Katanya, hidup dimulai umur 40. Tapi saya pikir, hidup saya
baru benar-benar mulai setelah 60.
Saya pernah sibuk—sangat sibuk. Berangkat pagi, pulang
larut, dan tentu saja mendapatkan hasil besar.
Hidup saya ibarat mobil yang melaju di jalan tol. Ngebut,
dan hanya berhenti sebentar, sekedar istirahat. Sampai kemudian, tiba-tiba,
mogok. Lalu, seperti sudah janjian sebelumnya, semua berubah dalam waktu
bersamaan. Bermula dari gangguan kesehatan ringan, karena agak saya abaikan, kemudian
menjadi serius. Bukan hanya menggerogoti fisik, tapi juga menggerus funansial.
Dengan kondisi kesehatan yang bisa dibilang "meriah
sedikit berisik", dan finansial pas-pasan, saya memutuskan, harus
bangkit. Meskipun saya tahu, tidak akan mudah. Apalagi kalau
langkahnya harus hati-hati, menyesuaikan dengan tekanan darah yang naik turun
seperti roller coaster, dan trigliserida yang sering unjuk gigi .
Waktu masih muda, jatuh tinggal bangun. Sekarang? Jatuh bisa
jadi konten viral plus rujukan ke fisioterapi.
Tapi justru di situlah tantangannya. Saya sadar, sekarang
bukan lagi masanya adu cepat. Juga bukan mengejar yang sudah lewat. Tapi
tentang keberanian untuk berkata pada diri sendiri, “Saya masih di
sini. Saya masih mau mencoba.”
Walau lambat dan tertatih, saya tetap melangkah. Karena diam
di tempat lebih menyakitkan. Duduk terlalu lama bikin pinggang protes, berdiri
kelamaan dengkul ikut orasi. Jadi, lebih baik bergerak pelan-pelan sambil bawa
minyak kayu putih dan semangat hidup.
Masalah finansial, jangan ditanya. Meskipun dulu kuliah di
fakultas Teknik jurusan Sipil, ujian saya justru tidak pernah lepas dari ekonomi.
Sekarang saya sedang magang di jurusan “hemat sambil tetap waras.” Rasanya
seperti diet. Bedanya, bukan makanan yang dikurangi—melainkan belanja
online dan langganan streaming yang jarang ditonton.
Percaya atau tidak, selama perjalanan yang sedikit
ngeri-ngeri sedap itu, saya menemukan pemahaman baru. Ternyata, hidup
bukan tentang punya segalanya, tapi tentang bisa tersenyum dengan apa yang ada
(meski kadang senyumnya sambil nyengir nahan dengkul yang nyeri).
Gangguan kesehatan menjadi teman seperjalanan. Kalau tubuh
ini ibarat rumah, sudah banyak bagian yang butuh renovasi. Ya sudah, diterima
saja. Saya ajak ngobrol rematik dan trigliserida seperti teman lama. "Hari
ini kita santai dulu ya, jangan cari ribut."
Yang penting, saya bisa mulai jalan lagi. Dari awal yang
tidak nyaman, dari titik yang kadang membuat ingin menyerah. Tetap saya jalani,
karena saya percaya, setiap langkah kecil, meski pelan dan gemetar, tetap lebih
baik daripada tidak bergerak sama sekali.
Kalau perjalanan hidup saya dibuat sinetron, mungkin
judulnya: “Lansia Reborn”.
Jadi, buat kamu yang mungkin merasa “sudah terlalu tua” atau
“sudah terlambat”—hei, saya di sini, 60 tahun lebih, pernah (dan sedang) ada di
titik itu, dengan lutut yang lebih meriah ketimbang konser heavy metal.
Hidup bukan lomba lari cepat. Lebih mirip jalan pagi di
taman. Yang penting, nikmati tiap langkah, dan hirup udara segar. Dengan
semangat baru, humor receh, dan sebotol minyak angin.
Kita jalan bareng. Pelan saja, tapi pasti. “Jangan
takut memulai ulang. Kali ini kita bukan mulai dari nol. Kita mulai dari
pengalaman.”
LABEL: JEJAK WAKTU

Tidak ada komentar:
Posting Komentar