24 Desember 2025

Pikiran yang Sering Kacau

Pernah nggak, badan lagi duduk manis, kopi masih panas, dunia kelihatan baik-baik saja, tapi di kepala sudah rame mirip terminal bus menjelang Lebaran?

Ada yang teriak, “Gimana nanti kalau begini?”

Yang lain nyamber, “Eh, tapi dulu kan pernah kejadian begitu.”

Belum sempat ditengahi, muncul satu suara sok bijak, “Semua ini akibat dari kesalahan yang kamu timbun sejak masih kuliah.”

Atas pengakuan karena sering mengalami kejadian seperti itu, saya menerima ucapan selamat dari para AI. Mereka sepakat, pikiran saya sedang overthinking, bukan rusak. Informasi ini seharusnya melegakan. Tapi entah kenapa, saya malah overthinking soal overthinking-nya.

Kenapa Pikiran Sering Kacau?

Pertama-tama perlu diluruskan dulu: pikiran itu alat, bukan penguasa. Masalahnya, alat ini terlalu rajin.

Tidak pernah libur, tidak kenal jam kerja, dan punya hobi melakukan simulasi bencana. Kalau saja ada piala Oscar untuk "Karyawan Paling Rajin tapi Paling Bikin Rusuh", pikiran saya sudah menang sejak lahir.

Fungsi asli pikiran itu sederhana: Menganalisa, mengingat dan mengantisipasi bahaya. Di jaman ketika nenek moyang kita masih berburu mammoth dan tidur di gua, kemampuan ini sangat berguna. "Eh, semak itu gerak. Jangan-jangan harimau." Dan boom, nyawa selamat.

Tapi entah sejak kapan, pikiran berkembang jadi sutradara film horor merangkap penulis skenario, sekaligus MC talkshow tengah malam di dalam kepala. Lebih parah lagi, dia produksi konten 24/7 tanpa permisi. Sedikit data, dipelintir. Sedikit pengalaman pahit, diputar ulang dengan slow motion dan soundtrack dramatis. Sedikit ketidakpastian, langsung dibuat 10 kemungkinan terburuk plus bonus ending alternatif yang lebih mengerikan.

Masih menurut para AI, semua itu terjadi bukan karena saya lemah, tapi justru karena pikiran saya terlalu kreatif, hanya kurang diawasi. Mungkin bisa dibilang, overthinking adalah talenta yang salah alamat. 

Overthinking: Googling Tanpa Filter

Tak pikir-pikir, overthinking itu seperti bertanya pada Google tanpa memberi filter. Saya pernah bertanya, kenapa gampang capek? Responnya singkat, jelas dan secara ilmu pengetahuan memang benar: Kurang tidur, stres, burnout, penyakit langka, dan faktor umur. Semua dirangkum dalam narasi dengan judul "Gejala Awal yang Sering Diabaikan." 

Tak lama kemudian, saya diyakinkan mengalami gejala penyakit autoimun, kekurangan vitamin D, dan mungkin juga diabetes tipe entah berapa. Padahal yang sebenarnya terjadi: saya cuma sering begadang di angkringan sebelah, nonton orang debat ijazah palsu Jokowi.

Pikiran bekerja persis begitu. Ketemu satu sensasi kecil, langsung browsing internal tanpa sensor. Semua file dibuka. Termasuk yang sudah diarsipkan dengan label "Jangan Dibuka Lagi."  Lucunya, saya sering percaya begitu saja tanpa cek sumbernya. Kalau pikiran bilang, "Kamu pasti gagal," saya langsung angguk. Padahal, kalau orang lain yang bilang, saya masih sempat debat. 

Masalah utamanya bukan pikiran, Tapi saya terlalu nurut

plot twist-nya: pikiran sebenarnya tidak jahat. Dia cuma terlalu bersemangat, seperti anak magang yang baru kerja seminggu tapi sudah mau reorganisasi seluruh perusahaan.

Ketika Pikiran bertanya: “Kalau nanti gagal gimana?” 

Mestinya itu cuma pertanyaan, bukan perintah, bukan ramalan, apalagi vonis. Tapi apa yang saya lakukan? Alih-alih tetap fokus pada tujuan, saya malah cenderung setuju. Bahkan ikut menambahkan skenario kegagalan versi extended director's cut.

Ketika dia bertanya, "Bagaimana kalau orang lain menilai buruk?" lagi-lagi saya membiarkan saran itu menguasai nalar. Padahal, orang lain mungkin bahkan tidak ingat nama saya. Tapi di kepala, saya sudah jadi trending topic dengan 10 ribu komentar negatif.

Akhirnya saya tidak bisa menolak saat pikiran merasa jadi bos dan menganggap saya wajib nurut. Pikiran tidak melakukan kudeta. Tidak ada rapat darurat, tidak ada deklarasi kemerdekaan. Tapi saya sendiri yang membiarkan dia mengambil alih posisi sebagai pemimpin. Padahal seharusnya, pikiran hanya asisten.

Sedikit Rahasia: Kesadaran Itu Lebih Luas dari Pikiran

Konon katanya, sesuatu yang membuat kita merasa sebagai “aku”, adalah kesadaran, bukan pikiran. Kesadaran adalah ruang, sementara pikiran hanya sekedar suara. Mirip seperti lagu yang didengar melalui radio di ruang tamu. Yang berisik adalah lagunya. Ruang tetap tenang tanpa ikut rusuh. Tapi orang yang mendengar punya dua pilihan, cuek tidak terpengaruh, atau membiarkan emosinya larut dalam suasana, dan berujung mengalami kelelahan mental.

Kesadaran bukan kumpulan pikiran, melainkan tempat pikiran lewat. Seperti layar bioskop yang tidak berubah meski filmnya berganti-ganti. Layar tetap putih, entah yang tayang film horor atau komedi romantis. Kabar baiknya, apapun yang lewat, silakan lewat saja. Kita tidak wajib menanggapi, tidak harus percaya, apalagi mengikuti..

Yaaa, teorinya begitu. Prakteknya ternyata tidak gampang;

Tapi sekarang saya punya cara lumayan manjur untuk membuat yang tidak gampang itu menjadi lumayan tidak sulit. Satu kata saja: CUEK.

Bukan cuek dalam arti tidak peduli atau masa bodoh. Bukan juga cuek seperti orang yang nonton rumahnya kebakaran sambil minum es teh. Melainkan cuek versi bijak dari orang yang kenyang kena gampar paja. Cuek yang sadar. Cuek yang paham kalau tidak semua yang terlintas di kepala layak ditanggapi serius.

Kalau pagi-pagi kepala terasa kacau, tidak perlu buru-buru menyimpulkan ada yang salah. Santai saja. Meringis dikit juga boleh. Setelah itu tarik napas panjang, tahan sebentar, lalu hembuskan lebih pelan. Biarkan yang di kepala terus ngoceh. 

Ini trik yang paling aneh tapi paling ampuh: jangan melawan. Semakin kita berusaha mematikan pikiran, semakin ribut dia. Seperti anak kecil yang lagi tantrum. Kalau diabaikan, lama-lama capek sendiri.

Biasanya, semakin saya tenang, lama-lama pikiran akan ikut tenang. Dia masih ngomong, tapi volume-nya turun. Dari teriakan jadi bisikan. Dari bisikan jadi gumaman. Dari gumaman jadi diam. Kalaupun masih rewel, kemungkinan memang sudah waktunya sarapan. 

Pikiran tidak akan pernah diam sepenuhnya. Dan mungkin memang tidak perlu. Dia punya peran penting, selama kita tidak memberinya kekuasaan mutlak. Selama kita ingat bahwa dia cuma asisten, bukan CEO kehidupan kita.


Related Post:
1. Kepala yang Selalu Rame

22 Desember 2025

Kepala yang Selalu Rame

Sepertinya, semua masalah yang saya alami bermula dari kepala yang selalu rame tanpa kenal waktu. Enggak perduli mata baru melek, siang, sore, sampai menjelang tidur lagi, ada saja celotehannya.

Kadang baru bangun tidur, mata masih setengah melek, nyawa belum ngumpul, tapi di kepala sudah ada demo akbar. Ada yang sekedar berkomentar, ada yang mengeluh. Yang lain mengingatkan hal-hal yang belum tentu penting tapi maksa masuk. Lengkap dengan nada mendesak, seolah semua harus dibereskan saat itu juga.

Mending kalau sekedar rame seperti pasar malam – masih ada musik, ada lampu warna-warni. Setidaknya ada hiburan. Yang saya alami lebih mirip kejebak di tengah pasar senggol. Selain bising, berdiri diampun badan kena senggol dari segala arah.

Pada saat saya diam, kepala justru lebih puyeng ketimbang ketika saya mengerjakan sesuatu. Diam bengong membuat segala celotehan lebih terasa nendang. Tanpa ada distraksi dari luar, pikiran seolah mendapat panggung spesial untuk mengadakan pertunjukan tanpa jeda

Otak yang pada dasarnya memang kreatif, menjadi semakin produktif menciptakan skenario-skenario seru, tanpa perduli apakah bagi saya skenario itu bermanfaat atau malah kontra produktif. Ada kilas balik percakapan beberapa tahun lalu yang sebenarnya sudah tidak relevan. Ada juga simulasi peristiwa yang belum tentu terjadi, tapi sudah diproduksi dengan detail sinematik lengkap—dari prolog sampai credit title.

Yang sering bikin saya tambah stres bukan ramainya, tapi rasa cemas, kuwatir, bahkan kadang sampai ketakutan, yang muncul setelahnya. Kadang malah sampai kepikiran, jangan-jangan ada yang konslet di dalam. Apakah ini normal? Apakah orang lain juga begini? Atau jangan-jangan hanya otak saya satu-satunya kerja lembur meskipun tanpa dibayar.

Konsultasi dengan AI (Karena Psikolog Mahal)

Tapi, menurut para AI yang saya tanya, kepala rame bukan pertanda buruk. Justru sebaliknya, menunjukkan kalau saya terbiasa mikir, menyimpan banyak pengalaman, dan punya tanggungjawab – untuk jawaban terakhir saya terpaksa sedikit meringis. Apa hubungannya otak yang ngigau macam orang mabok dengan tanggungjawab?

.Ternyata, masih menurut AI, yang membuat saya kedodoran bukan jumlah “suaranya”, melainkan cara saya menanggapi. Bukan soal berapa banyak pikiran yang muncul, tapi seberapa serius saya menganggap setiap pikiran itu sebagai darurat nasional.

Berhubung saya tidak punya referensi lain, ya wis lah, penjelasan AI diterma dulu, ketimbang saya nebak-nebak sendiri, lalu merasa paling benar, padahal kesasar jauh.

Masih menurut AI, meskipun kepala saya selalu kebanjiran berbagai pikiran yang kebanyakan ngaco, tidak berarti saya ikut kacau. Pikiran-pikiran itu hanya salah satu hasil aktivitas otak. Awalnya saya ibaratkan asap kenalpot yang berasal dari proses pembakaran di mesin. Tapi kemudian dikoreksi oleh AI. Mungkin keberatan, pikiran disamakan dengan asap kenalpot yang kotor dan harus dibuang, AI memilih perumpamaan awan.

Mau berwujud gumpalan hitam kelam, bergulung-gulung membawa badai, atau seputih kapas dan merayap pelan, sama sekali tidak berpengaruh terhadap langit di atasnya. Mendung pekat tidak akan membuat langit retak.

Lah iya, bagaimana mau retak kalau sesungguhnya langit tidak pernah ada?

Beruntung saya segera sadar, konsultasi gratisan, gak boleh ngeyel.

Dari Melawan menjadi Membiarkan

Dulu saya sering mencoba mengusir keramaian di kepala itu. Saya suruh diam, saya sangkal, bahkan saya lawan, dengan harapan mereka akan tertib bubar dan meninggalkan kepala saya dalam ketenangan.

Ternyata malah tambah ribut. Macam demonstran bayaran enggak kebagian nasi bungkus.

Sampai suatu hari saya lelah sendiri, lalu berkata dalam hati: “Oh, kalian lagi kumpul? Ya sudah. Silakan.” Bukan dengan nada pasrah, tapi lebih ke... ya sudah, mau bagaimana lagi.

Seperti biasa, pikiran-pikiran itu tambah meriah. Tapi kali ini terasa sedikit beda. Seperti ada jarak. Saya tidak lagi merasa kena tonjok, tapi lebih mirip nonton demo dari kejauhan. Bisa melihat, bisa mendengar, tapi jauh dari resiko kena timpuk.

Apa pun narasi yang muncul—olok-olok saya akan gagal, nyinyiran yang menghakimi, atau ramalan masa depan suram—semua lewat begitu saja. Blas tidak nyenggol. Semakin lama saya perhatikan, justru terasa semakin asyik. Seperti nonton talk show, di mana semua tamu bicara seru, tapi tidak ada kewajiban untuk setuju atau tidak setuju.

Tenang Bukan Karena Sunyi

Saat itulah, untuk pertama kalinya, saya merasakan sesuatu yang berbeda: tenang bukan karena suara hilang, tapi karena saya tidak ikut berisik. Kepala masih ramai, tapi saya tidak lagi menjadi bagian dari kegaduhan. Saya bisa mendengar, tapi tidak harus menanggapi. Bisa melihat, tapi tidak harus bereaksi. Ada jarak tipis yang membuat segalanya terasa lebih ringan.

Sejak saat itu saya tidak lagi menganggap otak saya soak. Kalau kepala sedang ramai, mungkin tanda ada banyak “perangkat” di dalam yang sedang bekerja. Mungkin itu cara otak memproses informasi, mengurai emosi, atau sekadar mengisi waktu luang karena bosan.

Dan mungkin, yang lebih penting, saya tidak perlu memperbaiki apa pun. Yang perlu saya lakukan hanyalah belajar hidup berdampingan dengan segala keramaian itu—tanpa terlalu mengambil pusing, tanpa terlalu percaya, dan tanpa terlalu takut. Karena pada akhirnya, pikiran hanyalah pikiran. Lewat, muncul, hilang lagi. Seperti awan di langit. 


Related Post:
1. Nemu Dunia Baru
2. Pikiran yang Sering Kacau

04 Desember 2025

Rasa Takut Adalah Alarm, Bukan Musuh

Seorang terapis pernah memberi tahu saya cara mengatasi fobia terhadap jarum suntik. Dia mengajarkan teknik pernapasan dalam dan berbagai cara mengalihkan perhatian. Dia mengaku, metode itu pernah digunakan untuk mengatasi rasa takutnya saat ngantri vaksin covid dan booster.

Tapi, dia nampak bingung ketika saya memberitahu bahwa teror jarum sudah mulai saya rasakan sejak sehari sebelum suntik, bukan hanya ketika nunggu antrian.

"Bagaimana cara mengalihkan perhatian dari rasa takut yang berlangsung sepanjang hari tanpa jeda?" tanya saya. "Bagaimana saya bisa melakukan pernapasan dalam kalau pikiran sudah dibajak rasa takut sejak pagi?"

Dia terdiam sejenak sebelum memberi nasehat klise yang membuat saya terpaksa pura-pura takjub sebelum memilih diam: "Bapak harus berusaha meyakinkan diri bahwa rasa sakit disuntik hanya sebentar dan bertujuan untuk kebaikan..."

Saya hampir tertawa getir. Dia tidak paham. Saya bukan takut sakitnya. Sesakit apa pun ketika disuntik, belum seberapa dibanding pijat petir yang pernah beberapa kali saya jalani. Padahal sebelum dipijat, saya tetap santai-santai saja.

Saya phobia terhadap jarum suntiknya. Bahkan melihat fotonyapun bisa membuat saya demam tinggi. 

Sejak 2016 saya rutin periksa darah sebulan sekali. Pengalaman disuntik berulang kali tidak banyak membantu. Gejala kacau tetap terjadi, dan selalu muncul sejak pagi, sehari sebelum jadwal suntik. 

Suara di Kepala yang Berubah Jadi Ancaman

Selalu ada suara di kepala yang mengingatkan, bahwa rasa deg-degan itu bisa memicu masalah baru. Awalnya, suara itu terasa sebagai nasehat, tapi belakangan malah menjadi ancaman halus.

Ketika istri saya menjalani perawatan cukup lama di rumah sakit, teror jarum menjadi menu harian. Gara-gara sering melihat perawat lalu-lalang membawa nampan berisi suntikan, di mata saya, senyum ramah mereka terlihat seperti senyum algojo.

Saya bisa santai dan fokus saat ketemu dokter, membahas kondisi istri, tapi begitu berurusan dengan perawat—meski hanya untuk minta bantuan mengganti alas tidur—langsung keluar keringat dingin.

Suatu ketika, saat berpapasan di pintu kamar, salah satu perawat bertanya, “Bapak takut jarum suntik?”

Pertanyaan mendadak itu membuat saya hanya bisa meringis sambil mengangguk.

“Sebentar lagi shift saya selesai, kalau Bapak berkenan, saya ingin bicara sebentar.”

Sepertinya dia menyadari, saya selalu menatap ke arah tangannya setiap kali kami berpapasan—mungkin dengan ekspresi ketakutan yang terlalu jelas untuk diabaikan.

Pelajaran dari Simbah

Tak lama kemudian, di Hall lantai dua tempat kami bertemu, dia bercerita, "Saya juga pernah mengalami. Namanya trypanophobia. Setiap kali terbayang jarum suntik, kepala jadi pusing, jantung berdebar keras, kadang sampai demam."

Saya hanya diam. Antara kaget, heran, dan sedikit tidak percaya, orang yang sehari hari berurusan dengan alat suntik ternyata pernah mengalami nasib sama.

“Setiap kali saya mencoba menghalau, bayangan jarumnya semakin lengket di kepala. Semakin dilawan, semakin kuat.”

 Dia berhenti sesaat, seolah memastikan saya masih bisa diajak bicara.

“Kata Simbah, pikiran negatif tidak perlu dilawan. Otak kita punya mekanisme pertahanan kuat untuk menolak setiap perlawanan.”

Entah kenapa, kata “Simbah”, bukan Kakek atau Eyang, membuat saya merasa, di belakang perawat muda itu berdiri sosok yang kenyang menghadapi masalah dan mampu mengatasi kesulitan dengan bijak.

“Rasa takut bukan musuh, tapi peringatan terhadap potensi bahaya. Tidak perlu dilawan. Kalau potensi ancamannya tidak jelas, tidak perlu diladeni. Biarkan saja perasaan itu bermain sepuasnya di kepala, seperti Simbah membiarkan anak-anak tetangga bermain di halam rumahnya. Mungkin sedikit berisik dan mengganggu, tapi anggap saja sedang berada di tempat ramai.”

Sebenarnya, terapis saya juga pernah memberi petunjuk serupa: mengabaikan apa pun pikiran negatif yang muncul. Hanya saja saat itu saya merasa seperti berhadapan dengan guru yang sedang mendiktekan catatan, ketimbang terapis yang berusaha membantu saya mengatasi masalah.

Perawat itu hanya bercerita tentang pengalamannya sendiri, tapi saya merasa seperti melihat peta Google, lengkap dengan alternatif rute yang bisa saya tempuh. 

Ketika saya terapkan, meskipun tidak sepenuhnya membuat saya lepas dari fobia, saya mulai bisa tenang. Bahkan sekarang bisa mengisi cartridge tinta printer menggunakan suntikan tanpa membuat jantung gedubrakan.   

Ternyata, kadang yang kita butuhkan bukan instruksi klinis atau teknik canggih, melainkan cerita dari seseorang yang pernah berdiri di tempat yang sama. Mengalami ketakutan yang sama—dan selamat melewatinya.


LABEL: BANGKIT DARI ABU

02 Desember 2025

Otak Membutuhkan Target yang Jelas dan Terukur

Salah satu teman hunting foto mengeluh, “Sudah Desember lagi dan kita masih begini-begini saja.” 

Pensiunan 2019 dari salah satu BUMN makmur itu menarik lipatan  kertas dari slender wallet berlogo LV. Di kertas itu tertulis beberapa target yang ingin dicapai tahun 2025, dan menurutnya, semua luput. Salah satu target yang sempat saya baca: Hidup tenang.

Sambil tetap memperhatikan LCD kamera, saya menanggapi singkat, “Kamu, bukan kita. Aku baik-baik saja.”

Begitu mulut saya mingkem, dia langsung nyaut, “Umurmu 64, terpaksa kembali mengais recehan, kamu merasa baik-baik saja?”  

Saya berpaling dari kamera, memandang wajah tuanya yang kinclong dan terawat. “Setelah ngebut di jalan tol, di luar gerbang ketemu macet sampai tidak bisa gerak, apakah sambat membuat jalan langsung lega?”

“Lalu kamu menyerah begitu saja?”

“Aku menyesuaikan diri dengan irama, sambil menunggu peluang.”

“Peluang dibuat, bukan ditunggu.”

Saya tidak menjawab. Jauh di depan ada momen indah yang tak boleh dibiarkan berlalu tanpa diabadikan. 

Meskipun kamera prosumer saya kurang ideal untuk motret beruntun, dengan sedikit repot, saya berhasil motret seekor monyet betina mengendong anak sedang melompat di antara pohon.  

“Peluang seperti ini hanya bisa ditunggu” Saya tunjukkan hasil jepretannya.

Setelah memperhatikan pohon tempat monyet melompat, ternyata lumayan jauh dari tempat kami duduk, dia bertanya, “Bagaimana kamu bisa melihat ada monyet di sana?”

“Karena aku menunggu. Ketika otak diberi target, mata minus 16 bukan lagi masalah untuk mendapatkan obyek menarik di luar jangkauan.”

Barangkali tidak terima, lantaran merasa perlengkapannya yang lebih mahal dari motor Xmax dikalahkan oleh kamera prosumer tua yang sembilan tahun lalu saya beli 8 juta, dia langsung beraksi. Tapi, setelah beberapa jepretan, ternyata hasilnya tidak seindah harapan.

Komentar saya pendek saja, “You need emotional content”

Dengan sedikit repot melintasi medan yang lumayan sulit, dia menaiki batu besar untuk mendapatkan posisi bidikan lebih leluasa. Tapi hasilnya malah lebih kacau.

Sayapun berlagak Bruce Lee, “Emotional content, not anger.

Setelah dia berhasil menguasai diri, hasil fotonya jauh lebih bagus ketimbang yang bisa saya dapat. Bagaimanapun, kamera prosumer bukan tandingan EOS R5 Mark II.

Sambil menikmati cemilan bekal, saya menyinggung target resolusi yang menurut dia gagal total. 

“Dengan saldo rekening milyaran, ketika kamu menetapkan hidup tenang sebagai target resolusi, kamu seperti membidik pohon di depan hidung menggunakan lensa tele. Daun-daun dan ranting yang masuk frame tidak punya cerita. Ketika kamu membidik seekor monyet, fotomu punya point of view. Hasil jepretanmu lebih mudah dinikmati.”

“Kamu tidak pengin kembali seperti dulu lagi, hidup mapan, tidak harus memburu receh tiap hari?”

“Tentu pengin. Itu sebabnya aku terus belajar, biar kualitas panen kangkungku tambah bagus dan restoran-restoran istrimu tidak keberatan bayar lebih mahal.”

Dia terdiam sejenak, kemudian bicara sambil meringis. “Jadi menurutmu, targetku terlalu luas?”

“Terlalu kabur. Hidup tenang seperti apa yang kamu inginkan? Bebas dari kewajiban? Tidak punya masalah? Tidak ada yang mengganggu?” 

Saya jeda sebentar. “Kamu mestinya bisa hidup tenang. Pensiun dengan uang berlimpah, bisa jalan-jalan kapan saja, semua hobi mahalmu terfasilitasi. Kalau kamu masih merasa gagal, karena kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kamu cari. Seperti motret tanpa subjek yang jelas. Sekedar jepret-jepret sekenanya.”

Dia menatap kamera di tangannya, kemudian mengangguk pelan. “Awal pensiun aku merasa lega, bisa terbebas dari rutinitas, tapi sekarang aku malah bosan. Setiap hari hanya begitu saja. Monoton.”

Kami kembali mengamati pepohonan di depan, menunggu momen berikutnya. Kali ini dengan kesabaran berbeda.

Kita sering merasa gagal bukan karena keadaan buruk, tapi karena sasaran kita kabur. Tanpa tahu apa yang dicari, dompet tebal terasa kosong, waktu luang terasa bising, dan kamera paling canggih pun tak bisa menangkap apa-apa. 

Begitu targetnya jelas, hidup mendadak punya cerita. Dan sering kali, cerita itu muncul dari tempat yang tidak pernah kita duga.


LABEL: BANGKIT DARI ABU

26 November 2025

Guru dan Kelas SD yang Selalu Ribut

 

Ketika saya sedang beres-beres kamera menjelang pindah lokasi, salah satu teman hunting foto bertanya, apakah saya pernah mengalami kepala yang rame seperti pasar malam.

Tentu saja sering. Kadang mata baru melek, nyawa belum ngumpul, di kepala sudah ribut luar biasa.

“Bagaimana caranya biar tidak terganggu?”

Hampir saya jawab, “Seperti sekarang, saya tetap bisa fokus motret meskipun kamu ribut terus.” Beruntung tidak ada oli di mulit saya, sehingga remnya tetap pakem. Tidak asal nyablak.

Di balik wajah yang terawat, saya melihat raut yang suram. Matanya menyiratkan dia sedang mengalami masalah tidak ringan dengan pikirannya. Alih-alih  menjawab, saya balik bertanya, apa yang dia rasakan?

Seperti bendungan jebol, kata demi kata mengalir tanpa bisa disela. Muter-muter, lompat sana-sini, dan kadang diulang. Early warning system di kepala saya langsung memberi peringatan: Saya harus hati-hati bicara. 

Selain menjaga jangan sampai kebiasaan saya bicara tanpa sensor menyinggung perasaan, saya juga harus menjaga supaya dia tidak menganggap saya teman yang enak diajak ngobrol, lalu nantinya jadi tempat langganan curhat.

Setelah cukup lama termenung, bingung, akhirnya saya menjawab sedikit ngasal: “Saya ibaratkan diri sendiri seperti guru, dan pikiran yang simpang siur seperti murid SD yang selalu ribut di kelas. Yang perlu saya lakukan hanya melakukan pendekatan satu persatu, tanpa harus marah.” 

Barangkali merasa jawaban saya tidak masuk akal, bocah seumuran mahasiswa semester awal itu tidak bertanya lagi. Tapi lucunya, jawaban yang awalnya asal ceplos itu justru lengket di otak saya.  

Lama-lama saya malah penasaran sendiri: Kenapa saya memilih perumpamaan guru dan murid? Kenapa bukan perumpamaan lain yang lebih keren, seperti teknisi memperbaiki software bug atau yogi sedang menenangkan energi kundalini? Sementara di dunia nyata, tidak sedikit guru yang kedodoran menghadapi muridnya.

Anehnya, meskipun sampai lebih dari 2 tahun saya tidak kunjung nemu penjelasannya, cara itu justru manjur ketika beneran saya terapkan pada diri sendiri.

Setiap kali pikiran mulai riuh, saya duduk diam, memejamkan mata sambil membayangkan sedang menghadapi bocah-bocah di kelas. Ada yang teriak-teriak tidak jelas, gebrak meja, menyanyi dengan suara sumbang, berantem, berlari keliling ruangan atau berdiri di meja. 

Tapi, begitu saya berdiri di depan kelas, semua langsung kembali duduk di tempat masing-masing, dan tenang. Selebihnya tidak ada yang saya lakukan, selain membayangkan memandang wajah-wajah yang tidak jelas satu per satu.

Lalu, ketika saya kembali buka mata, keributan di kepala jauh berkurang. Tidak hilang sepenuhnya, tapi cukup tenang untuk melanjutkan hidup.

Pagi tadi, saat sedang istirahat usai grounding di lapangan bola, tiba-tiba otak saya nagih penjelasan. Ribut macam tukang kredit panci keliling yang kuwatir pembelinya tidak bayar cicilan. 

Berulangkali muncul pertanyaan, mengapa saya memilih metafora guru dan murid SD? Sementara selama ini saya mengibaratkan kesadaran sebagai pengamat, pikiran sebagai software, dan tubuh sebagai hardware.

Perumpamaan yang awalnya saya anggap sederhana, teknis dan logis. Lalu tiba-tiba… pindah ke kelas SD lengkap dengan bocah-bocah ribut.

Sudah pasti pilihan guru tidak ada hubungannya dengan profesi. Saya menghormati setiap pekerjaan sama rata. Tidak ada yang lebih istimewa dibanding yang lain. Realita bahwa otak saya secara spontan memilih guru dan murid SD – bukan murid SMP atau mahasiswa, tentu bukan pilihan acak.

Setiap hari libur, lapangan bola dekat rumah selalu lebih ramai. Banyak orang-tua ngajak anak main di sana. Ketika tanpa niat tertentu saya mengamati tingkah polah mereka, jawaban itu tiba-tiba muncul: Pikiran liar sepertinya memang lebih mirip bocah SD yang sedang ribut di kelas ketimbang software salah urus.

Memilih software sebagai perumpamaan, terlalu deterministic. Kalau software salah, ya debug. Kalau error, tinggal restart. Sementara pikiran tidak bisa diperlakukan seperti itu.

Pikiran sering melompat-lompat, kadang mengulang hal yang sama, minta perhatian, tidak jarang lebay dan drama, tapi di saat lain seolah hanya ingin didengar. Itu bukan bug, tapi lebih mirip energi anak kecil di dalam diri yang belum matang.

Sepertinya metafora guru dan murid lebih akurat menggambarkan hubungan antara kesadaran dengan pikiran. Konsep pengamat terasa terlalu netral, steril, berjarak dan dingin, sementara guru lebih manusiawi. Pikiran yang emosional lebih cocok dihadapi oleh figur yang punya hati.

Guru yang baik bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan. Bukan hanya mengamati. Guru yang baik eksis secara mental dalam diri setiap murid, bijak, bisa tegas tanpa marah, mampu memimpin, mampu menjaga ketertiban, dan memberi rasa aman.

Pilihan guru sebagai metafora kesadaran membuat pikiran saya merasa “diurusi”, bukan lagi “dipaksa diam”

Keributan mental sering keluar dari bagian diri yang masih kecil, belum matang, dan belum selesai belajar. Ketika saya memvisualisasikan murid SD, saya memberi semacam identitas pada suara-suara di kepala. 

Saya tidak menganggap mereka sebagai musuh. Saya menempatkan diri dalam posisi sebagai orang yang lebih dewasa – bukan sebagai korban yang terombang-ambing oleh pikiran.

Ketika saya membayangkan berdiri di muka kelas, dan bocah-bocah menjadi tenang, merupakan sinyal kuat bahwa kendali sudah kembali tanpa harus panik. Sepertinya otak merespons imajinasi itu secara fisiologis: detak jantung lebih stabil, napas melambat, keributan mental mereda.

Selama ini mungkin saya terlalu sering “memaksa diri tenang”. Memberi perintah untuk diam, menyuruh “jangan mikir”, memaksa fokus. Hasilnya justru semakin parah. Pikiran tambah rame.

Guru yang sabar membuka pintu dialog. Otak saya mulai mengenali bahwa pendekatan halus lebih cocok ketimbang represi.

Akhirnya kesadaran saya memiliki peran baru. Bukan lagi sebagai pengamat yang abstrak, bukan komandan yang sok kuasa dan memaksakan kehendak. Juga bukan teknisi yang buru-buru memperbaiki. Melainkan sosok yang cukup tenang untuk membuat pikiran-pikiran kecil kembali duduk tanpa perlu memaksa.


Related Post:
1. Berdamai Dengan Emosi Berdamai Dengan Diri


13 November 2025

Brain Rot dan Pengakuan Setengah Malu

 


Baru beberapa hari lalu saya menulis tentang digital dopamine dan saya merasa yakin bisa menjaga diri, karena saya tidak mengalami kesulitan membatasi aktivitas di dunia maya. Tapi tak lama kemudian saya terpaksa meringis setengah malu pada diri sendiri, ketika ketemu video Youtube yang membahas tentang Brain Rot.

Secara harfiah, brain rot berarti otak yang membusuk. Secara medis, otak tidak benar-benar busuk. Istilah itu hanya untuk menggambarkan penurunan kualitas pikiran dan konsentrasi, sebagai akibat terlalu sering mengonsumsi konten ringan, dangkal, atau adiktif, terutama dari media sosial.

Meskipun ego saya tersinggung, terutama karena merasa sudah sangat membatasi aktifitas di dunia maya, tapi kalau mau jujur, harus saya akui, sebagian besar aktifitas online saya yang sudah terbatas itu memang tidak jauh dari nonton konten-konten semacam itu. Terutama yang disajikan sebagai video pendek.

Tapi apakah benar sampai menimbulkan dampak seburuk itu? 

Otak yang tidak terima dianggap sedang mengalami pembusukan, mengajukan pembelaan, “Apakah gejala itu berupa kondisi nyata yang sudah terbukti secara empiris atau hanya sekedar dugaan?”

Empat aplikasi AI yang saya tanya ternyata memberi jawaban senada: sebagian besar masih berupa kekhawatiran sosial dan moral, bukan diagnosis medis atau kondisi yang terbukti secara empiris.

Ternyata sejak dulu, rasa kuwatir tentang "brain rot" sudah muncul setiap kali hadir bentuk hiburan baru: mulai dari novel populer, radio, sampai televisi. Orang-orang dulu takut perkembangan otaknya terganggu gara-gara membaca cerita cinta bersambung atau menonton sinetron. Tapi ternyata, sebagian besar tidak terbukti.

Orang-orang yang membaca novel populer atau menonton TV tidak mengalami kerusakan otak atau kemunduran kognitif permanen seperti yang dikuwatirkan. Ketakutan itu lebih mirip moral panic ketimbang fakta ilmiah

Yang benar-benar terbukti secara ilmiah hanyalah:

  • Neuroplastisitas: Otak memang berubah berdasarkan aktivitas yang kita lakukan, tapi  bersifat adaptif, bukan "membusuk"
  • Cognitive atrophy: Kemampuan yang tidak dilatih memang bisa menurun, tapi bisa dipulihkan melalui latihan.
  • Efek jangka pendek: konsumsi media tertentu memang memengaruhi fokus dan pola pikir sementara, tapi tidak menyebabkan kerusakan permanen.

Jadi, "brain rot" lebih tepat dipahami sebagai metafora budaya untuk perasaan kuwatir terhadap kualitas konsumsi media, bukan kondisi medis yang terdiagnosis.

Saya sempat lega — ternyata cuma kuwatir berlebihan!

Tapi, ChatGPT yang biasanya selalu memberi jawaban manis dan menyenangkan, melanjutkan dengan nada agak serius:


Ciri-ciri Brain Rot

  1. Sulit fokus — gampang terdistraksi, bahkan saat baca satu paragraf panjang belum selesai, sudah pengin buka TikTok.
  2. Menurunnya kemampuan berpikir dalam — ide terasa datar, sulit merenung atau menulis panjang.
  3. Kecanduan dopamin cepat — selalu mencari hiburan instan: video pendek, notifikasi, game cepat.
  4. Mudah bosan dengan hal bermakna — baca buku terasa berat, tapi nonton video 2 jam nggak masalah.
  5. Siklus tidur dan mood berantakan — karena otak terus dikejar rangsangan ringan tapi intens.

Saya tidak bisa cengengesan lagi ketika mendapati dua ciri Brain Rot juga saya alami. Saya gampang terdistraksi. Bukan oleh TikTok dan sebangsanya, melainkan oleh aktifitas yang saya anggap “lebih penting”. Pada jam kerja saya sering ninggal pekerjaan kantor untuk melanjutkan membuat desain rumah atau ngetik naskah untuk blog.

Saya mudah bosan. Tidak pernah mampu selesai membaca satu halaman bukut atau tuntas memeriksa laporan pajak lebih dari 15 menit, sementara saya bisa bertahan nonton ulang film Matrix sampai rampung.

Meskipun dua gejala dan beberapa dampak awal saya temukan, saya  tidak ingin memberi label “otak saya membusuk.” Saya lebih memilih menganggapnya sebagai peringatan keras - Bila saya tidak sungguh-sungguh mengubah aktifitas di dunia maya, semua usaha saya untuk menata hidup — termasuk perjalanan menuju akhir yang tenang dan indah — bisa berakhir sia-sia.

 Menjaga Otak, Menjaga Diri

Mungkin “brain rot” memang hanya istilah populer, bukan penyakit sungguhan. Tapi efeknya terhadap kualitas hidup bisa nyata. Bukan otaknya yang busuk, melainkan membuat arah hidup perlahan kehilangan makna. 

Maka, sebelum pikiran benar-benar kehilangan daya ciptanya, saya pikir tidak ada salahnya saya mulai detoks digital kecil-kecilan: membaca lebih banyak, menulis lebih sering, dan memberi waktu otak untuk bernapas.


LABEL: BANGKIT DARI ABU

28 Oktober 2025

Cerita Pedagang Jamu Kopdar Fotografi

 

Closeup puncak Merapi dari Bronggang

Di salah satu kopdar kecil penggemar fotografi, kehadiran saya sangat mencolok. Selain paling tua, saya nggendong back pack volume 45 liter – berisi bekal komplit, tripod terikat di bagian bawah dan matras kecil nyelip di bagian atas, saya nyangklong tas kamera ukuran jumbo dan nenteng kursi lipat. Mirip pedagang obat keliling di alun-alun jaman dulu – segala perabotan diangkut. Tinggal dilengkapi toa, dan saya bisa langsung jualan jamu.

Begitu acara berburu obyek dimulai, dua kamera saya langsung bikin heboh. Bukan lantaran antik atau mahal, melainkan karena ukurannya terlalu besar untuk untuk jaman di mana kamera mirrorless dan ponsel pintar sudah jadi raja.

Canon 650Dnya masih mending. Meskipun sudah jadul, posturnya tidak gede-gede amat. Tapi kamera satunya, Nikon P900, kalau diletakkan jejeran dengan kamera mirrorless, mirip bulldog duduk sebelahan anak kucing.

“Ih, gede amat.” Tiba-tiba salah satu teman kopdar, gadis seumuran mahasiswa, nyeletuk. Suasana langsung riuh, menanggapi kalimat yang kemudian sengaja dipelesetkan.

“Eeeehhh, maksud gua kameranyaaaa!!!!” si bocah berusaha meluruskan pikiran penceng orang-orang, tapi yang terjadi kemudian, malah membuat yang lain jadi semakin iseng. 

Ketika jari lentiknya menggeser tombol zoom, dan dia melihat lensa modot – menjulur panjang, mulut imutnya spontan nyeplos, “Laahhh, pan ……ja …… nggg”. Meskipun, setelah sadar, suaranya buru-buru dipelankan, semua terlanjur ngakak.

Saya masih menggunakan kamera jadul bukan karena sok klasik, melainkan murni soal realisme finansial dan logika. Pindah ke mirrorless butuh dana tidak sedikit. Beli body saja mungkin masih bisa diusahakan. 

Masalahnya, kalau sudah terlanjur gatel tangan seperti saya, tidak bakal puas hanya menggunakan lensa 18-55mm. Minimal,  harus tersedia pula lensa fix 50mm f 1.8 dan tele 70-300mm. Apesnya, mirrorless idaman tidak kompatibel dengan koleksi lensa saya. Ketimbang buang duit dan nanti malah menyesal, mending belanjanya ditunda dulu.

Selain DSLR, saya masih setia pada kamera prosumer. Sebelumnya saya memakai FujiFilm HS 10, yang memiliki optical zoom sampai 30 kali, atau setara 720mm. Tahun 2017, saya ganti dengan Nikon P900. 

Saya memilih kamera “pemburu bulan” ini, selain harganya tidak membuat saya diomelin istri, zoomnya yang bisa mentok sampai  80 kali atau setara 2000mm, membuat P900 mampu memotret permukaan bulan sama jelasnya dengan melihat mangga di atas meja.




Tapi bukan bulan yang jadi obsesi saya — melainkan puncak Merapi. Entah kenapa, puncak yang hanya berwujud bongkahan batu itu selalu membuat saya penasaran. Dengan kamera HS10 sebenarnya sudah bisa mendapatkan foto closeup puncak. Tapi, dengan zoom hanya 30 kali, saya harus motret pada jarak relatif dekat. Banyak detail puncak bagian atas, yang hanya nampak dari jauh, tidak terlihat di kamera.

Sejak beralih ke P900, segalanya berubah.  Saya bisa motret closeup puncak dari atas sabo dam Bronggang, yang berjarak sekitar 15km dari kawah Merapi, dengan detail yang tajam dan jernih. 

Disamping tidak perlu menempuh jarak lebih jauh sampai kaki gunung, selisih 10an km membuat saya puya lebih banyak peluang ketemu momen ketika puncak belum tertutup awan. Dan tidak perlu buru-buru ngacir saat Merapi mendadak erupsi freatik.

Sekarang seri P900 punya adik P1000, dan yang terbaru P1100. Zoomnya lebih mantap, bisa sampai 125 kali atau setara 3000mm. Bahkan P1100 punya fitur khusus untuk bird watching dan motret kembang api. Sempat pengin ganti, tapi ternyata harganya lebih mahal ketimbang motor bebek baru.

Kadang saya berpikir, kamera hanyalah perpanjangan dari cara saya memandang hidup. Menggunakan perangkat baru atau lama, hasilnya tergantung orang di balik lensa. 

Kamera jadul saya memang kalah canggih dari mirrorless modern, tapi mereka sudah menampung banyak cerita di lapangan, tawa di kopdar, keheningan di sabo dam, dan rasa takjub tiap kali memandang Merapi

Mungkin benar kata pepatah: “Lensa boleh tua, mata harus tetap tajam.”
Dan selama mata ini masih mampu melihat keindahan dalam hal-hal sederhana—seperti batu di puncak gunung atau senyum spontan seorang teman—maka kamera apa pun yang saya pegang akan tetap mampu bercerita.


Related Post:
Pasukan Elite Penjaga Rumah

26 Oktober 2025

Digital Dopamin dan Otak yang Lupa Menikmati Proses

Hunting Foto

Belakangan ini saya kembali merasa sedikit malas. Tidak parah, tapi cukup terasa — terutama ketika niat membaca, menulis atau memeriksa laporan pajak mulai kalah oleh dorongan untuk menonton video pendek.

Diantara banyak macam tayangan, ternyata saya paling sering nonton video Dhar mann — video pendek yang punya pola mirip: ada yang bikin onar, lalu kena batunya.

Awalnya saya pikir, saya suka karena ceritanya seru. Tapi lama-lama saya sadar, yang membuat saya ingin selalu nonton, bukan ceritanya, melainkan rasa puas melihat keadilan ditegakkan. 

Sayapun mulai pensaran,  kenapa rasa puas itu begitu kuat? Apakah hanya karena saya butuh hiburan, atau ada sesuatu yang membuat otak suka?

Tanpa perlu diminta, otak memberikan jawabnya: dopamin.

Saya pernah membaca, dopamin bukan sekadar “hormon bahagia”, melainkan zat kimia yang membuat otak merasa “mendapat hadiah”. Setiap kali kita melihat sesuatu yang memuaskan — termasuk orang jahat kena batunya — hormon dopamin dilepaskan. 

Para peneliti menyebutnya justice reward — kepuasan moral yang membuat kita senang ketika keadilan ditegakkan. Jadi bukan cuma tubuh yang senang, moralitas di dalam diri ikut bersorak.

Dhar mann dan banyak konten kreator lain, sepertinya menyadari benar kondisi itu. Mereka menjadikannya sebagai alat untuk mengikat penonton supaya selalu kembali — dan terus kembali menikmati video-videonya, tanpa merasa bosan, meskipun alur ceritanya sama dan mudah ditebak.

Masalah mulai muncul ketika kecanduan itu pelan-pelan menggerogoti semangat saya untuk melakukan aktifitas lain. Bermula dari sekadar menunda, sampai kemudian saya mendapati keadaan kembali seperti dulu: banyak pekerjaan terbengkalai, dan disiplin mulai luntur.

Otak saya rupanya mulai menikmati kenyamanan instan — cukup scroll, tanpa harus berbuat apa-apa, dan  mulai menolak aktivitas yang membutuhkan effort. Semua menjadi terasa berat, terutama karena tidak ada reward instan, dan hasilnya lambat.

Kalau dulu saya menikmati proses — menulis paragraf demi paragraf, memeriksa ulang kata, lalu merasa lega ketika satu tulisan selesai — kini saya lebih mudah terdistraksi. Rasanya seperti otak sedang berkata: “Ngapain repot-repot?”

Tentu saja saya tidak menyalahkan Dhar mann — video videonya memberi pelajaran moral yang baik. Tapi saya sadar, terlalu banyak dopamin instan membuat otak lupa cara menikmati proses yang panjang dan pelan. 

Saya mulai kehilangan minat pada hal-hal yang dulu menenangkan, seperti blusukan hunting foto, membaca di teras sore hari, atau menulis catatan kecil. Sekarang, begitu ada waktu senggang, tangan ini refleks mencari ponsel.

Ternyata fenomena itu tidak hanya menimpa diri saya sendiri. Banyak orang, tanpa sadar, juga mengalami, dan bukan lagi sekedar kecanduan video ala Dharman, melainkan sudah menjadi kecanduan pada perangkat digital. Dari sana lahir istilah digital dopamine,  pelepasan hormon dopamin secara instan di otak, yang dipicu oleh interaksi dengan teknologi dan media digital seperti media sosial, game online, atau notifikasi.

Setelah merenung cukup lama, saya menemukan dua pemicu utama yang membuat saya seperti kecanduan:

1.      1.    Like, komentar, dan notifikasi.
2.    Video viral atau unggahan populer yang memberikan sensasi kesenangan singkat.

Tanpa sadar, akvitas digital membuat otak saya mengalami semacam pemrograman ulang, dan semakin masif setelah saya mulai beralih nonton video pendek. Logika saya menganggap aktivitas itu sekedar iseng saja. Durasinya pendek, dianggap tidak menyita waktu, kontennya ringan, bahkan kadang lucu. 

Saya tidak tahu, bahwa aktivitas pendek, yang dilakukan sambil lalu, tapi berulang dalam frekuensi lumayan sering, justru punya pengaruh lebih dalam terhadap otak.

Ditambah lagi, tema yang random membuat otak menjadi keranjang sampah digital, menampung apa saja, tanpa filter, tanpa skala prioritas. Akibatnya, sulit fokus, sulit tenang, dan semakin sulit menikmati proses panjang yang dulu justru menjadi sumber kepuasan sejati.

Sekarang, meskipun saaya sudah tahu dampaknya, dan berusaha memperbaiki, ternyata tidak gampang. Butuh usaha lebih keras dibanding bangun jam 3.30 pagi.

Saya mulai berpikir, sudah saatnya untuk kembali memperlambat langkah. Berhenti sejenak dari banjir dopamin digital, dan kembali menikmati rasa yang tumbuh perlahan: rasa lega setelah menulis satu halaman, rasa damai menatap langit sore, rasa syukur saat nyeruput kopi tanpa distraksi notifikasi.

Sepertinya, itulah hadiah sejati yang dulu saya nikmati tanpa sadar — bukan dari layar, tapi dari kehidupan yang berlangsung apa adanya.

Lucunya, setelah berpuluh tahun terbiasa menjalani proses, sekarang, saya harus belajar lagi cara menikmati proses yang pelan, dan memberi kesempatan pada otak untuk tenang tanpa diganggu hadiah instan.


LABEL: BANGKIT DARI ABU

19 Oktober 2025

Berdamai Dengan Emosi Berdamai Dengan Diri

Me Time


Setelah membuktikan sendiri bahwa latihan pernafasan dalam mampu mengurangi pegel dan capek, serta membantu tekanan darah saya tetap stabil di kisaran normal, saya mulai penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi di dalam tubuh saya?  Mengapa hanya dengan mengubah cara bernafas dan mengatur polanya, bisa membawa perubahan nyata – sekalipun hanya sedikit.

Rasa penasaran itu kemudian membawa saya pada penjelajahan intelektual yang tak terduga. Dengan bantuan AI, saya menjangkau lebih banyak sumber referensi baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. Tidak hanya mendalami penjelasan lengkap tentang pernafasan dalam, tapi juga diperkenalkan pada konsep grounding — teknik menyatukan diri dengan alam untuk meredakan kecemasan.

Terakhir, saya mendapatkan penjelasan sangat rinci tentang tapping atau Emotional Freedom Techniques (EFT). Terapi yang dulu saya anggap sekadar tren populer berbalut afirmasi manis dan efek plasebo belaka, ternyata memiliki dasar neurologis yang dapat dijelaskan.

Semakin banyak saya membaca dan mencoba, saya semakin mengerti bahwa tubuh dan pikiran ternyata jauh lebih terhubung daripada yang saya kira. Semakin banyak saya membaca dan mencoba, saya semakin mengerti bahwa tubuh dan pikiran ternyata jauh lebih terhubung daripada yang saya kira. Kondisi kesehatan saya yang sekarang bisa dibilang “berantakan” ini, sepertinya bukan semata-mata karena pola makan dan minum yang asal nuruti lidah, atau kebiasaan minum suplemen secara ugal-ugalan. Melainkan karena saya membiarkan tubuh merusak dirinya sendiri melalui emosi yang tidak terkontrol.

Emosi, seperti yang kemudian saya pahami, punya peran luar biasa dominan terhadap kondisi tubuh. Emosi negatif yang dipendam, dan seringkali tanpa disadari, adalah racun yang bekerja secara perlahan. Menggerogoti energi mental, memicu stres kronis, dan pada akhirnya mengacaukan keseimbangan hormon-hormon dalam tubuh. Dampak berantainya, sistem kekebalan tubuh melemah, dan risiko penyakit kronis seperti gangguan jantung, hipertensi, hingga kanker pun meningkat. Bahkan, pikiran yang gelisah dan tak tenang bisa menjelma menjadi gejala fisik yang nyata, seperti gangguan pencernaan (IBS), sakit kepala, atau rasa lelah kronis yang tak kunjung hilang meski tidur sudah cukup.

Pemahaman ini juga membuat saya memandang efek plasebo dari sisi yang baru. Bukan sekadar “khayalan semata”, melainkan respons fisiologis nyata yang dipicu oleh harapan positif. Ketika seseorang sungguh-sungguh percaya bahwa suatu tindakan terapi akan menyembuhkan, otak merespons dengan melepaskan koktail neurokimiawi seperti endorfin, dopamin, serotonin, dan oksitosin, yang secara aktif meredakan nyeri, membuat pikiran lebih tenang, dan menciptakan rasa nyaman secara emosional.

Sekarang saya paham, mengapa dulu dokter memberi saran supaya saya juga konsultasi ke psikolog. Untuk kondisi saya saat itu, pengobatan medis tidak akan banyak memberi manfaat – bahkan kemudian membuat saya semakin jauh dari sehat, karena emosi yang menjadi biang kekacauan belum ditangani dan diperbaiki.

Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali ke dokter, tapi bukan sekarang. Berurusan dengan emosi tidak segampang nyomot tempe dari piring. Tubuh saya yang sudah ringkih ini perlu disiapkan dulu, supaya kuat menerima bantuan dari luar.

Sementara saya belajar berdamai dengan emosi, saya memilih menggunakan pernafasan dalam, grounding dan tapping terlebih dahulu. Bukan untuk sembuh, tapi untuk merawat diri sembari membantu tubuh mendapatkan keseimbangan baru.

Pemahaman terhadap kerja hormon dan keterkaitan emosi terhadap aktifitas otak membuat saya tidak lagi memerlukan afirmasi. Saya tahu, ketika satu titik tertentu di tubuh diberi stimulasi, akan berpengaruh terhadap aktifitas otak, dan menimbulkan reaksi berantai ke seluruh tubuh. Yang perlu saya lakukan hanya tenang, tidak sambat, dan tidak memaksakan sesuatu terjadi. Tubuh punya caranya sendiri. 

Apakah benar Emotional Freedom Techniques (EFT) bisa mengubah nasib? Saya belum berpikir ke arah sana. Untuk saat ini, saya memilih fokus pada kondisi fisik terlebih dahulu.


Related Post:
1. Nemu Dunia Baru
2. Guru dan Kelas SD yang Selalu Ribut

15 Oktober 2025

Antara Kepedulian dan Kerepotan Sosial

Kadang, niat baik orang lain bisa berubah jadi ujian kesabaran — terutama ketika yang disebut “kepedulian” datang tanpa mempertimbangkan situasi yang sebenarnya. Saya baru benar-benar menyadarinya ketika Yuni, istri saya, menjalani masa pemulihan setelah kolostomi dan biopsi.

Ketika mendengar istri saya selesai menjalani “operasi”, banyak teman-teman salah paham. Disangkanya yang dioperasi adalah kankernya, padahal baru biopsi dan kolostomi. Setelah mendengar kabar bahwa Yuni sudah pulang, beberapa langsung berniat menjenguk.

Rencana kunjungan itu sempat membuat saya bingung. Saya tahu niat teman-teman baik, tapi memberi ijin orang menjenguk berarti membuka peluang resiko. Kondisi Yuni belum benar-benar pulih. Pandemi juga belum dinyatakan berakhir – himbauan mengenakan masker dan jaga jarak belum dicabut.

Operasi di bagian bawah membuat Yuni belum bisa duduk. Artinya, saya harus mengijinkan tamu masuk kamar tidur. Kalau hanya satu atau dua orang, mungkin masih bisa diatur. Tapi biasanya, ibu-ibu datang rombongan, dan jam datangnya tidak bisa diprediksi.

Akhirnya saya terpaksa mengambil keputusan yang tidak populer: tidak menerima tamu.

Sebelum ada yang terlanjur datang, saya kabarkan bahwa untuk sementara pasien belum bisa ditengok, karena masih harus mempersiapkan diri untuk operasi besarnya.

Reaksinya beragam. Kebanyakan paham – entah betulan atau basa-basi, saya tidak perduli. Tapi ada juga yang terang-terangan nyinyir. “Orang sakit biasanya senang ditengok. Ini malah tidak boleh. Aneh!”

Ya sudah, bodo amat.

Satu kesulitan bisa diatasi. Tidak ada tamu berkunjung. Bahkan selain teman-teman dekat, tidak ada lagi yang menanyakan kabar. Ada yang bilang, kami mendapat hukuman sosial. Tapi bagi saya, malah kebetulan. Saya dan anak bisa fokus merawat pasien tanpa rangkap tugas menjadi juru bicara. Tidak perlu berulangkali memberi penjelasan untuk hal yang sama pada setiap orang.

Suatu ketika, seseorang menegur saya, menganggap saya mengabaikan perasaan Yuni. “Kamu pikir kelakuanmu itu tidak jadi beban pikiran bagi istrimu? Kamu pikir istrimu tidak malu?”

Saya sempat terdiam.

Tapi lalu saya ingat, ada dua bekas luka panjang. Satu di bagian anus, satu lagi di perut, masih basah – dan tentunya juga perih. Obat pereda nyerinya MST Continus 15 mg, mengindikasikan derajad nyerinya bukan lagi setara sakit gigi.

Selain itu, Yuni juga gampang alergi. Tamu bisa saja tanpa sengaja membawa aroma parfum yang memicu alergi, atau malah debu dan kuman. Jadi, apa yang salah kalau saya melindunginya?

Tapi biar adil, saya bertanya pada Yuni, apakah dia keberatan tamunya saya tolak? Ternyata dia lebih suka kalau istirahatnya tidak diganggu.

Bagi saya, jawaban itu sudah lebih dari cukup.

Belakangan datang lagi ujian kecil dalam bentuk lain. Salah satu teman ngirim bingkisan berupa makanan, lauk, kue dan buah, dalam jumlah besar. Makanan awetan dan buah mestinya bisa masuk kulkas. Masalahnya, dua kulkas di rumah sudah terisi penuh kiriman serupa sebelumnya.

Langsung dimakan habis juga tidak mungkin. Selain jumlahnya terlalu banyak, saya sedang diet ketat, menu makan Yuni juga masih dibatasi. Tinggal anak semata wayang, satu-satunya yang masih bebas makan apapun. Tapi dia terlanjur eneg dijejali kiriman-kiriman terdahulu.

Akhirnya, biar tidak basi lalu terbuang percuma, semua bingkisan itu terpaksa dibagi-bagi ke siapa saja yang bersedia menerima.

Celakanya, entah bagaimana, teman itu tahu. Sayapun disindir habis-habisan di Facebook. Kali ini muka badak saya tidak berdaya mengabaikan teguran hati. Secuek apapun, saya tetap tidak bisa mengabaikan perasaan bersalah. Saya temui dia, saya minta maaf. Tapi sampai hari ini tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Kadang, kepedulian bisa berubah jadi beban, kalau tidak disertai pengertian. Di sisi lain, mungkin saya juga harus belajar menerima kebaikan orang tanpa terlalu sibuk mengatur arah niatnya. Tapi kalau harus memilih, antara menjaga perasaan orang dan menjaga kesehatan istri, saya tetap akan memilih yang kedua. Karena pada akhirnya, empati yang sejati bukan soal datang menjenguk atau memberi bingkisan, tapi mampu memahami kapan harus memberi ruang.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL

14 Oktober 2025

Halaman Kotor dan Pikiran yang Kusut


Kurir paket sempat berjalan beberapa langkah. Mendadak berhenti, balik badan menghadap saya, lalu bertanya, “Bapak percaya apa tidak kalau halaman yang kotor membuat rejeki seret?”

Saya spontan menengok ke sekeliling. Halaman rumah saya memang seperti kapal karam, kotor dan berantakan. Daun-daun kering berserakan, bercampur potongan ranting dan dahan dari pohon yang minggu lalu ditebang. Di bawah pohon mangga, beberapa lembar seng dan atap fiber transparan bekas ganti juga masih teronggok, nyender pagar, seolah menunggu keajaiban untuk menghilang.

Saya mengalami kesulitan membuang sampah-sampah itu. Tukang sampah menolak membawa, meskipun saya menawarkan uang tambahan, dengan alasan motor gebobagnya hanya kecil.

Pertanyaan kurir sempat membuat saya plonga-plongo. Saya tidak tahu arah pertanyaan itu ke mana. Dia hanya nyindir, menegur, atau memang serius?

Tapi entah kenapa, mulut saya malah punya jawaban sendiri: “Sepertinya, kondisi lingkungan rumah adalah cerminan dari batin penghuninya.”

Begitu selesai bicara, saya langsung meringis. Kalimat itu seolah memantul kembali, menusuk saya sendiri.

Penghuninya kan saya?

Kurir itu termenung sejenak, lalu kembali bertanya dengan polos, “Apakah rejeki Bapak seret?”

What the hell …….. Dalam hati saya mengumpat, sekaligus geli. Entah kurir itu lugu atau bego, tapi saya tidak punya alasan untuk merasa diolok-olok.

Penginnya, setiap selesai bersih-bersih, sampah langsung bisa dibuang. Masalahnya, sejak beberapa tahun belakangan, buang sampah tidak lagi segampang era “penak jamanku to?” Dulu tukang sampah ngider tiap hari. Sekarang sebulan diambil 4 kali saja sudah beruntung. Itupun sangat dibatasi. Sampah daun dan ranting ditolak. Apalagi kalau yang akan dibuang komplit dengan dahan yang lebih besar dari lengan orang obesitas.

Lepas dari sulitnya buang sampah, saya tidak akan ngeles bahwa belakangan ini pikiran saya memang sedikit sumpeg tanpa alasan jelas.

Sejak kejadian itu, setiap malam menjelang tidur, saya luangkan waktu untuk mengingat kembali kejadian-kejadian sebelumnya, barangkali ada masalah yang terlewat, sehingga menyebabkan saya merasa sumpeg.

Sepertinya tidak ada. Semua masalah teridentifikasi jelas, dan saya mampu mengalihkan tekanan batin menjadi energi untuk mencari solusinya.

Suatu malam di pertemuan warga kampung, seseorang bertanya, mengapa pohon yang saya tebang tidak segera dibuang? Saya diingatkan kalau tumpukan daun dan ranting yang kering sangat rentan terbakar.

Aaahhh, ternyata ini biang kerok yang menyebabkan saya suntuk. Sudah sejak lama saya kuwatir terhadap resiko itu. Sebagai solusi sementara, setiap hari timbunan daun dan dahan saya guyur air. Rupanya, rasa kuwatir yang saya anggap bisa diatasi itu nyelip di otak, menjadi semacam duri dalam daging. Mengusik ketenangan.

Bila kepentok jalan buntu, saya punya cara sedikit aneh untuk mencari solusi. Saya bayangkan masalahnya sebagai orang yang sedang gusar. Wajahnya muram, matanya menyala-nyala dalam diam.  Lalu saya berkata, “Jangan cuma marah. Bantu aku menyelesaikannya.”

Mungkin terdengar konyol, tapi cara ini sering manjur. Tentu saja solusi tidak datang dalam gagasan utuh dan siap pakai, melainkan berupa petunjuk yang kadang jelas, kadang tersamar. Semacam bisikan halus yang mengarahkan langkah

Kali ini, petunjuk datang lebih cepat dari biasanya.

Setelah membuang bayangan orang marah, saya berniat masuk rumah lewat pintu belakang. Menjelang membuka pintu dapur, saya melihat tas kresek hitam tergeletak di lantai. Saya tidak perlu repot bertanya, siapa yang meletakkan di situ. Biasanya saya sendiri yang lupa memberesi.

Di dalam tas ukuran 5 kilo itu terdapat satu gergaji lipat dan gunting tanaman yang biasa saya gunakan untuk memangkas dahan. 

Seperti kena hipnotis, saya bawa tas dan isinya menuju tumpukan daun dan ranting. Saya jongkok, meraih satu ranting seukuran jempol kaki, membuka lipatan gergaji, lalu memotong ranting menjadi beberapa potongan kecil sepanjang kira-kira dua ruas jari.

Satu ranting selesai dimutilasi, tangan pegel. Tapi justru saat itu saya kesandung “Aha moment”. Mendadak muncul gagasan yang jelas.

Saya bergegas menuju gudang, mengambil gunting dahan elektrik dan karung 25 kiloan bekas kantong beras yang disimpan rapi oleh istri saya. Dalam waktu kurang dari 3 jam, seluruh ranting dan dahan dengan diameter sampai 3 cm sudah terpotong dan teronggok rapi di dalam karung. Daun-daun juga saya perlakukan sama. Dipetik, lalu ditata satu-satu di tas kresek, baru dimasukkan karung. Karena ringkas dan tidak morat-marit, tukang sampah tidak lagi menolak.

Ternyata, kadang solusi bukanlah hal besar yang datang dari langit, melainkan gagasan sederhana yang muncul saat kita berhenti mengeluh dan mulai bertindak.


LABEL: BANGKIT DARI ABU

11 Oktober 2025

Refleksi tentang Keyakinan, Nafas, dan Kesembuhan

pernapasan dalam, tai chi, prana, reiki

Tahun 1975, ketika saya masih kelas 2 SMP, Ibu saya didiagnosa kanker serviks. Di tengah keterbatasan informasi medis dan akses pengobatan modern saat itu, Ibu memilih jalan yang tidak lazim: terapi alternatif.

Barangkali berjodoh, atau memang jalannya begitu, setelah menjalani terapi, penyakit itu seolah tertidur. Tak ada gejala serius, tak ada rasa sakit yang mengganggu. `Baru mendadak serius hampir 20 tahun kemudian, setelah terapistnya – yang kami panggil Rama (kebanyakan orang nulisnya Romo – tapi sama saja), sakit, dan tidak lagi menerima tamu. Seakan ada ikatan tak kasat mata yang putus, dan penyakit itu terbangun dari tidur panjangnya.

Terapinya unik. Ibu hanya diberi dua lempengan karet berbentuk lingkaran yang saling direkatkan, dengan bagian tengah diantaranya diberi beberapa kepingan magnet. Setiap tidur malam lempengan itu harus diletakkan di bawah pinggang. Saya pernah iseng mencoba, rasanya tidak nyaman. Seperti ada tekanan aneh di punggung bawah. Tapi Ibu melakukannya setiap malam, bertahun-tahun, tanpa keluhan apapun. Mungkin karena percaya. Atau mungkin karena tubuhnya memang merespons dengan cara yang tak bisa dijelaskan logika.

Selain diberi lempengan karet dan ramuan nerbal yang harus diminum dua kali sehari, Ibu disuruh mengubah cara bernafas. Bukan lagi nafas dada, melainkan nafas perut. Di saat tertentu, selama sekitar 30an menit dalam sehari, Ibu harus melakukan pernafasan terkendali. Udara ditarik pelan dalam 4 hitungan melalui hidung, ditahan di perut selama 6 hitungan, lalu dihembuskan melalui mulut selama 8 hitungan.

Awalnya iseng, saya ikut melakukan. Setelah beberapa kali latihan ternyata badan terasa lebih enak. Entah sugesti, atau nyata, saat itu saya tidak terlalu perduli. Ketika Rama tahu saya ikut berlatih, saya tidak ditegur, malah diberi pengarahan. Hitungan untuk saya ditambah: Tarik 8 hitungan, tahan 10 hitungan, hembuskan tanpa suara 14 hitungan. Sebelum kembali tarik nafas, jeda dulu 6 hitungan. Lumayan menyiksa, tapi badan memang terasa semakin enak.

Seingat saya, sejak melakukan pernafasan terkendali, saya tidak pernah sakit – sekedar masuk angin sekalipun. Saya baru kembali berurusan dengan dokter setelah Merapi erupsi 2010, ketika badan mulai gampang capek dan sering pegel-pegel. Lebih dari 10 tahun setelah saya berhenti latihan.

Menjelang akhir dekade 80, setelah Rama tidak lagi bisa menerima tamu, Ibu ikut latihan pernafasan di salah satu perguruan silat. Berhubung latihan dilakukan setelah jam 7 malam, Ibu selalu saya antar. Ketimbang cuma bengong nunggu, saya ikut berlatih.

Berbeda dengan cara Rama yang statis dan lembut, latihan di perguruan ini menggunakan gerakan sampai 10 jurus. Lebih berat. Tapi Ibu mampu menjalaninya dengan konsisten. Terbukti, selama hampir 3 tahun berlatih, setiap kali ada ujian, Ibu selalu naik tingkat. Sementara saya, tetap setia di tingkat dasar. Tidak aneh, karena saya tidak pernah beneran serius. Saya lebih cocok dengan cara Rama: diam, tenang, dan dalam.

Setelah Ibu meninggal pada Oktober 91, dan saya semakin sering ke luar kota, saya berhenti berlatih. Malas latihan sendiri.

Oktober 2010, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya berurusan dengan polisi lalu-lintas. Nabrak becak yang sedang berhenti. Bukan karena ugal-ugalan, tapi karena kehilangan kesadaran sesaat. Sejak saat itu, tubuh mulai sering rewel.

Salah satu teman seperguruan menyarankan agar saya kembali berlatih pernafasan. Saya hanya nyengir. Entah kenapa, saya tidak lagi percaya bahwa mengatur nafas bisa memperbaiki kondisi tubuh yang sudah banyak masalah.

Tapi hidup punya caranya sendiri untuk menegur. Juli 2016, saat ngantri menyerahkan berkas Tax Amnesty, saya tersungkur. Vertigo kambuh. Kondisi tubuh yang sebelumnya memang tidak sedang baik-baik saja, menjadi tambah runyam. Dokter yang harus rutin saya kunjungi setiap bulan, awalnya hanya dua, dalam waktu singkat nambah jadi 4. Segenggam obat mulai menjadi menu wajib tiga kali sehari.

Pandemi covid membuat jadwal kontrol kesehatan kacau. Bahkan kemudian terhenti sama sekali. Dalam kebuntuan itu, saya tidak punya pilihan lain: Dengan sisa-sisa keyakinan, saya memutuskan untuk kembali olah nafas. Awalnya ragu, tapi akhirnya saya jalani dengan sepenuh hati.

Entah beneran ngaruh, atau aktifitas latihan itu membuat saya lupa diri, realitanya, setelah pandemi berakhir, saya tetap baik-baik saja meskipun tidak lagi minum obat. Vertigo, rasa nylekit di dada sebelah kiri, sesak nafas, begah di ulu hati, tidak pernah kambuh. Tekanan darah yang sempat dua kali membuat saya ditolak vaksinasi covid, sedikit anteng di kisaran 120/90. Gangguan lain, seperti kram, migrain, dan pegel-pegel hanya terjadi secara sporadis. Biasanya menjadi tanda kalau kadar Trigliserida di atas 400 – hasil cek darah di apotek, kadar Trigliserida tidak terpantau.

Saya tidak perduli, apakah tubuh saya beneran sembuh atau justru mati rasa. Sensor di badan mungkin tidak berfungsi lagi, sehingga saya tidak merasakan gejala apapun selain gampang capek dan pegel-pegel. Sampai hari ini Trigliserida tetap rajin naik turun, bahkan beberapa kali bablas di atas 1000, tapi saya tidak lagi cemas seperti dulu.

Saya tidak mendewakan olah nafas, juga tidak menafikan terapi medis. Saya hanya mencoba memberi tubuh kesempatan untuk memperbaiki diri sendiri, tanpa saya recoki.

Salah satu dokter pernah berkata, obat tidak sepenuhnya aman. Ketika rutin dikonsumsi dalam jangka panjang, ada resiko menimbulkan gangguan pada organ tubuh yang lain. Tapi, tidak minum obat saat tubuh sedang tidak baik-baik saja juga membawa resiko. Sama-sama memicu bom waktu, kali ini, dengan menyadari segala resikonya,  saya memilih memberi kesempatan pada tubuh untuk menemukan keseimbangannya kembali.

Itu bukan pilihan nekad, apalagi ngawur, melainkan dengan perhitungan. Ibarat bangunan, tubuh saya sekarang mirip konstruksi yang seluruhnya sudah rapuh. Kesenggol sedikit saja, seluruh bangunan bisa roboh. Tapi, berbeda dari bangunan yang pasif dan semakin rusak ketika dibiarkan, tubuh mampu memperbaiki diri. 

Saya tidak berharap akan kembali seperti semula, tapi minimal tidak menambah beban pada sistem reparasi tubuh.  

Resiko terburuk bukan kematian. Semua orang akan mati. Itu proses alami, bukan petaka. Resiko terburuk adalah sistem tubuh gagal duluan sebelum kematian tiba. Dengan atau tanpa obat, saya menghadapi resiko itu. Bedanya, obat punya peluang menjadi beban, sementara imun tubuh, selama tidak direcoki, mampu berusaha memperbaiki keseimbangan secara alami. Sekalipun kondisinya mungkin hanya bisa sedikit diseimbangkan, tetap lebih bagus, ketimbang menjadi lebih rusak. 


LABEL: BANGKIT DARI ABU

08 Oktober 2025

Menemukan Diri di Kalitalang



closeup puncak Merapi

Ketika biaya rumah sakit sudah lebih dari tiga ratus juta sementara operasi kankernya belum bisa dipastikan kapan akan dilaksanakan, mental saya sempat ambyar. Perjalanan masih jauh, belum ketahuan di mana akan berakhir. Bahkan setelah Yuni pindah ke kelas dua, tagihan rumah-sakit tetap melaju lebih cepat ketimbang jaman taksi argo kuda.

Saya berhitung, memutar akal, mencoba menenangkan diri — tapi tetap saja, dada ini seperti disesaki batu besar yang tak tahu harus didorong ke mana.

Ambyarnya mental itu terlihat jelas ketika saya malam-malam berani main ke Kalitalang – tempat wisata yang hanya berjarak 5 km dari puncak Merapi. Indah di kala siang, tapi di malam hari, untuk penakut macam saya, selain gelap dan sunyi, juga mencekam.

Malam itu, tanpa ada rasa takut bakal ketemu setan, di hadapan Merapi yang terlihat samar di keremangan malam, saya sambat. Bukan pada gunung, karena saya masih sadar, gunung tidak akan menjawab. Juga bukan pada Tuhan, karena saya tahu, Tuhan pasti menolong. Saya sambat pada diri sendiri — untuk sesuatu yang saya pun tidak tahu.

Tidak ada lagi angka di rekening, tidak ada lagi rencana besar, tidak ada lagi rasa “harus kuat” yang saya paksakan. Yang tersisa hanyalah segala kelemahan dan rasa kuwatir yang berlebihan pada seseorang yang sedang berjuang di rumah sakit. Saya duduk lama, diam, mendengarkan angin, dan membiarkan pikiran berjalan ke mana pun ia mau.

Entah berapa kali saya tertidur, bangun, lalu terlelap kembali dalam posisi duduk nyender pohon. Di antara desir angin dan dingin yang menggigit, saya merasa seperti ditarik kembali ke titik nol. Tapi, justru di situlah kekuatan muncul kembali. Bukan dari luar, bukan dari kata-kata orang, melainkan dari diam. Dari pasrah yang bukan menyerah. Dari penerimaan bahwa saya tidak bisa mengendalikan segalanya, tapi saya masih bisa memilih untuk tetap ada — menemani, berdoa, menjaga, dan mencintai.

Pagi menjelang. Semburat merah muda di langit timur menyingkap puncak Merapi yang mulai terang. Diantara suasana horor yang mulai terasa, saya tersenyum kecil. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena saya tahu, saya sudah kembali utuh.

Entah bagaimana, udara dingin seperti menampar lembut kesadaran yang sempat tumpul. Kicau burung yang mulai terdengar samar di kejauhan, desau angin, dan semburat cahaya di ufuk timur seperti berkata, “Masih ada hari baru. Masih ada yang bisa kamu lakukan.”

Penutup:

Sejak malam di Kalitalang itu, saya belajar bahwa kekuatan tidak selalu datang dalam bentuk keberanian, tapi kadang dalam bentuk kelelahan yang diterima dengan ikhlas. Bahwa doa tak selalu harus diucapkan dengan kata-kata, kadang cukup dengan diam yang tulus, di antara dingin gunung dan detak hati yang pelan. 


LABEL: JEJAK WAKTU

07 Oktober 2025

Media Sosial Bukan Monopoli Generasi Muda


Dulu hidup terasa lebih sederhana. Kalau mau tahu kabar, tinggal nonton TV atau baca koran. Berita datang pelan-pelan, bisa dicerna sambil ngopi. Sekarang, kabar datang dari segala arah — cepat, bising, dan kadang bikin kepala muter.

Di dunia digital, siapa pun bisa jadi wartawan, ahli, bahkan ustaz dadakan. Semua merasa punya hak berkomentar. Kadang saya bingung, mana kabar sungguhan, mana yang cuma hasil jari gatal.

Tapi, setelah sekian belas tahun ikut mondar-mandir di media sosial, saya mulai melihat sisi lain dari dunia digital, terutama setelah saya sendiri masuk kategori “lansia aktif tapi cepat lelah”.

Media sosial tidak melulu tentang mengikuti tren. Setelah aktifitas saya di luar rumah mulai terbatas, medsos menjadi jendela yang memungkinkan saya bisa tetap menjelajah sampai ke ujung dunia.

Ketika pertama kali membuat akun Facebook hampir 20 tahun lalu, saya hanya ingin tahu kabar teman lama. Dari situ, muncul hal-hal kecil yang menyenangkan dan kadang mengejutkan: mendapati teman yang dulunya pendiam dan kurang bergaul, ternyata sudah nggendong cucu duluan - sementara anak saya baru kelas 3 SD, membaca kisah inspiratif orang lain, bahkan menemukan komunitas dengan minat yang sama—fotografi, menulis, hingga berkebun.

Pelan-pelan saya semakin paham, media sosial bukan sekadar tempat berbagi, melainkan tempat untuk tetap merasa nyambung dengan kehidupan. Karena sering kali, seiring umur bertambah, lingkaran sosial kita menyempit: teman pindah domisili, sibuk dengan keluarga masing-masing, atau bahkan sudah tenang di dunia seberang.

Media sosial memberi kesempatan saya untuk tetap hadir dalam percakapan dunia, tanpa harus beranjak dari kursi.

Tentu saja, ada sisi gelapnya. Di media sosial, kabar bohong, gosip, dan provokasi menyebar lebih cepat dari petir di musim kemarau. Terutama sekarang, ketika video mudah direkayasa. Nalar harus benar-benar dipelihara, supaya tidak mudah terbawa emosi atau langsung membagikan sesuatu hanya karena cocok dengan perasaan kita. Hati-hati dan waspada bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.

 

Media Sosial Sebagai Ruang Ekspresi Diri

Yang paling saya suka, media sosial memberi ruang untuk menulis, berbagi pengalaman, dan meninggalkan jejak kecil tentang perjalanan hidup. Tempat untuk menumpahkan kenangan, pemikiran, dan refleksi hidup.

Media sosial bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Kita mungkin tidak lagi lincah secara fisik, tapi masih bisa aktif secara makna. Asal digunakan dengan bijak, media sosial bukanlah tempat yang menyesatkan, melainkan ruang untuk tetap merasa hidup, berguna, dan terhubung.

Jadi kalau ada yang bertanya, “Ngapain orang tua main media sosial?”, saya nyengir saja sambil menjawab, “Biar orang tahu kalau saya masih hidup.”


LABEL: BANGKIT DARI ABU