Malam itu saya duduk terdiam seperti biasa, memandangi gelap dari balik jendela. Tidak ada angin, tidak ada suara. Bahkan waktu pun seperti ikut membeku. Lalu tanpa aba-aba, sesuatu berubah.
Bukan pada dunia di luar, tapi di dalam. Ruang dalam batinku terasa melonggar, seperti ada dinding yang ditarik mundur perlahan, membuka celah menuju ruang lain yang lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih aneh.
Saya tidak sedang bermimpi, tapi juga tidak sepenuhnya terjaga.
Bayangan-bayangan mulai bermunculan. Mereka tidak datang serentak, tapi satu per satu, seperti parade yang tidak terjadwal. Seperti ingatan yang membuka album lama.
Yang pertama datang adalah anak kecil. Tampak lusuh, duduk memeluk lutut di sudut ruangan yang tidak kukenal. Penampakannya mirip seperti saya dulu, kurus, dengan mata cekung. Cukup lama saya mengamati, sampai akhirnya saya sadar, itu saya, yang pernah merasa dilupakan, yang pernah menangis diam-diam di balik pintu, takut dianggap lemah, takut tak diinginkan.
Saya mencoba mendekat, tapi dia menggeleng pelan. Seolah berkata: “Aku belum siap kau ajak bicara. Tapi aku ada di sini.”
Tak lama setelah itu, muncul sosok tinggi dengan mata merah. Tidak berbicara, hanya berdiri tegak dengan tatapan mengintimidasi. Jantung saya berdetak lebih cepat. Saya tahu, semua yang muncul bukan berasal dari luar, melainkan bagian dari diri sendiri. Tapi siapa dia? Mengapa ada makhluk macam itu dalam diri saya?
Dari sorot matanya, saya mulai menebak, barangkali dia adalah perwujudan dari amarah yang terpendam selama bertahun-tahun. Amarah yang tidak pernah tersalurkan, yang hanya bisa meledak dalam mimpi buruk atau keluhan kecil yang tak terdengar oleh siapapun.
“Kenapa kamu diam saja waktu itu?” suaranya dalam dan pelan.
Pertanyaan itu menghantam seperti palu. Sesaat saya terdiam. Saya tidak mau gegabah memberi reaksi. Di sini saya berhadapan dengan diri sendiri, apapun yang terjadi, secara langsung atau tidak, bakal berdampak terhadap diri sendiri pula.
“Aku tidak tahu bagian mana yang kamu maksud, tapi baiklah, aku mengaku, sering ingin melawan, tapi memilih menahan.”
Pengakuan itu membuat sorot matanyamenjadi lebih ramah.
Sepertinya, akan ada banyak pengakuan yang harus saya lakukan.
Satu demi satu sosok lain mulai bermunculan. Ada yang datang seperti bayangan cepat — lewat dan hilang begitu saja. Ada yang menatapku dengan wajah bijak, seperti guru dari masa lampau. Ada pula yang menampakkan wajah manis, hanya untuk berbisik halus: “Kau tidak akan pernah cukup.” Sosok ini menyebalkan. Saya tahu, ini suara keraguan dan rasa tidak percaya diri yang diam-diam masih bercokol di sela-sela keberanian.
Dan puncaknya, datang rombongan entitas tanpa wajah. Mereka muncul berbaris, saling bertumpuk, tubuh mereka kabur, tanpa bentuk yang jelas. Tapi energi mereka kuat, seperti badai. Mereka tidak bicara satu per satu — mereka bicara bersamaan.
“Kami adalah pikiran-pikiran yang tidak pernah kamu selesaikan. Ketakutan yang kamu bungkam. Impian yang kamu kubur hidup-hidup. Kamu berani datang ke sini, maka inilah kami, realita yang juga harus kamu temui.”
Saya merasa seperti sedang dikeroyok, bukan dengan pukulan, tapi dengan bayangan dan gema. Saya gemeteran, tapi berusaha tidak lari. Kalaupun lari, mau kemana? Disamping itu, firasat saya berkata, saya tidak sedang diserang. Mereka hanya menyapa.
Perjumpaan ini bukan hukuman dari masa lalu, melainkan undangan untuk berdamai. Karena perdamaian tak akan terjadi tanpa pertemuan, dan pertemuan tidak akan terwujud jika saya terus membisu.
Jadi malam itu, untuk pertama kalinya, saya berkata dalam hati, “Aku mendengar. Mungkin aku belum bisa memeluk kalian satu per satu. Tapi aku tidak akan lari lagi.”
Dan tiba-tiba, ruangan dalam itu mulai meredup. Entitas-entitas itu satu persatu mulai memudar, seperti kabut pagi yang ditelan cahaya. Hanya tinggal saya sendiri, duduk dalam diam, dengan napas pelan dan jantung kembali tenang.
Tapi sepertinya sesuatu telah berubah. Dunia di dalam diri saya bukan lagi hutan gelap yang menakutkan. Lebih mirip gua tua tempat menyimpan kebenaran yang lama terlupakan.
Perjumpaan pertama baru saja terjadi, dan saya tahu, mereka akan datang lagi, mungkin dengan pesan berbeda. Apapun wajah yang akan mereka tunjukkan, sekarang saya punya keberanian untuk menyapa satu per satu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar