Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan

28 Oktober 2025

Cerita Pedagang Jamu Kopdar Fotografi

 

Closeup puncak Merapi dari Bronggang

Di salah satu kopdar kecil penggemar fotografi, kehadiran saya sangat mencolok. Selain paling tua, saya nggendong back pack volume 45 liter – berisi bekal komplit, tripod terikat di bagian bawah dan matras kecil nyelip di bagian atas, saya nyangklong tas kamera ukuran jumbo dan nenteng kursi lipat. Mirip pedagang obat keliling di alun-alun jaman dulu – segala perabotan diangkut. Tinggal dilengkapi toa, dan saya bisa langsung jualan jamu.

Begitu acara berburu obyek dimulai, dua kamera saya langsung bikin heboh. Bukan lantaran antik atau mahal, melainkan karena ukurannya terlalu besar untuk untuk jaman di mana kamera mirrorless dan ponsel pintar sudah jadi raja.

Canon 650Dnya masih mending. Meskipun sudah jadul, posturnya tidak gede-gede amat. Tapi kamera satunya, Nikon P900, kalau diletakkan jejeran dengan kamera mirrorless, mirip bulldog duduk sebelahan anak kucing.

“Ih, gede amat.” Tiba-tiba salah satu teman kopdar, gadis seumuran mahasiswa, nyeletuk. Suasana langsung riuh, menanggapi kalimat yang kemudian sengaja dipelesetkan.

“Eeeehhh, maksud gua kameranyaaaa!!!!” si bocah berusaha meluruskan pikiran penceng orang-orang, tapi yang terjadi kemudian, malah membuat yang lain jadi semakin iseng. 

Ketika jari lentiknya menggeser tombol zoom, dan dia melihat lensa modot – menjulur panjang, mulut imutnya spontan nyeplos, “Laahhh, pan ……ja …… nggg”. Meskipun, setelah sadar, suaranya buru-buru dipelankan, semua terlanjur ngakak.

Saya masih menggunakan kamera jadul bukan karena sok klasik, melainkan murni soal realisme finansial dan logika. Pindah ke mirrorless butuh dana tidak sedikit. Beli body saja mungkin masih bisa diusahakan. 

Masalahnya, kalau sudah terlanjur gatel tangan seperti saya, tidak bakal puas hanya menggunakan lensa 18-55mm. Minimal,  harus tersedia pula lensa fix 50mm f 1.8 dan tele 70-300mm. Apesnya, mirrorless idaman tidak kompatibel dengan koleksi lensa saya. Ketimbang buang duit dan nanti malah menyesal, mending belanjanya ditunda dulu.

Selain DSLR, saya masih setia pada kamera prosumer. Sebelumnya saya memakai FujiFilm HS 10, yang memiliki optical zoom sampai 30 kali, atau setara 720mm. Tahun 2017, saya ganti dengan Nikon P900. 

Saya memilih kamera “pemburu bulan” ini, selain harganya tidak membuat saya diomelin istri, zoomnya yang bisa mentok sampai  80 kali atau setara 2000mm, membuat P900 mampu memotret permukaan bulan sama jelasnya dengan melihat mangga di atas meja.




Tapi bukan bulan yang jadi obsesi saya — melainkan puncak Merapi. Entah kenapa, puncak yang hanya berwujud bongkahan batu itu selalu membuat saya penasaran. Dengan kamera HS10 sebenarnya sudah bisa mendapatkan foto closeup puncak. Tapi, dengan zoom hanya 30 kali, saya harus motret pada jarak relatif dekat. Banyak detail puncak bagian atas, yang hanya nampak dari jauh, tidak terlihat di kamera.

Sejak beralih ke P900, segalanya berubah.  Saya bisa motret closeup puncak dari atas sabo dam Bronggang, yang berjarak sekitar 15km dari kawah Merapi, dengan detail yang tajam dan jernih. 

Disamping tidak perlu menempuh jarak lebih jauh sampai kaki gunung, selisih 10an km membuat saya puya lebih banyak peluang ketemu momen ketika puncak belum tertutup awan. Dan tidak perlu buru-buru ngacir saat Merapi mendadak erupsi freatik.

Sekarang seri P900 punya adik P1000, dan yang terbaru P1100. Zoomnya lebih mantap, bisa sampai 125 kali atau setara 3000mm. Bahkan P1100 punya fitur khusus untuk bird watching dan motret kembang api. Sempat pengin ganti, tapi ternyata harganya lebih mahal ketimbang motor bebek baru.

Kadang saya berpikir, kamera hanyalah perpanjangan dari cara saya memandang hidup. Menggunakan perangkat baru atau lama, hasilnya tergantung orang di balik lensa. 

Kamera jadul saya memang kalah canggih dari mirrorless modern, tapi mereka sudah menampung banyak cerita di lapangan, tawa di kopdar, keheningan di sabo dam, dan rasa takjub tiap kali memandang Merapi

Mungkin benar kata pepatah: “Lensa boleh tua, mata harus tetap tajam.”
Dan selama mata ini masih mampu melihat keindahan dalam hal-hal sederhana—seperti batu di puncak gunung atau senyum spontan seorang teman—maka kamera apa pun yang saya pegang akan tetap mampu bercerita.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri WOLES ZONE

21 Juli 2021

Foto Keluarga

 Kagol lantaran kabut yang menutup Merapi menjadi semakin tebal, saya memutuskan pindah tempat, mencari obyek foto lain. 

Setelah cukup lama ngider tanpa tujuan, tiba-tiba saya teringat monyet-monyet di hutan wisata Telaga Putri. Sejak Merapi erupsi 2010 saya sudah beberapa kali berkunjung ke sana. Dua kali bersama anak dan istri, selebihnya sendiri. Suasananya tidak seindah ketika air terjum masih ngalir (embuh tahun berapa). Pada kunjungan pertama pasca 2010, di bagian atas bukit terlihat banyak pohon gundul, sisa tersengat wedhus gembel. 

Sejak air terjun mampet, hanya monyet yang membuat saya masih berkunjung ke sana. Saya suka memperhatikan polah tingkah kerabat jauh itu. Pernah nyaris setengah hari saya nongkrong sambil nenteng kamera, tapi tidak sekalipun ambil gambar. Saya justru lebih sibuk mengikuti gerak mereka menggunakan monokuler.




Di mata saya, monyet-monyet itu lucu dan sedikit menggemaskan, selama tidak lupa selalu waspada. Meleng sedikit, siap-siap saja ada barang tentengan pindah tangan. Pernah saya alami, tas kresek berisi sampah tisu dan bungkus bekal yang saya letakkan dekat kaki, amblas di bawa kabur. Geli, pengin ketawa, sekaligus iba, ketika melihat tas itu akhirnya dilempar dari atas pohon di kejauhan, setelah isinya diobok-obok.

Hari itu hutan wisata masih sepi orang. Setelah berkeliling beberapa saat, saya nemu spot bagus untuk mengabadikan aktifitas monyet-monyet di  pohon maupun di tanah tanpa terganggu lalu lalang pengunjung, cukup mendapat sinar matahari sekaligus tidak nantang back light.   

“Haloooo, pagiiiii. Mau kacang?” Saya melempar umpan, memancing beberapa ekor mendekat.

Belakangan saya baru tahu, memberi makan saat sepi pengunjung adalah tindakan sembrono. Ketika umpan habis,  yang datang belakangan dan belum kebagian, menjadi marah. Dua ekor berbadan besar, mbeker, pamer gigi sambil mondar mandir di sekitar saya.

Beruntung, tidak lama kemudian pengunjung mulai berdatangan, nyebar makanan pula. Monyet-monyet yang sempat berkerumun di sekitar saya langsung bubar, memburu makanan yang di tebar di beberapa tempat.

Lega. Saya bisa mulai jeprat-jepret.

Suatu saat, ketika sedang asyik nginceng monyet pacaran di atas pohon, bahu saya didorong lumayan keras.

“Siapa kasih kamu ijin ambil foto kami?”

Sebentar, jangan salah paham ya, yang mendorong dan negur saya orang, bukan monyet. Badannya kecil, wajahnya tidak terlihat galak tapi ada kesan dipaksa sangar.

Kaget, merasa tidak motret orang, dan sedikit geli melihat wajah yang dibuat galak, saya sempat terbengong saja ketika dimaki-maki. Tapi kemudian saya sadar situasi, lalu saya persilakan orang itu melihat semua hasil jepretan saya di kamera. Kebetulan sore sebelumnya kartu memorinya saya format, jadi yang tersimpan hanya foto-foto di hutan wisata itu saja.

Setelah melihat semua foto, orangnya bertanya, “Cuma ini?”

“Iya”

“Tapi kameramu mengarah ke kami.” Orang itu menunjukkan beberapa foto di ponselnya, terlihat saya sedang ngintip kamera dengan lensa mengarah kerumunan keluarganya.

Kembali saya arahkan kamera menuju kerumunan, lalu saya zoom sampai mentok. “Silahkan dilihat lagi.” 

Lalu saya lanjut menjelaskan, “Ini kamera prosumer. Dengan focal length 2000mm, lensa mengarah ke sebuah obyek tidak selalu menyebabkan obyek itu masuk frame.”

Yang terlihat di layar LCD memang bukan orang, melainkan seekor monyet yang bertengger jauh di  pohon. Biar puas, zoom saya kurangi perlahan sampai beberapa orang terlihat di layar LCD.

“Oooooo …….”

Sumpah, melihat wajah polosnya yang rada-rada ndesit, saya sama sekali tidak punya rasa pengin marah. Jadi, ketika dia ngajak salaman sambil pringas pringis, sayapun menganggap urusan selesai.

“Sing difoto munyuk!” Sambil berjalan, orang itu berteriak ke arah keluarganya. Sebenarnya saya kebelet ketawa, tapi saya tahan-tahan, ketimbang jadi masalah lagi.


Related Post:
1. 
Ketika Tubuh Menggigil, Pikiran Berkelana dan Nyali Menyusut
2. Pasukan Elite Penjaga Rumah