22 Agustus 2023

Rahasia Gelap yang Terbongkar Tax Amnesty

 

Menjelang Tax Amnesty 2016 berakhir, ada teman tergopoh gopoh menemui saya. Wajahnya tampak gelisah, seperti sedang dikejar waktu. Meskipun saya bukan konsultan pajak—dan sejujurnya pengetahuan pajak saya juga pas-pasan—tapi selama musim Tax Amnesty berlangsung, memang banyak yang datang untuk bertanya. Entah kenapa, mereka menganggap saya bisa membantu.

Setelah sedikit memberi penjelasan seperlunya, mereka saya sarankan bertanya langsung ke petugas di Kantor Pelayanan Pajak. Lebih aman, lebih jelas, dan tentu saja lebih kredibel ketimbang mendengarkan omongan saya.

Tapi teman yang datang kali itu berbeda. Dia justru lebih paham pajak. Dia tahu aturan mainnya, tahu celah-celahnya, bahkan tahu konsekuensi hukumnya. Namun yang dia butuhkan bukan pengetahuan teknis pajak. Dia mencari jalan keluar dari masalah di luar pajak yang tanpa diduga muncul bersama Tax Amnesty.

Ada satu unit rumah seharga lebih dari 1,5 M dan satu unit mobil seharga 400an juta yang terdaftar atas namanya, dibeli tanpa sepengetahuan istrinya. Masalah menjadi serius karena selama ini dia bekerja sebagai direktur di perusahaan milik mertua, dan semua belanja besar harus mendapat persetujuan istrinya.

Gampang ditebak, pasti ada perempuan lain di balik asset itu. Tanpa basa-basi saya langsung nembak, “Iki mbok wenehna gendakanmu?”

Dengan ekspresi kaget bercampur bingung, orang yang terkenal alim, dan suami yang selalu terlihat mesra saat bersama istri itu mengangguk ragu. Gerakannya lambat, seperti orang yang kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Akhirnya, dengan suara yang nyaris berbisik, dia mengakui: aset-aset itu memang dalam kuasa perempuan lain yang selama ini diakui sebagai "anak asuh".

Anak asuh. Label yang nyaman dan tidak akan menimbulkan kecurigaan di lingkungan sosial yang religius. Tapi di balik label itu, tersembunyi drama korea yang dibangun di atas kebohongan berlapis.

“Terus masalahnya apa?” Saya berlagak bego.

Ancaman di Balik Tax Amnesty

Tentu saja ini masalah besar. Masalah yang bisa menghancurkan rumah tangga dalam sekejap. Istrinya bukan tipe emak-emak sen kiri belok kanan yang tidak paham urusan keuangan dan pajak. 

Saya pernah beberapa kali ketemu, orangnya terlihat cerdas, teliti, dan sangat memperhatikan detail. Kalau sampai tahu ada aset miliaran rupiah dibeli tanpa persetujuannya, dia tidak butuh waktu lama untuk menemukan sumber bau amisnya.

Teman saya kemudian memberi usulan yang menurutnya "cemerlang". Dengan nada yang mencoba terdengar percaya diri, dia berkata, "Aku akan bilang istriku, mobil aku titipkan ke rentalmu untuk disewakan. Rumah kamu sewa untuk kantor."

Beh, gemblung. Dia pikir istrinya bisa segampang itu dikibuli. Bangunan di lingkungan perumahan, mana bisa dipakai untuk kantor badan usaha PT? Ada aturan zonasi, IMB harus diubah menjadi IMB komersial. Lagi pula, seandainya sampai dicurigai, apakah dia pikir saya bisa menghadapi istrinya dengan tenang sambil menyembunyikan kebohongan sebesar itu?

Ketika gagasannya saya tolak, ekspresinya berubah, dari percaya diri, menjadi putus asa. Dia mulai merengek macam anak kecil minta Kinder Joy. Bahkan dia berani menantang, akan memberi imbalan berapapun yang saya mau.

Saya terdiam. Bukan karena tergoda oleh tawaran itu, tapi kaget melihat betapa desperatenya dia. Betapa besar tekanan yang dia rasakan sampai rela menawarkan apapun demi menutupi kesalahannya.

Parade Masalah Serupa

Ternyata, teman saya bukan satu-satunya yang mengalami dilema seperti itu. Beberapa hari berselang, dua orang lain datang dengan masalah yang nyaris serupa. Mereka seperti pasien-pasien yang datang ke dokter dengan gejala penyakit yang sama: aset tersembunyi yang harus dilaporkan dalam Tax Amnesty, tapi takut ketahuan pasangan.

Males terus-terusan direcoki masalah-masalah absurd yang campur aduk, akhirnya saya ajak mereka menemui konsultan pajak betulan. Saya hubungi konsultan langganan saya, berharap dia bisa memberikan solusi profesional. Tapi konsultan itu bahkan menolak lebih cepat ketimbang saya.

Pada akhirnya ada yang bersedia membantu. Entah bagaimana caranya, saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Sejak dulu saya sudah memutuskan, tidak akan ikut campur urusan rumah-tangga orang.

Belakangan terbukti, keputusan saya ogah terlibat ternyata tidak salah. Kebohongan teman saya terbongkar. Pagi buta istrinya telepon. Dengan suara dingin, dia bertanya tentang akal-akalan Tax Amnesty itu. Ketika saya jawab, tidak tahu, dia tidak terima begitu saja, lalu minta ketemuan.

Kami bertemu di emperan Indomaret dekat kantor – karena saya keberatan menempuh jarak jauh ke tempat yag dia pilih. Dia datang sendirian, duduk di depan saya dengan postur tubuh tegak. Mata elangnya menatap tajam ke mata saya, seolah berusaha memberi tekanan psikologis. Tatapannya terasa seperti interogasi. Mencari tanda-tanda kebohongan, mencari celah, dan mencari kebenaran yang disembunyikan.

Seandainya dulu saya terlibat, saya yakin tatapan itu akan membuat saya kedodoran. Tatapannya bukan sekadar curiga—itu adalah tatapan seorang perempuan yang sebenarnya sudah punya jawaban, tapi hanya ingin melihat apakah saya cukup jujur untuk mengakuinya.

Tapi saat itu, saya bisa tetap santai dan memberi satu jawaban pamungkas, “Saya tidak tahu.” Yang kemudian membuat pertemuan berakhir bagitu saja.


Related Post:
1. Pasukan Elite Penjaga Rumah
2. Cerita Pedagang Jamu Kopdar Fotografi

Tidak ada komentar: