Sepertinya, semua masalah yang saya alami bermula dari
kepala yang selalu rame tanpa kenal waktu. Enggak perduli mata baru melek,
siang, sore, sampai menjelang tidur lagi, ada saja celotehannya.
Kadang baru bangun tidur, mata masih setengah melek, nyawa
belum ngumpul, tapi di kepala sudah ada demo akbar. Ada yang sekedar
berkomentar, ada yang mengeluh. Yang lain mengingatkan hal-hal yang belum tentu
penting tapi maksa masuk. Lengkap dengan nada mendesak, seolah semua harus
dibereskan saat itu juga.
Mending kalau sekedar rame seperti pasar malam – masih ada
musik, ada lampu warna-warni. Setidaknya ada hiburan. Yang saya alami lebih
mirip kejebak di tengah pasar senggol. Selain bising, berdiri diampun badan
kena senggol dari segala arah.
Pada saat saya diam, kepala justru lebih puyeng ketimbang
ketika saya mengerjakan sesuatu. Diam bengong membuat segala celotehan lebih
terasa nendang. Tanpa ada distraksi dari luar, pikiran seolah mendapat panggung
spesial untuk mengadakan pertunjukan tanpa jeda
Otak yang pada dasarnya memang kreatif, menjadi semakin
produktif menciptakan skenario-skenario seru, tanpa perduli apakah bagi saya
skenario itu bermanfaat atau malah kontra produktif. Ada kilas balik percakapan
beberapa tahun lalu yang sebenarnya sudah tidak relevan. Ada juga simulasi peristiwa
yang belum tentu terjadi, tapi sudah diproduksi dengan detail sinematik
lengkap—dari prolog sampai credit title.
Yang sering bikin saya tambah stres bukan ramainya, tapi rasa
cemas, kuwatir, bahkan kadang sampai ketakutan, yang muncul setelahnya. Kadang
malah sampai kepikiran, jangan-jangan ada yang konslet di dalam. Apakah ini
normal? Apakah orang lain juga begini? Atau jangan-jangan hanya otak saya
satu-satunya kerja lembur meskipun tanpa dibayar.
Konsultasi dengan AI (Karena Psikolog Mahal)
Tapi, menurut para AI yang saya tanya, kepala rame bukan
pertanda buruk. Justru sebaliknya, menunjukkan kalau saya terbiasa mikir,
menyimpan banyak pengalaman, dan punya tanggungjawab – untuk jawaban terakhir
saya terpaksa sedikit meringis. Apa hubungannya otak yang ngigau macam orang
mabok dengan tanggungjawab?
.Ternyata, masih menurut AI, yang membuat saya kedodoran
bukan jumlah “suaranya”, melainkan cara saya menanggapi. Bukan soal berapa
banyak pikiran yang muncul, tapi seberapa serius saya menganggap setiap pikiran
itu sebagai darurat nasional.
Berhubung saya tidak punya referensi lain, ya wis lah,
penjelasan AI diterma dulu, ketimbang saya nebak-nebak sendiri, lalu merasa
paling benar, padahal kesasar jauh.
Masih menurut AI, meskipun kepala saya selalu kebanjiran
berbagai pikiran yang kebanyakan ngaco, tidak berarti saya ikut kacau.
Pikiran-pikiran itu hanya salah satu hasil aktivitas otak. Awalnya saya
ibaratkan asap kenalpot yang berasal dari proses pembakaran di mesin. Tapi
kemudian dikoreksi oleh AI. Mungkin keberatan, pikiran disamakan dengan asap
kenalpot yang kotor dan harus dibuang, AI memilih perumpamaan awan.
Mau berwujud gumpalan hitam kelam, bergulung-gulung membawa
badai, atau seputih kapas dan merayap pelan, sama sekali tidak berpengaruh
terhadap langit di atasnya. Mendung pekat tidak akan membuat langit retak.
Lah iya, bagaimana mau retak kalau sesungguhnya langit tidak
pernah ada?
Beruntung saya segera sadar, konsultasi gratisan, gak boleh
ngeyel.
Dari Melawan menjadi Membiarkan
Dulu saya sering mencoba mengusir keramaian di kepala itu.
Saya suruh diam, saya sangkal, bahkan saya lawan, dengan harapan mereka akan
tertib bubar dan meninggalkan kepala saya dalam ketenangan.
Ternyata malah tambah ribut. Macam demonstran bayaran enggak
kebagian nasi bungkus.
Sampai suatu hari saya lelah sendiri, lalu berkata dalam
hati: “Oh, kalian lagi kumpul? Ya sudah. Silakan.” Bukan dengan nada pasrah,
tapi lebih ke... ya sudah, mau bagaimana lagi.
Seperti biasa, pikiran-pikiran itu tambah meriah. Tapi kali ini
terasa sedikit beda. Seperti ada jarak. Saya tidak lagi merasa kena tonjok,
tapi lebih mirip nonton demo dari kejauhan. Bisa melihat, bisa mendengar, tapi
jauh dari resiko kena timpuk.
Apa pun narasi yang muncul—olok-olok saya akan gagal, nyinyiran
yang menghakimi, atau ramalan masa depan suram—semua lewat begitu saja. Blas
tidak nyenggol. Semakin lama saya perhatikan, justru terasa semakin asyik.
Seperti nonton talk show, di mana semua tamu bicara seru, tapi tidak ada
kewajiban untuk setuju atau tidak setuju.
Tenang Bukan Karena Sunyi
Saat itulah, untuk pertama kalinya, saya merasakan sesuatu
yang berbeda: tenang bukan karena suara hilang, tapi karena saya tidak ikut
berisik. Kepala masih ramai, tapi saya tidak lagi menjadi bagian dari
kegaduhan. Saya bisa mendengar, tapi tidak harus menanggapi. Bisa melihat, tapi
tidak harus bereaksi. Ada jarak tipis yang membuat segalanya terasa lebih
ringan.
Sejak saat itu saya tidak lagi menganggap otak saya soak. Kalau
kepala sedang ramai, mungkin tanda ada banyak “perangkat” di dalam yang sedang
bekerja. Mungkin itu cara otak memproses informasi, mengurai emosi, atau
sekadar mengisi waktu luang karena bosan.
Dan mungkin, yang lebih penting, saya tidak perlu memperbaiki apa pun. Yang perlu saya lakukan hanyalah belajar hidup berdampingan dengan segala keramaian itu—tanpa terlalu mengambil pusing, tanpa terlalu percaya, dan tanpa terlalu takut. Karena pada akhirnya, pikiran hanyalah pikiran. Lewat, muncul, hilang lagi. Seperti awan di langit.
Related Post:
1. Nemu Dunia Baru
2. Pikiran yang Sering Kacau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar