16 Mei 2026

Selalu Ada Drama di Kepalaku


Akhir 2022.

Begitu saya setuju kemo, otak langsung kerasukan Mang Ucup versi panik. Belum keluar ruang dokter, otak sudah teriak-teriak di kepala, “Duitnya dari mana?!”

Ada teori, otak tidak bisa tenang saat menghadapi kondisi tidak menentu. Maunya semua serba jelas: besok makan apa, uang ada berapa, dan apakah hidup akan berubah jadi sinetron azab atau tidak.

Biar tidak terus ribut sampai berjilid-jilid, saya beri solusinya, “Nanti setiba di rumah, taruh ember di bawah pancuran talang. Siapa tahu malam ini hujan duit, kita tidak perlu repot ngumpulin.”

Otak langsung tenang. Tapi tidak lama. Pantat baru nyentuh jok mobil, otak sudah menyajikan ilustrasi kepala Yuni gundul plontos. Dengan alasan butuh konsentrasi untuk nyetir, saya minta otak berhenti membuat skenario drama.

Nurut. Tapi beberapa detik kemudian, entah dari lorong memori sebelah mana, tiba-tiba muncul bayangan Sora Aoi.

Mobil yang sudah sempat mundur langsung saya hentikan. “Kita sama-sama bingung, tapi enggak gitu juga caranya. Sekarang fokus ke jalan. Nanti di rumah kita puyeng lagi barengan.”. Lalu saya segera meluncur dari parkiran rumah sakit, menuju lobby utama, sambil mencoba berpura-pura waras

Menjelang tidur otak malah menggelar acara “Kilasan Memori Lama”, diantaranya membawa saya kembali ketika ada teman menjalani perawatan kanker. Biaya sekali kemo belasan juta. Sementara kemonya berlangsung sampai 8 siklus. Belum obat tambahan. Belum pemeriksaan ini-itu. Belum biaya tak terduga yang biasanya muncul dengan santai seperti iklan YouTube.

Alih-alih istirahat, saya mecicil sampai pagi dengan pikiran semrawut.

Besoknya, meskipun ngantor, saya tidak bekerja. Otak yang mampet dan ngantuk berat membat saya hanya glundang-glundung di kamar OB. Tidak bisa tidur, tapi melekpun ogah. Sementara isi kepala sudah seperti festival sound horeg.

Drama yang disajikan otak semakin meriah setelah saya tahu istri saya akan menerima dua macam obat kemo. Oxaliplatin melalui infus, dan Taceral yang diminum seperti obat biasa.

Masalahnya, saya baru ingat belum bertanya tentang resiko dari urin pasien terhadap orang sehat dua hari setelah konsultasi berlalu. Ketika bertanya pada mbah Gugel, saya mendapat jawaban lugas dan sukses bikin bulu kuduk njengat: Urine pasien mengandung sisa obat yang bersifat toksik selama 48 sampai 72 jam setelah pengobatan.

Kalau obat infus yang hanya diberikan sebulan sekali saja resikonya sampai 3 hari, bagaimana dengan obat oral yang diminum setiap hari selama 20 hari? Sedangkan sekedar menyentuh obatpun harus menggunakan sarung tangan pelindung, dan bekas kemasannya harus di kembalikan ke rumah-sakit – tidak boleh dibuang sembarangan.

Tapi hidup kadang suka aneh. Banyak pikiran malah membuat urusan jadi lancar. Siklus kemo pertama tahu-tahu sudah berlalu. Biaya kemo di kelas 3 lumayan terjangkau. Tidak sampai 30% dari biaya yang dibayar oleh teman saya. Kerepotan di kamar mandi teratasi dengan sendirinya. Istri saya ternyata sudah tahu tata cara buang air yang aman, termasuk selalu menutup kloset sebelum menyiram.

Paling penting, siklus pertama berlalu tanpa kendala terhadap pasien.

Bahkan sampai siklus ketiga berlalu, gejala botak tidak nampak. Rambut memang rontok lebih banyak dari biasanya, tapi masih dalam batas wajar. Tapi siklus ke empat terpaksa ditunda, karena trombosit ngedrop sampai hanya tinggal 26.000.

Setelah trombosit kembali normal, dokter memutuskan melakukan operasi terlebih dahulu untuk mengangkat kankernya.

Di titik itu saya mulai sadar, kadang yang paling melelahkan dari sebuah perjalanan bukan hanya penyakitnya — tapi isi kepala yang hobi lari lebih dulu ke segala kemungkinan buruk.

Tidak ada komentar: