01 Februari 2023

Penasehat Dari Sebelah Sono


Setiap orang punya cara masing-masing untuk berdialog dengan diri sendiri. Ada yang menulis jurnal, ada yang ngajak bicara kucing (yang hanya menjawab dengan dengkuran – atau malah sering minta makan), dan ada juga yang, seperti saya, punya tamu tak diundang dalam kepala.

Ini bukan kisah horor. Tidak ada sosok misterius ndhekem di bawah pohon mangga sambil berbisik, "Jangan lupa bayar BPJS." Tapi ada satu entitas non fisik—atau beberapa, saya belum yakin jumlahnya—yang suka muncul saat saya sedang serius merenungi hidup.

Biasanya sosok itu nyelonong begitu saja, tanpa permisi, saat saya sedang duduk tenang, mengenang masa lalu, menimbang-nimbang keputusan yang pernah saya ambil puluhan tahun lalu, ketika tiba-tiba terdengar suara (dalam hati, tentu saja):

“Tahu nggak, kalau waktu itu kamu tidak asal-asalan nenggak sembarang suplemen dan sedikit saja rajin olah-raga, sekarang kamu masih bisa menikmati semua makanan kesukaanmu!”

Padahal saya sedang merenungi lensa kamera yang retak gara-gara kepleset waktu motret Merapi, bukan mikir makanan.

Kadang mereka ini seperti radio rusak—menanggapi renungan saya dengan komentar yang sama sekali nggak nyambung. Tapi anehnya, saya tidak pernah merasa terganggu. Malah, mereka sering membuat saya tertawa sendiri.

Ada kalanya suara-suara itu memberi saran yang masuk akal. Seperti saat saya bingung antara beli es krim atau patuh diet:

“Hasil cek terakhir, trigliseridamu di atas 1000. Sebaiknya jangan terlalu sering melanggar diet. Tapi kalau kamu pengin sekali-kali merasakan masuk ICU, terus sekujur tubuh dicublesi jarum, seliter es krim sehari selama beberapa minggu kurasa cukup sebagai pengantar.”

Nah lho.

Saya menyebut mereka "Penasehat dari sebelah sono". Mereka bukan malaikat, bukan jin, apalagi ilham surgawi. Dalam persepsi saya, mereka lebih seperti gerombolan penggembira—dengan anggota yang kadang bijak, kadang absurd. Ada yang cerewet seperti teman lama, ada yang filosofis ala guru spiritual, dan ada juga yang tampaknya hanya mampir untuk bikin rame suasana.

Saya pernah mencoba mengabaikan mereka. Tapi justru saat saya tidak mendengarkan, mereka makin heboh. Jadi sekarang saya terima saja kehadiran mereka. Anggap saja mereka bagian dari proses berpikir saya yang unik.

Tentu saja, saya sadar sepenuhnya bahwa semua ini hanyalah bagian dari imajinasi. Tapi bukankah hidup ini juga penuh dengan hal-hal yang tidak selalu bisa dijelaskan logika?

Kalau Anda juga pernah mengalami hal serupa—entah itu suara hati, insting, atau "komentator dalam kepala"—jangan khawatir. Bukan berarti Anda mulai gila. Mungkin hanya terlalu sering berpikir mendalam.

Dan siapa tahu, di balik komentar absurd mereka, terselip juga sepotong kebijaksanaan yang bisa membawa kita ke arah yang lebih baik.

Atau minimal, menghibur di tengah kesunyian.


LABEL: JEJAK WAKTU

26 Januari 2023

Kompakan Pikun

 


Reaksi spontan saya ketika seseorang video call, memberi tahu akan ngirim cek bertanggal 26 Januari, "Mosok mundur lagi?"

"Sekarang kan tanggal 26?"

Jawaban itu membuat saya keseleg, lalu buru-buru menemui anak semata wayang saya, Adella, "Del, sekarang tanggal 26!"

"ASTAGAAA ......" anak saya njenggirat.

Tiga hari lalu saya sudah berpesan, tanggal 26 jangan sampai lupa. Malah pikun bareng.

SELAMAT ULANG-TAHUN SRI WAHYUNI. MAAF YA, TELAT, LUPAAAAA 

#Berhubung anakku yang belum 25 juga lupa, berarti kali ini bukan akibat faktor umur#


LABEL: JEJAK WAKTU

23 Januari 2023

Tidak Kalah, Hanya Berubah

 


Awal yang Tak Terduga
Sampai 2018, sudah lima tahun lebih saya lalui bersama rasa lelah absurd—seperti baru menuntaskan ekspedisi ke puncak Himalaya, padahal aktivitas terberat saya hanya menggerakkan mouse komputer. Tubuh ini bagai mobil tua yang mesinnya terus menggerutu, meski hanya dipakai belanja ke warung tetangga.

Bermula dari sedikit capek yang terasa hampir sepanjang hari, lalu muncul  angka di hasil cek lab, yang memaksa saya berhenti bercanda: Trigliserida, 565. Tiga kali lipat batas normal.

Ketika akhirnya saya ketahuan tidak patuh perintah diet, dokter memberi dua pilihan telak: ubah hidup sekarang, atau tunggu stroke datang menjemput.

Perang Melawan Diri Sendiri
Bulan pertama patuh diet lebih mirip siksaan. Gorengan, es krim, dan tongseng kambing—teman-teman setia di meja makan yang sukses membuat berat badan naik sampai 67kg, dari sebelumnya hanya 55—terpaksa saya tinggal demi sayur yang rasanya seperti amplas.

Setelah ditambah Gemfibrozil selama 30 hari dan Aerobik tiga kali seminggu, meskipun saya lakukan dengan setengah hati, ternyata memberi hasil nyata: trigliserida turun ke 280, berat badan menyusut 6,5 kg.

Tapi kemenangan kecil itu juga minta bayaran ekstra. Bulan kedua berat badan anjlog sampai 56 kg. Perut kerap mual, dan lidah kehilangan selera. Sementara capek yang semula sempat berkurang, malah ngundang teman, pegel-pegel di sekujur tubuh.

Pandemi, Musuh yang Tak Terlihat
Tahun demi tahun berlalu, koleksi dokter saya makin lengkap, obatnya juga makin variatif. Berasa main game RPG—musuhnya makin banyak. Lalu, datanglah pandemi. Waktu orang-orang dibuat ketakutan oleh virus corona, saya lebih repot mikir vertigo, aritmia, dan gatal sekujur badan yang sumbernya entah di mana.

Di sinilah semuanya berubah drastis. WA tidak lagi meriah dan penuh tawa canda seperti sebelumnya, berganti kabar kematian yang muncul hampir setiap saat. Tidak jarang, pagi atau sore sebelumnya masih saling berbagi kabar, hari berikutnya sudah meninggal – dan tragisnya, dimakamkan tanpa boleh dihadiri oleh siapapun.

Tak lama kemudian, pemerintah memberlakukan pembatasan sosial, membuat aktivitas serba terbatas. Keluar rumah dibatasi, harus jaga jarak, pakai masker, dan jadi sering ngomong tanpa kelihatan mulut. Jadwal kontrol kesehatan saya jadi kacau.

Saya panik dan marah, sekalipun tidak tahu siapa yang mesti jadi sasaran. Sebelumnya, tiga kali sehari saya nenggak segenggam obat, lalu tiba-tiba harus terhenti begitu saja, gara-gara rumah-sakit berubah menjadi arena horor akibat rumor “banyak pasien dicovidkan”.

Pelajaran dari Kekacauan
Sama sekali tanpa obat sebenarnya sangat berat bagi saya. Selain merasa semakin tidak nyaman, saya menjadi gampang tersinggung dan selalu kebelet marah.

Supaya orang rumah tidak jadi korban konyol, saya nekad, tiap hari kelayaban. Kadang nengok kantor. Kadang hanya nongkrong di warung tetangga yang kebetulan tidak tutup. Kadang hanya bengong saja di pinggir jalan.  

Tapi entah kenapa, berada di luar justru membuat badan terasa lebih enak, ketimbang hanya tiduran sambil ngemil di rumah. Terutama setelah saya ikutan menjadi kurir belanja. Sedikit istirahat, membuat saya sering lupa kalau badan sedang tidak baik-baik saja.

Di saat hiruk pikuk pandemi mulai reda dan kehidupan mulai kembali normal, saya baru sadar, ternyata saya masih hidup dan mampu beraktifitas sewajarnya, meskipun lebih dari setahun sama sekali tidak minum obat. Saya bahkan tidak ingat lagi kapan terakhir vertigo kambuh.

Kadang saya masih ngantuk tanpa sebab. Sekujur tubuh masih terasa pegal, tapi tidak ada lagi nyeri di bagian ulu hati. Tidak mual, dan yang paling saya suka, makan apapun kembali terasa enak.

Apakah saya sembuh?

Seperti sering terjadi, tidak merasa sakit bukan berarti beneran sehat. Sampai hari ini, lengah sedikit trigliserida bisa njeplak sampai di atas 1000. Kejang otot di pinggang dan perut bagian atas masih kambuhan. Belum lagi kondisi mata kanan yang minusnya sudah lebih dari 10, sedangkan mata kiri hanya bisa membaca tulisan pada jarak kurang dari 4cm.

Pada akhirnya, saya memilih lebih banyak memperhatikan diri sendiri—belajar ngobrol dengan hati yang dulu sering saya abaikan. Saya mulai menulis, kembali hunting foto, dan pelan-pelan mencoba mengisi ulang energi yang sudah lama tekor. Hidup memang tidak kembali seperti dulu. Kadang melelahkan. Tapi tetap layak disyukuri.

Pandemi memberi pelajaran bahwa hidup bukan tentang menjadi pemenang tanpa luka. Melainkan berubah tanpa kehilangan diri sendiri. Dan hari ini, dengan segelas air putih di tangan dan matahari pagi di beranda, saya memutuskan untuk menata kembali segala sesuatu yang sempat berantakan.


LABEL: JEJAK WAKTU


Ketika Satu Pintu Terbuka

 


Satu pintu tiba-tiba terbuka di hadapan saya. Entah kenapa, saya tergoda untuk masuk. Tapi begitu saya tiba di dalam, segala sesuatu yang terlihat indah dari luar, ternyata hanya ilusi. Dari tempat saya berdidi di ambang, yang terlihat jelas hanya sejengkal saja. Selebihnya berkabut dan gelap. Sepertinya saya berada di dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia kasat mata.

Sesaat saya sempat bertanya pada diri sendiri, “Untuk apa saya berada di sini? Apa yang saya cari?”

Kalau mau jujur pada diri sendiri, kehidupan saya sebenarnya baik-baik saja. Sekalipun secara finansial hanya tipis, tapi rejeki selalu datang. Sekalipun badan pegel-pegel, ngantukan dan gampang capek, saya masih bisa dolan dan berkarya dengan baik. Membuang waktu, menjelajahi ruang antah berantah, seperti kurang bersyukur dengan realita yang sudah saya terima. Kenapa tidak memanfaatkan waktu untuk urusan lain yang lebih jelas manfaatnya. Atau, bisa juga untuk mendapatkan lebih banyak bekal akhirat. Sudah lewat 60 lho. Setiap saat bisa dipanggil.

Sesuatu di kepala menjawab, “Kamu sudah menjalani hidupmu dengan baik. Kalau kamu memanfaatkan sebagian kecil waktumu untuk menjelajah lebih jauh, bukan berarti tidak bersyukur. Justru sebaliknya, aktifitas itu sebagai perwujudan syukurmu memiliki akal budi. Ibarat tangan, yang punya fungsi utama untuk memegang dan meraba. Tidak salah kalau kemudian ada yang mengembangkan ketrampilan tangannya, sehingga bisa menjadi pemahat, pelukis, atau koki”

Suara lain menambahkan, “Meskipun yang kamu hadapi tidak kasat mata, tapi mempelajari pikiran sama seperti belajar anatomi tubuh. Kamu masih tetap ada di duniamu, tidak masuk ke dunia khayal atau mistis. Semua yang ada di sini bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.”

Saya sempat menganggap suara itu sebagai godaan yang menjerumuskan, seandainya tidak merasakan kehadiran dua entitas yang sepertinya sangat familiar. Gebul dan Hellboy, dua teman khayalan yang sering muncul tanpa permisi. Sebenarnya mereka tidak punya wujud, hanya ada suara belaka di kepala, tapi supaya saya tidak merasa berhadapan dengan mahluk halus, mereka saya beri wujud kucing dan setan merah Hellboy. Tapi kali ini pikiran saya tidak bisa membayangkan wujud mereka.

Sebelum saya bertanya, salah satu memberi penjelasan, “Di sini kamu harus belajar tidak menghakimi. Wujud yang kamu berikan pada kami berasal dari penghakiman yang dilakukan oleh nalarmu. Kalau kamu pengin jalan terus, berhentilah berprasangka, jangan menghakimi, dan jangan gampang terhasut. Kebenaran ilmu pengetahuan hanya bisa kamu temukan selama pikianmu tidak gampang diprovokasi oleh lingkungan.”

Saya jadi ingat gambar tiga monyet lucu yang saya temu di Google. Satu berkacamata, satu lagi mengenakan masker menutup wajah dan mulut, yang ke tiga mengenakan headphone di telinga. Gambar itu versi lucu dari three wise monkey, yang dianggap melambangkan see no evil, speak no evil, hear no evil. Saya rasa yang diucapkan Gembul tentang berprasangka, menghakimi dan gampang diprovokasi, agak nyambung ….. eh, tidak ada Gembul lagi ya?

Giliran Hellboy bicara, “Hanya sekedar nama, tidak apa-apa. Selama kamu tidak beranggapan dia sebagai kucing dan aku sebagai dhemit merah.”

“Baiklah, mulai sekarang Gembul dan Hellboy hanya sekedar nama.”

“Kenapa Hellboy? Sepertinya kamu suka dengan penampakan setan merah itu.”

 “Suka saja. Tapi baiklah, kita ganti. Karena tandukmu puthul, sekarang namamu Bujel.”

Terdengar suara tawa Gembul berkepanjangan diselingi sumpah serapah Bujel. Lalu, seperti sebelumnya, dua entitas itupun ribut lagi.

 Jadi, sekarang saya sedang menjelajahi pikiran? Dunia yang dalam anggapan saya sebelumnya, hanya beda tipis dari khayalan, karena di sini saya bisa membayangkan apa saja sebagai sesuatu yang nyata.

Entah Bujel, Gembul atau ada yang lain, memberi peringatan, “Hati-hati dengan pikiranmu. Tidak jarang, yang kamu pikirkan terwujud secara nyata pada arah sebaliknya.”

“Aku tidak paham.”

“Kamu ke dokter, diet, olah-raga. Pagi, siang sore meyakinkan dirimu bisa kembali sehat dengan niatan pengin sembuh. Tapi kalau pada saat yang sama kamu biarkan pikiranmu berkeluh kesah tentang kondisi fisikmu, tentang pegel-pegel, tentang matamu yang sangat rabun, kamu akan sembuh pada arah yang berlawanan. Karena mati juga terbebas dari segala penyakit, sembuh tapi dalam arah berbeda. Bawah sadar hanya merespon hati, bukan otak. Supaya keinginanmu terwujud, otak harus selaras dengan hati”

What the hell …….

Lagi-lagi kena tegur, “Kalau masih demen ngumpat, pilih umpatan yang tidak punya konotasi negatif, supaya tidak memancing emosi terlibat secara negatif.”

Hampir saja saya bertanya, memang ada umpatan macam itu? Ternyata ada. Saya sering mengucap TELOOOO, WEDHUUUSSSS, JAMBU. 

"Kalau aku harus menjaga supaya emosi tetap positif, kenapa kalian  sering ribut?"

“Kami hanya refleksi dari pikiranmu, selama kamu menikmati saat emosimu terlibat, akan terus seperti itu. Kamu tidak dilarang melibatkan emosi, selama masih dalam arahanmu.”

Spontan saya tarik nafas panjang dan dalam, lalu tahaaaannnn ……

“Bukan seperti itu. Mengarahkan tidak sama dengan memaksakan kehendak.”

“Apakah mengatur nafas sama dengan memaksakan kehendak?”

“Hanya ketika niatmu ingin memaksa mengendalikan emosi.”

Lha kok ruwet?

“Dalam dunia mental,  selama kamu belum mampu mengarahkan pikiran dan emosimu, setiap langkah ibarat meniti jembatan setapak. Meleng sedikit, jatuh.”

We, lah.

Saya tahu, sambat tidak pernah menyelesaikan masalah. Tapi ketika beban sudah luber, kadang tanpa sadar mulut ini mengeluh. Selain terjadi secara spontan, sebenarnya saya memang tidak tahu cara mengurangi tekanan beban selain sambat atau kadang misuh. 

Dulu sekali, ketika masih belajar olah nafas, salah satu guru saya pernah mengajarkan caranya, dengan mengabaikan apapun tekanan yang saya rasakan. Masalahnya saya bukan Rambo, sosok fiktif yang konon bahkan mampu mengabaikan rasa sakit akibat siksaan musuh. Sementara saya, mengabaikan bayangan sakitnya dicubles jarum suntik saja tidak kuasa. Padahal hanya bayangan, tidak beneran disuntik. Meskipun saat benar-benar dicubles, ternyata sering tidak merasakan apa-apa. Tau-tau sudah selesai, sementara otak masih ribut membayangkan bagaimana sakitnya nanti.

Eh, sebentar! Kenapa jadi berasa sepi?

”mBul? Bujel? …… “

Tidak ada respon. Tetap sunyi. Sepertinya hanya ada saya – pengin nambahi, ada Tuhan juga. Tapi  Tuhan ada di mana?

“Tidak perlu dicari. Sadari saja bahwa Tuhan bersamamu”

Saya tolah-toleh, mencari, barangkali Gembul dan Bujel sedang iseng main petak umpet. Tapi berulangkali saya panggil, sama sekali tidak ada jawaban. Lalu siapa yang bicara? Sudah pasti bukan makhluk halus. Saya tidak pernah punya keinginan berurusan dengan makhluk macam itu.

Suara itupun kembali terdengar, “Kamu bukan setitik air yang dibuang ke laut. Kamu adalah setitik yang menjadi bagian dari lautan. Setiap titik di badanmu adalah bagian dari Alam Semesta. Kamu adalah miniatur dari Alam Semesta. ”

Sebenarnya saya tidak paha-paham amat, tapi, oke, saya terima. Saya bukan sesuatu yang ditambahkan ke Alam Semesta, melainkan sebagai bagian darinya. Begitu pula dengan yang lain. Maka sebenarnya saya tidak pernah sendiri.


LABEL: DI UJUNG PERBATASAN

01 Januari 2023

Old & New, Home Alone

Sebenarnya saya berencana menghabiskan malam pergantian tahun 2022 ke 2023 di rumah sakit. Istri saya sudah tiga hari dirawat karena trombosit dan HB-nya ngedrop. Eh, malah apes, menjelang tengah hari perut saya tiba-tiba kolaps. Diare tiga kali dalam hitungan jam. Badan lemas, kepala pusing. Tapi saya masih bertahan di kantor sampai tutup buku selesai. Menjelang Ashar, saya menyerah. Pulang.

Perjalanan pulang serasa lomba marathon, panjang dan melelahkan. Motor nyaris kehabisan bensin, sementara SPBU terdekat berada di arah berlawanan  dengan jalur pulang. Toko pakan kucing dekat rumah, yang biasanya buka hingga malam ternyata sudah tutup, membuat perjalanan semakin jauh. Setiba di depan rumah saya baru ingat, belum beli makan malam. 

Saya tahu betul kebiasaan tubuh saat sedang tidak enak badan. Begitu nyenggol sofa, langsung kambuh malas. Maka, selagi masih di luar dan belum tergoda untuk rebahan, harus beli makan dulu. Saya tidak ingin masuk angin lagi hanya gara-gara telat makan. 

Ternyata, perjalanan yang lebih panjang, ditambah sedikit maksa bertahan tidak keburu ambruk, untuk memberi makan kucing dan ayam, greges-greges, mual dan pegel-pegelnya tidak terasa lagi. Terutama setelah melahap nasi bungkus yang semula saya siapkan untuk makan malam.

Menjelang Magrib, setelah mandi air hangat, badan terasa lebih segar. Saya pun bersiap berangkat ke rumah sakit. Tapi begitu keluar halaman,  badan tiba-tiba menggigil. Terpaksa putar balik, dan langsung meringkuk dalam selimut.

Mendekati pergantian tahun, perut mulai keroncongan. Di rumah hanya tersisa kurma, wafer, dan beberapa bungkus mi instan. Sementara lidah Jawa saya tetap minta nasi.

Beruntung, masih ada warung yang buka.

“Sendiri saja, Pak?” tanya penjualnya. Padahal dia tahu saya datang sendiri.

Begitulah asyiknya Indonesia. Bermula dari pertanyaan basa-basi, berkembang menjadi obrolan gayeng.

Perut saya ternyata cuma aleman. Setelah empat suap, semangat ngunyah langsung ambyar. Nasi setengah porsi yang sebenarnya cuma segenggam, mendadak nampak segunung.

Di saat saya bingung cari alasan untuk berhenti makan, ponsel penjual nasi berdering. Suara dari loudspeaker terdengar cukup jelas. Orang di sebelah sana memberi tahu, istrinya baru saja melahirkan.

“Tutup saja, Mas. Nggak apa-apa,” saya langsung memanfaatkan situasi, menyelamatkan diri dari rasa bersalah karena makan masih tersisa banyak.

Saya pulang jalan kaki, ditemani suara jedoran mercon menyambut tahun baru.

Setiba di depan pagar rumah, para kucing muncul satu per satu dan mulai ribut. Saya kira mereka minta makan, ternyata cuma pengin ditemani. Mereka selonjoran manis di sekitar saya.

Tahun sudah berganti. Jedoran mercon mulai reda. Satu per satu kucing-kucing pergi. Tinggal saya sendiri, termenung di teras.

Di saat mata mulai ngantuk, saya merasakan kehadiran sesuatu di arah pintu masuk rumah. Hampir saja saya kabur. Tapi percuma. Kalau yang datang itu punya niat buruk, saya tidak punya tempat untuk ngumpet.

Saya punya teman-teman khayalan, tapi setiap kali mereka datang, saya tidak merasakan sensasi apapun. Beda dengan yang ini. Saya bisa tahu persis dimana dia berada. Bahkan saya merasakan ketika dia sedang “melihat” saya atau “memandang” ke arah lain.

Saya tidak tahu harus bagaimana, selain diam dan menunggu. Supaya pikiran tidak ngelantur ke sana ke mari, awalnya saya menyanyi dalam hati, kemudian memutar musik instrumental di ponsel.

Setelah beberapa lagu berlalu, dan mata semakin berat, saya memberanikan diri bicara, “Aku ngantuk, boleh tidur?”

Entah kebetulan atau hanya perasaan saya, setelah itu sensasi aneh di dekat pintu tidak terasa lagi. Suasana yang semula tenang dan tidak terasa sepi, mendadak berubah menjadi hening, dingin dan terasa, saya sedang sendiri.

Saya pun berdiri, mengucapkan terima kasih sudah ditemani, lalu bergegas masuk rumah.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL


15 Desember 2022

CT-Scan Menyusul

 

Setelah hasil biopsi menyatakan positif kanker, Yuni harus menjalani CT Scan.

Untuk apa? Bukankah hasil biopsi saja sudah cukup? Dan apakah CT Scan yang menggunakan sinar-X itu aman bagi tubuhnya?

Paparan sinar-X dari CT Scan ternyata jauh lebih rendah dibandingkan radioterapi. CT Scan hanya dilakukan satu kali, sementara radioterapi akan dilakukan sebanyak 25 kali, hampir setiap hari. Kalau saya bisa menerima radioterapi, tidak ada alasan untuk menolak CT Scan.

Menurut American Cancer Society, pemeriksaan kanker terdiri dari tiga metode utama: tes pencitraan (salah satunya CT Scan), prosedur endoskopi, dan biopsi1.

Karena hasil biopsi sudah menyatakan positif kanker, dokter membutuhkan CT Scan untuk memetakan bentuk dan ukuran kanker secara detail, serta menemukan lokasi pastinya. Ini penting agar radiasi dari radioterapi tepat sasaran, sehingga meminimalkan kerusakan pada jaringan sehat di sekitar kanker.

Saya hanya bisa berharap, semoga dua prosedur ini cukup. Saya benar-benar tidak tega jika Yuni harus melalui kolonoskopi lagi. Sudah cukup banyak prosedur invasif yang menunggu ke depan. Kalau ada yang bisa dihindari, lebih baik begitu. Selain itu, ini juga lebih hemat biaya.

Mencari Jawaban di Tengah Keraguan

Saya kembali membaca ulang semua materi tentang kanker dan terapinya. Namun, bukannya mendapat jawaban yang menenangkan, saya malah kembali mentok pada argumen lama: memilih yang terbaik di antara yang buruk.

Masalahnya, argumen itu justru terasa berlebihan jika dibandingkan dengan hasil pemeriksaan histopatologi yang, dalam pemahaman saya, menunjukkan stadium awal.

Dengan bantuan seorang teman, saya mulai meneliti hasil Patologi Anatomi (PA) secara lebih teliti. Saya bahkan membuat salinan hardcopy-nya, supaya bisa saya coret-coret dan tandai. Sampai akhirnya saya hafal luar kepala semua kalimatnya, saya malah seperti diyakinkan bahwa terapi radiasi sebenarnya tidak perlu.

Namun, teman saya segera mematahkan kesimpulan itu. Sambil menunjuk bagian yang saya tandai dengan spidol merah, ia berkata, “Ini bagaimana?” — yang ditunjukkan adalah kalimat “tumor rektum susp ganas”.

Saya sempat menganggap itu hanya dugaan awal dokter yang sudah tak relevan setelah PA keluar. Namun, sebelum sempat saya membantah, teman saya menambahkan, “Itu hasil pemeriksaan fisik dokter. Sementara PA cuma menganalisis sampel. Tes lab hanya membaca data, bukan merasakan.”

Perlahan-lahan otak saya mulai menyadari. Dugaan dokter terhadap keganasan tidak dibatalkan oleh hasil PA. Mungkin saat dokter menekan area massa tumor, reaksi tubuh Yuni memberi sinyal tambahan yang tidak terbaca oleh sampel PA. Artinya, hasil PA bukanlah kata putus terhadap dugaan ganasnya kanker.

Beh, bajigur!

Saya memegangi kepala saya yang mendadak pening. Ternyata saya keliru menetapkan target. Saya terlalu fokus mencari terapi dengan efek samping paling ringan, padahal yang seharusnya saya cari adalah terapi yang bisa mencegah kanker berkembang menjadi ganas.

Baiklah. Deal. Radioterapi tetap harus dijalankan.

Efek sampingnya? Sudah terpetakan. Nanti pasti ada petunjuk bagaimana cara mengatasinya. Yang penting, saya tidak lagi berpegang pada angan-angan semata, melainkan berusaha sekuat tenaga menghadapi realita.

Catatan Kaki

  1. American Cancer Society. Understanding Diagnostic Tests for Cancer. https://www.cancer.org/cancer/cancer-basics/how-cancer-is-diagnosed/tests-used-to-diagnose-cancer.html

14 Desember 2022

Hari Penentuan, dan Prasangka yang Tak Bisa Dipendam

Akhirnya, hari penentuan itu tiba. Saya mendapat kabar dari perawat, hasil Pemeriksaan Hispatologi yang dilakukan oleh Departemen Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran UGM sudah diterima oleh rumah sakit tempat Yuni dirawat. Dokter akan segera menjelaskan hasilnya.

Saat saya duduk menunggu dokter, beberapa pesan WhatsApp masuk. Banyak yang menanyakan kondisi Yuni, menunjukkan perhatian dan empati. Tapi ada satu pesan yang bikin saya nyengir. Dari Nyai, dia bilang, “Berdoa saja, semoga bukan kanker.”

Kalau baru berdoa setelah hasilnya keluar, yo telat, tapi nggak apa-apa lah. Niatnya kan baik. Lagipula, saya tahu, Nyai juga sedang menjalani perawatan untuk breast cancer-nya. Mungkin dia lagi suntuk, dan butuh hiburan dengan bercanda sedikit.

Saya jadi ingat, Nyai sempat marah saat tahu saya baru membawa Yuni ke dokter setelah HB-nya drop sampai 4,2. “Lanangan cap apa, istri sakit enggak segera diajak ke dokter?” katanya dengan nada tinggi.

Ya wis, salaaaahhh… saya hanya unjal ambegan sambil berusaha memaklumi kekhawatirannya.

Akhirnya, dokter memanggil saya. Hasilnya ternyata sesuai dugaan saya beberapa bulan sebelumnya: Yuni memang positif kanker. Berdasarkan pemeriksaan histopatologi terhadap sampel dengan diagnose klinis tumor rectum terduga ganas, hasilnya: Adenocarcinoma, NOS, Low Grade. Fistologic grade: Well Differentiated; Grade I of IV (AJCC 8th ed. Grading).

Dari berbagai sumber bacaan, terhadap hasil biopsi itu, saya mendapat kesimpulan sebagai berikut:

1. "Adenocarcinoma, NOS"

  • Adenocarcinoma = Kanker yang berasal dari sel-sel kelenjar (bisa di usus besar, lambung, pankreas, dll).
  • NOS (Not Otherwise Specified) = Jenis ini tidak termasuk subtipe tertentu; hanya disebut umum sebagai adenokarsinoma.

2. "Low Grade"

  • Artinya tingkat keganasan sel kanker masih rendah. Masih cukup mirip dengan sel normal. Tumbuhnya lebih lambat, dan kemungkinan menyebarnya juga masih lambat.

3. "Histologic grade: Well Differentiated"

  • Menunjukkan bahwa sel kanker masih mirip sel normal, sehingga disebut “well differentiated”.
  • Biasanya dianggap tingkat keganasan yang paling ringan dibanding "moderately differentiated" atau "poorly differentiated".

4. "Grade I of IV (AJCC 8th ed. Grading)"

  • Dalam sistem grading kanker (berdasarkan American Joint Committee on Cancer - AJCC Edisi ke-8),
    • Grade I dari IV = tingkat paling ringan (ada empat tingkat: I, II, III, IV).
    • Berarti sel kanker tumbuh lambat, lebih jinak, dan memiliki prognosis yang lebih baik.

Hasil Biopsi menunjukkan kanker kelenjar (adenokarsinoma) yang tergolong ringan atau stadium awal dalam hal keganasan. Sel-selnya masih cukup mirip dengan sel sehat, tumbuh lambat, dan berpotensi lebih mudah ditangani dibanding kanker dengan grade lebih tinggi.

Setelah sesaat sempat lega, saya teringat tulisan di salah satu blog yang membahas efek samping radiasi:

Secondary malignancies are caused by treatment with radiation or chemotherapy. They are unrelated to the first cancer that was treated, and may occur months or even years after initial treatment.

Dalam pemahaman saya, Secondary malignancy adalah kanker baru yang muncul akibat pengobatan kanker sebelumnya, tidak berhubungan langsung dengan kanker awal, dan biasanya muncul dalam jangka panjang setelah pengobatan selesai.

Otak saya langsung ribut. Seandainya radiasi malah bisa memicu kanker baru, mengapa dokter tetap menyarankan radiasi? Apakah untuk kanker dengan grade rendah, radiasi masih diperlukan? 

Saya tahan pertanyaan itu untuk diri sendiri. Kalau saya utarakan pada orang lain, kuwatirnya nanti malah ada yang ngompori, nuduh dokter macam-macam. Dalam posisi saat itu saya harus menjaga, jangan sampai benih prasangka buruk yang sudah bersemi di otak saya, tumbuh liar akibat komentar sembarangan. Saya harus berusaha tetap tenang dan berpikiran jernih. Nasib Yuni sepenuhnya berada di tangan saya.

Pada kesempatan konsultasi, hampir saja temuan itu saya tanyakan pada dokter, tapi saya urungkan. Kondisi emosi saya sedang kritis, takutnya nanti saya bicara lepas kontrol, lalu membuat suasana jadi tidak nyaman. Ujung-ujungnya malah tambah repot.

Tapi ada satu hal yang membuat prasangka saya sedikit mereda. Dari cara dokter bicara, tatapan matanya, dan bahasa tubuhnya, saya melihat kesungguhan yang tulus. Bukan basa-basi. Bukan asal bicara, apalagi tersembunyi niatan komersial.

Masalahnya, otak saya terus saja bertingkah, “Atau jangan-jangan dokternya juga tidak paham terhadap resiko yang itu?”.

Bisa saja. Penelitian berlangsung setiap hari, seandainya efek samping itu baru diketahui belum lama berselang, ada kemungkinan dokter belum mengetahui. Atau bisa pula  temuan itu masih sebagai dugaan, sementara alternatif lain untuk terapi kanker belum ada, sehingga dokter tidak punya pilihan.

Saya lanjutkan menggali semakin dalam. Tapi tidak gampang. Selain harus memeras otak untuk memahami berbagai istilah yang baru kali itu saya temui, setelah pahampun justru membuat saya tambah kuwatir.

Repotnya, ketika saya belum nemu petunjuk lain, sementara jadwal radiasi semakin dekat, ada masukan dari seseorang yang paham medis. “Keponakanku tumbuh kanker baru di tempat lain, lebih ganas. Dugaanku, disebabkan oleh radiasi.”

Tiba-tiba badan ini terasa sangat lelah. Pikiran saya rasanya penuh. Hati saya pun begitu. Rasanya saya ingin menyerah. Tapi saya tahu, ini bukan tentang saya. Ini tentang Yuni, yang sedang berjuang dengan tubuhnya, yang tetap tersenyum meski dalam sakitnya.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL


12 Desember 2022

Antara Nutrisi, Imunoterapi, dan Realita

 

Di saat pikiran semakin kusut, saya mulai menghindar dari siapa pun. Saya memilih menyendiri di pojok kantin rumaah-sakit di bagian sebelah timur. Di sana saya habiskan sebagian besar waktu ketika tidak sedang menunggu Yuni, sambil manteng laptop dan ngulik HP.

Kantin timur ini biasanya sepi, jarang ada orang yang mau duduk satu meja. Tapi kali ini sedikit berbeda. Entah kenapa, seseorang yang membeli makan dari kantin barat justru melewati beberapa kursi kosong lalu minta izin duduk di hadapan saya. Setelah basa-basi singkat, dia mulai bercerita tentang ibunya yang menderita kanker.

Sempat terlintas di benak saya: Apakah saya kelihatan seperti dukun kanker? Sampai-sampai ada orang yang tidak pernah saya temui sebelumnya curhat panjang lebar, bahkan minta saran.

“Setelah operasi dua tahun lalu,” katanya, “saya ikut saran keluarga, beralih ke terapi herbal. Tidak kemo, tidak radiasi, karena katanya efek sampingnya berat. Sekarang Ki-67-nya tinggi.”

Nah, apa pula itu Ki-67?

Saya pun bertanya ke mbah Gugel. Jawabnya singkat tapi cukup bikin merinding: “A high Ki-67 index indicates aggressive tumor growth.”1

Orang itu melanjutkan ceritanya, tapi jujur saja, membuat otak saya agak enggan menyimak. Saya memutuskan fokus ke masalah kanker kolorektal saja, supaya kepala saya tidak overheat. Tapi tentu saja, saya tetap mendengarkan. 

“Kenapa tetangga saya bisa sembuh hanya dengan herbal, sementara ibu saya malah semakin parah?” Orang itu bertanya, seolah olah saya punya kuasa menentukan kesembuhan..

Saya memberikan jawaban klasik, “Tergantung derajat sakitnya dan kondisi pasien, termasuk ada atau tidak penyakit penyerta.”

Lalu datanglah pertanyaan yang paling saya khawatirkan:

“Saya harus bagaimana?”

Sebenarnya, orang seperti itu tidak sungguh-sungguh membutuhkan jawaban. Mereka sadar bahwa yang ditanya juga tidak punya solusi. Tapi begitulah, ketika pikiran sudah buntu, seringkali kita melontarkan pertanyaan yang sebenarnya hanya butuh pengakuan, bukan jawaban.

Akan sangat konyol bila kemudian saya menjawab, “Ikuti saran dokter,”

Dia sendiri pasti sudah tahu. Hanya saja realita dan ekspektasi sering tak sejalan. Mau saya bilang, “Berdoa saja,” rasanya juga aneh. Memangnya cuma saya yang selalu ingat berdoa? Bisa saja justru orang itu lebih sering berdoa.

Entah dari mana, tiba-tiba saya nyeletuk begitu saja:

“Sebenarnya bukan operasi, bukan kemo, bukan radiasi yang menyebabkan pasien bisa bertahan. Semua itu hanya ikhtiar untuk mengurangi dan mencegah penyebaran kanker. Pasien bisa bertahan hidup semata-mata karena kekuatan tubuhnya sendiri. Coba konsultasikan ke dokter soal diet yang cocok, lalu minta ahli gizi untuk menyusun menunya. Pasien butuh asupan nutrisi yang cukup supaya daya tahan tubuhnya kuat.”

Begitu selesai bicara, saya justru terdiam sendiri. Dari mana saya dapat ide seperti itu? Tapi sebelum sempat saya jawab pertanyaan sendiri, otak saya keburu kumat lagi, mengembangkan teori tanpa dasar, tentang kemungkinan memperkuat antibodi untuk melawan kanker.

Barangkali tambah mumet, atau sadar omongan saya tidak layak didengar, orang itu kemudian pamit.  Sementara saya,  plonga-plongo, mikir ulang semua yang barusan muncul di otak. 

Lalu, seperti biasa, kemudian bertanya kepada mbah Gugel. 

Ternyata otak saya tidak ngawur-ngawur amat. Memang ada terapi kanker dengan memanfaatkan kerja sistem imun tubuh. Hanya beda cara dari yang dibayangkan oleh otak saya. 

Sekilas sempat saya baca, imunoterapi minim efek samping. Laman Cancer Therapy Advisor mengatakan, because it targets only your immune system, you may experiance fewer side effects.

Sejauh ini memang hanya efek samping dari terapi yang membuat pikiran saya semakin kusut. Kalau ternyata ada terapi yang hanya menimbulkan sedikit efek samping, tentu sangat cocok dengan harapan saya.

Tapi, setelah saya membaca lebih lanjut, ternyata hanya seindah impian di siang bolong. Pada bagian Risk of immunotherapy disebutkan, some immunotherapies can cause your immune system to attack your intestines, kidney, heart, and other organs.

Lhaaaaaa, sami mawon!!!!

Dan harapan saya memanfaatkan imunoterapi semakin pupus setelah tahu kalau terapi itu hanya bekerja terhadap kanker tertentu, diantaranya kanker paru, ginjal, kandung kemih dan kanker serviks. Dari berbagai laman yang saya jelajahi, tidak satupun nyebut kanker kolorektal.

Ya wis lah, dilakoni yang ada saja, radiasi, kemo, lanjut operasi. Sambil berusaha (dan berdoa tentunya – ketimbang nanti ada yang protes, disangka tidak pernah berdoa), supaya terapi konvensional yang bakal dijalani Yuni nanti efek sampingnya hanya muncul yang ringan-ringan saja.

Sebagai ikhtiar tambahan, saya memutuskan kembali ke ide awal: memperbaiki daya tahan tubuh secara alami lewat asupan nutrisi. Bukan untuk melawan kankernya, tapi supaya tubuh Yuni kuat menghadapi efek samping terapi.

Masalahnya, menentukan asupan yang baik dan mana yang harus dihindari tidak mudah. Saya menerima saran. Harus begini, harus begitu. Hindari ini, jauhi itu. Tapi saya ragu, apakah semua itu beneran cocok untuk kondisi Yuni.

Contohnya saja, ada yang bilang mengurangi asupan karbo supaya sel kanker ‘kelaparan’. Tapi ternyata, menurut artikel eCancer: "The main goal of tumour cell is, above all, to survive... including the ability to continue surviving when glucose levels are very low. This could be one of the reasons why widely used anti-angiogenic agents often fail to eliminate cancer."4

Jadi, daripada saya asal mencoba, lebih baik saya tanyakan langsung pada dokter yang menangani Yuni. Ternyata jawabannya sederhana: kondisi Yuni tidak membutuhkan diet khusus. 

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa di tengah kebingungan dan keputusasaan, saya cenderung mencari jawaban instan atau solusi ajaib yang terdengar meyakinkan. Namun, realitanya, tidak ada jalan pintas untuk menghadapi kanker—hanya langkah-langkah kecil yang dijalani dengan sabar dan penuh harapan. 

Ketika tubuh lemah dan pikiran lelah, mungkin yang paling penting bukan sekadar berpegangan pada teori atau metode terapi, melainkan juga menjaga semangat, merawat tubuh dengan baik, dan tetap berpijak pada harapan yang realistis. Karena dalam perjalanan ini, bukan hanya soal bertahan, tapi juga bagaimana kita tetap manusiawi di tengah segala keterbatasan.

Catatan Kaki:

  1. American Cancer Society. A high Ki-67 index indicates aggressive tumor growth. https://www.cancer.org/
  2. Siloam Hospitals. Imunoterapi untuk kanker. https://www.siloamhospitals.com/
  3. Cancer Therapy Advisor. Because it targets only your immune system, you may experience fewer side effects. Some immunotherapies can cause your immune system to attack your intestines, kidney, heart, and other organs. https://www.cancertherapyadvisor.com/ 2
  4. eCancer. The main goal of tumour cell is, above all, to survive... including the ability to continue surviving when glucose levels are very low. https://ecancer.org/

10 Desember 2022

Ketika Nalar dan Hati Harus Kompak

JIH 9 Juli 2022

Meskipun sejak ditangani dokter bedah digestif, istri saya sudah empat hari menjalani rawat inap, biopsi dan kolostomi yang direncanakan belum bisa dilaksanakan. Masih harus menunggu kadar hemoglobin (HB) Yuni naik ke angka 10. Saat pertama masuk rumah sakit, HB Yuni hanya 4. Sudah mendapat transfusi beberapa kantong, tapi berdasarkan cek terakhir, HB baru sedikit di atas 8.

Sekali lagi, nalar saya menggedor-gedor kepala, mengingatkan kalau proses terapi ini mungkin bakal tidak selancar perkiraan awal. Kondisi Yuni punya potensi membuat prosedur pengobatan ini berliku-liku dan berkepanjangan. Ujungnya tentu saja akan berdampak pada biaya rumah sakit. Apalagi Yuni dirawat di kelas VIP.

Mumet lagi. Jual emas ternyata pajaknya gede. Jual kebon warisan dari mertua ……… enggak ah. Tanah – apalagi warisan, sebaiknya tidak dijual, kecuali duitnya digunakan untuk tambahan beli tanah barru yang lebih luas. 

Alternatif terakhir tinggal menjual saham. Saya memiliki 30 persen saham di rental mobil yang sudah 20an tahun saya kelola bersama teman. Tapi pemegang saham lain menolak keras. “Kamu keberatan bayar pajak emas, malah mau buang duit lebih banyak buat bayar pajak keuntungan jual saham?” 

Akhirnya, sebagai solusi, saya mendapat pinjaman lunak jangka panjang dari perusahaan.

Meskipun masalah keuangan bisa dianggap beres, hutang tetap hutang, nantinya harus dibayar. Jadi, saya tetap harus berhemat, supaya hutangnya tidak gede-gede amat. 

Saya sempat mengajukan turun kelas, ternyata waktunya tidak tepat. Kamar kelas satu dan dua sudah penuh kembali. 

Akhirnya, daripada otak saya tambah ruwet dan malah depresi, saya putuskan untuk memanfaatkan waktu tunggu ini dengan mencari informasi sebanyak mungkin tentang kanker. 

Saya mulai menyelami dunia yang sebelumnya hanya saya kenal lewat potongan-potongan cerita orang lain. Saya membaca artikel ilmiah, nonton video Youtube, testimoni pasien, dan panduan medis. Saya mencatat ringkasan dari berbagai sumber, dan mencoba memahami istilah-istilah medis yang asing.

Tapi, seperti sering saya alami, antara niat dengan hasil kadang tidak bersesuaian. Semakin banyak yang saya baca, semakin terasa seperti terjebak dalam labirin. Setiap informasi baru yang saya dapat seolah menambah beban di kepala. Saya berharap informasi ini bisa membuat saya tenang dan yakin dengan langkah yang akan diambil untuk Yuni. Tapi yang saya rasakan justru sebaliknya.

Ternyata pengetahuan lebih luas bukan hanya membawa pencerahan, tapi juga membawa bayang-bayang ketakutan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Saya jadi tahu betapa rumit dan tidak pasti jalannya pengobatan kanker. Lalu, tanpa diminta, otak saya mulai liar membayangkan segala kemungkinan buruk: komplikasi, efek samping, bahkan skenario-skenario yang paling tidak ingin saya pikirkan.

Saya jadi sulit tidur. Kadang saya duduk di depan layar laptop yang menyala tanpa tahu apa yang harus saya lakukan. Pikiran saya berputar-putar: bagaimana kalau terapi gagal? Bagaimana kalau biaya terus membengkak dan saya tidak sanggup lagi menutupinya? Bagaimana kalau saya terlalu lemah untuk mendampingi Yuni?

Saya merasa seperti sedang terombang-ambing di tengah laut, dengan ombak informasi yang datang dari segala arah. Setiap fakta baru tentang kanker bukan seperti pelampung yang menyelamatkan, tapi justru menjadi beban yang menarik saya jauh lebih ke dalam.

Ujung-ujungnya, saya hanya bisa menarik napas panjang,  dan berusaha menenangkan diri. Mengingatkan diri bahwa saya tidak boleh terlalu larut dalam rasa takut. Bahwa Yuni membutuhkan saya, bukan hanya sebagai orang yang mengambil keputusan, tapi sebagai suami yang tetap bisa memberikan ketenangan dan keyakinan.

Saya sadar, pengetahuan tanpa keteguhan hati hanya akan membuat saya semakin terpuruk. Jadi saya harus belajar memilah mana informasi yang benar-benar penting, dan mana yang hanya menambah beban pikiran tanpa manfaat nyata.

Karena meskipun semakin banyak tahu membuat saya merasa takut, saya juga tahu, saya tidak bisa berhenti di sini. Karena ini bukan hanya tentang saya—ini tentang Yuni. Tentang keberanian kami menghadapi sesuatu yang tidak pasti, dengan segala keterbatasan yang kami punya.

Saya sadar, nalar dan hati saya harus kompak. Karena hidup memang jarang memberikan jalan yang lurus dan mulus. Kadang kita harus siap berkelok-kelok, menahan diri, dan tetap mencari titik terang di ujung lorong.

Saya mematikan laptop, mematikan lampu, dan mencoba tidur. Dalam hati saya berdoa, semoga besok, dan hari-hari selanjutnya, saya tetap diberi kekuatan. Karena besok adalah satu langkah lagi menuju kesembuhan.



09 Desember 2022

Drama Kecil Tentang Radiasi

Di rumah ada dua smartphone, satu tablet, dan dua laptop. Saya gunakan semua untuk membuka laman-laman yang membahas radiasi. Secara bergantian saya baca, lalu saya tulis masing-masing ringkasannya di kertas HVS.

Lewat tengah malam, ketika saya mulai lelah, tanpa sengaja saya kembali "landing" di laman National Cancer Institute. Sebelumnya saya sudah teliti membaca paparan tentang radio terapinya. Materi yang dibahas tidak jauh beda dari laman-laman lain, hanya sedikit lebih detail. Tapi ketika menjelang menutup tab Chrome yang memuat laman NCI, sekilas saya sempat membaca kalimat:

"…THEN CANCER CELLS KEEP DYING FOR WEEKS OR MONTHS AFTER RADIATION THERAPY ENDS."

Saya merasa tidak pernah ketemu kalimat itu sebelumnya. Atau mungkin pernah terbaca sekilas, hanya karena otak terlalu lelah, jadi luput dari perhatian.

Sempat saya ulang membaca beberapa kali untuk memastikan bahwa memang yang tertulis seperti itu.

Jadi, sel kanker yang diradiasi hanya sekarat saja selama beberapa minggu, atau paling lama dalam hitungan bulan?

Tidak, tidak, tidak. Pasti bukan seperti itu maksudnya. Tidak mungkin mereka menggunakan terapi dengan risiko tinggi hanya untuk mendapat hasil sementara dalam hitungan minggu atau bulan saja.

Tiba-tiba saya merasa sangat lapar.

Setelah menghabiskan sebungkus Indomie guyur (hanya diguyur air panas doang, tanpa direbus) dan segelas kopi manis (naaahhhh, gula lagi), otak saya encer kembali. Barulah saya paham bahwa maksud kalimat itu adalah proses kematian sel kanker terus berlangsung sampai beberapa bulan kemudian setelah terapi berakhir. Bukan berarti selnya hanya sekarat selama beberapa minggu belaka, seperti dugaan semula.

Lega?

Ternyata malah membuat otak ugal-ugalan saya kambuh menciptakan skenario drama baru. Kalau proses pembunuhan terhadap sel kankernya saja berlangsung sampai selama itu, bagaimana nasib sel normal? Padahal kita tahu, sinar radiasi memicu sel normal bermutasi.

Saya memang sedikit punya masalah dengan otak yang kadang kebablasan kreatifnya dalam menciptakan skenario drama. Repotnya, kalau skenario itu saya abaikan, di belakang hari kadang beneran terjadi.

Seperti ketika saya pertama kali melihat rangka atap baja ringan, otak saya langsung melihat potensi tukang atap mati kesetrum seandainya ada kabel terkelupas nyenggol rangka. Merasa kemungkinan itu hanya drama rekayasa otak, saya abaikan dan tidak memberi saran pemilik rumah untuk memasang ELCB sebagai pengaman. Beberapa bulan kemudian beneran terjadi, ada kucing mati kesetrum, dan orang yang disuruh mengambil bangkainya nyaris ikut kesetrum.

(#Bagi yang belum tahu, ELCB berfungsi sebagai proteksi apabila terjadi kebocoran arus listrik pada peralatan listrik, atau ada yang kesetrum#)

Terlalu asyik ngulik internet membuat saya telat tidur. Besoknya bangun kesiangan dengan sekujur badan pegal berat. Gampang ditebak, trigliserida saya pasti njeplak tinggi. Sejak Yuni masuk rumah-sakit menu saya praktis dominan karbo dan gula. Anak sibuk ngurus emaknya. Tidak ada "satpam diet," membuat saya cenderung makan seadanya, asal enak di mulut.

"Harus selalu diawasi gitu? Nggak bisa mikir sendiri kalau istrimu sedang butuh kamu?" Gembul, teman imajiner saya, muncul lagi, langsung nyap-nyap. "Kalau langsung mati, tinggal sorong ke kuburan. Lah kalau kejet-kejet dulu di ICU, siapa yang ngopeni kamu? Punya duit buat bayar?"

Indomie rebus bakal sarapan pagi bersama kopi anget yang sudah siap di meja terpaksa dibuang.

Terus sarapan apa?

Nah, kan? Makanan yang dijajakan di luar semuanya mengandung karbo.

Di meja ada sisa alpukat dari jaman batu, masih bisa dimakan. Tapi kalau tanpa gula... hiyeeeekkkkk...

Akhirnya saya sarapan kentang iris goreng. Karbo juga sih, tapi masa nggak sarapan?

Bagi saya, kenyang identik dengan otak waras. Setelah membuat perjanjian dengan otak untuk tidak gentayangan seenak udel, saya kembali membaca penjelasan mengenai radiasi.

Efek samping masih membuat saya was-was, tapi nalar saya mulai bisa mengerti bahwa saya harus memilih terapi yang memberi manfaat maksimum sekalipun ada risiko besar bersamanya, ketimbang memilih risiko kecil tapi tidak bisa diharapkan manfaatnya. Saya berhadapan dengan kanker yang tidak kenal kompromi.

Sekarang saya mulai yakin, keputusan tetap lanjut radiasi bukan sekadar untung-untungan belaka. Selebihnya tinggal berdoa, semoga hasilnya baik, tanpa ada masalah di kemudian hari.

Saya tahu, keputusan ini tidak menjamin akhir yang mulus. Tapi hidup memang tidak pernah bisa ditebak. Kita hanya bisa berusaha semampu kita, mencari tahu sebanyak mungkin, lalu memilih langkah yang paling masuk akal—meskipun tetap dengan jantung deg-degan.

Kadang saya membayangkan, hidup ini seperti jalan malam di kampung yang sepi. Lampu depan motor cuma bisa menerangi beberapa meter ke depan. Tapi, meski tidak bisa melihat ujung jalan, kita tetap melaju pelan-pelan, percaya bahwa sepanjang tetap di jalur, kita akan sampai tujuan.

Dan kalaupun nanti di ujung jalan itu ada yang tidak sesuai harapan, setidaknya saya tahu bahwa saya sudah mencoba berpikir, berdoa, dan berjuang.

Saya tidak ingin menyesal hanya karena membiarkan rasa takut mengatur keputusan. Karena kalau ada satu hal yang saya pelajari dari malam-malam panjang bersama internet dan kopi manis: pengetahuan bisa menakutkan, tapi ketidaktahuan seringkali jauh lebih kejam.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL


08 Desember 2022

Selingan Yang Meresahkan

 %: Kenapa kamu tetap tidak percaya pada pengobatan alternatif yang jelas lebih aman?

@: Aku mendapat lebih dari 30 saran. Semua haqul yakin metode yang dia sarankan manjur dan aman, tapi hanya berdasar kesaksian orang yang tidak jelas identitas aslinya. Terus aku kudu percaya yang mana? Kalau kemudian terjadi masalah, siapa yang tangung-jawab?

%: Mikirmu terlalu ruwet.

@: Ini menyangkut hari depan istriku, bukan sekedar reparasi motor, kalau tidak cocok bisa ganti bengkel seenak udel.

%: Nah, itu kamu tahu. Kenapa masih milih cara yang punya resiko tinggi dan banyak gagalnya?

@: Dari mana kamu tahu kalau alternatif yang kamu usulkan itu tidak pernah gagal. Hanya berdasar informasi dari video dengan durasi 2 jam, bagaimana kamu bisa yakin tidak ada resiko dan efek sampingnya?

%: Bu dhe ku sembuh!!!!

@: Kapan bu dhemu mulai sakit, kapan dinyatakan sembuh, dan oleh siapa? 

%: Juli 2019 dokter bilang bu dhe kena kanker payudara. Dua tahun terapi herbal, desember 2021 oleh dokternya dinyatakan sembuh.

@: Setelah dua tahun menghindari pengobatan medis, bu dhemu tiba-tiba mengunjungi dokternya kembali, diperiksa, lalu dinyatakan sembuh. Begitu? Kowe ngarang cerita.

%: Dikandhani ngeyel

@: Kowe sing ngeyel. Tidak paham kanker tapi berani memberi saran. Orang-orang yang ngerti kanker tidak ada yang berani ngomong seyakin kamu.

%: Itu karena biar kamu tetap ikut cara mereka.

@: Enggak juga. Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang beneran aktif pernah merawat penyandang kanker. Bukan macam kamu, sekedar punya kerabat sakit kanker, cuma nengok satu atau dua bulan sekali, tapi berani memberi kesaksian.

%: Aku sering ngantar bu dhe kemo.

#Tipikal orang bohong, selalu kepleset lidah. Katanya tanpa terapi medis, tapi keceplosan ngaku sering ngantar kemo. Hampir saya debat di situ, tapi kemudian saya sadar tidak ada gunanya.#

@: Oke, sekarang tolong kasih penjelasan tentang alternatifmu. Apa yang dilakukan terhadap kanker? Bagaimana caranya membedakan sel normal dengan sel kanker supaya tidak salah sasaran?

Sudah lebih dari 3 bulan berlalu,  pertanyaan itu tidak dijawab, dan dia tidak pernah WA lagi.

Saya senang menerima masukan dari teman-teman. Apapun itu, semua saya pelajari. Bahkan kadang saya diskusikan dengan teman-teman yang paham pengobatan, baik medis maupun non medis. Tapi, seandainya usulan kalian tidak saya tindak-lanjuti, janganlah merasa saya abaikan.

Ada banyak faktor yang harus saya pertimbangkan sebelum mengambil keputusan, termasuk seandainya terjadi masalah. Jangan sampai saya disalahkan oleh dokter yang ketiban repot di belakang gara-gara saya memilih metode hanya berdasar informasi singkat dari video Youtube dan kesaksian segelintir orang belaka.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL

07 Desember 2022

Keputusan Yang Membelah Hati

Setelah kata kolostomi resmi jadi bagian dari hidup saya,, bab selanjutnya ternyata lebih seru lagi — masuk ke dunia pengobatan alternatif.

Begitu kabar penyakit Yuni mulai terdengar ke lingkaran teman dan saudara, telepon saya jadi lebih sibuk daripada biasanya. Ada yang menelepon sambil setengah berbisik, “Jangan kemoterapi, nanti malah tambah parah.” Ada yang kirim video testimoni pasien yang sembuh total karena minum rebusan akar langka dari gunung (tapi selalu tidak disebut dengan jelas identitas gunungnya). Ada juga yang datang langsung, membawa plastik kresek berisi botol-botol cairan coklat pekat yang katanya “pahitnya luar biasa, tapi manjur.”

Saya tahu, mereka peduli. Mereka ingin Yuni sembuh. Tapi yang mereka tidak tahu adalah: semua perhatian itu, secara tak langsung, justru menambah beban mental saya.

Setiap menerima satu saran, saya harus menyaringnya, menelusuri kebenarannya, lalu membuat keputusan. Bagian paling sulitnya, menolak tanpa melukai perasaan.

Saya sudah mencoba segala cara penolakan halus:

“Wah, makasih ya… nanti saya pelajari dulu.”

“Kayaknya belum bisa campur pengobatan, takut bentrok.”

“Dokternya bilang sebaiknya jangan dulu…”

Tapi tetap saja, ada satu-dua yang tersinggung. Bahkan ada yang berkata dengan nada tinggi,“Kalau nggak percaya sama saya, ya sudah. Nggak usah minta pendapat saya lagi.”

Padahal saya tidak pernah minta ke dia. Tapi ya sudahlah.

Di titik itulah saya belajar sesuatu yang penting: niat baik tidak selalu datang dalam kemasan yang mudah ditelan. Ada yang dibungkus ketulusan, ada juga yang terselip keinginan untuk "didengar dan diikuti."

Saya harus mengambil keputusan yang cukup menyakitkan. Saya tolak semua ramuan dan saran alternatif, bukan karena  merasa tahu segalanya, tapi karena saya sudah memilih untuk percaya pada jalan medis yang kami tempuh bersama dokter. Dan percaya itu penting, supaya langkah kami tidak selalu goyah di tengah jalan.

Yuni sendiri tidak pernah memaksa. Dia tahu saya jungkir balik mencari yang terbaik. Itulah yang akhirnya jadi pedoman saya, bukan mana yang lebih hebat, tapi mana yang lebih bisa kami jalani dengan penuh keyakinan.

Saya tidak bisa memaksakan diri untuk menyenangkan semua orang. Di saat seperti ini, saya harus belajar memilah, siapa yang bisa diajak jalan bareng, dan siapa yang lebih baik diam-diam dilepaskan.

Hidup ini tidak butuh terlalu banyak orang yang memberi pendapat. 

Saya tidak menyangka, keputusan yang bersifat pribadi dan saya ambil demi kenyamanan istri, justru bisa menimbulkan beban batin baru.

Ternyata, memilih jalan sendiri pun ada harganya.


06 Desember 2022

Kejelasan Yang Menggetarkan Nyali

 

Malam setelah bertemu dokter bedah digestif, dan menyatakan setuju pada rencana tindakannya, saya justru kembali galau. Saya tidak bisa tidur, teringat ibu saya, salah satu Bu Dhe dan seorang tante. Semuanya berpulang karena kanker. Wajah-wajah mereka satu per satu bermunculan di kepala saya, seperti parade kenangan yang tak diundang. Dan entah kenapa, semua cerita tentang kemoterapi yang “lebih menyakitkan dari sakitnya sendiri,” tentang radiasi yang “melemahkan sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur,” semua itu mendadak keluar dari arsip lama di otak saya — lengkap dengan efek suara dan musik latar horor.

Dulu saya mendengar cerita-cerita itu dengan kepala dingin. Tapi sekarang? Mereka berubah jadi monster-monster pikiran yang tidak bisa saya usir.

Saya berusaha rasional. Saya buka laptop, mencari informasi dari sumber-sumber yang katanya tepercaya: Mayo Clinic, WHO, laman rumah sakit besar, jurnal-jurnal kesehatan. Tapi ternyata, membaca data dan istilah medis saat mental sedang remuk bukanlah ide bagus. Kalimat seperti “efek samping umum: mual, muntah, kerontokan, kelelahan kronis, neuropati, gangguan sistem kekebalan” terasa seperti daftar siksa yang siap mengantri di depan pintu rumah.

Saya ingin menenangkan diri, tapi justru makin panik. Tidur tidak bisa, makan tidak selera, berbicara terasa seperti pekerjaan berat. Malam itu benar-benar seperti hukuman — bukan semata-mata karena kankernya, tapi karena ketidakpastian yang tiba-tiba kembali mengambil alih hidup saya.

Setelah semalam penuh kepanikan dan pencarian informasi yang tak kunjung menenangkan, akhirnya saya mendapat penjelasan dari salah satu teman, seorang tenaga medis yang tinggal di sisi lain Indonesia. Melalui video call dia menjelaskan tentang kanker dan terapinya secara rinci dan  sistematis.

Saya mengangguk. Badan saya duduk tegak ,tapi otak saya seperti tersedot ke dalam kabut.

Yang terjadi setelah itu bukanlah rasa lega. Justru sebaliknya. Dan di titik itu, saya benar-benar limbung. Begitu kerasnya tekanan terhadap batin, saya sampai mengalami diare lebih dari 4 kali  dalam waktu yang bahkan belum cukup buat orang lain menyelesaikan sarapan.

Perut saya mules. Kepala berdenyut. Pikiran kusut.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL