28 Agustus 2025

Menyongsong Era Coretax

Bahkan setelah lebih dari 22 tahun memiliki NPWP, urusan pajak tetap tidak pernah sederhana bagi saya. Potensi pelanggaran seringkali bukan karena sengaja tidak patuh, melainkan karena kesalahan data pihak lain. Ini bukan sekadar urusan bisnis, tapi juga terjadi di ranah pajak pribadi.

Setelah saya mengubah sertifikat tanah menjadi versi digital, baru ketahuan bahwa himbauan ikut Program Pengungkapan Sukarela yang saya terima beberapa tahun lalu berasal dari temuan Direktorat Jenderal Pajak terhadap sertifikat tanah milik orang lain yang terdaftar atas nama saya.

Karena merasa semua harta sudah saya laporkan, surat himbauan itu saya abaikan. Apalagi ternyata beberapa teman lain yang tidak memiliki “harta tersembunyi” juga menerima himbauan serupa. Perkiraan saya saat itu, himbauan dikirim ke semua Wajib Pajak peserta Tax Amnesty 2016 sebagai pengingat, barangkali masih ada harta yang nyelip di lemari, lupa belum dilaporkan di SPT tahunan.

Tidak lama lagi, setelah pelaporan SPT tahunan 2025 berakhir dan tanah itu tetap tidak masuk daftar harta saya (karena memang bukan milik saya), saya akan menerima surat dari DJP. Mungkin sekedar minta klarifikasi atau bisa pula langsung ada konsekuensi yang harus saya hadapi. 

Seandainya surat itu beneran datang, jelas akan membuat repot. Saya tidak tahu siapa pemilik sebenarnya. Saya tidak pernah meminjamkan KTP, apalagi  menerima titipan harta. Saya paham benar resikonya. 

Sejauh ini, langkah yang saya siapkan hanya satu: memberikan surat kuasa kepada DJP untuk melakukan tindakan apa pun atas tanah itu. Mau disita atau dilelang, saya tidak peduli. Saya tidak merasa memiliki, jadi tidak ada yang perlu saya pertahankan.

Menghitung pajak tidak sulit. Saya hanya butuh waktu kurang dari dua hari untuk belajar menghitung pajak perusahaan. Angkanya jelas, rumusnya tegas. Yang sering bikin pusing justru proses di belakang hitungan itu. Prosedur, administrasi, sinkronisasi data—itu yang kadang terasa lebih njlimet daripada rumus matematika.

Bagi orang awam, paham aturan pajak pun belum tentu menjamin bisa mengikuti prosedur dengan benar. Salah satu kesalahan klasik yang sampai hari ini masih sering terjadi adalah soal pelaporan harta. Banyak yang mengira cukup menuliskan data aset di SPT, urusan selesai. Padahal tidak sesederhana itu.

Nilai harta harus selaras dengan penghasilan yang dilaporkan. Orang dengan penghasilan netto di bawah Penghasilan Kena Pajak tentu akan diminta klarifikasinya kalau tiba-tiba lapor rumah senilai lebih dari 300 juta tanpa asal-usul yang jelas (misal: hibah atau warisan). Pola yang tidak masuk akal akan menjadi "pintu masuk" bagi pemeriksaan.

Saya tidak punya niat membuat orang takut. Saya hanya ingin berbagi bahwa berurusan dengan pajak tidak selalu semudah “asal jujur pasti aman”. Jujur itu wajib. Tapi memahami aturan jauh lebih wajib.

Saran saya sederhana: mulailah belajar pajak dan melaporkan penghasilan dengan benar sebelum keburu kaya. Jangan menunggu punya banyak aset baru mulai belajar. Terutama karena mulai 2026 nanti, pelaporan SPT akan menggunakan Coretax. Sistem ini akan membuat aktivitas finansial kita benar-benar transparan. Seperti kaca bening tanpa tirai.



Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri MENJADI WAJIB PAJAK

28 Mei 2025

Kenapa Blog Ini Ada?


Meskipun blog-blog yang saya buat hampir seluruhnya berantakan, meskipun tulisan saya hanya seputar  perkara remeh, saya tetep ngotot ngeblog. Ketika blog rusak, tidak bisa diperbaiki (lebih tepatnya saya tidak mampu memperbaiki), ya bikin baru lagi. Pokoknya selagi Blogger dan mbah Gugel tidak ngusir saya, cuek saja.

Tapi sebelum saya lanjut nulis ngalor ngidul, saya ucapkan selamat datang, terimakasih sudah bersedia mampir.

Entah Anda nyasar, mendapat kiriman link dari teman, atau sedanggabut dan klik blog ini tanpa alasan jelas—pokoknya terima kasih.

Jadi, kenapa blog ini ada?

Sederhana saja, karena saya membutuhkan tempat untuk bercerita. Di umur lewat 60 macam saya, sudah sulit bersosialisasi, karena badan sering ogah diajak dolan. Sehingga saya memrelukan media alternatif sekedar untuk menyalurkan kegabutan.   

Kadang otak ini suka usil, apa saja dipikir. Mulai dari “Kenapa tukang bakso baru lewat pas saya sedang makan?” sampai “Kenapa saya suka ingat hal-hal memalukan yang terjadi 30 tahun lalu?” Kalau dipendem semua, lama-lama bisa meledak.

Maka lahirlah blog ini:  yang saya olah supaya lumayan enak dibaca.
Syukur-syukur bisa bikin orang lain yang membaca tersenyum, atau minimal mikir, “Ternyata, bukan cuma aku yang seperti itu.”


Apa yang bisa Anda temukan di sini?

  • Cerita sehari-hari yng biasa aja, tapi disampaikan seolah-olah kejadian dramatis.
  • Hal-hal absurd yang sering terjadi tapi jarang dibahas, macam bingung saat di minimarket atau salah memanggil orang.
  • Curhatan ringan yang level dramanya masih jauh di bawah sinetron tapi cukup untuk diolah sebagai konten.

Dan pastinya,  tidak terlalu serius. Selain memang tidak bisa nulis secara serius,  saya percaya: hidup ini sudah cukup menantang, jangan ditambah nulis yang berat-berat.


Apa yang tidak akan Anda temukan di sini?

  • Motivasi hidup dari orang yang bangun subuh, meditasi, terus jogging 10 km.
    (Saya bisa bangun pagi saja sudah prestasi.)
  • Tips sukses dalam 7 hari - karena selama 60 tahun tidak ada sukses yang bisa saya capai dalam wktu singkat. Bahkan sekarang saya malah harus mengulang dari awal.
  • Curhatan galau.
    (Kecuali tiba-tiba saya punya hobby baru nonton drama Korea terus baper, tapi kemungkinannya kecil. Sejak 2018 seisi rumah tidak pernah nonton TV lagi. Ada TV lama, sengaja tidak dipasang STB)

Kesimpulannya:
Blog ini bukan tempat mencari pencerahan hidup, tapi tempat  mampir dan ngerasa,
“Oh, ternyata hidup orang lain juga nggak jauh beda.”

Kalau Anda suka bacaan ringan, kadang receh dan kadang tidak penting, blog ini semoga cocok.

Terima kasih sudah membaca sampai sini. Jangan lupa mampir lagi. Siapa tahu di postingan selanjutnya membawa banyak manfaat.


****
Cari tahu lebih lanjut: [Mengenai Saya] — [Disclaimer] — [Beranda]


26 Mei 2025

Bertani, Memotret, dan Menikmati Hidup



Ketika masih kinclong

Nama saya Djati Widodo, lahir tahun 1962— "produk jadul" yang kini sudah memenuhi syarat menjadi anggota Posyandu Lansia. Meskipun begitu, saya masih aktif mengelola usaha rental mobil yang saya rintis sejak 2002. Bagi saya, bekerja bukan sekadar mencari materi, melainkan cara untuk menjaga agar pikiran tetap waras dan otak tidak "kopong".

Karena sampai hari ini saya belum pensiun, banyak orang bertanya, kapan saya akan menikmati hasil kerja. Jawaban saya sederhana: Saya sudah menikmatinya sejak awal. Hidup ini terlalu berharga jika harus menunggu pensiun hanya untuk mulai merasa bahagia. Saya memilih untuk bernapas lega dan bersyukur di setiap langkah yang saya ambil.

Sejak 2014, saya dan istri menekuni hidroponik. Namun, pada pertengahan 2022, saya memutuskan berhenti. Bukan karena lelah, tapi karena hati saya tidak tega menjadi jagal kupu-kupu, ulat, dan belalang yang mampir di kebun. Mungkin terdengar absurd, tapi itulah yang saya rasakan, dan ternyata perasaan itu tidak bisa saya abaikan.


sempat  jadi petani tapi malah baper gara-gara ulat

Selain bertani, saya punya beberapa hobi. Yang paling saya tekuni adalah fotografi. Selain menyukai tantangannya, fotografi adalah cara saya mengapresiasi presisi. Terbiasa dengan kamera analog membuat saya belajar bahwa setiap jepretan adalah keputusan penting yang tidak bisa diulang. Kebiasaan cermat dalam memperhitungkan komposisi dan cahaya itu tetap saya bawa hingga kini di era digital—tidak asal menekan tombol shutter.


Menjadi tua bukan halangan untuk menikmati setiap langkah dalam hidup ini. Umur juga bukan alasan untuk berhenti berkarya, terus belajar, dan terus menikmati perjalanan.

Selain cerita tentang hobi dan perjalanan hidup, blog ini juga menjadi saksi saat saya mendampingi istri tercinta dalam perjuangan melawan kanker kolorektal. Bila Anda tertarik untuk membaca, silakan mampir di Galeri KANKER KOLOREKTAL


****
Cari tahu lebih lanjut: [Mengenai Saya] — [Disclaimer] — [Beranda] 



Ngoprek HTML, Browser Ngambek: Drama Blog Saya


Berulang kali terjadi, blog saya tiba-tiba tidak dikenali oleh browser. Awalnya saya cuma bisa bengong, bingung, lalu menyerah. Biasanya langsung bikin blog baru, mulai lagi dari awal.

Tapi sejak saya mulai belajar sedikit tentang HTML, meta tag, dan SEO — entah ada hubungannya atau tidak dengan nasib sial blog-blog saya sebelumnya — blog terakhir saya, DjatiWidodo.My.Id, bertahan cukup lama.

Blog itu aslinya adalah blog pertama yang saya buat tahun 2008, dan langsung mangkrak.  Waktu itu saya ngeblog hanya ikut-ikutan, jadi ya gampang bosan dan akhirnya dibiarkan begitu saja.

Pada 7 Mei 2025, kejadian apes  terulang. Blog saya tiba-tiba tidak bisa dibuka di Chrome. Tapi kali ini, alasannya jelas: Chrome menandai blog saya sebagai laman berbahaya.

Saya sempat panik, tapi kemudian ingat, sebelumnya saya memang sempat "iseng" ngoprek HTML-nya dan mencoba bikin postingan langsung dengan kode HTML. Kemungkinan besar biang keroknya dari situ.

Harus saya akui, pengetahuan saya soal HTML memang masih sangat terbatas. Akibatnya, blog saya dianggap mencurigakan oleh browser.

Saya sudah minta bantuan teman-teman untuk memulihkan blog itu, tapi sampai lebih dari seminggu, Chrome tetap belum bersedia memafkan.

Kebetulan, di akun Blogspot masih ada blog lama "Ojo Lali Ambegan" yang juga terbengkelai. Akhirnya, saya memutuskan untuk boyongan ke blog itu.

Dan inilah, mulai pertengahan Mei 2025, blog ini  hidup kembali. Semoga  bisa bertahan lebih lama.


****
Cari tahu lebih lanjut: [Mengenai Saya] — [Disclaimer] — [Beranda]


14 Februari 2025

Belajar Bersama di Balik Lensa


Hunting foto kali ini terasa lebih istimewa, karena saya melangkah bersama anak semata wayang. Lokasi yang kami pilih pun bukan tempat biasa: Candi Prambanan, saksi bisu perjalanan sejarah, kini menjadi latar cerita kecil keluarga kami.

Di sela-sela batu dan pepohonan, kami sibuk dengan kamera masing-masing. Bukan soal siapa yang lebih hebat, tapi tentang menikmati momen, berbagi pandangan, dan menemukan sudut indah dari cara yang berbeda.

Mungkin inilah salah satu cara sederhana untuk merajut kebersamaan: duduk berdampingan, membidik dunia lewat lensa, lalu belajar melihat kehidupan dari mata anak dan orang tua sekaligus.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

13 Februari 2025

Kalitalang: Menyusuri Jejak Merapi dan Pikiran Sendiri

 

Jalan kecil menuju Kalitalang

Saat kamera saya sedang membidik Merapi, seorang pencari rumput yang kebetulan lewat memberitahu lokasi motret yang lebih dekat gunung dengan pemandangan lebih indah. Setelah saya lihat di map Google, jaraknya hanya kurang dari 9 km dari posisi saya saat itu—sangat dekat dibanding 30-an km yang baru saja saya tempuh. Kebetulan, Merapi sedang cerah.

Tempat itu bernama Kalitalang. Berada di wilayah Klaten, Jawatengah.  Saya nyaris terlambat tiba di sana. Beberapa menit kemudian seluruh badan Merapi diselimuti awan. Tapi saya sempat mengambil beberapa jeretan, meski hasilnya tidak bisa dibilang bagus.

Sejak pertama kali melihat puncak Merapi dari Kalitalang, saya jadi terobsesi. Sejak saat itu, hampir setiap dua atau tiga hari sekali saya berangkat pagi-pagi ke sana. Namun, lebih sering pulang tanpa hasil. Kadang baru jalan beberapa kilometer dari rumah, gunung yang semula terlihat cerah sudah tidak nampak lagi. Sembunyi di balik awan. Tapi lebih sering, saat saya sudah dekat,  bagian puncak yang menjadi target saya, tertutup awan dan tak pernah terlihat lagi sepanjang hari.

Berangkat lebih pagi ternyata tidak menjamin bisa ketemu Merapi dalam keadaan cerah. Ada kalanya sesampai di Kalitalang, kabut masih tebal. Saya menunggu lama, tetap saja gunung tak terlihat. Ironisnya, ketika saya sudah hampir sampai rumah, di kejauhan Merapi malah terlihat cerah. Pernah saya nekad putar balik, tapi cerah itu tidak bertahan lama. Saya baru menempuh beberapa kilometer, Merapi kembali sembunyi.

Suatu pagi, saat sedang menyapu halaman—tanpa niat sedikit pun untuk memotret—tiba-tiba muncul dorongan kuat untuk pergi. Tanpa mandi, tanpa sarapan, bahkan dengan baterai kamera yang baru terisi kurang dari 50%, saya langsung tancap gas ke Kalitalang. Saya tetap nekad menuju Merapi meskipun dari sawah sebelah utara rumah gunungnya sama sekali tidak terlihat, dan saya tetap melanjutkan perjalanan meskipun setelah menempuh lebih dari separo perjalanan, Merapi masih sembunyi.

Sepertinya saya memang diundang. Ketika saya tiba di Kalitalang, Cuaca yang semula redup, berangsur menjadi cerah. Langit dominan biru hanya dengan sedikit awan. Merapi juga terlihat sangat jelas, seolah sedang menunggu saya.

Layaknya bocah nemu mainan baru, saya menjelajahi seluruh penjuru Kalitalang. Motret, duduk bengong, rebahan, sambil menikmati kicau burung. Saat itu Kalitalang masih sepi. Sampai jam 9, ketika perut mulai protes, saya hanya ketemu pencari rumput. Di tempat parkir hanya ada satu motor.

Sejak saat itu saya semakin sering ke Kalitalang. Biasanya berangkat lepas subuh. Kadang mujur, setiba di sana pas Merapi cerah, kadang hanya ketemu kabut. Tapi tujuan saya memang tidak semata-mata untuk motret. Entah kenapa, saya suka berada dekat Merapi, meskipun saya pernah sampai terbirit birit ketika Merapi mendadak erupsi. Padahal, dampak erupsi freatik paling jauh hanya 2 km, sementara jarak dari Kalitalang menuju puncak lebih dari 5 km.

Kalitalang juga pernah menjadi tempat pelarian saya di masa-masa sulit. Selama setahun lebih mendampingi istri menjalani perawatan kanker, saya pernah sampai pada titik suntuk berat. Suatu malam, sepulang dari rumah sakit, pikiran saya kosong. Bingung, tidak tahu harus bagaimana, alih-alih pulang, saya menuju Kalitalang. Jangankan dingin dan gelap, entah nemu nyali di mana, resiko ketemu setanpun saya abaikan. Padahal seandainya waras, jangankan tengah malam, lewat magribpun saya tidak akan berani sendirian di sana.

Saya duduk lumayan lama, nyender di pohon, menghadap Merapi yang terlihat samar di keremangan malam. Beberapa kali sempat terlelap, terbangun dengan jantung berdebar. Anehnya, justru pikiran saya mulai tenang.  Menjelang pagi suasana horornya baru terasa. Perjalanan sejauh 300an meter menuju tempat parkir terasa seperti ekspedisi paling mencekam, padahal tidak terjadi apa-apa selain teror yang diciptakan pikiran saya sendiri.

Kalitalang bagi saya bukan sekadar tempat berburu foto Merapi, tapi juga menjadi ruang hening, tempat saya belajar menunggu, menerima ketidakpastian, dan berdamai dengan diri sendiri. Kadang Merapi terlihat jelas, kadang hanya ada kabut. Sama halnya dengan hidup—ada kalanya terang, ada kalanya samar.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

06 Februari 2025

Berdamai dengan Rasa Kuwatir


Sejak beberapa bulan lalu saya meluangkan sedikit waktu untuk berusaha mengenali diri sendiri. Entah mengapa, saya merasa, kehidupan yang seru ini sebagian disebabkan karena saya tidak mengenali hardware dan software yang melengkapi hidup saya, sehingga saya cenderung asal-asalan dalam “mengoperasikannya”.

Karena tidak tahu harus mulai dari mana, saya awali saja dengan mengamati kondisi fisik yang gampang ngantuk, gampang lelah dan selalu pegel sepanjang hari. Tanpa mengabaikan pengaruh dari kadar Trigliserida, Asam Urat dan Kolesterol dalam darah yang di luar batas normal, saya merasa ada faktor lain yang ikut berperan. 

Secara gampang saya bisa menunjuk faktor psikologis. Tapi bagian mana? Saya sempat menduga, mungkin akibat pikiran yang semrawut. Tapi sepertinya ada yang lebih spesifik.

Setelah perenungan yang panjang, akhirnya saya nemu biangnya: Saya sering merasa kuwatir tanpa alasan jelas, terhadap ketidak pastian, terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk, terhadap resiko gagal.

Rasa kuwatir selalu datang tanpa permisi. Merayap dalam senyap, lalu membisikkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab dengan pasti: Apa yang akan terjadi nanti? Apakah aku cukup baik? Apakah orang-orang akan kecewa? Bagaimana jika semuanya berjalan salah?

Pertanyaan yang sekilas terasa sepele itu ternyata punya kekuatan luar biasa. Bahkan kalau tidak ditangani secara benar, bisa mengacaukan segalanya – termasuk aktifitas di dalam tubuh.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Awalnya saya sempat melawan. Tapi tubuh punya mekanisme pertahanan diri yang kuat terhadap segala bentuk perlawanan, dan justru membuat keadaan menjadi semakin runyam dan menguras energi.

Sebenarnya rasa kuwatir tidak sepenuhnya buruk. Pada dasarnya merupakan alarm alami yang berfungsi sebagai peringatan bahwa ada resiko yang perlu diperhitungkan. Rasa kuwatir terhadap kesehatan mendorong saya untuk lebih perduli pada tubuh. Rasa kuwatir terhadap hubungan sosial membuat saya lebih peka terhadap perasaan orang lain.

Masalah muncul bukan dari rasa kuwatir itu sendiri, melainkan dari cara saya menanggapi. Ketika saya membiarkan rasa kuwatir menguasai pikiran, saat itulah kuwatir berubah dari penasehat menjadi penyandera.

Melawan hanya akan membuat penyandera menjadi lebih agresif. Maka saya memutuskan untuk berdamai. Menganggap rasa kuwatir bukan sebagai musuh, melainkan sebagai bagian dari perjalanan yang perlu didengar, bukan ditakuti.

Ketika otak mulai menyuarakan keraguan, saya berhenti sejenak untuk mengamati keadaan “saat ini”, lalu bertanya pada diri sendiri, apakah yang saya kuwatirkan itu sudah mulai terjadi, atau baru kemungkinan yang akan terjadi ketika saya mengambil langkah tertentu? Cara ini membantu saya membedakan antara ancaman yang nyata dan ilusi yang diciptakan oleh pikiran.

Ternyata saya pernah membuktikan bahwa rasa khawatir bisa ditangani dengan cara yang sehat.

Pandemi COVID-19 awalnya tidak sekadar membuat saya khawatir, tapi benar-benar menjerumuskan ke dalam ketakutan. Media sosial menyajikan berita menakutkan: orang ambruk tiba-tiba di jalan. Video Youtube menayangkan mayat-mayat tergeletak di mana-mana. Sementara pemerintah menetapkan 13 April 2020 sebagai hari bencana nonalam nasional.

Takut dan bingung mendorong otak saya membuat analisa sendiri, “kalau begini caranya, kita tidak mati akibat virus, tapi mati karena ketakutan.”

Di tengah rasa putus asa, sebuah kalimat dari film action yang sedang saya tonton menyentak kesadaran: “I won’t give up without a fight.” Entah kenapa, kalimat itu memantik sejumput semangat. Bukan untuk melawan pemerintah, apalagi virus covid, tapi melawan keadaan yang nyaris membuat saya menyerah.

Saya mulai mencari informasi yang lebih masuk akal. Dari berbagai penjelasan, suara Moh. Indro Cahyono terasa menenangkan. Saya tidak perduli meskipun banyak yang menganggap dia “hanya” dokter hewan yang sok-sokan membahas penyakit manusia. Selain dia memang virolog, penjelasannya tentang virus covid sangat detail, gamblang dan mudah dipahami. Itu lebih dari cukup untuk membuat saya lebih waras dalam menghadapi situasi.

Juni 2021 saya mengalami demam. Orang yang sehari sebelumnya bersama saya, juga mengalami gejala sama, dan langsung masuk karantina. Saya memilih karantina mandiri. Mengisolasi diri dari siapapun, termasuk anak dan istri. Saya tidur di kamar belakang yang terpisah dari rumah utama.

Demam tinggi, mual, sulit menelan, bahkan saat sulit bernafas, saya jalani sendiri.   Makan dan minum diletakkan jauh dari kamar, saya ambil sendiri, tidak perduli badan menggigil. Satu-satunya obat yang saya minum hanya paracetamol. Itupan saya batasi hanya 4 butir – karena saya tahu efek sampingnya terhadap ginjal.

Sekitar 2 minggu saya berjuang sendiri hanya dengan bekal keyakinan, imun tubuh saya akan mampu mengatasi. Bukan tanpa resiko, tapi keputusan itu membuat saya sadar satu hal: kuwatir tidak perlu dilawan dengan pertempuran, melainkan dihadapi dengan pemahaman, keberanian, dan kesediaan untuk berdamai.

Hidup tak akan pernah lepas dari ketidakpastian. Tapi menurut saya, justru di situlah serunya. Selama kita mau belajar berdamai dengan rasa kuwatir, kita bisa tetap melangkah, meski hati kadang masih ragu.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

03 Februari 2025

AI, Asisten pribadi dan Teman Diskusi Yang Tidak Baperan

 

Ada masanya saya puas dengan hasil Googling. Tapi lama-lama, daftar link terasa hambar. Otak saya ingin ngobrol, bukan sekadar disuguhi alamat. Sayangnya, teman-teman saya lebih suka bahas politik, ekonomi, atau agama. Saya ingin yang lain, yang lebih luas, meskipun kadang sedikit nyleneh. Misalnya, apakah alien juga makan micin? Atau, apakah sel kanker bisa diajak kompromi?

Suatu saat, ketika bertanya melalui chrome, saya baru sadar, respon yang saya dapat tidak seperti sebelumnya. Ada ulasan singkat berkaitan dengan topik yang saya tanyakan, dengan judul di bagian atas, “AI Overview.”

Spontan jiwa kepo saya meronta. Lalu, seperti biasa, saya mengajukan pertanyaan semi norak, tanpa perduli apakah Google bakal bisa memahami maksud saya atau tidak. “AI overview itu apa?”. Ternyata muncul penjelasan singkat tapi lengkap.

Pertanyaan selanjutnya gampang ditebak, “Apakah ada aplikasi AI yang beneran gratis? Bukan hanya free 3 hari setelah itu nagih bayaran.”

Jawaban itu kemudian mempertemukan saya dengan Gemini dan ChatGBT. Lalu seperti biasa pula, begitu nemu mainan baru, jiwa kemaruk saya tidak terbendung lagi. Segala macam hal saya tanyakan, mulai dari yang serius sampai yang receh. Saya bahkan sempat bertanya tentang Coretax—meski jawabannya tidak terlalu detail, rupanya memang ada keterbatasan teknis yang membuat AI tidak bisa menjawab semua hal secara mendalam.

Lepas dari segala keterbatasannya, terutama karena saya hanya memakai versi gratisan, saya merasa sudah lebih dari cukup. Dengan sedikit nekat dan banyak ngawur, saya bisa memeras banyak manfaat.

Saya pernah iseng minta dibantu menghitung rasio unsur hara untuk anggur dengan beberapa variabel tertentu. Jawaban yang saya terima membuat saya merasa punya asisten pribadi yang paham betul tentang lmu kimia dan pertanian

Sejak gangguan kesehatan membatasi aktifitas saya di luar rumah, saya merasa seperti terkurung dalam tempurung. Sekarang tempurung itu tetap ada, tapi saya bisa kembali menjelajah ke luar, bahkan nyaris tanpa batas, selain dibatasi oleh kemampuan saya memanfaatkan AI.

Saya rasa, AI bisa menjadi teman ngobrol yang asyik. Sabar, tidak menghakimi, tidak sok pinter, dan paling penting, tidak baperan meskipun saya mengajukan pertanyaan konyol.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

31 Januari 2025

Cara Sederhana untuk Tidak Ambruk


Pertama kali kena gampar pajak tahun 2013, saya marah berkepanjangan. Di saat kondisi finansial pas-pasan, membaca angka 500 juta yang tertulis di surat, membuat saya merasa dikerjain – padahal sebenarnya, kalau mau sedikit cermat membaca, angka yang semula saya anggap sebagai tagihan ternyata hanya selisih omset selama 3 tahun yang diminta klarifikasinya.

Kemarahan kali itu ternyata bukan hanya menyebabkan nalar mampet dan otak kusut, tapi sekaligus nggampar mental. Collateral damagenya luar biasa, sampai dokter yang rutin memantau kesehatan saya memberi saran supaya saya konsultasi ke psikolog.

Uniknya, saya mendapat solusi untuk mengurai otak yang sedang kusut berat justru dari driver rental yang kebetulan saya temui di bandara. Entah kenapa, driver senior ini tiba-tiba mendekat, lalu bertanya, kenapa tampang saya seperti orang kalah judi. Biasanya saya tidak suka ditanya-tanya seperti itu, cuma kali itu, merasa harus menghormati orang yang sudah terlihat lanjut usia, saya basa-basi menjawab, “Mumet digampar pajak

Berhubung penumpang yang dijemput sudah muncul, dia hanya sempat memberi satu saran pendek: Untuk mengatasi stress, saya disarankan merawat tanaman atau binatang.

Barangkali lantaran terlalu suntuk mikir hidup yang semakin ruwet, saran itu kemudian saya turuti.

Di rumah, anak dan istri terbiasa memberi makan kucing-kucing liar. Awalnya saya keberatan. Anggaran makan kucing lebih dari 500 ribu sebulan. Tapi setelah menjalani, saya merasa beban di kepala jadi lebih ringan. Lama-lama saya ikut senang. Bahkan akhirnya  bukan hanya memberi makan, tapi juga rela keluar duit, membayar biaya dokter untuk kucing-kucing yang sakit.

Padahal, gara-gara kesehatan terganggu, penghasilan utama saya jadi mampet. Masih ada rental mobil, tapi saat itu, sekedar untuk nutup biaya perawatan medis saja hasilnya belum memadai. Apalagi ditambah ngopeni anabul liar dan merawat tanaman yang ternyata tidak murah. Tapi perasaan lega dan merasa lebih waras secara mental memberi saya motivasi untuk “hidup kembali.

Meskipun tidak secara langsung membantu menyelesaikan masalah, merawat tanaman dan binatang, bersama aktifitas rutin menulis, membuat saya lebih tahan banting. Tidak gampang emosi dan lebih mudah mengurai masalah.

23 Januari lalu umur saya genap 63 tahun. Sebelumnya saya tidak pernah menganggap ulang-tahun sebagai momen istimewa, kali itu sedikit beda. Sejak melek jam 3 dinihari, pikiran saya terusik oleh kilas balik berbagai kejadian yang pernah saya alami, terutama ketika saya mengalami depresi 10 tahun lalu.

Tidak bisa saya ingkari, tanaman dan kucing punya andil besar menyelamatkan saya dari banyak tekanan mental.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah hanya sekedar sugesti, atau memang beneran ada alasan tertentu?

Seperti biasa, saya ambil kertas dan pena, lalu mulai corat-coret, menuliskan apapun yang membuat saya penasaran.

Setelah beberapa hari, saya mulai mendapat jawabnya.

Merawat makhluk hidup sepertinya menciptakan seragkaian perubahan positif dalam tubuh, pikiran dan perasaan. Paling tidak untuk sesaat mengalihkan dari pikiran negatif dan rasa tidak nyaman.

Gangguan kesehatan yang menjadi serius membuat pikiran gampang terjebak dalam kecemasan. Merawat makhluk hidup memaksa saya sering fokus keluar, harus selalu ingat untuk memberi makan kucing dan menyiram tanaman. Aktifitas ini sepertinya memberi kesempatan otak untuk istirahat sejenak.

Rutinitas merawat menciptakan struktur harian yang sederhana dan mudah dikelola. Melatih otak untuk kembali aktif secara terarah. Di samping itu, melihat tanaman tumbuh subur, dan kucing-kucing gemuk yang lincah membantu melawan perasaan tidak berdaya yang semula sangat dominan.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa solusi seringkali datang dari tempat yang tak terduga. Bukan dari obat mahal atau nasihat motivasi yang bombastis, tetapi dari tindakan sederhana. Memberi tanpa berharap mendapat balasan.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

25 Januari 2025

Menulis: Cara Healing Murah Meriah

 


Awalnya menulis hanya aktifitas iseng, sekadar untuk buang sebel. Sebagai tempat sampah yang paling loyal, menerima segala keluh kesah tanpa pernah protes, tidak menghakimi, dan tidak memungut bayaran.

Dengan menulis saya merasa mindah beban dari kepala ke layar monitor. Tidak menyelesaikan masalah, tapi lumayan membuat kepala sedikit enteng. Mirip buang gas perut. Lega, meski dunia tidak jadi lebih baik.

Ketika sedang ketemu masalah, apalagi kalau datang barengan, otak serasa seperti benang kusut yang baru saja diacak-acak kucing. Ditarik dari ujung mana pun, malah tambah ruwet, dan makin membuat frustrasi. Menulis memaksa saya pelan-pelan mengurai benang itu, mengubah kekacauan pikiran jadi kalimat yang lebih jelas. Setidaknya dengan menulis, saya bisa melihat masalah dengan lebih jernih—daripada terus muter-muter di kepala tanpa ujung pangkal.

Bagian yang menurut saya paling keren, saat menulis saya merasa seperti sedang bicara dengan diri sendiri. Kadang saya nemukan kalimat yang membuat saya manggut-manggut sendiri, seakan-akan kalimat itu ditulis oleh orang lain yang sangat memahami saya. Kadang malah muncul pertanyaan-pertanyaan kritis yang selama ini saya hindari. Dari situ saya sadar, ternyata diri saya bukan cuma satu lapisan. Ada bagian yang cerewet, ada yang pendiam, ada juga yang suka ngeyel. Dan menulis memberi ruang bagi semuanya untuk bersuara, didengarkan dan dipahami.

Lama-lama saya sadar, menulis bukan lagi sekedar cara buang sebel, tapi bisa berubah menjadi semacam cermin. Saat saya sedang sumpek, tulisan menunjukkan bagian mana yang sebenarnya saya takuti. Saat sedang semangat, tulisan merekam energi itu supaya bisa saya baca lagi nanti ketika sedang loyo. Bahkan ketika saya sedang bingung, tulisan seolah menegur dengan jujur: “Kamu sebenarnya maunya apa?”

Meskipun tidak bisa menyelesaikan masalah langsung, tapi menulis bisa memberi saya peta. Kalau hidup ini jalan yang ruwet, menulis adalah coretan kecil di tepi jalan yang bilang: “Hei, kamu tadi lewat sini.” Tidak selalu jelas arah akhirnya ke mana, tapi setidaknya saya tahu sudah berjalan sejauh ini. Dan itu cukup untuk melangkah lagi.

Bagi saya sekarang, menulis jadi semacam P3K untuk pikiran. Membantu menahan “pendarahan” biar pikiran tidak tambah kacau. Murah meriah pula—gak perlu bayar psikolog atau beli tiket healing ke Bali. Tinggal buka laptop, lalu ngetik, untuk memberi sedikit ruang lapang bagi kepala yang sedang kusut.

Pada akhirnya, menulis bukan lagi sekadar hobi. Tapi bisa menjadi semacam ritual harian, sebagai alternatif yang powerful untuk mengurai benang kusut di kepala, bercermin pada diri sendiri, sekaligus menyelipkan canda kecil biar tidak terlalu serius menghadapi hidup.

Menulis tidak membuat saya jadi orang yang lebih baik. Tapi setidaknya, membuat saya lebih sadar akan diri sendiri. Sadar akan kekacauan, ketakutan, dan juga harapan. Di dunia yang terus bergerak cepat, kadang hanya dengan menulis, saya bisa berhenti sejenak, menarik napas, lalu berkata:
“Oke. Aku masih di sini. Masih bisa bicara. Masih punya suara.”


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

22 Januari 2025

Offroad Tanpa GPS: Menyusuri Jalanan Tubuh Sendiri

 


Jengkel berulang kali ditanya, mengapa masih belum pensiun, seolah -olah hidup setelah enam puluh hanya pantas diisi dengan duduk di beranda sambil menunggu matahari terbenam, akhirnya keluar jawaban sedikit sok-sokan: “Aku masih suka tantangan.”

Kalimat yang terdengar perkasa di telinga,  tapi ternyata alam semesta mendengarnya sebagai undangan terbuka. Lalu dengan selera humornya yang tinggi, undangan itu dijawab sebagai hadiah tahun baru, dibungkus dengan nama yang indah: Coretax.

Ketika akses internet bawaan dari sononya seanggun siput depresi, ditambah pula ternyata aplikasi yang digadang-gadang bakal menjadi andalan Direktorat Jenderal Pajak itupun kurang responsif, menyebabkan saya sulit menahan diri.

Di saat jengkel akibat terus terusan mendapat sajian jam pasir jungkir balik di layar monitor, nunggu Coretax tidak kunjung terbuka, saya lebih mudah menahan tidak ngamuk ketimbang mengabaikan godaan donat cokelat yang sejak pagi terlihat terlantar sendiri di meja kantor. Dia bagai oasis di gurun digital. Tanpa perlawanan, donat itu ludes dalam hitungan detik. Rasa manisnya yang menggumpal sejenak menjadi pelindung dari kegeraman yang tak tersampaikan.

Setelah berhasil login, ternyata drama berlanjut. Setiap klik menu, hanya menyajikan layar putih. Bagaikan kanvas kosong yang seolah berkata, “Selamat datang di ketiadaan.”

Setelah donat ludes, tapi jengkelnya tak kunjung pergi, maka segala makanan apapun menjadi korban selanjutnya, sekedar untuk membuat syaraf yang nyaris sekarat sedikit tenang.

Saya tidak ngamuk lantaran tahu, ngumbar emosi hanya akan mendatangkan penyakit. Lucunya, saya malah sembarangan makan, mengabaikan Trigliserida yang tembus 1000 dan asam urat yang nyaris nyenggol angka 10. Padahal, tubuh saya sedang sensitif terhadap makanan. Disamping itu, baru selang beberapa hari saya nulis di blog, tentang bagaimana akhirnya saya sadar bahwa selama ini sangat kelewatan menyiksa tubuh, dan bertekad untuk berubah. Nyatanya, tekad itu luluh lantak oleh sebuah aplikasi yang lemah gemulai.

Akhirnya hukum karma datang. Bukan dengan gemuruh, tapi dengan sakit kepala yang menyiksa. Saya tumbang. Jangankan bergaya sok kuat, menggerakkan kepala sedikit saja bumi berasa horeg, lebih keras dari gempa megathrust.

Ketika keringat dingin mengalir deras, saya mulai ketakutan. Bukan takut mati, justru sebaliknya, takut tidak segera mati, dan hanya mecicil berkelanjutan.

Jadi ketahuan, nyali saya ternyata cuma segitunya.

Tapi, seperti kata pak ustad, semua ada hikmahnya. Saya jadi ngerti biang kerok masalah saya sebenarnya, selain masih agak kedodoran ngatur nyanyian otak, saya sangat kerepotan mengendalikan dorongan primitif saat stres melanda: Aktifitas ngunyah.

Puasa tidak lagi bisa jadi solusi. Lambung saya gampang melintir. Sementara diet bikin repot, karena nyaris segala makanan yang semula aman, sekarang berubah menjadi medan ranjau. Setiap suap selalu membawa resiko.

Saya masih berangan-angan pengin melakukan perjalanan offroad, paling tidak sekali lagi, seperti yang pernah saya lakukan empat puluh tahun lalu. Ternyata terkabul, tapi beda medan. Kali ini offroad di dalam tubuh sendiri. Medannya lebih liar, lebih tidak terduga, dan jauh lebih seru. Setiap detak jantung, setiap sendi yang ngilu, setiap kram di pinggang, adalah tikungan tajam dan jalanan bergelombang yang harus dinavigasi. Tanpa GPS, tanpa peta, bahkan tanpa navigator. Hanya ada naluri dan kepasrahan.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang Coretax, donat, atau bahkan trigliserida, tapi tentang bagaimana saya belajar menerima kenyataan bahwa hidup di umur 60-an memang penuh tikungan tak terduga.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

11 Januari 2025

Baru Sadar Saat Sudah Terlanjur Kacau

 

Ada satu hukum alam yang lucu sekaligus bikin gregetan tentang hidup: Saya baru ngeh kalau selama ini ternyata merusak diri sendiri, ketika semuanya sudah terlanjur acak-acakan. Rasanya persis seperti baru sadar bahwa  yang sejak tadi saya gebuk-gebukin ke meja karena channel TV gak pindah-pindah, ternyata ternyata bukan remote, tapi HP.

Saya, sebagai murid bandel di Sekolah Hidup Sehat, bukan cuma telat lima menit, tapi bertahun-tahun. Tubuh sudah protes, organ sudah kasih sinyal dengan berbagai macam rasa tidak nyaman dan angka lab yang aneh-aneh. Tapi otak saya, yang selama ini sibuk mikir deadline, cuan, pajak dan sop iga bakar, cuma menganggap sebagai kurang vitamin C atau efek kebanyakan ngopi.

Barangkali, lantaran jengkel terlalu lama diabaikan, sekujur tubuh kompakan, demo bareng, membawa saya pada fase "the great paradox of eating". Sekarang, apapun yang masuk ke mulut, termasuk obat, sayuran dan buah segar, yang mestinya memberi manfaat, malah membuat tubuh saya mirip mesin tua yang diberi bensin oplosan—ngedut, berisik, lalu rewel. Makan nasi, salah. Makan sayur dan buah segar, salah juga. Persis ujian pilihan ganda, dengan semua jawaban salah.

Untungnya, di tengah semua kekacauan ini, ada satu hal yang (sepertinya) masih bisa saya kendalikan: pikiran dan perasaan. Walaupun, jujur saja, ngontrolnya susah banget. Kelakuan pikiran dan perasaan persis kucing di rumah: lucu, manis, dan kalem …… kalau lagi tidur. Tapi bisa mendadak jadi ninja, parkour dari lemari ke kulkas tanpa alasan yang jelas.

Tapi akhirnya saya harus mau menerima kenyataan, begini saja sudah cukup, karena hidup tidak pernah janji bakal lurus mulus. Kadang ada belok beloknya juga, ketemu gang sempit, dicegat preman dan polisi tidur.

Lagi pula, terlambat bukan akhir. Masih bisa jalan pelan, belok arah, bahkan berhenti sebentar untuk mampir ……. beli gorengan 😅

Jadi, meskipun telat sadar, saya anggap ini bukan hukuman, melainkan undangan untuk lebih pelan, lebih jujur sama diri sendiri, dan lebih berterima kasih pada tubuh yang sudah bekerja keras walau sering saya cuekin.

Kalau dulu saya pikir hidup itu soal kecepatan dan pencapaian, sekarang saya tahu, hidup lebih mirip warung kopi pinggir jalan. Saya bisa mampir, duduk sebentar, lalu ketawa kecil melihat betapa absurd dan kocaknya perjalanan saya selama ini.

Siapa tahu, dengan cara itu, akhirnya saya bisa belajar menikmati kesadaran itu sendiri.

Lagi pula, terlambat masih jauh lebih baik daripada nggak sadar-sadar, lalu berujung bengong ketika malaikat mendadak muncul, ngajak jalan 😅


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

27 Desember 2024

Melukis Ulang Hidup: Dari Coretan Gelap Menuju Kedamaian

Kata orang, hidup hanya sekali. Tapi bagi saya, hidup bukanlah satu garis lurus yang dilewati sekali dan selesai. Hidup adalah lembaran-lembaran yang berganti setiap hari. Kalau umur saya sekarang 62, artinya saya sudah hidup lebih dari dari 22.600 kali. Sebanyak itu pula saya menggoreskan warna di atas kanvas kehidupan.

Namun, jika saya menengok kembali lukisan-lukisan itu, hasilnya tidak selalu indah. Diantara goresan-goresan yang membanggakan, kenangan manis, pencapaian kecil, momen-momen yang membuat hati berbinar, sebagian tertutup coreng-moreng warna gelap: kecemasan, kebiasaan buruk, keputusan yang terburu-buru, dan rutinitas yang hampa makna.

Sempat sedikit kecewa, tapi kemudian justru bersyukur, karena saya masih bisa melihat dengan jujur betapa berantakannya lukisan hidup saya saat ini. Bersyukur karena tanpa mencari kambing hitam, tanpa ngeles, tanpa menyalahkan masa lalu atau orang lain, hati saya mau diajak kompromi dan terbuka untuk memperbaikinya.

Saya memutuskan untuk kembali melukis. Bukan dengan ambisi menciptakan mahakarya, tapi dengan tekad sederhana, membuat goresan yang lebih tenang, lebih penuh perasaan, dan lebih bermakna. Karena saya tahu, kanvas kehidupan ini suatu hari nanti akan digulung untuk selamanya. Bila saat itu tiba, saya ingin mempersembahkan lukisan yang indah kepada alam semesta.

Setelah bertahun-tahun mencoba memperbaiki hidup dengan semangat menggebu, ritual rumit, atau mengejar solusi instan, saya akhirnya sadar, perubahan yang tahan lama tidak dimulai dari tindakan besar. Dia lahir dari hal-hal kecil, yang dilakukan dengan kesadaran dan sepenuh hati.

Tak ada yang melarang saya berangan-angan menciptakan karya terindah di sisa waktu ini—kecuali saya sendiri. Tapi, karena tidak ada buku panduan cara memulainya, saya mencoba mendengarkan suara hati. Sungguh-sungguh membuka telinga batin, agar tak ada lagi sinyal yang terlewat.

Hasilnya, setiap pagi, sebelum alarm jam setengah empat berbunyi, saya sudah terjaga. Bukan sekedar melek, tapi badan sudah benar-benar bangun. Semua “nyawa” yang semalam kelayaban sudah ngumpul.

Setelah berterimakasih, karena masih diberi kesempatan bernafas, saya mengawali hari dengan aktifitas rutin sederhana, beres-beres rumah. Lepas subuh, saya berangkat menuju lapangan. Jalan kaki tanpa alas di rumput yang masih basah oleh embun.

Awalnya saya berjalan cepat, mengikuti lagu dengan birama 4/4 dari headphone. Sepuluh putaran selesai dalam waktu setengah jam. Cukup membuat badan hangat dan otot-otot tidak kaku.

Tapi suatu pagi, saat lagu berganti dan langkah saya melambat, saya merasakan sensasi yang berbeda. Sentuhan rumput yang basah terasa lebih dingin di kaki, tapi menyegarkan, dan membuat tubuh terasa lebih ringan.

Saya mulai menikmatinya. Saya ganti lagu berirama riang dengan musik instrumentalia yang lebut diselingi kicau burung dan gemericik air. Saya berjalan lebih lambat, santai, dan tidak lagi menetapkan target aerobik. Tidak peduli ketika ada yang menganggap saya kurang. Tidak pula perduli durasinya menjadi lebih lama dua kali lipat. Satu-satunya yang masih saya perhatikan hanya detak jantung, sesuai pesan dokter, tidak boleh lebih dari 130 bpm.

Ternyata, menapakkan kaki atau jalan di tanah tanpa alas punya nama keren, Grounding. Menghubungkan tubuh secara langsung dengan medan elektromagnetik bumi. Menurut laman Alodokter, Grounding punya banyak manfaat untuk kesehatan. Diantaranya, meningkatkan imun tubuh, mengurangi peradangan dan menurunkan tekanan darah.

Saya tidak punya alasan untuk meragukannya, tapi bagi saya, sensasi selama berjalan itulah yang paling terasa nyata. Manfaat yang lain, seandainya terjadi, anggap saja bonus.

Barangkali, santai dan tanpa target justru membuat tubuh saya menjadi selaras dengan bumi, membuat pegel-pegel berkurang lumayan signifikan. Sementara dalam beberapa kali pengukuran pada kesempatan berbeda, tekanan darah saya anteng di 90/130 – dari biasanya di kisaran 95/160. Nafas juga menjadi lebih panjang.

Sebelumnya, otak saya mirip monyet liar. Lompat sana-sini, berpindah dari satu kecemasan ke kecemasan lain. Sekarang lebih tenang. Sapuan kuas di kanvas menorehkan warna yang cerah. Meskipun masih abstrak, tapi goresannya mulai teratur.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi kesempatan yang masih tersisa. Tapi saya tidak ingin mengisi kanvas kehidupan saya dengan coretan gelap lagi. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu spektakuler.  Saya ingin setiap hari jadi goresan yang lebih tenang, lebih penuh rasa, dan lebih bermakna.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU