30 November 2022

Ketika Teman Terlalu Perhatian

Calon donor darah yang saya siapkan akhirnya batal. Darah untuk transfusi sudah disediakan oleh rumah-sakit. 

Malam sebelumnya, ketika mendengar saya butuh donor, salah satu teman cepat memberi respon, bahkan saat ketemuan sudah mengajak serta 3 orang. “Mereka sehat, tidak kena covid, tidak merokok, dan tentu saja tidak minum, apalagi ngoplo. Kamu harus selektif terhadap calon donor”

Terimakasih ada yang mikir sampai sejauh itu, meskipun saya tidak tahu apakah kebiasaan merokok berpengaruh terhadap kualitas darah.

“Di rumah-sakit mana?” salah satu bertanya

Setelah saya sebut nama rumah-sakitnya, yang lain menyela, “Loh, rumah-sakit itu  menerima pasien BPJS?” 

“Tidak tahu, saya biaya sendiri.”

Tidak nyangka, jawaban itu kemudian membuat suasana jadi tidak nyaman bagi saya.

Seseorang yang sejak awal hanya diam tiba-tiba menyela dengan suara nyaring, “Pak Doel tidak punya BPJS? Waaaahhhhh, bagaimana sih pak. Kalau sudah begini kan jadi repot. Pengobatan kanker itu mahal lho pak.”

Tanpa minta persetujuan, orang itu langsung telepon. Entah siapa yang dihubungi, tapi dari omongan dia dan suara dari seberang sana yang juga bisa saya dengar, dia minta orang itu membantu ngurus BPJS untuk saya.

“Maaf mas,” saya menyela, “Sejak awal ada BPJS, kami sudah terdaftar.”

Orang itu berhenti bicara di telepon, menoleh kearah saya, memandang dengan tatapan yang terasa embuh gitu, sebelum kemudian bertanya, “Kenapa tidak dipakai?”

Perasaan saya mulai tidak enak. Saya tidak suka orang terlalu kepo pada urusan pribadi.    

“Dokternya menyarankan radiasi dulu …….”

Belum selesai saya bicara, keburu dipotong, “Biopsi belum dikerjakan, dokter sudah menyarankan radiasi? Aneh!!!”

Kebiasaan, langsung main tuduh.

Teman saya ikut nibrung, “Sekarang orang sakitpun jadi lahan bisnis.”

“Itu rencana yang ditawarkan dokter seandainya nanti positif. Aku boleh tidak setuju.”

“Akhirnya nanti pasti radiasi!” Yang lain ikut menyela. 

“Kenapa harus radiasi duluan? Biasaya radiasi dikerjakan paling akhir, itupun pasien boleh nolak.”

 “Maaf, sekarang kita bahas darahnya saja.” Saya berusaha mengalihkan pembicaraan.

Tapi ada yang ngeyel, “Memangnya kalau BPJS tidak bisa radiasi duluan?”

“Saya tidak tahu ……”

“Kenapa tidak tanya BPJS?”

Beh, kampret! Saya sampai sesak nafas, menjaga supaya karakter keras saya tidak nyeplos. “Sebentar mas, beri kesempatan saya bicara.”

“Oke, silakan. Saya heran saja, ada yang gratis, malah pilih bayar.”

Tapi mereka tidak kunjung diam, malah seakan berebut saling komentar. Saya diam sampai kemudian teman saya sadar, saya tidak suka.  

“Apakah kamu merasa kualitas pelayanan BPJS kurang bagus?”

“Bukan masalah kualitas …….”

Ada yang nyela lagi, “Bagus lho pak. Ayah saya sudah 2 tahun pakai BPJS.”

“Maaf bapak-bapak, saya tidak punya masalah dengan BPJS, sebaiknya tidak perlu dibahas lagi.”

Supaya tidak membuat saya jadi pengin makan orang, akhirnya saya putuskan batal minta bantuan mereka dengan alasan rumah-sakit sudah menyediakan darahnya. 

“Kenapa kamu tolak? Niat kami baik.”

“Aku tidak suka orang mencapuri urusan pribadiku.”

“Kami cuma tanya, kenapa kamu anggap mencampuri urusan pribadi?”

“Kalau tanya, beri kesempatan aku menjawab.”

“Oke, baik. Aku siap mendengar jawabanmu.”

“Kalau memang benar ada kanker, di rumah- sakit yang sekarang radiasi bisa segera dilakukan. Sementara kalau pakai BPJS, istri temanku dulu harus antri sampai setahun. Aku tidak mau ambil resiko kankernya keburu ke mana-mana seandainya istriku juga harus ngatri lama.”

“Semua kan ada hitungannya. Pasien juga banyak, sementara fasilitasnya terbatas. Kamu terlalu ketakutan.”

“Boleh kan kalau aku memilih tidak ngantri?”

“Tidak ada yang melarang, tapi aneh saja, ada yang gratis, kamu malah milih bayar. Yakin kamu mampu?”

“Mampu atau tidak, urusan belakang. Menurut firasatku, radiasi dulu lebih cocok untuk kondisi istriku sekarang.”

“Kamu pikir radiasi tidak ada resikonya, dan pasti bisa membuat istrimu sembuh?”

“Tidak ada kata sembuh untuk kanker, hanya ada remisi, ngulur umur. Dan setiap terapinya membawa resiko tidak ringan.”

“Nah, itu kamu tahu. Kenapa tidak herbal saja? Tanpa efek samping!”

“Aku sudah mengambil keputusan, tolong jangan direcoki.”

“Oke, meskipun kamu ngeyelan, aku tetap ikhlas jadi donor.”

Gantian saya yang wegah.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL

29 November 2022

Indonesia Bagian Lutju

Sadar bakal butuh biaya banyak, saya hubungi kembali beberapa relasi bisnis yang sudah lama tidak kunjung melunasi hutang mereka. Saya beritahukan kondisi istri saya, dan saya berharap dalam satu bulan ke depan mereka melunasi tunggakan. Ternyata, sampai seminggu kemudian, dari 11 pesan WA yang saya kirim, tidak ada respon sama sekali. Bahkan 2 nomer langsung main blokir.

Spontan saya emosi. Untung segera sadar, marah hanya akan membuat saya bertindak ngawur tanpa perhitungan.

Beberapa tahun lalu ada teman nekad merampas motor gara-gara tagihannya tidak kunjung dibayar. Ujungnya, justru dia berurusan dengan polisi, dituduh melakukan tindak pidana perampasan disertai kekerasan. Akhirnya, tagihan belasan juta amblas begitu saja, diperhitungkan sebagai pengganti biaya pengobatan korban, itupun masih ditambah entah berapa juta lagi.

Di Indonesia, nagih piutang yang nunggak, kepada pribadi apalagi perusahaan, tidak pernah gampang. Tidak jarang saya merasa lebih mirip pengemis minta belas kasihan ketimbang nagih duit sendiri.

Saat mengunjungi rumah salah seorang direktur CV yang mewah dan dijaga 2 satpam (dua lho, total gajinya bisa 7 sampai 8 juta per bulan, sementara tunggakannya cuma 24 jutaan), saya diusir begitu saja oleh satpam, sambil menyampaikan pesan, “Urusan kantor diselesaikan di kantor saja.”  

Bagaimana mau menyelesaikan kalau di kantorpun dia tidak pernah mau ditemui, sementara manajer keuangannya setiap saya tagih selalu ngeles, belum mendapat persetujuan direktur.

Sebelum pulang saya sempat bicara pada satpam, “Asal tahu pak, bosmu utang 24 juta, sudah setahun lebih belum dibayar.” Mereka kaget sesaat, setelah itu meringis. Saya paham. mereka tidak akan percaya. Mana mungkin pemilik rumah mewah dan sederet mobil di halaman parkir punya hutang sekecil itu, tidak dibayar pula. Itulah salah satu sisi lucunya Indonesia.

Kunjungan berikutnya ke rumah seorang kontraktor. Sebelumnya saya menjadi vendor, mensupply berbagai sekrup, lem kayu, dan perlengkapan pertukangan elektronik lain. Pembayaran selalu lancar, kecuali sejak dia mulai main perempuan. Sebenarnya saat itu feeling saya sudah memberi peringatan, tapi saya tidak punya cukup bukti untuk membatalkan kiriman terakhir tanpa resiko dianggap wan prestasi.

Saya ditemui baik-baik, disuguhi makanan kecil dan minum, diajak ngobrol. Ketika saya menyinggung tunggakan, diapun merespon dengan santai. “Mulai bulan depan aku cicil 15 juta per bulan.”

Seandainya beneran dicicil, saya tidak keberatan. Masalahnya, dia pernah janji nyicil 5 jutapun, sampai tahun berganti dua kali, tidak pernah ditepati.

“Aku butuh sekarang, untuk tambahan biaya perawatan istriku.”

“Kalau kamu pakai BPJS kan enggak perlu bingung seperti sekarang.”

Lhah, Kobis! BPJS segala dibawa-bawa.

“Aku nagih tunggakanmu, tidak ada hubungannya dengan BPJS.”

“Jelas adaaaaaa. Pemerintah sudah menyediakan sarana pengobatan gratis, tapi kamu abaikan.”

“Ngene wae, BPJS itu urusanku, kamu bayar saja tunggakanmu sekarang. Sudah 4 tahun.”

“Sabar. Kamu tahu kan, perusahaanku sedang mengalami masalah.  

“Karena hobbymu angon manuk”

Wajahnya berubah tegang. Tersinggung berat. “Aku mau ngapain, bukan urusanmu.” Suaranya meninggi.

Saya balas berteriak,  “Jadi urusanku, karena duitku kamu embat!”

“Oke, oke, oke,” Suaranya kembali lunak, “Kita bicarakan baik-baik. Kita sudah berteman lama, masa iya ribut gara-gara duit kecil?”

“Nah, kamu bisa ngomong cuma kecil. Kenapa molor lama?”

“Sabar bos, sabar ……… minum dulu!”

Tanpa disuruhpun sejak semula saya sudah minum dan ngemil. Terhadap tukang ngeles macam dia, saya mengabaikan tatakrama dan sopan santun. Dudukpun kaki saya angkat di kursi.

“nGene lho bos, istriku sedang sakit ……”

“Istri yang mana?”

Belum sempat dijawab, muncul perempuan muda yang belum pernah saya temui (padahal saya kenal istri dan semua anak-anaknya). Wajahnya kusut, jalan pelan, kelihatan sedang tidak sehat. Dengan suara terbata tapi ketus, minta pengertian saya supaya tidak teriak-teriak. Dia butuh istirahat.

“Tergantung dia, bayar sekarang atau tidak!” Saya tunjuk suaminya – entah suami beneran atau bukan, bodo amat.

Sebelum perempuan itu menjawab, teman saya bicara duluan, “Yang, Yang, kamu di dalam saja, oke? …….” Setelah istrinya masuk, tanpa duduk lagi diapun berkata, “Tahu kan sekarang, aku juga punya pasien?”

Saya jadi punya kesempatan membalas, “Kan bisa pakai BPJS?”

“Istriku tidak tahan ngantri lama …..”

“Tidak mau, bukan tidak tahan. Aleman.”

Teman saya nyaris marah, tapi entah kenapa ditahan, lalu kembali ngajak bicara baik-baik.

“Tolonglah ngerti sedikit …….”

“Terus kapan giliranmu ngerti?”

Tiba-tiba, ada brand new fortuner masuk halaman. Kami di teras, saya bisa melihat apapun yang masuk halaman. Sebelum teman saya berbuat sesuatu, pengendara fortuner sudah meletakkan amplop besar di meja, sambil berkata, “BPKB dan plat nomer kalau sudah jadi mau diantar”

Sayapun nyeletuk, “nGaku gak punya duit tapi beli fortuner, CUK!” Lalu berdiri, dan pergi tanpa pamit. Tidak perduli teman saya teriak-teriak memanggil.

Saya sempat kebelet marah, tapi untuk apa? Tagihan tetap tidak dibayar, malah bikin penyakit. Akumulasi energi marah membawa pengaruh buruk terhadap fisik. Eman-eman badanku. 

Saya memutuskan batal mengunjungi pengutang lain. Ketimbang nanti jengkelnya numpuk, malah membuat otak saya mampet, mending fokus mikir perawatan Yuni saja.  Para penunggak itu bukan tidak ada duit, melainkan memang tidak punya niat membayar.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL

25 November 2022

Pelajaran dari Seorang Ostomate

Menjelang saya tidur, seorang teman telepon, menanyakan kabar Yuni. Setengah suntuk, ditambah banyak urusan yang harus saya selesaikan bersamaan, membuat sensor mulut saya sedikit longgar. Saya jadi seperti gendang yang sedang ditabuh, bercerita apa saja, menjawab setiap pertanyaan tanpa berpikir panjang.

Akibatnya, muncul nasehat  yang  membuat saya sesak nafas, “Pikir dulu baik-baik. Kalau bisa, gak usah kolostomi. Amit-amit, orangnya jadi bau eek. Dulu budeku sampai stres. Gara-gara bau, nggak ada yang mau mendekat.”

What the hell? Sampai segitunya?

Awalnya, saya hanya memikirkan efek fisik dari operasi dan penampakan kantong di perut. Ternyata, ada dampak sosial juga.

Ngantuk saya langsung buyar. Saya kembali ngubek-ubek Mbah Google, mencari alternatif terapi selain kolostomi. Nihil. Hampir semua terapi kanker usus besar disertai dengan kolostomi.

Yuni orangnya ceria. Selama 25 tahun kami menikah, hampir tidak pernah mengeluh, kecuali tempo hari, saat sakitnya benar-benar tak tertahankan. Sulit membayangkan dia nanti harus mengalami stres hanya karena aroma yang tak sedap di sekitar tubuhnya.

Capek lahir batin, saya akhirnya tertidur. Baru bangun setelah HP yang tergeletak dekat kepala berdering berkali-kali. Awalnya saya kira dering HP anak atau Yuni. Setelah semua nyawa ngumpul, baru ingat, saya home alone.

“Susah banget dihubungi. Di mana? Lagi ngapain?” terdengar suara Cemplon, staff konsultan pajak saya, dengan nada sewot.

Sebenarnya jam 9 ada janjian ketemu orang. Ternyata saya baru bangun jam 10 lewat. Ketika saya muncul, semua sudah bubar, tinggal Cemplon bersama bosnya, kaji nDul, yang memang sengaja menunggu.

“Begini model mantan preman pasar. Sangar di luar, giliran bini sakit langsung kopong!” celetuk kaji nDul jengkel.

Saya cuma diam. Selain merasa bersalah, saya tahu, bagi nDul, ngomel adalah kebutuhan utama setelah bernafas.

“Ditelepon berkali-kali nggak diangkat, gua pikir lu bunuh diri!”

“Alphard yang kamu sewa belum dibayar, mosok aku mau mati duluan?”

“Lah, Plon, belum lu transfer?”

“Duitnya keburu masuk kas negara, bos,” jawab Cemplon berlagak polos.

Sejak nDul ketahuan rutin berbagi rezeki ke pemandu karaoke, keuangan perusahaan diawasi ketat oleh istrinya. Setiap pengeluaran harus melalui anggaran resmi, dan cairnya nunggu lebaran monyet. Itu sebabnya nyonya nDul mendapat gelar kehormatan "ibu negara”.

“Plon, Plon, rencananya mau beli HP, malah lu kasih ke mamah.”

Hidup memang ironi. Ada yang punya penghasilannya besar, tapi mau beli HP saja susah.

“Perlu berapa?” saya bertanya.

“Tujuh belas.”

“Ayo ngrampok BCA. Aku telepon satpamnya dulu, biar duitnya disiapkan!”

“Lambemu!” kaji nDul menggerutu.

Mulut Cemplon sudah nganga, menjelang ketawa, tapi batal bersuara karena nDul melotot. Lalu Cemplon mengkureb di meja sambil bergumam,  “Apa dosaku, ketemu wong-wong tuwek gendheng kabeh.”

Selesai makan siang, Cemplon menelepon seseorang. “Tolong lu ceritain pengalaman lu selama pakai kantong, dari yang baik sampai yang apes. Bos gua lagi galau, bininya bakal kolostomi.”

Setelah itu, Cemplon menyerahkan HP ke saya.

Ternyata saya terhubung ke survivor kanker kolorektal yang sudah 8 tahun jadi ostomate.
#Ostomate adalah orang yang menjalani kolostomi dan memakai kantong kolostomi.#

“Siang, om. Saya Imah, sudah 8 tahun pakai kantong kolostomi,” sapa suara bersemangat di seberang.

Saya mendengarkan penjelasan detail tentang kolostomi dan kantong yang digunakan.

“Perutnya enggak bolong begitu saja. Dibuatkan stoma dari usus besar, dijahit ke kulit perut. Kalau mau lihat, ada video simulasinya di Youtube.”

Gak wis. Terimakasih. Diceritain saja sudah bikin kepala saya muter, apalagi nonton videonya.

“Kantongnya di sebelah kiri. Feses yang keluar biasanya padat, karena sudah melewati usus besar.”

“Menurut dokter, sampai berapa lama pakai kantongnya?” 

“Kalau saya sih permanen, om. Lubang aslinya sudah ditutup.”

Dia tertawa, saya meringis.

Membayangkan Yuni dengan kantong berisi "muatan", menggantung di bagian perut, membuat saya tambah kenyang. Otak sayapun tidak mau berhenti sampai di situ. Tebak-tebakannya berlanjut, tentang bagaimana cara membersihkan kantongnya? Apakah harus dicuci atau hanya sekali pakai?

Seakan membaca pikiran saya, Imah menjelaskan, kantongnya sekali pakai. Ada yang harus diganti setiap hari, ada yang bisa dipakai 3–4 hari.

“Nanti diajarin cara mengosongkan kantong, mengganti, merawat kulit di sekitar stoma, dan diet biar enggak muncul gas, enggak bau, diare, atau sembelit.”

“Baunya tidak merembes keluar?” Lalu penjelasan dari teman semalam saya ceritakan.

Imah tertawa.

“Enggak lah om. Saya belum mandipun masih lebih wangi ketimbang Cemplon.”

“Lho yaaaaaaa, aku maneh! TELOOOO!” Cemplon melengking.

Penjelasan Imah cukup membuat saya sedikit tenang. Terutama setelah dia menambahkan, “Gas kentutpun terperangkap sempurna. Kalau enggak sengaja dikeluarkan, kantongnya jadi kembung. Mungkin yang bau itu terjadinya jaman Jenghis Khan masih hidup, kantongnya belum seperti yang sekarang.” 

“Anusnya ditutup?” saya semakin penasaran.

“Karena saya bukan penggemar sodok belakang, ya ditutup om. Kan enggak kepakai lagi.”

Semprul!

Kebayang, ritual buang hajat yang biasanya sepele akan berubah jadi sesuatu yang lebih serius. Bayar pula. Di marketplace, harganya sekitar 960 ribu sampai 1,3 juta per box. Kalau isinya 30 kantong dan bisa dipakai 90 hari, berarti biaya per hari sekitar 9–14 ribu.

Kalau diukur dengan makanan, tidak mahal. Tapi kalau hanya untuk nampung tai, mahalpun pakai banget. Tapi sisi positifnya, kalau kebelet di jalan, nggak perlu panik, sudah ada WC portable.

Kaji nDul nyeletuk, “Utegmuuuu… Bisa-bisanya mikir WC portable segala!”

Cemplon menengahi, “Wis, nggak usah protes. Kalian berdua sama saja, penceng kabeh.”

“Elu juga. Tahu lagi bahas urusan boker, video callnya di meja makan”

Tanpa sungkan lagi, Cemplon terbahak lepas.

Jadi, senewen saya semalam itu beneran hanya buang-buang energi. Beruntung keburu ketemu Imah.

“Ada efek sampingnya apa tidak?” saya lanjut bertanya.

Dari hasil curi-curi browsing saat dimaki-maki kaji nDul, saya sempat membaca sepenggal kalimat berikut ini:

A colostomy is a major surgery. As with any surgery, there are risk of allergic reaction to anestesia and excessive bleeding.

Excessive bleedingnya membuat otak saya langsung travelling liar. Apalagi kalimat berikutnya juga tidak kalah serem:

A colostomy also carries other risk, such as damage to nearby organs, scar tissue forming in the abdomen which can cause blockages, parastomal hernia, stoma blockage, stoma fistulla, stoma ischaemia – this may require additional surgery.

Jawaban Imah membuat saya lega: “Sejauh ini aman-aman saja. Paling cuma iritasi kulit sedikit.”

“Benar nggak, pupnya keluar begitu saja tanpa bisa dikontrol?”

“Di stoma nggak ada petugas jaganya, ya langsung keluar gitu, enggak bisa ditahan. Kentutnya apalagi, kadang sampai bunyi pula. Tapi cuek saja, teman-teman sudah maklum.”

Diantara selingan gojeg kere, Imah bertanya lagi, “Maaf om, agamanya apa?”

Sebenarnya saya tidak suka ditanya-tanya soal agama, tapi kali ini pertanyaan itu sangat relevan. Bagaimana kalau pas shalat, tiba tiba ada yang keluar? Di samping itu, kantongnya bukan jenis lepas-pasang. Meski dibersihkan, mungkin masih ada najis yang tertinggal.

Ternyata ada fatwa MUI bagi penyandang kantong kolostomi. Tertuang dalam fatwa MUI nomor 7 tahun 2009, tentang shalat bagi penyandang stoma.

Pada bagian memutuskan, disebutkan:

1. Shalat bagi penyandang stoma (ostomate), selama masih bisa melepaskan atau membersihkn kantung stoma sebelum shalat, wajib baginya untuk melepaskan atau membersihkannya

2.    Sedangkan apabila tidak dimungkinkan untuk melaksanakan ketentuan nomor satu di atas, maka baginya shalat dengan keadaan apa adanya, karena dalam kondisi tersebut ia termasuk daim al-hadats (orang yang hadatsnya tidak bisa disucikan), yakni dengan berwudhu setiap akan melaksanakan shalat fardhu dan dilakukan setelah masuk waktu shalat.

Saya lega. Ternyata, agama juga punya ruang bagi yang sakit.

***

Hidup ini penuh ketidakpastian, tapi selama kita mau belajar dan beradaptasi, semua bisa dihadapi. Kadang sedikit agak sulit, seringkali sulit banget. Tapi tetap bisa.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL


24 November 2022

Ketika Kolostomi Menyapa

 

Rencana mojok di kantin sebelah kantor akhirnya tinggal angan-angan. Saya teringat anak ayam dan kucing-kucing di rumah yang belum diberi makan. Niat menyepi terpaksa dibatalkan. Saya minta sopir mengantar saya pulang.

Ternyata anak ayam tidak selamat. Ya wis lah. Saya kuburkan bangkainya di bawah pohon mangga, disaksikan oleh para kucing yang sepertinya ngerti apa yang terjadi.

Sebelum menuang pakan untuk mereka, saya sempatkan minta maaf karena kemarin membuat mereka kelaparan, lalu saya berpesan, “Tolong, jangan nyolong anak ayam lagi.”

Siangnya, saya merasa baikan. Tidak demam lagi.

Bingung, tidak tahu harus berbuat apa, saya membuka Facebook dan menulis tentang kondisi Yuni. Tak disangka, banyak yang merespons—termasuk dua survivor kanker. Mereka berbagi pengalaman tentang jenis terapi, tentang pengalaman pribadi mereka, dan memberi saran, langkah apa yang sebaiknya saya ambil.

Salah satu nasehat yang paling membantu datang dari seorang teman yang paham dunia herbal. Ia berkata, "Kanker ibarat lomba. Kalau masih stadium satu, bendera start baru dikibarkan. Pasien masih punya banyak pilihan terapi. Tapi kalau sudah stadium lanjut, saya sarankan ambil terapi medis. Lawanmu sudah ngebut jauh, sementara kamu masih rebahan, belum tahu mau nyusul pakai kendaraan apa. Kalau kamu pilih herbal, besar kemungkinan kamu ketinggalan."

Saya menyela, " Tapi kemo dan radiasi kan efek sampingnya berat?"
Dia menjawab, "Herbal juga punya efek samping. Salah pilih, resikonya juga besar."
Saya penasaran, "Tapi katanya herbal tanpa efek samping?"
Dia tertawa kecil, "Hanya tukang jual ramuan yang berani ngomong begitu."

Saya teringat pernah membaca di laman RS Universitas Indonesia, semua zat yang masuk ke tubuh—berupa makanan, obat, maupun herbal—punya potensi menimbulkan efek yang diinginkan maupun tidak diinginkan. Tidak ada yang benar-benar tanpa resiko.

Kalimat itu mengingatkan saya: harapan tidak boleh mengalahkan logika.

Konsultasi Malam yang Penuh Kejutan

Selepas Magrib, saya mendapat kejutan yang tidak ada dalam jadwal. Dokter bedah digestif memberi waktu untuk konsultasi.

Pengalaman sebelumnya, di rumah sakit lain, dokter sulit diminta waktu, meskipun hanya sekedar untuk sedikit bertanya.

Dokter yang merawat Yuni beda. Tanpa diminta, beliau menjelaskan secara detail dalam bahasa yang mudah dimengerti. Lebih dari itu, beliau menawarkan alternatif terapi—bukan memaksa, tapi mengajak saya memahami pilihan.

 Kalau hasil biopsi benar-benar menunjukkan kanker, beliau menyarankan radiasi dulu, 25 kali berturut-turut.

Saya langsung merinding. Otak saya mulai memutar semua rekaman yang pernah saya baca tentang efek radiasi.

Melihat wajah saya yang mendadak tegang, dokter segera menambahkan, "Kondisi pasien masih bagus. Saya optimis dia bisa menyelesaikan seluruh dosis radiasi tanpa kendala. Harapan saya, massa kankernya bisa menyusut 10–15 persen. Ini bisa mengurangi resiko penyebaran sebelum operasi."

Sebagai orang yang gampang curiga, sempat terlintas prasangka buruk: Apakah ini akal-akalan untuk menambah biaya?  

Dengan nada tetap tenang,  dan tidak ada kesan memaksa, dokter berkata, "Bapak boleh tidak setuju. Tidak apa-apa." Dia bahkan memberi waktu, "Tidak perlu dijawab sekarang. Masih ada sekitar sepuluh hari sampai hasil biopsi keluar."

Saya memberanikan diri bertanya, "Dari pemeriksaan fisik, kira-kira bagaimana kondisi istri saya?"
Dokter menjawab diplomatis, "Kita tunggu hasil biopsinya dulu." Tapi firasat saya berkata lain. Sepertinya bukan lagi stadium awal.

Kolostomi: Babak Baru yang Bikin Puyeng

Saat dokter hendak pergi, saya buru-buru bilang, "Saya ndherek saran dokter."
Dokter menoleh, "Maksudnya?"
"Saya setuju radiasi."

Hening sejenak. Setelah itu dokter bertanya, "Kantong kolostominya mau dipasang bareng biopsi atau nanti bersama operasi kankernya?"

Saya bengong, merasa seperti masuk ke dalam ruang hampa

Dokter menjelaskan, untuk mencegah infeksi akibat massa kanker selalu terkena kotoran, akan dibuat saluran pembuangan darurat—selain lewat dubur. Itulah kolostomi.

Saya  tidak punya bekal apa pun tentang kolostomi. Bahkan kata itu baru pertama kali saya dengar. Meski dijelaskan pelan-pelan, otak saya terlanjur kopong. Hanya terbayang perut Yuni dibolongi, lalu dipasangi kantong untuk menampung kotoran.

Setelah itu, saya tidak tahu lagi mana yang lebih cepat, detak jantung atau munculnya berbagai pertanyaan di kepala. Bagaimana nanti Yuni tidur? Apakah dia bisa merasa nyaman bersama kotoran yang numpuk dikantong selagi belum ada kesempatan membuang? Apa dia akan tetap percaya diri?

Mencari Ketenangan di Tengah Puting Beliung

Dari sini saya belajar, konsultasi dengan dokter bukan sekadar tanya-jawab. Kita butuh bekal informasi dasar dan kesiapan mental untuk menerima kejutan—supaya kepala tidak serasa mau copot.

Saya minta waktu dua hari untuk memutuskan, apakah kolostomi dilakukan bareng biopsi atau bareng operasi kankernya.

Selama dua hari itu terasa seperti naik roller coaster. Kadang yakin, kadang ragu. Kadang tenang, kadang nyaris panik. Sementara Yuni tetap kalem, tidak banyak bicara, dan tak pernah mengeluh.

Saya mencoba mencari informasi tentang kolostomi. Googling sana-sini. Tapi semakin banyak saya baca, semakin bingung. Ada yang bilang biasa saja, seperti pakai kantong infus di perut. Ada yang cerita horor: kantong bocor, infeksi, trauma psikologis, hingga pasien yang merasa kehilangan harga diri.

Saya mencoba menenangkan diri: Bukankah kita juga kehilangan harga diri kalau mendadak diare di perjalanan? 

Tapi ini beda. Ini bukan sekadar keadaan darurat. Ini soal hidup dengan lubang di perut—berdamai dengan kenyataan bahwa kotoran tidak lagi keluar lewat jalur yang semestinya.

Beberapa teman, dengan niat baik, bercerita tentang kerabat mereka yang  tidak kuat hidup dengan kolostomi. Mereka tidak bermaksud menakuti, tapi efeknya, saya seperti duduk di tengah angin puting beliung, dengan topi kertas sebagai satu-satunya pelindung.

Hidup sering tidak berjalan sesuai rencana. Dari rencana mojok yang gagal, anak ayam yang mati, hingga kejutan-kejutan dalam perjalanan melawan kanker. Semua mengajarkan, saya harus terus belajar menerima, beradaptasi, dan menemukan kekuatan di tengah ketidakpastian.

Mungkin besok ada kejutan baru lagi. Tapi hari ini, saya memilih untuk mengambil satu langkah kecil, dan percaya, bahwa kami bisa melewati —satu hari demi satu hari.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL


22 November 2022

Dompet, Demam dan Sertifikat Booster


Saya tidak kaget saat membaca “KANKER” yang ditulis di selembar kertas oleh dokter bedah wasir. Meskipun tubuh saya masih utuh, jantung belum berhenti berdetak, dan napas masih mengalir, dunia saya sudah miring sejak beberapa hari sebelumnya. Sirene sudah meraung-raung seperti alarm kapal tenggelam.

Ketika dokter berkata, “Sepertinya bukan wasir. Ini mengarah ke kolorektal. Kemungkinan kanker.” Saya hanya mengangguk.

Walaupun pada akhirnya dokter masih bilang, “Baru dugaan,” bagi saya lebih mirip ketokan palu hakim. Apalagi ketika dokter mengatakan jarinya tidak bisa masuk anus. Itu bukan lagi sekadar gejala, melainkan konfirmasi yang tidak memberi peluang untuk dibantah.

Keluar dari ruang periksa, pikiran saya tidak hanya tentang Yun. Ada masalah lain yang tiba-tiba minta perhatian dan harus secepatnya saya putuskan: mau pakai BPJS atau lanjut mandiri?

Secara logika keuangan, mestinya langsung ke BPJS. Tapi secara hati, saya tidak bisa membayangkan Yuni, yang bahkan buang angin saja sudah meringis kesakitan, harus duduk lama, ngantri di puskesmas, menjalani pemeriksaan awal, menunggu rujukan, lalu antri lagi di rumah sakit. Dalam kondisi seperti ini, waktu bukan sekadar angka. Waktu adalah nyawa.

Saya bertanya pada diri sendiri, seandainya saya yang terbaring di sana, apa yang saya harapkan?  sudah pasti saya ingin langsung ditangani. Sekarang. Tanpa antrian. Tanpa ditunda.

Tapi, duitnya dari mana?

Kata orang, biaya sekali kemoterapi sampai jutaan. Belum lagi biaya operasi, radioterapi, obat, rawat inap, dan semua biaya tak terduga. Saya sempat menghitung kasar di kepala, paling sedikit butuh 300 juta.

Saya tidak perlu cek saldo untuk tahu, saya tidak punya duit tunai sebanyak itu. Sebagian besar harta saya simpan dalam bentuk aset yang – baru saya sadari saat ini - susah dicairkan secara cepat. Niat semula tidak terlalu banyak menyimpan tunai, untuk mengurangi resiko inflasi dan biar tidak gampang tergoda belanja. Ternyata, pada saat dibutuhkan secara cepat, aset-aset itu malah terasa seperti harta karun yang terkubur jauh di dasar laut.

Di tengah kebingungan, adik saya memberitahu: kamar kelas 1 dan 2 penuh.

Saya buru-buru  ke ruang registrasi rawat inap. Memang hanya tersisa satu kamar VIP C, dan president suite. Kalau terpaksa, kamar President Suite sebenarnya masih dalam jangkauan. Tapi saya sedang berhadapan dengan kanker, bukan penyakit yang bisa sembuh dalam hitungan hari. Terapi kanker ibarat lomba marathon. Uji ketahanan dalam segala hal: Mental, fisik dan finansial.

Jangan sampai nanti terapinya Yuni berhenti di tengah jalan gara-gara duit habis, sementara saya duluan nyangkut di ICU. Stroke mikir tagihan.

Akhirnya saya pilih VIP C. Meskipun tarif kamarnya “hanya” 550 ribu per malam, angka itu sudah cukup membuat saya berpikir keras: Aset mana yang harus dilego duluan?

Saya sempat memertimbangkan pindah rumah sakit. Yang ini memang terkenal mahal. Tapi Yuni sudah kesakitan. Disamping itu, di rumah sakit lain belum tentu tersedia kamar. Sisa-sisa pandemi masih membuat banyak fasilitas kesehatan kewalahan. Disamping itu, saya sudah cocok dengan attitude  dokter yang menangani Yuni. Tenang, tidak pelit informasi dan penuh empati.

Pengalaman 12 tahun sebelumnya, saat Ayah rawat inap di rumah sakit lain. Di kelas VIP juga, tiga dokter yang menangani terkesan ogah-ogahan menjawab pertanyaan kami. Komunikasi mampet. Pasien diperlakukan seperti obyek yang wajib nurut apapun kata dokter.

Akhirnya saya nekat ambil VIP, tanpa BPJS.

Ternyata pilihan itu membawa sedikit bonus candaan kecil. Pas diminta bayar DP, baru ketahuan, Kartu ATM yang saya bawa saldonya hanya sejuta lebih dikit.

TREMBELANE!!!

Tapi ternyata, petugas registrasi bilang, kalau dananya belum tersedia, tidak perlu DP dulu. Saya sempat kaget, sampai dia harus mengulang lagi.

Urusan DP selesai, masalah lain menyusul.

Petugas menyerahkan empat lembar kertas seukuran kartu nama, semuanya atas nama saya. sambil berkata, “Keluarga yang belum booster harus swab dulu.”

Nah lho!

Dari empat orang yang mengantar Yuni, cuma satu adik yang sudah booster. Saya, anak, dan adik satunya belum. Sebenarnya saya memang wegah booster. Vaksinpun, kalau bukan terpaksa, butuh sertifikat, enggak sudi juga. Anak, enggak beda jauh – tentu saja karena ngikut saya. Sementara adik, sudah mendapat jadwal minggu depan.

Saat itu saya sedang demam tinggi - Kalau bukan demi istri, sudah pasti tidak akan kuat ninggal kasur. Seandainya saya swab lalu keluar hasil positif, bisa-bisa Yuni ikut masuk karantina. Diisolasi dalam kondisi sakit, besar kemungkinannya akan berakhir buruk.

Saat petugas sekuriti datang untuk mengantar kami ke ruang swab, otak saya langsung kambuh ugal-ugalan, memberi gagasan ngumpet di toilet.

Saya minta ijin telepon. Memberitahu anak dan adik yang berada di lobby, supaya tetap diam di sana  sambil mencari informasi faskes yang melayani booster besok.

Selesai telepon, saya pamit ke toilet, dan langsung kabur menuju tempat parkir.

Ketika sopir melihat saya datang sambil merunduk, lalu bergegas masuk mobil, dia bertanya, kenapa saya bertingkah macam buronan menghindari kejaran polisi?

“Ngumpet, biar tidak diswab!”
Dia langsung ngakak.

Alhamdulillah, Yuni lolos PCR. Langsung masuk, karena harus segera transfusi. Hbnya tinggal 4,2.

Malamnya saya home alone. Anak saya suruh nginap di rumah adik. Selain lebih dekat rumah sakit, biar tidak ketularan demam.

Sejak masih di rumah sakit sebenarnya saya sudah menggigil. Dua paracetamol tidak cukup. Setiba di rumah sebenarnya pengin langsung tidur, tapi sejak saya masuk halaman, kucing-kucing ribut minta makan.

Meskipun saya juga lapar, tapi kepala yang berat membuat saya tidak kuasa bertahan lebih lama, dan langsung rebah di kasur. Mantera “Demi istri” tidak lagi mempan. Terpaksa saya kuatkan hati, mengabaikan teriakan para kucing yang kelaparan.

Saya cukup kuat menahan lapar. Tapi kurang minum, perkara lain. Tidak perlu nunggu lama, saya mulai mengalami halusinasi. Ayah, Ibu, dan beberapa kerabat lain yang sudah meninggal mulai bermunculan. Lama-lama bahkan kucing-kucing yang sudah mati ikut pula nongol. Saya sadar, mereka hanya bayangan halu, akibat kurang minum. Masalahnya, dengan kepala berat, dunia berputar dan badan menggigil, jarak antara saya rebah dengan dispenser terasa lebih jauh ketimbang jarak ke bulan.   

Menjelang saya menyerah, tiba-tiba terdengar bentakan “OHANA!!!”

Halusinasi saya semakin liar. Bahkan sosok fantasi Stitch di film Disney, datang dan main bentak. “NOBODY GETS LEFT BEHIND!”

BEDHES! Saya mengumpat, sambil memaksa diri beranjak ke ruang makan. Selesai minum saya ke luar, memberi makan kucing. Mereka sebenarnya bukan piaraan kami. Cuma kebetulan numpang lahir di rumah. Kalau rumah pas kosong, mereka bisa cari makan sendiri, tapi giliran ada yang di rumah, semua kambuh manja. Makanpun kadang minta ditungguin.

Saya tidak ingat, berapa lama berada di luar. Yang saya tahu, ketika semua kucing sudah pergi, saya tidak lagi kedinginan. Bahkan seandainya setelah itu tidak kejedot pintu, mungkin saya bisa lupa kalau masih punya kepala. Pusingnya tidak terasa lagi.

Jam 4 pagi saya terbangun oleh suara anak ayam. Ciap-ciapnya terdengar semakin mendekat. Tidak mungkin anak ayam kelayaban sepagi ini, kecuali ……. Saya buru-buru bangkit dari tempat tidur, meraih senter, lalu bergegas keluar, menuju arah suara berasal.

Di pojok halaman saya dapati seekor kucing ndhekem. Moncongnya menggigit anak ayam.

“Lepas!!!”

Saya tarik tengkuk kucing itu, sampai anak ayam terlepas. Meskipun lukanya cukup parah, anak ayam itu masih hidup. Saya taruh di ember bekas cat  yang saya sulap jadi kandang darurat, lengkap dengan lampu penghangat dan kain pel sebagai alasnya.

Karena anak ayam itu hanya bisa tenang selama kepalanya menyentuh telunjuk saya, terpaksa saya duduk bengong dekat ember lumayan lama. Beruntung, menjelang terang, dia bisa ditinggal, sehingga saya tidak telat tiba di Puskesmas jam 8, untuk booster.

Meskipun badan sudah terasa baikan, saya sempat ragu. Jidat dan mata masih ada anget-angetnya. Ketika vaksin, saya pernah dua kali ditolak. Pertama karena tekanan darah di atas 200, yang kedua karena demam. Menurut dokter, saat demam tidak boleh vaksin.

Tapi untuk nengok dan nungguin Yuni saya butuh sertifikat booster ……. Bodo amat!!!!

Sebelum berangkat ke Puskesmas, saya minum dua tablet paracetamol.

Booster sukses. Anak, adik, sopir, dan petugas medis tidak ada yang tahu saya sedang demam. Tapi, sekedar antisipasi, saya pamit tidak ikut ke rumah sakit. Kalaupun sampai tumbang, jangan sampai saya ambruk di hadapan Yuni.

Kanker ternyata bukan hanya diagnosis medis, tapi juga guru yang keras dan tanpa ampun. Dia memaksa saya belajar mengambil keputusan secara cepat dalam kondisi tidak menentu, tanpa harus ngawur. Belajar menjadi kuat bukan karena saya mampu, tapi karena tidak ada pilihan lain.

Saya tidak tahu kapan dan bagaimana akhir dari perjalanan ini. Tapi saya tahu satu hal: Demi orang yang saya cintai, saya akan berlari, tidak perduli apapun resikonya.

Untuk siapapun yang telah meluangkan waktu, membaca sampai di sini, saya ucapkan terimakasih.  Jika kamu sedang berada di posisi yang sama — di antara tagihan rumah sakit, ketakutan, dan kelelahan yang tak berujung — ingatlah, kamu tidak sendiri.

Kita bukan pahlawan. Tapi juga bukan pecundang. Kita adalah manusia yang sedang berjuang — dengan cara kita masing-masing.


08 November 2022

Ketika Rasa Nyeri Adalah Alarm yang Tak Boleh Diabaikan

 

nyeri, kanker, wasir, sakit

Saya bukan dokter, hanya seorang suami yang kadang sok tahu, suka berpikir berlebihan, dan mudah panik ketika ada yang tidak beres dengan orang yang saya cintai.

Tapi suatu hari, semua rasa panik itu tiba-tiba menjadi sangat nyata.

Istri saya, Yuni, mulai duduk sambil meringis kesakitan. Jalannya terpincang-pincang dan terlihat tidak nyaman. BABnya begitu menyengat, menembus pintu kamar mandi yang tertutup rapat.

Di situlah, otak saya yang gemar overthinking langsung berulah. "Jangan-jangan, ini kanker?"

Perut saya langsung mual. Jantung berdebar kencang, seolah ingin melompat keluar dari dada. Pikiran saya panik level dewa mabok. Tapi saya mencoba tenang, karena awalnya berasal dari gangguan yang terasa begitu sepele: wasir. Penyakit yang sudah menjadi teman lama Yuni, bahkan sebelum kami menikah tahun 1998.

Dulu, jarang kambuh. Kalau pun terjadi, cukup diobati dengan salep resep dokter atau suppositoria yang dibeli di apotek. Sembuh dalam hitungan hari.

Tapi pandemi mengubah segalanya.

Rumah sakit tiba-tiba berubah menjadi tempat yang paling menakutkan setelah neraka. Yuni sebenarnya ingin konsultasi ke dokter, tapi takut ketularan covid membuat kami memilih untuk mengobati dengan obat tanpa resep.

Kami memilih aman, tapi ternyata salah.

Sejak pertengahan 2020, wasir Yuni semakin sering kambuh. Obat yang biasanya manjur, kali ini hanya numpang lewat.

Yuni mulai mengeluh, merasa tidak nyaman saat duduk. Bukan sakit biasa, tapi seperti ada tekanan di dalam yang tak kunjung reda. Jalanpun berubah, megol-megol Saya sempat tertawa waktu pertama kali melihatnya, tapi tawa itu cepat menghilang ketika saya menyadari, ini bukan lelucon. Ini tanda bahaya.

Saya mulai risih, lalu khawatir, lalu panik. Otak saya langsung masuk ke mode investigasi ala detektif amatir: Apakah ini infeksi? Penyakit usus? Atau… jangan-jangan kanker?

Saya pun terseret ke dalam dunia tebak-tebakan versi horor dengan teori ngawur saya sendiri tentang sel wasir yang "harusnya mati, tapi malah bermutasi." 

Otak saya mulai panik. Hati saya lebih panik lagi, tapi mulut saya masih berusaha denial"Palingan cuma wasir parah."

Kami mencoba berbagai cara alternatif. Mulai dari ramuan herbal yang katanya "ampuh untuk semua penyakit", sampai terapi dari seorang pensiunan tenaga medis yang viral di Facebook—"sembuh tanpa operasi!"

Ada sedikit perbaikan, tapi hanya bertahan tiga hari. Selebihnya malah semakin memburuk. Rasa sakitnya seolah tidak mau kompromi lagi. Yuni tidak bisa tidur nyenyak. Tidak bisa duduk lama. Setiap menit adalah perjuangan.

Sampai akhirnya, saya berkata pada diri sendiri: "Sudah cukup. Tidak bisa dibiarkan."

Selasa sore, 5 Juli 2022. Saya mengantar Yuni ke dokter spesialis bedah wasir, berharap bisa segera ditangani. Tapi yang kami dapatkan jauh lebih menohok daripada yang pernah kami bayangkan.

Setelah pemeriksaan, dokter menatap saya dengan ekspresi serius, lalu menulis satu kata di selembar kertas dengan huruf besar:

KANKER.

Saya lemas. Dunia seolah berhenti berputar. Napas terasa berat. Saya minta ijin agar Yuni keluar dari ruang periksa dulu—saya tidak ingin pikirannya terganggu oleh diagnosa yang belum pasti.

Baru setelah Yuni pergi, dokter menjelaskan dengan tenang, tapi jujur. Ada lesi mencurigakan, perubahan tekstur jaringan, dan pola gejala yang tidak sesuai dengan wasir biasa. Dia merujuk kami ke dokter bedah digestif untuk biopsi dan pemeriksaan lebih lanjut.

Meskipun dokter masih berharap ini hanya kesalahan diagnosa, firasat saya yang kadang sok tahu kali ini malah yakin, dokter tidak keliru.

Wasir bukan penyakit mematikan, tapi ketika gejalanya berubah—menjadi lebih sering, lebih sakit, lebih aneh, bisa jadi merupakan alarm dari tubuh untuk sesuatu yang jauh lebih serius.

Konsultasi ke dokter bukan tanda kelemahan. Justru itu tanda keberanian. Berani menghadapi kenyataan, seburuk apa pun.

Kini, Yuni sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Perjalanan kami masih jauh dari selesai. Kami masih menunggu hasil biopsi, rencana pengobatan, dan keputusan besar di depan. Tapi setidaknya, kami tidak lagi menutup mata.

Saya berharap, tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi siapa pun yang sedang mengalami hal serupa:

Dengarkan tubuhmu.
Dengarkan rasa sakitmu.
Dengarkan firasatmu.

Terkadang, gejala kecil adalah teriakan terakhir sebelum badai datang.

Jangan tunggu sampai terlambat.
Kesehatan bukan hal yang bisa ditawar—dan waktu tidak pernah menunggu.

Untuk Yuni, yang masih kuat.
Dan untuk siapa pun yang sedang berjuang: kamu tidak sendiri.


11 Januari 2022

Survival Kit di Medan Ranjau

 Saya tidak pernah menyangka bahwa dua hal sederhana, humor dan harapan, bisa menjadi penopang utama ketika hidup saya seperti kapal kecil yang terombang-ambing di lautan badai. Umur tak lagi muda, tubuh mulai rewel, dan kenyataan bahwa pasangan hidup saya didiagnosis kanker,  semua itu bisa dengan mudah menggulung saya ke jurang putus asa.

Tapi justru di tengah kesuraman itu, muncul celah-celah terang. Bukan dari keajaiban langit atau mukjizat dramatis, melainkan dari hal-hal sederhana, candaan receh, kelucuan yang datang tiba-tiba, dan harapan-harapan kecil yang tampaknya sepele - tapi ternyata ampuh menjaga semangat hidup tetap menyala.

________________________________________

Humor: Obat Anti-Gila di Tengah Kekacauan

Ada masa-masa ketika saya terlalu serius menjalani hidup. Terlalu khawatir. Terlalu takut salah langkah. Terlalu ingin semuanya sempurna. Tapi saat saya mendampingi istri menghadapi terapi kanker, saya belajar satu hal penting, kalau semua dibawa tegang, kepala ini bisa pecah.

Lalu muncullah guyonan sebagai penyelamat tak terduga. Kadang muncul dari orang lain, kadang dari istri sendiri, kadang dari saya - biasanya tanpa sengaja.

Seperti ketika saya sedang mencari tahu tentang kolostomi. Salah satu narasumber, seorang survivor kanker usus sekaligus ostomate (sudah memakai stoma bag), malah santai saja membahas "anus yang disegel permanen", kentut yang nyaring seperti suara sirene, saat mules tidak perlu buru-buru cari WC, dan perut yang tampak buncit karena celana terganjal kantong. Saya terkekeh, bukan karena mengejek, tapi karena merasa manusiawi sekali.

Atau suatu sore, ketika saya hendak ambil uang di ATM, tiba-tiba muncul pesan di layar, ATM minta maaf lantaran sedang bokek. Stok uang habis, belum diisi kembali. Saya menoleh ke istri dan spontan berkata, “Lebaran masih jauh, tapi ATM sudah minta maaf duluan.” Dia tertawa lemah, tapi cukup membuat sore itu jadi lebih ringan.

Dan ternyata, candaan seperti itu bisa jadi vitamin harian. Meski tubuh sakit, saldo menipis, dan malam terasa panjang, tertawa tetap gratis dan menyembuhkan.

Ada yang bilang:

“Kalau kamu bisa tertawa di saat sulit, bukan berarti kamu menyangkal kenyataan, tapi kamu sedang menolak untuk dikalahkan olehnya.”

Saya percaya.

Saya belajar untuk menertawakan hal-hal yang tak bisa saya ubah. Termasuk ketika istri mulai berdamai dengan kemungkinan memakai stoma bag. Bayangkan — dari seorang perempuan yang dulu aktif, mandiri, dan modis, kini harus beradaptasi dengan sesuatu yang ‘nongol dari perut’. Tapi alih-alih menyesali nasib, ia malah berkata, “Kalau ini memang harus jadi ‘teman hidup’, kita ajak akrab saja.” Kami tertawa. Meski getir, tetap terasa lega.

________________________________________

Harapan: Lilin Kecil yang Menuntun Jalan

Kalau humor adalah vitamin, maka harapan adalah bahan bakarnya. Tapi bukan harapan besar, bukan harapan yang mewah. Cukup harapan kecil, secuil cahaya yang bisa menuntun langkah ke hari berikutnya.

Kadang harapan itu datang dari anak. Walau sibuk kuliah, tetap menyempatkan memasak menu khusus untuk diet kami. Padahal repotnya minta ampun. Tanpa sambel dan lalapan, tanpa telur, tanpa dressing, tanpa gorengan, tanpa kerupuk, tanpa daging merah, tanpa udang, sebagian besar masakan terasa seperti uji kesabaran lidah. Tapi dia tetap mencoba, dan kami tetap makan sambil bercanda, pura-pura menjadi peserta MasterChef Versi Kanker.

Kadang harapan datang dari teman lama yang tiba-tiba mengirim pesan, “Aku baca tulisanmu di blog. Terima kasih, ya. Rasanya aku nggak sendirian sekarang.”

Kadang dari pembaca yang tidak saya kenal, yang menulis di kolom komentar:

“Tulisanmu bikin aku nangis dan ketawa sekaligus. Aku juga sedang mendampingi suami yang sakit. Terima kasih sudah berbagi.”

Dan di sanalah saya sadar, berbagi cerita, berbagi tawa, dan berbagi harapan bukan hanya menyembuhkan orang lain — tapi juga menyembuhkan diri sendiri.

________________________________________

Jalan Terus, Meski Pelan

Hidup memang tidak mudah. Tidak ada jaminan semuanya akan baik-baik saja. Tapi selama kita masih bisa tertawa, dan masih punya secuil harapan, saya percaya, kita belum kalah.

Mungkin langkah kita pelan. Mungkin badan lelah dan hati remuk. Tapi kita tetap jalan. Kadang sambil tertawa geli karena kesalahan kecil. Kadang sambil menitik air mata karena komentar sederhana dari orang tak dikenal. Tapi tetap jalan.

Jadi, kalau hidup sedang terasa berat, cobalah ketawa. Bukan karena semuanya lucu, tapi karena kadang kita cuma punya dua pilihan: ketawa atau gila.

Dan kalau bisa memilih, saya lebih suka ketawa.


Related Post:
1. Perang Sunyi Melawan Ketakutan
2. Hidup Bukan Arena Judi

23 Desember 2021

Perang Sunyi Melawan Ketakutan

 Semula saya menyangka, musuh terberat datang dari luar. Penyakit, krisis finansial, atau tekanan hidup. Ternyata salah. Perang paling berat, paling melelahkan, dan paling menyedot tenaga, justru terjadi di dalam kepala saya sendiri.

Musuh tidak pernah menampakkan wajah. Dia tidak mengangkat senjata, tidak meneriakkan ancaman, tapi bisikannya terus-menerus, tanpa jeda, seperti siaran radio rusak, mengulang pesan sama, "Kamu tidak cukup kuat. Kamu pasti gagal. Untuk apa mencoba?"

Dulu saya pikir, asal cukup semangat, semua bisa dilawan. Kalau jatuh, bangkit. Kalau gagal, coba lagi. Kalau belum sukses, tinggal tambah kopi, tambah doa, tambah lembur. Tapi ternyata tidak segampang itu. Semangat bisa luntur, niat bisa menguap. Hanya menyisakan kecemasan, penundaan, dan rasa bersalah yang semakin menumpuk seperti utang lama yang tak kunjung lunas.

Saya pernah mengira kebiasaan menunda hanya berkaitan denganl malas. Ternyata tidak. Dia lebih mirip strategi bertahan dari otak yang kelelahan, membuat saya menjadi takut menghadapi hasil akhir, terlalu sering membayangkan kegagalan, sampai-sampai tidak berani mulai. Takut salah, takut kurang sempurna, takut dianggap bodoh. Aneh, padahal tidak ada orang lain yang tau. Tidak ada yang menilai. Hanya saya, dan suara-suara di dalam pikiran.

Saya pernah duduk diam berjam-jam di depan komputer, membuka dokumen, lalu menutupnya lagi. Bukan karena tidak punya ide, tapi takut ide itu akan terlihat konyol. Takut tulisan saya dibaca orang dan mereka berpikir: “Ini mah nggak penting, basi.” Padahal belum tentu juga dibaca orang.

Ironis ya. Kadang saya takut pada hal-hal yang bahkan belum terjadi.

Saya menyebutnya sebagai perang sunyi. Tidak ada ledakan, tidak ada dramatisasi. Sementara korban-korbannya sangat nyata, banyak waktu terbuang sia-sia, kesempatan lewat begitu saja, dan yang paling parah, keyakinan diri yang pelan-pelan tergerus sampai nyaris hilang.

Sampai suatu ketika, saya mulai mendengarkan tubuh. Napas yang dangkal, kepala berat, ketegangan di perut dan sensasi halus di tengkuk. Ternyata, tubuh saya menyimpan rekam jejak rasa takut lebih jujur daripada pikiran. Saat pikiran sibuk menyembunyikan kecemasan dengan berbagai dalih dan pembenaran, tubuh diam-diam mencatat semuanya melalui denyut jantung yang tak biasa, lewat otot yang mengeras tanpa sebab, atau keringat dingin di malam hari.

Kondisi ini sepertinya dipahami oleh dokter yang terakhir saya kunjungi, sehingga beliau cenderung menyarankan saya konsultasi ke psikolog ketimbang memberi obat -- Selama hampir tiga tahun saya menjadi pasien, beliau hanya sedikit saja memberi obat.

Berhubung saya tidak gampang berbagi perasaan dengan orang yang tidak saya kenal, saya memilih menemui seseorang yang 30an tahun lalu pernah menjadi pendamping spiritual saya. Beliau sudah sangat sepuh, tapi masih mengenali saya sebagai murid paling ngeyelan dan sering mengajukan pertanyaan kritis.   

Sebenarnya saya ingin curhat banyak, tapi melihat kondisi beliau, akhirnya kami hanya bernostalgia tentang masa lalu. Itupun tidak lama. Meskipun raut wajahnya nampak ceria, saya menangkap kelelahan di matanya.

Sebelum berpisah, beliau sempat mengingatkan tentang nasehat yang dulu pernah beliau sampaikan, “Jaga pikiranmu, jangan biarkan semaunya. Atau kamu akan menghadapi banyak kesulitan.”

Saya mulai kembali latihan pernapasan ringan. Bukan karena ingin jadi yogi atau spiritualis, tapi karena ingin bisa tidur nyenyak tanpa dihantui kekhawatiran imajiner. Dan pelan-pelan, saya bisa merasakan, ternyata pikiran bisa diajak berdamai. Asal saya tidak terus-terusan percaya pada semua yang dia bisikkan.

Saya juga mulai menulis. Bukan untuk dibaca orang lain, tapi untuk membongkar isi kepala sendiri. Kadang saya hanya menulis "hari ini takut", atau "malas banget, tapi tidak tahu kenapa". Dan pelan-pelan, saya mulai paham, rasa takut tidak harus dimusuhi. Hanya ingin didengar. Seperti veteran tua yang cuma ingin diberi pengertian.

Sekarang saya tahu, saya sedang menjalani misi. Misi untuk mengenali, menerima, dan melampaui ketakutan. Bukan untuk jadi sempurna. Tapi untuk bisa hidup dengan tenang, dan tetap bergerak walau pelan.

Tentu saja perjalanan masih panjang. Saya belum menang, bahkan sejujurnya, masih sering kalah. Saya masih suka menunda, masih suka kabur dari hal-hal yang penting. Tapi saya tidak lagi buta arah. Saya tahu di mana musuhnya. Dan saya tahu saya tidak sendiri. Ada banyak orang di luar sana, mungkin juga di balik layar blog ini, yang sedang bertempur dalam perang sunyi mereka masing-masing.

Saya tidak bisa memberi resep sukses. Tapi saya tahu satu hal, selama kita masih bisa menertawakan diri sendiri, masih bisa menulis satu kalimat jujur, dan masih bisa menarik napas dengan sadar—kita belum kalah.


Related Post: 
1. Menjelajah Medan Ranjau
2. Survival Kit di Medan Ranjau

21 Desember 2021

Menjelajah Medan Ranjau

 Ketika kesehatan mulai retak-retak, hidup terasa seperti tersesat di wilayah musuh yang penuh ranjau tak terlihat dan jebakan sunyi yang bisa meledak kapan saja . Sekarang, apapun ketika saya konsumsi sedikit agak banyak, membawa resiko menimbulkan masalah. Begitu juga sebaliknya, semua yang semula harus dipantang, kalau saya turuti saklek, sama sekali tidak makan, setelah beberapa hari, muncul masalah pula. Seakan-akan tubuh ini sudah kehilangan kemampuan kompromi, dan saya harus terus menegosiasikan hidup setiap hari, dari dalam tubuh saya sendiri.

Segala sesuatu yang dulunya hanya sekadar “makanan”, sekarang berubah menjadi kemungkinan bencana. Tapi menariknya, setelah bertahun-tahun mengamati dan belajar dari percobaan kecil yang saya lakukan pada diri sendiri, saya menemukan satu pola: hanya beberapa jenis makanan yang benar-benar harus saya coret permanen dari daftar. Kuning telur, daging merah, seafood, dan makanan olahan—ini adalah musuh tetap. Mereka konsisten membuat kekacauan, seperti agen infiltrasi yang selalu berhasil menyabotase sistem dari dalam.

Namun ada juga hal-hal yang tidak mutlak. Misalnya gula rafinasi—musuh besar versi media kesehatan.Jika saya benar-benar tidak menyentuh gula lebih dari empat hari, justru tubuh saya mulai berontak. Hari kelima atau ketujuh, tergantung angin, saya bisa mendadak limbung seperti prajurit kelaparan yang nyaris pingsan di medan perang. Gemetar, pusing, lemas. Sekadar berjalan keluar kamar pun harus hati-hati agar tidak kepentok kusen pintu.

Seperti prajurit yang nyasar di ladang ranjau wilayah musuh, saya tidak punya kemewahan untuk pasrah atau menyerah. Berusaha survive adalah satu-satunya pilihan. Maka saya belajar membaca setiap isyarat yang muncul—getaran kecil, nyeri ringan, atau perubahan suasana hati. Saya mulai mencatat, menelusuri, mencari benang merah antara apa yang saya konsumsi dan apa yang kemudian saya rasakan. Saya tidak merasa menjadi ahli, tapi saya tahu, tubuh saya menyimpan rahasia yang hanya bisa saya pahami sendiri, dengan sabar dan telaten.

Saat ini hidup saya memang "Beyond Enemy Lines". Tapi saya bukan korban. Ini bukan perkara kalah dan memang. Suka atau tidak, saya harus mengakui bahwa yang terjadi saat ini adalah refleksi dari masa lalu. Bukan untuk disesali, tapi untuk dijadikan pelajaran. Mumpung masih ada kesempatan, dengan langkah lambat, penuh kehati-hatian, tapi dengan mata yang lebih awas, saya bangun kembali jalan menuju finish yang sempat porak poranda.

Saya belajar memaafkan masa lalu, mencicil kesehatan, menabung semangat, dan yang terpenting, tetap bisa tertawa—karena dalam perang yang senyap ini, humor adalah peluru terakhir yang saya punya. Ia yang membuat saya tetap hidup, bukan sekadar bertahan.

Dan siapa tahu? Mungkin suatu hari kelak, saya bisa tiba juga di titik aman. Meskipun tanpa medali.  tanpa sorak sorai. Tapi dengan kepala tegak. Karena saya tidak menyerah.


Related Post:  Perang Sunyi Melawan Ketakutan

21 Juli 2021

Foto Keluarga

 Kagol lantaran kabut yang menutup Merapi menjadi semakin tebal, saya memutuskan pindah tempat, mencari obyek foto lain. 

Setelah cukup lama ngider tanpa tujuan, tiba-tiba saya teringat monyet-monyet di hutan wisata Telaga Putri. Sejak Merapi erupsi 2010 saya sudah beberapa kali berkunjung ke sana. Dua kali bersama anak dan istri, selebihnya sendiri. Suasananya tidak seindah ketika air terjum masih ngalir (embuh tahun berapa). Pada kunjungan pertama pasca 2010, di bagian atas bukit terlihat banyak pohon gundul, sisa tersengat wedhus gembel. 

Sejak air terjun mampet, hanya monyet yang membuat saya masih berkunjung ke sana. Saya suka memperhatikan polah tingkah kerabat jauh itu. Pernah nyaris setengah hari saya nongkrong sambil nenteng kamera, tapi tidak sekalipun ambil gambar. Saya justru lebih sibuk mengikuti gerak mereka menggunakan monokuler.




Di mata saya, monyet-monyet itu lucu dan sedikit menggemaskan, selama tidak lupa selalu waspada. Meleng sedikit, siap-siap saja ada barang tentengan pindah tangan. Pernah saya alami, tas kresek berisi sampah tisu dan bungkus bekal yang saya letakkan dekat kaki, amblas di bawa kabur. Geli, pengin ketawa, sekaligus iba, ketika melihat tas itu akhirnya dilempar dari atas pohon di kejauhan, setelah isinya diobok-obok.

Hari itu hutan wisata masih sepi orang. Setelah berkeliling beberapa saat, saya nemu spot bagus untuk mengabadikan aktifitas monyet-monyet di  pohon maupun di tanah tanpa terganggu lalu lalang pengunjung, cukup mendapat sinar matahari sekaligus tidak nantang back light.   

“Haloooo, pagiiiii. Mau kacang?” Saya melempar umpan, memancing beberapa ekor mendekat.

Belakangan saya baru tahu, memberi makan saat sepi pengunjung adalah tindakan sembrono. Ketika umpan habis,  yang datang belakangan dan belum kebagian, menjadi marah. Dua ekor berbadan besar, mbeker, pamer gigi sambil mondar mandir di sekitar saya.

Beruntung, tidak lama kemudian pengunjung mulai berdatangan, nyebar makanan pula. Monyet-monyet yang sempat berkerumun di sekitar saya langsung bubar, memburu makanan yang di tebar di beberapa tempat.

Lega. Saya bisa mulai jeprat-jepret.

Suatu saat, ketika sedang asyik nginceng monyet pacaran di atas pohon, bahu saya didorong lumayan keras.

“Siapa kasih kamu ijin ambil foto kami?”

Sebentar, jangan salah paham ya, yang mendorong dan negur saya orang, bukan monyet. Badannya kecil, wajahnya tidak terlihat galak tapi ada kesan dipaksa sangar.

Kaget, merasa tidak motret orang, dan sedikit geli melihat wajah yang dibuat galak, saya sempat terbengong saja ketika dimaki-maki. Tapi kemudian saya sadar situasi, lalu saya persilakan orang itu melihat semua hasil jepretan saya di kamera. Kebetulan sore sebelumnya kartu memorinya saya format, jadi yang tersimpan hanya foto-foto di hutan wisata itu saja.

Setelah melihat semua foto, orangnya bertanya, “Cuma ini?”

“Iya”

“Tapi kameramu mengarah ke kami.” Orang itu menunjukkan beberapa foto di ponselnya, terlihat saya sedang ngintip kamera dengan lensa mengarah kerumunan keluarganya.

Kembali saya arahkan kamera menuju kerumunan, lalu saya zoom sampai mentok. “Silahkan dilihat lagi.” 

Lalu saya lanjut menjelaskan, “Ini kamera prosumer. Dengan focal length 2000mm, lensa mengarah ke sebuah obyek tidak selalu menyebabkan obyek itu masuk frame.”

Yang terlihat di layar LCD memang bukan orang, melainkan seekor monyet yang bertengger jauh di  pohon. Biar puas, zoom saya kurangi perlahan sampai beberapa orang terlihat di layar LCD.

“Oooooo …….”

Sumpah, melihat wajah polosnya yang rada-rada ndesit, saya sama sekali tidak punya rasa pengin marah. Jadi, ketika dia ngajak salaman sambil pringas pringis, sayapun menganggap urusan selesai.

“Sing difoto munyuk!” Sambil berjalan, orang itu berteriak ke arah keluarganya. Sebenarnya saya kebelet ketawa, tapi saya tahan-tahan, ketimbang jadi masalah lagi.


Related Post:
1. 
Ketika Tubuh Menggigil, Pikiran Berkelana dan Nyali Menyusut
2. Pasukan Elite Penjaga Rumah

18 Mei 2021

Ketika Tubuh Menggigil, Pikiran Berkelana, dan Nyali Menyusut

 


Kalau tidak salah hitung, sudah 7 hari saya ngantor tanpa aktivitas apa-apa, selain bengong mikir order mampet dan tengok-tengok komputer, berulangkali melakukan simulasi finansial seandainya pandemi berlangsung sampai Juni 2020. Tapi selalu berujung kopong.

Ternyata tidak melakukan apa-apa lebih melelahkan, terutama ketika penjualan mampet, sementara karyawan tetap harus digaji.

Di luar, kabar tentang covid 19 semakin simpang siur. Beberapa orang berusaha menekan pemerintah supaya lock down nasional, sebagian lagi ngumbar cerita betapa mengerikannya covid di belahan dunia sana: rumahsakit penuh, bahkan ada video Youtube menayangkan kondisi di Equador, mayat korban covid bergelimpangan di jalan.

Lalu tiba-tiba saya merasa meriang, mata panas, tenggorokan perih, badan pegel-pegel …….  Gejala seperti ini sebenarnya sudah langganan saya sejak muda. Bisa akibat telat ganti baju sehabis kehujanan, bisa juga karena sering telat tidur. Biasanya satu porsi nasi diberi kuah bakso pedes dan sedikit tidur siang sudah cukup untuk membuat badan kembali segar, tapi kali ini dibantu paracetamol sampai 4 kali minum, tidak ngefek. Bahkan hari berikutnya lidah saya mati rasa.

Saya terinfeksi Covid?

Saya bukan pemberani, bahkan cenderung gampang takut, sering deg-degan oleh kejadian sepele, tapi belum pernah ciut nyali. Kali ini saya benar-benar ketakutan.

Apakah saya mulai takut mati? Entahlah. Selama ini saya punya pemahaman, mati tidak lebih dari tidur dan tidak bangun lagi, dan saya tetap meyakini seperti itu. 

Belum rampung mikir, lidah mati rasa. Setelah itu saya sadar tidak bisa membaui aroma wedang kopi.

Blaen ………

Selain saya, di kantor masih ada 3 lagi yang masuk kerja. Direktur pemasaran dan dua staff administrasi. Kami baru saja menyelesaikan SPT tahunan, dokumen-dokumen yang semula dibongkar dari lemari arsip, digunakan sebagai rujukan menyusun SPT, belum seluruhnya disimpan kembali. 

Perlahan saya mlipir dari ruang kantor. Saya tidak ingin nulari orang lain.

Sebenarnya saya pengin pulang. Dalam kondisi meriang berat biasanya selain nasi berkuah bakso dan teh anget, berada dekat istri membuat saya lebih nyaman. Tapi kali ini saya tidak punya nyali untuk langsung pulang.

Barangkali lantaran terlalu sering melihat saya sentlap sentlup dan demam (pernah sebulan pilek sampai 3 kali dan pernah juga setahun flu sampai lebih dari 10 kali), istri saya santai saja ketika saya pulang dengan kondisi berantakan :Mata merah, sentlap-sentlup, wajah kuyu. Bahkan dia tetap santai ketika saya menetapkan protokol covid di rumah. Anak dan istri tinggal di rumah induk, sementar saya mengungsi di kamar belakang. Keluar dan masuk rumah melalui pintu butulan yang selama ini jarang dibuka.

Kenapa tidak langsung ke dokter?

Gejala covid sangat mirip dengan kondisi saya saat itu. Saya tidak mau nantang resiko masuk karantina. Cerita seputaran karantina yang sempat saya dengar tidak ada enaknya. Disamping itu, saya tidak mau mati jauh dari anak dan istri. 

Lagipula, saat itu pengetahuan tenaga medis terhadap covid tidak beda jauh dengan saya, sama-sama tidak tahu. Seandainya saya terinfeksi, menurut saya akan lebih aman kalau saya tangani sendiri, ketimbang pasrah pada orang lain. Sama-sama buta covid dan sama-sama trial and error, saya lebih suka memilih menghadapi resiko dengan cara sendiri, ketimbang menggantikan peran tikus percobaan di tangan dokter.

Biasanya saya aleman. Demam dikit, tiduran. Nasi kuah bakso pedes dan teh anget selalu tersedia kapanpun saya mau. Sekarang saya bahkan tidak berani minta apapun. Saya tidak mau anak atau istri mondar-mandir di sekitar kamar.  

Malam pertama sejak memutuskan isolasi, menjadi malam yang berat bagi saya. Jam berapa, embuh, saya terbangun,  menggigil. Selimut tidak mempan, bahkan sampai nyelip di bawah bed coverpun tetap kedinginan. Sambil menahan dingin saya berusaha tidur, tapi yang terjadi kemudian justru pikiran saya kacau.

Antara tidur dan masih terjaga, saya merasa berada di tempat lain dengan kejadian-kejadian yang tidak jelas. Terakhir yang bisa saya ingat, saya rebutan botol minum, lalu terjengkang.

Ternyata saya jatuh beneran dari tempat tidur. Saya terkapar di lantai, masih menggigil. Sebelum kembali naik tempat tidur, saya melihat bayang-bayang botol air minum (mata saya minus lebih dari 10, tanpa kacamata, apapun hanya terlihat sebagai bayangan). Saya memaksa diri meraih botol, lalu menenggak isinya yang cuma tinggal separo, sampai habis.

Sesaat saya teringat, sejak awal demam saya jarang minum. Padahal biasanya dari pagi sampai siang saja selalu habis air putih satu botol ukuran 1,5 liter.

 Jangan-jangan saya dehidrasi!   

Saya paksa berjalan menuju galon air minum di ruang makan. Tidak jauh, dari kamar hanya sekitar 2 atau 3 meter, tapi butuh perjuangan keras untuk mencapai tempat itu. Apalagi setelah minum 2 gelas air hangat, tak lama kemudian kebelet pipis.

Seandainya tidak sedang pandemi, tentu tidak perlu sengsara seperti itu. Saya bisa minta dibuatkan teh anget dan tetap kemulan di tempat tidur. Tapi ada manfaatnya juga, kuwatir menularkan covid membuat saya terpaksa tegar.

Saya sempat demam tiga hari, meskipun menggigilnya hanya pada malam pertama. Dua hari berikutnya saya memaksa diri keluar rumah. Saya punya kebiasaan buruk, kalau merasa tidak enak badan lalu hanya tiduran saja, tambah lama malah jadi parah.

Jadi, saya memaksa diri kembali pada aktifitas rutin, nyapu halaman, ngopeni kucing dan babat-babat tanaman karena kebun mulai terlihat gondrong. 

Hari ke empat saya ngantor lagi, bukan karena ada pekerjaan, tapi ketika buka WAG kantor, driver yang jago mijet sedang main ke kantor. 

Apakah setelah dipijet, sembuh? Lha embuh. Pegel-pegel dan sumengnya masih terasa, tapi sakit kepalanya ilang. Lebih enak dianggep sembuh saja, karena saya kepengin makan rujak es krim. 

Sebenarnya saya sedang diet. Berpantang karbo, gula, dan semua yang mengandung kuning telor, tapi bolehlah sekali-sekali dietnya libur. Terutama kalau lagi jauh dari dua satpam saya (anak dan istri).

Belum lagi habis satu mangkok es krim, hidung saya sudah sentlap-sentlup. Memang sering begitu, artinya butuh satu mangkok kuah bakso pedes, supaya tidak berlanjut banjir ingus. 

Lalu, apakah saya kena covid atau hanya demam biasa? Bodo amat. Yang penting karantina mandiri  tetap jalan, biar tidak nulari orang.


Related Post:
1. Tawa, Pisuhan dan Kenangan yang Tersisa
2. Foto Keluarga

12 Februari 2021

Tawa, Pisuhan, dan Kenangan yang Tersisa


Beberapa teman seumuran mengeluh, meskipun dekat anak dan cucu, hidup terasa lebih sepi. Kesempatan ketemu teman dekat berkurang akibat fisik sudah tidak mampu lagi diajak dolan jauh.

Saya tidak bisa memberi solusi karena sejak muda saya lone wolf, tidak dekat secara emosi dengan siapapun kecuali anak dan istri. Saya berteman dengan siapa saja dalam derajad sama, hanya teman., tidak ada  sahabat. Kalaupun ada beberapa yang sering ketemuan, dolan bareng, gojeg kere, pisuh-pisuhan, ya hanya sebatas kenal kebo, tidak lebih

Saya tidak memilih menjadi lone wolf, saya jalani saja sesuai perasaan. Disamping itu, saya tidak terlalu suka terlibat dalam urusan pribadi orang lain. Begitu pula sebaliknya, saya tidak suka seseorang nyelonong begitu saja ke dalam ranah pribadi saya, terutama urusan agama.

Terbiasa sendiri, ketika  kesempatan dolan menjadi berkurang di masa pandemi, saya tidak kehilangan siapapun, karena saya bisa menemukan teman lain di manapun dalam jangkauan fisik.

“Bedalah, teman yang cuma sekedar kenal dengan teman yang beneran care padamu.”

“Iya, waktu muda saya pernah punya, tapi saya kurang suka pada orang yang memberi perhatian dengan cara seperti itu.”

“Berarti jiwa sosialmu bermasalah.”

“Mungkin”

Seperti terhadap teman-teman lain, dengan orang ini saya cuma kenal kebo. Tapi entah kenapa, saya tidak perduli saat dia ngrusuhi ranah pribadi saya. Dan ketika dia,  saya panggil Gembul karena ukuran badannya yang extra large,  meninggal, ternyata saya merasa kehilangan.

Hampir setahun tidak ada lagi yang menyapa saya “Jek orep tah?”. Ketika saya melanggar diet, tidak ada lagi yang protes “Manganmu ngawur kok gak matek-matek?”.

Tidak ada lagi yang ngakak di telepon ketika mendengar kabar saya lari terkencing-kencing saat mendengar suara guguran Merapi atau saat saya uring-uringan ketika menerima surat cinta dari DitJend Pajak. 

Tidak ada lagi yang misuh, “Wedhussss!!!” Ketika dia menyuruh saya mulai rajin ibadah, “golek dalan padang”, lalu saya tunjukkan senter 6000 lumens sambil berujar, "Pakai snter ini mosok kurang padang?" karena ternyata senter miliknya menyala lebih terang. 

Selama pandemi 2020 saya punya banyak waktu luang. Ketimbang gabut, sekaligus menjajagi peluang bisnis baru, saya menjadi kurir belanja. Saya menerima order dari siapa saja yang butuh belanja tapi takut keluar rumah. Gembul menjadi salah satu pelanggan tetap saya.

Sebenarnya Gembul memberi order bukan karena butuh dibantu belanja, tapi sebagai pelampiasan sebel lantaran tahu saya bisa bebas keluyuran, sementara dia bahkan tidak diijinkan ke luar rumah sama sekali. Selain belanjaannya sering seenak udel, setiap kali saya datang mengantar belanjaan, dia selalu ngotot minta diijinkan ketemu. Maka, sebelum Gembul keluar, saya terpaksa menjalani ritual pembersihan badan terlebih dahulu. Disembur desinfektan, disuruh mengenakan jas lab yang selalu tersedia  untuk saya, dan mengganti masker. 

“Wong ndableg ngene iki lho, gak ketularan kopit, gak matek.” Gembul protes pada anak dan mantu yang menyekap dia sejak awal pandemi

Setelah itu giliran saya pula kena sembur,  “Tulung kau ikat anak dan mantuku di pohon.”

Saya berpaling ke arah menantu yang sedang momong bayi, “mBak, mertuamu ajaken jalan-jalan po-o?”

“Jancuk!!! Padakno kirik, dijak mlaku-mlaku”

“Ya gosah dicancang.”

“Pudel punya Mey Mey nek dijak mlaku-mlaku yo gak kathik ditaleni, cuuukkk!”

Berlagak bego, saya plesetkan pudel menjadi udel (puser), “Lah opo udelnya Mey Mey ditaleni?”

“nDuk ……” Gembul berteriakk ke arah menantunya, “Lain kali kalau bedhes satu ini datang gak usah disuguhi, tambah nemen budhege.”

“Kalau enggak disuguhi, ngapain aku ke sini?”

“Lek kamu gak ke sini, terus siapa sing tak pisuhi, wong kancaku yang berani klayaban cuma kamu?” 

Ketika PSBB berakhir dan semua orang mulai keluyuran, Gembul kembali sibuk dengan sepedanya. Sayapun kembali menjadi lone wolf yang merdeka tanpa diganggu telepon lebay si Gembul yang kebanyakan sambat, karena bosen jadi tahanan rumah.

Suatu saat Gembul ngajak tiga teman gowesnya nekad nyusul ketika saya sedang motret Merapi di Kalitalang. Sebenarnya mereka sudah beberapa kali bersepeda sampai bukit Klangon, masalahnya, meskipun diukur dari puncak Merapi posisi Kalitalang lebih di bawah ketimbang Klangon, tapi rutenya lebih terjal.  Sementara rombongan bocah tua seukuran karung beras 100 kilo itu sama sekali tidak kenal medan.

Menjelang pos Balerante akhirnya Gembul menyerah. Dia bengak-bengok di telepon. Sayapun turun menjemput.

“Bedheeessss!!!! Ternyata kamu naik motor?” Gembul muring-muring. Raut mukanya morat-marit antara jengkel dan ngap-ngapan.

“Lha rumangsamu?”

Saya telepon anak mbarep Gembul, “Bapakmu temangsang di Balerante.”

Gegerlah semuanya. Istri, anak, mantu, bayi dan sopir, sak rombongan nyusul ke Balerante.

“Tak kira si Doel peyot itu naik sepeda. Mosok dia kuat aku enggak?” Gembul berdalih ketika semua orang ngomel bergantian.

Tidak disangka, itu adalah pertemuan terakhir kami. Beberapa hari kemudian Gembul telepon, pamit ke Jakarta, “Nengok cucu.” Tapi setelah sempat mampir Rumahsakit, dia tidak pernah pulang. 

Sejak saat itu, setiap kali menuju Kalitalang saya selalu berhenti sesaat di tempat Gembul pernah ndheprok.

Saat itu, sambil nunggu jemputan tiba, saya bercerita banyak tentang Kalitalang.

“Kamu punya tempat bagus untuk ngadem, kenapa nggak pernah cerita?”

“Kapan-kapan kita camping di sana.”

“Bisa?”

“Yup.”

“Angker?”

“Setan mana berani sama kamu!”

 “Kalau gunungnya mbledhos?”

Gembul pringas-pringis ketika saya melotot.


********

Terimakasih mBul, untuk sesaat kamu sudah memberi warna lain dalam hidupku.


Related Post:
1. Teman dari Kaki Merapi
2. Ketika Tubuh Menggigil, Pikiran Berkelana dan Nyali Menyusu