Sambil nunggu saya mengumpulkan catatan terapi kanker
Kolorektal yang terselip, sekarang lompat dulu ke terapi paling akhir yang
dijalani istri saya sejak Februari 2026.
Senin malam, 10 Agustus 2026, selepas magrib, istri saya
menjalani pelepasan stent yang sudah terpasang sejak 19 Mei lalu.
Saya sempat sedikit senewen. Saat tindakan medis Mei lalu,
ada sedikit kejutan dari ruang operasi. Saya sedang liyer-liyer sambil
mendengarkan musik melalui headphone di ruang tunggu, tiba-tiba saya dipanggil
masuk.
Kaget, saya cuma bisa bengong.
Barangkali karena tidak sabaran, nyawa saya duluan beranjak
mengikuti perawat. Saya buru-buru melepas headphone dan masuk.
Setiba di dalam saya sempat limbung. Phobia jarum mendadak
kambuh. Saya berusaha keras tidak jatuh. Selain biar tidak membuat kekacauan,
saya juga harus berlagak tegar di hadapan istri yang saat itu sedang bicara
dengan dokter. Jadi, meskipun lutut terasa gemeteran, wajah tetap dibuat
seolah-olah semuanya terkendali.
Sambil menunjukkan rekaman di layar monitor, dokter
memberitahu, stent pertama yang terpasang sejak 8 Februari ternyata masih harus
diganti. Saluran kemih dari ginjal kanan masih tersumbat.
Saya langsung setuju. Selain memang tidak ada pilihan lain,
saya ingin cepat-cepat keluar, supaya tidak keburu ambruk. Masalahnya bukan lagi sekedar phobia jarum. Rekening bank
saya nyaris blong. Setelah dikurangi DP operasi, saldonya tinggal beberapa
juta. Bagaimana kalau nanti nambahnya banyak?
Seandainya ada yang tanya, kenapa enggak pakai BPJS?
Sebenarnya pengin, tapi pengalama menghadapi penyakit
penyerta dan efek samping yang beberapa kali muncul tanpa permisi selama setahun
istri saya menjalani terapi kanker, membuat saya terpaksa memilih mandiri. Banyak
keputusan harus diambil cepat. Kadang tanpa ada kesempatan untuk mikir.
Bukan sok berduit. Saat sedang menghadapi keadaan darurat
medis, saya tidak ingin bentrok dengan ketentuan administrasi BPJS.
Meskipun hasil BNO (Blass Nier Overzicht) tanggal 3 Agustus
menyiratkan kondisi baik, dan dokter juga sudah tegas mengatakan stent yang
tinggal sebelah bisa dicopot ( yang sebelah kiri copot sendiri 3 hari setelah pemasangan
ke dua ), otak saya tetap belum bisa benar-benar tenang.
“Jadi kamu capek?”
Saya jelalatan. Suara itu terdengar sangat jelas, tapi sudah
pasti tidak diucapkan oleh orang-orang yang ada di ruang tunggu.
“Tidak, tidak, tidak!” Suara saya nyaris terucap.
Dalam hati saya minta maaf kepada Tuhan, kepada alam
semesta, dan kepada istri saya yang sedang terbaring di dalam. Saya tidak
capek. Saya justru berterimakasih mampu berjuang sampai sejauh ini.
Semua yang terjadi bukan bencana, bukan hukuman, juga bukan
nasib sial, melainkan konsekuensi dari pilihan di masa lalu. Ini bukan kalimat basa-basi
dari orang yang patah arang lalu mencoba sok bijak. Senyatanya memang begitu
yang saya rasakan.
Semua bermula pada awal Januari. Saat saya terlanjur janjian
konsultasi pajak, istri saya memberitahu, bagian pinggang sudah beberapa hari
terasa pegal. Dia minta ijin ke dokter tanpa nunggu saya.
Sekitar jam 10, anak yang menemani ibunya ke klinik mengirim
foto hasil tes urine. Ada indikasi infeksi.
Entah kenapa, otak saya langsung mengaitkan hasil tes urin
yang belum dikonsultasikan ke dokter itu dengan infeksi dan penyumbatan saluran
kemih yang dialami istri saya bulan Oktober 2023, sampai harus menjalani
operasi.
Ketika tahu istri saya ternyata periksa ke dokter umum di
klinik lain, bukan di rumah sakit yang punya rekam medis mengenai riwayat
kesehatannya, saya langsung minta mereka segera menuju rumah sakit untuk
konsultasi ke spesialis urologi.
Selama perjalanan dari kantor pajak menuju rumah sakit, yang
sebenarnya dekat, tapi jalurnya mutar jauh, berulang kali otak saya nebak-nebak
kemungkinan terjadi infeksi sistemik.
“Ini bukan seperti dulu. Kemungkinan sudah sampai ke
ginjal.”
Saya tidak punya latar belakang pendidikan medis, tapi sejak
istri saya didiagnosa kanker, saya banyak belajar tentang penyakit, terapi dan
efek samping pengobatannya, membuat otak saya sedikit sok tahu.
Ketika urolog menjelaskan hasil cek urin dari klinik, mulut
saya tanpa permisi langsung bertanya, “Apakah ada kemungkinan infeksi
sistemik?”
Dokter sempat kaget, tapi kemudian menyatakan bahwa dugaan
itu memang perlu dipertimbangkan. Untuk memastikan kondisi sebenarnya, istri
saya diminta menjalani USG.
Hasil USG membuat saya stres. Kedua saluran dari ginjal
mengalami infeksi. Yang kanan tersumbat, menyebabkan ginjal kanan mengalami radang. Sistem tubuh saya langsung kocar kacir.
Jadwal BAB setiap pagi macet total. Tidur malam tidak pernah nyenyak. Saya
berulangkali terjaga dengan otak riuh dengan berbagai skenario.
Lucunya, setelah ketemu dokter, dan mendengar diagnosanya sama
persis dengan dugaan saya sebelumnya, otak malah langsung tenang. Bahkan
sebelum dokter mengatakan, otak saya sudah duluan nebak bakal dipasang stent.
Sejak membaca hasil USG saya langsung ngobrak Google,
mencari tahu kemungkinan tindakan yang bakal dilakukan dokter. Otak saya tidak
yakin kondisi istri bisa selesai hanya dengan obat saja.
Google selalu punya jawaban, meskipun kadang terlalu terbuka
ketika menjelaskan tentang kemungkinan buruknya.
Diantara kegelapan malam yang gerah di ruang tamu, tempat
saya biasa mojok ketika otak sedang rame, pikiran saya melayang jauh ke masa
ketika saya sering diajak offroad oleh teman. Aturan utama yang selalu saya
ingat, “Apapun yang terjadi, jangan pernah mengeluh!”. Sambat selain tidak
menyelesaikan masalah, hanya akan menambah buruk keadaan.
Tidak ada gunanya berdiri di tengah hutan sambil berteriak,
"Kenapa jalannya begini?"
Jalannya memang begitu, yang harus disesuaikan adalah cara
kita menghadapinya.
“Sudah selesai pak!” Suara perawat memecah lamunan.
Di hadapan saya dua perawat berdiri di samping tempat tidur.
Istri saya terbaring dengan mata terpejam.
Saya buru-buru berkemas, lalu berjalan mengikuti mereka
menuju kamar.
“Kenapa masih tidur?” Otak saya mulai bertingkah lagi.
Dua kali waktu stent dipasang, istri saya keluar ruang
operasi sudah dalam keadaan sadar. Kalau kali ini cuma nyopot, kenapa masih
tidur?
Di kamar, setelah menyerahkan kantong plastik berisi stent
yang dicopot, perawat menjelaskan kondisi istri saya. Tidak ada masalah. Atas
pertimbangan tertentu kali ini istri saya dibius total. Diperkirakan baru akan
sadar penuh sekitar dua jam kemudian.
Kalau makan malam sudah diantar, boleh langsung makan.
Lega.
Masalahnya, tubuh saya punya cara sendiri untuk
menikmatinya: Saya mendadak demam.
Hampir dua jam saya duduk meringkuk di kursi. Saya tahu
tidak sedang sakit. Demam itu hanya pelepasan ketegangan yang tertahan sejak
pagi. Begitu keadaan aman, tubuh seolah berkata, “Sekarang giliranku!”
Beruntung, sesaat sebelum istri saya beneran sadar, demamnya
sudah mulai berkurang.
Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri KANKER KOLOREKTAL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar