22 Desember 2025

Kepala yang Selalu Rame

Sepertinya, semua masalah yang saya alami bermula dari kepala yang selalu rame tanpa kenal waktu. Enggak perduli mata baru melek, siang, sore, sampai menjelang tidur lagi, ada saja celotehannya.

Kadang baru bangun tidur, mata masih setengah melek, nyawa belum ngumpul, tapi di kepala sudah ada demo akbar. Ada yang sekedar berkomentar, ada yang mengeluh. Yang lain mengingatkan hal-hal yang belum tentu penting tapi maksa masuk. Lengkap dengan nada mendesak, seolah semua harus dibereskan saat itu juga.

Mending kalau sekedar rame seperti pasar malam – masih ada musik, ada lampu warna-warni. Setidaknya ada hiburan. Yang saya alami lebih mirip kejebak di tengah pasar senggol. Selain bising, berdiri diampun badan kena senggol dari segala arah.

Pada saat saya diam, kepala justru lebih puyeng ketimbang ketika saya mengerjakan sesuatu. Diam bengong membuat segala celotehan lebih terasa nendang. Tanpa ada distraksi dari luar, pikiran seolah mendapat panggung spesial untuk mengadakan pertunjukan tanpa jeda

Otak yang pada dasarnya memang kreatif, menjadi semakin produktif menciptakan skenario-skenario seru, tanpa perduli apakah bagi saya skenario itu bermanfaat atau malah kontra produktif. Ada kilas balik percakapan beberapa tahun lalu yang sebenarnya sudah tidak relevan. Ada juga simulasi peristiwa yang belum tentu terjadi, tapi sudah diproduksi dengan detail sinematik lengkap—dari prolog sampai credit title.

Yang sering bikin saya tambah stres bukan ramainya, tapi rasa cemas, kuwatir, bahkan kadang sampai ketakutan, yang muncul setelahnya. Kadang malah sampai kepikiran, jangan-jangan ada yang konslet di dalam. Apakah ini normal? Apakah orang lain juga begini? Atau jangan-jangan hanya otak saya satu-satunya kerja lembur meskipun tanpa dibayar.

Konsultasi dengan AI (Karena Psikolog Mahal)

Tapi, menurut para AI yang saya tanya, kepala rame bukan pertanda buruk. Justru sebaliknya, menunjukkan kalau saya terbiasa mikir, menyimpan banyak pengalaman, dan punya tanggungjawab – untuk jawaban terakhir saya terpaksa sedikit meringis. Apa hubungannya otak yang ngigau macam orang mabok dengan tanggungjawab?

.Ternyata, masih menurut AI, yang membuat saya kedodoran bukan jumlah “suaranya”, melainkan cara saya menanggapi. Bukan soal berapa banyak pikiran yang muncul, tapi seberapa serius saya menganggap setiap pikiran itu sebagai darurat nasional.

Berhubung saya tidak punya referensi lain, ya wis lah, penjelasan AI diterma dulu, ketimbang saya nebak-nebak sendiri, lalu merasa paling benar, padahal kesasar jauh.

Masih menurut AI, meskipun kepala saya selalu kebanjiran berbagai pikiran yang kebanyakan ngaco, tidak berarti saya ikut kacau. Pikiran-pikiran itu hanya salah satu hasil aktivitas otak. Awalnya saya ibaratkan asap kenalpot yang berasal dari proses pembakaran di mesin. Tapi kemudian dikoreksi oleh AI. Mungkin keberatan, pikiran disamakan dengan asap kenalpot yang kotor dan harus dibuang, AI memilih perumpamaan awan.

Mau berwujud gumpalan hitam kelam, bergulung-gulung membawa badai, atau seputih kapas dan merayap pelan, sama sekali tidak berpengaruh terhadap langit di atasnya. Mendung pekat tidak akan membuat langit retak.

Lah iya, bagaimana mau retak kalau sesungguhnya langit tidak pernah ada?

Beruntung saya segera sadar, konsultasi gratisan, gak boleh ngeyel.

Dari Melawan menjadi Membiarkan

Dulu saya sering mencoba mengusir keramaian di kepala itu. Saya suruh diam, saya sangkal, bahkan saya lawan, dengan harapan mereka akan tertib bubar dan meninggalkan kepala saya dalam ketenangan.

Ternyata malah tambah ribut. Macam demonstran bayaran enggak kebagian nasi bungkus.

Sampai suatu hari saya lelah sendiri, lalu berkata dalam hati: “Oh, kalian lagi kumpul? Ya sudah. Silakan.” Bukan dengan nada pasrah, tapi lebih ke... ya sudah, mau bagaimana lagi.

Seperti biasa, pikiran-pikiran itu tambah meriah. Tapi kali ini terasa sedikit beda. Seperti ada jarak. Saya tidak lagi merasa kena tonjok, tapi lebih mirip nonton demo dari kejauhan. Bisa melihat, bisa mendengar, tapi jauh dari resiko kena timpuk.

Apa pun narasi yang muncul—olok-olok saya akan gagal, nyinyiran yang menghakimi, atau ramalan masa depan suram—semua lewat begitu saja. Blas tidak nyenggol. Semakin lama saya perhatikan, justru terasa semakin asyik. Seperti nonton talk show, di mana semua tamu bicara seru, tapi tidak ada kewajiban untuk setuju atau tidak setuju.

Tenang Bukan Karena Sunyi

Saat itulah, untuk pertama kalinya, saya merasakan sesuatu yang berbeda: tenang bukan karena suara hilang, tapi karena saya tidak ikut berisik. Kepala masih ramai, tapi saya tidak lagi menjadi bagian dari kegaduhan. Saya bisa mendengar, tapi tidak harus menanggapi. Bisa melihat, tapi tidak harus bereaksi. Ada jarak tipis yang membuat segalanya terasa lebih ringan.

Sejak saat itu saya tidak lagi menganggap otak saya soak. Kalau kepala sedang ramai, mungkin tanda ada banyak “perangkat” di dalam yang sedang bekerja. Mungkin itu cara otak memproses informasi, mengurai emosi, atau sekadar mengisi waktu luang karena bosan.

Dan mungkin, yang lebih penting, saya tidak perlu memperbaiki apa pun. Yang perlu saya lakukan hanyalah belajar hidup berdampingan dengan segala keramaian itu—tanpa terlalu mengambil pusing, tanpa terlalu percaya, dan tanpa terlalu takut. Karena pada akhirnya, pikiran hanyalah pikiran. Lewat, muncul, hilang lagi. Seperti awan di langit. 


Related Post:
1. Nemu Dunia Baru
2. Pikiran yang Sering Kacau

Tidak ada komentar: