12 Juli 2023

Suara-Suara yang Membelokkan

 Setelah perjumpaan pertama, saya merasa lega. Seperti telah melewati ujian awal dan selamat. Tapi rupanya, itu baru pembukaan. Gelombang sesungguhnya justru datang setelah saya merasa aman.

Perjalanan ke dalam diri tidak selalu dipenuhi bisikan bijak atau pelukan batin yang menyembuhkan. Ada juga masa-masa ketika suara-suara muncul bukan untuk menguatkan, tapi untuk membelokkan arah. Mereka tidak menakutkan. Justru sebaliknya — mereka manis, cerdas, dan sangat meyakinkan.

Saya menyebut mereka sebagai “penyamar.” Mereka tampil dengan wajah teduh dan nada suara menenangkan. Ada yang seperti guru spiritual. Ada yang menyerupai sahabat lama. Bahkan ada yang mirip saya versi yang lebih percaya diri, dan lebih sukses.

“Sudah cukup jauh kau masuk ke dalam,” kata salah satunya, sambil tersenyum. “Sekarang waktunya kembali. Dunia luar menunggu. Bukankah semua ini hanya ilusi?”

Saya sempat terpikat. Benar juga, pikirku. Untuk apa terlalu dalam menyelami luka lama? Mengapa tidak kembali ke dunia nyata dan melanjutkan hidup seperti biasa? Masih banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan.

Tapi semakin saya menurut, sepertinya malah membawa saya semakin jauh melenceng. Hari-hari berlalu penuh kesibukan, tapi seperti sebelumnya, serasa berjalan tanpa arah, seperti menanam benih di tanah gersang.

Lalu malam itu, dalam keheningan yang kupaksakan, saya kembali mendengar suara.

Tapi kali ini bukan lembut, melainkan tajam, penuh cemoohan.

“Apa gunanya semua ini? Kamu pikir dengan duduk diam dan mengamati dirimu sendiri, hidupmu akan berubah?”

“Lihat sekelilingmu. Tidak ada yang peduli. Kamu hanya membuang waktu.”

Suara itu tidak datang dari satu sosok. Dia seperti gema dari tempat yang gelap. Ketika saya mencoba menenangkan diri, suara itu semakin lantang, seperti badai yang menyapu semua keyakinan yang sempat saya bangun.

Dan di sanalah saya menyadari, tidak semua suara yang muncul dari dalam adalah kebenaran.

Firasat saya berkata, sebagian dari mereka adalah ego yang menyamar. Ego yang merasa terusik karena dinding-dinding pertahanannya mulai runtuh. Ego yang terbiasa mengendalikan hidup dari balik layar, kini merasa terancam karena saya mulai melihatnya secara langsung.

Sebagian lagi adalah ketakutan lama yang menyamar sebagai kebijaksanaan. Dia tahu, kalau datang sebagai rasa takut, saya akan melawan. Maka dia menyamar sebagai logika, sebagai nasihat praktis. Tapi motifnya tetap sama: menarik mundur, menjauh dari jalan yang sebenarnya.

Dan ada pula suara yang lebih berbahaya, berupa tipuan yang membelai.

Suara yang berkata, “Kamu sudah lebih dalam dari yang lain. Kamu sudah tercerahkan. Kamu istimewa.”

Suara ini berbahaya karena ia memanjakan. Membuat saya merasa unggul, lebih tahu, bahkan merasa lebih suci. Padahal sebenarnya hanya membangkitkan sisi paling tua dari ego, yaitu keinginan untuk diakui.

Saya nyaris terjebak. Sukurlah, sesuatu di dalam diri - mungkin suara yang paling jujur, berbisik lirih: “Berhenti. Dengarkan. Rasakan dengan jujur.”

Saya duduk diam. Kali ini tanpa mencari pencerahan, tanpa menunggu bisikan. Saya hanya diam. Dan perlahan, semua suara itu mulai pudar. Seperti topeng kertas yang luntur oleh guyuran air hujan.

Hanya tersisa sunyi. Tapi di dalam sunyi itu, saya menemukan kembali jalan yang semestinya.

Perjalanan ke dalam diri bukan hanya tentang menemukan cahaya. Sekaligus juga mengenali cahaya palsu. Membedakan suara jiwa dari gema kebiasaan lama. Kadang suara yang paling keras bukan yang paling benar. Justru yang lembut dan nyaris tak terdengar, itulah yang paling jujur.

Dan ujian sejati dari perjalanan ini bukan hanya berani masuk ke dalam, tapi berani memilah mana yang patut didengar, dan mana yang harus dilepas.

Karena tidak semua yang datang untuk menyapa, layak kita peluk. Ada suara yang cukup kita senyumi, lalu biarkan berlalu.


Tidak ada komentar: