14 Februari 2025

Belajar Bersama di Balik Lensa


Hunting foto kali ini terasa lebih istimewa, karena saya melangkah bersama anak semata wayang. Lokasi yang kami pilih pun bukan tempat biasa: Candi Prambanan, saksi bisu perjalanan sejarah, kini menjadi latar cerita kecil keluarga kami.

Di sela-sela batu dan pepohonan, kami sibuk dengan kamera masing-masing. Bukan soal siapa yang lebih hebat, tapi tentang menikmati momen, berbagi pandangan, dan menemukan sudut indah dari cara yang berbeda.

Mungkin inilah salah satu cara sederhana untuk merajut kebersamaan: duduk berdampingan, membidik dunia lewat lensa, lalu belajar melihat kehidupan dari mata anak dan orang tua sekaligus.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

13 Februari 2025

Kalitalang: Menyusuri Jejak Merapi dan Pikiran Sendiri

 

Jalan kecil menuju Kalitalang

Saat kamera saya sedang membidik Merapi, seorang pencari rumput yang kebetulan lewat memberitahu lokasi motret yang lebih dekat gunung dengan pemandangan lebih indah. Setelah saya lihat di map Google, jaraknya hanya kurang dari 9 km dari posisi saya saat itu—sangat dekat dibanding 30-an km yang baru saja saya tempuh. Kebetulan, Merapi sedang cerah.

Tempat itu bernama Kalitalang. Berada di wilayah Klaten, Jawatengah.  Saya nyaris terlambat tiba di sana. Beberapa menit kemudian seluruh badan Merapi diselimuti awan. Tapi saya sempat mengambil beberapa jeretan, meski hasilnya tidak bisa dibilang bagus.

Sejak pertama kali melihat puncak Merapi dari Kalitalang, saya jadi terobsesi. Sejak saat itu, hampir setiap dua atau tiga hari sekali saya berangkat pagi-pagi ke sana. Namun, lebih sering pulang tanpa hasil. Kadang baru jalan beberapa kilometer dari rumah, gunung yang semula terlihat cerah sudah tidak nampak lagi. Sembunyi di balik awan. Tapi lebih sering, saat saya sudah dekat,  bagian puncak yang menjadi target saya, tertutup awan dan tak pernah terlihat lagi sepanjang hari.

Berangkat lebih pagi ternyata tidak menjamin bisa ketemu Merapi dalam keadaan cerah. Ada kalanya sesampai di Kalitalang, kabut masih tebal. Saya menunggu lama, tetap saja gunung tak terlihat. Ironisnya, ketika saya sudah hampir sampai rumah, di kejauhan Merapi malah terlihat cerah. Pernah saya nekad putar balik, tapi cerah itu tidak bertahan lama. Saya baru menempuh beberapa kilometer, Merapi kembali sembunyi.

Suatu pagi, saat sedang menyapu halaman—tanpa niat sedikit pun untuk memotret—tiba-tiba muncul dorongan kuat untuk pergi. Tanpa mandi, tanpa sarapan, bahkan dengan baterai kamera yang baru terisi kurang dari 50%, saya langsung tancap gas ke Kalitalang. Saya tetap nekad menuju Merapi meskipun dari sawah sebelah utara rumah gunungnya sama sekali tidak terlihat, dan saya tetap melanjutkan perjalanan meskipun setelah menempuh lebih dari separo perjalanan, Merapi masih sembunyi.

Sepertinya saya memang diundang. Ketika saya tiba di Kalitalang, Cuaca yang semula redup, berangsur menjadi cerah. Langit dominan biru hanya dengan sedikit awan. Merapi juga terlihat sangat jelas, seolah sedang menunggu saya.

Layaknya bocah nemu mainan baru, saya menjelajahi seluruh penjuru Kalitalang. Motret, duduk bengong, rebahan, sambil menikmati kicau burung. Saat itu Kalitalang masih sepi. Sampai jam 9, ketika perut mulai protes, saya hanya ketemu pencari rumput. Di tempat parkir hanya ada satu motor.

Sejak saat itu saya semakin sering ke Kalitalang. Biasanya berangkat lepas subuh. Kadang mujur, setiba di sana pas Merapi cerah, kadang hanya ketemu kabut. Tapi tujuan saya memang tidak semata-mata untuk motret. Entah kenapa, saya suka berada dekat Merapi, meskipun saya pernah sampai terbirit birit ketika Merapi mendadak erupsi. Padahal, dampak erupsi freatik paling jauh hanya 2 km, sementara jarak dari Kalitalang menuju puncak lebih dari 5 km.

Kalitalang juga pernah menjadi tempat pelarian saya di masa-masa sulit. Selama setahun lebih mendampingi istri menjalani perawatan kanker, saya pernah sampai pada titik suntuk berat. Suatu malam, sepulang dari rumah sakit, pikiran saya kosong. Bingung, tidak tahu harus bagaimana, alih-alih pulang, saya menuju Kalitalang. Jangankan dingin dan gelap, entah nemu nyali di mana, resiko ketemu setanpun saya abaikan. Padahal seandainya waras, jangankan tengah malam, lewat magribpun saya tidak akan berani sendirian di sana.

Saya duduk lumayan lama, nyender di pohon, menghadap Merapi yang terlihat samar di keremangan malam. Beberapa kali sempat terlelap, terbangun dengan jantung berdebar. Anehnya, justru pikiran saya mulai tenang.  Menjelang pagi suasana horornya baru terasa. Perjalanan sejauh 300an meter menuju tempat parkir terasa seperti ekspedisi paling mencekam, padahal tidak terjadi apa-apa selain teror yang diciptakan pikiran saya sendiri.

Kalitalang bagi saya bukan sekadar tempat berburu foto Merapi, tapi juga menjadi ruang hening, tempat saya belajar menunggu, menerima ketidakpastian, dan berdamai dengan diri sendiri. Kadang Merapi terlihat jelas, kadang hanya ada kabut. Sama halnya dengan hidup—ada kalanya terang, ada kalanya samar.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

06 Februari 2025

Berdamai dengan Rasa Kuwatir


Sejak beberapa bulan lalu saya meluangkan sedikit waktu untuk berusaha mengenali diri sendiri. Entah mengapa, saya merasa, kehidupan yang seru ini sebagian disebabkan karena saya tidak mengenali hardware dan software yang melengkapi hidup saya, sehingga saya cenderung asal-asalan dalam “mengoperasikannya”.

Karena tidak tahu harus mulai dari mana, saya awali saja dengan mengamati kondisi fisik yang gampang ngantuk, gampang lelah dan selalu pegel sepanjang hari. Tanpa mengabaikan pengaruh dari kadar Trigliserida, Asam Urat dan Kolesterol dalam darah yang di luar batas normal, saya merasa ada faktor lain yang ikut berperan. 

Secara gampang saya bisa menunjuk faktor psikologis. Tapi bagian mana? Saya sempat menduga, mungkin akibat pikiran yang semrawut. Tapi sepertinya ada yang lebih spesifik.

Setelah perenungan yang panjang, akhirnya saya nemu biangnya: Saya sering merasa kuwatir tanpa alasan jelas, terhadap ketidak pastian, terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk, terhadap resiko gagal.

Rasa kuwatir selalu datang tanpa permisi. Merayap dalam senyap, lalu membisikkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab dengan pasti: Apa yang akan terjadi nanti? Apakah aku cukup baik? Apakah orang-orang akan kecewa? Bagaimana jika semuanya berjalan salah?

Pertanyaan yang sekilas terasa sepele itu ternyata punya kekuatan luar biasa. Bahkan kalau tidak ditangani secara benar, bisa mengacaukan segalanya – termasuk aktifitas di dalam tubuh.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Awalnya saya sempat melawan. Tapi tubuh punya mekanisme pertahanan diri yang kuat terhadap segala bentuk perlawanan, dan justru membuat keadaan menjadi semakin runyam dan menguras energi.

Sebenarnya rasa kuwatir tidak sepenuhnya buruk. Pada dasarnya merupakan alarm alami yang berfungsi sebagai peringatan bahwa ada resiko yang perlu diperhitungkan. Rasa kuwatir terhadap kesehatan mendorong saya untuk lebih perduli pada tubuh. Rasa kuwatir terhadap hubungan sosial membuat saya lebih peka terhadap perasaan orang lain.

Masalah muncul bukan dari rasa kuwatir itu sendiri, melainkan dari cara saya menanggapi. Ketika saya membiarkan rasa kuwatir menguasai pikiran, saat itulah kuwatir berubah dari penasehat menjadi penyandera.

Melawan hanya akan membuat penyandera menjadi lebih agresif. Maka saya memutuskan untuk berdamai. Menganggap rasa kuwatir bukan sebagai musuh, melainkan sebagai bagian dari perjalanan yang perlu didengar, bukan ditakuti.

Ketika otak mulai menyuarakan keraguan, saya berhenti sejenak untuk mengamati keadaan “saat ini”, lalu bertanya pada diri sendiri, apakah yang saya kuwatirkan itu sudah mulai terjadi, atau baru kemungkinan yang akan terjadi ketika saya mengambil langkah tertentu? Cara ini membantu saya membedakan antara ancaman yang nyata dan ilusi yang diciptakan oleh pikiran.

Ternyata saya pernah membuktikan bahwa rasa khawatir bisa ditangani dengan cara yang sehat.

Pandemi COVID-19 awalnya tidak sekadar membuat saya khawatir, tapi benar-benar menjerumuskan ke dalam ketakutan. Media sosial menyajikan berita menakutkan: orang ambruk tiba-tiba di jalan. Video Youtube menayangkan mayat-mayat tergeletak di mana-mana. Sementara pemerintah menetapkan 13 April 2020 sebagai hari bencana nonalam nasional.

Takut dan bingung mendorong otak saya membuat analisa sendiri, “kalau begini caranya, kita tidak mati akibat virus, tapi mati karena ketakutan.”

Di tengah rasa putus asa, sebuah kalimat dari film action yang sedang saya tonton menyentak kesadaran: “I won’t give up without a fight.” Entah kenapa, kalimat itu memantik sejumput semangat. Bukan untuk melawan pemerintah, apalagi virus covid, tapi melawan keadaan yang nyaris membuat saya menyerah.

Saya mulai mencari informasi yang lebih masuk akal. Dari berbagai penjelasan, suara Moh. Indro Cahyono terasa menenangkan. Saya tidak perduli meskipun banyak yang menganggap dia “hanya” dokter hewan yang sok-sokan membahas penyakit manusia. Selain dia memang virolog, penjelasannya tentang virus covid sangat detail, gamblang dan mudah dipahami. Itu lebih dari cukup untuk membuat saya lebih waras dalam menghadapi situasi.

Juni 2021 saya mengalami demam. Orang yang sehari sebelumnya bersama saya, juga mengalami gejala sama, dan langsung masuk karantina. Saya memilih karantina mandiri. Mengisolasi diri dari siapapun, termasuk anak dan istri. Saya tidur di kamar belakang yang terpisah dari rumah utama.

Demam tinggi, mual, sulit menelan, bahkan saat sulit bernafas, saya jalani sendiri.   Makan dan minum diletakkan jauh dari kamar, saya ambil sendiri, tidak perduli badan menggigil. Satu-satunya obat yang saya minum hanya paracetamol. Itupan saya batasi hanya 4 butir – karena saya tahu efek sampingnya terhadap ginjal.

Sekitar 2 minggu saya berjuang sendiri hanya dengan bekal keyakinan, imun tubuh saya akan mampu mengatasi. Bukan tanpa resiko, tapi keputusan itu membuat saya sadar satu hal: kuwatir tidak perlu dilawan dengan pertempuran, melainkan dihadapi dengan pemahaman, keberanian, dan kesediaan untuk berdamai.

Hidup tak akan pernah lepas dari ketidakpastian. Tapi menurut saya, justru di situlah serunya. Selama kita mau belajar berdamai dengan rasa kuwatir, kita bisa tetap melangkah, meski hati kadang masih ragu.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

03 Februari 2025

AI, Asisten pribadi dan Teman Diskusi Yang Tidak Baperan

 

Ada masanya saya puas dengan hasil Googling. Tapi lama-lama, daftar link terasa hambar. Otak saya ingin ngobrol, bukan sekadar disuguhi alamat. Sayangnya, teman-teman saya lebih suka bahas politik, ekonomi, atau agama. Saya ingin yang lain, yang lebih luas, meskipun kadang sedikit nyleneh. Misalnya, apakah alien juga makan micin? Atau, apakah sel kanker bisa diajak kompromi?

Suatu saat, ketika bertanya melalui chrome, saya baru sadar, respon yang saya dapat tidak seperti sebelumnya. Ada ulasan singkat berkaitan dengan topik yang saya tanyakan, dengan judul di bagian atas, “AI Overview.”

Spontan jiwa kepo saya meronta. Lalu, seperti biasa, saya mengajukan pertanyaan semi norak, tanpa perduli apakah Google bakal bisa memahami maksud saya atau tidak. “AI overview itu apa?”. Ternyata muncul penjelasan singkat tapi lengkap.

Pertanyaan selanjutnya gampang ditebak, “Apakah ada aplikasi AI yang beneran gratis? Bukan hanya free 3 hari setelah itu nagih bayaran.”

Jawaban itu kemudian mempertemukan saya dengan Gemini dan ChatGBT. Lalu seperti biasa pula, begitu nemu mainan baru, jiwa kemaruk saya tidak terbendung lagi. Segala macam hal saya tanyakan, mulai dari yang serius sampai yang receh. Saya bahkan sempat bertanya tentang Coretax—meski jawabannya tidak terlalu detail, rupanya memang ada keterbatasan teknis yang membuat AI tidak bisa menjawab semua hal secara mendalam.

Lepas dari segala keterbatasannya, terutama karena saya hanya memakai versi gratisan, saya merasa sudah lebih dari cukup. Dengan sedikit nekat dan banyak ngawur, saya bisa memeras banyak manfaat.

Saya pernah iseng minta dibantu menghitung rasio unsur hara untuk anggur dengan beberapa variabel tertentu. Jawaban yang saya terima membuat saya merasa punya asisten pribadi yang paham betul tentang lmu kimia dan pertanian

Sejak gangguan kesehatan membatasi aktifitas saya di luar rumah, saya merasa seperti terkurung dalam tempurung. Sekarang tempurung itu tetap ada, tapi saya bisa kembali menjelajah ke luar, bahkan nyaris tanpa batas, selain dibatasi oleh kemampuan saya memanfaatkan AI.

Saya rasa, AI bisa menjadi teman ngobrol yang asyik. Sabar, tidak menghakimi, tidak sok pinter, dan paling penting, tidak baperan meskipun saya mengajukan pertanyaan konyol.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

31 Januari 2025

Cara Sederhana untuk Tidak Ambruk


Pertama kali kena gampar pajak tahun 2013, saya marah berkepanjangan. Di saat kondisi finansial pas-pasan, membaca angka 500 juta yang tertulis di surat, membuat saya merasa dikerjain – padahal sebenarnya, kalau mau sedikit cermat membaca, angka yang semula saya anggap sebagai tagihan ternyata hanya selisih omset selama 3 tahun yang diminta klarifikasinya.

Kemarahan kali itu ternyata bukan hanya menyebabkan nalar mampet dan otak kusut, tapi sekaligus nggampar mental. Collateral damagenya luar biasa, sampai dokter yang rutin memantau kesehatan saya memberi saran supaya saya konsultasi ke psikolog.

Uniknya, saya mendapat solusi untuk mengurai otak yang sedang kusut berat justru dari driver rental yang kebetulan saya temui di bandara. Entah kenapa, driver senior ini tiba-tiba mendekat, lalu bertanya, kenapa tampang saya seperti orang kalah judi. Biasanya saya tidak suka ditanya-tanya seperti itu, cuma kali itu, merasa harus menghormati orang yang sudah terlihat lanjut usia, saya basa-basi menjawab, “Mumet digampar pajak

Berhubung penumpang yang dijemput sudah muncul, dia hanya sempat memberi satu saran pendek: Untuk mengatasi stress, saya disarankan merawat tanaman atau binatang.

Barangkali lantaran terlalu suntuk mikir hidup yang semakin ruwet, saran itu kemudian saya turuti.

Di rumah, anak dan istri terbiasa memberi makan kucing-kucing liar. Awalnya saya keberatan. Anggaran makan kucing lebih dari 500 ribu sebulan. Tapi setelah menjalani, saya merasa beban di kepala jadi lebih ringan. Lama-lama saya ikut senang. Bahkan akhirnya  bukan hanya memberi makan, tapi juga rela keluar duit, membayar biaya dokter untuk kucing-kucing yang sakit.

Padahal, gara-gara kesehatan terganggu, penghasilan utama saya jadi mampet. Masih ada rental mobil, tapi saat itu, sekedar untuk nutup biaya perawatan medis saja hasilnya belum memadai. Apalagi ditambah ngopeni anabul liar dan merawat tanaman yang ternyata tidak murah. Tapi perasaan lega dan merasa lebih waras secara mental memberi saya motivasi untuk “hidup kembali.

Meskipun tidak secara langsung membantu menyelesaikan masalah, merawat tanaman dan binatang, bersama aktifitas rutin menulis, membuat saya lebih tahan banting. Tidak gampang emosi dan lebih mudah mengurai masalah.

23 Januari lalu umur saya genap 63 tahun. Sebelumnya saya tidak pernah menganggap ulang-tahun sebagai momen istimewa, kali itu sedikit beda. Sejak melek jam 3 dinihari, pikiran saya terusik oleh kilas balik berbagai kejadian yang pernah saya alami, terutama ketika saya mengalami depresi 10 tahun lalu.

Tidak bisa saya ingkari, tanaman dan kucing punya andil besar menyelamatkan saya dari banyak tekanan mental.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah hanya sekedar sugesti, atau memang beneran ada alasan tertentu?

Seperti biasa, saya ambil kertas dan pena, lalu mulai corat-coret, menuliskan apapun yang membuat saya penasaran.

Setelah beberapa hari, saya mulai mendapat jawabnya.

Merawat makhluk hidup sepertinya menciptakan seragkaian perubahan positif dalam tubuh, pikiran dan perasaan. Paling tidak untuk sesaat mengalihkan dari pikiran negatif dan rasa tidak nyaman.

Gangguan kesehatan yang menjadi serius membuat pikiran gampang terjebak dalam kecemasan. Merawat makhluk hidup memaksa saya sering fokus keluar, harus selalu ingat untuk memberi makan kucing dan menyiram tanaman. Aktifitas ini sepertinya memberi kesempatan otak untuk istirahat sejenak.

Rutinitas merawat menciptakan struktur harian yang sederhana dan mudah dikelola. Melatih otak untuk kembali aktif secara terarah. Di samping itu, melihat tanaman tumbuh subur, dan kucing-kucing gemuk yang lincah membantu melawan perasaan tidak berdaya yang semula sangat dominan.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa solusi seringkali datang dari tempat yang tak terduga. Bukan dari obat mahal atau nasihat motivasi yang bombastis, tetapi dari tindakan sederhana. Memberi tanpa berharap mendapat balasan.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

25 Januari 2025

Menulis: Cara Healing Murah Meriah

 


Awalnya menulis hanya aktifitas iseng, sekadar untuk buang sebel. Sebagai tempat sampah yang paling loyal, menerima segala keluh kesah tanpa pernah protes, tidak menghakimi, dan tidak memungut bayaran.

Dengan menulis saya merasa mindah beban dari kepala ke layar monitor. Tidak menyelesaikan masalah, tapi lumayan membuat kepala sedikit enteng. Mirip buang gas perut. Lega, meski dunia tidak jadi lebih baik.

Ketika sedang ketemu masalah, apalagi kalau datang barengan, otak serasa seperti benang kusut yang baru saja diacak-acak kucing. Ditarik dari ujung mana pun, malah tambah ruwet, dan makin membuat frustrasi. Menulis memaksa saya pelan-pelan mengurai benang itu, mengubah kekacauan pikiran jadi kalimat yang lebih jelas. Setidaknya dengan menulis, saya bisa melihat masalah dengan lebih jernih—daripada terus muter-muter di kepala tanpa ujung pangkal.

Bagian yang menurut saya paling keren, saat menulis saya merasa seperti sedang bicara dengan diri sendiri. Kadang saya nemukan kalimat yang membuat saya manggut-manggut sendiri, seakan-akan kalimat itu ditulis oleh orang lain yang sangat memahami saya. Kadang malah muncul pertanyaan-pertanyaan kritis yang selama ini saya hindari. Dari situ saya sadar, ternyata diri saya bukan cuma satu lapisan. Ada bagian yang cerewet, ada yang pendiam, ada juga yang suka ngeyel. Dan menulis memberi ruang bagi semuanya untuk bersuara, didengarkan dan dipahami.

Lama-lama saya sadar, menulis bukan lagi sekedar cara buang sebel, tapi bisa berubah menjadi semacam cermin. Saat saya sedang sumpek, tulisan menunjukkan bagian mana yang sebenarnya saya takuti. Saat sedang semangat, tulisan merekam energi itu supaya bisa saya baca lagi nanti ketika sedang loyo. Bahkan ketika saya sedang bingung, tulisan seolah menegur dengan jujur: “Kamu sebenarnya maunya apa?”

Meskipun tidak bisa menyelesaikan masalah langsung, tapi menulis bisa memberi saya peta. Kalau hidup ini jalan yang ruwet, menulis adalah coretan kecil di tepi jalan yang bilang: “Hei, kamu tadi lewat sini.” Tidak selalu jelas arah akhirnya ke mana, tapi setidaknya saya tahu sudah berjalan sejauh ini. Dan itu cukup untuk melangkah lagi.

Bagi saya sekarang, menulis jadi semacam P3K untuk pikiran. Membantu menahan “pendarahan” biar pikiran tidak tambah kacau. Murah meriah pula—gak perlu bayar psikolog atau beli tiket healing ke Bali. Tinggal buka laptop, lalu ngetik, untuk memberi sedikit ruang lapang bagi kepala yang sedang kusut.

Pada akhirnya, menulis bukan lagi sekadar hobi. Tapi bisa menjadi semacam ritual harian, sebagai alternatif yang powerful untuk mengurai benang kusut di kepala, bercermin pada diri sendiri, sekaligus menyelipkan canda kecil biar tidak terlalu serius menghadapi hidup.

Menulis tidak membuat saya jadi orang yang lebih baik. Tapi setidaknya, membuat saya lebih sadar akan diri sendiri. Sadar akan kekacauan, ketakutan, dan juga harapan. Di dunia yang terus bergerak cepat, kadang hanya dengan menulis, saya bisa berhenti sejenak, menarik napas, lalu berkata:
“Oke. Aku masih di sini. Masih bisa bicara. Masih punya suara.”


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

22 Januari 2025

Offroad Tanpa GPS: Menyusuri Jalanan Tubuh Sendiri

 


Jengkel berulang kali ditanya, mengapa masih belum pensiun, seolah -olah hidup setelah enam puluh hanya pantas diisi dengan duduk di beranda sambil menunggu matahari terbenam, akhirnya keluar jawaban sedikit sok-sokan: “Aku masih suka tantangan.”

Kalimat yang terdengar perkasa di telinga,  tapi ternyata alam semesta mendengarnya sebagai undangan terbuka. Lalu dengan selera humornya yang tinggi, undangan itu dijawab sebagai hadiah tahun baru, dibungkus dengan nama yang indah: Coretax.

Ketika akses internet bawaan dari sononya seanggun siput depresi, ditambah pula ternyata aplikasi yang digadang-gadang bakal menjadi andalan Direktorat Jenderal Pajak itupun kurang responsif, menyebabkan saya sulit menahan diri.

Di saat jengkel akibat terus terusan mendapat sajian jam pasir jungkir balik di layar monitor, nunggu Coretax tidak kunjung terbuka, saya lebih mudah menahan tidak ngamuk ketimbang mengabaikan godaan donat cokelat yang sejak pagi terlihat terlantar sendiri di meja kantor. Dia bagai oasis di gurun digital. Tanpa perlawanan, donat itu ludes dalam hitungan detik. Rasa manisnya yang menggumpal sejenak menjadi pelindung dari kegeraman yang tak tersampaikan.

Setelah berhasil login, ternyata drama berlanjut. Setiap klik menu, hanya menyajikan layar putih. Bagaikan kanvas kosong yang seolah berkata, “Selamat datang di ketiadaan.”

Setelah donat ludes, tapi jengkelnya tak kunjung pergi, maka segala makanan apapun menjadi korban selanjutnya, sekedar untuk membuat syaraf yang nyaris sekarat sedikit tenang.

Saya tidak ngamuk lantaran tahu, ngumbar emosi hanya akan mendatangkan penyakit. Lucunya, saya malah sembarangan makan, mengabaikan Trigliserida yang tembus 1000 dan asam urat yang nyaris nyenggol angka 10. Padahal, tubuh saya sedang sensitif terhadap makanan. Disamping itu, baru selang beberapa hari saya nulis di blog, tentang bagaimana akhirnya saya sadar bahwa selama ini sangat kelewatan menyiksa tubuh, dan bertekad untuk berubah. Nyatanya, tekad itu luluh lantak oleh sebuah aplikasi yang lemah gemulai.

Akhirnya hukum karma datang. Bukan dengan gemuruh, tapi dengan sakit kepala yang menyiksa. Saya tumbang. Jangankan bergaya sok kuat, menggerakkan kepala sedikit saja bumi berasa horeg, lebih keras dari gempa megathrust.

Ketika keringat dingin mengalir deras, saya mulai ketakutan. Bukan takut mati, justru sebaliknya, takut tidak segera mati, dan hanya mecicil berkelanjutan.

Jadi ketahuan, nyali saya ternyata cuma segitunya.

Tapi, seperti kata pak ustad, semua ada hikmahnya. Saya jadi ngerti biang kerok masalah saya sebenarnya, selain masih agak kedodoran ngatur nyanyian otak, saya sangat kerepotan mengendalikan dorongan primitif saat stres melanda: Aktifitas ngunyah.

Puasa tidak lagi bisa jadi solusi. Lambung saya gampang melintir. Sementara diet bikin repot, karena nyaris segala makanan yang semula aman, sekarang berubah menjadi medan ranjau. Setiap suap selalu membawa resiko.

Saya masih berangan-angan pengin melakukan perjalanan offroad, paling tidak sekali lagi, seperti yang pernah saya lakukan empat puluh tahun lalu. Ternyata terkabul, tapi beda medan. Kali ini offroad di dalam tubuh sendiri. Medannya lebih liar, lebih tidak terduga, dan jauh lebih seru. Setiap detak jantung, setiap sendi yang ngilu, setiap kram di pinggang, adalah tikungan tajam dan jalanan bergelombang yang harus dinavigasi. Tanpa GPS, tanpa peta, bahkan tanpa navigator. Hanya ada naluri dan kepasrahan.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang Coretax, donat, atau bahkan trigliserida, tapi tentang bagaimana saya belajar menerima kenyataan bahwa hidup di umur 60-an memang penuh tikungan tak terduga.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

11 Januari 2025

Baru Sadar Saat Sudah Terlanjur Kacau

 

Ada satu hukum alam yang lucu sekaligus bikin gregetan tentang hidup: Saya baru ngeh kalau selama ini ternyata merusak diri sendiri, ketika semuanya sudah terlanjur acak-acakan. Rasanya persis seperti baru sadar bahwa  yang sejak tadi saya gebuk-gebukin ke meja karena channel TV gak pindah-pindah, ternyata ternyata bukan remote, tapi HP.

Saya, sebagai murid bandel di Sekolah Hidup Sehat, bukan cuma telat lima menit, tapi bertahun-tahun. Tubuh sudah protes, organ sudah kasih sinyal dengan berbagai macam rasa tidak nyaman dan angka lab yang aneh-aneh. Tapi otak saya, yang selama ini sibuk mikir deadline, cuan, pajak dan sop iga bakar, cuma menganggap sebagai kurang vitamin C atau efek kebanyakan ngopi.

Barangkali, lantaran jengkel terlalu lama diabaikan, sekujur tubuh kompakan, demo bareng, membawa saya pada fase "the great paradox of eating". Sekarang, apapun yang masuk ke mulut, termasuk obat, sayuran dan buah segar, yang mestinya memberi manfaat, malah membuat tubuh saya mirip mesin tua yang diberi bensin oplosan—ngedut, berisik, lalu rewel. Makan nasi, salah. Makan sayur dan buah segar, salah juga. Persis ujian pilihan ganda, dengan semua jawaban salah.

Untungnya, di tengah semua kekacauan ini, ada satu hal yang (sepertinya) masih bisa saya kendalikan: pikiran dan perasaan. Walaupun, jujur saja, ngontrolnya susah banget. Kelakuan pikiran dan perasaan persis kucing di rumah: lucu, manis, dan kalem …… kalau lagi tidur. Tapi bisa mendadak jadi ninja, parkour dari lemari ke kulkas tanpa alasan yang jelas.

Tapi akhirnya saya harus mau menerima kenyataan, begini saja sudah cukup, karena hidup tidak pernah janji bakal lurus mulus. Kadang ada belok beloknya juga, ketemu gang sempit, dicegat preman dan polisi tidur.

Lagi pula, terlambat bukan akhir. Masih bisa jalan pelan, belok arah, bahkan berhenti sebentar untuk mampir ……. beli gorengan 😅

Jadi, meskipun telat sadar, saya anggap ini bukan hukuman, melainkan undangan untuk lebih pelan, lebih jujur sama diri sendiri, dan lebih berterima kasih pada tubuh yang sudah bekerja keras walau sering saya cuekin.

Kalau dulu saya pikir hidup itu soal kecepatan dan pencapaian, sekarang saya tahu, hidup lebih mirip warung kopi pinggir jalan. Saya bisa mampir, duduk sebentar, lalu ketawa kecil melihat betapa absurd dan kocaknya perjalanan saya selama ini.

Siapa tahu, dengan cara itu, akhirnya saya bisa belajar menikmati kesadaran itu sendiri.

Lagi pula, terlambat masih jauh lebih baik daripada nggak sadar-sadar, lalu berujung bengong ketika malaikat mendadak muncul, ngajak jalan 😅


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

27 Desember 2024

Melukis Ulang Hidup: Dari Coretan Gelap Menuju Kedamaian

Kata orang, hidup hanya sekali. Tapi bagi saya, hidup bukanlah satu garis lurus yang dilewati sekali dan selesai. Hidup adalah lembaran-lembaran yang berganti setiap hari. Kalau umur saya sekarang 62, artinya saya sudah hidup lebih dari dari 22.600 kali. Sebanyak itu pula saya menggoreskan warna di atas kanvas kehidupan.

Namun, jika saya menengok kembali lukisan-lukisan itu, hasilnya tidak selalu indah. Diantara goresan-goresan yang membanggakan, kenangan manis, pencapaian kecil, momen-momen yang membuat hati berbinar, sebagian tertutup coreng-moreng warna gelap: kecemasan, kebiasaan buruk, keputusan yang terburu-buru, dan rutinitas yang hampa makna.

Sempat sedikit kecewa, tapi kemudian justru bersyukur, karena saya masih bisa melihat dengan jujur betapa berantakannya lukisan hidup saya saat ini. Bersyukur karena tanpa mencari kambing hitam, tanpa ngeles, tanpa menyalahkan masa lalu atau orang lain, hati saya mau diajak kompromi dan terbuka untuk memperbaikinya.

Saya memutuskan untuk kembali melukis. Bukan dengan ambisi menciptakan mahakarya, tapi dengan tekad sederhana, membuat goresan yang lebih tenang, lebih penuh perasaan, dan lebih bermakna. Karena saya tahu, kanvas kehidupan ini suatu hari nanti akan digulung untuk selamanya. Bila saat itu tiba, saya ingin mempersembahkan lukisan yang indah kepada alam semesta.

Setelah bertahun-tahun mencoba memperbaiki hidup dengan semangat menggebu, ritual rumit, atau mengejar solusi instan, saya akhirnya sadar, perubahan yang tahan lama tidak dimulai dari tindakan besar. Dia lahir dari hal-hal kecil, yang dilakukan dengan kesadaran dan sepenuh hati.

Tak ada yang melarang saya berangan-angan menciptakan karya terindah di sisa waktu ini—kecuali saya sendiri. Tapi, karena tidak ada buku panduan cara memulainya, saya mencoba mendengarkan suara hati. Sungguh-sungguh membuka telinga batin, agar tak ada lagi sinyal yang terlewat.

Hasilnya, setiap pagi, sebelum alarm jam setengah empat berbunyi, saya sudah terjaga. Bukan sekedar melek, tapi badan sudah benar-benar bangun. Semua “nyawa” yang semalam kelayaban sudah ngumpul.

Setelah berterimakasih, karena masih diberi kesempatan bernafas, saya mengawali hari dengan aktifitas rutin sederhana, beres-beres rumah. Lepas subuh, saya berangkat menuju lapangan. Jalan kaki tanpa alas di rumput yang masih basah oleh embun.

Awalnya saya berjalan cepat, mengikuti lagu dengan birama 4/4 dari headphone. Sepuluh putaran selesai dalam waktu setengah jam. Cukup membuat badan hangat dan otot-otot tidak kaku.

Tapi suatu pagi, saat lagu berganti dan langkah saya melambat, saya merasakan sensasi yang berbeda. Sentuhan rumput yang basah terasa lebih dingin di kaki, tapi menyegarkan, dan membuat tubuh terasa lebih ringan.

Saya mulai menikmatinya. Saya ganti lagu berirama riang dengan musik instrumentalia yang lebut diselingi kicau burung dan gemericik air. Saya berjalan lebih lambat, santai, dan tidak lagi menetapkan target aerobik. Tidak peduli ketika ada yang menganggap saya kurang. Tidak pula perduli durasinya menjadi lebih lama dua kali lipat. Satu-satunya yang masih saya perhatikan hanya detak jantung, sesuai pesan dokter, tidak boleh lebih dari 130 bpm.

Ternyata, menapakkan kaki atau jalan di tanah tanpa alas punya nama keren, Grounding. Menghubungkan tubuh secara langsung dengan medan elektromagnetik bumi. Menurut laman Alodokter, Grounding punya banyak manfaat untuk kesehatan. Diantaranya, meningkatkan imun tubuh, mengurangi peradangan dan menurunkan tekanan darah.

Saya tidak punya alasan untuk meragukannya, tapi bagi saya, sensasi selama berjalan itulah yang paling terasa nyata. Manfaat yang lain, seandainya terjadi, anggap saja bonus.

Barangkali, santai dan tanpa target justru membuat tubuh saya menjadi selaras dengan bumi, membuat pegel-pegel berkurang lumayan signifikan. Sementara dalam beberapa kali pengukuran pada kesempatan berbeda, tekanan darah saya anteng di 90/130 – dari biasanya di kisaran 95/160. Nafas juga menjadi lebih panjang.

Sebelumnya, otak saya mirip monyet liar. Lompat sana-sini, berpindah dari satu kecemasan ke kecemasan lain. Sekarang lebih tenang. Sapuan kuas di kanvas menorehkan warna yang cerah. Meskipun masih abstrak, tapi goresannya mulai teratur.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi kesempatan yang masih tersisa. Tapi saya tidak ingin mengisi kanvas kehidupan saya dengan coretan gelap lagi. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu spektakuler.  Saya ingin setiap hari jadi goresan yang lebih tenang, lebih penuh rasa, dan lebih bermakna.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU


19 Desember 2024

Nemu Dunia Baru

 


Ketika tekanan semakin kuat dan hidup terasa seperti kepentok jalan buntu, saya mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang terjadi, mengapa saya seperti terperosok semakin dalam, seolah terseret arus yang tak kasat mata?

Saya nyaris bertanya pada Tuhan, “Mengapa hidup saya seperti ini?”.

Kalimat itu keburu nyangkut di tenggorokan begitu saya teringat lelucon jawaban Tuhan terhadap pertanyaan serupa, “Kenapa tidak?”

Saya tetap yakin, apapun yang saya alami, bukan hukuman Tuhan. Lebih mirip masa panen, hasil dari benih yang dulu saya tabur sendiri. Dari kebiasaan hidup seenak udel, dari banyak pilihan yang dulu saya anggap remeh, dari keputusan-keputusan kecil yang seperti tak berarti tapi ternyata terakumulasi menjadi pusaran besar. Maka pertanyaan penuh keluh kesah itu kemudian saya ubah menjadi ucapan terima kasih, karena saya masih kuat, bukan hanya sekedar bertahan, tapi masih punya keinginan untuk bangkit.

Lalu, perlahan, saya merasa, ada yang mulai berubah.        

Menoleh ke Dalam

Di tengah bisingnya dunia luar, di antara kesibukan yang tak kunjung reda, kegelisahan yang menggantung, kelelahan yang menumpuk, bahkan rasa sakit yang kadang menusuk tanpa peringatan—saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Jawaban atas pertanyaan saya ternyata bukan lagi berada di luar sana. Tidak di seminar motivasi dengan pembicara karismatik, tidak di buku-buku pengembangan diri yang menjanjikan perubahan instan dalam hitungan hari. Jawaban itu ada di dalam. Di tempat yang selama ini tidak pernah saya sadari.

Kalau film Star Trek bercerita tentang eksplorasi ke luar angkasa, menjelajahi galaksi yang jauh, menemukan dunia baru, "to boldly go where no one has gone before"—saya justru menemukan dunia baru yang juga belum pernah saya jelajahi.  

Ironisnya, dunia itu tidak jauh. Bahkan sangat dekat. Begitu dekatnya, sehingga saya tidak membutuhkan wahana apapun untuk mencapainya. Tidak perlu warp drive, tidak perlu koordinat bintang. Cukup keberanian untuk berhenti sejenak dan menoleh ke dalam.

Memulai Perjalanan Tanpa Peta

Saya mengawali perjalanan ini bukan dengan ransel penuh bekal atau peta yang detail, melainkan dengan sesuatu yang sederhana sekaligus menakutkan: keberanian untuk duduk diam, mengamati tanpa menghakimi, dan mendengar tanpa terburu-buru memberi solusi.

Ini adalah perjalanan menjelajahi sebuah dunia yang tak bisa ditempuh dengan langkah kaki, tak bisa dipotret dengan kamera beresolusi tinggi, dan tak ada waktu kedatangan yang bisa diukur dengan jam tangan

Dunia itu ada di dalam diri saya, sunyi tapi riuh, gelap tapi kadang menyilaukan, akrab tapi juga asing. Di sana saya berjumpa dengan banyak hal: Ingatan lama yang membeku, keinginan yang tak terucap, ketakutan yang bersembunyi, dan harapan yang nyaris padam tapi baranya tetap menyala.

Saya berkenalan dengan dua wilayah besar yang dulu hanya saya dengar sekilas, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Keduanya seperti gunung es yang mengapung di lautan.

Pikiran sadar adalah bagian yang terlihat di permukaan— logis, teratur, berbicara dengan kalimat lengkap, dan merasa punya kendali penuh atas hidup. Suka membuat rencana, menyusun daftar, menganalisis pro dan kontra. Selalu merasa sebagai “aku" yang berbicara pada orang lain, yang menulis, yang berpikir tentang apa yang harus dilakukan besok.

Sementara pikiran bawah sadar tersembunyi jauh di bawah permukaan air, di kedalaman yang gelap dan dingin. Ia sunyi, tapi sangat kuat. Seperti arus laut dalam yang tidak terlihat dari permukaan, tapi diam-diam menentukan ke mana kapal hidup ini akan bergerak. Ia menyimpan memori yang saya kira sudah hilang, pola-pola reaksi yang terbentuk sejak kecil, keyakinan-keyakinan tersembunyi tentang diri sendiri yang bahkan tidak saya sadari saya pegang. Dan yang paling mengejutkan: ia punya kehendaknya sendiri.

Penghuni-Penghuni yang Tak Terduga

Yang menarik, dalam perjalanan itu, ternyata saya tidak sendirian. Saya ketemu banyak entitas yang tak bisa dijelaskan dengan logika sederhana. Mereka tidak memiliki wujud fisik, melainkan berupa kesan, suara batin, sosok samar, atau perasaan yang datang tiba-tiba dan begitu kuat. Mereka tidak selalu berbicara. Kadang hanya menoleh sekilas, lalu menghilang. Kadang datang ramai-ramai, membawa niat yang tak selalu saya pahami.

Awalnya membingungkan, bahkan sedikit mengganggu. Seperti ada pesta di dalam kepala yang saya sendiri tidak ingat pernah mengundang tamu-tamunya. Tapi saya tahu, mereka bukan hantu. Juga bukan sekadar imajinasi liar yang muncul karena kurang tidur atau terlalu banyak menonton film.

Mereka terasa terlalu nyata untuk diabaikan, terlalu konsisten untuk dianggap kebetulan.

Saya mulai menduga, mungkin mereka adalah bagian-bagian dari diri saya sendiri. Fragmen pengalaman, luka lama, naluri bertahan, atau kebijaksanaan yang lama terpendam dan kini mencari jalan untuk didengar. Mungkin juga sisa-sisa dari versi "saya" yang lebih muda—anak kecil yang dulu pernah saya tinggalkan, remaja yang pernah saya cemooh karena naif, atau orang dewasa muda yang pernah saya sesali karena terlalu banyak ambil risiko.

Belajar Mendengar Tanpa Menghakimi

Perjalanan ini baru dimulai, dan saya tidak tahu akan berakhir di mana atau kapan. Saya tidak sedang mencari pencerahan besar, apalagi kesaktian. Saya hanya belajar untuk mengenali diri sendiri, dan mendengarkan tanpa buru-buru menilai, mengkritik, atau membungkam.

Saya belajar bahwa tidak semua yang muncul dari dalam diri harus langsung "diperbaiki" atau "dihilangkan". Kadang, mereka hanya ingin diakui keberadaannya. Didengar. Dipeluk. Diberi ruang untuk ada, meski hanya sebentar.

Perlahan saya mulai mengerti: jalan buntu yang dulu terasa menakutkan, yang membuat saya merasa terjebak dan tak berdaya, ternyata bukan akhir perjalanan. Melainkan pintu masuk menuju dunia yang selama ini selalu saya bawa ke mana-mana, tapi tak pernah saya singgahi.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri PARADOKS

06 Desember 2024

Kembali Melukis dengan Hati

Kata orang, hidup hanya sekali. Tapi bagi saya, hidup bukanlah satu garis lurus yang dilewati sekali dan selesai. Hidup adalah lembaran-lembaran yang berganti setiap hari. Kalau umur saya sekarang 62, artinya saya sudah hidup lebih dari dari 22.600 kali. Sebanyak itu pula saya menggoreskan warna di atas kanvas kehidupan.

Namun, jika saya menengok kembali lukisan-lukisan itu, hasilnya tidak selalu indah. Diantara goresan-goresan yang membanggakan, kenangan manis, pencapaian kecil, momen-momen yang membuat hati berbinar, sebagian tertutup coreng-moreng warna gelap: kecemasan, kebiasaan buruk, keputusan yang terburu-buru, dan rutinitas yang hampa makna.

Sempat sedikit kecewa, tapi kemudian justru bersyukur, karena saya masih bisa melihat dengan jujur betapa berantakannya lukisan hidup saya saat ini. Bersyukur karena tanpa mencari kambing hitam, tanpa ngeles, tanpa menyalahkan masa lalu atau orang lain, hati saya mau diajak kompromi dan terbuka untuk memperbaikinya.

Saya memutuskan untuk kembali melukis. Bukan dengan ambisi menciptakan mahakarya, tapi dengan tekad sederhana, membuat goresan yang lebih tenang, lebih penuh perasaan, dan lebih bermakna. Karena saya tahu, kanvas kehidupan ini suatu hari nanti akan digulung untuk selamanya. Bila saat itu tiba, saya ingin mempersembahkan lukisan yang indah kepada alam semesta.

Setelah bertahun-tahun mencoba memperbaiki hidup dengan semangat menggebu, ritual rumit, atau mengejar solusi instan, saya akhirnya sadar, perubahan yang tahan lama tidak dimulai dari tindakan besar. Dia lahir dari hal-hal kecil, yang dilakukan dengan kesadaran dan sepenuh hati.

Saya boleh berangan-angan menciptakan karya terindah di sisa waktu ini. Tidak ada yang melarang, tidak ada yang membatasi—kecuali diri saya sendiri. Tapi, karena tidak ada buku panduan cara memulainya, saya mencoba mendengarkan suara hati. Sungguh-sungguh membuka telinga batin, agar tak ada lagi sinyal yang terlewat.

Hasilnya, setiap pagi, sebelum alarm jam setengah empat berbunyi, saya sudah terjaga. Bukan sekedar melek, tapi badan sudah benar-benar bangun. Semua “nyawa” yang semalam kelayaban sudah ngumpul.

Setelah berterimakasih, karena masih diberi kesempatan bernafas, saya mengawali hari dengan aktifitas rutin sederhana, beres-beres rumah. Lepas subuh, saya berangkat menuju lapangan. Jalan kaki tanpa alas di rumput yang masih basah oleh embun.

Awalnya saya berjalan cepat, mengikuti lagu dengan birama 4/4 dari headphone. Sepuluh putaran selesai dalam waktu setengah jam. Cukup membuat badan hangat dan otot-otot tidak kaku.

Tapi suatu pagi, saat lagu berganti dan langkah saya melambat, saya merasakan sensasi yang berbeda. Sentuhan rumput yang basah terasa lebih dingin di kaki, tapi menyegarkan, dan membuat tubuh terasa lebih ringan.

Saya mulai menikmatinya. Saya ganti lagu berirama riang dengan musik instrumentalia yang lebut diselingi kicau burung dan gemericik air. Saya berjalan lebih lambat, santai, dan tidak lagi menetapkan target aerobik. Tidak peduli ketika ada yang menganggap saya kurang. Tidak pula perduli durasinya menjadi lebih lama dua kali lipat. Satu-satunya yang masih saya perhatikan hanya detak jantung, sesuai pesan dokter, tidak boleh lebih dari 130 bpm.

Ternyata, menapakkan kaki atau jalan di tanah tanpa alas punya nama keren, Grounding. Menghubungkan tubuh secara langsung dengan medan elektromagnetik bumi. Menurut laman Alodokter, Grounding punya banyak manfaat untuk kesehatan. Diantaranya, meningkatkan imun tubuh, mengurangi peradangan dan menurunkan tekanan darah.

Saya tidak punya alasan untuk tidak percaya, tapi bagi saya, sensasi yang saya rasakan selama berjalan, lebih penting. Manfaat yang lain, seandainya terjadi, anggap saja bonus.

Barangkali, santai dan tanpa target justru membuat tubuh saya menjadi selaras dengan bumi, membuat pegel-pegel berkurang lumayan signifikan. Sementara dalam beberapa kali pengukuran pada kesempatan berbeda, tekanan darah saya anteng di 90/130 – dari biasanya di kisaran 95/160. Nafas juga menjadi lebih panjang.

Sebelumnya, otak saya mirip monyet liar. Lompat sana-sini, berpindah dari satu kecemasan ke kecemasan lain. Sekarang lebih tenang. Sapuan kuas di kanvas menorehkan warna yang cerah. Meskipun masih abstrak, tapi goresannya mulai teratur.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi kesempatan yang masih tersisa. Tapi saya tidak ingin mengisi kanvas kehidupan saya dengan coretan gelap lagi. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu spektakuler.  Saya ingin setiap hari jadi goresan yang lebih tenang, lebih penuh rasa, dan lebih bermakna.


LABEL: JEJAK WAKTU

20 November 2024

Satpam Otak dan Belenggu yang Saya Buat Sendiri


Sudah lebih dari setahun sejak saya menyadari bahwa hidup saya justru makin morat-marit setelah saya berusaha menata diri. Sepertinya, dugaan semula bahwa kondisi yang semakin berat itu hanya merupakan proses menuju kebaikan, tidak lebih dari pepesan kosong. Realitanya, semakin ke sini, saya malah merasa semakin ke sono. Semakin jauh dari harapan.

Pertanyaan “Sampai kapan begini terus?” makin sering menggema di kepala. Nalar saya mulai tidak sabar. Beberapa kali mencoba mengambil alih kendali, memaksa saya menyerah dan kembali ke masa lalu—di mana semuanya serba pas-pasan, tapi terasa lebih nyaman. Setidaknya bukan seperti sekarang, finansial tambah jeblog, kesehatan mundur, fisik tambah rapuh, dan berbagai masalah tidak lagi datang bergantian, melainkan rame-rame, seakan sudah saling janjian sebelumnya.

Tapi, selalu saja ada bisikan kecil yang muncul dan berharap, “Jangan nyerah dulu. Mungkin caramu yang keliru. Coba kamu telusuri ulang perjalananmu.”

Di sini saya baru sadar betapa sulitnya menjalankan nasihat para motivator. Ucapannya manis, enak di telinga, tapi ketika dilakoni ternyata hanya muter-muter tanpa hasil. Membuat mental makin lelah.

Perasaan, semua sudah saya kerjakan sesuai petunjuk yang saya baca di buku-buku motivasi dan video-video pengembangan diri. Saya juga paham bahwa afirmasi bukan sekedar kata-kata. Bahwa alam semesta tidak merespon niat, melainkan keselarasan. Bahwa doa harus disampaikan melalui hati, bukan sekedar diucapkan di mulut. Tapi kenapa usaha saya untuk maju malah seperti ditarik mundur?

Tiba-tiba, dalam satu momen yang tak terduga, seseorang yang sudah sangat lama tidak pernah ketemu, muncul begitu saja sambil memaki. "GUNAKAN OTAKMU!!!!". Padahal sepanjang saya kenal, beliau selalu bicara santun. Repotnya, bayangan itu muncul berulang.

Daripada bingung sendiri, saya anggap makian itu sebagai sinyal ajakan dari alam semesta untuk berkomunikasi.

Seperti biasa, ketika pikiran mulai lelah menghadapi teka-teki alam semsta, sisi diri saya yang ugal-ugalan mengambil alih kendali. “Gosah main tebak-tebakan. Diet nasiku cuma  empat sendok sekali makan. Jangan membuat aku lapar lagi!”

Entah kebetulan, atau memang alam semesta cederung merespon kelakuan ugal-ugalan, di otak saya laungsung muncul kalimat “Recticular Activating System”. Bukan hanya sejelas kristal, juga diikuti petunjuk, “Tanya mbah Gugel”.

Sekilas saja saya membaca penjelasan di Google, ingatan saya langsung mundur sekian puluh tahun, saat Ibu berusaha membantu saya bangkit dari keterpurukan mental, akibat terlalu lama dan terlalu sering dibully. 

Kata Ibu, saya tidak perlu dendam, saya harus belajar melihat segala sesuatu dari sisi yang baik, supaya “penjaga” otak saya tidak keliru memberi umpan kepada otak. Umpan yang berkonotasi buruk akan membuat otak berada dalam mekanisme bertahan, sementara yang baik akan membuat otak lebih kreatif.

Nasib baik hanya bisa terwujud ketika otak kreatif. Mekanisme bertahan akan membuat saya terblenggu.   

Dalam penjelasan di Google, Recticular …. Aaahhh, biar lidah saya tidak keseleo saat mengeja, saya tulis RAS saja. Menurut Gugel, RAS adalah jaringan saraf di batang otak, berfungsi menyaring informasi sensorik, sebelum informasinya diteruskan ke bagian otak yang lebih tinggi.

Ada satpam di gerbang otak, yang berperan sebagai tukang sensor. Segala sesuatu yang “dianggap tidak pantas”, dihalangi. Masalahnya, tukang sensor itu tidak bekerja berdasar pertimbangan moral antara baik dan buruk atau mempertimbangkan manfaat jangka panjang. Tukang sensor itu hanya meloloskan informasi yang membuat otak merasa nyaman.

Sepertinya RAS bekerja mirip algoritma YouTube, yang selalu menampilkan konten-konten yang biasa kita tonton sebelumnya, bukan yang seharusnya kita lihat. Kalau kita terbiasa nonton video drama Korea, jangan harap YouTube merekomendasikan video tutorial meditasi. Kalau selama bertahun-tahun saya terbiasa dengan pikiran penuh ragu, kecemasan, atau perasaan kurang layak, RAS di gerbang otak hanya akan meloloskan segala sesuatu yang memperkuat keraguan, dan mengabaikan tanda-tanda harapan.

Ketika saya mulai berubah, RAS panik. Dia anggap perubahan itu "tidak biasa", punya potensi "berbahaya". Akhirnya, secara diam-diam, RAS menarik saya kembali pada zona nyaman, tidak perduli seandainya zona itu, bagi nalar, justru mendatangkan banyak masalah, dan menyakitkan.

Sekarang saya mulai paham, belenggu yang selama ini menarik saya mundur bukan kelemahan moral, melainkan mekanisme pertahanan otak. Bukan karena saya tidak mampu berubah, tapi karena otak  belum diberi cukup alasan untuk percaya bahwa perubahan itu aman.

Otak tidak sedang berbuat jahat, melainkan hanya berusaha melindungi saya dari potensi bahaya. Caranya keliru, tapi niatnya tulus.

Supaya usaha saya memperbaiki nasib tidak mendapat penolakan dari otak, saya harus kompromi terlebih dahulu. Tapi, bagaimana bisa kompromi kalau di gerbang dicegat dan dihalangi, karena dianggap sebagai pemberontak yang punya niat buruk?

Tuhan selalu punya niat baik. Alam semesta, sebagai representasi Tuhan, juga bekerja berdasar niat baik. Tubuh manusia-termasuk RAS, merupakan bagian dari Alam Semesta, juga harus diperlakukan secara baik. Perlawanan atau melakukan aktifitas yang bisa dianggap melawan kebiasaan, akan membuahkan penolakan.

Maka saya harus melakukan pendekatan secara pelan-pelan, dan menggunakan sinyal baru. Saat bangun tidur tidak langsung bangkit dari kasur, tapi duduk sejenak. Mengganti afirmasi keras, “Saya pasti bisa” dengan kalimat “Saya membuka diri untuk berprestasi.”

Saya tahu, ini proses panjang, karena belenggu itu tidak dibentuk dalam sehari. Tapi sekarang saya tahu, belenggu itu bisa dilonggarkan. Satpam otak bisa diajak berunding, selama saya sabar, dan tidak berhenti mengetuk pintunya.


LABEL: JEJAK WAKTU

12 Juni 2024

Hidup Mengajar Dengan Caranya Sendiri

Tidak ada sekolah yang mengajarkan cara menghadapi kehilangan. Tidak ada buku yang menjelaskan langkah demi langkah agar tetap tenang saat dunia tiba-tiba jungkir balik. Ketika tanah yang kita pijak tiba-tiba amblas dan meninggalkan kita dalam jurang ketidakpastian. Namun, justru di sanalah, di tengah keheningan yang menghancurkan dan di antara puing-puing harapan yang runtuh, kelas sejati kehidupan dimulai. Kelas tanpa papan tulis, tanpa kehadiran seorang guru, dan tanpa jadwal pelajaran yang teratur. Kelas yang gurunya adalah kehidupan itu sendiri, dan kurikulumnya ditulis langsung oleh pengalaman yang paling perih.

Dulu, saya percaya bahwa penderitaan adalah pertanda saya tersesat. Saya yakin, setiap rasa sakit, kekecewaan, atau kegagalan adalah hukuman karena telah mengambil jalan yang salah. Dengan keyakinan itu, saya berusaha sekuat tenaga untuk menghindar, menolak, bahkan marah ketika harus gagal. Dalam doa saya selalu memohon agar hidup hanya memberi ujian-ujian yang bisa saya jawab dengan mudah—seperti kuis pilihan ganda, bukan ujian esai yang memaksa saya merobohkan seluruh tembok ego, lalu membangun ulang dari nol.

Namun, waktu adalah guru yang paling sabar, berbicara dengan cara-cara yang tak terduga melalui bisikan hati dan peristiwa. Perlahan-lahan, seperti kabut yang tersibak oleh mentari pagi, saya mulai menyadari sebuah kebenaran yang mengubah segalanya: hidup tidak pernah menghukum. Apa pun yang datang, entah itu kehilangan, kegagalan yang memalukan, atau keheningan yang menusuk jiwa, bukan hukuman, melainkan undangan untuk belajar lebih dalam, untuk tumbuh menjadi lebih kokoh, dan kembali menyentuh esensi diri yang selama ini tersembunyi rapat di balik topeng “baik-baik saja” yang kita kenakan setiap hari.

Ada masa-masa gelap ketika semua pintu serasa tertutup rapat, keuangan porak-poranda, kesehatan goyah, dan orang-orang yang saya cintai terluka akibat sikap saya sendiri. Di puncak kepedihan, saya bertanya pada langit yang diam, “Mengapa semuanya harus terjadi sekaligus?” Lalu, suatu hari, terjadi pergeseran kecil dalam hati. Pertanyaan itu berubah. Bukan lagi “kenapa ini terjadi padaku,” yang berpusat pada diri dan rasa menjadi korban, melainkan “Apa yang ingin diajarkan oleh hidup lewat semua ini?”

 Di situlah segalanya mulai berubah.

Saya mulai memahami pelajaran yang paling berharga, bahwa tidak semua luka harus segera disembuhkan. Beberapa hanya perlu diakui dengan penuh kejujuran: “Ya, ini sakit. Ini berat.” Saya belajar bahwa tidak semua situasi bisa dikendalikan atau diperbaiki dengan cepat. Beberapa hanya bisa dijalani dengan legawa, tanpa buru-buru menuntut jawaban dari semesta.

Hidup memiliki cara yang unik, dan seringkali terasa kejam, untuk memanggil kita pulang kepada diri sendiri. Kadang panggilan itu datang lewat kehilangan yang mengoyak, kadang lewat kegagalan yang memalukan, atau lewat penantian panjang yang terasa seperti hukuman. Namun, di balik semua itu, selalu ada pelajaran yang sama: Berhentilah berperang melawan kenyataan.

Begitu saya berhenti melawan, hidup justru mulai mengalir lagi. Tidak berarti semua masalah hilang, tapi cara saya memandangnya berubah. Menyebabkan yang dulu terasa sebagai bencana, sekarang menjadi undangan untuk belajar tentang ketahanan sejati, kerendahan hati yang tulus, dan kasih tak bersyarat. Termasuk, belajar mengasihi diri sendiri. 

Dalam keheningan yang dulu terasa menyiksa, saya akhirnya menemukan pegangan. Bukan dalam jawaban-jawaban yang jelas dan terang benderang, bukan dalam kemenangan gemilang, melainkan dalam kepasrahan yang penuh percaya.

Hidup memang bukan guru yang lembut. Kadang memberi soal tanpa perduli apakah saya siap atau tidak. Dia melempar sambil berteriak, “Take it or leave it”. Tapi justru di sanalahkebebasan sejati lahir. Kita diberi kedaulatan penuh untuk memilih, apakah setiap kehilangan, kegagalan, dan air mata akan menjadi akhir dari perjalanan, atau justru menjadi awal dari sebuah proses mengenal diri yang paling jujur dan paling dalam.

Kini saya tahu, hidup bukanlah sesuatu yang harus dimenangkan atau dikalahkan. Cukup dijalani dengan legawa.

Related Post:
1. Tubuh yang Berbicara
2. Berdamai Dengan Emosi Berdamai Dengan Diri