Tampilkan postingan dengan label Jejak Waktu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak Waktu. Tampilkan semua postingan

08 Oktober 2025

Menemukan Diri di Kalitalang



closeup puncak Merapi

Ketika biaya rumah sakit sudah lebih dari tiga ratus juta sementara operasi kankernya belum bisa dipastikan kapan akan dilaksanakan, mental saya sempat ambyar. Perjalanan masih jauh, belum ketahuan di mana akan berakhir. Bahkan setelah Yuni pindah ke kelas dua, tagihan rumah-sakit tetap melaju lebih cepat ketimbang jaman taksi argo kuda.

Saya berhitung, memutar akal, mencoba menenangkan diri — tapi tetap saja, dada ini seperti disesaki batu besar yang tak tahu harus didorong ke mana.

Ambyarnya mental itu terlihat jelas ketika saya malam-malam berani main ke Kalitalang – tempat wisata yang hanya berjarak 5 km dari puncak Merapi. Indah di kala siang, tapi di malam hari, untuk penakut macam saya, selain gelap dan sunyi, juga mencekam.

Malam itu, tanpa ada rasa takut bakal ketemu setan, di hadapan Merapi yang terlihat samar di keremangan malam, saya sambat. Bukan pada gunung, karena saya masih sadar, gunung tidak akan menjawab. Juga bukan pada Tuhan, karena saya tahu, Tuhan pasti menolong. Saya sambat pada diri sendiri — untuk sesuatu yang saya pun tidak tahu.

Tidak ada lagi angka di rekening, tidak ada lagi rencana besar, tidak ada lagi rasa “harus kuat” yang saya paksakan. Yang tersisa hanyalah segala kelemahan dan rasa kuwatir yang berlebihan pada seseorang yang sedang berjuang di rumah sakit. Saya duduk lama, diam, mendengarkan angin, dan membiarkan pikiran berjalan ke mana pun ia mau.

Entah berapa kali saya tertidur, bangun, lalu terlelap kembali dalam posisi duduk nyender pohon. Di antara desir angin dan dingin yang menggigit, saya merasa seperti ditarik kembali ke titik nol. Tapi, justru di situlah kekuatan muncul kembali. Bukan dari luar, bukan dari kata-kata orang, melainkan dari diam. Dari pasrah yang bukan menyerah. Dari penerimaan bahwa saya tidak bisa mengendalikan segalanya, tapi saya masih bisa memilih untuk tetap ada — menemani, berdoa, menjaga, dan mencintai.

Pagi menjelang. Semburat merah muda di langit timur menyingkap puncak Merapi yang mulai terang. Diantara suasana horor yang mulai terasa, saya tersenyum kecil. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena saya tahu, saya sudah kembali utuh.

Entah bagaimana, udara dingin seperti menampar lembut kesadaran yang sempat tumpul. Kicau burung yang mulai terdengar samar di kejauhan, desau angin, dan semburat cahaya di ufuk timur seperti berkata, “Masih ada hari baru. Masih ada yang bisa kamu lakukan.”

Penutup:

Sejak malam di Kalitalang itu, saya belajar bahwa kekuatan tidak selalu datang dalam bentuk keberanian, tapi kadang dalam bentuk kelelahan yang diterima dengan ikhlas. Bahwa doa tak selalu harus diucapkan dengan kata-kata, kadang cukup dengan diam yang tulus, di antara dingin gunung dan detak hati yang pelan. 


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri JEJAK WAKTU


06 Desember 2024

Kembali Melukis dengan Hati

Kata orang, hidup hanya sekali. Tapi bagi saya, hidup bukanlah satu garis lurus yang dilewati sekali dan selesai. Hidup adalah lembaran-lembaran yang berganti setiap hari. Kalau umur saya sekarang 62, artinya saya sudah hidup lebih dari dari 22.600 kali. Sebanyak itu pula saya menggoreskan warna di atas kanvas kehidupan.

Namun, jika saya menengok kembali lukisan-lukisan itu, hasilnya tidak selalu indah. Diantara goresan-goresan yang membanggakan, kenangan manis, pencapaian kecil, momen-momen yang membuat hati berbinar, sebagian tertutup coreng-moreng warna gelap: kecemasan, kebiasaan buruk, keputusan yang terburu-buru, dan rutinitas yang hampa makna.

Sempat sedikit kecewa, tapi kemudian justru bersyukur, karena saya masih bisa melihat dengan jujur betapa berantakannya lukisan hidup saya saat ini. Bersyukur karena tanpa mencari kambing hitam, tanpa ngeles, tanpa menyalahkan masa lalu atau orang lain, hati saya mau diajak kompromi dan terbuka untuk memperbaikinya.

Saya memutuskan untuk kembali melukis. Bukan dengan ambisi menciptakan mahakarya, tapi dengan tekad sederhana, membuat goresan yang lebih tenang, lebih penuh perasaan, dan lebih bermakna. Karena saya tahu, kanvas kehidupan ini suatu hari nanti akan digulung untuk selamanya. Bila saat itu tiba, saya ingin mempersembahkan lukisan yang indah kepada alam semesta.

Setelah bertahun-tahun mencoba memperbaiki hidup dengan semangat menggebu, ritual rumit, atau mengejar solusi instan, saya akhirnya sadar, perubahan yang tahan lama tidak dimulai dari tindakan besar. Dia lahir dari hal-hal kecil, yang dilakukan dengan kesadaran dan sepenuh hati.

Saya boleh berangan-angan menciptakan karya terindah di sisa waktu ini. Tidak ada yang melarang, tidak ada yang membatasi—kecuali diri saya sendiri. Tapi, karena tidak ada buku panduan cara memulainya, saya mencoba mendengarkan suara hati. Sungguh-sungguh membuka telinga batin, agar tak ada lagi sinyal yang terlewat.

Hasilnya, setiap pagi, sebelum alarm jam setengah empat berbunyi, saya sudah terjaga. Bukan sekedar melek, tapi badan sudah benar-benar bangun. Semua “nyawa” yang semalam kelayaban sudah ngumpul.

Setelah berterimakasih, karena masih diberi kesempatan bernafas, saya mengawali hari dengan aktifitas rutin sederhana, beres-beres rumah. Lepas subuh, saya berangkat menuju lapangan. Jalan kaki tanpa alas di rumput yang masih basah oleh embun.

Awalnya saya berjalan cepat, mengikuti lagu dengan birama 4/4 dari headphone. Sepuluh putaran selesai dalam waktu setengah jam. Cukup membuat badan hangat dan otot-otot tidak kaku.

Tapi suatu pagi, saat lagu berganti dan langkah saya melambat, saya merasakan sensasi yang berbeda. Sentuhan rumput yang basah terasa lebih dingin di kaki, tapi menyegarkan, dan membuat tubuh terasa lebih ringan.

Saya mulai menikmatinya. Saya ganti lagu berirama riang dengan musik instrumentalia yang lebut diselingi kicau burung dan gemericik air. Saya berjalan lebih lambat, santai, dan tidak lagi menetapkan target aerobik. Tidak peduli ketika ada yang menganggap saya kurang. Tidak pula perduli durasinya menjadi lebih lama dua kali lipat. Satu-satunya yang masih saya perhatikan hanya detak jantung, sesuai pesan dokter, tidak boleh lebih dari 130 bpm.

Ternyata, menapakkan kaki atau jalan di tanah tanpa alas punya nama keren, Grounding. Menghubungkan tubuh secara langsung dengan medan elektromagnetik bumi. Menurut laman Alodokter, Grounding punya banyak manfaat untuk kesehatan. Diantaranya, meningkatkan imun tubuh, mengurangi peradangan dan menurunkan tekanan darah.

Saya tidak punya alasan untuk tidak percaya, tapi bagi saya, sensasi yang saya rasakan selama berjalan, lebih penting. Manfaat yang lain, seandainya terjadi, anggap saja bonus.

Barangkali, santai dan tanpa target justru membuat tubuh saya menjadi selaras dengan bumi, membuat pegel-pegel berkurang lumayan signifikan. Sementara dalam beberapa kali pengukuran pada kesempatan berbeda, tekanan darah saya anteng di 90/130 – dari biasanya di kisaran 95/160. Nafas juga menjadi lebih panjang.

Sebelumnya, otak saya mirip monyet liar. Lompat sana-sini, berpindah dari satu kecemasan ke kecemasan lain. Sekarang lebih tenang. Sapuan kuas di kanvas menorehkan warna yang cerah. Meskipun masih abstrak, tapi goresannya mulai teratur.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi kesempatan yang masih tersisa. Tapi saya tidak ingin mengisi kanvas kehidupan saya dengan coretan gelap lagi. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu spektakuler.  Saya ingin setiap hari jadi goresan yang lebih tenang, lebih penuh rasa, dan lebih bermakna.


LABEL: JEJAK WAKTU

20 November 2024

Satpam Otak dan Belenggu yang Saya Buat Sendiri


Sudah lebih dari setahun sejak saya menyadari bahwa hidup saya justru makin morat-marit setelah saya berusaha menata diri. Sepertinya, dugaan semula bahwa kondisi yang semakin berat itu hanya merupakan proses menuju kebaikan, tidak lebih dari pepesan kosong. Realitanya, semakin ke sini, saya malah merasa semakin ke sono. Semakin jauh dari harapan.

Pertanyaan “Sampai kapan begini terus?” makin sering menggema di kepala. Nalar saya mulai tidak sabar. Beberapa kali mencoba mengambil alih kendali, memaksa saya menyerah dan kembali ke masa lalu—di mana semuanya serba pas-pasan, tapi terasa lebih nyaman. Setidaknya bukan seperti sekarang, finansial tambah jeblog, kesehatan mundur, fisik tambah rapuh, dan berbagai masalah tidak lagi datang bergantian, melainkan rame-rame, seakan sudah saling janjian sebelumnya.

Tapi, selalu saja ada bisikan kecil yang muncul dan berharap, “Jangan nyerah dulu. Mungkin caramu yang keliru. Coba kamu telusuri ulang perjalananmu.”

Di sini saya baru sadar betapa sulitnya menjalankan nasihat para motivator. Ucapannya manis, enak di telinga, tapi ketika dilakoni ternyata hanya muter-muter tanpa hasil. Membuat mental makin lelah.

Perasaan, semua sudah saya kerjakan sesuai petunjuk yang saya baca di buku-buku motivasi dan video-video pengembangan diri. Saya juga paham bahwa afirmasi bukan sekedar kata-kata. Bahwa alam semesta tidak merespon niat, melainkan keselarasan. Bahwa doa harus disampaikan melalui hati, bukan sekedar diucapkan di mulut. Tapi kenapa usaha saya untuk maju malah seperti ditarik mundur?

Tiba-tiba, dalam satu momen yang tak terduga, seseorang yang sudah sangat lama tidak pernah ketemu, muncul begitu saja sambil memaki. "GUNAKAN OTAKMU!!!!". Padahal sepanjang saya kenal, beliau selalu bicara santun. Repotnya, bayangan itu muncul berulang.

Daripada bingung sendiri, saya anggap makian itu sebagai sinyal ajakan dari alam semesta untuk berkomunikasi.

Seperti biasa, ketika pikiran mulai lelah menghadapi teka-teki alam semsta, sisi diri saya yang ugal-ugalan mengambil alih kendali. “Gosah main tebak-tebakan. Diet nasiku cuma  empat sendok sekali makan. Jangan membuat aku lapar lagi!”

Entah kebetulan, atau memang alam semesta cederung merespon kelakuan ugal-ugalan, di otak saya laungsung muncul kalimat “Recticular Activating System”. Bukan hanya sejelas kristal, juga diikuti petunjuk, “Tanya mbah Gugel”.

Sekilas saja saya membaca penjelasan di Google, ingatan saya langsung mundur sekian puluh tahun, saat Ibu berusaha membantu saya bangkit dari keterpurukan mental, akibat terlalu lama dan terlalu sering dibully. 

Kata Ibu, saya tidak perlu dendam, saya harus belajar melihat segala sesuatu dari sisi yang baik, supaya “penjaga” otak saya tidak keliru memberi umpan kepada otak. Umpan yang berkonotasi buruk akan membuat otak berada dalam mekanisme bertahan, sementara yang baik akan membuat otak lebih kreatif.

Nasib baik hanya bisa terwujud ketika otak kreatif. Mekanisme bertahan akan membuat saya terblenggu.   

Dalam penjelasan di Google, Recticular …. Aaahhh, biar lidah saya tidak keseleo saat mengeja, saya tulis RAS saja. Menurut Gugel, RAS adalah jaringan saraf di batang otak, berfungsi menyaring informasi sensorik, sebelum informasinya diteruskan ke bagian otak yang lebih tinggi.

Ada satpam di gerbang otak, yang berperan sebagai tukang sensor. Segala sesuatu yang “dianggap tidak pantas”, dihalangi. Masalahnya, tukang sensor itu tidak bekerja berdasar pertimbangan moral antara baik dan buruk atau mempertimbangkan manfaat jangka panjang. Tukang sensor itu hanya meloloskan informasi yang membuat otak merasa nyaman.

Sepertinya RAS bekerja mirip algoritma YouTube, yang selalu menampilkan konten-konten yang biasa kita tonton sebelumnya, bukan yang seharusnya kita lihat. Kalau kita terbiasa nonton video drama Korea, jangan harap YouTube merekomendasikan video tutorial meditasi. Kalau selama bertahun-tahun saya terbiasa dengan pikiran penuh ragu, kecemasan, atau perasaan kurang layak, RAS di gerbang otak hanya akan meloloskan segala sesuatu yang memperkuat keraguan, dan mengabaikan tanda-tanda harapan.

Ketika saya mulai berubah, RAS panik. Dia anggap perubahan itu "tidak biasa", punya potensi "berbahaya". Akhirnya, secara diam-diam, RAS menarik saya kembali pada zona nyaman, tidak perduli seandainya zona itu, bagi nalar, justru mendatangkan banyak masalah, dan menyakitkan.

Sekarang saya mulai paham, belenggu yang selama ini menarik saya mundur bukan kelemahan moral, melainkan mekanisme pertahanan otak. Bukan karena saya tidak mampu berubah, tapi karena otak  belum diberi cukup alasan untuk percaya bahwa perubahan itu aman.

Otak tidak sedang berbuat jahat, melainkan hanya berusaha melindungi saya dari potensi bahaya. Caranya keliru, tapi niatnya tulus.

Supaya usaha saya memperbaiki nasib tidak mendapat penolakan dari otak, saya harus kompromi terlebih dahulu. Tapi, bagaimana bisa kompromi kalau di gerbang dicegat dan dihalangi, karena dianggap sebagai pemberontak yang punya niat buruk?

Tuhan selalu punya niat baik. Alam semesta, sebagai representasi Tuhan, juga bekerja berdasar niat baik. Tubuh manusia-termasuk RAS, merupakan bagian dari Alam Semesta, juga harus diperlakukan secara baik. Perlawanan atau melakukan aktifitas yang bisa dianggap melawan kebiasaan, akan membuahkan penolakan.

Maka saya harus melakukan pendekatan secara pelan-pelan, dan menggunakan sinyal baru. Saat bangun tidur tidak langsung bangkit dari kasur, tapi duduk sejenak. Mengganti afirmasi keras, “Saya pasti bisa” dengan kalimat “Saya membuka diri untuk berprestasi.”

Saya tahu, ini proses panjang, karena belenggu itu tidak dibentuk dalam sehari. Tapi sekarang saya tahu, belenggu itu bisa dilonggarkan. Satpam otak bisa diajak berunding, selama saya sabar, dan tidak berhenti mengetuk pintunya.


LABEL: JEJAK WAKTU

28 September 2023

Justru Menuai Kekacauan

Kehidupan, seberantakan apa pun kelihatannya, sebenarnya selalu punya pola. Mungkin tidak selalu logis, tidak selalu ideal, bahkan bisa jadi menyebalkan, Tapi tetap saja ada keteraturan tersembunyi di balik rutinitasnya.

Saat seseorang ingin memperbaiki hidup, pada dasarnya sedang berusaha mengubah pola itu. Di sini masalahnya bermula.

Mengubah pola hidup mirip seperti merombak bangunan tanpa memindahkan penghuninya. Ada suara gaduh, ada debu dan reruntuhan. Ada ruang-ruang yang tiba-tiba tidak bisa dipakai. Bahkan kadang membuat bingung, ini sedang diperbaiki atau justru dihancurkan?

Tubuh, pikiran, dan emosi kita sudah terlalu terbiasa dengan pola lama, tidak perduli meskipun sebenarnya pola itu punya potensi merusak. Saya tahu, bermalas-malasan, makan apapun asal enak di lidah, begadang sambil nonton video receh, bukan hidup ideal, tapi saya lakoni, karena terasa nyaman, dan sepertinya tidak terlalu buruk.

Saat saya mencoba disiplin, makan lebih sehat, bangun lebih pagi, berhenti menunda-nunda, atau sekadar berpikir positif—pola lama akan memprotes. Tidak dengan teriakan, tapi dengan bisikan-bisikan halus:
"Makan menu sehatnya mulai besok saja."
"Gagal sekali bukan berarti gagal selamanya, santai dulu."
"Hidup harus dinikmati, jangan terlalu keras pada diri sendiri."

Dulu saya membayangkan perubahan seperti naik tangga dengan langkah ringan tapi mantap dan terarah. Kenyataannya, bukan sekedar kesandung di setiap anak-tangga, melainkan nyungsep, tersungkur, bahkan terlempar mundur beberapa langkah. .

Perubahan ternyata datang bersama kekacauan. Seperti dapur yang makin berantakan saat sedang dibersihkan. Seperti kamar yang tampak lebih kacau saat sedang ditata ulang.

Seseorang pernah berkata,“Kekacauan bukan lawan dari keteraturan, melainkan rahim tempat keteraturan baru sedang dibentuk.”

Barangkali, kekacauan adalah suara dari keteraturan lama yang sedang diganti. Seperti ketika rumah direnovasi, memang harus berantakan dulu sebelum berubah menjadi lebih nyaman.

Di samping itu, setiap sistem yang diubah butuh waktu untuk beradaptasi. Pola baru tidak langsung stabil. Seperti tanaman yang baru dipindahkan, awalnya terlihat layu, rapuh, dan terlihat seperti akan mati. Tapi setelah cukup disiram, dirawat, dan diberi perhatian, akan tumbuh akar baru.

Hidup, saat sedang mengalami proses perubahan, persis seperti itu. Mestinya saya tidak perlu panik, tidak usah buru-buru menganggap kekacauan sebagai pertanda kegagalan. Selama terus tekun berusaha dan sabar, keseimbangan baru akan terbentuk. Mungkin tidak sempurna, tapi cukup stabil sebagai pijakan untuk langkah selanjutnya. Di situlah kita bisa bernapas lega dan berkata: “Akhirnya mulai terasa lebih baik.”

MASALAHNYA, saya melakukan perubahan karena ingin mendapatkan suasana yang lebih baik, sementara yang terjadi justru sebaliknya. Nalar saya bisa memahami bahwa proses sedang berlangsung, TAPI SAMPAI KAPAN?

Kalau realitanya saya justru menghadapi lebih banyak masalah, untuk apa berusaha berubah?

Mending kemarin. Meskipun rejeki hanya mengalir kecil seperti air PAM di musim kemarau, saya tidak pernah kekurangan. Meskipun setiap hari sekujur badan serasa habis digebugi orang sekampung, saya masih mampu beraktifitas lebih baik.

Setelah berusaha berubah, rejeki justru seret, badan berasa semakin remuk. Semakin sulit konsentrasi. Kambuh pikun. 

Jangan-jangan nanti aritmia dan vertigonya ikut muncul pula!!!

Lalu, di tengah semua keluhan itu, suara halus di kepala berbisik, “Kalau kamu tidak berusaha berubah, suatu saat kekacauan itu juga akan terjadi. Bukan karena kamu sengaja membongkarnya untuk diperbaiki, melainkan runtuh sendiri dimakan waktu. Niatmu untuk berubah mirip seperti tim gegana sengaja meledakkan bom secara terkendali, agar tidak meledak secara liar di waktu dan tempat yang tidak terduga.”

Pada akirnya hanya tersisa pilihan sederhana yang tidak mudah: Sengaja memicu kekacauan supaya terjadi sekarang, saat saya masih punya tenaga dan mampu mengendalikan diri menghadapi tekanan, atau membiarkan kelak suatu saat, entah kapan, meledak sendiri, ketika saya terlanjur uzur dan tidak lagi mampu berbuat apa-apa, selain menelan begitu saja semua deritanya dan, barangkali, sambil menyesal.

Sama-sama berat, tapi pilihan pertama masih membawa harapan baik.

Saya tidak tahu kapan hidup akan terasa lebih ringan. Tapi saya tahu satu hal: kekacauan ini bukan tanpa arah, melainkan bagian dari proses. Tanda bahwa saya sedang menyusun ulang hidup saya, meski kadang dengan tangan gemetar dan hati setengah yakin.

Tapi, selama saya masih punya alasan untuk mencoba lagi besok pagi, berarti saya belum kalah.


LABEL: JEJAK WAKTU

13 September 2023

Ternyata Tidak Gampang


Saya pernah membayangkan proses memperbaiki diri itu seperti naik sepeda di jalan datar. Meskipun harus mengayuh, asal konsisten, pasti sampai. Kenyataannya, jalan yang saya lewati ternyata menanjak lumayan terjal, berkerikil , licin, dan berangin kencang.

Di awal-awal, saya sempat merasa optimis. Bangun pagi, melakukan rutinitas sehat, bahkan menuliskan refleksi dengan semangat. Tapi begitu masuk minggu kedua, bukan semakin lancar dan baik, malah sebaliknya, terasa berantakan.

Masalah yang tadinya saya harap akan berkurang, justru datang bertubi-tubi. Belum selesai satu, sudah muncul dua. Bahkan hal-hal sepele pun mendadak terasa menjengkelkan. Rutinitas terganggu, fokus buyar, dan yang paling berat: semangat perlahan menipis. Godaan untuk menyerah, dan membiarkan hidup mengalir seadanya seperti semula, terasa semakin kuat. Mungkin jatah untuk saya dari Tuhan memang hanya segitu.

Yang membuat emangat makin loyo, perubahan yang saya harapkan tidak kunjung terjadi. Dari hari ke hari tetap begitu-begitu saja. Bahkan terasa lebih membosankan. Kesulitan tetap datang tanpa ampun. Bahkan cuaca pun seakan ikut-ikutan tidak bersahabat.

Tapi di antara semua kondisi yang semakin menekan batin itu, masih tersisa sedikit bara keyakinan bahwa segala kesulitan itu bukan hambatan, melainkan proses yang memang harus saya jalani. Sesuatu di kepala berulangkali berbisik mengingatkan, saya menetapkan target sendiri, maka saya harus mau menerima resikonya. Tidak ada jalan landai dan mulus menuju puncak.

Memperbaiki diri bukan perubahan drastis dalam waktu cepat. Bukan cerita tentang menjadi versi ideal dalam semalam, tapi memilih untuk terus mencoba, bahkan saat tidak ada yang mendukung, dan hasilnya belum ketahuan akapan akan terwujud.

Pada akhirnya saya harus menerima kenyataan, begitulah cara semesta bekerja. Tidak memberi hadiah instan, melainkan hanya memberi kesempatan pada siapapun untuk mewujudkan keinginan, selama mau berusaha. Alam semesta tidak memberi respon  pada niat atau kata-kata, tapi hanya memberi sesuai kemampuan seseorang meraih keinginannya.

Setiap niat baik selalu punya lawan tanding. Mau meditasi lima menit, tiba-tiba masuk pesan WA dari customer, minta supaya surat penawaran segera dikirim secepatnya. Sedang siap-siap nulis jurnal harian, notifikasi di HP mendadak rame. Niatnya tengok sebentar, ternyata sedang ada ribut-ribut politik yang membuat saya naik darah.

Dan yang paling ajaib, begitu saya berusaha bertahan tidak nyimpang dari target, masalah-masalah baru muncul bareng, keroyokan, macam orang rebutan bantuan sembako menjelang pilkada. Atap kamar mendadak bocor, kipas angin ngadat, hard disk tidak terbaca. Bahkan sandal saya jebol begitu saja, padahal sebelumnya terlihat baik baik saja.

Saya sempat bertanya-tanya, “Apakah ini pertanda saya salah menetapkan target?”. Bahkan pernah pula terpikir, jangan-jangan Tuhan tidak berkenan?

Tapi setelah beberapa minggu, dengan banyak momen nyaris menyerah, saya mulai paham: ternyata perubahan itu bukan urusan pamer hasil, tapi tentang mengelola kekacauan. Bukan sekedar kelihatan rajin dan bersemangat, tapi tetap mencoba meskipun hari ini gagal total.

Kadang berasa seperti mendaki gunung hanya modal sandal jepit, menghadapi medan yang licin dan berbatu. Lambat, tapi tetap naik.

Maka saya putuskan, saya tidak akan menyalahkan diri sendiri saat tergelincir. Tidak akan mundur hanya karena hasil belum kelihatan. Yang penting tidak berhenti. Karena memperbaiki diri, sejatinya bukan tentang menjadi sempurna. Tapi tentang tidak menyerah meskipun sering tergoda untuk rebahan sambil ngulik HP dan ngemil donat cokelat.


LABEL: JEJAK WAKTU

01 September 2023

Berdamai dengan Otak yang Tidak Ingin Berubah

 Dulu, semangat saya datang dalam kemasan instan. Cepat, panas, dan berkilat seperti promo diskon akhir pekan. Dua hari pertama terasa seperti terbang: bangun pagi tanpa alarm, latihan fisik tanpa mengeluh, mencatat refleksi harian dengan penuh kesadaran, bahkan sempat menghindari kopi demi "detoks mental". Semua kebiasaan sehat yang selama ini hanya saya baca di artikel motivasi atau lihat di kutipan Instagram orang-orang produktif, saya jalani dengan penuh gaya. Seolah-olah saya baru saja menemukan kunci kehidupan ideal.

Tapi, di hari ketiga, realitas datang seperti tagihan listrik yang lupa dibayar. Tiba-tiba saja muncul banyak pekerjaan. Email menumpuk, deadline yang tadinya jauh mendadak terasa menghimpit, dan tugas-tugas kecil yang sebenarnya bisa ditunda tiba-tiba terasa mendesak. Semua menyuarakan tuntutan harus segera diselesaikan. Padahal, kalau saya jujur, sebagian besar dari itu bukan urusan penting—hanya masuk akal bila digunakan sebagai alasan untuk ngeles.

Saya mulai menawar dengan diri sendiri: "Boleh skip hari ini. Besok mulai lagi. Nggak apa-apa,  sudah dua hari konsisten." Lalu, "sedikit" itu jadi dua hari, lalu tiga. Tahu-tahu, daftar kebiasaan sehat yang dulu saya susun dengan penuh semangat sudah tergantikan oleh kebiasaan lama: skip latihan, skip refleksi, skip sarapan sehat. Dan kembali, saya berdamai dengan mantra yang sudah terlalu sering saya dengar: "Besok saja."

Lucunya, meskipun saya tahu persis, yang sedang terjadi hanya akal-akalan supaya bisa kabur dari komitmen yang baru dua hari bersemi, tapi saya membiarkan otak saya mengambil peran sebagai  pengacara, membela kebiasaan lama. Menyusun argumen dengan sangat meyakinkan: "Kamu lelah. Kamu butuh istirahat. Disiplin itu penting, tapi kamu juga manusia." Dan terdakwanya—saya yang malas, yang ingin nyaman—dibebaskan dari semua tuduhan dengan vonis: "Tidak bersalah karena sedang sibuk."

Rencana yang tadinya terasa mulia, akhirnya kembali jadi sekadar wacana. Satu per satu, daftar aktivitas sehat itu bubar jalan, seperti rombongan demonstran tidak kebagian nasi bungkus.

Lalu, seperti biasa, saya merasa kecewa pada diri sendiri. Mengapa begitu gampang menyerah? Mengapa begitu sulit menjaga momentum? Saya mulai memaksa diri lebih keras: lebih keras bangun pagi, lebih keras menolak godaan, lebih keras menyalahkan diri saat gagal. Tapi semakin keras saya melawan, justru semakin cepat patah. Karena di balik semua itu, otak saya—dengan segala kreativitasnya—terus mencari dalih, membuat saya menerima alasan apa pun: "Hari ini ditunda dulu. Disiplinnya besok saja. Sesuap makanan berlemak tidak akan membunuhmu."

Ketika saya nyaris berhasil bertahan, otak saya menyodorkan salah satu kalimat motivasi versi dibegal, “Kegagalan adalah bagian dari perubahan. Gagal sekali bukan berarti kalah. Selagi kamu masih terus mau berusaha, suatu saat nanti pasti berhasil.”

Kalimatnya secara harfiah tidak salah. Bahkan terdengar bijak. Tapi niat semu yang tersembunyi di baliknya sangat menyesatkan. Karena di tangan saya, kalimat itu jadi alat pembenaran: "Oh, gagal itu wajar. Jadi, boleh gagal lagi besok, dan lusa, dan minggu depan..." Motivasi yang seharusnya mendorong, malah jadi pelampiasan untuk terus menunda.

Lalu, di tengah kelelahan batin itu, muncul suara lirih. Nyaris tidak terdengar. Seperti bisikan dari dalam gua yang gelap.
"Biarkan saja. Jangan dibantah. Konfrontasi dengan diri sendiri hanya akan membuat kamu semakin babak belur."

Saya terdiam. Waktu muda, saya sering berantem. Melawan orang lain, meskipun menang, badan tetap kebagian bonyok. Apalagi kalau berantemnya melawan diri sendiri Menang tetap bonyok, kalah, lebih berantakan lagi. Tidak ada pemenang sejati. Hanya kelelahan yang menang.

Tapi mengapa otak saya tidak mau diajak kerjasama untuk tujuan baik?

Suara berat, berwibawa dan penuh otoritas, menjawab, “Aku mengatur seluruh aktifitas dirimu. Aku yang menentukan.”

Menjelang saya membantah, suara halus kembali berbisik, “Jangan dilawan.”

“Terus piye?” saya bertanya, hampir putus asa.

"Kamu berhadapan dengan sistem tubuh yang sudah mapan," bisiknya pelan. "Kebiasaan lama bukan sekadar pilihan—ia punya jalur syaraf yang kuat, terbentuk dari ribuan kali pengulangan. Perubahan berarti membangun jalur baru yang penuh resiko. Otak cenderung menganggap resiko sebagai ancaman.”

Seseorang pernah memberi tahu, dalam kondisi tertentu, kita berhadapan dengan mekanisme bawaan dari otak yang dirancang untuk melindungi diri dari ancaman. Otak tidak peduli apakah kita ingin menjadi lebih sehat, lebih produktif, atau lebih bahagia. Segala hal baru dianggap berisiko, . Karena itu, otak cenderung mengarahkan kita kembali ke jalur lama: yang sudah dikenal, yang sudah teruji, dan terbukti memberi rasa aman.

Rasa aman memicu pelepasan dopamin. Hormon yang memberi rasa nyaman, puas, dan dorongan untuk mengulang. Maka, tanpa sadar, kita terus mengulang kebiasaan lama—meskipun merugikan.

Melawan otak dan dopamin sekaligus sama seperti mencoba naik sepeda sambil menyulut kembang api di atas kepala.

Suara halus kembali berbisik, “Otak adalah organ pengingat, bukan pendengar. Tidak memberi respon terhadap niat, tapi memberi respon terhadap kebiasaan dan kenyamanan. Itu sebabnya kamu dibiarkan berlama-lama melakukan aktifitas yang kamu suka, tapi selalu diusik dengan bosan, lelah atau ngantuk saat melakukan aktifitas yang sebaliknya.”

Ternyata, saya harus membuat otak suka terlebih dahulu. Persis seperti waktu saya goleran sambil ngulik ponsel dan ngemil donat cokelat. Karena otak tahu, saya suka, tanpa semangatpun aktifitas itu bisa bertahan lama. Sebaliknya, untuk berhenti, butuh semangat dan kemauan yang kuat.

Artinya, sebelum berharap otak mendukung perubahan, saya harus mengajaknya ngobrol. Menjelaskan pelan-pelan. Membujuk. Bukan memaksa.

Saya harus membangun jalur baru dengan cara yang lembut:
Satu langkah kecil. Satu pengulangan. Satu rasa nyaman yang dibangun perlahan.

Karena perubahan sejati bukan ledakan semangat yang cepat padam, melainkan proses membentuk kenyamanan baru, yang dulu terasa sulit, lama-lama terasa wajar. Yang dulu terasa seperti hukuman, perlahan menjadi bagian dari diri.

Sekarang, saya tidak lagi berharap bangun pagi dengan semangat. Saya hanya berusaha bangun lima menit lebih awal. Lalu duduk diam. Bernapas. Tidak harus meditasi, tidak harus produktif. Cukup duduk. Dan biarkan otak merasakan: Ini tidak berbahaya. Ini nyaman.

Karena pada akhirnya, bukan kemauan yang membentuk kebiasaan. Tapi kebiasaan yang membentuk kemauan. Dan bukan semangat yang membuat kita berubah. Tapi perubahan kecil yang terus diulang—yang akhirnya membangkitkan semangat itu sendiri.

Saya mulai belajar, ntuk berubah, saya tidak perlu melawan diri. Hanya perlu mengajak diri sendiri pergi jalan-jalan. Pelahan. Sambil bicara. Sambil tertawa. Sambil sesekali berhenti, minum teh, dan bilang: "Kita istirahat dulu. Tapi besok kita lanjut."

Karena perjalanan panjang dimulai bukan dengan lompatan, tapi dengan langkah kecil yang bersedia diulang. Tanpa perlu menang. Tanpa perlu sempurna. Cukup terus berjalan.

Perubahan bukan berarti menjadi orang lain. Melainkan tentang belajar mencintai diri yang sedang belajar. Termasuk otak yang selalu ingin nyaman. Termasuk hati yang sering kecewa. Termasuk saya, yang masih sering menyerah, tapi hari ini memilih untuk bangkit lagi.


LABEL: JEJAK WAKTU

17 Agustus 2023

Mulai Menanggapi Sinyal dari Dalam

Ada sebuah kebiasaan manusia yang luar biasa mematikan: kita terlalu pandai mengabaikan suara dari dalam diri sendiri. Tubuh kita adalah penerjemah setia antara jiwa dan dunia luar, tapi kita sering memperlak,kannya seperti pelayan yang boleh diabaikan selama belum berteriak keras.

Gangguan kesehatan yang sekarang saya alami sampai berkepanjangan, dulu bermula dari masalah kecil dan bisa diabaikan - cepat lelah, sering pusing, perut kembung.

Hanya gejala ringan yang biasanya hilang sendiri setelah beberapa saat, atau setelah cukup tidur. Kalaupun setelah bangun masih terasa, biasanya saya anggap sinyal dari perut yang terabaikan. Begitu selesai makan, dunia terang kembali. Setidaknya, begitulah yang saya percaya.

 Tapi kali itu, rupanya tubuh serius menyampaikan sesuatu dan ingin didengar. Sinyal-sinyal kecil itu bukan lagi gangguan biasa, melainkan pesan dari sistem yang mulai menjerit dalam bahasa halus.

Karena saya tetap abai, dan ketukan sedikit keras tidak juga saya  gubris, akhirnya saya dijewer dengan keras. Trigliserida njeplak, seluruh badan pegel, selalu ngantuk dan capek. Seolah tubuh ini sedang menanggung beban yang bukan haknya.

 

Meskipun sudah kelimpungan dan membutuhkan bantuan dokter, saya masih setengah hati melaksanakan perintah diet. Di rumah tertib, karena ada anak dan istri yang bertindak sebagai satpam. Tapi di luar, tidak pernah sekalipun patuh. Jangankan membatasi asupan karbo. Saya masih rajin melahap donat coklat, minum kopi botolan, minum jus buah, tetap lahap makan rendang, tongseng, dan yang paling saya suka, sop iga dengan kuah berlemaknya.

Barangkali jengkel terus terusan diabaikan, tubuh menjawab dengan caranya sendiri: irama detak jantung morat-marit – dokter menyebutnya aritmia, Trigliserida tidak mau lagi turun di bawah 500 mg/dL, vertigo yang membuat dunia serasa berputar lebih cepat, dan langkah kaki mulai goyah, seperti bayi yang baru belajar jalan.

Beruntung, ditengah kebiasaan makan dan minum secara ugal-ugalan itu, alam semesta masih bersedia memberi remisi. Melalui pandemi yang membuat saya tidak lagi bisa kontrol dan konsultasi ke dokter, kondisi saya justru membaik dengan sendirinya – paling tidak saya bisa lepas dari ketergantungan obat, dan merasa kembali hidup normal, meskipun tidak seperti dulu lagi. Seolah tubuh sedang memberi kesempatan kedua, untuk menyadari bahwa kesehatan bukan hal yang bisa diabaikan.

 

Lalu datanglah peristiwa yang tak akan pernah saya lupakan. Seseorang yang hanya beberapa menit saja ketemu di bis kota, tanpa ada percakapan apapun sebelumnya, tiba-tiba memberitahu, tubuh saya sedang sekarat. Hanya itu yang diucapkan sebelum dia bergegas turun, tanpa memberi kesempatan saya bertanya.

Ucapan itu nempel di kepala sampai berhari-hari. Awalnya saya menganggap hanya ocehan orang iseng. Tapi semakin saya renungi, otak saya mulai menganggap kalimat itu sebagai pesan dari semesta yang disampaikan melalui mulut orang asing.

Saya punya satu harapan sederhana namun mendalam: menyelesaikan perjalanan hidup dengan baik, tanpa drama medis. Saya pengin seperti dokter Adam, sepanjang perjalanan pulang dari jogging masih bercanda. Setiba di rumah, istirahat, duduk di kursi, menunggu sarapan,  dan masih sempat kirim pesan melalui WA, “Dengarkan tubuhmu.” Ketika beberapa menit kemudian makan pagi siap, ternyata beliau telah pergi. Saya kehilangan seorang penyelamat, tapi meninggalkan pesan yang lebih berharga dari obat apa pun.

Saya baca kembali pesan terakhir dokter Adam dan mulai percaya bahwa ucapan orang di dalam bis memang peringatan keras dari alam semesta. Kematian bukanlah hal yang menakutkan, tapi ketidaksiapan menghadapinya yang membuat hidup menjadi tragis.

Belakangan saya kembali merasa, tubuh tidak senyaman  sebelumnya. Beberapa kali trigliserida tembus 1000 mg/dL. Kadar asam urat dan kolesterol yang biasanya normal, mulai memanjat. Capek dan pegel-pegel di sekujur tubuh semakin sering tidak tertahankan. Kram mulai rajin datang. Mungkin itu bukan ketukan lagi, melainkan tamparan keras, berharap saya akhirnya mendengar. Tubuh tidak lagi sekadar protes, tapi memberi peringatan.

Pada saat yang sama, mungkin lantaran jengkel saya kembali seenak udel,  dokter memberi teguran keras, “Saya tidak merekayasa diet. Saya hanya menerjemahkan keinginan tubuh Anda. Kalau Anda masih ingin sehat, dengarkan keluhan tubuh dan penuhi keinginannya. Obat hanya membantu meringankan gejala, mengurangi pegel, membantu supaya kerja jantung tidak terlalu berat. Hasil akhir sepenuhnya bergantung kemauan Anda untuk menjaga diri.”

Teguran itu nempel seperti memo di dinding hati saya. Kesehatan bukanlah hadiah yang bisa dibeli dengan uang, tapi investasi yang harus dibayar dengan kesadaran.

Mumpung belum telat dan keburu beneran sekarat, saya memutuskan belajar mendengarkan tubuh. Saya kembali mulai dengan hal kecil - hanya minum teh atau kopi sekali sehari dengan sedikit gula. Lebih banyak minum air putih hangat, dan berhenti makan begitu tubuh berkata “cukup” - tidak perduli perut masih teriak lapar. Olahraga ringan, minimal jalan kaki 60 menit setiap hari. 

Kadang saya masih kambuh berlagak bego, sengaja abai. Kadang  masih tergoda donat dan kopi manis. Tapi sekarang saya berusaha  menunda sebelum  melahap. 

Menunda bukan untuk menolak, tapi memberi waktu bagi akal sehat untuk berbicara. Biasanya berhasil.

Tubuh tak pernah bohong. Dia sudah terlalu lama menjadi pelayan yang setia. Kini saatnya saya memperlakukannya sebagai sahabat yang pantas dihormati - agar tubuh tidak lagi harus berteriak keras hanya untuk didengar.

Saya mulai belajar memahami bahasa tubuh. Misalnya, ngantuk padahal belum larut malam, berarti tubuh butuh istirahat lebih banyak. Tegang di leher dan pundak, tidak lagi semata-mata menimpakan kesalahan pada bantal, tapi mulai menelusuri, apakah ada ketegangan yang tak sempat saya ungkap.

Mual tanpa sebab jelas, bisa jadi karena ada hal yang tak bisa saya “telan” secara emosi. Mungkin ada kebohongan yang saya sembunyikan, atau kebenaran pahit yang saya tolak.

Tubuh tidak hanya bicara soal makanan atau penyakit.  Dia juga menyimpan cerita tentang pikiran yang lelah, hati yang kedinginan, atau semangat yang sedang meredup. Sepertinya, setiap gejala fisik adalah metafora dari kondisi batin yang mungkin tak pernah saya sadari.

Tapi seandainya, semua pemahaman itu tetap tidak mampu menaklukkan nafsu rakus saya terhadap makanan yang seharusnya tidak saya sentuh - seperti sop iga, seafood, atau jeroan, dengan sangat terpaksa saya menggunakan jurus pamungkas, memutar potongan video orang sekarat di ICU. Meskipun hanya adegan film, bukan kejadian sesungguhnya, tapi selalu efektif.

Melalui perjalanan panjang ini saya belajar, bahwa mendengarkan tubuh bukan sekadar  diet dan olahraga. Melainkan memberi penghormatan terhadap diri sendiri. Menepati perjanjian diam antara jiwa dan raga, bahwa kita akan berjalan bersama, bukan saling menyeret.

Hidup bukan tentang berapa lama kita bertahan, tapi seberapa dalam kita benar-benar hidup. Dan untuk hidup dengan kedalaman itu, kita harus belajar mendengarkan teriakan halus yang selama ini kita abaikan.


LABEL: JEJAK WAKTU

01 Mei 2023

50 Hitungan Menyambut Pagi


Pagi adalah batas antara mimpi dan kesadaran. Di situlah, dalam ruang transisi yang rapuh, kita berdiri di ambang hari baru. Tapi sering kali, kita melompat terburu-buru ke dalam aktivitas tanpa memberi kesempatan pada diri sendiri untuk benar-benar bangun.

Dulu, saya mengira bangun tidur itu ya bangun saja. Buka mata, duduk, berdiri, jalan. Tapi ternyata tubuh dan pikiran tidak selalu bangun bersamaan. Ada kalanya mata sudah terbuka, tapi jiwa masih tertinggal di mimpi semalam.

Suatu saat dokter memberi saran, sederhana namun mendalam: jangan langsung bangkit dari kasur. Hitung sampai lima puluh. Biarkan tubuh dan pikiran beradaptasi secara perlahan. Dan yang lebih penting, jaga pikiran tetap tenang. Jangan bereaksi terhadap apa pun yang muncul di kepala.

Awalnya, saran itu terasa absurd. Lima puluh hitungan itu lumayan lama. Cukup untuk membuat saya ngantuk lagi. Sementara di dalam kepala langsung terjadi keributan. Otak riuh seperti pasar pagi. Gaduh, sibuk, dan penuh suara-suara tak diundang. Ada yang menawarkan cemas, ada yang membawa takut, ada pula yang menyeret-nyeret masa lalu sambil menunjuk-nunjuk masa depan.

Bukankah waktu pagi begitu berharga? Kenapa harus dihabiskan untuk diam dan menghitung?

Kadang saya berhasil menghitung sampai lima puluh. Kadang baru sampai dua belas sudah lupa arah, [L1] atau malah ketiduran lagi. Tapi, justru karena sering gagal, saya jadi tahu bahwa pagi adalah waktu yang paling jujur. Saya bisa melihat, siapa yang pertama kali menyambut: rasa syukur atau takut? Rasa damai atau daftar pekerjaan yang belum selesai?

Apa yang pertama kali saya pikirkan setelah bangun, sangat berpengaruh terhadap aktifitas selanjutnya. Seperti benih yang ditanam, bisa tumbuh menjadi pohon damai, atau semak belukar kecemasan.

Saya pernah terlalu semangat. Bangkit seperti tentara kesiangan—tanpa hitungan, tanpa jeda. Baru lima langkah dari tempat tidur, badan limbung, dunia berputar. Rupanya, bangun itu tidak cukup hanya fisik. Jiwa juga perlu dibangunkan perlahan.

Saat rasa ingin tahu, mengapa harus berhitung, memuncak dan tak kunjung mendapat penjelasan, mendadak Gembul – teman imajiner saya, muncul. Seperti biasa, sosok yang saya beri wujud kucing itu nibrung begitu saja dengan jawaban konyol. Menurutnya, hitungan sampai 50 itu untuk memberi kesempatan semua nyawa yang semalam keluyuran kembali ngumpul.

Lah, bukankah yang punya nyawa banyak cuma kucing? Itu pun kalau belum habis ditabrak motor.

“Ya kamu juga punya. Cuma nggak sadar. Tiap sisi dirimu punya kehidupannya sendiri.” jawabnya sambil menguap.
Lalu datang Bujel, si teman imajiner satu lagi, ikut nimbrung, “Omongan gulungan benang kusut, kenapa kamu dengar?”

Seperti biasa, mereka langsung ribut. Tawuran. Tapi saya biarkan. Kadang justru dari keributan mereka, saya dapat petunjuk yang tak saya duga.

Lama-lama saya mulai paham, saran dokter bukan sekadar berkaitan dengan alasan medis, melainkan petunjuk, supaya saya tidak terjebak dalam ledakan pikiran pertama di pagi hari, saat – seperti kata Gembul, “semua nyawa belum ngumpul, dan pikiran belum sepenuhnya siap menghadapi realitas.

Karena pikiran-pikiran yang muncul sangat berisik, tapi sering kali tidak akurat. 

Rupanya, jeda singkat antara mulai melek dan bangkit dari kasur, mirip seperti “ruang suci”. Semacam pos jaga, tempat saya bisa sekilas mengamati isi kepala tanpa harus percaya semuanya. Tempat saya bisa memilih mana pikiran yang pantas dibawa berjalan, dan mana yang cukup dibiarkan menguap pergi. Sebagai persiapan menyambut pagi dengan tenang.

Seingat saya, setiap kali berhasil melewati lima puluh hitungan dengan tenang, hari terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena saya tidak lagi terombang-ambing oleh sesuatu yang tidak jelas.

Pagi bukan sekadar waktu dalam sehari, melainkan kesempatan untuk memulai hari dengan kesadaran, bukan dengan reaksi. Untuk memilih arah, bukan terbawa arus. Dan untuk menjadi tuan dari pikiran sendiri, bukan budak dari kebiasaan yang terburu-buru.


 LABEL: JEJAK WAKTU


24 April 2023

Resiko Yang Terabaikan

 


Seorang senior yang hidup mapan pernah memberi nasihat pedas: "Masalah finansialmu hari ini adalah bayaran atas kesantaimu di masa lalu." Kalimat itu menggumpal di tenggorokan, sulit ditelan tapi terasa benar.

Saya pernah merasa hebat lantaran berani ninggal pekerjaan dengan penghasilan bagus di tempat jauh sana, memilih pulang ke Jogja, kembali wirausaha santai, dengan alasan yang bagi kebanyakan orang terasa konyol: Saya ingin punya lebih banyak waktu bersama keluarga (dan memang itu yang terjadi). Konsekuensinya, kehidupan finansial saya hanya sedikit di atas cukup. Senior saya menyebut itu sebagai kriminalitas terhadap masa depan diri sendiri.

Sekarang harus saya akui, menjadi lansia, apalagi dengan sejumlah gangguan kesehatan, butuh bekal finansial tidak sedikit. Untuk keperluan diet saja, menunya tidak murah. Memang ada BPJS, tapi mondar-mandir ke rumah-sakit juga harus keluar duit.

Anak saya hanya satu, sibuk menata hari depannya sendiri. Kalau setiap saat saya recoki untuk menemani ke rumah-sakit, sama saja saya mengacaukan rencana masa depannya. Ini bukan tentang bakti anak, tapi memang saya merasa perlu mikir sampai sejauh itu. Bagi saya, anak bukan tabungan hari depan.

Ketika badan terasa semplok di mana-mana, ngantri BPJS tanpa pendamping juga butuh kekuatan mental. Itu sebabnya, banyak teman-teman, yang sebelumnya selalu memuji BPJS, lantaran merasa terbantu saat mertua dan orang tua sakit, ketika dia sendiri mengalami masalah kesehatan, ogah menggunakan BPJS. Pernah ada teman yang terbiasa mendapat pelayanan VIP, saya tantang menggunakan BPJS saat sakit gigi. Ternyata menyerah ketika nomer antriannya masih jauh.

Saya tidak mengeluh, dan sama sekali tidak menyesali keadaan. Saya terima semua sebagai bagian dari perjalanan hidup. Kalaupun ada yang sedikit nampol, dan kadang membuat saya was-was, adalah  kesalahan saya mengabaikan resiko jangka panjang berkaitan dengan kesehatan. Karena menjadi lansia setelah melewati masalah kesehatan lumayan serius ternyata ngeri-ngeri sedap.

Masa depan memang harus direncanakan. Tidak salah bekerja keras, numpuk tabungan atau membangun passive income untuk mengamankan hari tua – bahkan menurut saya, seharusnya begitu. Asal tidak mengabaikan realita, bahwa hidup penuh kejutan. Keadaan selalu berubah. Terdapat lebih banyak resiko tersembunyi, ketimbang yang bisa diperhitungkan.

Kebanyakan orang hanya ingat untuk mempersiapkan bekal akherat, tapi lupa, ada banyak drama kehidupan bisa terjadi sebelum kematian datang menjemput. Tanpa cukup bekal mental, drama itu bisa menyebabkan saat-saat terakhir menjadi sangat tidak menyenangkan. Mending kalau hanya terjadi satu atau dua hari. Bagaimana seandainya saat-saat terakhir yang dramatis itu berlangsung lama? Bertahun-tahun?

Dulu, saya pikir tubuh ini adalah benteng tak terkalahkan. Rutin olahraga, rajin minum suplemen, tak pernah opname—seolah itu lisensi untuk menghabisi sepiring tongseng berlemak, dengan telor mata sapi dua butir, dan es kopi susu karamel setiap hari. "Self-love," kata saya sambil menyuap jeroan. Ternyata, itu lebih mirip bunuh diri pelan-pelan.

Tubuh manusia memang ajaib. Bisa diam selama bertahun-tahun menimbun kerusakan, lalu tiba-tiba menagih utang sekaligus dengan bunga yang mencekik. Sampai akhirnya hanya bisa dijelaskan menggunakan satu kata saja, “komplikasi”.

Bagi saya, kata itu lebih mirip peringatan terakhir, bahwa saya sudah melewati point of no return. Secara harfiah bisa diartikan, satu kaki di kuburan, satunya di ambang pintu rumah-sakit. Kesembuhan setelah itu, kalaupun ada, tidak lebih dari kesempatan kedua untuk berupaya agar perjalanan menyelesaikan sisa umur tidak tambah runyam, dan kelak bisa berakhir dengan baik.

Saya sempat gamang, tapi beruntung tidak bablas sampai patah semangat. Justru kemudian sadar resiko. Sekalipun secara medis sudah terlanjur kacau, tapi selagi masih bernafas, tidak ada kata terlambat untuk berusaha mendapatkan yang terbaik. Meskipun menurut senior saya, kondisi saya sekarang ibarat gedung yang dibangun di atas tanah jelek, dengan kualitas konstruksi buruk. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain dibongkar.

Gedung bisa dibongkar, dibangun ulang. Sementara saya? Seandainya teknologi kedokteran mampu melakukan renovasi ulang, belum tentu fisik saya mampu menjalani prosesnya. Apalagi ternyata, teknologi kedokteran baru sebatas mampu mempertahankan kondisi pasien supaya tidak menjadi lebih buruk. Itupun sering gagal.

“Kalau ada duit, paling tidak akan membuat kondisimu lebih baik,”

Saya tidak bisa membantah argumennya. Cuma, kadang-kadang, hidup suka main ciluk ba. Muncul dari arah tidak terduga, membawa drama kecil, sambil berteriak, “KEJUTAAAANNNNN.”    

Kemarin sore, setelah beberapa bulan tidak jumpa, saya berkunjung ke rumah senior saya. Dia tinggal di rumah besar yang dijaga satpam pribadi. Di halaman samping yang luas berjejer mobil-mobil mewah. Kamar tidurnya sangat lega. Tapi, di atas ranjang yang elegan, dia hanya tergolek tanpa daya, dengan selang makan menembus hidung. Hanya tersisa tatapan mata dan genggaman tangan sebagai tanda dia masih mengenali saya.

Dalam perjalanan pulang, teman sesama survivor kesehatan berbisik, “Kita tidak gableg duit, entah apa jadinya kalau sampai seperti dia.”

Teman yang lain menjawab ringan, “Tidak akan terjadi. Tidak ada duit akan membuat kita mati duluan.”

Saya tidak tahu, mana yang lebih menakutkan, hidup berkelimpahan tapi tak berdaya di ranjang mewah, atau hidup pas-pasan dengan ancaman kehabisan napas sebelum waktunya. Mungkin bukan soal memilih mana yang lebih baik. Hidup bukan pilihan macam menu di restoran. Sering kali kita hanya punya sepiring kenyataan, dan harus mengunyah apa adanya.

Mulai hari ini saya belajar melihat ke belakang tanpa mengutuk masa lalu, dan menatap ke depan tanpa menggantungkan harapan kosong. Hidup bukan soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita bertahan, belajar, dan tetap berusaha meski tahu akhir ceritanya tetap sama.

Saya tidak tahu berapa sisa umur saya. Tapi saya akan terus merawat tubuh yang sudah mulai rewel ini. Saya ingin terus belajar memahami hidup – bukan untuk jadi bijak, tapi supaya tidak terlalu bodoh lagi.

Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup yang mudah. Tapi Dia memberi kesempatan agar kita bisa tetap tersenyum meski kaki terseok, dan tetap bersyukur meski isi dompet cekak.


LABEL: JEJAK WAKTU

19 April 2023

Afirmasi Bukan Sekedar Ucapan Yang Diulang


Dulu saya pikir kegagalan itu hanya perkara kurang usaha. Kurang semangat. Kurang gigih ketika menghadapi kesulitan. Kalau gagal, mestinya dicoba lagi. Kalau masih gagal, harus tambah usaha. Tambah doa, tambah kopi.

Tapi lama-lama saya mulai melihat realita—kegagalan tetap setia menemani seperti bayangan sendiri. Afirmasi yang saya ucapkan setiap pagi terasa seperti doa yang memantul dari dinding kosong. Ritual tanpa makna, karena jauh di dalam, suara kecil terus berbisik: "Ini semua omong kosong."

Ibu pernah berkata, "Kalau otak dan hati tak selaras, ibarat mobil berjalan dengan roda yang tak sejajar."

Semenjak Sonia menyentil melalui komentarnya, dan teman saya menyinggung soal perasaan istri pasca operasi, saya mulai sadar, selama ini saya terlalu fokus di permukaan. Saya memaksa diri bangun pukul 4 pagi, menghajar rasa malas dengan jadwal ketat, dan membayangkan diri seperti tentara di kamp pelatihan—dengan teriakan instruktur dan hukuman push-up. Sementara hati masih terlelap di balik selimut.

Beda ketika saya mencoba memahami Calculus. Sama sulitnya, tapi saya lakukan dengan sukarela, tanpa ada paksaan. Saya menikmati prosesnya.

Lagi-lagi pikiran saya terseret mundur jauh ke masa lalu, ketika saya berempat dengan teman tersesat di pelosok. Saat itu koneksi internet masih buruk dan baru bisa diakses melalui komputer. Pada akhirnya, ketika mendapati jalan yang semula memang lebih mirip kali kering berakhir di tempat yang sepertinya jarang dilalui orang, sopir gusar dan berkata, “kita tersesat!”,  

Kejadian itu bermula ketika sopir berniat mengambil arah tertentu di persilangan jalan, tapi dengan berbagai pertimbangan yang kami anggap masuk akal, kami memilih arah lain. Begitu terulang sampai beberapa kali.

Hari mulai gelap. Saat saya menyalakan lampu cabin untuk mencari bekal minum, sekilas terlihat, raut muka sopir nampak letih dan jengkel. Saya memutuskan mengambil alih kemudi. Saya tidak pernah membiarkan orang yang lelah dan terganggu emosinya menjadi pemandu perjalanan.

Dengan penerangan lampu yang redup dan sedikit nekad, saya mengemudikan mobil yang belum terlalu tua, menyusuri jalan berbatu dan gelap. Keadaan menjadi semakin menegangkan ketika BBM hanya tersisa seperempat, sementara saya belum tahu berada di mana.

Di jok tengah, dua teman yang mulai panik, bersama sopir yang duduk di sebelah saya, berdoa berulang-ulang dan (niatnya) memberi semangat, supaya saya yakin bisa ketemu jalan yang benar sebelum bensin habis.  

Di saat kritis, menjelang emosi saya meledak, lantaran berisik mendengar doa dan afirmasi yang diucapkan berulang kali, saya teringat nasehat Ibu, kalau pengin berhasil, otak dan hati harus diselaraskan terlebih dahulu.

Masalahnya, bagaimana cara membuat hati suka pada keadaan yang kacau seperti ini?

Tiba-tiba saya teringat cerita tetangga mengenai serunya offroad. Meskipun saat itu tidak gableg mobil, saya kemudian sering berangan-angan, pengin offroad juga. Siapa sangka, mimpi saya di siang bolong puluhan tahun lalu, terkabul, meskipun dalam kondisi beda jauh, antara CJ7 yang dimodifikasi sesuai medan offroad dengan station wagon yang tenaganya ternyata ngos ngosan.

Tapi mengeluh tidak menyelesaikan masalah. Terutama ketika saya sadar, setir mobil ternyata oblak dan di luar mulai tercium bau kanvas terbakar.

Saya hentikan mobil, lalu minta teman-teman berhenti berisik.

“Doa dan afirmasi kamu anggap berisik?”

“TUHAN TIDAK TULI. BERDOA CUKUP SEKALI SAJA!!!”

Bentakan saya membuat ketiganya langsung bungkam.

Setelah suasana menjadi tenang, saya tepuk ringan dashboard di belakang setir sambil berkata, “Yuk kita pulang.” Saya injak pedal kopling, lalu masuk gigi satu …….. Ketika pedal gas diinjak, mesin meraung keras, tapi mobil hanya bergerak lambat.

Saya kurangi tekanan di pedal gas sambil bicara entah pada siapa, “Jogja dekat, kita akan tiba sebelum tengah malam.”

Entah itu bisa dianggap sebagai afirmasi atau sekedar menghibur diri (karena saya tahu, jarak menuju Jogja lebih dari 250km).

Sepanjang perjalanan menuju jalan raya, saya banyak bicara pada mobil, seolah mobil itu kuda kesayangan yang bisa diajak ngobrol. Ketika roda kanan depan terperosok, saya minta maaf sambil mengelus dashboard. Tidak langsung memaksa roda keluar dari lubang, saya memilih memeriksa kondisi lubang.

“Sepertinya mundur lebih gampang. Yuk, mundur dikit!”

Ternyata beneran gampang. Padahal posisi roda dan kondisi lubang sempat membuat saya ragu. Lalu saya tepuk dasboard lagi sambil memuji, “Good boy! Kamu luar biasa.”

Beberapa persimpangan sudah saya lalui. Tetap belum ketahuan, apakah rute yang saya pilih benar atau keliru. Yang membuat sedikit lega, meskipun masih berada di tempat sepi dan belum terlihat tanda bakal ketemu permukiman, jalan yang kami lewati sudah lebih beradab.

Tapi, muncul masalah baru, bau kanvas terbakar tercium semakin menyengat. Sementara lampu indikator BBM mulai berkedip.

Kembali saya tepuk-tepuk dashboard, sambil berkata, “Bertahan sedikit lagi. Kita akan segera sampai di jalan raya, nanti kamu bisa istirahat.” 

Ternyata benar. Setelah berjalan beberapa belas menit dan melewati dua tikungan, kami tiba di jalan aspal.  Berasa keluar dari dunia antah berantah yang sunyi, kembali ke peradaban. Dan seolah nagih janji, mobil beneran minta istirahat. Mogok total.

Salah satu teman mengggerutu, “Lain kali jangan sembarangan bicara.”

Saya tidak membantah, meskipun tidak percaya mogoknya mobil ada kaitannya dengan omongan saya. Tapi dia punya pendapat lain, “Kadang kita asal bicara sekedar buang suntuk, tapi alam semesta punya cara sendiri menanggapi omongan kita.”

Apakah itu berarti obrolan saya dengan mobil di sepanjang perjalanan juga mendapat respon dari alam semesta?

Sesuatu di kepala, tanpa diminta, menjawab, “Mungkin.”

Sepertinya, afirmasi dan doa hanya bekerja ketika kata-kata yang diucapkan menyatu dengan perasaan. Seperti gula yang larut sempurna dalam teh.

Selama ini berulangkali saya berkata, "Ayo berubah." Sementara pada saat bersamaan, bawah sadar diam-diam nyengir, lantaran hati justru ragu. Dalam bahasa Ibu saya, otak dan hati tidak selaras.

Mengubah nasib ternyata bukan semata-mata kerja keras, tapi sekaligus juga kerja batin. Saya harus mulai dari dalam, dari cara saya merasa, memaknai, dan berhubungan dengan diri sendiri. Harus ada keselarasan antara niat sadar dan sinyal batin yang lebih dalam.

Saya mulai menyadari pentingnya mendengar suara yang lebih jernih dari dalam hati —yang kadang hanya muncul saat saya diam dan jujur pada diri sendiri. Sementara jujur itu sendiri tidak selalu enak. Kadang berasa seperti diguyur air es di pagi yang dingin.

Saya belum tahu bagaimana cara menyelaraskan semua ini secara utuh. Tapi saya tahu, langkah pertama bukan di luar—bukan di buku motivasi, bukan di seminar sukses. Langkah pertama harus dimulai dari dalam. Barangkali, itu yang dulu ingin disampaikan Sonia. Dan mungkin, saya baru benar-benar siap mendengarnya sekarang.


LABEL: JEJAK WAKTU

10 April 2023

Aroma Kegagalan Yang Tertinggal


Gambar diambil dari Google

Ketika blog djatiwidodo.My.ID masih aktif, pengunjungnya lumayan rame. Tapi rame-nya bukan karena pembaca berdiskusi seru, melainkan dipadati makhluk-makhluk digital yang numpang promosi judol dan pinjol. Link-link mencurigakan bersliweran seperti nyamuk di musim hujan. 

Di tengah banjir spam itu, ada satu pengunjung yang memberi respon nyambung dengan konten blog.

Namanya Sonia.

Entah siapa dia, hanya datang sekali, tapi meninggalkan komentar yang mengena, seperti anak panah yang menemukan sasaran di tengah badai.

Bukan sekadar pujian basa-basi, Sonia mengulas seluruh isi blog. Mengoreksi dan memberi saran. Katanya, saya punya semangat bagus, gaya menulis juga mengalir. Tapi—dan ini yang membuat saya jadi pengin ngremus cabe — katanya, pada tulisan tentang usaha saya memperbaiki nasib, tersirat aroma kegagalan. Menurut Sonia, selama aura gagal itu tidak diperbaiki, saya akan terus muter-muter di titik start.

Awalnya saya sempat jengkel. Komentar penutupnya seperti jempol nyangkut di laci—tidak fatal, tapi senut-senutnya sampai ujung kaki. Tapi kemudian, sesuatu di kepala membawa ingatan saya mundur sekitar 40an tahun, ke masa ketika saya menertawakan teman yang mencoba mengubah nasib menggunakan afirmasi.

Setelah hampir satu semester dia meyakinkan diri bisa lulus ujian Calculus, hasilnya tetep mentok. Di mata kuliah satu itu, saya dan dia sama-sama jeblog. Kecuali di Calculus, yang tidak dia sukai, nilainya di seluruh mata kuliah selalu di atas saya. Sementara saya, sadar punya otak pas-pasan, modal saya hanya mengikuti nasehat ibu, berusaha menyukai apapun yang saya kerjakan.

Ketika akhirnya saya lulus Calculus, meskipun dengan nilai pas-pasan, teman saya terpukul. Bahkan sampai terucap, tidak percaya.

Menurut Ibu, tidak ada orang bodoh yang mampu tamat SMA. Saya tidak bisa mendapat nilai bagus hanya karena otak dan hati tidak selaras, bukan lantaran bodoh. Mengubah suasana hati menjadi suka adalah salah satu cara untuk membuat otak dan hati selaras.

Saya baca ulang semua postingan di blog, mencoba mencari tahu, bagian mana yang menyiratkan otak saya tidak selaras dengan hati, sampai Sonia punya kesimpulan usaha saya mengubah nasib hanya akan muter-muter di titik start. Tapi, sampai setahun lebih, tidak kunjung ketemu. Meskipun tidak membuat saya putus asa, menyebabkan blog jadi terlantar.

Mendadak saya teringat, pernah berkata pada teman, “afirmasi tidak akan bermanfaat selama kamu masih tidak suka Calculus. Otakmu pengin lulus, tapi hatimu berkata lain!”

Teman saya menyanggah. Justru karena tidak suka, dia berusaha supaya secepatnya lulus.

Saya tidak punya niat membahas masa lalu, tapi rasa-rasanya saya mulai melihat benang merahnya.

Hampir semua tulisan tentang usaha memperbaiki diri selalu saya tutup dengan cerita gagal maning, gagal maning. Niat saya hanya ingin sejujurnya memberitahukan kondisi yang sebenarnya, tapi sepertinya tulisan itu lebih mirip pengakuan kalau saya belum siap untuk berubah. Saya terus mengulang kisah kegagalan, bukan untuk belajar, tapi seperti menikmati rasa pahitnya.

Ketika saya sedang mencoba memahami lebih jauh, tiba-tiba ada panggilan telepon. Salah satu teman menanyakan keadaan istri saya pasca operasi dua bulan lalu. Menjelang akhir percakapan dia berpesan supaya saya menjaga perasaan istri saya, karena gangguan pada emosi sering berpengaruh terhadap pikiran bawah sadar. Menurutnya, sebagian besar pasien gagal sembuh karena bawah sadar tidak selaras dengan pikiran sadarnya.  

Selama ini saya beranggapan, pikiran bawah sadar hanya urusan sugesti. Tipu-tipu ala hipnotis. Tapi kali ini saya paksa otak berhenti menghakimi. Sonia mengetahui sesuatu yang tidak saya pahami—bahkan mungkin tidak saya sadari. Dia membuktikan kalau semakin ke sini saya cenderung menutup diri terhadap apapun yang tidak saya suka, termasuk proses perubahan itu sendiri.

Saya mulai sadar: ketidakmampuan menyukai proses adalah racun bagi usaha apa pun. Saya ingin hasilnya bagus, tapi tidak rela menikmati perjalanannya. Saya ingin sukses, tapi masih terlalu nyaman dengan alibi-alibi kegagalan.

Mungkin sudah sangat terlambat untuk membalas komentar Sonia. Tapi setidaknya, saya bisa berterima kasih padanya—karena tanpa sengaja, dia telah membantu saya menemukan kembali kewarasan yang sempat hilang.

Dan sekarang, saya mulai mengerti:
Usaha tanpa keselarasan hati hanya seperti berlari di treadmill—capek, tapi tidak maju-maju.

Kita bisa berlari secepat apa pun, tapi kalau hati tidak ikut serta, maka kita hanya akan berputar di tempat—terus, tanpa henti, tanpa arti.

Sekarang, saya mulai belajar menyukai prosesnya. Tidak lagi menutup hari dengan kisah kegagalan, tapi dengan pertanyaan kecil: "Apa yang bisa saya nikmati hari ini?"

Dan entah kenapa, sejak saat itu, langkah terasa lebih ringan.


LABEL: JEJAK WAKTU

27 Maret 2023

Fortuna Fortis Adiuvat

 


Orang Romawi kuno bilang, "Fortuna Fortis Adiuvat." Keberuntungan berpihak kepada orang yang berani.

Kalimat itu terdengar gagah, penuh semangat, dan cocok dicetak besar di poster motivasi. Tapi sepertinya mereka tidak pernah mengalami betapa menyesakkannya hidup ketika tagihan rumah sakit datang bertubi-tubi, sampai sempat lupa cara bernapas. Atau duduk di depan dokter yang wajahnya tetap datar saat ia berkata, "Ini kanker stadium tiga."

Keberanian saya selama ini paling banter cuma parkir di tempat terlarang—itu pun sambil deg-degan, takut ketahuan polisi. Tapi hidup, seperti biasa, senang memberi kejutan level dewa. Sejak istri saya didiagnosis kanker, hidup kami seperti naik roller coaster, terguncang keras dan naik turun tanpa tahu kapan akan berhenti.

Dari sanalah saya belajar, ternyata fortuna, Dewi Keberuntungan, juga bisa datang kepada orang yang nekat jalan terus meskipun dengan jantung empot-empotan dan nyali tinggal kulitnya saja. Mungkin, tindakan nekad semacam itu, meski penuh gemetar dan ragu, justru merupakan wujud dari keberanian yang sesungguhnya. Keberanian yang diam-diam bertahan di tengah badai.

Entahlah.

Realitanya, sekalipun dengan pikiran kacau dan jantung gedebugan, saya tetap bisa melewati hari-hari yang sulit dan menakutkan dengan berbagai cara yang lebih mirip nasib mujur ketimbang hasil dari rencana matang. Tapi mungkin, kebetulan itu juga cara Tuhan menunjukkan bahwa kita tidak sendirian.

Kata orang, keberanian itu privilege anak muda yang yang masih punya energi untuk lari dari debt collector, atau petualang yang mendaki gunung sambil tersenyum. Ternyata, keberanian versi lansia 60-an seperti saya justru unik. Meskipun terpaksa dan sambil nyaris jantungan, ternyata saya tetap bisa melangkah, melewati banyak tantangan yang sebenarnya membutuhkan nyali besar untuk menghadapinya.

Hidup Tidak Adil, Tapi Bukan Alasan untuk Berhenti

Hidup ini seperti permainan catur di mana kita cuma punya pion dan raja—sementara lawan punya seluruh pasukan. Aturannya tidak jelas, kadang licik, dan seringkali terasa kejam. Tapi satu hal yang saya pelajari: berani bukan soal menang.

Berani adalah ketika saya tahu, peluang tipis, tapi tetap memilih bertahan.
Berani adalah ketika saya menangis di kamar mandi, lalu keluar dengan wajah tenang. Berani adalah percaya bahwa setiap langkah, betapapun goyahnya, masih berarti.

Saya tidak berharap hidup tiba-tiba cerah seperti iklan skincare. Tapi saya percaya, selama saya masih bergerak—meski sambil gemetar—akan selalu ada pintu yang terbuka, sekecil apa pun. Mungkin Fortuna tidak datang dengan hadiah besar, tapi cukup dengan angin segar yang mengingatkan: "Kamu tidak sendirian."

Untuk Anda yang Juga Merasa Kalah

Jika hari ini Anda merasa seperti pion terakhir di papan catur, ingat ini:

  • Hidup tidak adil, tapi bukan akhir cerita. Kebahagiaan bisa datang dari hal-hal kecil yang luput dari perhitungan.
  • Keberanian itu tidak selalu gagah. Kadang ia hanya bisikan, "Coba lagi besok."
  • Tidak perlu jadi pahlawan. Cukup jadi diri sendiri yang tetap bangun, meski dunia terasa berat.


LABEL: JEJAK WAKTU

25 Maret 2023

Ketika Surat Cinta Lebih Sangar Ketimbang Debt Collector


Barangkali lantaran wajah saya lebih sering terlihat kusut, dokter menduga gangguan kesehatan yang saya alami disebabkan oleh beban pikiran, sehingga dokter menyarankan supaya saya konsul ke psikolog.

Meskipun saya merasa bisa mengatasi gejolak pikiran, tapi sejujurnya, memang banyak yang saya pikirkan dan banyak yang membuat saya kuwatir. Saya tahu, berlagak tidak cemas sama buruknya dengan membiarkan ketakutan menguasai pikiran. Masalahnya, saya tidak tahu harus bagaimana, selain berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu yang membuat saya cemas belum tentu akan terjadi.

Setelah pandemi usai, dan aktifitas mulai normal kembali, pelan-pelan saya mulai sadar, saat menghadapi masalah, otak saya ternyata lebih santai. Barangkali, beban pikiran yang numpuk selama pandemi, memaksa otak membuat penyesuaian, dan berujung menjadi lebih santai. Hanya kadang-kadang saja masih kambuh cemas.

Jadi agak aneh, kenapa ketika saya mulai merasa pikiran saya baik-baik saja, justru dokter menyarankan konsultasi ke psikolog?

Terlalu banyak menerima perhatian dan dibantu justru membuat saya cenderung jadi cengeng. Saya merasa lebih tegar justru ketika harus sendiri menghadapi kesulitan. Tanpa dibantu oleh  siapapun..

Memang, psikolog punya metode khusus, bukan sekadar memberi nasihat. Tapi tetap saja, saya sempat kuwatir… (Nah kan, malah jadi kuwatir lagi).

Sudahlah, saya memilih pasrah saja. Apapun yang terjadi, akan saya lakoni sendiri. (Meski sebenarnya saya tahu, tidak beneran sendiri. Ada Tuhan). Alam semesta memberi saya cukup bekal, tidak ada alasan untuk membiarkan diri takluk pada bayang-bayang ketakutan yang diciptakan oleh pikiran.

Ketika pertama kali saya menolak saran dokter, beliau masih sabar. Tapi penolakan kedua membuat nada bicaranya berubah. Dengan suara pelan tapi menekan, dokter berkata bahwa saya benar-benar membutuhkan bantuan psikolog. Menurutnya, siapa pun yang melihat saya saat itu, bisa langsung tahu bahwa saya sedang memikul beban berat.

Saya tidak membantah. Bahkan saya setuju. Sekitar lima minggu belakangan saya memang menghadapi masalah cukup serius. Lumayan menguras energi, fisik maupun mental. Terutama karena melibatkan pihak ketiga sebagai biang keroknya. Tapi, sepusing apapun, saya sangat yakin, bantuan psikolog tidak akan berarti apa-apa. Untuk yang satu ini saya benar-benar tidak butuh diberi nasehat, tidak butuh diberi peneguhan mental, juga tidak butuh support dari siapapun.

Disaat saya sedang bingung mencari cara untuk memberi pengertian pada dokter, telepon seluler saya berdering. Biasanya, ketika sedang bersama orang lain, saya tidak pernah menerima panggilan, tapi kali ini beda. Saya memang menunggu panggilan itu, makanya saya minta ijin untuk menerima.

Saat mengembalikan ponsel ke dalam tas, saya melihat lipatan surat terselip diantara kertas-kertas lain. Saya ambil surat itu, lalu saya serahkan kepada dokter sambil berkata, “ini yang menyebabkan saya kusut.”

Sesaat setelah  membaca seluruh isinya, dokter menghela nafas panjang sambil merebahkan badan  ke sandaran kursi. Surat itu masih dipegang menggunakan dua tangan sambil sesekali matanya melirik ke arah tulisan.

Ketika dokter mengembalikan surat, saya lihat wajahnya berubah, nampak seperti galau.

Saya memberanikan diri bertanya, “Dokter juga menerima?”

Ada sedikit senyum kecut menghias wajahnya sebelum dokter mengangguk, “Dua hari lalu. Baru sekali, tapi tagihannya besar.”

“Kalau dokter berkenan, mungkin saya bisa bantu mengurai masalahnya.”

Dokter tidak menjawab. Hanya memandang saya dengan tatapan sedikit curiga.

“Saya bukan konsultan, tidak perlu dibayar. Meskipun mungkin tidak bisa membantu mencari solusinya, tapi saya bisa membantu memetakan isi suratnya.”

Perlahan dokter menarik laci meja, lalu mengeluarkan sepucuk surat bersampul cokelat, persis seperti yang saya terima. Isinya ringkas, sederhana, tapi seperti biasa, membuat penerima yang tidak paham pola kerjanya, senewen tujuh turunan.

Selesai membaca, saya masukkan kembali surat ke dalam sampulnya, lalu menyerahkan kepada dokter sambil bertanya, “Ada penghasilan 2019 yang belum dilaporkan?”  

“Mereka bisa tahu?”

“Tergantung dari mana sumbernya. Kalau dari perusahaan farmasi, bisa terlacak dari laporan pajak penghasilan.”

Dokter menunduk, memandangi meja, seolah mencari sesuatu, sebelum akhirnya tertawa dan berkata, “Jadi, siapa sebenarnya  yang perlu ketemu psikolog?”

Kamipun tertawa bersama.

Enggak nyangka, “surat cinta” bersampul cokelat dari Direktorat Jenderal Pajak yang selama ini menjadi momok bagi Wajib Pajak, malah membuat kami menjadi teman seperjuangan.


LABEL: JEJAK WAKTU

15 Maret 2023

Menjadi Pawang di Suaka Margasatwa

 


Setelah pandemi berlalu, alhamdulillah saya merasa lebih sehat dari sebelumnya. Tapi saya sadar, tubuh saya sekarang lebih mirip suaka margasatwa – tenang di luar, tapi di dalam banyak macan tidur yang bisa bangun dan ngamuk kapan saja, tanpa permisi.

Sejak itu, saya mulai belajar banyak hal. Terutama yang berkaitan dengan segala sesuatu yang bisa menyebabkan macan-macan itu terusik.

Dulu saya pikir, sayur dan buah adalah sahabat sejati tubuh. Ternyata, untuk kondisi fisik saya sekarang, tidak semua seramah sebelumnya. Ada batasan porsi tertentu yang tidak boleh saya langgar, supaya mereka tetap memberi mafaat tanpa menusuk dari belakang.

Saya tidak lagi diet ketat, karena kalau sampai dibuat seperti itu, bisa jadi saya hanya bisa makan dan minum di angan-angan saja. Nyaris semua apapun yang masuk mulut selalu membawa resiko mengusik macan-macan yang sedang tidur.

Sambil menjaga ketenangan macan-macan penghuni suaka, semua yang masuk mulut saya catat, lengkap berikut tanggal dan jamnya. Lalu saya amati kondisi saya dua sampai tiga hari berikutnya. Kalau aman, konsumsinya lanjut terus, dalam porsi yang sama.

Tapi seandainya muncul gejala terjadi gangguan, entah sekedar diare, mual, mendadak pusing berkepanjangan atau sandal tiba-tiba terasa kekecilan (berarti kaki sedikit bengkak), segera saya telusuri, asupan mana yang sekiranya pantas jadi tersangka.   

Salah satu tersangka yang sudah berulangkali tertangkap tangan adalah brokoli rebus. Saya mengkonsumsi brokol karena bisa membantu mengurangi kadar Trigliserida lumayan. Masalahnya, ketika saya konsumsi terus menerus sampai lebih dari 5 hari berturutan, pada hari ke enam, kencing saya mulai bau dan sedikit keruh.  

Entah apa yang dilakukan oleh brokoli di dalam sana, tapi setelah tahu efek sampingnya, saya tidak perlu nunggu sampai hari ke enam baru jeda. Hanya berhenti saja sementara, sekitar seminggu, kemudian mulai lagi makan brokoli. Begitu juga  dengan yang lain.  

Tidak ada yang memberi petunjuk untuk diet dengan cara seperti itu. Saya rekayasa sendiri berdasar kondisi badan sehari-hari. Tapi supaya tidak ngawur-ngawur amat, sebulan sekali saya rutin cek lab. Saya pelajari kaitan antara menu makan dengan perubahan yang terjadi pada setiap variabel yang diperiksa.

Meskipun ketika hasil cek lab menyatakan semua normal, saya tidak beranggapan  biang masalahnya sembuh. Mereka hanya sedikit tenang, seperti para macan yang sedang tidur.

Saya tidak lagi mengejar kesembuhan, karena sadar bahwa tubuh ini sudah mirip ekosistem yang mulai rapuh, di mana setiap asupan, setiap obat, bahkan setiap pikiran bisa jadi pemicu kekacauan.

Saya belajar untuk hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Bukan dengan menyerah, tapi dengan lebih mengenal diri sendiri. Mengenal batas, menghormati sinyal, dan mempercayai insting. Saya tidak lagi takut pada gejala, karena mereka adalah bahasa tubuh yang mencoba berbicara. Dan saya belajar menjadi pendengar yang lebih baik.

Dan kalau suatu hari nanti, perjalanan ini harus berakhir lebih cepat dari yang saya harapkan, saya ingin percaya bahwa saya telah hidup dengan jujur pada diri sendiri, penuh kesadaran, dan setia pada prinsip, bahwa kesehatan bukan soal angka di kertas hasil lab, tapi tentang seberapa damai saya bisa menjalaninya.

Seperti kata Whitney Houston, “If I fail, if I succeed, at least I'll live as I believe”.

Terima kasih untuk semua yang telah menemani, membaca, dan memahami—meski hanya dari kejauhan. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.


LABEL: JEJAK WAKTU