Radiasi dijadwalkan sebanyak 25 kali, dimulai pertengahan Juli 2022. Sebelum radiasi yang sesungguhnya, terlebih dahulu dilakukan simulasi. Otak saya yang masih ruwet sempat bertanya tanya, untuk apa? Memangnya dokter dan petugasnya perlu latihan dulu?
Ternyata simulasi itu untuk memetakan lokasi yang akan disinar,
dan menentukan masker yang akan menutup bagian tubuh yang tidak masuk sebagai
target. Bagian bawah perut istri saya diberi coretan di beberapa titik. Rasanya
seperti melihat teknisi mau pasang parabola, cuma yang ini antenanya organ
dalam.
Meskipun sudah sedikit ngerti tentang radiasi berikut efek
sampingnya, dan sudah pula mendapat penjelasan dari dokter, otak saya tetap
tidak bisa tenang. Hari pertama radiasi, otak saya sibuk bikin festival drama.
Skenario “bagaimana seandainya” muncul satu per satu, membuat
saya jadi lapar berat – padahal saat itu saya sedang menjalani diet untuk
Trigliserida yang nangkring di atas 1000mg/dL.
Ruang tunggu yang nyaman, sejuk dan tenang tidak mampu
membuat otak sedikit tenang. Bahkan ketika nalar saya berulang kali memberi
peringatan, Trigliserida di atas 1000 ibarat kaki kanan di rumahsakit, kaki
kiri ancang ancang ke kuburan, saya tidak lagi perduli.
Seluruh rangkaian radiasi hanya berlangsung kurang dari 30
menit. Antrian juga hanya 2 pasien. Tapi waktu yang hanya singkat itu bukan
halangan, dua porsi migoreng dan segelas teh manis di kantin Sebelah instalasi
radioterapi ludes tanpa sisa.
Radiasi dijadwalkan lima kali seminggu, mulai Senin sampai
Jumat. Sabtu dan Minggu mungkin untuk memberi kesempatan tubuh istirahat –
sebenarnya mengenai jeda ini juga sudah dijelaskan oleh dokter saat konsul
pertama menjelang simulasi, tapi saat itu otak saya lebih fokus mikir biaya.
Setelah terkuras untuk biopsi dan kolostomi, tiga rekening
tabungan saya total saldonya kurang dari 8 juta, padahal biaya sekali radiasi
sekitar 3 juta.
Sebenarnya ada 3 pelanggan yang masih nunggak belum melunasi
tagihan lebih dari 5 tahun. Tapi ketika saya tagih, alih alih bayar, malah
ngamuk.
Sempat kepikiran jual emas tabungan, tapi kata konsultan
pajak saya, pajaknya terlalu besar. Rupanya selisih antara harga jual dengan
harga beli dianggap sebagai keuntungan. Ada pajaknya.
Emas itu saya beli tahun 1998, seharga 32 ribu per gram.
Seandainya laku 900 ribu per gram, yang 868 ribu dianggap sebagai keuntungan.
Per 100 gram dianggap mendapat keuntungan 86,8 juta. Bisa kena pajak lebih dari
13 juta.
Konsultan memberi saran, mending jual mobil. Masalahnya,
mobil itu salah satu sumber penghasilan saya. Kalau dijual, sama saja memotong
tangan untuk membeli perban. Tapi berhubung tidak nemu cara lain, akhirnya
saran itu saya turuti.
Alhamdulillah seluruh 25 sesi radiasi berlangsung lancar.
Tidak ada efek samping berarti, kecuali gejala-gejala ringan seperti pada
umumnya.
Sebelumnya dokter bedah digestif, yang akan menangani
kankernya, memberi tahu, “Seandainya lancar, saya harap massanya bisa susut 15
sampai 20 persen.” Kaitannya tentu dengan volume massa yang akan diambil.
Berdasar hasil MRI setelah radiasi, ternyata massa susut
lebih banyak. Tapi karena itu pula, dokter malah memutuskan kemoterapi dulu
sebelum kankernya diambil.
Keputusan itu membuat saya merasa seperti ketemu emak-emak
sen kiri belok kanan. Sebelumnya tidak ada wacana kemo. Rencananya, selesai
radiasi langsung operasi.
Barangkali karena uang penjualan mobil masih tersisa
lumayan, otak saya membuat skenario lain: Tanpa basa basi menampilkan bayangan
istri saya gundul plontos.
Saya berulang kali memaksa diri fokus pada urusan
rasional—biaya, jadwal, dan prosedur. Tapi otak ini bandel. Visualisasinya
makin jelas. Sampai suatu hari, tanpa sadar saya misuh pelan tapi tegas, “Could
you please shut the f**k up?”
Misuhnya saja sudah membuat orang-orang di sekitar
njenggirat. Pakai bahasa Inggris pula. Membuat saya lebih mirip wong gendeng
stres.
Buru-buru saya dekatkan ponsel ke telinga, berlagak sedang telepon.
Sambil pelan-pelan geser, lalu ngacir.
Di balik semua drama itu, saya belajar satu hal penting:
sering kali yang paling melelahkan bukan radiasinya, bukan kemoterapinya,
bahkan bukan tagihan biayanya. Yang paling melelahkan adalah otak sendiri—yang
merasa paling pintar mengantisipasi masa depan, padahal kenyataannya cuma ahli menakut-nakuti
diri sendiri.
Istri saya menjalani semuanya dengan lebih tenang daripada
saya. Dia yang disinar, dia yang akan dikemo, tapi justru saya yang sibuk bikin
film horor di kepala sendiri.
Mungkin memang begitu. Setiap orang punya medan perangnya masing-masing.
Ada yang berperang di tubuh. Ada yang berperang di pikiran.
Dari 25 kali radiasi itu, saya sadar: kadang yang perlu disinar
bukan cuma sel kanker. Pikiran yang terlalu liar juga perlu “disinari” dengan
sedikit logika, sedikit iman, dan kalau perlu dua porsi mi goreng dan segelas
teh manis.
Trigliserida biar Tuhan yang atur.
LABEL: KANKER KOLOREKTAL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar