Salah satu teman hunting foto mengeluh, “Sudah Desember lagi dan kita masih begini-begini saja.”
Pensiunan 2019 dari salah satu BUMN makmur itu menarik lipatan kertas dari slender wallet berlogo LV. Di kertas itu tertulis beberapa target yang ingin dicapai tahun 2025, dan menurutnya, semua luput. Salah satu target yang sempat saya baca: Hidup tenang.
Sambil tetap memperhatikan LCD kamera, saya menanggapi
singkat, “Kamu, bukan kita. Aku baik-baik saja.”
Begitu mulut saya mingkem, dia langsung nyaut, “Umurmu 64,
terpaksa kembali mengais recehan, kamu merasa baik-baik saja?”
Saya berpaling dari kamera, memandang wajah tuanya yang kinclong dan terawat. “Setelah ngebut di jalan tol, di luar gerbang ketemu macet sampai
tidak bisa gerak, apakah sambat membuat jalan langsung lega?”
“Lalu kamu menyerah begitu saja?”
“Aku menyesuaikan diri dengan irama, sambil menunggu
peluang.”
“Peluang dibuat, bukan ditunggu.”
Saya tidak menjawab. Jauh di depan ada momen indah yang tak boleh dibiarkan berlalu tanpa diabadikan.
Meskipun kamera prosumer saya kurang
ideal untuk motret beruntun, dengan sedikit repot, saya berhasil motret seekor
monyet betina mengendong anak sedang melompat di antara pohon.
“Peluang seperti ini hanya bisa ditunggu” Saya tunjukkan
hasil jepretannya.
Setelah memperhatikan pohon tempat monyet melompat, ternyata
lumayan jauh dari tempat kami duduk, dia bertanya, “Bagaimana kamu bisa melihat
ada monyet di sana?”
“Karena aku menunggu. Ketika otak diberi target, mata minus
16 bukan lagi masalah untuk mendapatkan obyek menarik di luar jangkauan.”
Barangkali tidak terima, lantaran merasa perlengkapannya
yang lebih mahal dari motor Xmax dikalahkan oleh kamera prosumer tua yang sembilan
tahun lalu saya beli 8 juta, dia langsung beraksi. Tapi, setelah beberapa
jepretan, ternyata hasilnya tidak seindah harapan.
Komentar saya pendek saja, “You need emotional content”
Dengan sedikit repot melintasi medan yang lumayan sulit, dia
menaiki batu besar untuk mendapatkan posisi bidikan lebih leluasa. Tapi hasilnya
malah lebih kacau.
Sayapun berlagak Bruce Lee, “Emotional content, not anger.”
Setelah dia berhasil menguasai diri, hasil fotonya jauh
lebih bagus ketimbang yang bisa saya dapat. Bagaimanapun, kamera prosumer bukan
tandingan EOS R5 Mark II.
Sambil menikmati cemilan bekal, saya menyinggung target resolusi yang menurut dia gagal total.
“Dengan saldo rekening milyaran, ketika
kamu menetapkan hidup tenang sebagai target resolusi, kamu seperti membidik
pohon di depan hidung menggunakan lensa tele. Daun-daun dan ranting yang masuk
frame tidak punya cerita. Ketika kamu membidik seekor monyet, fotomu punya
point of view. Hasil jepretanmu lebih mudah dinikmati.”
“Kamu tidak pengin kembali seperti dulu lagi, hidup mapan,
tidak harus memburu receh tiap hari?”
“Tentu pengin. Itu sebabnya aku terus belajar, biar kualitas
panen kangkungku tambah bagus dan restoran-restoran istrimu tidak keberatan
bayar lebih mahal.”
Dia terdiam sejenak, kemudian bicara sambil meringis. “Jadi
menurutmu, targetku terlalu luas?”
“Terlalu kabur. Hidup tenang seperti apa yang kamu inginkan? Bebas dari kewajiban? Tidak punya masalah? Tidak ada yang mengganggu?”
Saya
jeda sebentar. “Kamu mestinya bisa hidup tenang. Pensiun dengan uang berlimpah,
bisa jalan-jalan kapan saja, semua hobi mahalmu terfasilitasi. Kalau kamu masih
merasa gagal, karena kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kamu cari. Seperti
motret tanpa subjek yang jelas. Sekedar jepret-jepret sekenanya.”
Dia menatap kamera di tangannya, kemudian mengangguk pelan.
“Awal pensiun aku merasa lega, bisa terbebas dari rutinitas, tapi sekarang aku malah
bosan. Setiap hari hanya begitu saja. Monoton.”
Kami kembali mengamati pepohonan di depan, menunggu momen
berikutnya. Kali ini dengan kesabaran berbeda.
Kita sering merasa gagal bukan karena keadaan buruk, tapi karena sasaran kita kabur. Tanpa tahu apa yang dicari, dompet tebal terasa kosong, waktu luang terasa bising, dan kamera paling canggih pun tak bisa menangkap apa-apa.
Begitu targetnya jelas, hidup mendadak punya cerita. Dan
sering kali, cerita itu muncul dari tempat yang tidak pernah kita duga.
LABEL: BANGKIT DARI ABU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar