Menjelang Tax Amnesty 2016 berakhir, ada teman tergopoh
gopoh menemui saya. Wajahnya tampak gelisah, seperti sedang dikejar waktu.
Meskipun saya bukan konsultan pajak—dan sejujurnya pengetahuan pajak saya juga
pas-pasan—tapi selama musim Tax Amnesty berlangsung, memang banyak yang datang
untuk bertanya. Entah kenapa, mereka menganggap saya bisa membantu.
Setelah sedikit memberi penjelasan seperlunya, mereka saya
sarankan bertanya langsung ke petugas di Kantor Pelayanan Pajak. Lebih aman,
lebih jelas, dan tentu saja lebih kredibel ketimbang mendengarkan omongan saya.
Tapi teman yang datang kali itu berbeda. Dia justru lebih
paham pajak. Dia tahu aturan mainnya, tahu celah-celahnya, bahkan tahu
konsekuensi hukumnya. Namun yang dia butuhkan bukan pengetahuan teknis pajak. Dia
mencari jalan keluar dari masalah di luar pajak yang tanpa diduga muncul bersama
Tax Amnesty.
Ada satu unit rumah seharga lebih dari 1,5 M dan satu unit
mobil seharga 400an juta yang terdaftar atas namanya, dibeli tanpa
sepengetahuan istrinya. Masalah menjadi serius karena selama ini dia bekerja
sebagai direktur di perusahaan milik mertua, dan semua belanja besar harus
mendapat persetujuan istrinya.
Gampang ditebak, pasti ada perempuan lain di balik asset
itu. Tanpa basa-basi saya langsung nembak, “Iki mbok wenehna gendakanmu?”
Dengan ekspresi kaget bercampur bingung, orang yang terkenal
alim, dan suami yang selalu terlihat mesra saat bersama istri itu mengangguk
ragu. Gerakannya lambat, seperti orang yang kehilangan kendali atas tubuhnya
sendiri. Akhirnya, dengan suara yang nyaris berbisik, dia mengakui: aset-aset
itu memang dalam kuasa perempuan lain yang selama ini diakui sebagai "anak
asuh".
Anak asuh. Label yang nyaman dan tidak akan menimbulkan
kecurigaan di lingkungan sosial yang religius. Tapi di balik label itu,
tersembunyi drama korea yang dibangun di atas kebohongan berlapis.
“Terus masalahnya apa?” Saya berlagak bego.
Ancaman di Balik Tax Amnesty
Tentu saja ini masalah besar. Masalah yang bisa menghancurkan rumah tangga dalam sekejap. Istrinya bukan tipe emak-emak sen kiri belok kanan yang tidak paham urusan keuangan dan pajak.
Saya pernah
beberapa kali ketemu, orangnya terlihat cerdas, teliti, dan sangat
memperhatikan detail. Kalau sampai tahu ada aset miliaran rupiah dibeli tanpa
persetujuannya, dia tidak butuh waktu lama untuk menemukan sumber bau amisnya.
Teman saya kemudian memberi usulan yang menurutnya
"cemerlang". Dengan nada yang mencoba terdengar percaya diri, dia
berkata, "Aku akan bilang istriku, mobil aku titipkan ke rentalmu untuk disewakan. Rumah kamu sewa
untuk kantor."
Beh, gemblung. Dia pikir istrinya bisa segampang itu
dikibuli. Bangunan di lingkungan perumahan, mana bisa dipakai untuk kantor
badan usaha PT? Ada aturan zonasi, IMB harus diubah menjadi IMB komersial. Lagi
pula, seandainya sampai dicurigai, apakah dia pikir saya bisa menghadapi istrinya dengan tenang sambil menyembunyikan kebohongan sebesar itu?
Ketika gagasannya saya tolak, ekspresinya berubah, dari
percaya diri, menjadi putus asa. Dia mulai merengek macam anak kecil minta Kinder
Joy. Bahkan dia berani menantang, akan memberi imbalan berapapun yang saya mau.
Saya terdiam. Bukan karena tergoda oleh tawaran itu, tapi kaget
melihat betapa desperatenya dia. Betapa besar tekanan yang dia rasakan sampai
rela menawarkan apapun demi menutupi kesalahannya.
Parade Masalah Serupa
Ternyata, teman saya bukan satu-satunya yang mengalami
dilema seperti itu. Beberapa hari berselang, dua orang lain datang dengan masalah
yang nyaris serupa. Mereka seperti pasien-pasien yang datang ke dokter dengan
gejala penyakit yang sama: aset tersembunyi yang harus dilaporkan dalam Tax
Amnesty, tapi takut ketahuan pasangan.
Males terus-terusan direcoki masalah-masalah absurd yang
campur aduk, akhirnya saya ajak mereka menemui konsultan pajak betulan. Saya
hubungi konsultan langganan saya, berharap dia bisa memberikan solusi
profesional. Tapi konsultan itu bahkan menolak lebih cepat ketimbang saya.
Pada akhirnya ada yang bersedia membantu. Entah bagaimana
caranya, saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Sejak dulu saya sudah memutuskan, tidak
akan ikut campur urusan rumah-tangga orang.
Belakangan terbukti, keputusan saya ogah terlibat ternyata
tidak salah. Kebohongan teman saya terbongkar. Pagi buta istrinya telepon.
Dengan suara dingin, dia bertanya tentang akal-akalan Tax Amnesty
itu. Ketika saya jawab, tidak tahu, dia tidak terima begitu saja, lalu minta
ketemuan.
Kami bertemu di emperan Indomaret dekat kantor – karena saya
keberatan menempuh jarak jauh ke tempat yag dia pilih. Dia datang sendirian,
duduk di depan saya dengan postur tubuh tegak. Mata elangnya menatap tajam ke mata
saya, seolah berusaha memberi tekanan psikologis. Tatapannya terasa seperti
interogasi. Mencari tanda-tanda kebohongan, mencari celah, dan mencari
kebenaran yang disembunyikan.
Seandainya dulu saya terlibat, saya yakin tatapan itu akan
membuat saya kedodoran. Tatapannya bukan sekadar curiga—itu adalah tatapan
seorang perempuan yang sebenarnya sudah punya jawaban, tapi hanya ingin melihat
apakah saya cukup jujur untuk mengakuinya.
Tapi saat itu, saya bisa tetap santai dan memberi satu
jawaban pamungkas, “Saya tidak tahu.” Yang kemudian membuat pertemuan berakhir bagitu
saja.
Related Post:
1. Pasukan Elite Penjaga Rumah
2. Cerita Pedagang Jamu Kopdar Fotografi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar