02 Desember 2025

Otak Membutuhkan Target yang Jelas dan Terukur

Salah satu teman hunting foto mengeluh, “Sudah Desember lagi dan kita masih begini-begini saja.” 

Pensiunan 2019 dari salah satu BUMN makmur itu menarik lipatan  kertas dari slender wallet berlogo LV. Di kertas itu tertulis beberapa target yang ingin dicapai tahun 2025, dan menurutnya, semua luput. Salah satu target yang sempat saya baca: Hidup tenang.

Sambil tetap memperhatikan LCD kamera, saya menanggapi singkat, “Kamu, bukan kita. Aku baik-baik saja.”

Begitu mulut saya mingkem, dia langsung nyaut, “Umurmu 64, terpaksa kembali mengais recehan, kamu merasa baik-baik saja?”  

Saya berpaling dari kamera, memandang wajah tuanya yang kinclong dan terawat. “Setelah ngebut di jalan tol, di luar gerbang ketemu macet sampai tidak bisa gerak, apakah sambat membuat jalan langsung lega?”

“Lalu kamu menyerah begitu saja?”

“Aku menyesuaikan diri dengan irama, sambil menunggu peluang.”

“Peluang dibuat, bukan ditunggu.”

Saya tidak menjawab. Jauh di depan ada momen indah yang tak boleh dibiarkan berlalu tanpa diabadikan. 

Meskipun kamera prosumer saya kurang ideal untuk motret beruntun, dengan sedikit repot, saya berhasil motret seekor monyet betina mengendong anak sedang melompat di antara pohon.  

“Peluang seperti ini hanya bisa ditunggu” Saya tunjukkan hasil jepretannya.

Setelah memperhatikan pohon tempat monyet melompat, ternyata lumayan jauh dari tempat kami duduk, dia bertanya, “Bagaimana kamu bisa melihat ada monyet di sana?”

“Karena aku menunggu. Ketika otak diberi target, mata minus 16 bukan lagi masalah untuk mendapatkan obyek menarik di luar jangkauan.”

Barangkali tidak terima, lantaran merasa perlengkapannya yang lebih mahal dari motor Xmax dikalahkan oleh kamera prosumer tua yang sembilan tahun lalu saya beli 8 juta, dia langsung beraksi. Tapi, setelah beberapa jepretan, ternyata hasilnya tidak seindah harapan.

Komentar saya pendek saja, “You need emotional content”

Dengan sedikit repot melintasi medan yang lumayan sulit, dia menaiki batu besar untuk mendapatkan posisi bidikan lebih leluasa. Tapi hasilnya malah lebih kacau.

Sayapun berlagak Bruce Lee, “Emotional content, not anger.

Setelah dia berhasil menguasai diri, hasil fotonya jauh lebih bagus ketimbang yang bisa saya dapat. Bagaimanapun, kamera prosumer bukan tandingan EOS R5 Mark II.

Sambil menikmati cemilan bekal, saya menyinggung target resolusi yang menurut dia gagal total. 

“Dengan saldo rekening milyaran, ketika kamu menetapkan hidup tenang sebagai target resolusi, kamu seperti membidik pohon di depan hidung menggunakan lensa tele. Daun-daun dan ranting yang masuk frame tidak punya cerita. Ketika kamu membidik seekor monyet, fotomu punya point of view. Hasil jepretanmu lebih mudah dinikmati.”

“Kamu tidak pengin kembali seperti dulu lagi, hidup mapan, tidak harus memburu receh tiap hari?”

“Tentu pengin. Itu sebabnya aku terus belajar, biar kualitas panen kangkungku tambah bagus dan restoran-restoran istrimu tidak keberatan bayar lebih mahal.”

Dia terdiam sejenak, kemudian bicara sambil meringis. “Jadi menurutmu, targetku terlalu luas?”

“Terlalu kabur. Hidup tenang seperti apa yang kamu inginkan? Bebas dari kewajiban? Tidak punya masalah? Tidak ada yang mengganggu?” 

Saya jeda sebentar. “Kamu mestinya bisa hidup tenang. Pensiun dengan uang berlimpah, bisa jalan-jalan kapan saja, semua hobi mahalmu terfasilitasi. Kalau kamu masih merasa gagal, karena kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kamu cari. Seperti motret tanpa subjek yang jelas. Sekedar jepret-jepret sekenanya.”

Dia menatap kamera di tangannya, kemudian mengangguk pelan. “Awal pensiun aku merasa lega, bisa terbebas dari rutinitas, tapi sekarang aku malah bosan. Setiap hari hanya begitu saja. Monoton.”

Kami kembali mengamati pepohonan di depan, menunggu momen berikutnya. Kali ini dengan kesabaran berbeda.

Kita sering merasa gagal bukan karena keadaan buruk, tapi karena sasaran kita kabur. Tanpa tahu apa yang dicari, dompet tebal terasa kosong, waktu luang terasa bising, dan kamera paling canggih pun tak bisa menangkap apa-apa. 

Begitu targetnya jelas, hidup mendadak punya cerita. Dan sering kali, cerita itu muncul dari tempat yang tidak pernah kita duga.


LABEL: BANGKIT DARI ABU

Tidak ada komentar: