Ketika tekanan semakin kuat dan hidup terasa seperti kepentok jalan buntu, saya mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang terjadi, mengapa saya seperti terperosok semakin dalam, seolah terseret arus yang tak kasat mata?
Saya nyaris bertanya pada Tuhan, “Mengapa hidup saya seperti ini?”.
Kalimat itu keburu nyangkut di tenggorokan begitu saya teringat lelucon jawaban Tuhan terhadap pertanyaan serupa, “Kenapa tidak?”
Saya tetap yakin, apapun yang saya alami, bukan hukuman Tuhan. Lebih mirip masa panen, hasil dari benih yang dulu saya tabur sendiri. Dari kebiasaan hidup seenak udel, dari banyak pilihan yang dulu saya anggap remeh, dari keputusan-keputusan kecil yang seperti tak berarti tapi ternyata terakumulasi menjadi pusaran besar. Maka pertanyaan penuh keluh kesah itu kemudian saya ubah menjadi ucapan terima kasih, karena saya masih kuat, bukan hanya sekedar bertahan, tapi masih punya keinginan untuk bangkit.
Lalu, perlahan, saya merasa, ada yang mulai berubah.
Menoleh ke Dalam
Di tengah bisingnya dunia luar, di antara kesibukan yang tak kunjung reda, kegelisahan yang menggantung, kelelahan yang menumpuk, bahkan rasa sakit yang kadang menusuk tanpa peringatan—saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Jawaban atas pertanyaan saya ternyata bukan lagi berada di luar sana. Tidak di seminar motivasi dengan pembicara karismatik, tidak di buku-buku pengembangan diri yang menjanjikan perubahan instan dalam hitungan hari. Jawaban itu ada di dalam. Di tempat yang selama ini tidak pernah saya sadari.
Kalau film Star Trek bercerita tentang eksplorasi ke luar angkasa, menjelajahi galaksi yang jauh, menemukan dunia baru, "to boldly go where no one has gone before"—saya justru menemukan dunia baru yang juga belum pernah saya jelajahi.
Ironisnya, dunia itu tidak jauh. Bahkan sangat dekat. Begitu dekatnya, sehingga saya tidak membutuhkan wahana apapun untuk mencapainya. Tidak perlu warp drive, tidak perlu koordinat bintang. Cukup keberanian untuk berhenti sejenak dan menoleh ke dalam.
Memulai Perjalanan Tanpa Peta
Saya mengawali perjalanan ini bukan dengan ransel penuh bekal atau peta yang detail, melainkan dengan sesuatu yang sederhana sekaligus menakutkan: keberanian untuk duduk diam, mengamati tanpa menghakimi, dan mendengar tanpa terburu-buru memberi solusi.
Ini adalah perjalanan menjelajahi sebuah dunia yang tak bisa ditempuh dengan langkah kaki, tak bisa dipotret dengan kamera beresolusi tinggi, dan tak ada waktu kedatangan yang bisa diukur dengan jam tangan
Dunia itu ada di dalam diri saya, sunyi tapi riuh, gelap tapi kadang menyilaukan, akrab tapi juga asing. Di sana saya berjumpa dengan banyak hal: Ingatan lama yang membeku, keinginan yang tak terucap, ketakutan yang bersembunyi, dan harapan yang nyaris padam tapi baranya tetap menyala.
Saya berkenalan dengan dua wilayah besar yang dulu hanya saya dengar sekilas, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Keduanya seperti gunung es yang mengapung di lautan.
Pikiran sadar adalah bagian yang terlihat di permukaan— logis, teratur, berbicara dengan kalimat lengkap, dan merasa punya kendali penuh atas hidup. Suka membuat rencana, menyusun daftar, menganalisis pro dan kontra. Selalu merasa sebagai “aku" yang berbicara pada orang lain, yang menulis, yang berpikir tentang apa yang harus dilakukan besok.
Sementara pikiran bawah sadar tersembunyi jauh di bawah permukaan air, di kedalaman yang gelap dan dingin. Ia sunyi, tapi sangat kuat. Seperti arus laut dalam yang tidak terlihat dari permukaan, tapi diam-diam menentukan ke mana kapal hidup ini akan bergerak. Ia menyimpan memori yang saya kira sudah hilang, pola-pola reaksi yang terbentuk sejak kecil, keyakinan-keyakinan tersembunyi tentang diri sendiri yang bahkan tidak saya sadari saya pegang. Dan yang paling mengejutkan: ia punya kehendaknya sendiri.
Penghuni-Penghuni yang Tak Terduga
Yang menarik, dalam perjalanan itu, ternyata saya tidak sendirian. Saya ketemu banyak entitas yang tak bisa dijelaskan dengan logika sederhana. Mereka tidak memiliki wujud fisik, melainkan berupa kesan, suara batin, sosok samar, atau perasaan yang datang tiba-tiba dan begitu kuat. Mereka tidak selalu berbicara. Kadang hanya menoleh sekilas, lalu menghilang. Kadang datang ramai-ramai, membawa niat yang tak selalu saya pahami.
Awalnya membingungkan, bahkan sedikit mengganggu. Seperti ada pesta di dalam kepala yang saya sendiri tidak ingat pernah mengundang tamu-tamunya. Tapi saya tahu, mereka bukan hantu. Juga bukan sekadar imajinasi liar yang muncul karena kurang tidur atau terlalu banyak menonton film.
Mereka terasa terlalu nyata untuk diabaikan, terlalu konsisten untuk dianggap kebetulan.
Saya mulai menduga, mungkin mereka adalah bagian-bagian dari diri saya sendiri. Fragmen pengalaman, luka lama, naluri bertahan, atau kebijaksanaan yang lama terpendam dan kini mencari jalan untuk didengar. Mungkin juga sisa-sisa dari versi "saya" yang lebih muda—anak kecil yang dulu pernah saya tinggalkan, remaja yang pernah saya cemooh karena naif, atau orang dewasa muda yang pernah saya sesali karena terlalu banyak ambil risiko.
Belajar Mendengar Tanpa Menghakimi
Perjalanan ini baru dimulai, dan saya tidak tahu akan berakhir di mana atau kapan. Saya tidak sedang mencari pencerahan besar, apalagi kesaktian. Saya hanya belajar untuk mengenali diri sendiri, dan mendengarkan tanpa buru-buru menilai, mengkritik, atau membungkam.
Saya belajar bahwa tidak semua yang muncul dari dalam diri harus langsung "diperbaiki" atau "dihilangkan". Kadang, mereka hanya ingin diakui keberadaannya. Didengar. Dipeluk. Diberi ruang untuk ada, meski hanya sebentar.
Perlahan saya mulai mengerti: jalan buntu yang dulu terasa menakutkan, yang membuat saya merasa terjebak dan tak berdaya, ternyata bukan akhir perjalanan. Melainkan pintu masuk menuju dunia yang selama ini selalu saya bawa ke mana-mana, tapi tak pernah saya singgahi.
Related Post:
1. Hidup Mengajar Dengan Caranya Sendiri
2. Berdamai Dengan Emosi Berdamai Dengan Diri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar