Sebelumnya disclaimer dulu: Kalau Anda sedang makan, ada
baiknya tunda dulu niat membaca. Postingan ini punya potensi mampu membuat
masakan chef kaliber Internasional sekalipun ditolak oleh mulut dan perut.
Bagi yang masih bertahan, saya ucapkan selamat membaca.
Saya punya kebiasaan bongkar sampah biologis setiap hari
antara jam 5.30 sampai jam 7. semacam happy hour yang tidak boleh disia-siakan.
Sekali saja berani absen, materi yang tertunda itu bakal marah, lalu akan melampiaskan
dendamnya dua sampai tiga hari kemudian. Repotnya, mereka tidak sekedar mogok
tidak mau keluar, tapi sekaligus memberi pelajaran keras sypaya lain kali saya
tidak lagi main-main dengan kewajiban saya.
Biasanya, setelah lewat jam 7, saya masih diberi toleransi
sekitar satu jam. Semacam kesempatan untuk bertobat. Tapi kalau tetap nekat
mengabaikan, maka sanksi tegas segera diberikan. Bukan sekadar tidak mau
keluar, mereka mulai unjuk rasa.
Entah guling-guling atau lompat lompatan, yang jelas mereka menciptakan
sensasi seolah di bagian ujung lorong bakal terjadi bencana besar. Masalahnya,
ketika akhirnya saya menyerah, lalu duduk di singgasana keramat dengan penuh
harap—bahkan sampai pinggang pegal dan pantat kesemutan—Tidak ada satupun yang
nongol.
Hanya ada kosong dan hening.
Tapi pelampiasan hukuman tidak berhenti sampai di situ. Selain
pendendam, solidaritas mereka ternyata lumayan tinggi. Besok pagiya, kloter
selanjutnya, alih-alih memaksa gerombolan yang sedang mogok segera keluar, malah bergabung. Bersama sama
menciptakan sensasi bakal terjadi erupsi besar. Tapi ketika saya kembali duduk
di singgasana, bahkan sampai satu album orkestra Paul Mauriat rampung, tak
satupun keluar. Yang terjadi kemudian, malah sensasinya ilang.
Saya pikir, mereka lelah, lalu Istirahat. Maka sayapun
berangkat ngantor.
Ternyata mereka hanya mencari momen terbaik untuk menuntaskan
dendam. Saat saya dalam perjalanan, jauh dari rumah, jauh pula dari kantor, di
ujung lorong terjadi gempa tremor dengan intensitas tinggi.
Tentu saja saya kalang-kabut. Lalu lintas sedang padat-padatnya,
sementara motor tua saya tidak mampu diajak adu balap, membuat keringat dingin
sebesar biji jagung spontan berhamburan, mengiring perjuangan saya menjinakkan
tremor supaya tidak keburu terjadi erupsi. Sumpah serapah di sepanjang
perjalanan tidak lagi saya hiraukan. Saya hanya fokus berusaha supaya tidak ada
lava mengalir.
Biasanya perjalanan menuju kantor saya tempuh sekitar 20an
menit. Kali ini bukan hanya terasa lebih lama, tapi memang senyatanya lebih lama.
Perjalanan saya terhalang kereta api. Bukan hanya satu rangkaian, tapi dua
sekaligus berpapasan di depan hidung. Masih ditambah petugas pintunya tidak segera
membuka palang meskipun kereta sudah melintas. Seolah dia solider dengan para
demonstran di ujung lorong.
“Ndang buka-en cuuukkkk!!! Selak mbledhos iki lho.”
Begitu ujung palang sedikit terangkat, saya langsung
menerobos sambil nunduk, lalu melaju secepat mungkin. Tapi apes, setiba di
kantor baru ingat, hari itu tanggal merah. Libur nasional. Buru-buru saya ambil
ponsel dari tas, lalu telepon penjaga kantor, mnta segera dibukakan pintu. Tapi
setelah nyambung, ternyata dia sedang ke bengkel, kemarin memang saya suruh rotasi
ban mobil.
Tidak ingin buang waktu, termasuk sekedar untuk misuh
sekalipun, saya segera tancap gas, pulang. Tremor semakin kuat, intensitasnya
semakin tinggi.
Sampai hari ini saya belum bisa membayangkan bagaimana
kelakuan saya dijalan saat itu. Rel di perlintasan yang terlalu menonjol di
permukaan aspal tidak lagi saya hiraukan. Terobos saja, asal tidak nyungsep.
Saya sempat mendengar beberapa orang ngegas, mengucapkan kata-kata mutiara.
Tapi bodo amat.
Menjelang tiba di rumah, ternyata perjuangan saya tidak dihargai. Bukan keburu erupsi, melainkan tremornya mendadak lenyap begitu saja. Di ujug lorong juga terasa sepi. Tidak ada demo. Tidak ada sensasi apapun. Bahkan setelah beberapa menit saya duduk di singgasana, suasana tetap tenang. Sampai akhirnya saya tahu diri, lalu minta maaf, dan berjanji, lain kali tidak akan mengabaikan happy hour lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar