleh obat pereda nyeri.

Sepanjang pernikahan kami, saya tidak pernah mendengar sekalipun istri saya mengeluh, tapi hari itu Yuni sampai menangis dan merintih.

Jiwa pengecut saya sudah berteriak kencang, menyuruh saya segera keluar dari kamar rawat inap, tapi sedikit rasa tanggung jawab yang entah muncul dari mana, membuat saya bertahan di sebelah tempat tidur sambil menggenggam tangan Yuni.

Disaat saya bingung tidak tahu harus berbuat apa selain hanya memandangi Yuni yang semakin sering merintih, otak saya mengajukan gagasan absurd, “Minta morfin.”

Ketika saya hanya bengong, satu bentakan keras bergema di kepala, “CEPAT, BEGO!”

Perlahan saya lepas genggaman tangan Yuni yang sudah mengeras, lalu bergegas menuju ruang perawat.

Minta morfin?

Dulu, pasca operasi kanker, ketika dokter meresepkan MST sebagai obat pereda nyeri, saya bujuk Yuni supaya minta obat lain. Dokter sempat kaget, lalu hanya memberi Paracetamol sebagai penggantinya. Dengan kemauan keras, Yuni rela nahan sakit sepanjang hari, dan hanya minum Paracetamol menjelang tidur malam, supaya bisa istirahat sesaat.

Sekarang saya mau minta morfin?

Hidup kadang punya selera humor yang aneh. Dihadapan perawat, tanpa kompromi dulu, mulut malah minta kateter dicopot. Perawat hanya menggeleng. Kateter tidak bisa dilepas begitu saja.

Masih belum menyerah, dan mengabaikan persetujuan otak, mulut saya minta kateter diganti.

Dokter yang kemudian dihubungi melalui telepon ternyata setuju.

Entah kebetulan, keajaiban atau apa, saya tidak perduli, begitu kateter dilepas, urin langsung membanjir keluar. Setelah kateter diganti, Yuni berangsur tenang.

Tak lama kemudian dokter datang memeriksa, lalu memutuskan operasi akan dilakukan selepas magrib.

Ketika Yuni menjalani operasi, saya tidak ikut ke ruang yang disediakan untuk keluarga pasien menunggu. Badan tiba-tiba berasa remuk macam habis ditonjok orang sekampung.

Saya menuju lobby depan, niatnya mau mendaftar untuk konsul ke dokter. Terpaksa batal setelah sadar tidak bawa dompet. Dikantong hanya ada recehan 33 ribu. Saya termenung di depan lift, tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Mau kembali ke kamar di lantai dua, malah keburu lapar. Akhirnya saya masuk kantin.

Makan malam saya terganggu oleh suara gaduh dari meja sebelah. Sebenarnya tidak ada niat nguping, tapi suara mereka cukup keras untuk ruang kantin yang kecil dan mulai sepi pengunjung. Rupanya ada tindakan medis yang terpaksa ditunda karena harus mendapatkan persetujuan dari pihak asuransi terlebih dahulu.

Biasanya saya akan ikut kesal mendengar masalah seperti itu. Malam itu justru muncul perasaan lain. Saya merasa beruntung, ketika beberapa kali menghadapi kondisi darurat medis, saya bisa mengambil keputusan sendiri tanpa harus nunggu persetujuan pihak luar.

Apa pun yang dokter sarankan, kalau saya setuju, tinggal tanda tangan. Selesai. Meskipun setelah itu kadang saya garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Mandiri memang menyenangkan ………….. Sampai tagihannya datang.

Saya sadar, setelah membuat begitu banyak keputusan, dan beberapa di antaranya terpaksa saya ambil tanpa sempat berpikir panjang, saya tidak boleh terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Dalam situasi tertentu, keputusan terbaik sering diambil berdasar pilihan yang paling masuk akal berdasarkan informasi yang tersedia saat itu.

Kita baru bisa menilai apakah keputusan itu benar atau keliru setelah semuanya terjadi. Sementara hidup tidak menyediakan tombol undo. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima konsekuensinya.

Kalau kemudian muncul efek samping yang tidak ringan, saya tidak perlu mencari alasan untuk menghindar dari tanggung jawab. Bukan berarti saya harus menyalahkan diri sendiri, tapi saya harus tetap berada di sini. Tetap menemani. Tetap mengambil keputusan. Tetap belajar. Dan, mungkin yang paling penting, tetap menyediakan uang untuk semua konsekuensi yang tidak pernah masuk dalam rencana anggaran.

Setelah perjalanan panjang ini, saya mulai sadar bahwa rencana pensiun saya mungkin harus ditunda, karena bertahan tetap sehat setelah sakit ternyata tidak pernah murah.

Marah, atau bahkan putus asa, tidak akan membuat alam semesta menghilangkan ombak dari lautan kehidupan saya. Tidak tersedia pilihan lain kecuali terus berlayar. Menghadapi ombak, dihantam badai, sekedar tersesat diparkiran, atau menghadapi kenyataan bahwa di kantong cuma ada Rp33 ribu.

Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

12 Agustus 2026

Ada "selang" di Ginjal Istriku

 

Sambil nunggu saya mengumpulkan catatan terapi kanker Kolorektal yang terselip, sekarang lompat dulu ke terapi paling akhir yang dijalani istri saya sejak Februari 2026.

Senin malam, 10 Agustus 2026, selepas magrib, istri saya menjalani pelepasan stent yang sudah terpasang sejak 19 Mei lalu.

Saya sempat sedikit senewen. Saat tindakan medis Mei lalu, ada sedikit kejutan dari ruang operasi. Saya sedang liyer-liyer sambil mendengarkan musik melalui headphone di ruang tunggu, tiba-tiba saya dipanggil masuk.

Kaget, saya cuma bisa bengong.

Barangkali karena tidak sabaran, nyawa saya duluan beranjak mengikuti perawat. Saya buru-buru melepas headphone dan masuk.

Setiba di dalam saya sempat limbung. Phobia jarum mendadak kambuh. Saya berusaha keras tidak jatuh. Selain biar tidak membuat kekacauan, saya juga harus berlagak tegar di hadapan istri yang saat itu sedang bicara dengan dokter. Jadi, meskipun lutut terasa gemeteran, wajah tetap dibuat seolah-olah semuanya terkendali.

Sambil menunjukkan rekaman di layar monitor, dokter memberitahu, stent pertama yang terpasang sejak 8 Februari ternyata masih harus diganti. Saluran kemih dari ginjal kanan masih tersumbat.

Saya langsung setuju. Selain memang tidak ada pilihan lain, saya ingin cepat-cepat keluar, supaya tidak keburu ambruk. Masalahnya  bukan lagi sekedar phobia jarum. Rekening bank saya nyaris blong. Setelah dikurangi DP operasi, saldonya tinggal beberapa juta. Bagaimana kalau nanti nambahnya banyak?

Seandainya ada yang tanya, kenapa enggak pakai BPJS?

Sebenarnya pengin, tapi pengalama menghadapi penyakit penyerta dan efek samping yang beberapa kali muncul tanpa permisi selama setahun istri saya menjalani terapi kanker, membuat saya terpaksa memilih mandiri. Banyak keputusan harus diambil cepat. Kadang tanpa ada  kesempatan untuk mikir.

Bukan sok berduit. Saat sedang menghadapi keadaan darurat medis, saya tidak ingin bentrok dengan ketentuan administrasi BPJS. 

Meskipun hasil BNO (Blass Nier Overzicht) tanggal 3 Agustus menyiratkan kondisi baik, dan dokter juga sudah tegas mengatakan stent yang tinggal sebelah bisa dicopot ( yang sebelah kiri copot sendiri 3 hari setelah pemasangan ke dua ), otak saya tetap belum bisa benar-benar tenang.

“Jadi kamu capek?”

Saya jelalatan. Suara itu terdengar sangat jelas, tapi sudah pasti tidak diucapkan oleh orang-orang yang ada di ruang tunggu.

“Tidak, tidak, tidak!” Suara saya nyaris terucap.

Dalam hati saya minta maaf kepada Tuhan, kepada alam semesta, dan kepada istri saya yang sedang terbaring di dalam. Saya tidak capek. Saya justru berterimakasih mampu berjuang sampai sejauh ini.

Semua yang terjadi bukan bencana, bukan hukuman, juga bukan nasib sial, melainkan konsekuensi dari pilihan di masa lalu. Ini bukan kalimat basa-basi dari orang yang patah arang lalu mencoba sok bijak. Senyatanya memang begitu yang saya rasakan. 

Semua bermula pada awal Januari. Saat saya terlanjur janjian konsultasi pajak, istri saya memberitahu, bagian pinggang sudah beberapa hari terasa pegal. Dia minta ijin ke dokter tanpa nunggu saya.

Sekitar jam 10, anak yang menemani ibunya ke klinik mengirim foto hasil tes urine. Ada indikasi infeksi.

Entah kenapa, otak saya langsung mengaitkan hasil tes urin yang belum dikonsultasikan ke dokter itu dengan infeksi dan penyumbatan saluran kemih yang dialami istri saya bulan Oktober 2023, sampai harus menjalani operasi.

Ketika tahu istri saya ternyata periksa ke dokter umum di klinik lain, bukan di rumah sakit yang punya rekam medis mengenai riwayat kesehatannya, saya langsung minta mereka segera menuju rumah sakit untuk konsultasi ke spesialis urologi.

Selama perjalanan dari kantor pajak menuju rumah sakit, yang sebenarnya dekat, tapi jalurnya mutar jauh, berulang kali otak saya nebak-nebak kemungkinan terjadi infeksi sistemik.

“Ini bukan seperti dulu. Kemungkinan sudah sampai ke ginjal.”

Saya tidak punya latar belakang pendidikan medis, tapi sejak istri saya didiagnosa kanker, saya banyak belajar tentang penyakit, terapi dan efek samping pengobatannya, membuat otak saya sedikit sok tahu.

Ketika urolog menjelaskan hasil cek urin dari klinik, mulut saya tanpa permisi langsung bertanya, “Apakah ada kemungkinan infeksi sistemik?”

Dokter sempat kaget, tapi kemudian menyatakan bahwa dugaan itu memang perlu dipertimbangkan. Untuk memastikan kondisi sebenarnya, istri saya diminta menjalani USG.

Hasil USG membuat saya stres. Kedua saluran dari ginjal mengalami infeksi. Yang kanan tersumbat, menyebabkan ginjal kanan mengalami radang.  Sistem tubuh saya langsung kocar kacir. Jadwal BAB setiap pagi macet total. Tidur malam tidak pernah nyenyak. Saya berulangkali terjaga dengan otak riuh dengan berbagai skenario.

Lucunya, setelah ketemu dokter, dan mendengar diagnosanya sama persis dengan dugaan saya sebelumnya, otak malah langsung tenang. Bahkan sebelum dokter mengatakan, otak saya sudah duluan nebak bakal dipasang stent.  

Sejak membaca hasil USG saya langsung ngobrak Google, mencari tahu kemungkinan tindakan yang bakal dilakukan dokter. Otak saya tidak yakin kondisi istri bisa selesai hanya dengan obat saja.

Google selalu punya jawaban, meskipun kadang terlalu terbuka ketika menjelaskan tentang kemungkinan buruknya.

Diantara kegelapan malam yang gerah di ruang tamu, tempat saya biasa mojok ketika otak sedang rame, pikiran saya melayang jauh ke masa ketika saya sering diajak offroad oleh teman. Aturan utama yang selalu saya ingat, “Apapun yang terjadi, jangan pernah mengeluh!”. Sambat selain tidak menyelesaikan masalah, hanya akan menambah buruk keadaan.

Tidak ada gunanya berdiri di tengah hutan sambil berteriak, "Kenapa jalannya begini?"

Jalannya memang begitu, yang harus disesuaikan adalah cara kita menghadapinya.

 

“Sudah selesai pak!” Suara perawat memecah lamunan.

Di hadapan saya dua perawat berdiri di samping tempat tidur. Istri saya terbaring dengan mata terpejam.

Saya buru-buru berkemas, lalu berjalan mengikuti mereka menuju kamar.

“Kenapa masih tidur?” Otak saya mulai bertingkah lagi.

Dua kali waktu stent dipasang, istri saya keluar ruang operasi sudah dalam keadaan sadar. Kalau kali ini cuma nyopot, kenapa masih tidur?

Di kamar, setelah menyerahkan kantong plastik berisi stent yang dicopot, perawat menjelaskan kondisi istri saya. Tidak ada masalah. Atas pertimbangan tertentu kali ini istri saya dibius total. Diperkirakan baru akan sadar penuh sekitar dua jam kemudian.

Kalau makan malam sudah diantar, boleh langsung makan.

Lega.

Masalahnya, tubuh saya punya cara sendiri untuk menikmatinya: Saya mendadak demam.

Hampir dua jam saya duduk meringkuk di kursi. Saya tahu tidak sedang sakit. Demam itu hanya pelepasan ketegangan yang tertahan sejak pagi. Begitu keadaan aman, tubuh seolah berkata, “Sekarang giliranku!”

Beruntung, sesaat sebelum istri saya beneran sadar, demamnya sudah mulai berkurang.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

21 Juni 2026

Kemo Pertama


Kemo pertama dijadwalkan tanggal 12 Oktober 2022, diperkirakan berlangsung mulai jam 8 pagi sampai sore. Setelah menjalani pemeriksaan rutin di UGD, Yuni dibawa ke paviliun Gardenia di lantai dua.

Ada kejutan kecil. Ternyata pendamping pasien boleh masuk ke ruang kemoterapi. Dalam bayangan saya semula, ruang kemo seperti wilayah steril penuh aturan ketat. Keluarga pasien cuma boleh menunggu sambil mondar-mandir di luar dengan wajah tegang.

Kejutan berikutnya datang dari diri saya sendiri. Entah kenapa, kali ini saya cukup punya nyali, sanggup memperhatikan tangan Yuni dicubles jarum tanpa memalingkan muka. Prestasi kecil untuk manusia yang biasanya melihat jarum suntik saja lutut langsung diskusi sendiri.

Tapi keberanian itu langsung minta pensiun dini begitu Yuni bercerita tentang sensasi "gigitan semut-semut kecil" saat cairan infus pendahuluan mulai masuk. Seluruh badan saya sontak nggregesi. Kulit merinding, dan perut siap-siap protes.

Saya sempat menyusun rencana evakuasi diri. Mulai melirik kursi paling pojok. Atau pura-pura beli minum sampai kemoterapinya selesai. Tapi entah dari mana, muncul bentakan tanpa suara di kepala saya: “Ngapain ikut masuk kalau akhirnya malah ngacir?”

Akhirnya saya bertahan. Duduk di dekat tempat tidur, berusaha terlihat tegar walaupun isi kepala sebenarnya sudah muter-muter seperti kipas angin rusak.

Menjelang prosedur pra-kemo selesai, masuk pesan WA dari teman, seorang penyintas kanker, “Enggak lupa bawa bekal makan siang kan?”

Saya langsung melongo. Lah, iya. Kenapa tidak mikir sampai ke situ? Terlalu sibuk mikir biaya, sampai lupa kalau manusia tetap harus makan meskipun sedang panik nasional.

Tapi, selagi saya menyesali kelalaian saya, petugas dari pantry masuk, menyerahkan snack untuk pasien. Sedikit lega. Paling tidak pasien enggak kelaparan. Tapi lega itu tidak bertahan lama, karena snack-nya bukan jenis "asal ada".

Otak saya langsung menyalakan alarm. Jangan-jangan Yuni masuk kelas VIP, menyesuaikan kelas rawat inap sebelumnya.

Kalkulator di kepala langsung aktif mode red alert. Baru saat itu saya sadar, sebenarnya belum benar-benar memahami rincian biaya kemoterapi ini. Sebelumnya memang diminta deposit sekitar 4,7 juta rupiah. Tapi waktu petugas menjelaskan rinciannya, otak saya lebih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Keringat dingin mengalir lebih deras saat makan siang diantar. Bukan makan siang ala “yang penting matang”. Menunya tidak beda dari yang disajikan di ruang rawat inap VIP.

Sebenarnya duit ada. Tapi kali ini saya menghadapi kanker, bukan sakit yang hanya membutuhkan rawat inap seminggu atau dua minggu. Terapi kanker adalah lomba marathon yang tidak ketahuan di mana garis finishnya, dan ada biaya ekstra yang juga harus saya perhitungkan. Saya harus cermat ngatur duit. Kehabisan napas di tengah perjalanan bukan pilihan.

Supaya ekspresi wajah saya yang galau macam diuber debt collector tidak terlihat oleh Yuni, saya sedikit menjauh, sambil membalas WA dari teman. Saya beritahu kalau pasien diberi makan siang dan snack.

Balasannya membuat jantung saya nyaris salto. “Lha iya, wong kamu di VIP.”

Saya langsung teringat cerita teman lain. Kerabatnya harus membawa bekal sendiri setiap kali menjalani kemoterapi. Mungkin karena di kelas dua atau tiga. Itupun biaya sekali kemo 15an juta. Lalu, berapa yang harus saya bayar untuk kelas VIP?

Kemo ini dijadwalkan sebanyak 6 siklus. Seandainya satu siklus biayanya 15 juta, untuk kemonya saja butuh dana paling tidak 90 juta.

MAK!!!

Setelah lumayan lama jungkir balik di kepala sendiri, akhirnya saya menyerah. Bukan menyerah pada keadaan, tapi berhenti melawan hal-hal yang belum tentu terjadi. Suka atau tidak, saya harus tetap waras. Bukan karena kuat, tapi supaya tidak runtuh.

Menjelang jam 3 seluruh proses kemo selesai. Setelah menerima obat kemo oral yang harus diminum mulai besoknya sampai hari ke 20, kami diijinkan pulang.

Saya berjalan di belakang Yuni sambil bingung. Tidak ada tagihan susulan. Tiga puluh hari kemudian, ketika membayar biaya kemo siklus kedua, saya mendapat kepastian. Biaya kemo di kelas 3 memang 4,7 juta.  


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

16 Mei 2026

Selalu Ada Drama di Kepalaku


Akhir 2022.

Begitu saya setuju kemo, otak langsung kerasukan Mang Ucup versi panik. Belum keluar ruang dokter, otak sudah teriak-teriak di kepala, “Dari mana duitnya?!”

Ada teori, otak tidak bisa tenang saat menghadapi kondisi tidak menentu. Maunya semua serba jelas: besok makan apa, uang ada berapa, dan apakah hidup akan berubah jadi sinetron azab atau tidak.

Biar tidak terus ribut sampai berjilid-jilid, saya beri solusinya, “Nanti setiba di rumah, taruh ember di bawah pancuran talang. Siapa tahu malam ini hujan duit, kita tidak perlu repot ngumpulin.”

Otak langsung tenang. Tapi tidak lama. Pantat baru nyentuh jok mobil, otak sudah menyajikan ilustrasi kepala Yuni gundul plontos. Dengan alasan butuh konsentrasi untuk nyetir, saya minta otak berhenti membuat skenario drama.

Nurut. Tapi beberapa detik kemudian, entah dari lorong memori sebelah mana, tiba-tiba muncul bayangan Sora Aoi.

Mobil yang sudah sempat mundur langsung saya hentikan. “Kita sama-sama bingung, tapi enggak gitu juga caranya. Sekarang fokus ke jalan. Nanti di rumah kita puyeng lagi barengan.”. Lalu saya segera meluncur dari parkiran rumah sakit, menuju lobby utama, sambil mencoba berpura-pura waras

Menjelang tidur otak malah menggelar acara “Kilasan Memori Lama”, diantaranya membawa saya kembali ketika ada teman menjalani perawatan kanker. Biaya sekali kemo belasan juta. Sementara kemonya berlangsung sampai 8 siklus. Belum obat tambahan. Belum pemeriksaan ini-itu. Belum biaya tak terduga yang biasanya muncul dengan santai seperti iklan YouTube.

Alih-alih istirahat, saya mecicil sampai pagi dengan pikiran semrawut.

Besoknya, meskipun ngantor, saya tidak bekerja. Otak yang mampet dan ngantuk berat membat saya hanya glundang-glundung di kamar OB. Tidak bisa tidur, tapi melekpun ogah. Sementara isi kepala sudah seperti festival sound horeg.

Drama yang disajikan otak semakin meriah setelah saya tahu istri saya akan menerima dua macam obat kemo. Oxaliplatin melalui infus, dan Taceral yang diminum seperti obat biasa.

Masalahnya, saya baru ingat belum bertanya tentang resiko dari urin pasien terhadap orang sehat dua hari setelah konsultasi berlalu. Ketika bertanya pada mbah Gugel, saya mendapat jawaban lugas dan sukses bikin bulu kuduk njengat: Urine pasien mengandung sisa obat yang bersifat toksik selama 48 sampai 72 jam setelah pengobatan.

Kalau obat infus yang hanya diberikan sebulan sekali saja resikonya sampai 3 hari, bagaimana dengan obat oral yang diminum setiap hari selama 20 hari? Sedangkan sekedar menyentuh obatpun harus menggunakan sarung tangan pelindung, dan bekas kemasannya harus di kembalikan ke rumah-sakit – tidak boleh dibuang sembarangan.

Tapi hidup kadang suka aneh. Banyak pikiran malah membuat urusan jadi lancar. Siklus kemo pertama tahu-tahu sudah berlalu. Biaya kemo di kelas 3 lumayan terjangkau. Tidak sampai 30% dari biaya yang dibayar oleh teman saya. Kerepotan di kamar mandi teratasi dengan sendirinya. Istri saya ternyata sudah tahu tata cara buang air yang aman, termasuk selalu menutup kloset sebelum menyiram.

Paling penting, siklus pertama berlalu tanpa kendala terhadap pasien.

Bahkan sampai siklus ketiga berlalu, gejala botak tidak nampak. Rambut memang rontok lebih banyak dari biasanya, tapi masih dalam batas wajar. Tapi siklus ke empat terpaksa ditunda, karena trombosit ngedrop sampai hanya tinggal 26.000.

Setelah trombosit kembali normal, dokter memutuskan melakukan operasi terlebih dahulu untuk mengangkat kankernya.

Di titik itu saya mulai sadar, kadang yang paling melelahkan dari sebuah perjalanan bukan hanya penyakitnya — tapi isi kepala yang hobi lari lebih dulu ke segala kemungkinan buruk.

01 Maret 2026

Sejuta Drama di Otak Yang Susah Diajak Tenang

Radiasi dijadwalkan sebanyak 25 kali, dimulai pertengahan Juli 2022. Sebelum radiasi yang sesungguhnya, terlebih dahulu dilakukan simulasi. Otak saya yang masih ruwet sempat bertanya tanya, untuk apa? Memangnya dokter dan petugasnya perlu latihan dulu?

Ternyata simulasi itu untuk memetakan lokasi yang akan disinar, dan menentukan masker yang akan menutup bagian tubuh yang tidak masuk sebagai target. Bagian bawah perut istri saya diberi coretan di beberapa titik. Rasanya seperti melihat teknisi mau pasang parabola, cuma yang ini antenanya organ dalam.

Meskipun sudah sedikit ngerti tentang radiasi berikut efek sampingnya, dan sudah pula mendapat penjelasan dari dokter, otak saya tetap tidak bisa tenang. Hari pertama radiasi, otak saya sibuk bikin festival drama.

Skenario “bagaimana seandainya” muncul satu per satu, membuat saya jadi lapar berat – padahal saat itu saya sedang menjalani diet untuk Trigliserida yang nangkring di atas 1000mg/dL.

Ruang tunggu yang nyaman, sejuk dan tenang tidak mampu membuat otak sedikit tenang. Bahkan ketika nalar saya berulang kali memberi peringatan, Trigliserida di atas 1000 ibarat kaki kanan di rumahsakit, kaki kiri ancang ancang ke kuburan, saya tidak lagi perduli.

Seluruh rangkaian radiasi hanya berlangsung kurang dari 30 menit. Antrian juga hanya 2 pasien. Tapi waktu yang hanya singkat itu bukan halangan, dua porsi migoreng dan segelas teh manis di kantin Sebelah instalasi radioterapi ludes tanpa sisa.

Radiasi dijadwalkan lima kali seminggu, mulai Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu mungkin untuk memberi kesempatan tubuh istirahat – sebenarnya mengenai jeda ini juga sudah dijelaskan oleh dokter saat konsul pertama menjelang simulasi, tapi saat itu otak saya lebih fokus mikir biaya.

Setelah terkuras untuk biopsi dan kolostomi, tiga rekening tabungan saya total saldonya kurang dari 8 juta, padahal biaya sekali radiasi sekitar 3 juta.

Sebenarnya ada 3 pelanggan yang masih nunggak belum melunasi tagihan lebih dari 5 tahun. Tapi ketika saya tagih, alih alih bayar, malah ngamuk.

Sempat kepikiran jual emas tabungan, tapi kata konsultan pajak saya, pajaknya terlalu besar. Rupanya selisih antara harga jual dengan harga beli dianggap sebagai keuntungan. Ada pajaknya.

Emas itu saya beli tahun 1998, seharga 32 ribu per gram. Seandainya laku 900 ribu per gram, yang 868 ribu dianggap sebagai keuntungan. Per 100 gram dianggap mendapat keuntungan 86,8 juta. Bisa kena pajak lebih dari 13 juta.

Konsultan memberi saran, mending jual mobil. Masalahnya, mobil itu salah satu sumber penghasilan saya. Kalau dijual, sama saja memotong tangan untuk membeli perban. Tapi berhubung tidak nemu cara lain, akhirnya saran itu saya turuti.

Alhamdulillah seluruh 25 sesi radiasi berlangsung lancar. Tidak ada efek samping berarti, kecuali gejala-gejala ringan seperti pada umumnya.

Sebelumnya dokter bedah digestif, yang akan menangani kankernya, memberi tahu, “Seandainya lancar, saya harap massanya bisa susut 15 sampai 20 persen.” Kaitannya tentu dengan volume massa yang akan diambil.

Berdasar hasil MRI setelah radiasi, ternyata massa susut lebih banyak. Tapi karena itu pula, dokter malah memutuskan kemoterapi dulu sebelum kankernya diambil.

Keputusan itu membuat saya merasa seperti ketemu emak-emak sen kiri belok kanan. Sebelumnya tidak ada wacana kemo. Rencananya, selesai radiasi langsung operasi.

Barangkali karena uang penjualan mobil masih tersisa lumayan, otak saya membuat skenario lain: Tanpa basa basi menampilkan bayangan istri saya gundul plontos.

Saya berulang kali memaksa diri fokus pada urusan rasional—biaya, jadwal, dan prosedur. Tapi otak ini bandel. Visualisasinya makin jelas. Sampai suatu hari, tanpa sadar saya misuh pelan tapi tegas, “Could you please shut the f**k up?”

Misuhnya saja sudah membuat orang-orang di sekitar njenggirat. Pakai bahasa Inggris pula. Membuat saya lebih mirip wong gendeng stres.

Buru-buru saya dekatkan ponsel ke telinga, berlagak sedang telepon. Sambil pelan-pelan geser, lalu ngacir.

Di balik semua drama itu, saya belajar satu hal penting: sering kali yang paling melelahkan bukan radiasinya, bukan kemoterapinya, bahkan bukan tagihan biayanya. Yang paling melelahkan adalah otak sendiri—yang merasa paling pintar mengantisipasi masa depan, padahal kenyataannya cuma ahli menakut-nakuti diri sendiri.

Istri saya menjalani semuanya dengan lebih tenang daripada saya. Dia yang disinar, dia yang akan dikemo, tapi justru saya yang sibuk bikin film horor di kepala sendiri.

Mungkin memang begitu. Setiap orang punya medan perangnya masing-masing. Ada yang berperang di tubuh. Ada yang berperang di pikiran.

Dari 25 kali radiasi itu, saya sadar: kadang yang perlu disinar bukan cuma sel kanker. Pikiran yang terlalu liar juga perlu “disinari” dengan sedikit logika, sedikit iman, dan kalau perlu dua porsi mi goreng dan segelas teh manis.

Trigliserida biar Tuhan yang atur.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

15 Oktober 2025

Antara Kepedulian dan Kerepotan Sosial

Kadang, niat baik orang lain bisa berubah jadi ujian kesabaran — terutama ketika yang disebut “kepedulian” datang tanpa mempertimbangkan situasi yang sebenarnya. Saya baru benar-benar menyadarinya ketika Yuni, istri saya, menjalani masa pemulihan setelah kolostomi dan biopsi.

Ketika mendengar istri saya selesai menjalani “operasi”, banyak teman-teman salah paham. Disangkanya yang dioperasi adalah kankernya, padahal baru biopsi dan kolostomi. Setelah mendengar kabar bahwa Yuni sudah pulang, beberapa langsung berniat menjenguk.

Rencana kunjungan itu sempat membuat saya bingung. Saya tahu niat teman-teman baik, tapi memberi ijin orang menjenguk berarti membuka peluang resiko. Kondisi Yuni belum benar-benar pulih. Pandemi juga belum dinyatakan berakhir – himbauan mengenakan masker dan jaga jarak belum dicabut.

Operasi di bagian bawah membuat Yuni belum bisa duduk. Artinya, saya harus mengijinkan tamu masuk kamar tidur. Kalau hanya satu atau dua orang, mungkin masih bisa diatur. Tapi biasanya, ibu-ibu datang rombongan, dan jam datangnya tidak bisa diprediksi.

Akhirnya saya terpaksa mengambil keputusan yang tidak populer: tidak menerima tamu.

Sebelum ada yang terlanjur datang, saya kabarkan bahwa untuk sementara pasien belum bisa ditengok, karena masih harus mempersiapkan diri untuk operasi besarnya.

Reaksinya beragam. Kebanyakan paham – entah betulan atau basa-basi, saya tidak perduli. Tapi ada juga yang terang-terangan nyinyir. “Orang sakit biasanya senang ditengok. Ini malah tidak boleh. Aneh!”

Ya sudah, bodo amat.

Satu kesulitan bisa diatasi. Tidak ada tamu berkunjung. Bahkan selain teman-teman dekat, tidak ada lagi yang menanyakan kabar. Ada yang bilang, kami mendapat hukuman sosial. Tapi bagi saya, malah kebetulan. Saya dan anak bisa fokus merawat pasien tanpa rangkap tugas menjadi juru bicara. Tidak perlu berulangkali memberi penjelasan untuk hal yang sama pada setiap orang.

Suatu ketika, seseorang menegur saya, menganggap saya mengabaikan perasaan Yuni. “Kamu pikir kelakuanmu itu tidak jadi beban pikiran bagi istrimu? Kamu pikir istrimu tidak malu?”

Saya sempat terdiam.

Tapi lalu saya ingat, ada dua bekas luka panjang. Satu di bagian anus, satu lagi di perut, masih basah – dan tentunya juga perih. Obat pereda nyerinya MST Continus 15 mg, mengindikasikan derajad nyerinya bukan lagi setara sakit gigi.

Selain itu, Yuni juga gampang alergi. Tamu bisa saja tanpa sengaja membawa aroma parfum yang memicu alergi, atau malah debu dan kuman. Jadi, apa yang salah kalau saya melindunginya?

Tapi biar adil, saya bertanya pada Yuni, apakah dia keberatan tamunya saya tolak? Ternyata dia lebih suka kalau istirahatnya tidak diganggu.

Bagi saya, jawaban itu sudah lebih dari cukup.

Belakangan datang lagi ujian kecil dalam bentuk lain. Salah satu teman ngirim bingkisan berupa makanan, lauk, kue dan buah, dalam jumlah besar. Makanan awetan dan buah mestinya bisa masuk kulkas. Masalahnya, dua kulkas di rumah sudah terisi penuh kiriman serupa sebelumnya.

Langsung dimakan habis juga tidak mungkin. Selain jumlahnya terlalu banyak, saya sedang diet ketat, menu makan Yuni juga masih dibatasi. Tinggal anak semata wayang, satu-satunya yang masih bebas makan apapun. Tapi dia terlanjur eneg dijejali kiriman-kiriman terdahulu.

Akhirnya, biar tidak basi lalu terbuang percuma, semua bingkisan itu terpaksa dibagi-bagi ke siapa saja yang bersedia menerima.

Celakanya, entah bagaimana, teman itu tahu. Sayapun disindir habis-habisan di Facebook. Kali ini muka badak saya tidak berdaya mengabaikan teguran hati. Secuek apapun, saya tetap tidak bisa mengabaikan perasaan bersalah. Saya temui dia, saya minta maaf. Tapi sampai hari ini tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Kadang, kepedulian bisa berubah jadi beban, kalau tidak disertai pengertian. Di sisi lain, mungkin saya juga harus belajar menerima kebaikan orang tanpa terlalu sibuk mengatur arah niatnya. Tapi kalau harus memilih, antara menjaga perasaan orang dan menjaga kesehatan istri, saya tetap akan memilih yang kedua. Karena pada akhirnya, empati yang sejati bukan soal datang menjenguk atau memberi bingkisan, tapi mampu memahami kapan harus memberi ruang.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

04 Oktober 2025

Catatan Kecil dari Perjalanan Kolostomi

Akhirnya tagihan itu beneran datang. Salah satu pembaca blog bertanya,  “Kenapa tulisan tentang kanker kolorektal tidak dilanjutkan?”

Tentu saja saya ingin menuliskan cerita lanjutannya. Sayang sekali, flashdisk tempat saya menyimpan catatan selama istri menjalani perawatan hilang entah di mana. Jadi sekarang saya hanya mengandalkan ingatan, dibantu catatan medis dari rumah sakit untuk merangkai kembali kronologinya.

Transfusi Darah dan Harapan yang Tertunda

Saat awal dirawat, kadar Haemoglobin Yuni hanya kisaran 4g/dL. Terlalu rendah untuk menjalani prosedur invasif. Dokter memutuskan menunda biopsi. Yuni harus menerima transfusi terlebih dahulu, sampai kadar HB paling tidak mencapai 10 g/dL. Empat kantong darah mengalir ke tubuhnya, membawa oksigen dan harapan baru.

Sesuai kesepakatan antara dokter dengan saya sebelumnya, biopsi dilakukan bersamaan dengan kolostomi – operasi membuat saluran pembuangan feses melalui lubang di dinding perut. Rencananya, operasi dilakukan pagi sebelum Jumatan, tapi tertunda karena ada pasien darurat. Baru siang harinya Yuni masuk ruang operasi.

Empat Jam yang Mengubah Segalanya

Biopsi dan kolostomi berlangsung lancar sekitar 4 jam, tapi sampai hari ini saya belum punya nyali untuk melihat secara detail kantong yang terpasang di perut bagian kiri bawah. Saya hanya tahu, sejak saat itu istri saya tidak lagi BAB melalui dubur. Kotoran keluar melalui lubang di dinding perut, ditampung sementara di kantong yang secara berkala dibersihkan dan diganti setiap 2 atau 3 hari sekali.

Awalnya dokter berharap kolostomi itu hanya sementara. Tapi entah kenapa, saya merasa ragu. Ternyata dugaan saya benar, setelah operasi kanker dilakukan tujuh bulan kemudian, dokter memberitahu, jalur lama terpaksa ditutup permanen. Stoma bukan lagi jembatan sementara, melainkan menjadi bagian tetap dari hidup Yuni.

Yuni Ternyata Lebih Kuat

Hari-hari pertama pasca kolostomi terasa menegangkan. Bukan karena kondisi Yuni, tapi karena kecemasan saya sendiri. Yuni terlihat santai. Tapi justru sempat membuat saya kuwatir, dia menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Sampai beberapa hari kemudian, saya senewen sendiri, menunggu, kapan bom waktu itu akan meledak.

Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa. Yuni tetap santai. Tetap ceria seperti sebelumnya. Bahkan sangat antusias memberi penjelasan tentang kantongnya, seperti sedang promosi gadget baru.

Hari ini sudah dua tahun lebih Yuni mengenakan kantong. Aktifitasnya sudah kembali seperti sebelum covid. Motoran, jalan-jalan, bercocok-tanam, nyapu, ngepel, semua dikerjakan tanpa halangan. Tidak ada cerita tercium bau aneh, cairan rembes atau kantong bocor. Hanya ada satu perubahan – seperti kata Imah dulu, bunyi kentut tidak bisa disensor. Kadang terdengar nyaring, kadang hanya berdesis campur sedikit suara plupuk plupuk, kadang agak horor. Bagusnya, Yuni bisa santai menerima kebiasaan baru itu.

Meskipun sekarang semua baik-baik saja, tapi sekitar setahun pertama Yuni sempat enggan pergi jauh. Untuk menguras isi dan membersihkan kantong, dia membutuhkan closet duduk. Sekedar jongkok saja sudah cukup repot, keganjel kantong. Apalagi kalau harus mengeluarkan isi dan bersih-bersih di WC umum yang kebanyakan masih pakai kloset jongkok.

Dulu, ketika perawat memberitahu, kantong bisa digunakan 2 sampai 3 hari, saya sempat tidak setuju. Tas kresek bekas makanan basi saja susah dibersihkan, apalagi kantong yang menampung kotoran perut.

Ternyata kantongnya memang ada banyak macam. Ada yang hanya sekali pakai, ada pula yang bisa digunakan sampai 3 hari. Yang sekali pakai lebih praktis, tinggal dibuang bareng kotoran. Tapi, karena istri saya merasa lebih nyaman dengan yang bisa dipakai ulang sampai 3 hari – meskipun harus ribet bersih-bersih. Saya ngikut saja.

Perjalanan panjang ini mengajarkan banyak hal. Bukan hanya tentang kanker, kolostomi, atau manajemen kantong medis—tapi tentang kekuatan jiwa yang tak terlihat oleh mata. Yuni bukan sekadar survive. Ia berhasil berdamai dengan perubahan radikal dalam tubuhnya. Tidak membiarkan stoma mendefinisikan siapa dirinya. Justru, ia menunjukkan bahwa keindahan hidup tak terletak pada kesempurnaan fisik, melainkan pada kemampuan hati untuk menerima, menyesuaikan, dan terus melangkah.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

01 Januari 2023

Old & New, Home Alone

Sebenarnya saya berencana menghabiskan malam pergantian tahun 2022 ke 2023 di rumah sakit. Istri saya sudah tiga hari dirawat karena trombosit dan HB-nya ngedrop. Eh, malah apes, menjelang tengah hari perut saya tiba-tiba kolaps. Diare tiga kali dalam hitungan jam. Badan lemas, kepala pusing. Tapi saya masih bertahan di kantor sampai tutup buku selesai. Menjelang Ashar, saya menyerah. Pulang.

Perjalanan pulang serasa lomba marathon, panjang dan melelahkan. Motor nyaris kehabisan bensin, sementara SPBU terdekat berada di arah berlawanan  dengan jalur pulang. Toko pakan kucing dekat rumah, yang biasanya buka hingga malam ternyata sudah tutup, membuat perjalanan semakin jauh. Setiba di depan rumah saya baru ingat, belum beli makan malam. 

Saya tahu betul kebiasaan tubuh saat sedang tidak enak badan. Begitu nyenggol sofa, langsung kambuh malas. Maka, selagi masih di luar dan belum tergoda untuk rebahan, harus beli makan dulu. Saya tidak ingin masuk angin lagi hanya gara-gara telat makan. 

Ternyata, perjalanan yang lebih panjang, ditambah sedikit maksa bertahan tidak keburu ambruk, untuk memberi makan kucing dan ayam, greges-greges, mual dan pegel-pegelnya tidak terasa lagi. Terutama setelah melahap nasi bungkus yang semula saya siapkan untuk makan malam.

Menjelang Magrib, setelah mandi air hangat, badan terasa lebih segar. Saya pun bersiap berangkat ke rumah sakit. Tapi begitu keluar halaman,  badan tiba-tiba menggigil. Terpaksa putar balik, dan langsung meringkuk dalam selimut.

Mendekati pergantian tahun, perut mulai keroncongan. Di rumah hanya tersisa kurma, wafer, dan beberapa bungkus mi instan. Sementara lidah Jawa saya tetap minta nasi.

Beruntung, masih ada warung yang buka.

“Sendiri saja, Pak?” tanya penjualnya. Padahal dia tahu saya datang sendiri.

Begitulah asyiknya Indonesia. Bermula dari pertanyaan basa-basi, berkembang menjadi obrolan gayeng.

Perut saya ternyata cuma aleman. Setelah empat suap, semangat ngunyah langsung ambyar. Nasi setengah porsi yang sebenarnya cuma segenggam, mendadak nampak segunung.

Di saat saya bingung cari alasan untuk berhenti makan, ponsel penjual nasi berdering. Suara dari loudspeaker terdengar cukup jelas. Orang di sebelah sana memberi tahu, istrinya baru saja melahirkan.

“Tutup saja, Mas. Nggak apa-apa,” saya langsung memanfaatkan situasi, menyelamatkan diri dari rasa bersalah karena makan masih tersisa banyak.

Saya pulang jalan kaki, ditemani suara jedoran mercon menyambut tahun baru.

Setiba di depan pagar rumah, para kucing muncul satu per satu dan mulai ribut. Saya kira mereka minta makan, ternyata cuma pengin ditemani. Mereka selonjoran manis di sekitar saya.

Tahun sudah berganti. Jedoran mercon mulai reda. Satu per satu kucing-kucing pergi. Tinggal saya sendiri, termenung di teras.

Di saat mata mulai ngantuk, saya merasakan kehadiran sesuatu di arah pintu masuk rumah. Hampir saja saya kabur. Tapi percuma. Kalau yang datang itu punya niat buruk, saya tidak punya tempat untuk ngumpet.

Saya punya teman-teman khayalan, tapi setiap kali mereka datang, saya tidak merasakan sensasi apapun. Beda dengan yang ini. Saya bisa tahu persis dimana dia berada. Bahkan saya merasakan ketika dia sedang “melihat” saya atau “memandang” ke arah lain.

Saya tidak tahu harus bagaimana, selain diam dan menunggu. Supaya pikiran tidak ngelantur ke sana ke mari, awalnya saya menyanyi dalam hati, kemudian memutar musik instrumental di ponsel.

Setelah beberapa lagu berlalu, dan mata semakin berat, saya memberanikan diri bicara, “Aku ngantuk, boleh tidur?”

Entah kebetulan atau hanya perasaan saya, setelah itu sensasi aneh di dekat pintu tidak terasa lagi. Suasana yang semula tenang dan tidak terasa sepi, mendadak berubah menjadi hening, dingin dan terasa, saya sedang sendiri.

Saya pun berdiri, mengucapkan terima kasih sudah ditemani, lalu bergegas masuk rumah.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL


15 Desember 2022

CT-Scan Menyusul

 

Setelah hasil biopsi menyatakan positif kanker, Yuni harus menjalani CT Scan.

Untuk apa? Bukankah hasil biopsi saja sudah cukup? Dan apakah CT Scan yang menggunakan sinar-X itu aman bagi tubuhnya?

Paparan sinar-X dari CT Scan ternyata jauh lebih rendah dibandingkan radioterapi. CT Scan hanya dilakukan satu kali, sementara radioterapi akan dilakukan sebanyak 25 kali, hampir setiap hari. Kalau saya bisa menerima radioterapi, tidak ada alasan untuk menolak CT Scan.

Menurut American Cancer Society, pemeriksaan kanker terdiri dari tiga metode utama: tes pencitraan (salah satunya CT Scan), prosedur endoskopi, dan biopsi1.

Karena hasil biopsi sudah menyatakan positif kanker, dokter membutuhkan CT Scan untuk memetakan bentuk dan ukuran kanker secara detail, serta menemukan lokasi pastinya. Ini penting agar radiasi dari radioterapi tepat sasaran, sehingga meminimalkan kerusakan pada jaringan sehat di sekitar kanker.

Saya hanya bisa berharap, semoga dua prosedur ini cukup. Saya benar-benar tidak tega jika Yuni harus melalui kolonoskopi lagi. Sudah cukup banyak prosedur invasif yang menunggu ke depan. Kalau ada yang bisa dihindari, lebih baik begitu. Selain itu, ini juga lebih hemat biaya.

Mencari Jawaban di Tengah Keraguan

Saya kembali membaca ulang semua materi tentang kanker dan terapinya. Namun, bukannya mendapat jawaban yang menenangkan, saya malah kembali mentok pada argumen lama: memilih yang terbaik di antara yang buruk.

Masalahnya, argumen itu justru terasa berlebihan jika dibandingkan dengan hasil pemeriksaan histopatologi yang, dalam pemahaman saya, menunjukkan stadium awal.

Dengan bantuan seorang teman, saya mulai meneliti hasil Patologi Anatomi (PA) secara lebih teliti. Saya bahkan membuat salinan hardcopy-nya, supaya bisa saya coret-coret dan tandai. Sampai akhirnya saya hafal luar kepala semua kalimatnya, saya malah seperti diyakinkan bahwa terapi radiasi sebenarnya tidak perlu.

Namun, teman saya segera mematahkan kesimpulan itu. Sambil menunjuk bagian yang saya tandai dengan spidol merah, ia berkata, “Ini bagaimana?” — yang ditunjukkan adalah kalimat “tumor rektum susp ganas”.

Saya sempat menganggap itu hanya dugaan awal dokter yang sudah tak relevan setelah PA keluar. Namun, sebelum sempat saya membantah, teman saya menambahkan, “Itu hasil pemeriksaan fisik dokter. Sementara PA cuma menganalisis sampel. Tes lab hanya membaca data, bukan merasakan.”

Perlahan-lahan otak saya mulai menyadari. Dugaan dokter terhadap keganasan tidak dibatalkan oleh hasil PA. Mungkin saat dokter menekan area massa tumor, reaksi tubuh Yuni memberi sinyal tambahan yang tidak terbaca oleh sampel PA. Artinya, hasil PA bukanlah kata putus terhadap dugaan ganasnya kanker.

Beh, bajigur!

Saya memegangi kepala saya yang mendadak pening. Ternyata saya keliru menetapkan target. Saya terlalu fokus mencari terapi dengan efek samping paling ringan, padahal yang seharusnya saya cari adalah terapi yang bisa mencegah kanker berkembang menjadi ganas.

Baiklah. Deal. Radioterapi tetap harus dijalankan.

Efek sampingnya? Sudah terpetakan. Nanti pasti ada petunjuk bagaimana cara mengatasinya. Yang penting, saya tidak lagi berpegang pada angan-angan semata, melainkan berusaha sekuat tenaga menghadapi realita.

Catatan Kaki

  1. American Cancer Society. Understanding Diagnostic Tests for Cancer. https://www.cancer.org/cancer/cancer-basics/how-cancer-is-diagnosed/tests-used-to-diagnose-cancer.html

14 Desember 2022

Hari Penentuan, dan Prasangka yang Tak Bisa Dipendam

Akhirnya, hari penentuan itu tiba. Saya mendapat kabar dari perawat, hasil Pemeriksaan Hispatologi yang dilakukan oleh Departemen Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran UGM sudah diterima oleh rumah sakit tempat Yuni dirawat. Dokter akan segera menjelaskan hasilnya.

Saat saya duduk menunggu dokter, beberapa pesan WhatsApp masuk. Banyak yang menanyakan kondisi Yuni, menunjukkan perhatian dan empati. Tapi ada satu pesan yang bikin saya nyengir. Dari Nyai, dia bilang, “Berdoa saja, semoga bukan kanker.”

Kalau baru berdoa setelah hasilnya keluar, yo telat, tapi nggak apa-apa lah. Niatnya kan baik. Lagipula, saya tahu, Nyai juga sedang menjalani perawatan untuk breast cancer-nya. Mungkin dia lagi suntuk, dan butuh hiburan dengan bercanda sedikit.

Saya jadi ingat, Nyai sempat marah saat tahu saya baru membawa Yuni ke dokter setelah HB-nya drop sampai 4,2. “Lanangan cap apa, istri sakit enggak segera diajak ke dokter?” katanya dengan nada tinggi.

Ya wis, salaaaahhh… saya hanya unjal ambegan sambil berusaha memaklumi kekhawatirannya.

Akhirnya, dokter memanggil saya. Hasilnya ternyata sesuai dugaan saya beberapa bulan sebelumnya: Yuni memang positif kanker. Berdasarkan pemeriksaan histopatologi terhadap sampel dengan diagnose klinis tumor rectum terduga ganas, hasilnya: Adenocarcinoma, NOS, Low Grade. Fistologic grade: Well Differentiated; Grade I of IV (AJCC 8th ed. Grading).

Dari berbagai sumber bacaan, terhadap hasil biopsi itu, saya mendapat kesimpulan sebagai berikut:

1. "Adenocarcinoma, NOS"

  • Adenocarcinoma = Kanker yang berasal dari sel-sel kelenjar (bisa di usus besar, lambung, pankreas, dll).
  • NOS (Not Otherwise Specified) = Jenis ini tidak termasuk subtipe tertentu; hanya disebut umum sebagai adenokarsinoma.

2. "Low Grade"

  • Artinya tingkat keganasan sel kanker masih rendah. Masih cukup mirip dengan sel normal. Tumbuhnya lebih lambat, dan kemungkinan menyebarnya juga masih lambat.

3. "Histologic grade: Well Differentiated"

  • Menunjukkan bahwa sel kanker masih mirip sel normal, sehingga disebut “well differentiated”.
  • Biasanya dianggap tingkat keganasan yang paling ringan dibanding "moderately differentiated" atau "poorly differentiated".

4. "Grade I of IV (AJCC 8th ed. Grading)"

  • Dalam sistem grading kanker (berdasarkan American Joint Committee on Cancer - AJCC Edisi ke-8),
    • Grade I dari IV = tingkat paling ringan (ada empat tingkat: I, II, III, IV).
    • Berarti sel kanker tumbuh lambat, lebih jinak, dan memiliki prognosis yang lebih baik.

Hasil Biopsi menunjukkan kanker kelenjar (adenokarsinoma) yang tergolong ringan atau stadium awal dalam hal keganasan. Sel-selnya masih cukup mirip dengan sel sehat, tumbuh lambat, dan berpotensi lebih mudah ditangani dibanding kanker dengan grade lebih tinggi.

Setelah sesaat sempat lega, saya teringat tulisan di salah satu blog yang membahas efek samping radiasi:

Secondary malignancies are caused by treatment with radiation or chemotherapy. They are unrelated to the first cancer that was treated, and may occur months or even years after initial treatment.

Dalam pemahaman saya, Secondary malignancy adalah kanker baru yang muncul akibat pengobatan kanker sebelumnya, tidak berhubungan langsung dengan kanker awal, dan biasanya muncul dalam jangka panjang setelah pengobatan selesai.

Otak saya langsung ribut. Seandainya radiasi malah bisa memicu kanker baru, mengapa dokter tetap menyarankan radiasi? Apakah untuk kanker dengan grade rendah, radiasi masih diperlukan? 

Saya tahan pertanyaan itu untuk diri sendiri. Kalau saya utarakan pada orang lain, kuwatirnya nanti malah ada yang ngompori, nuduh dokter macam-macam. Dalam posisi saat itu saya harus menjaga, jangan sampai benih prasangka buruk yang sudah bersemi di otak saya, tumbuh liar akibat komentar sembarangan. Saya harus berusaha tetap tenang dan berpikiran jernih. Nasib Yuni sepenuhnya berada di tangan saya.

Pada kesempatan konsultasi, hampir saja temuan itu saya tanyakan pada dokter, tapi saya urungkan. Kondisi emosi saya sedang kritis, takutnya nanti saya bicara lepas kontrol, lalu membuat suasana jadi tidak nyaman. Ujung-ujungnya malah tambah repot.

Tapi ada satu hal yang membuat prasangka saya sedikit mereda. Dari cara dokter bicara, tatapan matanya, dan bahasa tubuhnya, saya melihat kesungguhan yang tulus. Bukan basa-basi. Bukan asal bicara, apalagi tersembunyi niatan komersial.

Masalahnya, otak saya terus saja bertingkah, “Atau jangan-jangan dokternya juga tidak paham terhadap resiko yang itu?”.

Bisa saja. Penelitian berlangsung setiap hari, seandainya efek samping itu baru diketahui belum lama berselang, ada kemungkinan dokter belum mengetahui. Atau bisa pula  temuan itu masih sebagai dugaan, sementara alternatif lain untuk terapi kanker belum ada, sehingga dokter tidak punya pilihan.

Saya lanjutkan menggali semakin dalam. Tapi tidak gampang. Selain harus memeras otak untuk memahami berbagai istilah yang baru kali itu saya temui, setelah pahampun justru membuat saya tambah kuwatir.

Repotnya, ketika saya belum nemu petunjuk lain, sementara jadwal radiasi semakin dekat, ada masukan dari seseorang yang paham medis. “Keponakanku tumbuh kanker baru di tempat lain, lebih ganas. Dugaanku, disebabkan oleh radiasi.”

Tiba-tiba badan ini terasa sangat lelah. Pikiran saya rasanya penuh. Hati saya pun begitu. Rasanya saya ingin menyerah. Tapi saya tahu, ini bukan tentang saya. Ini tentang Yuni, yang sedang berjuang dengan tubuhnya, yang tetap tersenyum meski dalam sakitnya.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL


12 Desember 2022

Antara Nutrisi, Imunoterapi, dan Realita

 

Di saat pikiran semakin kusut, saya mulai menghindar dari siapa pun. Saya memilih menyendiri di pojok kantin rumaah-sakit di bagian sebelah timur. Di sana saya habiskan sebagian besar waktu ketika tidak sedang menunggu Yuni, sambil manteng laptop dan ngulik HP.

Kantin timur ini biasanya sepi, jarang ada orang yang mau duduk satu meja. Tapi kali ini sedikit berbeda. Entah kenapa, seseorang yang membeli makan dari kantin barat justru melewati beberapa kursi kosong lalu minta izin duduk di hadapan saya. Setelah basa-basi singkat, dia mulai bercerita tentang ibunya yang menderita kanker.

Sempat terlintas di benak saya: Apakah saya kelihatan seperti dukun kanker? Sampai-sampai ada orang yang tidak pernah saya temui sebelumnya curhat panjang lebar, bahkan minta saran.

“Setelah operasi dua tahun lalu,” katanya, “saya ikut saran keluarga, beralih ke terapi herbal. Tidak kemo, tidak radiasi, karena katanya efek sampingnya berat. Sekarang Ki-67-nya tinggi.”

Nah, apa pula itu Ki-67?

Saya pun bertanya ke mbah Gugel. Jawabnya singkat tapi cukup bikin merinding: “A high Ki-67 index indicates aggressive tumor growth.”1

Orang itu melanjutkan ceritanya, tapi jujur saja, membuat otak saya agak enggan menyimak. Saya memutuskan fokus ke masalah kanker kolorektal saja, supaya kepala saya tidak overheat. Tapi tentu saja, saya tetap mendengarkan. 

“Kenapa tetangga saya bisa sembuh hanya dengan herbal, sementara ibu saya malah semakin parah?” Orang itu bertanya, seolah olah saya punya kuasa menentukan kesembuhan..

Saya memberikan jawaban klasik, “Tergantung derajat sakitnya dan kondisi pasien, termasuk ada atau tidak penyakit penyerta.”

Lalu datanglah pertanyaan yang paling saya khawatirkan:

“Saya harus bagaimana?”

Sebenarnya, orang seperti itu tidak sungguh-sungguh membutuhkan jawaban. Mereka sadar bahwa yang ditanya juga tidak punya solusi. Tapi begitulah, ketika pikiran sudah buntu, seringkali kita melontarkan pertanyaan yang sebenarnya hanya butuh pengakuan, bukan jawaban.

Akan sangat konyol bila kemudian saya menjawab, “Ikuti saran dokter,”

Dia sendiri pasti sudah tahu. Hanya saja realita dan ekspektasi sering tak sejalan. Mau saya bilang, “Berdoa saja,” rasanya juga aneh. Memangnya cuma saya yang selalu ingat berdoa? Bisa saja justru orang itu lebih sering berdoa.

Entah dari mana, tiba-tiba saya nyeletuk begitu saja:

“Sebenarnya bukan operasi, bukan kemo, bukan radiasi yang menyebabkan pasien bisa bertahan. Semua itu hanya ikhtiar untuk mengurangi dan mencegah penyebaran kanker. Pasien bisa bertahan hidup semata-mata karena kekuatan tubuhnya sendiri. Coba konsultasikan ke dokter soal diet yang cocok, lalu minta ahli gizi untuk menyusun menunya. Pasien butuh asupan nutrisi yang cukup supaya daya tahan tubuhnya kuat.”

Begitu selesai bicara, saya justru terdiam sendiri. Dari mana saya dapat ide seperti itu? Tapi sebelum sempat saya jawab pertanyaan sendiri, otak saya keburu kumat lagi, mengembangkan teori tanpa dasar, tentang kemungkinan memperkuat antibodi untuk melawan kanker.

Barangkali tambah mumet, atau sadar omongan saya tidak layak didengar, orang itu kemudian pamit.  Sementara saya,  plonga-plongo, mikir ulang semua yang barusan muncul di otak. 

Lalu, seperti biasa, kemudian bertanya kepada mbah Gugel. 

Ternyata otak saya tidak ngawur-ngawur amat. Memang ada terapi kanker dengan memanfaatkan kerja sistem imun tubuh. Hanya beda cara dari yang dibayangkan oleh otak saya. 

Sekilas sempat saya baca, imunoterapi minim efek samping. Laman Cancer Therapy Advisor mengatakan, because it targets only your immune system, you may experiance fewer side effects.

Sejauh ini memang hanya efek samping dari terapi yang membuat pikiran saya semakin kusut. Kalau ternyata ada terapi yang hanya menimbulkan sedikit efek samping, tentu sangat cocok dengan harapan saya.

Tapi, setelah saya membaca lebih lanjut, ternyata hanya seindah impian di siang bolong. Pada bagian Risk of immunotherapy disebutkan, some immunotherapies can cause your immune system to attack your intestines, kidney, heart, and other organs.

Lhaaaaaa, sami mawon!!!!

Dan harapan saya memanfaatkan imunoterapi semakin pupus setelah tahu kalau terapi itu hanya bekerja terhadap kanker tertentu, diantaranya kanker paru, ginjal, kandung kemih dan kanker serviks. Dari berbagai laman yang saya jelajahi, tidak satupun nyebut kanker kolorektal.

Ya wis lah, dilakoni yang ada saja, radiasi, kemo, lanjut operasi. Sambil berusaha (dan berdoa tentunya – ketimbang nanti ada yang protes, disangka tidak pernah berdoa), supaya terapi konvensional yang bakal dijalani Yuni nanti efek sampingnya hanya muncul yang ringan-ringan saja.

Sebagai ikhtiar tambahan, saya memutuskan kembali ke ide awal: memperbaiki daya tahan tubuh secara alami lewat asupan nutrisi. Bukan untuk melawan kankernya, tapi supaya tubuh Yuni kuat menghadapi efek samping terapi.

Masalahnya, menentukan asupan yang baik dan mana yang harus dihindari tidak mudah. Saya menerima saran. Harus begini, harus begitu. Hindari ini, jauhi itu. Tapi saya ragu, apakah semua itu beneran cocok untuk kondisi Yuni.

Contohnya saja, ada yang bilang mengurangi asupan karbo supaya sel kanker ‘kelaparan’. Tapi ternyata, menurut artikel eCancer: "The main goal of tumour cell is, above all, to survive... including the ability to continue surviving when glucose levels are very low. This could be one of the reasons why widely used anti-angiogenic agents often fail to eliminate cancer."4

Jadi, daripada saya asal mencoba, lebih baik saya tanyakan langsung pada dokter yang menangani Yuni. Ternyata jawabannya sederhana: kondisi Yuni tidak membutuhkan diet khusus. 

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa di tengah kebingungan dan keputusasaan, saya cenderung mencari jawaban instan atau solusi ajaib yang terdengar meyakinkan. Namun, realitanya, tidak ada jalan pintas untuk menghadapi kanker—hanya langkah-langkah kecil yang dijalani dengan sabar dan penuh harapan. 

Ketika tubuh lemah dan pikiran lelah, mungkin yang paling penting bukan sekadar berpegangan pada teori atau metode terapi, melainkan juga menjaga semangat, merawat tubuh dengan baik, dan tetap berpijak pada harapan yang realistis. Karena dalam perjalanan ini, bukan hanya soal bertahan, tapi juga bagaimana kita tetap manusiawi di tengah segala keterbatasan.

Catatan Kaki:

  1. American Cancer Society. A high Ki-67 index indicates aggressive tumor growth. https://www.cancer.org/
  2. Siloam Hospitals. Imunoterapi untuk kanker. https://www.siloamhospitals.com/
  3. Cancer Therapy Advisor. Because it targets only your immune system, you may experience fewer side effects. Some immunotherapies can cause your immune system to attack your intestines, kidney, heart, and other organs. https://www.cancertherapyadvisor.com/ 2
  4. eCancer. The main goal of tumour cell is, above all, to survive... including the ability to continue surviving when glucose levels are very low. https://ecancer.org/

10 Desember 2022

Ketika Nalar dan Hati Harus Kompak

JIH 9 Juli 2022

Meskipun sejak ditangani dokter bedah digestif, istri saya sudah empat hari menjalani rawat inap, biopsi dan kolostomi yang direncanakan belum bisa dilaksanakan. Masih harus menunggu kadar hemoglobin (HB) Yuni naik ke angka 10. Saat pertama masuk rumah sakit, HB Yuni hanya 4. Sudah mendapat transfusi beberapa kantong, tapi berdasarkan cek terakhir, HB baru sedikit di atas 8.

Sekali lagi, nalar saya menggedor-gedor kepala, mengingatkan kalau proses terapi ini mungkin bakal tidak selancar perkiraan awal. Kondisi Yuni punya potensi membuat prosedur pengobatan ini berliku-liku dan berkepanjangan. Ujungnya tentu saja akan berdampak pada biaya rumah sakit. Apalagi Yuni dirawat di kelas VIP.

Mumet lagi. Jual emas ternyata pajaknya gede. Jual kebon warisan dari mertua ……… enggak ah. Tanah – apalagi warisan, sebaiknya tidak dijual, kecuali duitnya digunakan untuk tambahan beli tanah barru yang lebih luas. 

Alternatif terakhir tinggal menjual saham. Saya memiliki 30 persen saham di rental mobil yang sudah 20an tahun saya kelola bersama teman. Tapi pemegang saham lain menolak keras. “Kamu keberatan bayar pajak emas, malah mau buang duit lebih banyak buat bayar pajak keuntungan jual saham?” 

Akhirnya, sebagai solusi, saya mendapat pinjaman lunak jangka panjang dari perusahaan.

Meskipun masalah keuangan bisa dianggap beres, hutang tetap hutang, nantinya harus dibayar. Jadi, saya tetap harus berhemat, supaya hutangnya tidak gede-gede amat. 

Saya sempat mengajukan turun kelas, ternyata waktunya tidak tepat. Kamar kelas satu dan dua sudah penuh kembali. 

Akhirnya, daripada otak saya tambah ruwet dan malah depresi, saya putuskan untuk memanfaatkan waktu tunggu ini dengan mencari informasi sebanyak mungkin tentang kanker. 

Saya mulai menyelami dunia yang sebelumnya hanya saya kenal lewat potongan-potongan cerita orang lain. Saya membaca artikel ilmiah, nonton video Youtube, testimoni pasien, dan panduan medis. Saya mencatat ringkasan dari berbagai sumber, dan mencoba memahami istilah-istilah medis yang asing.

Tapi, seperti sering saya alami, antara niat dengan hasil kadang tidak bersesuaian. Semakin banyak yang saya baca, semakin terasa seperti terjebak dalam labirin. Setiap informasi baru yang saya dapat seolah menambah beban di kepala. Saya berharap informasi ini bisa membuat saya tenang dan yakin dengan langkah yang akan diambil untuk Yuni. Tapi yang saya rasakan justru sebaliknya.

Ternyata pengetahuan lebih luas bukan hanya membawa pencerahan, tapi juga membawa bayang-bayang ketakutan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Saya jadi tahu betapa rumit dan tidak pasti jalannya pengobatan kanker. Lalu, tanpa diminta, otak saya mulai liar membayangkan segala kemungkinan buruk: komplikasi, efek samping, bahkan skenario-skenario yang paling tidak ingin saya pikirkan.

Saya jadi sulit tidur. Kadang saya duduk di depan layar laptop yang menyala tanpa tahu apa yang harus saya lakukan. Pikiran saya berputar-putar: bagaimana kalau terapi gagal? Bagaimana kalau biaya terus membengkak dan saya tidak sanggup lagi menutupinya? Bagaimana kalau saya terlalu lemah untuk mendampingi Yuni?

Saya merasa seperti sedang terombang-ambing di tengah laut, dengan ombak informasi yang datang dari segala arah. Setiap fakta baru tentang kanker bukan seperti pelampung yang menyelamatkan, tapi justru menjadi beban yang menarik saya jauh lebih ke dalam.

Ujung-ujungnya, saya hanya bisa menarik napas panjang,  dan berusaha menenangkan diri. Mengingatkan diri bahwa saya tidak boleh terlalu larut dalam rasa takut. Bahwa Yuni membutuhkan saya, bukan hanya sebagai orang yang mengambil keputusan, tapi sebagai suami yang tetap bisa memberikan ketenangan dan keyakinan.

Saya sadar, pengetahuan tanpa keteguhan hati hanya akan membuat saya semakin terpuruk. Jadi saya harus belajar memilah mana informasi yang benar-benar penting, dan mana yang hanya menambah beban pikiran tanpa manfaat nyata.

Karena meskipun semakin banyak tahu membuat saya merasa takut, saya juga tahu, saya tidak bisa berhenti di sini. Karena ini bukan hanya tentang saya—ini tentang Yuni. Tentang keberanian kami menghadapi sesuatu yang tidak pasti, dengan segala keterbatasan yang kami punya.

Saya sadar, nalar dan hati saya harus kompak. Karena hidup memang jarang memberikan jalan yang lurus dan mulus. Kadang kita harus siap berkelok-kelok, menahan diri, dan tetap mencari titik terang di ujung lorong.

Saya mematikan laptop, mematikan lampu, dan mencoba tidur. Dalam hati saya berdoa, semoga besok, dan hari-hari selanjutnya, saya tetap diberi kekuatan. Karena besok adalah satu langkah lagi menuju kesembuhan.



09 Desember 2022

Drama Kecil Tentang Radiasi

Di rumah ada dua smartphone, satu tablet, dan dua laptop. Saya gunakan semua untuk membuka laman-laman yang membahas radiasi. Secara bergantian saya baca, lalu saya tulis masing-masing ringkasannya di kertas HVS.

Lewat tengah malam, ketika saya mulai lelah, tanpa sengaja saya kembali "landing" di laman National Cancer Institute. Sebelumnya saya sudah teliti membaca paparan tentang radio terapinya. Materi yang dibahas tidak jauh beda dari laman-laman lain, hanya sedikit lebih detail. Tapi ketika menjelang menutup tab Chrome yang memuat laman NCI, sekilas saya sempat membaca kalimat:

"…THEN CANCER CELLS KEEP DYING FOR WEEKS OR MONTHS AFTER RADIATION THERAPY ENDS."

Saya merasa tidak pernah ketemu kalimat itu sebelumnya. Atau mungkin pernah terbaca sekilas, hanya karena otak terlalu lelah, jadi luput dari perhatian.

Sempat saya ulang membaca beberapa kali untuk memastikan bahwa memang yang tertulis seperti itu.

Jadi, sel kanker yang diradiasi hanya sekarat saja selama beberapa minggu, atau paling lama dalam hitungan bulan?

Tidak, tidak, tidak. Pasti bukan seperti itu maksudnya. Tidak mungkin mereka menggunakan terapi dengan risiko tinggi hanya untuk mendapat hasil sementara dalam hitungan minggu atau bulan saja.

Tiba-tiba saya merasa sangat lapar.

Setelah menghabiskan sebungkus Indomie guyur (hanya diguyur air panas doang, tanpa direbus) dan segelas kopi manis (naaahhhh, gula lagi), otak saya encer kembali. Barulah saya paham bahwa maksud kalimat itu adalah proses kematian sel kanker terus berlangsung sampai beberapa bulan kemudian setelah terapi berakhir. Bukan berarti selnya hanya sekarat selama beberapa minggu belaka, seperti dugaan semula.

Lega?

Ternyata malah membuat otak ugal-ugalan saya kambuh menciptakan skenario drama baru. Kalau proses pembunuhan terhadap sel kankernya saja berlangsung sampai selama itu, bagaimana nasib sel normal? Padahal kita tahu, sinar radiasi memicu sel normal bermutasi.

Saya memang sedikit punya masalah dengan otak yang kadang kebablasan kreatifnya dalam menciptakan skenario drama. Repotnya, kalau skenario itu saya abaikan, di belakang hari kadang beneran terjadi.

Seperti ketika saya pertama kali melihat rangka atap baja ringan, otak saya langsung melihat potensi tukang atap mati kesetrum seandainya ada kabel terkelupas nyenggol rangka. Merasa kemungkinan itu hanya drama rekayasa otak, saya abaikan dan tidak memberi saran pemilik rumah untuk memasang ELCB sebagai pengaman. Beberapa bulan kemudian beneran terjadi, ada kucing mati kesetrum, dan orang yang disuruh mengambil bangkainya nyaris ikut kesetrum.

(#Bagi yang belum tahu, ELCB berfungsi sebagai proteksi apabila terjadi kebocoran arus listrik pada peralatan listrik, atau ada yang kesetrum#)

Terlalu asyik ngulik internet membuat saya telat tidur. Besoknya bangun kesiangan dengan sekujur badan pegal berat. Gampang ditebak, trigliserida saya pasti njeplak tinggi. Sejak Yuni masuk rumah-sakit menu saya praktis dominan karbo dan gula. Anak sibuk ngurus emaknya. Tidak ada "satpam diet," membuat saya cenderung makan seadanya, asal enak di mulut.

"Harus selalu diawasi gitu? Nggak bisa mikir sendiri kalau istrimu sedang butuh kamu?" Gembul, teman imajiner saya, muncul lagi, langsung nyap-nyap. "Kalau langsung mati, tinggal sorong ke kuburan. Lah kalau kejet-kejet dulu di ICU, siapa yang ngopeni kamu? Punya duit buat bayar?"

Indomie rebus bakal sarapan pagi bersama kopi anget yang sudah siap di meja terpaksa dibuang.

Terus sarapan apa?

Nah, kan? Makanan yang dijajakan di luar semuanya mengandung karbo.

Di meja ada sisa alpukat dari jaman batu, masih bisa dimakan. Tapi kalau tanpa gula... hiyeeeekkkkk...

Akhirnya saya sarapan kentang iris goreng. Karbo juga sih, tapi masa nggak sarapan?

Bagi saya, kenyang identik dengan otak waras. Setelah membuat perjanjian dengan otak untuk tidak gentayangan seenak udel, saya kembali membaca penjelasan mengenai radiasi.

Efek samping masih membuat saya was-was, tapi nalar saya mulai bisa mengerti bahwa saya harus memilih terapi yang memberi manfaat maksimum sekalipun ada risiko besar bersamanya, ketimbang memilih risiko kecil tapi tidak bisa diharapkan manfaatnya. Saya berhadapan dengan kanker yang tidak kenal kompromi.

Sekarang saya mulai yakin, keputusan tetap lanjut radiasi bukan sekadar untung-untungan belaka. Selebihnya tinggal berdoa, semoga hasilnya baik, tanpa ada masalah di kemudian hari.

Saya tahu, keputusan ini tidak menjamin akhir yang mulus. Tapi hidup memang tidak pernah bisa ditebak. Kita hanya bisa berusaha semampu kita, mencari tahu sebanyak mungkin, lalu memilih langkah yang paling masuk akal—meskipun tetap dengan jantung deg-degan.

Kadang saya membayangkan, hidup ini seperti jalan malam di kampung yang sepi. Lampu depan motor cuma bisa menerangi beberapa meter ke depan. Tapi, meski tidak bisa melihat ujung jalan, kita tetap melaju pelan-pelan, percaya bahwa sepanjang tetap di jalur, kita akan sampai tujuan.

Dan kalaupun nanti di ujung jalan itu ada yang tidak sesuai harapan, setidaknya saya tahu bahwa saya sudah mencoba berpikir, berdoa, dan berjuang.

Saya tidak ingin menyesal hanya karena membiarkan rasa takut mengatur keputusan. Karena kalau ada satu hal yang saya pelajari dari malam-malam panjang bersama internet dan kopi manis: pengetahuan bisa menakutkan, tapi ketidaktahuan seringkali jauh lebih kejam.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL


08 Desember 2022

Selingan Yang Meresahkan

 %: Kenapa kamu tetap tidak percaya pada pengobatan alternatif yang jelas lebih aman?

@: Aku mendapat lebih dari 30 saran. Semua haqul yakin metode yang dia sarankan manjur dan aman, tapi hanya berdasar kesaksian orang yang tidak jelas identitas aslinya. Terus aku kudu percaya yang mana? Kalau kemudian terjadi masalah, siapa yang tangung-jawab?

%: Mikirmu terlalu ruwet.

@: Ini menyangkut hari depan istriku, bukan sekedar reparasi motor, kalau tidak cocok bisa ganti bengkel seenak udel.

%: Nah, itu kamu tahu. Kenapa masih milih cara yang punya resiko tinggi dan banyak gagalnya?

@: Dari mana kamu tahu kalau alternatif yang kamu usulkan itu tidak pernah gagal. Hanya berdasar informasi dari video dengan durasi 2 jam, bagaimana kamu bisa yakin tidak ada resiko dan efek sampingnya?

%: Bu dhe ku sembuh!!!!

@: Kapan bu dhemu mulai sakit, kapan dinyatakan sembuh, dan oleh siapa? 

%: Juli 2019 dokter bilang bu dhe kena kanker payudara. Dua tahun terapi herbal, desember 2021 oleh dokternya dinyatakan sembuh.

@: Setelah dua tahun menghindari pengobatan medis, bu dhemu tiba-tiba mengunjungi dokternya kembali, diperiksa, lalu dinyatakan sembuh. Begitu? Kowe ngarang cerita.

%: Dikandhani ngeyel

@: Kowe sing ngeyel. Tidak paham kanker tapi berani memberi saran. Orang-orang yang ngerti kanker tidak ada yang berani ngomong seyakin kamu.

%: Itu karena biar kamu tetap ikut cara mereka.

@: Enggak juga. Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang beneran aktif pernah merawat penyandang kanker. Bukan macam kamu, sekedar punya kerabat sakit kanker, cuma nengok satu atau dua bulan sekali, tapi berani memberi kesaksian.

%: Aku sering ngantar bu dhe kemo.

#Tipikal orang bohong, selalu kepleset lidah. Katanya tanpa terapi medis, tapi keceplosan ngaku sering ngantar kemo. Hampir saya debat di situ, tapi kemudian saya sadar tidak ada gunanya.#

@: Oke, sekarang tolong kasih penjelasan tentang alternatifmu. Apa yang dilakukan terhadap kanker? Bagaimana caranya membedakan sel normal dengan sel kanker supaya tidak salah sasaran?

Sudah lebih dari 3 bulan berlalu,  pertanyaan itu tidak dijawab, dan dia tidak pernah WA lagi.

Saya senang menerima masukan dari teman-teman. Apapun itu, semua saya pelajari. Bahkan kadang saya diskusikan dengan teman-teman yang paham pengobatan, baik medis maupun non medis. Tapi, seandainya usulan kalian tidak saya tindak-lanjuti, janganlah merasa saya abaikan.

Ada banyak faktor yang harus saya pertimbangkan sebelum mengambil keputusan, termasuk seandainya terjadi masalah. Jangan sampai saya disalahkan oleh dokter yang ketiban repot di belakang gara-gara saya memilih metode hanya berdasar informasi singkat dari video Youtube dan kesaksian segelintir orang belaka.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL

07 Desember 2022

Keputusan Yang Membelah Hati

Setelah kata kolostomi resmi jadi bagian dari hidup saya,, bab selanjutnya ternyata lebih seru lagi — masuk ke dunia pengobatan alternatif.

Begitu kabar penyakit Yuni mulai terdengar ke lingkaran teman dan saudara, telepon saya jadi lebih sibuk daripada biasanya. Ada yang menelepon sambil setengah berbisik, “Jangan kemoterapi, nanti malah tambah parah.” Ada yang kirim video testimoni pasien yang sembuh total karena minum rebusan akar langka dari gunung (tapi selalu tidak disebut dengan jelas identitas gunungnya). Ada juga yang datang langsung, membawa plastik kresek berisi botol-botol cairan coklat pekat yang katanya “pahitnya luar biasa, tapi manjur.”

Saya tahu, mereka peduli. Mereka ingin Yuni sembuh. Tapi yang mereka tidak tahu adalah: semua perhatian itu, secara tak langsung, justru menambah beban mental saya.

Setiap menerima satu saran, saya harus menyaringnya, menelusuri kebenarannya, lalu membuat keputusan. Bagian paling sulitnya, menolak tanpa melukai perasaan.

Saya sudah mencoba segala cara penolakan halus:

“Wah, makasih ya… nanti saya pelajari dulu.”

“Kayaknya belum bisa campur pengobatan, takut bentrok.”

“Dokternya bilang sebaiknya jangan dulu…”

Tapi tetap saja, ada satu-dua yang tersinggung. Bahkan ada yang berkata dengan nada tinggi,“Kalau nggak percaya sama saya, ya sudah. Nggak usah minta pendapat saya lagi.”

Padahal saya tidak pernah minta ke dia. Tapi ya sudahlah.

Di titik itulah saya belajar sesuatu yang penting: niat baik tidak selalu datang dalam kemasan yang mudah ditelan. Ada yang dibungkus ketulusan, ada juga yang terselip keinginan untuk "didengar dan diikuti."

Saya harus mengambil keputusan yang cukup menyakitkan. Saya tolak semua ramuan dan saran alternatif, bukan karena  merasa tahu segalanya, tapi karena saya sudah memilih untuk percaya pada jalan medis yang kami tempuh bersama dokter. Dan percaya itu penting, supaya langkah kami tidak selalu goyah di tengah jalan.

Yuni sendiri tidak pernah memaksa. Dia tahu saya jungkir balik mencari yang terbaik. Itulah yang akhirnya jadi pedoman saya, bukan mana yang lebih hebat, tapi mana yang lebih bisa kami jalani dengan penuh keyakinan.

Saya tidak bisa memaksakan diri untuk menyenangkan semua orang. Di saat seperti ini, saya harus belajar memilah, siapa yang bisa diajak jalan bareng, dan siapa yang lebih baik diam-diam dilepaskan.

Hidup ini tidak butuh terlalu banyak orang yang memberi pendapat. 

Saya tidak menyangka, keputusan yang bersifat pribadi dan saya ambil demi kenyamanan istri, justru bisa menimbulkan beban batin baru.

Ternyata, memilih jalan sendiri pun ada harganya.