28 September 2023

Justru Menuai Kekacauan

Kehidupan, seberantakan apa pun kelihatannya, sebenarnya selalu punya pola. Mungkin tidak selalu logis, tidak selalu ideal, bahkan bisa jadi menyebalkan, Tapi tetap saja ada keteraturan tersembunyi di balik rutinitasnya.

Saat seseorang ingin memperbaiki hidup, pada dasarnya sedang berusaha mengubah pola itu. Di sini masalahnya bermula.

Mengubah pola hidup mirip seperti merombak bangunan tanpa memindahkan penghuninya. Ada suara gaduh, ada debu dan reruntuhan. Ada ruang-ruang yang tiba-tiba tidak bisa dipakai. Bahkan kadang membuat bingung, ini sedang diperbaiki atau justru dihancurkan?

Tubuh, pikiran, dan emosi kita sudah terlalu terbiasa dengan pola lama, tidak perduli meskipun sebenarnya pola itu punya potensi merusak. Saya tahu, bermalas-malasan, makan apapun asal enak di lidah, begadang sambil nonton video receh, bukan hidup ideal, tapi saya lakoni, karena terasa nyaman, dan sepertinya tidak terlalu buruk.

Saat saya mencoba disiplin, makan lebih sehat, bangun lebih pagi, berhenti menunda-nunda, atau sekadar berpikir positif—pola lama akan memprotes. Tidak dengan teriakan, tapi dengan bisikan-bisikan halus:
"Makan menu sehatnya mulai besok saja."
"Gagal sekali bukan berarti gagal selamanya, santai dulu."
"Hidup harus dinikmati, jangan terlalu keras pada diri sendiri."

Dulu saya membayangkan perubahan seperti naik tangga dengan langkah ringan tapi mantap dan terarah. Kenyataannya, bukan sekedar kesandung di setiap anak-tangga, melainkan nyungsep, tersungkur, bahkan terlempar mundur beberapa langkah. .

Perubahan ternyata datang bersama kekacauan. Seperti dapur yang makin berantakan saat sedang dibersihkan. Seperti kamar yang tampak lebih kacau saat sedang ditata ulang.

Seseorang pernah berkata,“Kekacauan bukan lawan dari keteraturan, melainkan rahim tempat keteraturan baru sedang dibentuk.”

Barangkali, kekacauan adalah suara dari keteraturan lama yang sedang diganti. Seperti ketika rumah direnovasi, memang harus berantakan dulu sebelum berubah menjadi lebih nyaman.

Di samping itu, setiap sistem yang diubah butuh waktu untuk beradaptasi. Pola baru tidak langsung stabil. Seperti tanaman yang baru dipindahkan, awalnya terlihat layu, rapuh, dan terlihat seperti akan mati. Tapi setelah cukup disiram, dirawat, dan diberi perhatian, akan tumbuh akar baru.

Hidup, saat sedang mengalami proses perubahan, persis seperti itu. Mestinya saya tidak perlu panik, tidak usah buru-buru menganggap kekacauan sebagai pertanda kegagalan. Selama terus tekun berusaha dan sabar, keseimbangan baru akan terbentuk. Mungkin tidak sempurna, tapi cukup stabil sebagai pijakan untuk langkah selanjutnya. Di situlah kita bisa bernapas lega dan berkata: “Akhirnya mulai terasa lebih baik.”

MASALAHNYA, saya melakukan perubahan karena ingin mendapatkan suasana yang lebih baik, sementara yang terjadi justru sebaliknya. Nalar saya bisa memahami bahwa proses sedang berlangsung, TAPI SAMPAI KAPAN?

Kalau realitanya saya justru menghadapi lebih banyak masalah, untuk apa berusaha berubah?

Mending kemarin. Meskipun rejeki hanya mengalir kecil seperti air PAM di musim kemarau, saya tidak pernah kekurangan. Meskipun setiap hari sekujur badan serasa habis digebugi orang sekampung, saya masih mampu beraktifitas lebih baik.

Setelah berusaha berubah, rejeki justru seret, badan berasa semakin remuk. Semakin sulit konsentrasi. Kambuh pikun. 

Jangan-jangan nanti aritmia dan vertigonya ikut muncul pula!!!

Lalu, di tengah semua keluhan itu, suara halus di kepala berbisik, “Kalau kamu tidak berusaha berubah, suatu saat kekacauan itu juga akan terjadi. Bukan karena kamu sengaja membongkarnya untuk diperbaiki, melainkan runtuh sendiri dimakan waktu. Niatmu untuk berubah mirip seperti tim gegana sengaja meledakkan bom secara terkendali, agar tidak meledak secara liar di waktu dan tempat yang tidak terduga.”

Pada akirnya hanya tersisa pilihan sederhana yang tidak mudah: Sengaja memicu kekacauan supaya terjadi sekarang, saat saya masih punya tenaga dan mampu mengendalikan diri menghadapi tekanan, atau membiarkan kelak suatu saat, entah kapan, meledak sendiri, ketika saya terlanjur uzur dan tidak lagi mampu berbuat apa-apa, selain menelan begitu saja semua deritanya dan, barangkali, sambil menyesal.

Sama-sama berat, tapi pilihan pertama masih membawa harapan baik.

Saya tidak tahu kapan hidup akan terasa lebih ringan. Tapi saya tahu satu hal: kekacauan ini bukan tanpa arah, melainkan bagian dari proses. Tanda bahwa saya sedang menyusun ulang hidup saya, meski kadang dengan tangan gemetar dan hati setengah yakin.

Tapi, selama saya masih punya alasan untuk mencoba lagi besok pagi, berarti saya belum kalah.


LABEL: JEJAK WAKTU

13 September 2023

Ternyata Tidak Gampang


Saya pernah membayangkan proses memperbaiki diri itu seperti naik sepeda di jalan datar. Meskipun harus mengayuh, asal konsisten, pasti sampai. Kenyataannya, jalan yang saya lewati ternyata menanjak lumayan terjal, berkerikil , licin, dan berangin kencang.

Di awal-awal, saya sempat merasa optimis. Bangun pagi, melakukan rutinitas sehat, bahkan menuliskan refleksi dengan semangat. Tapi begitu masuk minggu kedua, bukan semakin lancar dan baik, malah sebaliknya, terasa berantakan.

Masalah yang tadinya saya harap akan berkurang, justru datang bertubi-tubi. Belum selesai satu, sudah muncul dua. Bahkan hal-hal sepele pun mendadak terasa menjengkelkan. Rutinitas terganggu, fokus buyar, dan yang paling berat: semangat perlahan menipis. Godaan untuk menyerah, dan membiarkan hidup mengalir seadanya seperti semula, terasa semakin kuat. Mungkin jatah untuk saya dari Tuhan memang hanya segitu.

Yang membuat emangat makin loyo, perubahan yang saya harapkan tidak kunjung terjadi. Dari hari ke hari tetap begitu-begitu saja. Bahkan terasa lebih membosankan. Kesulitan tetap datang tanpa ampun. Bahkan cuaca pun seakan ikut-ikutan tidak bersahabat.

Tapi di antara semua kondisi yang semakin menekan batin itu, masih tersisa sedikit bara keyakinan bahwa segala kesulitan itu bukan hambatan, melainkan proses yang memang harus saya jalani. Sesuatu di kepala berulangkali berbisik mengingatkan, saya menetapkan target sendiri, maka saya harus mau menerima resikonya. Tidak ada jalan landai dan mulus menuju puncak.

Memperbaiki diri bukan perubahan drastis dalam waktu cepat. Bukan cerita tentang menjadi versi ideal dalam semalam, tapi memilih untuk terus mencoba, bahkan saat tidak ada yang mendukung, dan hasilnya belum ketahuan akapan akan terwujud.

Pada akhirnya saya harus menerima kenyataan, begitulah cara semesta bekerja. Tidak memberi hadiah instan, melainkan hanya memberi kesempatan pada siapapun untuk mewujudkan keinginan, selama mau berusaha. Alam semesta tidak memberi respon  pada niat atau kata-kata, tapi hanya memberi sesuai kemampuan seseorang meraih keinginannya.

Setiap niat baik selalu punya lawan tanding. Mau meditasi lima menit, tiba-tiba masuk pesan WA dari customer, minta supaya surat penawaran segera dikirim secepatnya. Sedang siap-siap nulis jurnal harian, notifikasi di HP mendadak rame. Niatnya tengok sebentar, ternyata sedang ada ribut-ribut politik yang membuat saya naik darah.

Dan yang paling ajaib, begitu saya berusaha bertahan tidak nyimpang dari target, masalah-masalah baru muncul bareng, keroyokan, macam orang rebutan bantuan sembako menjelang pilkada. Atap kamar mendadak bocor, kipas angin ngadat, hard disk tidak terbaca. Bahkan sandal saya jebol begitu saja, padahal sebelumnya terlihat baik baik saja.

Saya sempat bertanya-tanya, “Apakah ini pertanda saya salah menetapkan target?”. Bahkan pernah pula terpikir, jangan-jangan Tuhan tidak berkenan?

Tapi setelah beberapa minggu, dengan banyak momen nyaris menyerah, saya mulai paham: ternyata perubahan itu bukan urusan pamer hasil, tapi tentang mengelola kekacauan. Bukan sekedar kelihatan rajin dan bersemangat, tapi tetap mencoba meskipun hari ini gagal total.

Kadang berasa seperti mendaki gunung hanya modal sandal jepit, menghadapi medan yang licin dan berbatu. Lambat, tapi tetap naik.

Maka saya putuskan, saya tidak akan menyalahkan diri sendiri saat tergelincir. Tidak akan mundur hanya karena hasil belum kelihatan. Yang penting tidak berhenti. Karena memperbaiki diri, sejatinya bukan tentang menjadi sempurna. Tapi tentang tidak menyerah meskipun sering tergoda untuk rebahan sambil ngulik HP dan ngemil donat cokelat.


LABEL: JEJAK WAKTU

01 September 2023

Berdamai dengan Otak yang Tidak Ingin Berubah

 Dulu, semangat saya datang dalam kemasan instan. Cepat, panas, dan berkilat seperti promo diskon akhir pekan. Dua hari pertama terasa seperti terbang: bangun pagi tanpa alarm, latihan fisik tanpa mengeluh, mencatat refleksi harian dengan penuh kesadaran, bahkan sempat menghindari kopi demi "detoks mental". Semua kebiasaan sehat yang selama ini hanya saya baca di artikel motivasi atau lihat di kutipan Instagram orang-orang produktif, saya jalani dengan penuh gaya. Seolah-olah saya baru saja menemukan kunci kehidupan ideal.

Tapi, di hari ketiga, realitas datang seperti tagihan listrik yang lupa dibayar. Tiba-tiba saja muncul banyak pekerjaan. Email menumpuk, deadline yang tadinya jauh mendadak terasa menghimpit, dan tugas-tugas kecil yang sebenarnya bisa ditunda tiba-tiba terasa mendesak. Semua menyuarakan tuntutan harus segera diselesaikan. Padahal, kalau saya jujur, sebagian besar dari itu bukan urusan penting—hanya masuk akal bila digunakan sebagai alasan untuk ngeles.

Saya mulai menawar dengan diri sendiri: "Boleh skip hari ini. Besok mulai lagi. Nggak apa-apa,  sudah dua hari konsisten." Lalu, "sedikit" itu jadi dua hari, lalu tiga. Tahu-tahu, daftar kebiasaan sehat yang dulu saya susun dengan penuh semangat sudah tergantikan oleh kebiasaan lama: skip latihan, skip refleksi, skip sarapan sehat. Dan kembali, saya berdamai dengan mantra yang sudah terlalu sering saya dengar: "Besok saja."

Lucunya, meskipun saya tahu persis, yang sedang terjadi hanya akal-akalan supaya bisa kabur dari komitmen yang baru dua hari bersemi, tapi saya membiarkan otak saya mengambil peran sebagai  pengacara, membela kebiasaan lama. Menyusun argumen dengan sangat meyakinkan: "Kamu lelah. Kamu butuh istirahat. Disiplin itu penting, tapi kamu juga manusia." Dan terdakwanya—saya yang malas, yang ingin nyaman—dibebaskan dari semua tuduhan dengan vonis: "Tidak bersalah karena sedang sibuk."

Rencana yang tadinya terasa mulia, akhirnya kembali jadi sekadar wacana. Satu per satu, daftar aktivitas sehat itu bubar jalan, seperti rombongan demonstran tidak kebagian nasi bungkus.

Lalu, seperti biasa, saya merasa kecewa pada diri sendiri. Mengapa begitu gampang menyerah? Mengapa begitu sulit menjaga momentum? Saya mulai memaksa diri lebih keras: lebih keras bangun pagi, lebih keras menolak godaan, lebih keras menyalahkan diri saat gagal. Tapi semakin keras saya melawan, justru semakin cepat patah. Karena di balik semua itu, otak saya—dengan segala kreativitasnya—terus mencari dalih, membuat saya menerima alasan apa pun: "Hari ini ditunda dulu. Disiplinnya besok saja. Sesuap makanan berlemak tidak akan membunuhmu."

Ketika saya nyaris berhasil bertahan, otak saya menyodorkan salah satu kalimat motivasi versi dibegal, “Kegagalan adalah bagian dari perubahan. Gagal sekali bukan berarti kalah. Selagi kamu masih terus mau berusaha, suatu saat nanti pasti berhasil.”

Kalimatnya secara harfiah tidak salah. Bahkan terdengar bijak. Tapi niat semu yang tersembunyi di baliknya sangat menyesatkan. Karena di tangan saya, kalimat itu jadi alat pembenaran: "Oh, gagal itu wajar. Jadi, boleh gagal lagi besok, dan lusa, dan minggu depan..." Motivasi yang seharusnya mendorong, malah jadi pelampiasan untuk terus menunda.

Lalu, di tengah kelelahan batin itu, muncul suara lirih. Nyaris tidak terdengar. Seperti bisikan dari dalam gua yang gelap.
"Biarkan saja. Jangan dibantah. Konfrontasi dengan diri sendiri hanya akan membuat kamu semakin babak belur."

Saya terdiam. Waktu muda, saya sering berantem. Melawan orang lain, meskipun menang, badan tetap kebagian bonyok. Apalagi kalau berantemnya melawan diri sendiri Menang tetap bonyok, kalah, lebih berantakan lagi. Tidak ada pemenang sejati. Hanya kelelahan yang menang.

Tapi mengapa otak saya tidak mau diajak kerjasama untuk tujuan baik?

Suara berat, berwibawa dan penuh otoritas, menjawab, “Aku mengatur seluruh aktifitas dirimu. Aku yang menentukan.”

Menjelang saya membantah, suara halus kembali berbisik, “Jangan dilawan.”

“Terus piye?” saya bertanya, hampir putus asa.

"Kamu berhadapan dengan sistem tubuh yang sudah mapan," bisiknya pelan. "Kebiasaan lama bukan sekadar pilihan—ia punya jalur syaraf yang kuat, terbentuk dari ribuan kali pengulangan. Perubahan berarti membangun jalur baru yang penuh resiko. Otak cenderung menganggap resiko sebagai ancaman.”

Seseorang pernah memberi tahu, dalam kondisi tertentu, kita berhadapan dengan mekanisme bawaan dari otak yang dirancang untuk melindungi diri dari ancaman. Otak tidak peduli apakah kita ingin menjadi lebih sehat, lebih produktif, atau lebih bahagia. Segala hal baru dianggap berisiko, . Karena itu, otak cenderung mengarahkan kita kembali ke jalur lama: yang sudah dikenal, yang sudah teruji, dan terbukti memberi rasa aman.

Rasa aman memicu pelepasan dopamin. Hormon yang memberi rasa nyaman, puas, dan dorongan untuk mengulang. Maka, tanpa sadar, kita terus mengulang kebiasaan lama—meskipun merugikan.

Melawan otak dan dopamin sekaligus sama seperti mencoba naik sepeda sambil menyulut kembang api di atas kepala.

Suara halus kembali berbisik, “Otak adalah organ pengingat, bukan pendengar. Tidak memberi respon terhadap niat, tapi memberi respon terhadap kebiasaan dan kenyamanan. Itu sebabnya kamu dibiarkan berlama-lama melakukan aktifitas yang kamu suka, tapi selalu diusik dengan bosan, lelah atau ngantuk saat melakukan aktifitas yang sebaliknya.”

Ternyata, saya harus membuat otak suka terlebih dahulu. Persis seperti waktu saya goleran sambil ngulik ponsel dan ngemil donat cokelat. Karena otak tahu, saya suka, tanpa semangatpun aktifitas itu bisa bertahan lama. Sebaliknya, untuk berhenti, butuh semangat dan kemauan yang kuat.

Artinya, sebelum berharap otak mendukung perubahan, saya harus mengajaknya ngobrol. Menjelaskan pelan-pelan. Membujuk. Bukan memaksa.

Saya harus membangun jalur baru dengan cara yang lembut:
Satu langkah kecil. Satu pengulangan. Satu rasa nyaman yang dibangun perlahan.

Karena perubahan sejati bukan ledakan semangat yang cepat padam, melainkan proses membentuk kenyamanan baru, yang dulu terasa sulit, lama-lama terasa wajar. Yang dulu terasa seperti hukuman, perlahan menjadi bagian dari diri.

Sekarang, saya tidak lagi berharap bangun pagi dengan semangat. Saya hanya berusaha bangun lima menit lebih awal. Lalu duduk diam. Bernapas. Tidak harus meditasi, tidak harus produktif. Cukup duduk. Dan biarkan otak merasakan: Ini tidak berbahaya. Ini nyaman.

Karena pada akhirnya, bukan kemauan yang membentuk kebiasaan. Tapi kebiasaan yang membentuk kemauan. Dan bukan semangat yang membuat kita berubah. Tapi perubahan kecil yang terus diulang—yang akhirnya membangkitkan semangat itu sendiri.

Saya mulai belajar, ntuk berubah, saya tidak perlu melawan diri. Hanya perlu mengajak diri sendiri pergi jalan-jalan. Pelahan. Sambil bicara. Sambil tertawa. Sambil sesekali berhenti, minum teh, dan bilang: "Kita istirahat dulu. Tapi besok kita lanjut."

Karena perjalanan panjang dimulai bukan dengan lompatan, tapi dengan langkah kecil yang bersedia diulang. Tanpa perlu menang. Tanpa perlu sempurna. Cukup terus berjalan.

Perubahan bukan berarti menjadi orang lain. Melainkan tentang belajar mencintai diri yang sedang belajar. Termasuk otak yang selalu ingin nyaman. Termasuk hati yang sering kecewa. Termasuk saya, yang masih sering menyerah, tapi hari ini memilih untuk bangkit lagi.


LABEL: JEJAK WAKTU

22 Agustus 2023

Rahasia Gelap yang Terbongkar Tax Amnesty

 

Menjelang Tax Amnesty 2016 berakhir, ada teman tergopoh gopoh menemui saya. Wajahnya tampak gelisah, seperti sedang dikejar waktu. Meskipun saya bukan konsultan pajak—dan sejujurnya pengetahuan pajak saya juga pas-pasan—tapi selama musim Tax Amnesty berlangsung, memang banyak yang datang untuk bertanya. Entah kenapa, mereka menganggap saya bisa membantu.

Setelah sedikit memberi penjelasan seperlunya, mereka saya sarankan bertanya langsung ke petugas di Kantor Pelayanan Pajak. Lebih aman, lebih jelas, dan tentu saja lebih kredibel ketimbang mendengarkan omongan saya.

Tapi teman yang datang kali itu berbeda. Dia justru lebih paham pajak. Dia tahu aturan mainnya, tahu celah-celahnya, bahkan tahu konsekuensi hukumnya. Namun yang dia butuhkan bukan pengetahuan teknis pajak. Dia mencari jalan keluar dari masalah di luar pajak yang tanpa diduga muncul bersama Tax Amnesty.

Ada satu unit rumah seharga lebih dari 1,5 M dan satu unit mobil seharga 400an juta yang terdaftar atas namanya, dibeli tanpa sepengetahuan istrinya. Masalah menjadi serius karena selama ini dia bekerja sebagai direktur di perusahaan milik mertua, dan semua belanja besar harus mendapat persetujuan istrinya.

Gampang ditebak, pasti ada perempuan lain di balik asset itu. Tanpa basa-basi saya langsung nembak, “Iki mbok wenehna gendakanmu?”

Dengan ekspresi kaget bercampur bingung, orang yang terkenal alim, dan suami yang selalu terlihat mesra saat bersama istri itu mengangguk ragu. Gerakannya lambat, seperti orang yang kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Akhirnya, dengan suara yang nyaris berbisik, dia mengakui: aset-aset itu memang dalam kuasa perempuan lain yang selama ini diakui sebagai "anak asuh".

Anak asuh. Label yang nyaman dan tidak akan menimbulkan kecurigaan di lingkungan sosial yang religius. Tapi di balik label itu, tersembunyi drama korea yang dibangun di atas kebohongan berlapis.

“Terus masalahnya apa?” Saya berlagak bego.

Ancaman di Balik Tax Amnesty

Tentu saja ini masalah besar. Masalah yang bisa menghancurkan rumah tangga dalam sekejap. Istrinya bukan tipe emak-emak sen kiri belok kanan yang tidak paham urusan keuangan dan pajak. 

Saya pernah beberapa kali ketemu, orangnya terlihat cerdas, teliti, dan sangat memperhatikan detail. Kalau sampai tahu ada aset miliaran rupiah dibeli tanpa persetujuannya, dia tidak butuh waktu lama untuk menemukan sumber bau amisnya.

Teman saya kemudian memberi usulan yang menurutnya "cemerlang". Dengan nada yang mencoba terdengar percaya diri, dia berkata, "Aku akan bilang istriku, mobil aku titipkan ke rentalmu untuk disewakan. Rumah kamu sewa untuk kantor."

Beh, gemblung. Dia pikir istrinya bisa segampang itu dikibuli. Bangunan di lingkungan perumahan, mana bisa dipakai untuk kantor badan usaha PT? Ada aturan zonasi, IMB harus diubah menjadi IMB komersial. Lagi pula, seandainya sampai dicurigai, apakah dia pikir saya bisa menghadapi istrinya dengan tenang sambil menyembunyikan kebohongan sebesar itu?

Ketika gagasannya saya tolak, ekspresinya berubah, dari percaya diri, menjadi putus asa. Dia mulai merengek macam anak kecil minta Kinder Joy. Bahkan dia berani menantang, akan memberi imbalan berapapun yang saya mau.

Saya terdiam. Bukan karena tergoda oleh tawaran itu, tapi kaget melihat betapa desperatenya dia. Betapa besar tekanan yang dia rasakan sampai rela menawarkan apapun demi menutupi kesalahannya.

Parade Masalah Serupa

Ternyata, teman saya bukan satu-satunya yang mengalami dilema seperti itu. Beberapa hari berselang, dua orang lain datang dengan masalah yang nyaris serupa. Mereka seperti pasien-pasien yang datang ke dokter dengan gejala penyakit yang sama: aset tersembunyi yang harus dilaporkan dalam Tax Amnesty, tapi takut ketahuan pasangan.

Males terus-terusan direcoki masalah-masalah absurd yang campur aduk, akhirnya saya ajak mereka menemui konsultan pajak betulan. Saya hubungi konsultan langganan saya, berharap dia bisa memberikan solusi profesional. Tapi konsultan itu bahkan menolak lebih cepat ketimbang saya.

Pada akhirnya ada yang bersedia membantu. Entah bagaimana caranya, saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Sejak dulu saya sudah memutuskan, tidak akan ikut campur urusan rumah-tangga orang.

Belakangan terbukti, keputusan saya ogah terlibat ternyata tidak salah. Kebohongan teman saya terbongkar. Pagi buta istrinya telepon. Dengan suara dingin, dia bertanya tentang akal-akalan Tax Amnesty itu. Ketika saya jawab, tidak tahu, dia tidak terima begitu saja, lalu minta ketemuan.

Kami bertemu di emperan Indomaret dekat kantor – karena saya keberatan menempuh jarak jauh ke tempat yag dia pilih. Dia datang sendirian, duduk di depan saya dengan postur tubuh tegak. Mata elangnya menatap tajam ke mata saya, seolah berusaha memberi tekanan psikologis. Tatapannya terasa seperti interogasi. Mencari tanda-tanda kebohongan, mencari celah, dan mencari kebenaran yang disembunyikan.

Seandainya dulu saya terlibat, saya yakin tatapan itu akan membuat saya kedodoran. Tatapannya bukan sekadar curiga—itu adalah tatapan seorang perempuan yang sebenarnya sudah punya jawaban, tapi hanya ingin melihat apakah saya cukup jujur untuk mengakuinya.

Tapi saat itu, saya bisa tetap santai dan memberi satu jawaban pamungkas, “Saya tidak tahu.” Yang kemudian membuat pertemuan berakhir bagitu saja.


Related Post:
1. Pasukan Elite Penjaga Rumah
2. Cerita Pedagang Jamu Kopdar Fotografi

17 Agustus 2023

Mulai Menanggapi Sinyal dari Dalam

Ada sebuah kebiasaan manusia yang luar biasa mematikan: kita terlalu pandai mengabaikan suara dari dalam diri sendiri. Tubuh kita adalah penerjemah setia antara jiwa dan dunia luar, tapi kita sering memperlak,kannya seperti pelayan yang boleh diabaikan selama belum berteriak keras.

Gangguan kesehatan yang sekarang saya alami sampai berkepanjangan, dulu bermula dari masalah kecil dan bisa diabaikan - cepat lelah, sering pusing, perut kembung.

Hanya gejala ringan yang biasanya hilang sendiri setelah beberapa saat, atau setelah cukup tidur. Kalaupun setelah bangun masih terasa, biasanya saya anggap sinyal dari perut yang terabaikan. Begitu selesai makan, dunia terang kembali. Setidaknya, begitulah yang saya percaya.

 Tapi kali itu, rupanya tubuh serius menyampaikan sesuatu dan ingin didengar. Sinyal-sinyal kecil itu bukan lagi gangguan biasa, melainkan pesan dari sistem yang mulai menjerit dalam bahasa halus.

Karena saya tetap abai, dan ketukan sedikit keras tidak juga saya  gubris, akhirnya saya dijewer dengan keras. Trigliserida njeplak, seluruh badan pegel, selalu ngantuk dan capek. Seolah tubuh ini sedang menanggung beban yang bukan haknya.

 

Meskipun sudah kelimpungan dan membutuhkan bantuan dokter, saya masih setengah hati melaksanakan perintah diet. Di rumah tertib, karena ada anak dan istri yang bertindak sebagai satpam. Tapi di luar, tidak pernah sekalipun patuh. Jangankan membatasi asupan karbo. Saya masih rajin melahap donat coklat, minum kopi botolan, minum jus buah, tetap lahap makan rendang, tongseng, dan yang paling saya suka, sop iga dengan kuah berlemaknya.

Barangkali jengkel terus terusan diabaikan, tubuh menjawab dengan caranya sendiri: irama detak jantung morat-marit – dokter menyebutnya aritmia, Trigliserida tidak mau lagi turun di bawah 500 mg/dL, vertigo yang membuat dunia serasa berputar lebih cepat, dan langkah kaki mulai goyah, seperti bayi yang baru belajar jalan.

Beruntung, ditengah kebiasaan makan dan minum secara ugal-ugalan itu, alam semesta masih bersedia memberi remisi. Melalui pandemi yang membuat saya tidak lagi bisa kontrol dan konsultasi ke dokter, kondisi saya justru membaik dengan sendirinya – paling tidak saya bisa lepas dari ketergantungan obat, dan merasa kembali hidup normal, meskipun tidak seperti dulu lagi. Seolah tubuh sedang memberi kesempatan kedua, untuk menyadari bahwa kesehatan bukan hal yang bisa diabaikan.

 

Lalu datanglah peristiwa yang tak akan pernah saya lupakan. Seseorang yang hanya beberapa menit saja ketemu di bis kota, tanpa ada percakapan apapun sebelumnya, tiba-tiba memberitahu, tubuh saya sedang sekarat. Hanya itu yang diucapkan sebelum dia bergegas turun, tanpa memberi kesempatan saya bertanya.

Ucapan itu nempel di kepala sampai berhari-hari. Awalnya saya menganggap hanya ocehan orang iseng. Tapi semakin saya renungi, otak saya mulai menganggap kalimat itu sebagai pesan dari semesta yang disampaikan melalui mulut orang asing.

Saya punya satu harapan sederhana namun mendalam: menyelesaikan perjalanan hidup dengan baik, tanpa drama medis. Saya pengin seperti dokter Adam, sepanjang perjalanan pulang dari jogging masih bercanda. Setiba di rumah, istirahat, duduk di kursi, menunggu sarapan,  dan masih sempat kirim pesan melalui WA, “Dengarkan tubuhmu.” Ketika beberapa menit kemudian makan pagi siap, ternyata beliau telah pergi. Saya kehilangan seorang penyelamat, tapi meninggalkan pesan yang lebih berharga dari obat apa pun.

Saya baca kembali pesan terakhir dokter Adam dan mulai percaya bahwa ucapan orang di dalam bis memang peringatan keras dari alam semesta. Kematian bukanlah hal yang menakutkan, tapi ketidaksiapan menghadapinya yang membuat hidup menjadi tragis.

Belakangan saya kembali merasa, tubuh tidak senyaman  sebelumnya. Beberapa kali trigliserida tembus 1000 mg/dL. Kadar asam urat dan kolesterol yang biasanya normal, mulai memanjat. Capek dan pegel-pegel di sekujur tubuh semakin sering tidak tertahankan. Kram mulai rajin datang. Mungkin itu bukan ketukan lagi, melainkan tamparan keras, berharap saya akhirnya mendengar. Tubuh tidak lagi sekadar protes, tapi memberi peringatan.

Pada saat yang sama, mungkin lantaran jengkel saya kembali seenak udel,  dokter memberi teguran keras, “Saya tidak merekayasa diet. Saya hanya menerjemahkan keinginan tubuh Anda. Kalau Anda masih ingin sehat, dengarkan keluhan tubuh dan penuhi keinginannya. Obat hanya membantu meringankan gejala, mengurangi pegel, membantu supaya kerja jantung tidak terlalu berat. Hasil akhir sepenuhnya bergantung kemauan Anda untuk menjaga diri.”

Teguran itu nempel seperti memo di dinding hati saya. Kesehatan bukanlah hadiah yang bisa dibeli dengan uang, tapi investasi yang harus dibayar dengan kesadaran.

Mumpung belum telat dan keburu beneran sekarat, saya memutuskan belajar mendengarkan tubuh. Saya kembali mulai dengan hal kecil - hanya minum teh atau kopi sekali sehari dengan sedikit gula. Lebih banyak minum air putih hangat, dan berhenti makan begitu tubuh berkata “cukup” - tidak perduli perut masih teriak lapar. Olahraga ringan, minimal jalan kaki 60 menit setiap hari. 

Kadang saya masih kambuh berlagak bego, sengaja abai. Kadang  masih tergoda donat dan kopi manis. Tapi sekarang saya berusaha  menunda sebelum  melahap. 

Menunda bukan untuk menolak, tapi memberi waktu bagi akal sehat untuk berbicara. Biasanya berhasil.

Tubuh tak pernah bohong. Dia sudah terlalu lama menjadi pelayan yang setia. Kini saatnya saya memperlakukannya sebagai sahabat yang pantas dihormati - agar tubuh tidak lagi harus berteriak keras hanya untuk didengar.

Saya mulai belajar memahami bahasa tubuh. Misalnya, ngantuk padahal belum larut malam, berarti tubuh butuh istirahat lebih banyak. Tegang di leher dan pundak, tidak lagi semata-mata menimpakan kesalahan pada bantal, tapi mulai menelusuri, apakah ada ketegangan yang tak sempat saya ungkap.

Mual tanpa sebab jelas, bisa jadi karena ada hal yang tak bisa saya “telan” secara emosi. Mungkin ada kebohongan yang saya sembunyikan, atau kebenaran pahit yang saya tolak.

Tubuh tidak hanya bicara soal makanan atau penyakit.  Dia juga menyimpan cerita tentang pikiran yang lelah, hati yang kedinginan, atau semangat yang sedang meredup. Sepertinya, setiap gejala fisik adalah metafora dari kondisi batin yang mungkin tak pernah saya sadari.

Tapi seandainya, semua pemahaman itu tetap tidak mampu menaklukkan nafsu rakus saya terhadap makanan yang seharusnya tidak saya sentuh - seperti sop iga, seafood, atau jeroan, dengan sangat terpaksa saya menggunakan jurus pamungkas, memutar potongan video orang sekarat di ICU. Meskipun hanya adegan film, bukan kejadian sesungguhnya, tapi selalu efektif.

Melalui perjalanan panjang ini saya belajar, bahwa mendengarkan tubuh bukan sekadar  diet dan olahraga. Melainkan memberi penghormatan terhadap diri sendiri. Menepati perjanjian diam antara jiwa dan raga, bahwa kita akan berjalan bersama, bukan saling menyeret.

Hidup bukan tentang berapa lama kita bertahan, tapi seberapa dalam kita benar-benar hidup. Dan untuk hidup dengan kedalaman itu, kita harus belajar mendengarkan teriakan halus yang selama ini kita abaikan.


LABEL: JEJAK WAKTU

08 Agustus 2023

Kesunyian Baru


Setelah badai di dalam diri reda, saya duduk dalam diam yang lain. Bukan diam yang tegang, bukan pula keheningan penuh kecemasan, seperti yang terjadi saat menunggu sesuatu datang.

Ini adalah keheningan yang tidak menuntut. Tidak tergesa. Tidak berambisi menjawab.

Saya seperti berada di sebuah ruang yang lapang. Tidak terang, juga tidak gelap. Tidak penuh, tidak kosong. Rasanya seperti berada di suatu tempat yang sejak lama saya cari, padahal tempat itu tidak pernah jauh. Hanya tertutup suara, tertutup luka, tertutup topeng-topeng yang saya kenakan untuk bertahan.

Keheningan ini tidak hadir dengan gendang atau gemuruh. Dia datang seperti embun. Diam-diam mengendap di sela-sela perasaan yang lelah berlari.

Saya duduk saja di dalamnya. Tanpa target. Tanpa tujuan. Tanpa pertanyaan.

Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, saya tidak sedang mencari sesuatu. Tidak sedang mengejar jawaban. Tidak sedang menghindari rasa sakit. Saya hanya hadir sepenuhnya, seadanya.

Sampai kemudian saya menyadari sesuatu yang mengejutkan: Kesadaran ini adalah rumah.

Bukan rumah sebagai bangunan, bukan tempat untuk lari dari dunia, tapi rumah di ruang batin yang  menampung semua versi tentang saya. Versi yang kuat, yang lemah, yang takut, yang berani, yang penuh luka, yang penuh cinta.

Rumah ini tidak punya dinding. Tapi saya merasa aman.

Rumah ini tidak punya atap. Tapi saya merasa terlindung.

Sebab rumah ini bukan tempat, melainkan kehadiran.

Dan justru ketika saya tidak mencoba jadi siapa-siapa, ketika saya tidak sibuk berusaha menjadi kuat, atau bijak, atau sempurna, di situlah saya merasakan diri saya yang sebenarnya.

Kesadaran ini bukan sesuatu yang datang lewat pikiran. Lebih mirip seperti langit yang membentang, diam, luas, menerima segalanya, tanpa menghakimi.

Kadang suara batin yang riuh masih muncul. Luka lama menyapa. Tapi mereka tidak lagi seperti musuh yang ingin menghancurkan. Mereka datang seperti anak-anak yang pulang ke rumah. Kadang gaduh, kadang ribut, tapi tahu bahwa mereka akan selalu diterima.

Dan saya, yang dulu hanya tahu sibuk mengatur semuanya, sekarang belajar menjadi ruang bagi semua itu. Menjadi langit bagi awan-awan yang berlalu. Menjadi danau bagi riak-riak kecil yang datang dan pergi.

Saya tidak tahu apa yang sedang saya alami, tapi saya tidak lagi asing dengan diri sendiri.

Bagi seseorang yang pernah tersesat terlalu jauh di luar maupun di dalam, adalah berkat yang tak ternilai.

Kesadaran dan keheningan ini, bukan akhir, melainkan rumah awal, tempat di mana langkah-langkah berikutnya akan dimulai. Tanpa tekanan. Tanpa paksaan. Hanya dengan kehadiran yang penuh.

Dan di sinilah saya berada, tidak lebih baik dari siapa-siapa, dan tidak lebih tah. Tapi lebih utuh dan lebih siap.


Pertempuran Batin


Setelah memeluk luka-luka lama dan mengakui kehadiran mereka, saya sempat menganggap perjalanan selanjutnya akan jadi lebih tenang.

Ternyata keliru.

Yang terjadi justru sebaliknya: semakin dalam saya masuk, suasananya semakin gaduh. Bukan karena ada gangguan dari luar, tapi karena bagian-bagian dalam diriku mulai bersuara bersamaan - saling tumpang tindih, saling bertabrakan. Masing-masing mengaku paling benar dan ingin didengar lebih dulu.

Suasananya persis video Youtube yang menayangkan kekacauan di ruang rapat para politisi. Ribut dan tak bisa dikendalikan.

Satu suara berkata, “Kamu sudah tua. Saatnya meninggalkan masa lalu. Lanjutkan hidup. Fokus ke depan.”

Yang lain membalas, “Bagaimana bisa maju kalau luka-luka itu belum benar-benar sembuh? Bukankah kamu hanya menumpuknya di bawah karpet kesibukan?”

Lalu muncul suara baru, “Sudahlah. Tidak usah terlalu dalam. Tidak semua harus dipahami. Hidup ini pendek. Nikmati saja selagi bisa.”

Tiba-tiba suara lama menyela, “Kamu terlalu lamban. Terlalu banyak pertimbangan. Waktu terus berjalan, dan kamu masih di sini-sini saja.”

Sebelum saya sempat merespons satu pun, datang lagi bisikan lain, “Kamu tidak akan pernah cukup. Percayalah, bahkan jika kamu berhasil, tetap akan ada lubang di dalam dirimu yang tidak akan bisa kamu tutup.”

Saya terduduk. Terdiam. Keroyokan batin ini nyata. Tidak seperti perkelahian di luar sana yang bisa dilerai oleh polisi atau dimediasi dengan aturan, pertempuran ini terjadi di ruang sunyi di dalam diri sendiri.

Dan yang paling membingungkan: semua suara itu benar, meskipun tidak sepenuhnya.

Masing-masing membawa kepingan kebenaran, meskipun tidak lengkap. Seolah mereka adalah cermin pecah yang merefleksikan bagian dari diri saya yang tidak pernah utuh. Dan saya berada di tengah-tengah, bingung memilih mana yang harus diikuti.

Saya mulai sadar, ini adalah momen penting dalam perjalanan.

Bukan saat yang menyenangkan, tapi saat yang otentik - ketika semua yang tersembunyi mulai muncul tanpa kendali. Ketika semua versi dari diri saya yang lama, yang pernah saya alami, yang pernah saya cintai atau saya benci, berkumpul sekaligus, meminta perhatian.

Dalam kekacauan itu, perlahan saya belajar untuk tidak memilih yang paling keras, paling pintar, atau paling meyakinkan. Saya belajar untuk mendengar semuanya, tanpa langsung patuh pada siapapun.

Saya belajar menjadi saksi dari perang batin yang ternyata bukan untuk dimenangkan, melainkan hanya untuk dipahami. Sebab setiap bagian dari diri sendiri, bahkan yang paling menyebalkan sekalipun, muncul karena pernah punya peran penting. Entah itu untuk melindungi, untuk bertahan, atau untuk menyembunyikan rasa sakit yang tak tertanggungkan.

Hanya dengan menjadi saksi, saya bisa mulai menemukan satu titik yang tidak ikut ribut. Titik yang diam, hening, tapi terasa kokoh. Mungkin, …. barangkali, saya tidak tahu pasti, titik itu adalah kesadaran sejati. Tidak memihak. Hanya hadir. Tidak menyela, tapi merangkul semuanya sekaligus.

Sejak saat itu, saya tahu, tidak perlu lagi takut mendengar keributan batin. Tidak perlu panik jika ada suara-suara yang saling bertentangan. Mereka semua adalah bagian dari proses menjadi utuh. Dan keributan itu, justru menandakan bahwa saya sudah cukup dalam untuk melihat semuanya.


HOME

01 Agustus 2023

Luka yang Menyamar

Setelah perjumpaan dengan sang pembimbing dalam diri, ada rasa lega yang menggantung. Tapi saya tahu, ini belum akhir. Perjalanan ini bukan tentang mencari damai sesaat, lalu kembali seperti semula. Ini tentang menggali lebih dalam, sampai seluruh akar yang selama ini tersembunyi tersibak satu per satu.

Dan di sinilah babak baru dimulai, perjumpaan dengan luka.

Tapi tidak seperti yang saya bayangkan, luka-luka itu tidak muncul dalam bentuk darah atau tangis. Mereka datang dengan berbagai wajah - Kadang menipu, kadang menggoda, kadang sangat meyakinkan.

Satu malam, dalam keheningan, saya melihat sosok yang selalu mondar-mandir dalam pikiran, seorang pria dewasa yang tampak kuat, tegas, rasional, berdiri dengan tangan bersilang, seperti sedang mengawasi.

“Aku menjaga agar kamu tidak jatuh terlalu dalam,” katanya.

Saya ingin berterima kasih, tapi kemudian saya sadar, dialah yang selama ini membisiki: “Jangan terlalu jujur. Jangan lemah. Lupakan semua yang menyakitkan.”

Dan tiba-tiba segalanya menjadi jelas, dia bukan lagi penjaga, melainkan luka lama yang menyamar sebagai pelindung.

Mungkin berasal dari masa ketika saya diajarkan untuk kuat dan tegar, bahkan ketika sedang hancur di dalam. Mungkin dari momen ketika saya menangis diam-diam karena takut dianggap cengeng. Dia muncul untuk menyelamatkan. Tapi dalam prosesnya, dia juga menutup pintu-pintu penyembuhan.

Lalu muncul sosok lain. Seorang perempuan muda yang sangat cerewet. Dia terus bicara tanpa henti, mengkritik, mengomentari, mempertanyakan semua yang saya lakukan.

“Kamu tidak akan sanggup. Kamu itu terlalu lamban, terlalu banyak mikir. Sudah terlambat. Apa gunanya sekarang?”

Saya sempat ingin marah. Tapi semakin lama saya dengar suaranya, saya mulai mengerti, ini adalah luka yang tumbuh dari rasa tidak dihargai. Dari rasa tidak percaya pada diri sendiri, yang tersimpan begitu lama, hingga ketika kini punya kesempatan, dia bersuara seperti seorang perfeksionis yang sarkastik.

Dan yang paling menyentuh, adalah ketika saya bertemu kembali dengan anak kecil yang pernah saya jumpai di awal perjalanan. Kali ini dia tidak duduk menyendiri, melainkan bangkit perlahan, sambil menatap saya. Matanya penuh air, tapi tidak menangis. Dia hanya menatap, seolah bertanya:

“Apa kamu akhirnya akan mengajakku bicara?”

Jantung saya bergetar. Saya mendekat. Tidak berusaha menguatkannya, tidak juga menasehati. Saya hanya menatap balik dan berkata, “Aku minta maaf sudah lama membiarkanmu sendiri.”

Seketika itu juga, saya merasa lega. Beban lama yang tidak pernah saya sadari akhirnya terlepas. Bukan karena saya menyelesaikannya, melainkan karena mau mengakui.

Saya mulai mengerti. Luka-luka dalam diri tidak ingin diusir, tidak juga dilawan. Mereka hanya ingin diakui. Selama ini, saya mencoba menjadi baik-baik saja tanpa benar-benar mendengar bagian diri sendiri yang hancur. Saya mencoba sembuh dengan melupakan, padahal justru dengan mengingat dan menerima, penyembuhan bisa benar-benar dimulai.

Semua sosok yang datang - penjaga yang dingin, tukang kritik cerewet, hingga anak kecil yang terluka, adalah bagian dari diri saya sendiri. Mereka datang bukan untuk menyiksa, tapi mengingatkan, bahwa untuk menjadi utuh, saya harus memeluk semua bagian. Termasuk yang retak.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, saya tidak berusaha menyelesaikan apa pun. Saya hanya duduk bersama semua luka itu. Tak perlu bicara. Tak perlu sembuh seketika. Cukup ada bersama mereka.

Rasanya, itulah bentuk cinta terdalam. Tidak lagi menolak bagian mana pun dari diri sendiri. Karena di sanalah, proses pulang ke dalam diri benar-benar dimulai. Bukan sebagai versi terbaik dari saya, tapi sebagai saya yang utuh, lengkap dengan cerita, luka, dan harapan yang perlahan tumbuh kembali.


HOME


17 Juli 2023

Ketika Cahaya Tidak Lagi Datang dari Luar

Setelah melewati lorong-lorong gelap yang dipenuhi suara bercabang dan wajah-wajah yang menyamar, saya mulai mencari keheningan yang sejati. Bukan karena ingin berhenti, tapi karena merasa tersesat di antara banyak pilihan. Terlalu banyak pintu, terlalu banyak suara, terlalu banyak godaan untuk menuju ke suatu tempat, padahal entah ke mana.

Maka saya duduk lebih lama dari biasanya. Mencoba hening tanpa harapan, tanpa permintaan, dan tidak lagi menunggu entitas apa pun muncul. Saya hanya duduk, bernafas, dan diam. Mencoba tidak hanyut dalam suasana, sekaligus tidak berniat melawan.

Pada saat saya berhenti mencari, dia datang. Hadir seperti bayangan yang tidak mengganggu, seperti pohon tua yang berdiri di tengah hutan. Hanya diam, tapi penuh wibawa. Saya tidak tahu siapa dia. Meskipun wajahnya tidak jelas, saya merasa aman. Bahkan sebelum dia bicara, tubuh saya lebih dulu mengenalinya.

“Kamu akhirnya berhenti berlari,” katanya. Suaranya seperti gema dari dalam dada, bukan dari telinga. 

Sebelum saya sempat bertanya, siapa dia, firasat saya duluan menjelaskan, dia adalah bagian dari diri sendiri yang sudah lama menunggu.

Menunggu apa?

“Tangan, kaki, mata, telinga, semua organ fisikmu, bahkan otak, sudah dilatih dan dikembangkan sejak kamu kecil. Sementara perangkat di dalam, sampai hari ini masih terabaikan.”

Saya pernah mendengar ada perangkat lain di dalam diri, seperti mata batin, naluri, dan intuisi. Semacam sistem panduan internal yang tidak bersuara keras, tapi tahu arah. Masalahnya, selama ini saya menganggap perangkat itu hanya sebatas kepercayaan di lingkungan tertentu saja. Di samping itu, saya juga tidak pernah diajarkan bagaimana cara melatih dan mengembangkan.

“Aku selalu mencoba memberitahu,” katanya lagi, “ tapi kamu terlalu sibuk dengan duniamu. Terlalu ramai dengan perbandingan, terlalu bising dengan target, terlalu tergesa untuk membuktikan bahwa kamu cukup berarti”

Saya terdiam. Tak membantah. Karena dia benar.

Selama ini saya mengira petunjuk harus datang dari luar, dari buku yang tebal, dari sosok yang lebih pandai, dan lebih bijak. Ternyata, yang saya tunggu-tunggu sudah ada sejak lama di dalam diri sendiri. Karena terlalu sering diabaikan, dia memilih menunggu, sampai saya cukup tenang untuk mendengar dan cukup terbuka untuk menerima.

Tiba-tiba saya teringat Gembul dan Bujel, dua entitas imajiner yang sering muncul dalam ruang batin. Di mana mereka?

“Mereka adalah refleksi dari pikiranmu yang galau. Kesadaranmu merasa kehilangan sesuatu, tapi tidak tahu apa yang hilang, lalu menciptakan mereka.” 

“Sekarang, apa yang harus kulakukan?”

“Hidup bukan lomba adu cepat. Tenangkan dulu pikiranmu. Supaya tidak bingung, tetapkan dulu tujuanmu.”

Hampir saja saya berkata, pengin punya harta 1 Triliun. Niatnya bercanda saja. Tapi segera sata telan kembali. Sepertinya sekarang bukan saatnya gojeg kere macam itu.

“Di situ masalahmu,” katanya pelan tapi tegas. “Kamu tidak tahu kapan bercanda dan kapan saatnya serius.”

“Niatku memang hanya bercanda”

“Kenapa hanya bercanda? Apa salahnya punya satu triliun?”

“WHAT?” Saya ternganga. Antara kaget, bingung, dan geli.

“Satu lagi kesalahanmu ketemu. Kamu terlalu banyak membatasi diri dari berbagai kemungkinan. Itu sebabnya kamu lebih sering gagal.”  

Saya langsung menyanyi dalam hati. Refleks saja. Bukan karena menganggap remeh nasehatnya, melainkan mencegah supaya otak saya tidak travelling ngalor ngidul. 

“Pikiran sadar adalah kemudi yang menentukan arah. Motor penggeraknya adalah bawah sadar. Kalau kamu memberi terlalu banyak batasan, bawah adar hanya akan membuat kamu jalan di tempat.”

“Kan cuma bercanda?”

“Bawah sadar tidak bisa membedakan serius dan candaan. Dia hanya merefleksikan keyakinanmu. Kalau kamu menganggap punya harta satu triliun hanya candaan, sama saja kamu memberi tahu bawah sadar, kamu tidak pantas kaya. Bagi bawah sadar perintahnya sangat tegas dan jelas. Akan direfleksikan persis seperti itu.”

“Bukankah kalau Tuhan menghendaki, segala sesuatu bisa terjadi?”

“Tuhan tidak pernah menghalangi kamu mendapatkan kekayaan,  kesehatan, kebahagiaan, atau apapun yang kamu inginkan. Tinggal kamu bisa apa tidak mendapatkannya. Kalau kamu gagal, bukan berarti Tuhan tidak berkehendak, melainkan kamu tidak mampu mewujudkan keinginanmu. Jangan jadikan Tuhan sebagai dalih menutupi kesalahan dan kegagalanmu.”

“Berarti boleh korupsi atau merampok?”

“Kamu diberi akal dan hati nurani. Gunakan itu.”

Saya benar-benar diam. Saya merasakan sesuatu tumbuh dari dalam. Bukan petuah, bukan nasihat, tapi semacam kelegaan yang datang tanpa sebab. Seperti ada yang membuka jendela dari dalam, membiarkan cahaya kecil masuk. Bukan cahaya yang menyilaukan dari luar, melainkan cahaya yang pelan-pelan menyala dari dalam. Hangat. Tidak mencolok. Tapi cukup membantu saya melihat jalan pertama.

Saya tidak mendapat jawaban lengkap, tapi menerima panduan pertama, berhenti berlari, berhenti berkelit, dan berhenti meremehkan kemampuan diri sendiri.

Sejak hari itu, saya tahu, pembimbing itu bukan makhluk asing dari dimensi lain. Dia bagian dari saya sendiri. Bagian yang sabar menunggu, diam-diam mengamati, dan kini akhirnya bersedia menyapa. Bukan untuk mengatur hidup saya, tapi untuk menemani saya belajar mengenali jalan.



12 Juli 2023

Suara-Suara yang Membelokkan

 Setelah perjumpaan pertama, saya merasa lega. Seperti telah melewati ujian awal dan selamat. Tapi rupanya, itu baru pembukaan. Gelombang sesungguhnya justru datang setelah saya merasa aman.

Perjalanan ke dalam diri tidak selalu dipenuhi bisikan bijak atau pelukan batin yang menyembuhkan. Ada juga masa-masa ketika suara-suara muncul bukan untuk menguatkan, tapi untuk membelokkan arah. Mereka tidak menakutkan. Justru sebaliknya — mereka manis, cerdas, dan sangat meyakinkan.

Saya menyebut mereka sebagai “penyamar.” Mereka tampil dengan wajah teduh dan nada suara menenangkan. Ada yang seperti guru spiritual. Ada yang menyerupai sahabat lama. Bahkan ada yang mirip saya versi yang lebih percaya diri, dan lebih sukses.

“Sudah cukup jauh kau masuk ke dalam,” kata salah satunya, sambil tersenyum. “Sekarang waktunya kembali. Dunia luar menunggu. Bukankah semua ini hanya ilusi?”

Saya sempat terpikat. Benar juga, pikirku. Untuk apa terlalu dalam menyelami luka lama? Mengapa tidak kembali ke dunia nyata dan melanjutkan hidup seperti biasa? Masih banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan.

Tapi semakin saya menurut, sepertinya malah membawa saya semakin jauh melenceng. Hari-hari berlalu penuh kesibukan, tapi seperti sebelumnya, serasa berjalan tanpa arah, seperti menanam benih di tanah gersang.

Lalu malam itu, dalam keheningan yang kupaksakan, saya kembali mendengar suara.

Tapi kali ini bukan lembut, melainkan tajam, penuh cemoohan.

“Apa gunanya semua ini? Kamu pikir dengan duduk diam dan mengamati dirimu sendiri, hidupmu akan berubah?”

“Lihat sekelilingmu. Tidak ada yang peduli. Kamu hanya membuang waktu.”

Suara itu tidak datang dari satu sosok. Dia seperti gema dari tempat yang gelap. Ketika saya mencoba menenangkan diri, suara itu semakin lantang, seperti badai yang menyapu semua keyakinan yang sempat saya bangun.

Dan di sanalah saya menyadari, tidak semua suara yang muncul dari dalam adalah kebenaran.

Firasat saya berkata, sebagian dari mereka adalah ego yang menyamar. Ego yang merasa terusik karena dinding-dinding pertahanannya mulai runtuh. Ego yang terbiasa mengendalikan hidup dari balik layar, kini merasa terancam karena saya mulai melihatnya secara langsung.

Sebagian lagi adalah ketakutan lama yang menyamar sebagai kebijaksanaan. Dia tahu, kalau datang sebagai rasa takut, saya akan melawan. Maka dia menyamar sebagai logika, sebagai nasihat praktis. Tapi motifnya tetap sama: menarik mundur, menjauh dari jalan yang sebenarnya.

Dan ada pula suara yang lebih berbahaya, berupa tipuan yang membelai.

Suara yang berkata, “Kamu sudah lebih dalam dari yang lain. Kamu sudah tercerahkan. Kamu istimewa.”

Suara ini berbahaya karena ia memanjakan. Membuat saya merasa unggul, lebih tahu, bahkan merasa lebih suci. Padahal sebenarnya hanya membangkitkan sisi paling tua dari ego, yaitu keinginan untuk diakui.

Saya nyaris terjebak. Sukurlah, sesuatu di dalam diri - mungkin suara yang paling jujur, berbisik lirih: “Berhenti. Dengarkan. Rasakan dengan jujur.”

Saya duduk diam. Kali ini tanpa mencari pencerahan, tanpa menunggu bisikan. Saya hanya diam. Dan perlahan, semua suara itu mulai pudar. Seperti topeng kertas yang luntur oleh guyuran air hujan.

Hanya tersisa sunyi. Tapi di dalam sunyi itu, saya menemukan kembali jalan yang semestinya.

Perjalanan ke dalam diri bukan hanya tentang menemukan cahaya. Sekaligus juga mengenali cahaya palsu. Membedakan suara jiwa dari gema kebiasaan lama. Kadang suara yang paling keras bukan yang paling benar. Justru yang lembut dan nyaris tak terdengar, itulah yang paling jujur.

Dan ujian sejati dari perjalanan ini bukan hanya berani masuk ke dalam, tapi berani memilah mana yang patut didengar, dan mana yang harus dilepas.

Karena tidak semua yang datang untuk menyapa, layak kita peluk. Ada suara yang cukup kita senyumi, lalu biarkan berlalu.


03 Juli 2023

Perjumpaan Pertama – Wajah-Wajah yang Datang dalam Diam


Malam itu saya duduk terdiam seperti biasa, memandangi gelap dari balik jendela. Tidak ada angin, tidak ada suara. Bahkan waktu pun seperti ikut membeku. Lalu tanpa aba-aba, sesuatu berubah.

Bukan pada dunia di luar, tapi di dalam. Ruang dalam batinku terasa melonggar, seperti ada dinding yang ditarik mundur perlahan, membuka celah menuju ruang lain yang lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih aneh.

Saya tidak sedang bermimpi, tapi juga tidak sepenuhnya terjaga.

Bayangan-bayangan mulai bermunculan. Mereka tidak datang serentak, tapi satu per satu, seperti parade yang tidak terjadwal. Seperti ingatan yang membuka album lama.

Yang pertama datang adalah anak kecil. Tampak lusuh, duduk memeluk lutut di sudut ruangan yang tidak kukenal. Penampakannya mirip seperti saya dulu, kurus, dengan mata cekung. Cukup lama saya mengamati, sampai akhirnya saya sadar, itu saya, yang pernah merasa dilupakan, yang pernah menangis diam-diam di balik pintu, takut dianggap lemah, takut tak diinginkan.

Saya mencoba mendekat, tapi dia menggeleng pelan. Seolah berkata: “Aku belum siap kau ajak bicara. Tapi aku ada di sini.”

Tak lama setelah itu, muncul sosok tinggi dengan mata merah. Tidak berbicara, hanya berdiri tegak dengan tatapan mengintimidasi. Jantung saya berdetak lebih cepat. Saya tahu, semua yang muncul bukan berasal dari luar, melainkan bagian dari diri sendiri. Tapi siapa dia? Mengapa ada makhluk macam itu dalam diri saya? 

Dari sorot matanya, saya mulai menebak, barangkali dia adalah perwujudan dari amarah yang terpendam selama bertahun-tahun. Amarah yang tidak pernah tersalurkan, yang hanya bisa meledak dalam mimpi buruk atau keluhan kecil yang tak terdengar oleh siapapun.

“Kenapa kamu diam saja waktu itu?” suaranya dalam dan pelan.

Pertanyaan itu menghantam seperti palu. Sesaat saya terdiam. Saya tidak mau gegabah memberi reaksi. Di sini saya berhadapan dengan diri sendiri, apapun yang terjadi, secara langsung atau tidak, bakal berdampak terhadap diri sendiri pula. 

“Aku tidak tahu bagian mana yang kamu maksud, tapi baiklah, aku mengaku, sering ingin melawan, tapi memilih menahan.”

Pengakuan itu membuat sorot matanyamenjadi lebih ramah. 

Sepertinya, akan ada banyak pengakuan yang harus saya lakukan.

Satu demi satu sosok lain mulai bermunculan. Ada yang datang seperti bayangan cepat — lewat dan hilang begitu saja. Ada yang menatapku dengan wajah bijak, seperti guru dari masa lampau. Ada pula yang menampakkan wajah manis, hanya untuk berbisik halus: “Kau tidak akan pernah cukup.” Sosok ini menyebalkan. Saya tahu, ini suara keraguan dan rasa tidak percaya diri yang diam-diam masih bercokol di sela-sela keberanian.

Dan puncaknya, datang rombongan entitas tanpa wajah. Mereka muncul berbaris, saling bertumpuk, tubuh mereka kabur, tanpa bentuk yang jelas. Tapi energi mereka kuat, seperti badai. Mereka tidak bicara satu per satu — mereka bicara bersamaan.

“Kami adalah pikiran-pikiran yang tidak pernah kamu selesaikan. Ketakutan yang kamu bungkam. Impian yang kamu kubur hidup-hidup. Kamu berani datang ke sini, maka inilah kami, realita yang juga harus kamu temui.”

Saya merasa seperti sedang dikeroyok, bukan dengan pukulan, tapi dengan bayangan dan gema. Saya gemeteran, tapi berusaha tidak lari. Kalaupun lari, mau kemana? Disamping itu, firasat saya berkata, saya tidak sedang diserang. Mereka hanya menyapa.

Perjumpaan ini bukan hukuman dari masa lalu, melainkan undangan untuk berdamai. Karena perdamaian tak akan terjadi tanpa pertemuan, dan pertemuan tidak akan terwujud jika saya terus membisu.

Jadi malam itu, untuk pertama kalinya, saya berkata dalam hati, “Aku mendengar. Mungkin aku belum bisa memeluk kalian satu per satu. Tapi aku tidak akan lari lagi.”

Dan tiba-tiba, ruangan dalam itu mulai meredup. Entitas-entitas itu satu persatu mulai memudar,  seperti kabut pagi yang ditelan cahaya. Hanya tinggal saya sendiri, duduk dalam diam, dengan napas pelan dan jantung kembali tenang.

Tapi sepertinya sesuatu telah berubah. Dunia di dalam diri saya bukan lagi hutan gelap yang menakutkan. Lebih mirip gua tua tempat menyimpan kebenaran yang lama terlupakan.

Perjumpaan pertama baru saja terjadi, dan saya tahu, mereka akan datang lagi, mungkin dengan pesan berbeda. Apapun wajah yang akan mereka tunjukkan, sekarang saya punya keberanian untuk menyapa satu per satu.


26 Juni 2023

Dunia Bawah Sadar – Lautan Sunyi dan Arus Tersembunyi


Setelah melewati gerbang, saya tidak segera tahu ke mana harus melangkah.

Tidak ada peta, apalagi GPS. Tidak ada arah mata angin. Tidak ada siapapun untuk bertanya arah, hanya keheningan yang tebal. Tapi keheningan itu bukanlah kehampaan, lebih mirip laut di malam hari. Gelap, dalam, tapi terasa hidup. Lautan yang tak terlihat dasarnya, namun menggulung pelan dengan arus yang akan membawa ke entah ke mana.

Inilah yang kemudian saya kenali sebagai dunia bawah sadar, tempat semua yang tersembunyi berkumpul.

Saya pernah menyangka, hanya ada pikiran sadar. Pikiran yang mengatur jadwal harian, memutuskan menu makan siang, atau menyusun rencana masa depan. Ternyata, pikran sadar hanya permukaan. Di bawahnya, ada samudera luas yang menyimpan segala hal yang tidak pernah selesai, yang tidak sempat dikatakan, yang disimpan begitu saja tanpa tahu bagaimana cara menghadapinya.

Di sanalah saya melihat potongan-potongan mimpi lama yang terbengkelai, luka masa kecil yang tak pernah sembuh, rasa takut yang tersimpan rapi di balik senyum, dan keinginan-keinginan diam-diam yang selama ini saya sembunyikan, bahkan dari diri sendiri.

Meskipun tidak bernyawa, mereka seperti hidup. Mereka berkelana di bawah sadar, menunggu saatnya tiba untuk naik ke permukaan, melalui mimpi, lewat keputusan yang tidak saya mengerti alasannya, atau lewat emosi yang tiba-tiba meledak tanpa sebab yang jelas.

Di dunia bawah ini, waktu tidak berjalan lurus. Masa lalu bisa hadir seperti sedang terjadi hari ini. Dan masa depan yang belum datang, kadang sudah terasa menggigit dengan bayangan buruk. Saya mulai paham, ternyata banyak kekacauan hidup tidak datang dari dunia luar, melainkan dari arus bawah sadar yang belum saya pahami.

Kadang saya menjumpai sosok samar yang muncul seperti kabut yang bergerak. Tak ada wajah, tapi terasa akrab. Ada perasaan campur aduk, takut, rindu, penasaran. Sepertinya dia adalah bagian dari diri saya yang terpisah entah sejak kapan. Bagian yang pernah marah, kecewa, atau bahkan merasa tidak diinginkan. Dia tidak bicara, tapi saya tahu, dia ingin didengar.

Dan saya mulai tahu, menjelajahi dunia bawah sadar bukan untuk mencari sesuatu yang luar biasa, melainkan untuk mengakui bahwa di dalam diri ini ada banyak bagian yang belum pernah saya temui. Mereka bukan musuh, tapi juga bukan sahabat, seandainya saya terus-menerus mengabaikannya.

Selama perjalanan saya belajar bahwa bawah sadar bekerja secara diam-diam. Menyimpan, merekam, bahkan mengambil alih saat pikiran sadar istirahat, lelah atau lengah. Bawah sadar tidak berpikir dengan logika, tapi dengan asumsi, emosi, dan simbol. Bawah sadar bisa muncul dalam bentuk mimpi aneh, sensasi tubuh, atau perasaan yang sulit dijelaskan.

Dan karena itu pula, saya merasa, dunia bawah sadar adalah wilayah yang rawan. Jika saya tidak siap, saya bisa tersesat di dalamnya. Tapi jika saya berani, saya bisa menemukan kunci untuk memahami diri sendiri yang sebenarnya - bukan versi yang secara sengaja saya tunjukkan ke dunia, tapi versi yang tanpa sengaja tersimpan diam-diam, dengan segala luka, harapan, dan cahaya yang belum sempat bersinar.

Perjalanan ini masih jauh dari selesai. Saya baru selangkah menapakkan kaki, tapi saya mulai tahu, semakin jauh saya melangkah, saya akan menjadi semakin paham mengapa saya punya perasaan tertentu, mengapa dalam hidup saya seperti diarahkan melewati jalan-jalan tertentu, dan mengapa saya kadang tersandung pada pola yang sama, berulang kali.

Dan mungkin, jika cukup sabar dan jujur, saya bisa bertemu dengan satu demi satu entitas yang selama ini hidup di dasar pikiran yang sunyi. 


26 Mei 2023

Pasukan Elite Penjaga Rumah

Di rumah saya, halaman lebih dari sekadar tempat nyapu pagi, parkir motor, atau menjemur kasur. Halaman itu lebih mirip arena pertunjukan. Tempat para kucing guling-guling, dan kadang jadi arena tawuran dadakan.

Kenalan dulu dengan pasukan berbulu kami:

1. Uyong: Preman Lokal yang manja:
Dia kucing jantan. Badannya bongsor, berotot dan hobby berantem. Pernah saya bangun jam 3 pagi karena suara "MEOOOWWW!" panjang dan serak, ternyata Uyong lagi sparring sama kucing asing di atap rumah tetangga. Dia pulang dengan tampang bangga walau badan sedikit luka.

Tapi ada satu yang bikin saya heran: kalau ketemu istri saya, Uyong mendadak jadi Hello Kitty. Suara jadi lembut, gesek-gesek di kaki, lalu guling-guling. Kadang saya mikir, ini kucing apa aktor sinetron?


Hobby Maksa Tidur di Pangkuan

2. Ten, Si Unyu yang Lebih Suka Guling-Guling:
Ten jantan juga, tapi kebalikan total dari Uyong. Anteng, pendiam, dan sering tampak merenung, seolah memikirkan kehidupan. Tapi kenyataannya dia cuma nunggu kaki saya diam biar bisa jadi arena guling-guling manja. Tidak ada ambisi jadi preman. Kalau Uyong ribut di luar, Ten biasanya cuma melongok sebentar, lalu lanjut tidur.

Dia cocok jadi bintang iklan makanan kucing yang menenangkan. Atau jadi teman curhat saat saya stres mikir pajak, karena dia selalu ada—di dekat kaki.


3. Bubu, Emak Bijak yang Datang Saat Dunia Tidak Ramah:
Diberi nama Bubu karena berbulu abu-abu cantik. Dulu dia bukan kucing liar, dibuang saat hamil. Datang ke rumah dalam keadaan perut gede dan tatapan lapar. Kami beri makan, dia datang lagi, dan lagi. Sampai akhirnya lahiran di rumah. Sejak itu, dia menetap dan naik jabatan jadi Ibu Negara.


4. Noni, Kucing Kampung, Galak Sejak Lahir
Noni beda lagi. Kucing betina ini waktu masih kecil dan unyu, dibuang di rumah sebelah yang kebetulan tidak berpenghuni. Sekarang sudah cantik, gemuk, dan agak suka berantem. Dia kucing kampung yang sudah kenyang hidup di jalan, jadi begitu ada kucing luar nekad masuk halaman, langsung disikat. Dia sangat loyal pada Uyong. Kalau Uyong mulai berantem, Noni langsung ikut nimbrung. Mereka duet maut yang bikin kucing tetangga trauma mendekat.


Kucing Pendatang Adalah Target Bersama

Kadang ada kucing lain lewat. Baru muncul hidungnya di pagar, Uyong udah berdiri. Noni pasang mode waspada. Saya cuma sempat bilang, “Jangan—” eh, mereka sudah keburu tawuran. Biasanya berakhir dengan kucing pendatang kabur lompat pagar dan Uyong pulang dengan langkah slow-mo. Sementara Noni langsung duduk dan nyisir bulunya macam habis menyelesaikan misi rahasia.


Pasangan Tikang Berantem Noni dan Uyong

Walaupun penuh drama, tawuran, dan bulu beterbangan, hari-hari kami tak pernah sepi. Kadang saya kesel karena kursi dan jok motor penuh cakar, tapi rasanya aneh kalau rumah ini tidak ada Uyong yang guling-guling ke istri, Ten yang nempel kayak stiker, atau Noni yang patroli.

Rumah ini mungkin bukan istana. Tapi buat mereka, ini wilayah kekuasaan—dan buat kami, ini rumah yang selalu hangat dan penuh cerita.


Related Post:
1. 
Foto Keluarga
2. Cerita Pedagang Jamu Kopdar Fotografi

01 Mei 2023

50 Hitungan Menyambut Pagi


Pagi adalah batas antara mimpi dan kesadaran. Di situlah, dalam ruang transisi yang rapuh, kita berdiri di ambang hari baru. Tapi sering kali, kita melompat terburu-buru ke dalam aktivitas tanpa memberi kesempatan pada diri sendiri untuk benar-benar bangun.

Dulu, saya mengira bangun tidur itu ya bangun saja. Buka mata, duduk, berdiri, jalan. Tapi ternyata tubuh dan pikiran tidak selalu bangun bersamaan. Ada kalanya mata sudah terbuka, tapi jiwa masih tertinggal di mimpi semalam.

Suatu saat dokter memberi saran, sederhana namun mendalam: jangan langsung bangkit dari kasur. Hitung sampai lima puluh. Biarkan tubuh dan pikiran beradaptasi secara perlahan. Dan yang lebih penting, jaga pikiran tetap tenang. Jangan bereaksi terhadap apa pun yang muncul di kepala.

Awalnya, saran itu terasa absurd. Lima puluh hitungan itu lumayan lama. Cukup untuk membuat saya ngantuk lagi. Sementara di dalam kepala langsung terjadi keributan. Otak riuh seperti pasar pagi. Gaduh, sibuk, dan penuh suara-suara tak diundang. Ada yang menawarkan cemas, ada yang membawa takut, ada pula yang menyeret-nyeret masa lalu sambil menunjuk-nunjuk masa depan.

Bukankah waktu pagi begitu berharga? Kenapa harus dihabiskan untuk diam dan menghitung?

Kadang saya berhasil menghitung sampai lima puluh. Kadang baru sampai dua belas sudah lupa arah, [L1] atau malah ketiduran lagi. Tapi, justru karena sering gagal, saya jadi tahu bahwa pagi adalah waktu yang paling jujur. Saya bisa melihat, siapa yang pertama kali menyambut: rasa syukur atau takut? Rasa damai atau daftar pekerjaan yang belum selesai?

Apa yang pertama kali saya pikirkan setelah bangun, sangat berpengaruh terhadap aktifitas selanjutnya. Seperti benih yang ditanam, bisa tumbuh menjadi pohon damai, atau semak belukar kecemasan.

Saya pernah terlalu semangat. Bangkit seperti tentara kesiangan—tanpa hitungan, tanpa jeda. Baru lima langkah dari tempat tidur, badan limbung, dunia berputar. Rupanya, bangun itu tidak cukup hanya fisik. Jiwa juga perlu dibangunkan perlahan.

Saat rasa ingin tahu, mengapa harus berhitung, memuncak dan tak kunjung mendapat penjelasan, mendadak Gembul – teman imajiner saya, muncul. Seperti biasa, sosok yang saya beri wujud kucing itu nibrung begitu saja dengan jawaban konyol. Menurutnya, hitungan sampai 50 itu untuk memberi kesempatan semua nyawa yang semalam keluyuran kembali ngumpul.

Lah, bukankah yang punya nyawa banyak cuma kucing? Itu pun kalau belum habis ditabrak motor.

“Ya kamu juga punya. Cuma nggak sadar. Tiap sisi dirimu punya kehidupannya sendiri.” jawabnya sambil menguap.
Lalu datang Bujel, si teman imajiner satu lagi, ikut nimbrung, “Omongan gulungan benang kusut, kenapa kamu dengar?”

Seperti biasa, mereka langsung ribut. Tawuran. Tapi saya biarkan. Kadang justru dari keributan mereka, saya dapat petunjuk yang tak saya duga.

Lama-lama saya mulai paham, saran dokter bukan sekadar berkaitan dengan alasan medis, melainkan petunjuk, supaya saya tidak terjebak dalam ledakan pikiran pertama di pagi hari, saat – seperti kata Gembul, “semua nyawa belum ngumpul, dan pikiran belum sepenuhnya siap menghadapi realitas.

Karena pikiran-pikiran yang muncul sangat berisik, tapi sering kali tidak akurat. 

Rupanya, jeda singkat antara mulai melek dan bangkit dari kasur, mirip seperti “ruang suci”. Semacam pos jaga, tempat saya bisa sekilas mengamati isi kepala tanpa harus percaya semuanya. Tempat saya bisa memilih mana pikiran yang pantas dibawa berjalan, dan mana yang cukup dibiarkan menguap pergi. Sebagai persiapan menyambut pagi dengan tenang.

Seingat saya, setiap kali berhasil melewati lima puluh hitungan dengan tenang, hari terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena saya tidak lagi terombang-ambing oleh sesuatu yang tidak jelas.

Pagi bukan sekadar waktu dalam sehari, melainkan kesempatan untuk memulai hari dengan kesadaran, bukan dengan reaksi. Untuk memilih arah, bukan terbawa arus. Dan untuk menjadi tuan dari pikiran sendiri, bukan budak dari kebiasaan yang terburu-buru.


 LABEL: JEJAK WAKTU


24 April 2023

Resiko Yang Terabaikan

 


Seorang senior yang hidup mapan pernah memberi nasihat pedas: "Masalah finansialmu hari ini adalah bayaran atas kesantaimu di masa lalu." Kalimat itu menggumpal di tenggorokan, sulit ditelan tapi terasa benar.

Saya pernah merasa hebat lantaran berani ninggal pekerjaan dengan penghasilan bagus di tempat jauh sana, memilih pulang ke Jogja, kembali wirausaha santai, dengan alasan yang bagi kebanyakan orang terasa konyol: Saya ingin punya lebih banyak waktu bersama keluarga (dan memang itu yang terjadi). Konsekuensinya, kehidupan finansial saya hanya sedikit di atas cukup. Senior saya menyebut itu sebagai kriminalitas terhadap masa depan diri sendiri.

Sekarang harus saya akui, menjadi lansia, apalagi dengan sejumlah gangguan kesehatan, butuh bekal finansial tidak sedikit. Untuk keperluan diet saja, menunya tidak murah. Memang ada BPJS, tapi mondar-mandir ke rumah-sakit juga harus keluar duit.

Anak saya hanya satu, sibuk menata hari depannya sendiri. Kalau setiap saat saya recoki untuk menemani ke rumah-sakit, sama saja saya mengacaukan rencana masa depannya. Ini bukan tentang bakti anak, tapi memang saya merasa perlu mikir sampai sejauh itu. Bagi saya, anak bukan tabungan hari depan.

Ketika badan terasa semplok di mana-mana, ngantri BPJS tanpa pendamping juga butuh kekuatan mental. Itu sebabnya, banyak teman-teman, yang sebelumnya selalu memuji BPJS, lantaran merasa terbantu saat mertua dan orang tua sakit, ketika dia sendiri mengalami masalah kesehatan, ogah menggunakan BPJS. Pernah ada teman yang terbiasa mendapat pelayanan VIP, saya tantang menggunakan BPJS saat sakit gigi. Ternyata menyerah ketika nomer antriannya masih jauh.

Saya tidak mengeluh, dan sama sekali tidak menyesali keadaan. Saya terima semua sebagai bagian dari perjalanan hidup. Kalaupun ada yang sedikit nampol, dan kadang membuat saya was-was, adalah  kesalahan saya mengabaikan resiko jangka panjang berkaitan dengan kesehatan. Karena menjadi lansia setelah melewati masalah kesehatan lumayan serius ternyata ngeri-ngeri sedap.

Masa depan memang harus direncanakan. Tidak salah bekerja keras, numpuk tabungan atau membangun passive income untuk mengamankan hari tua – bahkan menurut saya, seharusnya begitu. Asal tidak mengabaikan realita, bahwa hidup penuh kejutan. Keadaan selalu berubah. Terdapat lebih banyak resiko tersembunyi, ketimbang yang bisa diperhitungkan.

Kebanyakan orang hanya ingat untuk mempersiapkan bekal akherat, tapi lupa, ada banyak drama kehidupan bisa terjadi sebelum kematian datang menjemput. Tanpa cukup bekal mental, drama itu bisa menyebabkan saat-saat terakhir menjadi sangat tidak menyenangkan. Mending kalau hanya terjadi satu atau dua hari. Bagaimana seandainya saat-saat terakhir yang dramatis itu berlangsung lama? Bertahun-tahun?

Dulu, saya pikir tubuh ini adalah benteng tak terkalahkan. Rutin olahraga, rajin minum suplemen, tak pernah opname—seolah itu lisensi untuk menghabisi sepiring tongseng berlemak, dengan telor mata sapi dua butir, dan es kopi susu karamel setiap hari. "Self-love," kata saya sambil menyuap jeroan. Ternyata, itu lebih mirip bunuh diri pelan-pelan.

Tubuh manusia memang ajaib. Bisa diam selama bertahun-tahun menimbun kerusakan, lalu tiba-tiba menagih utang sekaligus dengan bunga yang mencekik. Sampai akhirnya hanya bisa dijelaskan menggunakan satu kata saja, “komplikasi”.

Bagi saya, kata itu lebih mirip peringatan terakhir, bahwa saya sudah melewati point of no return. Secara harfiah bisa diartikan, satu kaki di kuburan, satunya di ambang pintu rumah-sakit. Kesembuhan setelah itu, kalaupun ada, tidak lebih dari kesempatan kedua untuk berupaya agar perjalanan menyelesaikan sisa umur tidak tambah runyam, dan kelak bisa berakhir dengan baik.

Saya sempat gamang, tapi beruntung tidak bablas sampai patah semangat. Justru kemudian sadar resiko. Sekalipun secara medis sudah terlanjur kacau, tapi selagi masih bernafas, tidak ada kata terlambat untuk berusaha mendapatkan yang terbaik. Meskipun menurut senior saya, kondisi saya sekarang ibarat gedung yang dibangun di atas tanah jelek, dengan kualitas konstruksi buruk. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain dibongkar.

Gedung bisa dibongkar, dibangun ulang. Sementara saya? Seandainya teknologi kedokteran mampu melakukan renovasi ulang, belum tentu fisik saya mampu menjalani prosesnya. Apalagi ternyata, teknologi kedokteran baru sebatas mampu mempertahankan kondisi pasien supaya tidak menjadi lebih buruk. Itupun sering gagal.

“Kalau ada duit, paling tidak akan membuat kondisimu lebih baik,”

Saya tidak bisa membantah argumennya. Cuma, kadang-kadang, hidup suka main ciluk ba. Muncul dari arah tidak terduga, membawa drama kecil, sambil berteriak, “KEJUTAAAANNNNN.”    

Kemarin sore, setelah beberapa bulan tidak jumpa, saya berkunjung ke rumah senior saya. Dia tinggal di rumah besar yang dijaga satpam pribadi. Di halaman samping yang luas berjejer mobil-mobil mewah. Kamar tidurnya sangat lega. Tapi, di atas ranjang yang elegan, dia hanya tergolek tanpa daya, dengan selang makan menembus hidung. Hanya tersisa tatapan mata dan genggaman tangan sebagai tanda dia masih mengenali saya.

Dalam perjalanan pulang, teman sesama survivor kesehatan berbisik, “Kita tidak gableg duit, entah apa jadinya kalau sampai seperti dia.”

Teman yang lain menjawab ringan, “Tidak akan terjadi. Tidak ada duit akan membuat kita mati duluan.”

Saya tidak tahu, mana yang lebih menakutkan, hidup berkelimpahan tapi tak berdaya di ranjang mewah, atau hidup pas-pasan dengan ancaman kehabisan napas sebelum waktunya. Mungkin bukan soal memilih mana yang lebih baik. Hidup bukan pilihan macam menu di restoran. Sering kali kita hanya punya sepiring kenyataan, dan harus mengunyah apa adanya.

Mulai hari ini saya belajar melihat ke belakang tanpa mengutuk masa lalu, dan menatap ke depan tanpa menggantungkan harapan kosong. Hidup bukan soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita bertahan, belajar, dan tetap berusaha meski tahu akhir ceritanya tetap sama.

Saya tidak tahu berapa sisa umur saya. Tapi saya akan terus merawat tubuh yang sudah mulai rewel ini. Saya ingin terus belajar memahami hidup – bukan untuk jadi bijak, tapi supaya tidak terlalu bodoh lagi.

Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup yang mudah. Tapi Dia memberi kesempatan agar kita bisa tetap tersenyum meski kaki terseok, dan tetap bersyukur meski isi dompet cekak.


LABEL: JEJAK WAKTU

19 April 2023

Afirmasi Bukan Sekedar Ucapan Yang Diulang


Dulu saya pikir kegagalan itu hanya perkara kurang usaha. Kurang semangat. Kurang gigih ketika menghadapi kesulitan. Kalau gagal, mestinya dicoba lagi. Kalau masih gagal, harus tambah usaha. Tambah doa, tambah kopi.

Tapi lama-lama saya mulai melihat realita—kegagalan tetap setia menemani seperti bayangan sendiri. Afirmasi yang saya ucapkan setiap pagi terasa seperti doa yang memantul dari dinding kosong. Ritual tanpa makna, karena jauh di dalam, suara kecil terus berbisik: "Ini semua omong kosong."

Ibu pernah berkata, "Kalau otak dan hati tak selaras, ibarat mobil berjalan dengan roda yang tak sejajar."

Semenjak Sonia menyentil melalui komentarnya, dan teman saya menyinggung soal perasaan istri pasca operasi, saya mulai sadar, selama ini saya terlalu fokus di permukaan. Saya memaksa diri bangun pukul 4 pagi, menghajar rasa malas dengan jadwal ketat, dan membayangkan diri seperti tentara di kamp pelatihan—dengan teriakan instruktur dan hukuman push-up. Sementara hati masih terlelap di balik selimut.

Beda ketika saya mencoba memahami Calculus. Sama sulitnya, tapi saya lakukan dengan sukarela, tanpa ada paksaan. Saya menikmati prosesnya.

Lagi-lagi pikiran saya terseret mundur jauh ke masa lalu, ketika saya berempat dengan teman tersesat di pelosok. Saat itu koneksi internet masih buruk dan baru bisa diakses melalui komputer. Pada akhirnya, ketika mendapati jalan yang semula memang lebih mirip kali kering berakhir di tempat yang sepertinya jarang dilalui orang, sopir gusar dan berkata, “kita tersesat!”,  

Kejadian itu bermula ketika sopir berniat mengambil arah tertentu di persilangan jalan, tapi dengan berbagai pertimbangan yang kami anggap masuk akal, kami memilih arah lain. Begitu terulang sampai beberapa kali.

Hari mulai gelap. Saat saya menyalakan lampu cabin untuk mencari bekal minum, sekilas terlihat, raut muka sopir nampak letih dan jengkel. Saya memutuskan mengambil alih kemudi. Saya tidak pernah membiarkan orang yang lelah dan terganggu emosinya menjadi pemandu perjalanan.

Dengan penerangan lampu yang redup dan sedikit nekad, saya mengemudikan mobil yang belum terlalu tua, menyusuri jalan berbatu dan gelap. Keadaan menjadi semakin menegangkan ketika BBM hanya tersisa seperempat, sementara saya belum tahu berada di mana.

Di jok tengah, dua teman yang mulai panik, bersama sopir yang duduk di sebelah saya, berdoa berulang-ulang dan (niatnya) memberi semangat, supaya saya yakin bisa ketemu jalan yang benar sebelum bensin habis.  

Di saat kritis, menjelang emosi saya meledak, lantaran berisik mendengar doa dan afirmasi yang diucapkan berulang kali, saya teringat nasehat Ibu, kalau pengin berhasil, otak dan hati harus diselaraskan terlebih dahulu.

Masalahnya, bagaimana cara membuat hati suka pada keadaan yang kacau seperti ini?

Tiba-tiba saya teringat cerita tetangga mengenai serunya offroad. Meskipun saat itu tidak gableg mobil, saya kemudian sering berangan-angan, pengin offroad juga. Siapa sangka, mimpi saya di siang bolong puluhan tahun lalu, terkabul, meskipun dalam kondisi beda jauh, antara CJ7 yang dimodifikasi sesuai medan offroad dengan station wagon yang tenaganya ternyata ngos ngosan.

Tapi mengeluh tidak menyelesaikan masalah. Terutama ketika saya sadar, setir mobil ternyata oblak dan di luar mulai tercium bau kanvas terbakar.

Saya hentikan mobil, lalu minta teman-teman berhenti berisik.

“Doa dan afirmasi kamu anggap berisik?”

“TUHAN TIDAK TULI. BERDOA CUKUP SEKALI SAJA!!!”

Bentakan saya membuat ketiganya langsung bungkam.

Setelah suasana menjadi tenang, saya tepuk ringan dashboard di belakang setir sambil berkata, “Yuk kita pulang.” Saya injak pedal kopling, lalu masuk gigi satu …….. Ketika pedal gas diinjak, mesin meraung keras, tapi mobil hanya bergerak lambat.

Saya kurangi tekanan di pedal gas sambil bicara entah pada siapa, “Jogja dekat, kita akan tiba sebelum tengah malam.”

Entah itu bisa dianggap sebagai afirmasi atau sekedar menghibur diri (karena saya tahu, jarak menuju Jogja lebih dari 250km).

Sepanjang perjalanan menuju jalan raya, saya banyak bicara pada mobil, seolah mobil itu kuda kesayangan yang bisa diajak ngobrol. Ketika roda kanan depan terperosok, saya minta maaf sambil mengelus dashboard. Tidak langsung memaksa roda keluar dari lubang, saya memilih memeriksa kondisi lubang.

“Sepertinya mundur lebih gampang. Yuk, mundur dikit!”

Ternyata beneran gampang. Padahal posisi roda dan kondisi lubang sempat membuat saya ragu. Lalu saya tepuk dasboard lagi sambil memuji, “Good boy! Kamu luar biasa.”

Beberapa persimpangan sudah saya lalui. Tetap belum ketahuan, apakah rute yang saya pilih benar atau keliru. Yang membuat sedikit lega, meskipun masih berada di tempat sepi dan belum terlihat tanda bakal ketemu permukiman, jalan yang kami lewati sudah lebih beradab.

Tapi, muncul masalah baru, bau kanvas terbakar tercium semakin menyengat. Sementara lampu indikator BBM mulai berkedip.

Kembali saya tepuk-tepuk dashboard, sambil berkata, “Bertahan sedikit lagi. Kita akan segera sampai di jalan raya, nanti kamu bisa istirahat.” 

Ternyata benar. Setelah berjalan beberapa belas menit dan melewati dua tikungan, kami tiba di jalan aspal.  Berasa keluar dari dunia antah berantah yang sunyi, kembali ke peradaban. Dan seolah nagih janji, mobil beneran minta istirahat. Mogok total.

Salah satu teman mengggerutu, “Lain kali jangan sembarangan bicara.”

Saya tidak membantah, meskipun tidak percaya mogoknya mobil ada kaitannya dengan omongan saya. Tapi dia punya pendapat lain, “Kadang kita asal bicara sekedar buang suntuk, tapi alam semesta punya cara sendiri menanggapi omongan kita.”

Apakah itu berarti obrolan saya dengan mobil di sepanjang perjalanan juga mendapat respon dari alam semesta?

Sesuatu di kepala, tanpa diminta, menjawab, “Mungkin.”

Sepertinya, afirmasi dan doa hanya bekerja ketika kata-kata yang diucapkan menyatu dengan perasaan. Seperti gula yang larut sempurna dalam teh.

Selama ini berulangkali saya berkata, "Ayo berubah." Sementara pada saat bersamaan, bawah sadar diam-diam nyengir, lantaran hati justru ragu. Dalam bahasa Ibu saya, otak dan hati tidak selaras.

Mengubah nasib ternyata bukan semata-mata kerja keras, tapi sekaligus juga kerja batin. Saya harus mulai dari dalam, dari cara saya merasa, memaknai, dan berhubungan dengan diri sendiri. Harus ada keselarasan antara niat sadar dan sinyal batin yang lebih dalam.

Saya mulai menyadari pentingnya mendengar suara yang lebih jernih dari dalam hati —yang kadang hanya muncul saat saya diam dan jujur pada diri sendiri. Sementara jujur itu sendiri tidak selalu enak. Kadang berasa seperti diguyur air es di pagi yang dingin.

Saya belum tahu bagaimana cara menyelaraskan semua ini secara utuh. Tapi saya tahu, langkah pertama bukan di luar—bukan di buku motivasi, bukan di seminar sukses. Langkah pertama harus dimulai dari dalam. Barangkali, itu yang dulu ingin disampaikan Sonia. Dan mungkin, saya baru benar-benar siap mendengarnya sekarang.


LABEL: JEJAK WAKTU