12 Agustus 2026

Ada "selang" di Ginjal Istriku

 

Sambil nunggu saya mengumpulkan catatan terapi kanker Kolorektal yang terselip, sekarang lompat dulu ke terapi paling akhir yang dijalani istri saya sejak Februari 2026.

Senin malam, 10 Agustus 2026, selepas magrib, istri saya menjalani pelepasan stent yang sudah terpasang sejak 19 Mei lalu.

Saya sempat sedikit senewen. Saat tindakan medis Mei lalu, ada sedikit kejutan dari ruang operasi. Saya sedang liyer-liyer sambil mendengarkan musik melalui headphone di ruang tunggu, tiba-tiba saya dipanggil masuk.

Kaget, saya cuma bisa bengong.

Barangkali karena tidak sabaran, nyawa saya duluan beranjak mengikuti perawat. Saya buru-buru melepas headphone dan masuk.

Setiba di dalam saya sempat limbung. Phobia jarum mendadak kambuh. Saya berusaha keras tidak jatuh. Selain biar tidak membuat kekacauan, saya juga harus berlagak tegar di hadapan istri yang saat itu sedang bicara dengan dokter. Jadi, meskipun lutut terasa gemeteran, wajah tetap dibuat seolah-olah semuanya terkendali.

Sambil menunjukkan rekaman di layar monitor, dokter memberitahu, stent pertama yang terpasang sejak 8 Februari ternyata masih harus diganti. Saluran kemih dari ginjal kanan masih tersumbat.

Saya langsung setuju. Selain memang tidak ada pilihan lain, saya ingin cepat-cepat keluar, supaya tidak keburu ambruk. Masalahnya  bukan lagi sekedar phobia jarum. Rekening bank saya nyaris blong. Setelah dikurangi DP operasi, saldonya tinggal beberapa juta. Bagaimana kalau nanti nambahnya banyak?

Seandainya ada yang tanya, kenapa enggak pakai BPJS?

Sebenarnya pengin, tapi pengalama menghadapi penyakit penyerta dan efek samping yang beberapa kali muncul tanpa permisi selama setahun istri saya menjalani terapi kanker, membuat saya terpaksa memilih mandiri. Banyak keputusan harus diambil cepat. Kadang tanpa ada  kesempatan untuk mikir.

Bukan sok berduit. Saat sedang menghadapi keadaan darurat medis, saya tidak ingin bentrok dengan ketentuan administrasi BPJS. 

Meskipun hasil BNO (Blass Nier Overzicht) tanggal 3 Agustus menyiratkan kondisi baik, dan dokter juga sudah tegas mengatakan stent yang tinggal sebelah bisa dicopot ( yang sebelah kiri copot sendiri 3 hari setelah pemasangan ke dua ), otak saya tetap belum bisa benar-benar tenang.

“Jadi kamu capek?”

Saya jelalatan. Suara itu terdengar sangat jelas, tapi sudah pasti tidak diucapkan oleh orang-orang yang ada di ruang tunggu.

“Tidak, tidak, tidak!” Suara saya nyaris terucap.

Dalam hati saya minta maaf kepada Tuhan, kepada alam semesta, dan kepada istri saya yang sedang terbaring di dalam. Saya tidak capek. Saya justru berterimakasih mampu berjuang sampai sejauh ini.

Semua yang terjadi bukan bencana, bukan hukuman, juga bukan nasib sial, melainkan konsekuensi dari pilihan di masa lalu. Ini bukan kalimat basa-basi dari orang yang patah arang lalu mencoba sok bijak. Senyatanya memang begitu yang saya rasakan. 

Semua bermula pada awal Januari. Saat saya terlanjur janjian konsultasi pajak, istri saya memberitahu, bagian pinggang sudah beberapa hari terasa pegal. Dia minta ijin ke dokter tanpa nunggu saya.

Sekitar jam 10, anak yang menemani ibunya ke klinik mengirim foto hasil tes urine. Ada indikasi infeksi.

Entah kenapa, otak saya langsung mengaitkan hasil tes urin yang belum dikonsultasikan ke dokter itu dengan infeksi dan penyumbatan saluran kemih yang dialami istri saya bulan Oktober 2023, sampai harus menjalani operasi.

Ketika tahu istri saya ternyata periksa ke dokter umum di klinik lain, bukan di rumah sakit yang punya rekam medis mengenai riwayat kesehatannya, saya langsung minta mereka segera menuju rumah sakit untuk konsultasi ke spesialis urologi.

Selama perjalanan dari kantor pajak menuju rumah sakit, yang sebenarnya dekat, tapi jalurnya mutar jauh, berulang kali otak saya nebak-nebak kemungkinan terjadi infeksi sistemik.

“Ini bukan seperti dulu. Kemungkinan sudah sampai ke ginjal.”

Saya tidak punya latar belakang pendidikan medis, tapi sejak istri saya didiagnosa kanker, saya banyak belajar tentang penyakit, terapi dan efek samping pengobatannya, membuat otak saya sedikit sok tahu.

Ketika urolog menjelaskan hasil cek urin dari klinik, mulut saya tanpa permisi langsung bertanya, “Apakah ada kemungkinan infeksi sistemik?”

Dokter sempat kaget, tapi kemudian menyatakan bahwa dugaan itu memang perlu dipertimbangkan. Untuk memastikan kondisi sebenarnya, istri saya diminta menjalani USG.

Hasil USG membuat saya stres. Kedua saluran dari ginjal mengalami infeksi. Yang kanan tersumbat, menyebabkan ginjal kanan mengalami radang.  Sistem tubuh saya langsung kocar kacir. Jadwal BAB setiap pagi macet total. Tidur malam tidak pernah nyenyak. Saya berulangkali terjaga dengan otak riuh dengan berbagai skenario.

Lucunya, setelah ketemu dokter, dan mendengar diagnosanya sama persis dengan dugaan saya sebelumnya, otak malah langsung tenang. Bahkan sebelum dokter mengatakan, otak saya sudah duluan nebak bakal dipasang stent.  

Sejak membaca hasil USG saya langsung ngobrak Google, mencari tahu kemungkinan tindakan yang bakal dilakukan dokter. Otak saya tidak yakin kondisi istri bisa selesai hanya dengan obat saja.

Google selalu punya jawaban, meskipun kadang terlalu terbuka ketika menjelaskan tentang kemungkinan buruknya.

Diantara kegelapan malam yang gerah di ruang tamu, tempat saya biasa mojok ketika otak sedang rame, pikiran saya melayang jauh ke masa ketika saya sering diajak offroad oleh teman. Aturan utama yang selalu saya ingat, “Apapun yang terjadi, jangan pernah mengeluh!”. Sambat selain tidak menyelesaikan masalah, hanya akan menambah buruk keadaan.

Tidak ada gunanya berdiri di tengah hutan sambil berteriak, "Kenapa jalannya begini?"

Jalannya memang begitu, yang harus disesuaikan adalah cara kita menghadapinya.

 

“Sudah selesai pak!” Suara perawat memecah lamunan.

Di hadapan saya dua perawat berdiri di samping tempat tidur. Istri saya terbaring dengan mata terpejam.

Saya buru-buru berkemas, lalu berjalan mengikuti mereka menuju kamar.

“Kenapa masih tidur?” Otak saya mulai bertingkah lagi.

Dua kali waktu stent dipasang, istri saya keluar ruang operasi sudah dalam keadaan sadar. Kalau kali ini cuma nyopot, kenapa masih tidur?

Di kamar, setelah menyerahkan kantong plastik berisi stent yang dicopot, perawat menjelaskan kondisi istri saya. Tidak ada masalah. Atas pertimbangan tertentu kali ini istri saya dibius total. Diperkirakan baru akan sadar penuh sekitar dua jam kemudian.

Kalau makan malam sudah diantar, boleh langsung makan.

Lega.

Masalahnya, tubuh saya punya cara sendiri untuk menikmatinya: Saya mendadak demam.

Hampir dua jam saya duduk meringkuk di kursi. Saya tahu tidak sedang sakit. Demam itu hanya pelepasan ketegangan yang tertahan sejak pagi. Begitu keadaan aman, tubuh seolah berkata, “Sekarang giliranku!”

Beruntung, sesaat sebelum istri saya beneran sadar, demamnya sudah mulai berkurang.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL

Tidak ada komentar: