01 Mei 2023

50 Hitungan Menyambut Pagi


Pagi adalah batas antara mimpi dan kesadaran. Di situlah, dalam ruang transisi yang rapuh, kita berdiri di ambang hari baru. Tapi sering kali, kita melompat terburu-buru ke dalam aktivitas tanpa memberi kesempatan pada diri sendiri untuk benar-benar bangun.

Dulu, saya mengira bangun tidur itu ya bangun saja. Buka mata, duduk, berdiri, jalan. Tapi ternyata tubuh dan pikiran tidak selalu bangun bersamaan. Ada kalanya mata sudah terbuka, tapi jiwa masih tertinggal di mimpi semalam.

Suatu saat dokter memberi saran, sederhana namun mendalam: jangan langsung bangkit dari kasur. Hitung sampai lima puluh. Biarkan tubuh dan pikiran beradaptasi secara perlahan. Dan yang lebih penting, jaga pikiran tetap tenang. Jangan bereaksi terhadap apa pun yang muncul di kepala.

Awalnya, saran itu terasa absurd. Lima puluh hitungan itu lumayan lama. Cukup untuk membuat saya ngantuk lagi. Sementara di dalam kepala langsung terjadi keributan. Otak riuh seperti pasar pagi. Gaduh, sibuk, dan penuh suara-suara tak diundang. Ada yang menawarkan cemas, ada yang membawa takut, ada pula yang menyeret-nyeret masa lalu sambil menunjuk-nunjuk masa depan.

Bukankah waktu pagi begitu berharga? Kenapa harus dihabiskan untuk diam dan menghitung?

Kadang saya berhasil menghitung sampai lima puluh. Kadang baru sampai dua belas sudah lupa arah, [L1] atau malah ketiduran lagi. Tapi, justru karena sering gagal, saya jadi tahu bahwa pagi adalah waktu yang paling jujur. Saya bisa melihat, siapa yang pertama kali menyambut: rasa syukur atau takut? Rasa damai atau daftar pekerjaan yang belum selesai?

Apa yang pertama kali saya pikirkan setelah bangun, sangat berpengaruh terhadap aktifitas selanjutnya. Seperti benih yang ditanam, bisa tumbuh menjadi pohon damai, atau semak belukar kecemasan.

Saya pernah terlalu semangat. Bangkit seperti tentara kesiangan—tanpa hitungan, tanpa jeda. Baru lima langkah dari tempat tidur, badan limbung, dunia berputar. Rupanya, bangun itu tidak cukup hanya fisik. Jiwa juga perlu dibangunkan perlahan.

Saat rasa ingin tahu, mengapa harus berhitung, memuncak dan tak kunjung mendapat penjelasan, mendadak Gembul – teman imajiner saya, muncul. Seperti biasa, sosok yang saya beri wujud kucing itu nibrung begitu saja dengan jawaban konyol. Menurutnya, hitungan sampai 50 itu untuk memberi kesempatan semua nyawa yang semalam keluyuran kembali ngumpul.

Lah, bukankah yang punya nyawa banyak cuma kucing? Itu pun kalau belum habis ditabrak motor.

“Ya kamu juga punya. Cuma nggak sadar. Tiap sisi dirimu punya kehidupannya sendiri.” jawabnya sambil menguap.
Lalu datang Bujel, si teman imajiner satu lagi, ikut nimbrung, “Omongan gulungan benang kusut, kenapa kamu dengar?”

Seperti biasa, mereka langsung ribut. Tawuran. Tapi saya biarkan. Kadang justru dari keributan mereka, saya dapat petunjuk yang tak saya duga.

Lama-lama saya mulai paham, saran dokter bukan sekadar berkaitan dengan alasan medis, melainkan petunjuk, supaya saya tidak terjebak dalam ledakan pikiran pertama di pagi hari, saat – seperti kata Gembul, “semua nyawa belum ngumpul, dan pikiran belum sepenuhnya siap menghadapi realitas.

Karena pikiran-pikiran yang muncul sangat berisik, tapi sering kali tidak akurat. 

Rupanya, jeda singkat antara mulai melek dan bangkit dari kasur, mirip seperti “ruang suci”. Semacam pos jaga, tempat saya bisa sekilas mengamati isi kepala tanpa harus percaya semuanya. Tempat saya bisa memilih mana pikiran yang pantas dibawa berjalan, dan mana yang cukup dibiarkan menguap pergi. Sebagai persiapan menyambut pagi dengan tenang.

Seingat saya, setiap kali berhasil melewati lima puluh hitungan dengan tenang, hari terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena saya tidak lagi terombang-ambing oleh sesuatu yang tidak jelas.

Pagi bukan sekadar waktu dalam sehari, melainkan kesempatan untuk memulai hari dengan kesadaran, bukan dengan reaksi. Untuk memilih arah, bukan terbawa arus. Dan untuk menjadi tuan dari pikiran sendiri, bukan budak dari kebiasaan yang terburu-buru.


 LABEL: JEJAK WAKTU


24 April 2023

Resiko Yang Terabaikan

 


Seorang senior yang hidup mapan pernah memberi nasihat pedas: "Masalah finansialmu hari ini adalah bayaran atas kesantaimu di masa lalu." Kalimat itu menggumpal di tenggorokan, sulit ditelan tapi terasa benar.

Saya pernah merasa hebat lantaran berani ninggal pekerjaan dengan penghasilan bagus di tempat jauh sana, memilih pulang ke Jogja, kembali wirausaha santai, dengan alasan yang bagi kebanyakan orang terasa konyol: Saya ingin punya lebih banyak waktu bersama keluarga (dan memang itu yang terjadi). Konsekuensinya, kehidupan finansial saya hanya sedikit di atas cukup. Senior saya menyebut itu sebagai kriminalitas terhadap masa depan diri sendiri.

Sekarang harus saya akui, menjadi lansia, apalagi dengan sejumlah gangguan kesehatan, butuh bekal finansial tidak sedikit. Untuk keperluan diet saja, menunya tidak murah. Memang ada BPJS, tapi mondar-mandir ke rumah-sakit juga harus keluar duit.

Anak saya hanya satu, sibuk menata hari depannya sendiri. Kalau setiap saat saya recoki untuk menemani ke rumah-sakit, sama saja saya mengacaukan rencana masa depannya. Ini bukan tentang bakti anak, tapi memang saya merasa perlu mikir sampai sejauh itu. Bagi saya, anak bukan tabungan hari depan.

Ketika badan terasa semplok di mana-mana, ngantri BPJS tanpa pendamping juga butuh kekuatan mental. Itu sebabnya, banyak teman-teman, yang sebelumnya selalu memuji BPJS, lantaran merasa terbantu saat mertua dan orang tua sakit, ketika dia sendiri mengalami masalah kesehatan, ogah menggunakan BPJS. Pernah ada teman yang terbiasa mendapat pelayanan VIP, saya tantang menggunakan BPJS saat sakit gigi. Ternyata menyerah ketika nomer antriannya masih jauh.

Saya tidak mengeluh, dan sama sekali tidak menyesali keadaan. Saya terima semua sebagai bagian dari perjalanan hidup. Kalaupun ada yang sedikit nampol, dan kadang membuat saya was-was, adalah  kesalahan saya mengabaikan resiko jangka panjang berkaitan dengan kesehatan. Karena menjadi lansia setelah melewati masalah kesehatan lumayan serius ternyata ngeri-ngeri sedap.

Masa depan memang harus direncanakan. Tidak salah bekerja keras, numpuk tabungan atau membangun passive income untuk mengamankan hari tua – bahkan menurut saya, seharusnya begitu. Asal tidak mengabaikan realita, bahwa hidup penuh kejutan. Keadaan selalu berubah. Terdapat lebih banyak resiko tersembunyi, ketimbang yang bisa diperhitungkan.

Kebanyakan orang hanya ingat untuk mempersiapkan bekal akherat, tapi lupa, ada banyak drama kehidupan bisa terjadi sebelum kematian datang menjemput. Tanpa cukup bekal mental, drama itu bisa menyebabkan saat-saat terakhir menjadi sangat tidak menyenangkan. Mending kalau hanya terjadi satu atau dua hari. Bagaimana seandainya saat-saat terakhir yang dramatis itu berlangsung lama? Bertahun-tahun?

Dulu, saya pikir tubuh ini adalah benteng tak terkalahkan. Rutin olahraga, rajin minum suplemen, tak pernah opname—seolah itu lisensi untuk menghabisi sepiring tongseng berlemak, dengan telor mata sapi dua butir, dan es kopi susu karamel setiap hari. "Self-love," kata saya sambil menyuap jeroan. Ternyata, itu lebih mirip bunuh diri pelan-pelan.

Tubuh manusia memang ajaib. Bisa diam selama bertahun-tahun menimbun kerusakan, lalu tiba-tiba menagih utang sekaligus dengan bunga yang mencekik. Sampai akhirnya hanya bisa dijelaskan menggunakan satu kata saja, “komplikasi”.

Bagi saya, kata itu lebih mirip peringatan terakhir, bahwa saya sudah melewati point of no return. Secara harfiah bisa diartikan, satu kaki di kuburan, satunya di ambang pintu rumah-sakit. Kesembuhan setelah itu, kalaupun ada, tidak lebih dari kesempatan kedua untuk berupaya agar perjalanan menyelesaikan sisa umur tidak tambah runyam, dan kelak bisa berakhir dengan baik.

Saya sempat gamang, tapi beruntung tidak bablas sampai patah semangat. Justru kemudian sadar resiko. Sekalipun secara medis sudah terlanjur kacau, tapi selagi masih bernafas, tidak ada kata terlambat untuk berusaha mendapatkan yang terbaik. Meskipun menurut senior saya, kondisi saya sekarang ibarat gedung yang dibangun di atas tanah jelek, dengan kualitas konstruksi buruk. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain dibongkar.

Gedung bisa dibongkar, dibangun ulang. Sementara saya? Seandainya teknologi kedokteran mampu melakukan renovasi ulang, belum tentu fisik saya mampu menjalani prosesnya. Apalagi ternyata, teknologi kedokteran baru sebatas mampu mempertahankan kondisi pasien supaya tidak menjadi lebih buruk. Itupun sering gagal.

“Kalau ada duit, paling tidak akan membuat kondisimu lebih baik,”

Saya tidak bisa membantah argumennya. Cuma, kadang-kadang, hidup suka main ciluk ba. Muncul dari arah tidak terduga, membawa drama kecil, sambil berteriak, “KEJUTAAAANNNNN.”    

Kemarin sore, setelah beberapa bulan tidak jumpa, saya berkunjung ke rumah senior saya. Dia tinggal di rumah besar yang dijaga satpam pribadi. Di halaman samping yang luas berjejer mobil-mobil mewah. Kamar tidurnya sangat lega. Tapi, di atas ranjang yang elegan, dia hanya tergolek tanpa daya, dengan selang makan menembus hidung. Hanya tersisa tatapan mata dan genggaman tangan sebagai tanda dia masih mengenali saya.

Dalam perjalanan pulang, teman sesama survivor kesehatan berbisik, “Kita tidak gableg duit, entah apa jadinya kalau sampai seperti dia.”

Teman yang lain menjawab ringan, “Tidak akan terjadi. Tidak ada duit akan membuat kita mati duluan.”

Saya tidak tahu, mana yang lebih menakutkan, hidup berkelimpahan tapi tak berdaya di ranjang mewah, atau hidup pas-pasan dengan ancaman kehabisan napas sebelum waktunya. Mungkin bukan soal memilih mana yang lebih baik. Hidup bukan pilihan macam menu di restoran. Sering kali kita hanya punya sepiring kenyataan, dan harus mengunyah apa adanya.

Mulai hari ini saya belajar melihat ke belakang tanpa mengutuk masa lalu, dan menatap ke depan tanpa menggantungkan harapan kosong. Hidup bukan soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita bertahan, belajar, dan tetap berusaha meski tahu akhir ceritanya tetap sama.

Saya tidak tahu berapa sisa umur saya. Tapi saya akan terus merawat tubuh yang sudah mulai rewel ini. Saya ingin terus belajar memahami hidup – bukan untuk jadi bijak, tapi supaya tidak terlalu bodoh lagi.

Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup yang mudah. Tapi Dia memberi kesempatan agar kita bisa tetap tersenyum meski kaki terseok, dan tetap bersyukur meski isi dompet cekak.


LABEL: JEJAK WAKTU

19 April 2023

Afirmasi Bukan Sekedar Ucapan Yang Diulang


Dulu saya pikir kegagalan itu hanya perkara kurang usaha. Kurang semangat. Kurang gigih ketika menghadapi kesulitan. Kalau gagal, mestinya dicoba lagi. Kalau masih gagal, harus tambah usaha. Tambah doa, tambah kopi.

Tapi lama-lama saya mulai melihat realita—kegagalan tetap setia menemani seperti bayangan sendiri. Afirmasi yang saya ucapkan setiap pagi terasa seperti doa yang memantul dari dinding kosong. Ritual tanpa makna, karena jauh di dalam, suara kecil terus berbisik: "Ini semua omong kosong."

Ibu pernah berkata, "Kalau otak dan hati tak selaras, ibarat mobil berjalan dengan roda yang tak sejajar."

Semenjak Sonia menyentil melalui komentarnya, dan teman saya menyinggung soal perasaan istri pasca operasi, saya mulai sadar, selama ini saya terlalu fokus di permukaan. Saya memaksa diri bangun pukul 4 pagi, menghajar rasa malas dengan jadwal ketat, dan membayangkan diri seperti tentara di kamp pelatihan—dengan teriakan instruktur dan hukuman push-up. Sementara hati masih terlelap di balik selimut.

Beda ketika saya mencoba memahami Calculus. Sama sulitnya, tapi saya lakukan dengan sukarela, tanpa ada paksaan. Saya menikmati prosesnya.

Lagi-lagi pikiran saya terseret mundur jauh ke masa lalu, ketika saya berempat dengan teman tersesat di pelosok. Saat itu koneksi internet masih buruk dan baru bisa diakses melalui komputer. Pada akhirnya, ketika mendapati jalan yang semula memang lebih mirip kali kering berakhir di tempat yang sepertinya jarang dilalui orang, sopir gusar dan berkata, “kita tersesat!”,  

Kejadian itu bermula ketika sopir berniat mengambil arah tertentu di persilangan jalan, tapi dengan berbagai pertimbangan yang kami anggap masuk akal, kami memilih arah lain. Begitu terulang sampai beberapa kali.

Hari mulai gelap. Saat saya menyalakan lampu cabin untuk mencari bekal minum, sekilas terlihat, raut muka sopir nampak letih dan jengkel. Saya memutuskan mengambil alih kemudi. Saya tidak pernah membiarkan orang yang lelah dan terganggu emosinya menjadi pemandu perjalanan.

Dengan penerangan lampu yang redup dan sedikit nekad, saya mengemudikan mobil yang belum terlalu tua, menyusuri jalan berbatu dan gelap. Keadaan menjadi semakin menegangkan ketika BBM hanya tersisa seperempat, sementara saya belum tahu berada di mana.

Di jok tengah, dua teman yang mulai panik, bersama sopir yang duduk di sebelah saya, berdoa berulang-ulang dan (niatnya) memberi semangat, supaya saya yakin bisa ketemu jalan yang benar sebelum bensin habis.  

Di saat kritis, menjelang emosi saya meledak, lantaran berisik mendengar doa dan afirmasi yang diucapkan berulang kali, saya teringat nasehat Ibu, kalau pengin berhasil, otak dan hati harus diselaraskan terlebih dahulu.

Masalahnya, bagaimana cara membuat hati suka pada keadaan yang kacau seperti ini?

Tiba-tiba saya teringat cerita tetangga mengenai serunya offroad. Meskipun saat itu tidak gableg mobil, saya kemudian sering berangan-angan, pengin offroad juga. Siapa sangka, mimpi saya di siang bolong puluhan tahun lalu, terkabul, meskipun dalam kondisi beda jauh, antara CJ7 yang dimodifikasi sesuai medan offroad dengan station wagon yang tenaganya ternyata ngos ngosan.

Tapi mengeluh tidak menyelesaikan masalah. Terutama ketika saya sadar, setir mobil ternyata oblak dan di luar mulai tercium bau kanvas terbakar.

Saya hentikan mobil, lalu minta teman-teman berhenti berisik.

“Doa dan afirmasi kamu anggap berisik?”

“TUHAN TIDAK TULI. BERDOA CUKUP SEKALI SAJA!!!”

Bentakan saya membuat ketiganya langsung bungkam.

Setelah suasana menjadi tenang, saya tepuk ringan dashboard di belakang setir sambil berkata, “Yuk kita pulang.” Saya injak pedal kopling, lalu masuk gigi satu …….. Ketika pedal gas diinjak, mesin meraung keras, tapi mobil hanya bergerak lambat.

Saya kurangi tekanan di pedal gas sambil bicara entah pada siapa, “Jogja dekat, kita akan tiba sebelum tengah malam.”

Entah itu bisa dianggap sebagai afirmasi atau sekedar menghibur diri (karena saya tahu, jarak menuju Jogja lebih dari 250km).

Sepanjang perjalanan menuju jalan raya, saya banyak bicara pada mobil, seolah mobil itu kuda kesayangan yang bisa diajak ngobrol. Ketika roda kanan depan terperosok, saya minta maaf sambil mengelus dashboard. Tidak langsung memaksa roda keluar dari lubang, saya memilih memeriksa kondisi lubang.

“Sepertinya mundur lebih gampang. Yuk, mundur dikit!”

Ternyata beneran gampang. Padahal posisi roda dan kondisi lubang sempat membuat saya ragu. Lalu saya tepuk dasboard lagi sambil memuji, “Good boy! Kamu luar biasa.”

Beberapa persimpangan sudah saya lalui. Tetap belum ketahuan, apakah rute yang saya pilih benar atau keliru. Yang membuat sedikit lega, meskipun masih berada di tempat sepi dan belum terlihat tanda bakal ketemu permukiman, jalan yang kami lewati sudah lebih beradab.

Tapi, muncul masalah baru, bau kanvas terbakar tercium semakin menyengat. Sementara lampu indikator BBM mulai berkedip.

Kembali saya tepuk-tepuk dashboard, sambil berkata, “Bertahan sedikit lagi. Kita akan segera sampai di jalan raya, nanti kamu bisa istirahat.” 

Ternyata benar. Setelah berjalan beberapa belas menit dan melewati dua tikungan, kami tiba di jalan aspal.  Berasa keluar dari dunia antah berantah yang sunyi, kembali ke peradaban. Dan seolah nagih janji, mobil beneran minta istirahat. Mogok total.

Salah satu teman mengggerutu, “Lain kali jangan sembarangan bicara.”

Saya tidak membantah, meskipun tidak percaya mogoknya mobil ada kaitannya dengan omongan saya. Tapi dia punya pendapat lain, “Kadang kita asal bicara sekedar buang suntuk, tapi alam semesta punya cara sendiri menanggapi omongan kita.”

Apakah itu berarti obrolan saya dengan mobil di sepanjang perjalanan juga mendapat respon dari alam semesta?

Sesuatu di kepala, tanpa diminta, menjawab, “Mungkin.”

Sepertinya, afirmasi dan doa hanya bekerja ketika kata-kata yang diucapkan menyatu dengan perasaan. Seperti gula yang larut sempurna dalam teh.

Selama ini berulangkali saya berkata, "Ayo berubah." Sementara pada saat bersamaan, bawah sadar diam-diam nyengir, lantaran hati justru ragu. Dalam bahasa Ibu saya, otak dan hati tidak selaras.

Mengubah nasib ternyata bukan semata-mata kerja keras, tapi sekaligus juga kerja batin. Saya harus mulai dari dalam, dari cara saya merasa, memaknai, dan berhubungan dengan diri sendiri. Harus ada keselarasan antara niat sadar dan sinyal batin yang lebih dalam.

Saya mulai menyadari pentingnya mendengar suara yang lebih jernih dari dalam hati —yang kadang hanya muncul saat saya diam dan jujur pada diri sendiri. Sementara jujur itu sendiri tidak selalu enak. Kadang berasa seperti diguyur air es di pagi yang dingin.

Saya belum tahu bagaimana cara menyelaraskan semua ini secara utuh. Tapi saya tahu, langkah pertama bukan di luar—bukan di buku motivasi, bukan di seminar sukses. Langkah pertama harus dimulai dari dalam. Barangkali, itu yang dulu ingin disampaikan Sonia. Dan mungkin, saya baru benar-benar siap mendengarnya sekarang.


LABEL: JEJAK WAKTU

10 April 2023

Aroma Kegagalan Yang Tertinggal


Gambar diambil dari Google

Ketika blog djatiwidodo.My.ID masih aktif, pengunjungnya lumayan rame. Tapi rame-nya bukan karena pembaca berdiskusi seru, melainkan dipadati makhluk-makhluk digital yang numpang promosi judol dan pinjol. Link-link mencurigakan bersliweran seperti nyamuk di musim hujan. 

Di tengah banjir spam itu, ada satu pengunjung yang memberi respon nyambung dengan konten blog.

Namanya Sonia.

Entah siapa dia, hanya datang sekali, tapi meninggalkan komentar yang mengena, seperti anak panah yang menemukan sasaran di tengah badai.

Bukan sekadar pujian basa-basi, Sonia mengulas seluruh isi blog. Mengoreksi dan memberi saran. Katanya, saya punya semangat bagus, gaya menulis juga mengalir. Tapi—dan ini yang membuat saya jadi pengin ngremus cabe — katanya, pada tulisan tentang usaha saya memperbaiki nasib, tersirat aroma kegagalan. Menurut Sonia, selama aura gagal itu tidak diperbaiki, saya akan terus muter-muter di titik start.

Awalnya saya sempat jengkel. Komentar penutupnya seperti jempol nyangkut di laci—tidak fatal, tapi senut-senutnya sampai ujung kaki. Tapi kemudian, sesuatu di kepala membawa ingatan saya mundur sekitar 40an tahun, ke masa ketika saya menertawakan teman yang mencoba mengubah nasib menggunakan afirmasi.

Setelah hampir satu semester dia meyakinkan diri bisa lulus ujian Calculus, hasilnya tetep mentok. Di mata kuliah satu itu, saya dan dia sama-sama jeblog. Kecuali di Calculus, yang tidak dia sukai, nilainya di seluruh mata kuliah selalu di atas saya. Sementara saya, sadar punya otak pas-pasan, modal saya hanya mengikuti nasehat ibu, berusaha menyukai apapun yang saya kerjakan.

Ketika akhirnya saya lulus Calculus, meskipun dengan nilai pas-pasan, teman saya terpukul. Bahkan sampai terucap, tidak percaya.

Menurut Ibu, tidak ada orang bodoh yang mampu tamat SMA. Saya tidak bisa mendapat nilai bagus hanya karena otak dan hati tidak selaras, bukan lantaran bodoh. Mengubah suasana hati menjadi suka adalah salah satu cara untuk membuat otak dan hati selaras.

Saya baca ulang semua postingan di blog, mencoba mencari tahu, bagian mana yang menyiratkan otak saya tidak selaras dengan hati, sampai Sonia punya kesimpulan usaha saya mengubah nasib hanya akan muter-muter di titik start. Tapi, sampai setahun lebih, tidak kunjung ketemu. Meskipun tidak membuat saya putus asa, menyebabkan blog jadi terlantar.

Mendadak saya teringat, pernah berkata pada teman, “afirmasi tidak akan bermanfaat selama kamu masih tidak suka Calculus. Otakmu pengin lulus, tapi hatimu berkata lain!”

Teman saya menyanggah. Justru karena tidak suka, dia berusaha supaya secepatnya lulus.

Saya tidak punya niat membahas masa lalu, tapi rasa-rasanya saya mulai melihat benang merahnya.

Hampir semua tulisan tentang usaha memperbaiki diri selalu saya tutup dengan cerita gagal maning, gagal maning. Niat saya hanya ingin sejujurnya memberitahukan kondisi yang sebenarnya, tapi sepertinya tulisan itu lebih mirip pengakuan kalau saya belum siap untuk berubah. Saya terus mengulang kisah kegagalan, bukan untuk belajar, tapi seperti menikmati rasa pahitnya.

Ketika saya sedang mencoba memahami lebih jauh, tiba-tiba ada panggilan telepon. Salah satu teman menanyakan keadaan istri saya pasca operasi dua bulan lalu. Menjelang akhir percakapan dia berpesan supaya saya menjaga perasaan istri saya, karena gangguan pada emosi sering berpengaruh terhadap pikiran bawah sadar. Menurutnya, sebagian besar pasien gagal sembuh karena bawah sadar tidak selaras dengan pikiran sadarnya.  

Selama ini saya beranggapan, pikiran bawah sadar hanya urusan sugesti. Tipu-tipu ala hipnotis. Tapi kali ini saya paksa otak berhenti menghakimi. Sonia mengetahui sesuatu yang tidak saya pahami—bahkan mungkin tidak saya sadari. Dia membuktikan kalau semakin ke sini saya cenderung menutup diri terhadap apapun yang tidak saya suka, termasuk proses perubahan itu sendiri.

Saya mulai sadar: ketidakmampuan menyukai proses adalah racun bagi usaha apa pun. Saya ingin hasilnya bagus, tapi tidak rela menikmati perjalanannya. Saya ingin sukses, tapi masih terlalu nyaman dengan alibi-alibi kegagalan.

Mungkin sudah sangat terlambat untuk membalas komentar Sonia. Tapi setidaknya, saya bisa berterima kasih padanya—karena tanpa sengaja, dia telah membantu saya menemukan kembali kewarasan yang sempat hilang.

Dan sekarang, saya mulai mengerti:
Usaha tanpa keselarasan hati hanya seperti berlari di treadmill—capek, tapi tidak maju-maju.

Kita bisa berlari secepat apa pun, tapi kalau hati tidak ikut serta, maka kita hanya akan berputar di tempat—terus, tanpa henti, tanpa arti.

Sekarang, saya mulai belajar menyukai prosesnya. Tidak lagi menutup hari dengan kisah kegagalan, tapi dengan pertanyaan kecil: "Apa yang bisa saya nikmati hari ini?"

Dan entah kenapa, sejak saat itu, langkah terasa lebih ringan.


LABEL: JEJAK WAKTU

27 Maret 2023

Fortuna Fortis Adiuvat

 


Orang Romawi kuno bilang, "Fortuna Fortis Adiuvat." Keberuntungan berpihak kepada orang yang berani.

Kalimat itu terdengar gagah, penuh semangat, dan cocok dicetak besar di poster motivasi. Tapi sepertinya mereka tidak pernah mengalami betapa menyesakkannya hidup ketika tagihan rumah sakit datang bertubi-tubi, sampai sempat lupa cara bernapas. Atau duduk di depan dokter yang wajahnya tetap datar saat ia berkata, "Ini kanker stadium tiga."

Keberanian saya selama ini paling banter cuma parkir di tempat terlarang—itu pun sambil deg-degan, takut ketahuan polisi. Tapi hidup, seperti biasa, senang memberi kejutan level dewa. Sejak istri saya didiagnosis kanker, hidup kami seperti naik roller coaster, terguncang keras dan naik turun tanpa tahu kapan akan berhenti.

Dari sanalah saya belajar, ternyata fortuna, Dewi Keberuntungan, juga bisa datang kepada orang yang nekat jalan terus meskipun dengan jantung empot-empotan dan nyali tinggal kulitnya saja. Mungkin, tindakan nekad semacam itu, meski penuh gemetar dan ragu, justru merupakan wujud dari keberanian yang sesungguhnya. Keberanian yang diam-diam bertahan di tengah badai.

Entahlah.

Realitanya, sekalipun dengan pikiran kacau dan jantung gedebugan, saya tetap bisa melewati hari-hari yang sulit dan menakutkan dengan berbagai cara yang lebih mirip nasib mujur ketimbang hasil dari rencana matang. Tapi mungkin, kebetulan itu juga cara Tuhan menunjukkan bahwa kita tidak sendirian.

Kata orang, keberanian itu privilege anak muda yang yang masih punya energi untuk lari dari debt collector, atau petualang yang mendaki gunung sambil tersenyum. Ternyata, keberanian versi lansia 60-an seperti saya justru unik. Meskipun terpaksa dan sambil nyaris jantungan, ternyata saya tetap bisa melangkah, melewati banyak tantangan yang sebenarnya membutuhkan nyali besar untuk menghadapinya.

Hidup Tidak Adil, Tapi Bukan Alasan untuk Berhenti

Hidup ini seperti permainan catur di mana kita cuma punya pion dan raja—sementara lawan punya seluruh pasukan. Aturannya tidak jelas, kadang licik, dan seringkali terasa kejam. Tapi satu hal yang saya pelajari: berani bukan soal menang.

Berani adalah ketika saya tahu, peluang tipis, tapi tetap memilih bertahan.
Berani adalah ketika saya menangis di kamar mandi, lalu keluar dengan wajah tenang. Berani adalah percaya bahwa setiap langkah, betapapun goyahnya, masih berarti.

Saya tidak berharap hidup tiba-tiba cerah seperti iklan skincare. Tapi saya percaya, selama saya masih bergerak—meski sambil gemetar—akan selalu ada pintu yang terbuka, sekecil apa pun. Mungkin Fortuna tidak datang dengan hadiah besar, tapi cukup dengan angin segar yang mengingatkan: "Kamu tidak sendirian."

Untuk Anda yang Juga Merasa Kalah

Jika hari ini Anda merasa seperti pion terakhir di papan catur, ingat ini:

  • Hidup tidak adil, tapi bukan akhir cerita. Kebahagiaan bisa datang dari hal-hal kecil yang luput dari perhitungan.
  • Keberanian itu tidak selalu gagah. Kadang ia hanya bisikan, "Coba lagi besok."
  • Tidak perlu jadi pahlawan. Cukup jadi diri sendiri yang tetap bangun, meski dunia terasa berat.


LABEL: JEJAK WAKTU

25 Maret 2023

Ketika Surat Cinta Lebih Sangar Ketimbang Debt Collector


Barangkali lantaran wajah saya lebih sering terlihat kusut, dokter menduga gangguan kesehatan yang saya alami disebabkan oleh beban pikiran, sehingga dokter menyarankan supaya saya konsul ke psikolog.

Meskipun saya merasa bisa mengatasi gejolak pikiran, tapi sejujurnya, memang banyak yang saya pikirkan dan banyak yang membuat saya kuwatir. Saya tahu, berlagak tidak cemas sama buruknya dengan membiarkan ketakutan menguasai pikiran. Masalahnya, saya tidak tahu harus bagaimana, selain berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu yang membuat saya cemas belum tentu akan terjadi.

Setelah pandemi usai, dan aktifitas mulai normal kembali, pelan-pelan saya mulai sadar, saat menghadapi masalah, otak saya ternyata lebih santai. Barangkali, beban pikiran yang numpuk selama pandemi, memaksa otak membuat penyesuaian, dan berujung menjadi lebih santai. Hanya kadang-kadang saja masih kambuh cemas.

Jadi agak aneh, kenapa ketika saya mulai merasa pikiran saya baik-baik saja, justru dokter menyarankan konsultasi ke psikolog?

Terlalu banyak menerima perhatian dan dibantu justru membuat saya cenderung jadi cengeng. Saya merasa lebih tegar justru ketika harus sendiri menghadapi kesulitan. Tanpa dibantu oleh  siapapun..

Memang, psikolog punya metode khusus, bukan sekadar memberi nasihat. Tapi tetap saja, saya sempat kuwatir… (Nah kan, malah jadi kuwatir lagi).

Sudahlah, saya memilih pasrah saja. Apapun yang terjadi, akan saya lakoni sendiri. (Meski sebenarnya saya tahu, tidak beneran sendiri. Ada Tuhan). Alam semesta memberi saya cukup bekal, tidak ada alasan untuk membiarkan diri takluk pada bayang-bayang ketakutan yang diciptakan oleh pikiran.

Ketika pertama kali saya menolak saran dokter, beliau masih sabar. Tapi penolakan kedua membuat nada bicaranya berubah. Dengan suara pelan tapi menekan, dokter berkata bahwa saya benar-benar membutuhkan bantuan psikolog. Menurutnya, siapa pun yang melihat saya saat itu, bisa langsung tahu bahwa saya sedang memikul beban berat.

Saya tidak membantah. Bahkan saya setuju. Sekitar lima minggu belakangan saya memang menghadapi masalah cukup serius. Lumayan menguras energi, fisik maupun mental. Terutama karena melibatkan pihak ketiga sebagai biang keroknya. Tapi, sepusing apapun, saya sangat yakin, bantuan psikolog tidak akan berarti apa-apa. Untuk yang satu ini saya benar-benar tidak butuh diberi nasehat, tidak butuh diberi peneguhan mental, juga tidak butuh support dari siapapun.

Disaat saya sedang bingung mencari cara untuk memberi pengertian pada dokter, telepon seluler saya berdering. Biasanya, ketika sedang bersama orang lain, saya tidak pernah menerima panggilan, tapi kali ini beda. Saya memang menunggu panggilan itu, makanya saya minta ijin untuk menerima.

Saat mengembalikan ponsel ke dalam tas, saya melihat lipatan surat terselip diantara kertas-kertas lain. Saya ambil surat itu, lalu saya serahkan kepada dokter sambil berkata, “ini yang menyebabkan saya kusut.”

Sesaat setelah  membaca seluruh isinya, dokter menghela nafas panjang sambil merebahkan badan  ke sandaran kursi. Surat itu masih dipegang menggunakan dua tangan sambil sesekali matanya melirik ke arah tulisan.

Ketika dokter mengembalikan surat, saya lihat wajahnya berubah, nampak seperti galau.

Saya memberanikan diri bertanya, “Dokter juga menerima?”

Ada sedikit senyum kecut menghias wajahnya sebelum dokter mengangguk, “Dua hari lalu. Baru sekali, tapi tagihannya besar.”

“Kalau dokter berkenan, mungkin saya bisa bantu mengurai masalahnya.”

Dokter tidak menjawab. Hanya memandang saya dengan tatapan sedikit curiga.

“Saya bukan konsultan, tidak perlu dibayar. Meskipun mungkin tidak bisa membantu mencari solusinya, tapi saya bisa membantu memetakan isi suratnya.”

Perlahan dokter menarik laci meja, lalu mengeluarkan sepucuk surat bersampul cokelat, persis seperti yang saya terima. Isinya ringkas, sederhana, tapi seperti biasa, membuat penerima yang tidak paham pola kerjanya, senewen tujuh turunan.

Selesai membaca, saya masukkan kembali surat ke dalam sampulnya, lalu menyerahkan kepada dokter sambil bertanya, “Ada penghasilan 2019 yang belum dilaporkan?”  

“Mereka bisa tahu?”

“Tergantung dari mana sumbernya. Kalau dari perusahaan farmasi, bisa terlacak dari laporan pajak penghasilan.”

Dokter menunduk, memandangi meja, seolah mencari sesuatu, sebelum akhirnya tertawa dan berkata, “Jadi, siapa sebenarnya  yang perlu ketemu psikolog?”

Kamipun tertawa bersama.

Enggak nyangka, “surat cinta” bersampul cokelat dari Direktorat Jenderal Pajak yang selama ini menjadi momok bagi Wajib Pajak, malah membuat kami menjadi teman seperjuangan.


LABEL: JEJAK WAKTU

15 Maret 2023

Menjadi Pawang di Suaka Margasatwa

 


Setelah pandemi berlalu, alhamdulillah saya merasa lebih sehat dari sebelumnya. Tapi saya sadar, tubuh saya sekarang lebih mirip suaka margasatwa – tenang di luar, tapi di dalam banyak macan tidur yang bisa bangun dan ngamuk kapan saja, tanpa permisi.

Sejak itu, saya mulai belajar banyak hal. Terutama yang berkaitan dengan segala sesuatu yang bisa menyebabkan macan-macan itu terusik.

Dulu saya pikir, sayur dan buah adalah sahabat sejati tubuh. Ternyata, untuk kondisi fisik saya sekarang, tidak semua seramah sebelumnya. Ada batasan porsi tertentu yang tidak boleh saya langgar, supaya mereka tetap memberi mafaat tanpa menusuk dari belakang.

Saya tidak lagi diet ketat, karena kalau sampai dibuat seperti itu, bisa jadi saya hanya bisa makan dan minum di angan-angan saja. Nyaris semua apapun yang masuk mulut selalu membawa resiko mengusik macan-macan yang sedang tidur.

Sambil menjaga ketenangan macan-macan penghuni suaka, semua yang masuk mulut saya catat, lengkap berikut tanggal dan jamnya. Lalu saya amati kondisi saya dua sampai tiga hari berikutnya. Kalau aman, konsumsinya lanjut terus, dalam porsi yang sama.

Tapi seandainya muncul gejala terjadi gangguan, entah sekedar diare, mual, mendadak pusing berkepanjangan atau sandal tiba-tiba terasa kekecilan (berarti kaki sedikit bengkak), segera saya telusuri, asupan mana yang sekiranya pantas jadi tersangka.   

Salah satu tersangka yang sudah berulangkali tertangkap tangan adalah brokoli rebus. Saya mengkonsumsi brokol karena bisa membantu mengurangi kadar Trigliserida lumayan. Masalahnya, ketika saya konsumsi terus menerus sampai lebih dari 5 hari berturutan, pada hari ke enam, kencing saya mulai bau dan sedikit keruh.  

Entah apa yang dilakukan oleh brokoli di dalam sana, tapi setelah tahu efek sampingnya, saya tidak perlu nunggu sampai hari ke enam baru jeda. Hanya berhenti saja sementara, sekitar seminggu, kemudian mulai lagi makan brokoli. Begitu juga  dengan yang lain.  

Tidak ada yang memberi petunjuk untuk diet dengan cara seperti itu. Saya rekayasa sendiri berdasar kondisi badan sehari-hari. Tapi supaya tidak ngawur-ngawur amat, sebulan sekali saya rutin cek lab. Saya pelajari kaitan antara menu makan dengan perubahan yang terjadi pada setiap variabel yang diperiksa.

Meskipun ketika hasil cek lab menyatakan semua normal, saya tidak beranggapan  biang masalahnya sembuh. Mereka hanya sedikit tenang, seperti para macan yang sedang tidur.

Saya tidak lagi mengejar kesembuhan, karena sadar bahwa tubuh ini sudah mirip ekosistem yang mulai rapuh, di mana setiap asupan, setiap obat, bahkan setiap pikiran bisa jadi pemicu kekacauan.

Saya belajar untuk hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Bukan dengan menyerah, tapi dengan lebih mengenal diri sendiri. Mengenal batas, menghormati sinyal, dan mempercayai insting. Saya tidak lagi takut pada gejala, karena mereka adalah bahasa tubuh yang mencoba berbicara. Dan saya belajar menjadi pendengar yang lebih baik.

Dan kalau suatu hari nanti, perjalanan ini harus berakhir lebih cepat dari yang saya harapkan, saya ingin percaya bahwa saya telah hidup dengan jujur pada diri sendiri, penuh kesadaran, dan setia pada prinsip, bahwa kesehatan bukan soal angka di kertas hasil lab, tapi tentang seberapa damai saya bisa menjalaninya.

Seperti kata Whitney Houston, “If I fail, if I succeed, at least I'll live as I believe”.

Terima kasih untuk semua yang telah menemani, membaca, dan memahami—meski hanya dari kejauhan. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.


LABEL: JEJAK WAKTU

14 Maret 2023

Drama Kecil di Sepenggal Perjalanan


Beberapa hari belakangan, setelah rampung ritual pagi beres-beres rumah, godaan ngantuk campur males datang lagi. Pernah saya turuti. Pikir saya, tidur sebentar apa salahnya? Ternyata bablas sampai jam 10. 

Gembul, teman imajiner saya yang kadang sok bijak, pernah berkata, “Kalau kamu susah dibangunkan, padahal tubuh sudah seharusnya aktif, itu pertanda kamu sedang melarikan diri dari realita. Bawah sadarmu sedang memberontak.”

Saya tidak tahu, apakah harus senang atau kuwatir ketika Gembul berlagak jadi psikolog. Bagaimana seandainya tebakan itu benar?

Akhirnya saya memaksa diri melawan. Meski ngantuk dan pikiran terus menggoda, saya tetap mandi, sarapan, lalu mulai mengerjakan apa saja yang bisa membuat badan bergerak. Setelah satu jam bertahan, ngantuk dan malesnya hilang. Ternyata segampang itu.

Dua, tiga, empat hari berlalu, dan saya baik-baik saja. Semangat mulai kembali, tubuh terasa lebih ringan. Tapi pada hari kelima, saat sedang di kantor, sekitar jam 11, dunia tiba-tiba berputar lagi.

Bukan hanya mata nagih tidur, capek dan pegal-pegal yang selama 4 hari lumayan berkurang, mendadak kambuh, lebih parah. Ketika saya berusaha tidak menyerah, tapi tubuh seolah berontak. Beberapa kali saya nyungsep sampai kejedot laptop. Bahkan akhirnya saya tertidur di meja. Baru bangun menjelang bubaran kantor. Itupun gara-gara suasana berisik ketika yang lain siap-siap pulang.

Hari berikutnya saya minum kopi lebih banyak. Ternyata sama saja, tidak ngaruh. Sejak saat itu kerja saya jadi kacau. Di kantor lebih banyak molornya ketimbang menyelesaikan pekerjaan. Beruntung, staff saya mumpuni, sehingga tidak banyak pekerjaan yang terbengkelai, kecuali urusan yang memang tidak bisa diselesaikan orang lain.

Suatu saat saya nekad memaksa diri tidak tidur siang. Tanpa ngopi pula. Badan terasa remuk total. Tapi saya bertekad tidak akan menyerah. Kalau hidup mulai keras, tidak ada pilihan lain kecuali dibalas dengan semangat.

Masalahnya, kali ini saya salah perhitungan. Saya lupa bahwa segala sesuatu punya batas.

Motor saya baru jalan beberapa ratus meter dari kantor, vertigo yang sudah hampir terlupakan, mendadak kambuh. Saya buru-buru menepi, turun dari motor, dan terjatuh di pinggir jalan.

Berdasar pengalaman sebelumnya, kalau vertigo sudah menyapa, berarti saya sudah melampaui batas. Sedikit lagi dipaksa, akan ada bom waktu meledak. Saya sempat panik, dan nyaris berteriak minta tolong, sebelum sadar, saya berada di persawahan yang sepi.

Mau dibilang kesasar sebenarnya enggak juga. Rute ini sering saya lewati manakala saya bosen melalui jalan aspal. Celakanya, terlalu panik membuat saya lupa, di dalam tas ada dua telepon seluler. Biasanya, sampai jam 5 beberapa orang masih ngobrol-ngobrol di kantor. 

Setelah dunia sedikit tenang, saya memutuskan balik ke kantor. Tapi, baru jalan beberapa meter, terdengar teriakan sangat keras. Awalnya saya sangka Gembul  mendadak muncul. Ternyata saya dibentak pengendara motor lain yang nyaris nabrak, lantaran saya limbung. 

Setiba di kantor, ternyata sudah sepi. Penjaga malam pamit telat, sementara saya tidak bawa kunci. Gembul memberi saran, titip motor ke tetangga sebelah, tapi entah kenapa saya malah merasa seperti mendapat tantangan.

"You can if you think you can," seru saya pada diri sendiri.

"WOOOEEYYYYY." Teriakan Gembul melengking ketika saya mulai ngegas motor.

Perjalanan pulang sejauh enam kilometer berubah jadi medan drama. Klakson bertalu-talu, teriakan dan makian bercampur dengan ngantuk dan tubuh yang terus berontak.

Akhirnya saya nyungsep di pinggir jalan.

Sesaat terjadi pertarungan seru di kepala, antara keinginan nekad jalan terus atau titip motor di pos jaga perlintasan kereta, tidak jauh dari tempat saya berhenti.

"Kalau pengin bunuh diri bukan begini caranya. Sebentar lagi kereta api lewat, tabrak noh!" Gembul mulai gusar.

Tak lama kemudian kereta api beneran lewat. Tentu saja saya tidak punya nyali nabrak. Selain masih pengin hidup, saya justru khawatir hanya lecet saja di hidung ditambah separo badan ambyar. Apa enaknya hidup dengan keadaan seperti itu?

"Oke, baik, kerjakan saja sesuka hatimu, SUPERMAN!" Gembul mulai kalap ketika akhirnya saya memaksa jalan lagi.

Sebelum berangkat, saya atur napas terlebih dahulu. Tarik panjang, masuk sampai perut, tahan, lalu hembuskan pelan, lebih lama ketimbang saat narik. Saya lakukan beberapa kali. Gak ngaruh apa-apa, tapi setidaknya membuat saya sedikit lebih tenang.

Saya konsentrasi penuh ke jalan dengan satu pikiran, selamat sampai di rumah dan tidak ngrusuhi orang lain.

Malamnya saya tidur lebih cepat. Selesai makan langsung rebahan dan pules sampai menjelang subuh. Bangun masih seperti biasa, ngantuk, dan sekujur tubuh berasa remuk. Tapi saya tetap keluar, dan seperti biasa, cuci piring dilanjut nyapu halaman. 

 Lalu Gembul muncul lagi.

“Kamu baik-baik saja?”

“Enggak. Tapi aku masih hidup. Kemarin ada banyak momen yang bisa membuat aku mati, tapi sampai pagi ini Tuhan masih kasih aku hidup. Pasti Tuhan bakal tunjukkan cara untuk menghadapi semua masalahku.”

Niat saya biar Gembul sedikit tenang, tapi sebenarnya saya juga sedang berusaha menguatkan diri sendiri. 

(bersambung)

LABEL: JEJAK WAKTU


03 Maret 2023

Ketika Hari Biasa Terasa Aneh


Yang Ini Nyomot dari Google

Hari ini, seperti biasa, saya bangun dengan semangat … untuk tidur lagi. Tapi hidup tidak semudah menekan tombol snooze di alarm HP. Jadi saya memaksa diri bangkit dari kasur dengan niat mulia, hari ini harus produktif! 

Awalnya semua berjalan normal. Sarapan, walaupun dengan menu seadanya, mengikuti petunjuk diet, mandi pakai air yang sukses membuat saya sadar bahwa hidup ini keras, dan mulai beraktivitas dengan langkah mantap. Sampai akhirnya saya sadar satu hal penting, sandal yang saya pakai beda sebelah.

Lebih lucunya lagi, saya baru sadar setelah sekitar satu jam keluyuran di Jogjatronik Mall, sambil merasa ada yang “tidak beres dengan langkah hidup ini.” Ternyata bukan nasib yang berat, tapi sandal yang tidak serasi.

Spontan saya tolah-toleh, berharap tidak ada satupuun yang tahu. Tapi malah membuat embak-embak penjaga toko tersenyum. Akhirnya terpaksa ambil jurus cuek. Bodo amat.  Saya ambil sisi positifnya saja, saya sedang  menciptakan tren sandal baru.

Intinya, hari ini tidak ada yang terlalu spesial, kecuali kejadian yang bikin saya mikir, “Hidup kadang absurd, tapi ya sudahlah.” Karena justru dari hal-hal kecil, saya bisa ketawa—meski cuma bersama diri sendiri.

Kalau Anda sampai di sini, terimakasih untuk waktu Anda, semoga setidaknya tulisan ini bisa bikin senyum sedikit. Sampai jumpa di curhatan berikutnya, yang mungkin lebih kacau (atau lebih lucu).


LABEL: JEJAK WAKTU

Disiplin, Teman yang Dulu Sering Saya PHP

Setelah memutuskan untuk restart hidup —dengan semangat baru, rematik lama, dan impian yang (ajaibnya) masih hangat—saya sampai pada satu kesimpulan penting, Saya punya masalah serius dengan disiplin.

Saya tahu, disiplin itu baik dan perlu. Bahkan saya pernah menulis tentang pentingnya disiplin di kertas warna-warni yang saya tempel di cermin kamar mandi. Kenyataannya, hidup saya lebih sering berjalan dengan prinsip legendaris, “Kalau bisa nanti, kenapa harus sekarang?”

Saya Punya Jadwal, Tapi Tidak Saya Baca

Pernah suatu masa, saya begitu termotivasi, sampai membuat jadwal harian secantik peta harta karun. Ada blok-blok waktu warna-warni: "Bangun jam 4 pagi! Jalan pagi! Nulis 1.000 kata sebelum sarapan!"

Realitanya, sampai jam 6 pagi saya masih tenggelam dalam dialog batin dengan bantal. Jalan paginya bergeser jadi jalan ke dapur. Nulis blog? Ya... itu rencananya, ngopi dulu lah. 

Sambil ngopi, buka medsos, lalu bilang ke diri sendiri, "Nanti juga nulis kok."

Disiplin ternyata bukan hanya soal niat, tapi, terutama, menyangkut komitmen, dan kebiasaan

Kepala Mau, Badan Wegah

Ada saat di mana saya duduk serius, menatap kalender digital, lalu membatin dengan penuh tekad: "Mulai sekarang aku akan disiplin, hidup harus teratur!"

Lima menit kemudian ......

Saya sudah tergoda cek Facebook, menyapa teman di WhatsApp, atau mendadak merasa sangat penting untuk menyortir foto-foto tahun 1992. Pokoknya semua dikerjakan—kecuali yang seharusnya.

Saya jadi punya pikiran, membiasakan disiplin mirip ngajari kucing berenang. Mungkin bisa, tapi butuh kesabaran, waktu, dan sedikit bonus cakaran.

Mulai dari Hal Sepele (Tapi Konsisten)

Akhirnya, saya ganti taktik. Daripada pasang target produktivitas level CEO, saya mulai dari hal kecil dan gampang dilakukan:

  • Bangun tepat jam 4. Kalau masih ngantuk, ya minimal bangun. Setelah itu mau bengong di tempat tidur juga nggak apa-apa.
  • Menulis satu paragraf setiap hari. Walaupun sebenarnya lebih pantas disebut curhat kepada keyboard.
  • Minum air putih menggantikan kopi. Ini masih berjuang, tapi saya sudah belajar tidak menangis saat melihat iklan kopi di TV.

Setelah bisa sehari, saya ulangi. Lagi dan lagi. Prinsipnya: lakukan meski malas, meski wegah, meski rematik ikut demo.

Tapi...

Begitu strategi kecil ini saya coba terapkan ke target lain, seperti tidur malam tepat waktu, semuanya bubar jalan. Jadwal tidur jam 9 malam selalu gagal total karena banyak “urusan penting.” Biasanya urusan pekerjaan. Atau video lucu di YouTube. Tapi saya suka menyebut semuanya "kerja."

Sering saya berpikir, andai bisa ikut pelatihan ala militer, yang dibangunin pakai gedoran dan teriakan, disuruh push-up kalau ngantuk. Karena jujur saja, saya butuh seseorang seperti almarhumah ibu saya dulu. Tegas, galak, tapi efektif.

“Harus orang lain? Tidak bisa kamu sendiri yang melakukannya?”

Itu suara Gembul—teman imajiner saya yang selalu muncul kalau saya mulai banyak ngeles.

Sambil menimang kaleng Coca Cola, dia bilang, “Kalau kamu tidak bisa disiplin sendiri, semua pencapaianmu hanya numpang sukses. Bahkan usaha rental mobil, satu-satunya sumber penghasilan  yang masih tersisa, tetap bertahan semata-mata berkat keteguhan partnermu. Kalau dia pergi, kamu bisa ambruk kapan aja.”

Glek!!!!!

Pahit memang.

Disiplin sejati bukan tentang mematuhi aturan orang lain, tapi patuh pada aturan yang kita buat sendiri.

“Jadi, Apa Rencanamu, Pak Tua? Disiplin itu bukan soal berubah drastis, tapi soal berlatih konsisten meski pelan, dan meski sering jatuh.”

Saya menatap Gembul. Seperti biasa, berharap dia punya satu saja saran jitu, cara menjadi komandan atas diri sendiri. Tapi sebelum saya sempat membuka mulut, dia sudah keburu menghilang, entah ke mana. Mungkin kembali ke dunia kaleng Coca Cola.

Sebagai gantinya, saya berhadapan dengan teman imajiner lain. Sosoknya tidak jelas, tapi saya sering membayangkan dia mirip kembaran Hellboy. Kali ini dia muncul dengan wajah tua, mengenakan sarung dan  sebatang rokok terselip di telinga.

“Bangun jam 4 pagi, lalu cuci piring!” lanjutnya tegas, tanpa menunggu jawaban.

Menurut dia, secara sukarela menyelesaikan pekerjaan remeh—yang tidak akan menimbulkan resiko apa-apa kalau ditunda—adalah cara paling dasar melatih kemauan.

“Kamu tidak akan pernah bisa disiplin kalau tidak punya kemauan!”

Logikanya masuk akal. Maka tanpa pikir panjang, saya mengangguk. Sepakat.

Keputusan yang ternyata sangat prematur.

 

Cuci Piring Jam 4 Pagi Ternyata Misi Berat

Teorinya sederhana, bangun jam 4 pagi, lalu cuci piring. Prakteknya lebih mirip misi rahasia di film mata-mata, penuh tantangan, jebakan, dan keringat dingin.

Di malam sebelumnya saya harus mengkarantina semua perlengkapan makan dan masak, mencegah tamu tak diundang seperti tikus dan kecoak datang berpesta tengah malam. Itu berarti, setelah makan malam selesai, saya harus ekstra rapi. Padahal biasanya, semua dibereskan oleh anak. Sementara saya mengerjakan tugas berat lain, rebahan dan menatap plafon sambil berfilosofi.

Paginya, misi dimulai. Dapur saya sempit, dan tempat cuci piring letaknya di luar. Jadi untuk membawa semua peralatan kotor itu, saya harus mondar-mandir 3–4 kali. Kadang sambil ngucek mata. Kadang sambil mengeluh dalam hati, “Kenapa saya setuju ide konyol ini kemarin?”

Barang yang harus dicuci sebenarnya tidak banyak. Tapi karena udara dingin pagi bercampur rasa ngantuk, ditambah gangguan bisikan, “Nanti saja dilanjutkan, bikin kopi dulu,”—semua jadi molor.

Dan tentu saja, setelah jeda subuh, saya tergoda untuk berhenti sejenak. Tapi ternyata, sejenak itu berubah jadi lama. Akhirnya piring baru bersih semua sekitar jam tujuh.

Hellboy Tua Ternyata Serius

Hellboy versi tua tidak main-main. Besok paginya, ketika jam 4 sudah lewat, dan saya masih ketap-ketip di kasur, dia berteriak keras. Gayanya persis komandan militer yang marah melihat prajurit bangun kesiangan.

Meskipun dia cuma sosok imajiner, tapi suaranya yang nyaring terdengar tegas dan  jelas di kepala.

Refleks saya bangkit. Setengah sadar, saya loncat dari tempat tidur, buru-buru keluar kamar. Karena masih ngantuk berat, saya langsung nyungsep, kejedot pintu kamar.

Teriakan setan merah itu makin menjadi-jadi. “Kalau masih pengin kejedot, ada dua pintu lagi! Coba pakai sprint biar jedotannya mantep!!!”

Sambil memegang jidat yang mulai benjol, saya jalan sempoyongan menuju meja makan. Seperti biasa, rutinitas pagi saya awali dengan segelas air putih hangat.

Tapi pagi itu, kombinasi ngantuk dan kepala nyut-nyutan membuat saya lupa satu langkah penting, cek suhu air. Setelah menuang air ke dalam mug, langsung saya seruput.

Bibir serta lidah saya serasa terbakar.

“Panas ya? Kasih air es, biar dingin!” katanya dengan nada mengejek.

Saya sudah kesal, reflek membalas, “Mending kamu jadi ayam saja, biar enggak cerewet!”

Entah kenapa, kalimat itu malah membuat wujudnya berubah jadi durian, buah yang paling dia benci.

Tentu saja akhirnya saya jadi korban. Sepanjang hari durian cerewet itu merengek-rengek minta dikembalikan ke wujud semula. Sudah saya coba berbagai cara. Gagal semua. Saking putus asanya, saya sempat nekat membayangkan ... Sora Aoi.

(Ya, itu pun tidak berhasil. Malah jadi bumerang.)

🙈 Yang sudah tahu siapa itu Sora Aoi, .... tolong jangan ketawa. Yang belum tahu, lupakan saja. Anggap saya sedang keseleo pikiran.

Hellboy tua—yang akhirnya kembali ke wujud semula— menari-nari kegirangan.

"Bagaimana caramu bisa balik?"

"Kamu gagal karena berusaha terlalu keras. Aku bisa kembali setelah pikiranmu tenang."

Tenang? Jadi, keliru membayangkan tadi membuat pikiran tenang? Teori dari mana itu?

"Teori cara mengatasi ngantuk, pegel-pegel, dan capek."

"Maksudmu, membayangkan dia bisa—"

"HEEEYYYYY! JANGAN BERLAGAK BEGO!" dia langsung ngegas. "Terlalu fokus pada masalah bikin pikiran tegang. Tidak ada hubungannya dengan dia, kecuali kamu sengaja cari masalah baru."

Tanpa dicari pun, masalah datang sendiri. Ngapain juga repot-repot nambah?

Saya masih terus belajar. Kadang gagal, kadang... gagal lagi. Tapi saya percaya satu hal, Disiplin bukan soal berubah drastis, tapi soal berlatih konsisten meski pelan, dan meski sering jatuh. 

Sekarang saya belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Disiplin bukan berarti jadi robot. Tapi punya arah. Punya tujuan, dan cukup sayang pada diri sendiri untuk melakukan hal yang baik, walau kadang tidak enak.

Saya tidak ingin lagi hidup asal mengalir. Karena kadang, yang mengalir itu bukan rejeki, tapi waktu yang terbuang.

Jadi, buat siapa saja (dan saya juga tentunya) yang sedang belajar disiplin, ingat, “Disiplin bukan soal sempurna. Tapi soal tetap mencoba, bahkan saat ingin menyerah dan rebahan.”

 

LABEL: JEJAK WAKTU

01 Maret 2023

Lansia Reborn

Katanya, hidup dimulai umur 40. Tapi saya pikir, hidup saya baru benar-benar mulai setelah 60.

Saya pernah sibuk—sangat sibuk. Berangkat pagi, pulang larut, dan tentu saja mendapatkan hasil besar.

Hidup saya ibarat mobil yang melaju di jalan tol. Ngebut, dan hanya berhenti sebentar, sekedar istirahat. Sampai kemudian, tiba-tiba, mogok. Lalu, seperti sudah janjian sebelumnya, semua berubah dalam waktu bersamaan. Bermula dari gangguan kesehatan ringan, karena agak saya abaikan, kemudian menjadi serius. Bukan hanya menggerogoti fisik, tapi juga menggerus funansial.

Dengan kondisi kesehatan yang bisa dibilang "meriah sedikit berisik", dan finansial pas-pasan, saya memutuskan, harus bangkitMeskipun saya tahu, tidak akan mudah. Apalagi kalau langkahnya harus hati-hati, menyesuaikan dengan tekanan darah yang naik turun seperti roller coaster, dan trigliserida yang sering unjuk gigi .

Waktu masih muda, jatuh tinggal bangun. Sekarang? Jatuh bisa jadi konten viral plus rujukan ke fisioterapi.

Tapi justru di situlah tantangannya. Saya sadar, sekarang bukan lagi masanya adu cepat. Juga bukan mengejar yang sudah lewat. Tapi tentang keberanian untuk berkata pada diri sendiri, “Saya masih di sini. Saya masih mau mencoba.”

Walau lambat dan tertatih, saya tetap melangkah. Karena diam di tempat lebih menyakitkan. Duduk terlalu lama bikin pinggang protes, berdiri kelamaan dengkul ikut orasi. Jadi, lebih baik bergerak pelan-pelan sambil bawa minyak kayu putih dan semangat hidup.

Masalah finansial, jangan ditanya. Meskipun dulu kuliah di fakultas Teknik jurusan Sipil, ujian saya justru tidak pernah lepas dari ekonomi. Sekarang saya sedang magang di jurusan “hemat sambil tetap waras.” Rasanya seperti diet. Bedanya,  bukan makanan yang dikurangi—melainkan belanja online dan langganan streaming yang jarang ditonton.

Percaya atau tidak, selama perjalanan yang sedikit ngeri-ngeri sedap itu, saya menemukan pemahaman baru. Ternyata, hidup  bukan tentang punya segalanya, tapi tentang bisa tersenyum dengan apa yang ada (meski kadang senyumnya sambil nyengir nahan dengkul yang nyeri).

Gangguan kesehatan menjadi teman seperjalanan. Kalau tubuh ini ibarat rumah, sudah banyak bagian yang butuh renovasi. Ya sudah, diterima saja. Saya ajak ngobrol rematik dan trigliserida seperti teman lama. "Hari ini kita santai dulu ya, jangan cari ribut."

Yang penting, saya bisa mulai jalan lagi. Dari awal yang tidak nyaman, dari titik yang kadang membuat ingin menyerah. Tetap saya jalani, karena saya percaya, setiap langkah kecil, meski pelan dan gemetar, tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.

Kalau perjalanan hidup saya dibuat sinetron, mungkin  judulnya: “Lansia Reborn”. 

Jadi, buat kamu yang mungkin merasa “sudah terlalu tua” atau “sudah terlambat”—hei, saya di sini, 60 tahun lebih, pernah (dan sedang) ada di titik itu, dengan lutut yang lebih meriah ketimbang konser heavy metal.

Hidup bukan lomba lari cepat. Lebih mirip jalan pagi di taman. Yang penting, nikmati tiap langkah, dan hirup udara segar. Dengan semangat baru, humor receh, dan sebotol minyak angin.

Kita jalan bareng. Pelan saja, tapi pasti. “Jangan takut memulai ulang. Kali ini kita bukan mulai dari nol. Kita mulai dari pengalaman.” 


LABEL: JEJAK WAKTU


07 Februari 2023

Perseteruan di Lorong Rumahsakit

Di antara sekian banyak entitas non fisik yang sesekali mampir ke kepala saya—mulai dari suara-suara bijak, bayangan masa lalu, sampai pengingat "besok bayar tagihan listrik"—ada satu yang paling rutin datang dan cukup mencolok: seekor kucing.

Bukan kucing biasa, tentu saja. Dia muncul dalam khayalan saya, lengkap dengan ekor, telinga tajam, dan mata yang bisa melihat isi dompet saya. Dan yang paling penting: dia bisa bicara.

Namanya berubah-ubah, tergantung suasana hati saya. Kadang saya panggil “Belang,” kadang “Empus.” Terakhir "Gembul", dan entah kenapa kemudian menjadi nama tetapnya. Sebenarnya, dipanggil apapun, kecuali "Bundel" - karena ekornya bundel macam gulungan benang nempel di pantat, dia tidak pernah protes. 

Kucing satu ini punya kebiasaan aneh. Setiap kali muncul selalu menimang sekaleng Coca Cola, tapi belum pernah sekalipun saya melihat dia minum. 

"Doyan begituan juga? Dapat nyolong apa endorsan?"

Ternyata hanya gaya-gayaan. Begitu gleg, seteguk, langsung keseleg. 

Pada sebagian besar kemunculannya, dia lebih mirip komedian ketimbang penasehat. Misalnya, saat saya sedang merenung soal arah hidup, dia dengan santainya berkata,

“Kalau bingung arah, coba tidur miring ke kiri. Bagus buat pencernaan.”

Tapi anehnya, kadang-kadang, di tengah semua tingkah konyolnya, dia bisa sangat serius dan nasehatnya sering tepat sasaran.

Seperti waktu saya nyaris menyerah karena semua terasa berat. Dia duduk tenang di ujung meja, menatap saya dengan mata segede kelereng, lalu berkata,

“Kamu masih hidup, berarti Tuhan tidak menghendaki kamu berakhir macam kecoak keinjek. Sekali waktu kamu pernah menjadi pemenang, mengalahkan jutaan pesaingmu di dalam sana. Buktikan kalau kemenangan itu bukan sekedar kebetulan belaka, tapi karena kamu memang terkuat.”

Awalnya saya bingung, kapan itu terjadi? Ternyata gulungan bulu itu membahas kejadian saat saya masih berupa sel tunggal, adu balap rebutan sel telur.  

Sejak itu, saya mulai menganggap kehadirannya bukan sekadar gangguan imajinatif. Tidak sedikit dari pendapatnya, sekalipun kadang terasa konyol, membawa pemahaman baru terhadap pertanyaan-pertanyaan  yang sebelumnya tidak  saya temukan jawabnya.

Seakan seekor kucing belum cukup, ketika saya sering ngelamun di selasar rumah-sakit saat istri saya menjalani perawatan kanker, muncul satu lagi. Kali ini tanpa wujud, dan sempat membuat saya keliru menyangka sebagai salah satu makhluk penghuni rumah-sakit. Dia banyak membantu saya memahami penjelasan dokter mengenai kondisi istri saya. Tapi, entitas-entitas macam itu nampaknya punya satu kesamaan, punya penyakit konyol kambuhan.

Pada awal-awal kehadirannya, pendatang baru ini sempat membuat saya merinding. Masalahnya, dia lebih sering  muncul malam hari, ketika saya sedang ketap-ketip tidak bisa tidur. Tanpa permisi, tiba-tiba mak bedunduk, saya merasa seolah-olah ada yang duduk di sebelah. Berulang kali terjadi seperti itu, sampai akhirnya saya mencoba memberi dia wujud. 

Saya coba wujud berbagai binatang, dia tidak protes, tapi malah saya merasa tidak nyaman. Suatu saat, terbayang durian, eh, ganti dia histeris macam kebakaran jenggot. Ternyata dia sangat membenci durian. 

Tiba-tiba Gembul punya ide serem, "Dia kan sebangsa setan, kali saja pocong lebih cocok"  

"Setan bapak kau!" 

Selanjutnya, merekapun ribut. 

"Guys, guys, ini rumah-sakit. Kalau berantem pindah kuburan sono" Saya mencoba melerai. Tiba-tiba, sosok tinggi besar berwarna merah dengan tampang sangar muncul persis di hadapan saya. "Istrimu sedang sakit, jangan pernah berpikir apapun tentang kuburan."

Seketika saya sesak nafas. Bukan takut pada sosok itu, melainkan kepikiran, istri saya besok siang akan menjalani operasi mengangkat kankernya. 

Begitu saya kembali tenang, sosok merah itu tidak terlihat lagi. Tapi saya masih merasakan kehadirannya. Entah kenapa, mendadak saya teringat wujud setan merah dengan tanduk puthul di film Hellboy. Penampakan tadi sangat mirip. 

"Kenapa kamu mengambil wujud seperti itu?" Saya jadi penasaran.

Menurutnya, dia akan terlihat dengan wujud seperti apapun yang diberikan oleh pikiran saya. Padahal tadi saya tidak mikir apapun selain  kuwatir terhadap kondisi istri saya. Atau mungkin, wujud itu merupakan refleksi dari kecemasan saya. Entahlah.

Selain wujud yang menurut saya sedikit gimana gitu, saya masih penasaran dengan asal usul Gembul dan pendatang ini. Siapa atau apa mereka sebenarnya? Seandainya berasal dari aktifitas otak, terdapat banyak suara muncul di kepala, mengapa hanya Gembul yang memiliki penampakan? Kenapa pula ada yang baru muncul sekarang?  

Banyak pikiran membuat saya capek, lalu tertidur di selasar. Terbangun kembali ketika saya merasakan guncangan lunak di bahu.

Dua sapam berdiri sebelahan, salah satu berkata,  "Maaf pak, tidak boleh tidur di sini". 

Setelah mereka yakin saya sedang menunggu pasien, saya diijinkan kembali ke kamar tempat istri dirawat. 

Baru sedikit lewat tengah malam. Sebagian lampu di lorong rumah-sakit  tetap dibiarkan menyala, tapi suasana sepi dan dinginnya AC membuat saya sedikit merinding. 

"Di sini bersih, tidak ada apa-apa." Sosok Hellboy muncul di ujung lorong. Tentu saja membuat saya kaget setengah mati. Beruntung tidak kelepasan teriak atau ngompol. 

"Bule jelek, bikin kaget!" Gembul yang mendadak ada di sebelah saya uring-uringan.

"Siapa yang bule?" Hampir bersamaan saya dan kembaran Hellboy bertanya.

"Karung beras warna merah itu kan bule!"

Langsung pecah perang diantara keduanya. Anehnya, saya tidak merasa takut lagi. Kali ini saya biarkan mereka ribut, karena saya akhirnya sadar, serame apapun, tidak akan mengganggu pasien. Bahkan lama-lama saya mulai menikmati keributan mereka. 

Setiba di kamar, saya langsung berbaring di tempat tidur yang memang disediakan untuk penunggu. Sebelum kembali terlelap saya sempat mendengar Gembul berteriak di kejauhan,  "Bujel, bule jelek. Kembalikan ekorku!"


LABEL: JEJAK WAKTU


01 Februari 2023

Penasehat Dari Sebelah Sono


Setiap orang punya cara masing-masing untuk berdialog dengan diri sendiri. Ada yang menulis jurnal, ada yang ngajak bicara kucing (yang hanya menjawab dengan dengkuran – atau malah sering minta makan), dan ada juga yang, seperti saya, punya tamu tak diundang dalam kepala.

Ini bukan kisah horor. Tidak ada sosok misterius ndhekem di bawah pohon mangga sambil berbisik, "Jangan lupa bayar BPJS." Tapi ada satu entitas non fisik—atau beberapa, saya belum yakin jumlahnya—yang suka muncul saat saya sedang serius merenungi hidup.

Biasanya sosok itu nyelonong begitu saja, tanpa permisi, saat saya sedang duduk tenang, mengenang masa lalu, menimbang-nimbang keputusan yang pernah saya ambil puluhan tahun lalu, ketika tiba-tiba terdengar suara (dalam hati, tentu saja):

“Tahu nggak, kalau waktu itu kamu tidak asal-asalan nenggak sembarang suplemen dan sedikit saja rajin olah-raga, sekarang kamu masih bisa menikmati semua makanan kesukaanmu!”

Padahal saya sedang merenungi lensa kamera yang retak gara-gara kepleset waktu motret Merapi, bukan mikir makanan.

Kadang mereka ini seperti radio rusak—menanggapi renungan saya dengan komentar yang sama sekali nggak nyambung. Tapi anehnya, saya tidak pernah merasa terganggu. Malah, mereka sering membuat saya tertawa sendiri.

Ada kalanya suara-suara itu memberi saran yang masuk akal. Seperti saat saya bingung antara beli es krim atau patuh diet:

“Hasil cek terakhir, trigliseridamu di atas 1000. Sebaiknya jangan terlalu sering melanggar diet. Tapi kalau kamu pengin sekali-kali merasakan masuk ICU, terus sekujur tubuh dicublesi jarum, seliter es krim sehari selama beberapa minggu kurasa cukup sebagai pengantar.”

Nah lho.

Saya menyebut mereka "Penasehat dari sebelah sono". Mereka bukan malaikat, bukan jin, apalagi ilham surgawi. Dalam persepsi saya, mereka lebih seperti gerombolan penggembira—dengan anggota yang kadang bijak, kadang absurd. Ada yang cerewet seperti teman lama, ada yang filosofis ala guru spiritual, dan ada juga yang tampaknya hanya mampir untuk bikin rame suasana.

Saya pernah mencoba mengabaikan mereka. Tapi justru saat saya tidak mendengarkan, mereka makin heboh. Jadi sekarang saya terima saja kehadiran mereka. Anggap saja mereka bagian dari proses berpikir saya yang unik.

Tentu saja, saya sadar sepenuhnya bahwa semua ini hanyalah bagian dari imajinasi. Tapi bukankah hidup ini juga penuh dengan hal-hal yang tidak selalu bisa dijelaskan logika?

Kalau Anda juga pernah mengalami hal serupa—entah itu suara hati, insting, atau "komentator dalam kepala"—jangan khawatir. Bukan berarti Anda mulai gila. Mungkin hanya terlalu sering berpikir mendalam.

Dan siapa tahu, di balik komentar absurd mereka, terselip juga sepotong kebijaksanaan yang bisa membawa kita ke arah yang lebih baik.

Atau minimal, menghibur di tengah kesunyian.


LABEL: JEJAK WAKTU