28 Oktober 2025

Cerita Pedagang Jamu Kopdar Fotografi

 

Closeup puncak Merapi dari Bronggang

Di salah satu kopdar kecil penggemar fotografi, kehadiran saya sangat mencolok. Selain paling tua, saya nggendong back pack volume 45 liter – berisi bekal komplit, tripod terikat di bagian bawah dan matras kecil nyelip di bagian atas, saya nyangklong tas kamera ukuran jumbo dan nenteng kursi lipat. Mirip pedagang obat keliling di alun-alun jaman dulu – segala perabotan diangkut. Tinggal dilengkapi toa, dan saya bisa langsung jualan jamu.

Begitu acara berburu obyek dimulai, dua kamera saya langsung bikin heboh. Bukan lantaran antik atau mahal, melainkan karena ukurannya terlalu besar untuk untuk jaman di mana kamera mirrorless dan ponsel pintar sudah jadi raja.

Canon 650Dnya masih mending. Meskipun sudah jadul, posturnya tidak gede-gede amat. Tapi kamera satunya, Nikon P900, kalau diletakkan jejeran dengan kamera mirrorless, mirip bulldog duduk sebelahan anak kucing.

“Ih, gede amat.” Tiba-tiba salah satu teman kopdar, gadis seumuran mahasiswa, nyeletuk. Suasana langsung riuh, menanggapi kalimat yang kemudian sengaja dipelesetkan.

“Eeeehhh, maksud gua kameranyaaaa!!!!” si bocah berusaha meluruskan pikiran penceng orang-orang, tapi yang terjadi kemudian, malah membuat yang lain jadi semakin iseng. 

Ketika jari lentiknya menggeser tombol zoom, dan dia melihat lensa modot – menjulur panjang, mulut imutnya spontan nyeplos, “Laahhh, pan ……ja …… nggg”. Meskipun, setelah sadar, suaranya buru-buru dipelankan, semua terlanjur ngakak.

Saya masih menggunakan kamera jadul bukan karena sok klasik, melainkan murni soal realisme finansial dan logika. Pindah ke mirrorless butuh dana tidak sedikit. Beli body saja mungkin masih bisa diusahakan. 

Masalahnya, kalau sudah terlanjur gatel tangan seperti saya, tidak bakal puas hanya menggunakan lensa 18-55mm. Minimal,  harus tersedia pula lensa fix 50mm f 1.8 dan tele 70-300mm. Apesnya, mirrorless idaman tidak kompatibel dengan koleksi lensa saya. Ketimbang buang duit dan nanti malah menyesal, mending belanjanya ditunda dulu.

Selain DSLR, saya masih setia pada kamera prosumer. Sebelumnya saya memakai FujiFilm HS 10, yang memiliki optical zoom sampai 30 kali, atau setara 720mm. Tahun 2017, saya ganti dengan Nikon P900. 

Saya memilih kamera “pemburu bulan” ini, selain harganya tidak membuat saya diomelin istri, zoomnya yang bisa mentok sampai  80 kali atau setara 2000mm, membuat P900 mampu memotret permukaan bulan sama jelasnya dengan melihat mangga di atas meja.




Tapi bukan bulan yang jadi obsesi saya — melainkan puncak Merapi. Entah kenapa, puncak yang hanya berwujud bongkahan batu itu selalu membuat saya penasaran. Dengan kamera HS10 sebenarnya sudah bisa mendapatkan foto closeup puncak. Tapi, dengan zoom hanya 30 kali, saya harus motret pada jarak relatif dekat. Banyak detail puncak bagian atas, yang hanya nampak dari jauh, tidak terlihat di kamera.

Sejak beralih ke P900, segalanya berubah.  Saya bisa motret closeup puncak dari atas sabo dam Bronggang, yang berjarak sekitar 15km dari kawah Merapi, dengan detail yang tajam dan jernih. 

Disamping tidak perlu menempuh jarak lebih jauh sampai kaki gunung, selisih 10an km membuat saya puya lebih banyak peluang ketemu momen ketika puncak belum tertutup awan. Dan tidak perlu buru-buru ngacir saat Merapi mendadak erupsi freatik.

Sekarang seri P900 punya adik P1000, dan yang terbaru P1100. Zoomnya lebih mantap, bisa sampai 125 kali atau setara 3000mm. Bahkan P1100 punya fitur khusus untuk bird watching dan motret kembang api. Sempat pengin ganti, tapi ternyata harganya lebih mahal ketimbang motor bebek baru.

Kadang saya berpikir, kamera hanyalah perpanjangan dari cara saya memandang hidup. Menggunakan perangkat baru atau lama, hasilnya tergantung orang di balik lensa. 

Kamera jadul saya memang kalah canggih dari mirrorless modern, tapi mereka sudah menampung banyak cerita di lapangan, tawa di kopdar, keheningan di sabo dam, dan rasa takjub tiap kali memandang Merapi

Mungkin benar kata pepatah: “Lensa boleh tua, mata harus tetap tajam.”
Dan selama mata ini masih mampu melihat keindahan dalam hal-hal sederhana—seperti batu di puncak gunung atau senyum spontan seorang teman—maka kamera apa pun yang saya pegang akan tetap mampu bercerita.


Related Post:
Pasukan Elite Penjaga Rumah

26 Oktober 2025

Digital Dopamin dan Otak yang Lupa Menikmati Proses

Hunting Foto

Belakangan ini saya kembali merasa sedikit malas. Tidak parah, tapi cukup terasa — terutama ketika niat membaca, menulis atau memeriksa laporan pajak mulai kalah oleh dorongan untuk menonton video pendek.

Diantara banyak macam tayangan, ternyata saya paling sering nonton video Dhar mann — video pendek yang punya pola mirip: ada yang bikin onar, lalu kena batunya.

Awalnya saya pikir, saya suka karena ceritanya seru. Tapi lama-lama saya sadar, yang membuat saya ingin selalu nonton, bukan ceritanya, melainkan rasa puas melihat keadilan ditegakkan. 

Sayapun mulai pensaran,  kenapa rasa puas itu begitu kuat? Apakah hanya karena saya butuh hiburan, atau ada sesuatu yang membuat otak suka?

Tanpa perlu diminta, otak memberikan jawabnya: dopamin.

Saya pernah membaca, dopamin bukan sekadar “hormon bahagia”, melainkan zat kimia yang membuat otak merasa “mendapat hadiah”. Setiap kali kita melihat sesuatu yang memuaskan — termasuk orang jahat kena batunya — hormon dopamin dilepaskan. 

Para peneliti menyebutnya justice reward — kepuasan moral yang membuat kita senang ketika keadilan ditegakkan. Jadi bukan cuma tubuh yang senang, moralitas di dalam diri ikut bersorak.

Dhar mann dan banyak konten kreator lain, sepertinya menyadari benar kondisi itu. Mereka menjadikannya sebagai alat untuk mengikat penonton supaya selalu kembali — dan terus kembali menikmati video-videonya, tanpa merasa bosan, meskipun alur ceritanya sama dan mudah ditebak.

Masalah mulai muncul ketika kecanduan itu pelan-pelan menggerogoti semangat saya untuk melakukan aktifitas lain. Bermula dari sekadar menunda, sampai kemudian saya mendapati keadaan kembali seperti dulu: banyak pekerjaan terbengkalai, dan disiplin mulai luntur.

Otak saya rupanya mulai menikmati kenyamanan instan — cukup scroll, tanpa harus berbuat apa-apa, dan  mulai menolak aktivitas yang membutuhkan effort. Semua menjadi terasa berat, terutama karena tidak ada reward instan, dan hasilnya lambat.

Kalau dulu saya menikmati proses — menulis paragraf demi paragraf, memeriksa ulang kata, lalu merasa lega ketika satu tulisan selesai — kini saya lebih mudah terdistraksi. Rasanya seperti otak sedang berkata: “Ngapain repot-repot?”

Tentu saja saya tidak menyalahkan Dhar mann — video videonya memberi pelajaran moral yang baik. Tapi saya sadar, terlalu banyak dopamin instan membuat otak lupa cara menikmati proses yang panjang dan pelan. 

Saya mulai kehilangan minat pada hal-hal yang dulu menenangkan, seperti blusukan hunting foto, membaca di teras sore hari, atau menulis catatan kecil. Sekarang, begitu ada waktu senggang, tangan ini refleks mencari ponsel.

Ternyata fenomena itu tidak hanya menimpa diri saya sendiri. Banyak orang, tanpa sadar, juga mengalami, dan bukan lagi sekedar kecanduan video ala Dharman, melainkan sudah menjadi kecanduan pada perangkat digital. Dari sana lahir istilah digital dopamine,  pelepasan hormon dopamin secara instan di otak, yang dipicu oleh interaksi dengan teknologi dan media digital seperti media sosial, game online, atau notifikasi.

Setelah merenung cukup lama, saya menemukan dua pemicu utama yang membuat saya seperti kecanduan:

1.      1.    Like, komentar, dan notifikasi.
2.    Video viral atau unggahan populer yang memberikan sensasi kesenangan singkat.

Tanpa sadar, akvitas digital membuat otak saya mengalami semacam pemrograman ulang, dan semakin masif setelah saya mulai beralih nonton video pendek. Logika saya menganggap aktivitas itu sekedar iseng saja. Durasinya pendek, dianggap tidak menyita waktu, kontennya ringan, bahkan kadang lucu. 

Saya tidak tahu, bahwa aktivitas pendek, yang dilakukan sambil lalu, tapi berulang dalam frekuensi lumayan sering, justru punya pengaruh lebih dalam terhadap otak.

Ditambah lagi, tema yang random membuat otak menjadi keranjang sampah digital, menampung apa saja, tanpa filter, tanpa skala prioritas. Akibatnya, sulit fokus, sulit tenang, dan semakin sulit menikmati proses panjang yang dulu justru menjadi sumber kepuasan sejati.

Sekarang, meskipun saaya sudah tahu dampaknya, dan berusaha memperbaiki, ternyata tidak gampang. Butuh usaha lebih keras dibanding bangun jam 3.30 pagi.

Saya mulai berpikir, sudah saatnya untuk kembali memperlambat langkah. Berhenti sejenak dari banjir dopamin digital, dan kembali menikmati rasa yang tumbuh perlahan: rasa lega setelah menulis satu halaman, rasa damai menatap langit sore, rasa syukur saat nyeruput kopi tanpa distraksi notifikasi.

Sepertinya, itulah hadiah sejati yang dulu saya nikmati tanpa sadar — bukan dari layar, tapi dari kehidupan yang berlangsung apa adanya.

Lucunya, setelah berpuluh tahun terbiasa menjalani proses, sekarang, saya harus belajar lagi cara menikmati proses yang pelan, dan memberi kesempatan pada otak untuk tenang tanpa diganggu hadiah instan.


LABEL: BANGKIT DARI ABU

19 Oktober 2025

Berdamai Dengan Emosi Berdamai Dengan Diri

Me Time


Setelah membuktikan sendiri bahwa latihan pernafasan dalam mampu mengurangi pegel dan capek, serta membantu tekanan darah saya tetap stabil di kisaran normal, saya mulai penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi di dalam tubuh saya?  Mengapa hanya dengan mengubah cara bernafas dan mengatur polanya, bisa membawa perubahan nyata – sekalipun hanya sedikit.

Rasa penasaran itu kemudian membawa saya pada penjelajahan intelektual yang tak terduga. Dengan bantuan AI, saya menjangkau lebih banyak sumber referensi baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. Tidak hanya mendalami penjelasan lengkap tentang pernafasan dalam, tapi juga diperkenalkan pada konsep grounding — teknik menyatukan diri dengan alam untuk meredakan kecemasan.

Terakhir, saya mendapatkan penjelasan sangat rinci tentang tapping atau Emotional Freedom Techniques (EFT). Terapi yang dulu saya anggap sekadar tren populer berbalut afirmasi manis dan efek plasebo belaka, ternyata memiliki dasar neurologis yang dapat dijelaskan.

Semakin banyak saya membaca dan mencoba, saya semakin mengerti bahwa tubuh dan pikiran ternyata jauh lebih terhubung daripada yang saya kira. Semakin banyak saya membaca dan mencoba, saya semakin mengerti bahwa tubuh dan pikiran ternyata jauh lebih terhubung daripada yang saya kira. Kondisi kesehatan saya yang sekarang bisa dibilang “berantakan” ini, sepertinya bukan semata-mata karena pola makan dan minum yang asal nuruti lidah, atau kebiasaan minum suplemen secara ugal-ugalan. Melainkan karena saya membiarkan tubuh merusak dirinya sendiri melalui emosi yang tidak terkontrol.

Emosi, seperti yang kemudian saya pahami, punya peran luar biasa dominan terhadap kondisi tubuh. Emosi negatif yang dipendam, dan seringkali tanpa disadari, adalah racun yang bekerja secara perlahan. Menggerogoti energi mental, memicu stres kronis, dan pada akhirnya mengacaukan keseimbangan hormon-hormon dalam tubuh. Dampak berantainya, sistem kekebalan tubuh melemah, dan risiko penyakit kronis seperti gangguan jantung, hipertensi, hingga kanker pun meningkat. Bahkan, pikiran yang gelisah dan tak tenang bisa menjelma menjadi gejala fisik yang nyata, seperti gangguan pencernaan (IBS), sakit kepala, atau rasa lelah kronis yang tak kunjung hilang meski tidur sudah cukup.

Pemahaman ini juga membuat saya memandang efek plasebo dari sisi yang baru. Bukan sekadar “khayalan semata”, melainkan respons fisiologis nyata yang dipicu oleh harapan positif. Ketika seseorang sungguh-sungguh percaya bahwa suatu tindakan terapi akan menyembuhkan, otak merespons dengan melepaskan koktail neurokimiawi seperti endorfin, dopamin, serotonin, dan oksitosin, yang secara aktif meredakan nyeri, membuat pikiran lebih tenang, dan menciptakan rasa nyaman secara emosional.

Sekarang saya paham, mengapa dulu dokter memberi saran supaya saya juga konsultasi ke psikolog. Untuk kondisi saya saat itu, pengobatan medis tidak akan banyak memberi manfaat – bahkan kemudian membuat saya semakin jauh dari sehat, karena emosi yang menjadi biang kekacauan belum ditangani dan diperbaiki.

Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali ke dokter, tapi bukan sekarang. Berurusan dengan emosi tidak segampang nyomot tempe dari piring. Tubuh saya yang sudah ringkih ini perlu disiapkan dulu, supaya kuat menerima bantuan dari luar.

Sementara saya belajar berdamai dengan emosi, saya memilih menggunakan pernafasan dalam, grounding dan tapping terlebih dahulu. Bukan untuk sembuh, tapi untuk merawat diri sembari membantu tubuh mendapatkan keseimbangan baru.

Pemahaman terhadap kerja hormon dan keterkaitan emosi terhadap aktifitas otak membuat saya tidak lagi memerlukan afirmasi. Saya tahu, ketika satu titik tertentu di tubuh diberi stimulasi, akan berpengaruh terhadap aktifitas otak, dan menimbulkan reaksi berantai ke seluruh tubuh. Yang perlu saya lakukan hanya tenang, tidak sambat, dan tidak memaksakan sesuatu terjadi. Tubuh punya caranya sendiri. 

Apakah benar Emotional Freedom Techniques (EFT) bisa mengubah nasib? Saya belum berpikir ke arah sana. Untuk saat ini, saya memilih fokus pada kondisi fisik terlebih dahulu.


Related Post:
1. Nemu Dunia Baru
2. Guru dan Kelas SD yang Selalu Ribut

15 Oktober 2025

Antara Kepedulian dan Kerepotan Sosial

Kadang, niat baik orang lain bisa berubah jadi ujian kesabaran — terutama ketika yang disebut “kepedulian” datang tanpa mempertimbangkan situasi yang sebenarnya. Saya baru benar-benar menyadarinya ketika Yuni, istri saya, menjalani masa pemulihan setelah kolostomi dan biopsi.

Ketika mendengar istri saya selesai menjalani “operasi”, banyak teman-teman salah paham. Disangkanya yang dioperasi adalah kankernya, padahal baru biopsi dan kolostomi. Setelah mendengar kabar bahwa Yuni sudah pulang, beberapa langsung berniat menjenguk.

Rencana kunjungan itu sempat membuat saya bingung. Saya tahu niat teman-teman baik, tapi memberi ijin orang menjenguk berarti membuka peluang resiko. Kondisi Yuni belum benar-benar pulih. Pandemi juga belum dinyatakan berakhir – himbauan mengenakan masker dan jaga jarak belum dicabut.

Operasi di bagian bawah membuat Yuni belum bisa duduk. Artinya, saya harus mengijinkan tamu masuk kamar tidur. Kalau hanya satu atau dua orang, mungkin masih bisa diatur. Tapi biasanya, ibu-ibu datang rombongan, dan jam datangnya tidak bisa diprediksi.

Akhirnya saya terpaksa mengambil keputusan yang tidak populer: tidak menerima tamu.

Sebelum ada yang terlanjur datang, saya kabarkan bahwa untuk sementara pasien belum bisa ditengok, karena masih harus mempersiapkan diri untuk operasi besarnya.

Reaksinya beragam. Kebanyakan paham – entah betulan atau basa-basi, saya tidak perduli. Tapi ada juga yang terang-terangan nyinyir. “Orang sakit biasanya senang ditengok. Ini malah tidak boleh. Aneh!”

Ya sudah, bodo amat.

Satu kesulitan bisa diatasi. Tidak ada tamu berkunjung. Bahkan selain teman-teman dekat, tidak ada lagi yang menanyakan kabar. Ada yang bilang, kami mendapat hukuman sosial. Tapi bagi saya, malah kebetulan. Saya dan anak bisa fokus merawat pasien tanpa rangkap tugas menjadi juru bicara. Tidak perlu berulangkali memberi penjelasan untuk hal yang sama pada setiap orang.

Suatu ketika, seseorang menegur saya, menganggap saya mengabaikan perasaan Yuni. “Kamu pikir kelakuanmu itu tidak jadi beban pikiran bagi istrimu? Kamu pikir istrimu tidak malu?”

Saya sempat terdiam.

Tapi lalu saya ingat, ada dua bekas luka panjang. Satu di bagian anus, satu lagi di perut, masih basah – dan tentunya juga perih. Obat pereda nyerinya MST Continus 15 mg, mengindikasikan derajad nyerinya bukan lagi setara sakit gigi.

Selain itu, Yuni juga gampang alergi. Tamu bisa saja tanpa sengaja membawa aroma parfum yang memicu alergi, atau malah debu dan kuman. Jadi, apa yang salah kalau saya melindunginya?

Tapi biar adil, saya bertanya pada Yuni, apakah dia keberatan tamunya saya tolak? Ternyata dia lebih suka kalau istirahatnya tidak diganggu.

Bagi saya, jawaban itu sudah lebih dari cukup.

Belakangan datang lagi ujian kecil dalam bentuk lain. Salah satu teman ngirim bingkisan berupa makanan, lauk, kue dan buah, dalam jumlah besar. Makanan awetan dan buah mestinya bisa masuk kulkas. Masalahnya, dua kulkas di rumah sudah terisi penuh kiriman serupa sebelumnya.

Langsung dimakan habis juga tidak mungkin. Selain jumlahnya terlalu banyak, saya sedang diet ketat, menu makan Yuni juga masih dibatasi. Tinggal anak semata wayang, satu-satunya yang masih bebas makan apapun. Tapi dia terlanjur eneg dijejali kiriman-kiriman terdahulu.

Akhirnya, biar tidak basi lalu terbuang percuma, semua bingkisan itu terpaksa dibagi-bagi ke siapa saja yang bersedia menerima.

Celakanya, entah bagaimana, teman itu tahu. Sayapun disindir habis-habisan di Facebook. Kali ini muka badak saya tidak berdaya mengabaikan teguran hati. Secuek apapun, saya tetap tidak bisa mengabaikan perasaan bersalah. Saya temui dia, saya minta maaf. Tapi sampai hari ini tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Kadang, kepedulian bisa berubah jadi beban, kalau tidak disertai pengertian. Di sisi lain, mungkin saya juga harus belajar menerima kebaikan orang tanpa terlalu sibuk mengatur arah niatnya. Tapi kalau harus memilih, antara menjaga perasaan orang dan menjaga kesehatan istri, saya tetap akan memilih yang kedua. Karena pada akhirnya, empati yang sejati bukan soal datang menjenguk atau memberi bingkisan, tapi mampu memahami kapan harus memberi ruang.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL

14 Oktober 2025

Halaman Kotor dan Pikiran yang Kusut


Kurir paket sempat berjalan beberapa langkah. Mendadak berhenti, balik badan menghadap saya, lalu bertanya, “Bapak percaya apa tidak kalau halaman yang kotor membuat rejeki seret?”

Saya spontan menengok ke sekeliling. Halaman rumah saya memang seperti kapal karam, kotor dan berantakan. Daun-daun kering berserakan, bercampur potongan ranting dan dahan dari pohon yang minggu lalu ditebang. Di bawah pohon mangga, beberapa lembar seng dan atap fiber transparan bekas ganti juga masih teronggok, nyender pagar, seolah menunggu keajaiban untuk menghilang.

Saya mengalami kesulitan membuang sampah-sampah itu. Tukang sampah menolak membawa, meskipun saya menawarkan uang tambahan, dengan alasan motor gebobagnya hanya kecil.

Pertanyaan kurir sempat membuat saya plonga-plongo. Saya tidak tahu arah pertanyaan itu ke mana. Dia hanya nyindir, menegur, atau memang serius?

Tapi entah kenapa, mulut saya malah punya jawaban sendiri: “Sepertinya, kondisi lingkungan rumah adalah cerminan dari batin penghuninya.”

Begitu selesai bicara, saya langsung meringis. Kalimat itu seolah memantul kembali, menusuk saya sendiri.

Penghuninya kan saya?

Kurir itu termenung sejenak, lalu kembali bertanya dengan polos, “Apakah rejeki Bapak seret?”

What the hell …….. Dalam hati saya mengumpat, sekaligus geli. Entah kurir itu lugu atau bego, tapi saya tidak punya alasan untuk merasa diolok-olok.

Penginnya, setiap selesai bersih-bersih, sampah langsung bisa dibuang. Masalahnya, sejak beberapa tahun belakangan, buang sampah tidak lagi segampang era “penak jamanku to?” Dulu tukang sampah ngider tiap hari. Sekarang sebulan diambil 4 kali saja sudah beruntung. Itupun sangat dibatasi. Sampah daun dan ranting ditolak. Apalagi kalau yang akan dibuang komplit dengan dahan yang lebih besar dari lengan orang obesitas.

Lepas dari sulitnya buang sampah, saya tidak akan ngeles bahwa belakangan ini pikiran saya memang sedikit sumpeg tanpa alasan jelas.

Sejak kejadian itu, setiap malam menjelang tidur, saya luangkan waktu untuk mengingat kembali kejadian-kejadian sebelumnya, barangkali ada masalah yang terlewat, sehingga menyebabkan saya merasa sumpeg.

Sepertinya tidak ada. Semua masalah teridentifikasi jelas, dan saya mampu mengalihkan tekanan batin menjadi energi untuk mencari solusinya.

Suatu malam di pertemuan warga kampung, seseorang bertanya, mengapa pohon yang saya tebang tidak segera dibuang? Saya diingatkan kalau tumpukan daun dan ranting yang kering sangat rentan terbakar.

Aaahhh, ternyata ini biang kerok yang menyebabkan saya suntuk. Sudah sejak lama saya kuwatir terhadap resiko itu. Sebagai solusi sementara, setiap hari timbunan daun dan dahan saya guyur air. Rupanya, rasa kuwatir yang saya anggap bisa diatasi itu nyelip di otak, menjadi semacam duri dalam daging. Mengusik ketenangan.

Bila kepentok jalan buntu, saya punya cara sedikit aneh untuk mencari solusi. Saya bayangkan masalahnya sebagai orang yang sedang gusar. Wajahnya muram, matanya menyala-nyala dalam diam.  Lalu saya berkata, “Jangan cuma marah. Bantu aku menyelesaikannya.”

Mungkin terdengar konyol, tapi cara ini sering manjur. Tentu saja solusi tidak datang dalam gagasan utuh dan siap pakai, melainkan berupa petunjuk yang kadang jelas, kadang tersamar. Semacam bisikan halus yang mengarahkan langkah

Kali ini, petunjuk datang lebih cepat dari biasanya.

Setelah membuang bayangan orang marah, saya berniat masuk rumah lewat pintu belakang. Menjelang membuka pintu dapur, saya melihat tas kresek hitam tergeletak di lantai. Saya tidak perlu repot bertanya, siapa yang meletakkan di situ. Biasanya saya sendiri yang lupa memberesi.

Di dalam tas ukuran 5 kilo itu terdapat satu gergaji lipat dan gunting tanaman yang biasa saya gunakan untuk memangkas dahan. 

Seperti kena hipnotis, saya bawa tas dan isinya menuju tumpukan daun dan ranting. Saya jongkok, meraih satu ranting seukuran jempol kaki, membuka lipatan gergaji, lalu memotong ranting menjadi beberapa potongan kecil sepanjang kira-kira dua ruas jari.

Satu ranting selesai dimutilasi, tangan pegel. Tapi justru saat itu saya kesandung “Aha moment”. Mendadak muncul gagasan yang jelas.

Saya bergegas menuju gudang, mengambil gunting dahan elektrik dan karung 25 kiloan bekas kantong beras yang disimpan rapi oleh istri saya. Dalam waktu kurang dari 3 jam, seluruh ranting dan dahan dengan diameter sampai 3 cm sudah terpotong dan teronggok rapi di dalam karung. Daun-daun juga saya perlakukan sama. Dipetik, lalu ditata satu-satu di tas kresek, baru dimasukkan karung. Karena ringkas dan tidak morat-marit, tukang sampah tidak lagi menolak.

Ternyata, kadang solusi bukanlah hal besar yang datang dari langit, melainkan gagasan sederhana yang muncul saat kita berhenti mengeluh dan mulai bertindak.


LABEL: BANGKIT DARI ABU

11 Oktober 2025

Refleksi tentang Keyakinan, Nafas, dan Kesembuhan

pernapasan dalam, tai chi, prana, reiki

Tahun 1975, ketika saya masih kelas 2 SMP, Ibu saya didiagnosa kanker serviks. Di tengah keterbatasan informasi medis dan akses pengobatan modern saat itu, Ibu memilih jalan yang tidak lazim: terapi alternatif.

Barangkali berjodoh, atau memang jalannya begitu, setelah menjalani terapi, penyakit itu seolah tertidur. Tak ada gejala serius, tak ada rasa sakit yang mengganggu. `Baru mendadak serius hampir 20 tahun kemudian, setelah terapistnya – yang kami panggil Rama (kebanyakan orang nulisnya Romo – tapi sama saja), sakit, dan tidak lagi menerima tamu. Seakan ada ikatan tak kasat mata yang putus, dan penyakit itu terbangun dari tidur panjangnya.

Terapinya unik. Ibu hanya diberi dua lempengan karet berbentuk lingkaran yang saling direkatkan, dengan bagian tengah diantaranya diberi beberapa kepingan magnet. Setiap tidur malam lempengan itu harus diletakkan di bawah pinggang. Saya pernah iseng mencoba, rasanya tidak nyaman. Seperti ada tekanan aneh di punggung bawah. Tapi Ibu melakukannya setiap malam, bertahun-tahun, tanpa keluhan apapun. Mungkin karena percaya. Atau mungkin karena tubuhnya memang merespons dengan cara yang tak bisa dijelaskan logika.

Selain diberi lempengan karet dan ramuan nerbal yang harus diminum dua kali sehari, Ibu disuruh mengubah cara bernafas. Bukan lagi nafas dada, melainkan nafas perut. Di saat tertentu, selama sekitar 30an menit dalam sehari, Ibu harus melakukan pernafasan terkendali. Udara ditarik pelan dalam 4 hitungan melalui hidung, ditahan di perut selama 6 hitungan, lalu dihembuskan melalui mulut selama 8 hitungan.

Awalnya iseng, saya ikut melakukan. Setelah beberapa kali latihan ternyata badan terasa lebih enak. Entah sugesti, atau nyata, saat itu saya tidak terlalu perduli. Ketika Rama tahu saya ikut berlatih, saya tidak ditegur, malah diberi pengarahan. Hitungan untuk saya ditambah: Tarik 8 hitungan, tahan 10 hitungan, hembuskan tanpa suara 14 hitungan. Sebelum kembali tarik nafas, jeda dulu 6 hitungan. Lumayan menyiksa, tapi badan memang terasa semakin enak.

Seingat saya, sejak melakukan pernafasan terkendali, saya tidak pernah sakit – sekedar masuk angin sekalipun. Saya baru kembali berurusan dengan dokter setelah Merapi erupsi 2010, ketika badan mulai gampang capek dan sering pegel-pegel. Lebih dari 10 tahun setelah saya berhenti latihan.

Menjelang akhir dekade 80, setelah Rama tidak lagi bisa menerima tamu, Ibu ikut latihan pernafasan di salah satu perguruan silat. Berhubung latihan dilakukan setelah jam 7 malam, Ibu selalu saya antar. Ketimbang cuma bengong nunggu, saya ikut berlatih.

Berbeda dengan cara Rama yang statis dan lembut, latihan di perguruan ini menggunakan gerakan sampai 10 jurus. Lebih berat. Tapi Ibu mampu menjalaninya dengan konsisten. Terbukti, selama hampir 3 tahun berlatih, setiap kali ada ujian, Ibu selalu naik tingkat. Sementara saya, tetap setia di tingkat dasar. Tidak aneh, karena saya tidak pernah beneran serius. Saya lebih cocok dengan cara Rama: diam, tenang, dan dalam.

Setelah Ibu meninggal pada Oktober 91, dan saya semakin sering ke luar kota, saya berhenti berlatih. Malas latihan sendiri.

Oktober 2010, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya berurusan dengan polisi lalu-lintas. Nabrak becak yang sedang berhenti. Bukan karena ugal-ugalan, tapi karena kehilangan kesadaran sesaat. Sejak saat itu, tubuh mulai sering rewel.

Salah satu teman seperguruan menyarankan agar saya kembali berlatih pernafasan. Saya hanya nyengir. Entah kenapa, saya tidak lagi percaya bahwa mengatur nafas bisa memperbaiki kondisi tubuh yang sudah banyak masalah.

Tapi hidup punya caranya sendiri untuk menegur. Juli 2016, saat ngantri menyerahkan berkas Tax Amnesty, saya tersungkur. Vertigo kambuh. Kondisi tubuh yang sebelumnya memang tidak sedang baik-baik saja, menjadi tambah runyam. Dokter yang harus rutin saya kunjungi setiap bulan, awalnya hanya dua, dalam waktu singkat nambah jadi 4. Segenggam obat mulai menjadi menu wajib tiga kali sehari.

Pandemi covid membuat jadwal kontrol kesehatan kacau. Bahkan kemudian terhenti sama sekali. Dalam kebuntuan itu, saya tidak punya pilihan lain: Dengan sisa-sisa keyakinan, saya memutuskan untuk kembali olah nafas. Awalnya ragu, tapi akhirnya saya jalani dengan sepenuh hati.

Entah beneran ngaruh, atau aktifitas latihan itu membuat saya lupa diri, realitanya, setelah pandemi berakhir, saya tetap baik-baik saja meskipun tidak lagi minum obat. Vertigo, rasa nylekit di dada sebelah kiri, sesak nafas, begah di ulu hati, tidak pernah kambuh. Tekanan darah yang sempat dua kali membuat saya ditolak vaksinasi covid, sedikit anteng di kisaran 120/90. Gangguan lain, seperti kram, migrain, dan pegel-pegel hanya terjadi secara sporadis. Biasanya menjadi tanda kalau kadar Trigliserida di atas 400 – hasil cek darah di apotek, kadar Trigliserida tidak terpantau.

Saya tidak perduli, apakah tubuh saya beneran sembuh atau justru mati rasa. Sensor di badan mungkin tidak berfungsi lagi, sehingga saya tidak merasakan gejala apapun selain gampang capek dan pegel-pegel. Sampai hari ini Trigliserida tetap rajin naik turun, bahkan beberapa kali bablas di atas 1000, tapi saya tidak lagi cemas seperti dulu.

Saya tidak mendewakan olah nafas, juga tidak menafikan terapi medis. Saya hanya mencoba memberi tubuh kesempatan untuk memperbaiki diri sendiri, tanpa saya recoki.

Salah satu dokter pernah berkata, obat tidak sepenuhnya aman. Ketika rutin dikonsumsi dalam jangka panjang, ada resiko menimbulkan gangguan pada organ tubuh yang lain. Tapi, tidak minum obat saat tubuh sedang tidak baik-baik saja juga membawa resiko. Sama-sama memicu bom waktu, kali ini, dengan menyadari segala resikonya,  saya memilih memberi kesempatan pada tubuh untuk menemukan keseimbangannya kembali.

Itu bukan pilihan nekad, apalagi ngawur, melainkan dengan perhitungan. Ibarat bangunan, tubuh saya sekarang mirip konstruksi yang seluruhnya sudah rapuh. Kesenggol sedikit saja, seluruh bangunan bisa roboh. Tapi, berbeda dari bangunan yang pasif dan semakin rusak ketika dibiarkan, tubuh mampu memperbaiki diri. 

Saya tidak berharap akan kembali seperti semula, tapi minimal tidak menambah beban pada sistem reparasi tubuh.  

Resiko terburuk bukan kematian. Semua orang akan mati. Itu proses alami, bukan petaka. Resiko terburuk adalah sistem tubuh gagal duluan sebelum kematian tiba. Dengan atau tanpa obat, saya menghadapi resiko itu. Bedanya, obat punya peluang menjadi beban, sementara imun tubuh, selama tidak direcoki, mampu berusaha memperbaiki keseimbangan secara alami. Sekalipun kondisinya mungkin hanya bisa sedikit diseimbangkan, tetap lebih bagus, ketimbang menjadi lebih rusak. 


LABEL: BANGKIT DARI ABU

08 Oktober 2025

Menemukan Diri di Kalitalang



closeup puncak Merapi

Ketika biaya rumah sakit sudah lebih dari tiga ratus juta sementara operasi kankernya belum bisa dipastikan kapan akan dilaksanakan, mental saya sempat ambyar. Perjalanan masih jauh, belum ketahuan di mana akan berakhir. Bahkan setelah Yuni pindah ke kelas dua, tagihan rumah-sakit tetap melaju lebih cepat ketimbang jaman taksi argo kuda.

Saya berhitung, memutar akal, mencoba menenangkan diri — tapi tetap saja, dada ini seperti disesaki batu besar yang tak tahu harus didorong ke mana.

Ambyarnya mental itu terlihat jelas ketika saya malam-malam berani main ke Kalitalang – tempat wisata yang hanya berjarak 5 km dari puncak Merapi. Indah di kala siang, tapi di malam hari, untuk penakut macam saya, selain gelap dan sunyi, juga mencekam.

Malam itu, tanpa ada rasa takut bakal ketemu setan, di hadapan Merapi yang terlihat samar di keremangan malam, saya sambat. Bukan pada gunung, karena saya masih sadar, gunung tidak akan menjawab. Juga bukan pada Tuhan, karena saya tahu, Tuhan pasti menolong. Saya sambat pada diri sendiri — untuk sesuatu yang saya pun tidak tahu.

Tidak ada lagi angka di rekening, tidak ada lagi rencana besar, tidak ada lagi rasa “harus kuat” yang saya paksakan. Yang tersisa hanyalah segala kelemahan dan rasa kuwatir yang berlebihan pada seseorang yang sedang berjuang di rumah sakit. Saya duduk lama, diam, mendengarkan angin, dan membiarkan pikiran berjalan ke mana pun ia mau.

Entah berapa kali saya tertidur, bangun, lalu terlelap kembali dalam posisi duduk nyender pohon. Di antara desir angin dan dingin yang menggigit, saya merasa seperti ditarik kembali ke titik nol. Tapi, justru di situlah kekuatan muncul kembali. Bukan dari luar, bukan dari kata-kata orang, melainkan dari diam. Dari pasrah yang bukan menyerah. Dari penerimaan bahwa saya tidak bisa mengendalikan segalanya, tapi saya masih bisa memilih untuk tetap ada — menemani, berdoa, menjaga, dan mencintai.

Pagi menjelang. Semburat merah muda di langit timur menyingkap puncak Merapi yang mulai terang. Diantara suasana horor yang mulai terasa, saya tersenyum kecil. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena saya tahu, saya sudah kembali utuh.

Entah bagaimana, udara dingin seperti menampar lembut kesadaran yang sempat tumpul. Kicau burung yang mulai terdengar samar di kejauhan, desau angin, dan semburat cahaya di ufuk timur seperti berkata, “Masih ada hari baru. Masih ada yang bisa kamu lakukan.”

Penutup:

Sejak malam di Kalitalang itu, saya belajar bahwa kekuatan tidak selalu datang dalam bentuk keberanian, tapi kadang dalam bentuk kelelahan yang diterima dengan ikhlas. Bahwa doa tak selalu harus diucapkan dengan kata-kata, kadang cukup dengan diam yang tulus, di antara dingin gunung dan detak hati yang pelan. 


LABEL: JEJAK WAKTU

07 Oktober 2025

Media Sosial Bukan Monopoli Generasi Muda


Dulu hidup terasa lebih sederhana. Kalau mau tahu kabar, tinggal nonton TV atau baca koran. Berita datang pelan-pelan, bisa dicerna sambil ngopi. Sekarang, kabar datang dari segala arah — cepat, bising, dan kadang bikin kepala muter.

Di dunia digital, siapa pun bisa jadi wartawan, ahli, bahkan ustaz dadakan. Semua merasa punya hak berkomentar. Kadang saya bingung, mana kabar sungguhan, mana yang cuma hasil jari gatal.

Tapi, setelah sekian belas tahun ikut mondar-mandir di media sosial, saya mulai melihat sisi lain dari dunia digital, terutama setelah saya sendiri masuk kategori “lansia aktif tapi cepat lelah”.

Media sosial tidak melulu tentang mengikuti tren. Setelah aktifitas saya di luar rumah mulai terbatas, medsos menjadi jendela yang memungkinkan saya bisa tetap menjelajah sampai ke ujung dunia.

Ketika pertama kali membuat akun Facebook hampir 20 tahun lalu, saya hanya ingin tahu kabar teman lama. Dari situ, muncul hal-hal kecil yang menyenangkan dan kadang mengejutkan: mendapati teman yang dulunya pendiam dan kurang bergaul, ternyata sudah nggendong cucu duluan - sementara anak saya baru kelas 3 SD, membaca kisah inspiratif orang lain, bahkan menemukan komunitas dengan minat yang sama—fotografi, menulis, hingga berkebun.

Pelan-pelan saya semakin paham, media sosial bukan sekadar tempat berbagi, melainkan tempat untuk tetap merasa nyambung dengan kehidupan. Karena sering kali, seiring umur bertambah, lingkaran sosial kita menyempit: teman pindah domisili, sibuk dengan keluarga masing-masing, atau bahkan sudah tenang di dunia seberang.

Media sosial memberi kesempatan saya untuk tetap hadir dalam percakapan dunia, tanpa harus beranjak dari kursi.

Tentu saja, ada sisi gelapnya. Di media sosial, kabar bohong, gosip, dan provokasi menyebar lebih cepat dari petir di musim kemarau. Terutama sekarang, ketika video mudah direkayasa. Nalar harus benar-benar dipelihara, supaya tidak mudah terbawa emosi atau langsung membagikan sesuatu hanya karena cocok dengan perasaan kita. Hati-hati dan waspada bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.

 

Media Sosial Sebagai Ruang Ekspresi Diri

Yang paling saya suka, media sosial memberi ruang untuk menulis, berbagi pengalaman, dan meninggalkan jejak kecil tentang perjalanan hidup. Tempat untuk menumpahkan kenangan, pemikiran, dan refleksi hidup.

Media sosial bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Kita mungkin tidak lagi lincah secara fisik, tapi masih bisa aktif secara makna. Asal digunakan dengan bijak, media sosial bukanlah tempat yang menyesatkan, melainkan ruang untuk tetap merasa hidup, berguna, dan terhubung.

Jadi kalau ada yang bertanya, “Ngapain orang tua main media sosial?”, saya nyengir saja sambil menjawab, “Biar orang tahu kalau saya masih hidup.”


LABEL: BANGKIT DARI ABU

Lebih Jauh Tentang Grounding

Grounding, earthing

Setelah lebih dari enam bulan saya nyaris rutin melakukan grounding – minimal tiga kali seminggu – memang terasa ada perubahan. Pegel-pegel yang semula selalu terasa sepanjang hari, belakangan hanya muncul di saat tertentu, biasanya ketika trigliserida njeplak tinggi. Tekanan darah pun relatif stabil di kisaran 120/90, dari semula yang hampir selalu di atas 140/95. Manfaat lain yang tak kalah penting, semangat untuk ngamuk jauh berkurang.

Tapi belakangan saya sempat ragu. Apakah grounding benar-benar berpengaruh terhadap kondisi fisik, atau semua yang saya rasakan itu hanya efek plasebo belaka?

Kebetulan sekarang ada banyak aplikasi AI yang bisa dijadikan sumber rujukan tanpa perlu repot menelusuri satu per satu. Maka saya bertanya kepada Cici, Agnes, Deepseek, Qwen, Preplexity, dan ChatGBT dengan pertanyaan yang sama:

Apakah benar sudah dilakukan penelitian ilmiah terhadap manfaat grounding bagi kesehatan?

Meskipun dijawab dalam narasi berbeda-beda, kesimpulannya seragam: sudah ada penelitian, walau jumlah sampelnya kecil, desainnya beragam, durasinya pendek, dan mekanisme biologisnya belum sepenuhnya diterima komunitas ilmiah. (Jujur, yang terakhir ini saya tidak paham maksudnya—jadi percaya wae lah.)

ChatGBT bahkan memberi rujukan lebih rinci, di antaranya:

  1. The Effects of Grounding on Inflammation

  2. Grounding the Body Improves Sleep Quality in Patients with Mild Alzheimer’s Disease

  3. Effectiveness of Grounded Sleeping on Recovery After Intensive Eccentric Muscle Loading

  4. Grounding to Treat Anxiety

Saya tidak lagi punya alasan untuk ragu. Beberapa penelitian terbatas memang menunjukkan bahwa grounding dapat membantu meringankan berbagai gangguan kesehatan: kelelahan kronis, depresi, kecemasan, gangguan tidur, serta inflamasi.


Bagaimana Grounding Bekerja di Dalam Tubuh

Penjelasan ilmiahnya ternyata lumayan menarik. Grounding adalah aktifitas menghubungkan tubuh secara langsung dengan permukaan bumi, salah satu caranya dengan berjalan tanpa alas kaki di tanah, rumput, atau pasir. Bumi memiliki muatan listrik negatif dalam bentuk elektron bebas. Saat kulit kita bersentuhan langsung dengannya, sebagian elektron tersebut pindah ke tubuh.

Elektron-elektron ini berperan sebagai antioksidan alami, membantu menetralkan radikal bebas yang bermuatan positif—zat yang  sering dikaitkan dengan peradangan, penuaan dini, dan berbagai penyakit degeneratif.

Selain efek elektrik itu, ada juga penjelasan biofisika lain. Tubuh manusia sejatinya adalah sistem listrik yang halus—detak jantung, sinyal saraf, bahkan aktivitas otak semuanya melibatkan arus listrik mikro. Saat kita terisolasi terlalu lama dari bumi (karena mengenakan sepatu ber-sol karet, lebih sering berpijak di lantai semen, atau akibat gaya hidup modern yang serba elektrik), sistem listrik tubuh seolah terputus dari referensi alaminya. Grounding memulihkan keseimbangan potensial ini, menstabilkan sistem saraf otonom, dan membantu tubuh kembali pada keadaan rest and repair—bukan terus-terusan dalam mode fight or flight.

Beberapa penelitian juga menunjukkan efek fisiologis nyata: penurunan kadar kortisol (hormon stres), perbaikan variabilitas detak jantung (HRV), dan kualitas tidur yang lebih baik.

Singkatnya, grounding tidak hanya menyentuh tanah, tapi juga menyambung kembali diri kita ke sistem besar kehidupan yang menopang semuanya.


Kembali ke Tanah, Kembali ke Diri

Apakah semua itu efek biologis murni, atau sebagian karena sugesti positif, sekarang tidak terlalu penting lagi bagi saya. Yang jelas, tubuh saya terasa lebih ringan, pikiran lebih tenang, dan semangat ngamuk lebih mudah reda. Mungkin, seperti pepatah lama, semua yang hidup memang berasal dari tanah — dan untuk tetap seimbang, kita perlu sesekali menyentuh asal kita kembali.


LABEL: BANGKIT DARI ABU

04 Oktober 2025

Catatan Kecil dari Perjalanan Kolostomi

Akhirnya tagihan itu beneran datang. Salah satu pembaca blog bertanya,  “Kenapa tulisan tentang kanker kolorektal tidak dilanjutkan?”

Tentu saja saya ingin menuliskan cerita lanjutannya. Sayang sekali, flashdisk tempat saya menyimpan catatan selama istri menjalani perawatan hilang entah di mana. Jadi sekarang saya hanya mengandalkan ingatan, dibantu catatan medis dari rumah sakit untuk merangkai kembali kronologinya.

Transfusi Darah dan Harapan yang Tertunda

Saat awal dirawat, kadar Haemoglobin Yuni hanya kisaran 4g/dL. Terlalu rendah untuk menjalani prosedur invasif. Dokter memutuskan menunda biopsi. Yuni harus menerima transfusi terlebih dahulu, sampai kadar HB paling tidak mencapai 10 g/dL. Empat kantong darah mengalir ke tubuhnya, membawa oksigen dan harapan baru.

Sesuai kesepakatan antara dokter dengan saya sebelumnya, biopsi dilakukan bersamaan dengan kolostomi – operasi membuat saluran pembuangan feses melalui lubang di dinding perut. Rencananya, operasi dilakukan pagi sebelum Jumatan, tapi tertunda karena ada pasien darurat. Baru siang harinya Yuni masuk ruang operasi.

Empat Jam yang Mengubah Segalanya

Biopsi dan kolostomi berlangsung lancar sekitar 4 jam, tapi sampai hari ini saya belum punya nyali untuk melihat secara detail kantong yang terpasang di perut bagian kiri bawah. Saya hanya tahu, sejak saat itu istri saya tidak lagi BAB melalui dubur. Kotoran keluar melalui lubang di dinding perut, ditampung sementara di kantong yang secara berkala dibersihkan dan diganti setiap 2 atau 3 hari sekali.

Awalnya dokter berharap kolostomi itu hanya sementara. Tapi entah kenapa, saya merasa ragu. Ternyata dugaan saya benar, setelah operasi kanker dilakukan tujuh bulan kemudian, dokter memberitahu, jalur lama terpaksa ditutup permanen. Stoma bukan lagi jembatan sementara, melainkan menjadi bagian tetap dari hidup Yuni.

Yuni Ternyata Lebih Kuat

Hari-hari pertama pasca kolostomi terasa menegangkan. Bukan karena kondisi Yuni, tapi karena kecemasan saya sendiri. Yuni terlihat santai. Tapi justru sempat membuat saya kuwatir, dia menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Sampai beberapa hari kemudian, saya senewen sendiri, menunggu, kapan bom waktu itu akan meledak.

Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa. Yuni tetap santai. Tetap ceria seperti sebelumnya. Bahkan sangat antusias memberi penjelasan tentang kantongnya, seperti sedang promosi gadget baru.

Hari ini sudah dua tahun lebih Yuni mengenakan kantong. Aktifitasnya sudah kembali seperti sebelum covid. Motoran, jalan-jalan, bercocok-tanam, nyapu, ngepel, semua dikerjakan tanpa halangan. Tidak ada cerita tercium bau aneh, cairan rembes atau kantong bocor. Hanya ada satu perubahan – seperti kata Imah dulu, bunyi kentut tidak bisa disensor. Kadang terdengar nyaring, kadang hanya berdesis campur sedikit suara plupuk plupuk, kadang agak horor. Bagusnya, Yuni bisa santai menerima kebiasaan baru itu.

Meskipun sekarang semua baik-baik saja, tapi sekitar setahun pertama Yuni sempat enggan pergi jauh. Untuk menguras isi dan membersihkan kantong, dia membutuhkan closet duduk. Sekedar jongkok saja sudah cukup repot, keganjel kantong. Apalagi kalau harus mengeluarkan isi dan bersih-bersih di WC umum yang kebanyakan masih pakai kloset jongkok.

Dulu, ketika perawat memberitahu, kantong bisa digunakan 2 sampai 3 hari, saya sempat tidak setuju. Tas kresek bekas makanan basi saja susah dibersihkan, apalagi kantong yang menampung kotoran perut.

Ternyata kantongnya memang ada banyak macam. Ada yang hanya sekali pakai, ada pula yang bisa digunakan sampai 3 hari. Yang sekali pakai lebih praktis, tinggal dibuang bareng kotoran. Tapi, karena istri saya merasa lebih nyaman dengan yang bisa dipakai ulang sampai 3 hari – meskipun harus ribet bersih-bersih. Saya ngikut saja.

Perjalanan panjang ini mengajarkan banyak hal. Bukan hanya tentang kanker, kolostomi, atau manajemen kantong medis—tapi tentang kekuatan jiwa yang tak terlihat oleh mata. Yuni bukan sekadar survive. Ia berhasil berdamai dengan perubahan radikal dalam tubuhnya. Tidak membiarkan stoma mendefinisikan siapa dirinya. Justru, ia menunjukkan bahwa keindahan hidup tak terletak pada kesempurnaan fisik, melainkan pada kemampuan hati untuk menerima, menyesuaikan, dan terus melangkah.


LABEL: KANKER KOLOREKTAL

01 Oktober 2025

Kembali Menapak Bumi

Beberapa hari berturut-turut hujan turun—pagi dan sore. Meskipun kebanyakan hanya gerimis, karena enggan basah-basahan dan mengingat kondisi fisik tidak lagi sekuat dulu, saya memilih mengganti jalan kaki keliling lapangan dengan nggenjot sepeda statis di rumah

Masalahnya, ketika hujan kagetan berhenti, dan hari-hari kembali cerah, saya terlanjur merasa nyaman nggenjot sepeda dan mulai kambuh malas ke lapangan. Awalnya saya pikir, sama-sama olah-raga, keringat tetap keluar. Tapi pada hari ke sebelas tubuh mulai memberi sinyal: badan terasa lebih berat, lebih pegel dan sering sakit kepala. Hari ke tiga belas saya tumbang. Seluruh badan nyeri, terutama di dengkul. Agak siang sedikit, ditambah demam dan migrain.

Sempat punya niat ke dokter. Saya tunda karena dari catatan harian, tidak ada kebiasaan makan, minum maupun aktifitas lain yang berubah, kecuali mengganti jalan kaki dengan nggenjot sepeda. Saya mulai berpikir, jangan-jangan akibat saya berhenti grounding. Karena sejak nggenjot sepeda, hanya aktifitas itu yang sama sekali tidak saya lakukan.

Saya jadi teringat pengalaman sekitar enam belas tahun lalu, awal saya mulai merasa gampang capek, salah satu teman yang pernah sama-sama berlatih olah nafas memberi saran, supaya saya kembali latihan. Alih-alih nurut, saya memilih ke dokter. Hasilnya, tidak lama kemudian saya rutin menenggak segenggam obat, tiga kali sehari.

Pandemi tanpa sengaja memaksa saya berhenti minum obat. Meski tidak tahu apakah saya beneran kembali sehat atau hanya sekedar lebih kuat menahan capek dan pegel yang sudah menjadi menu harian, saya memilih bertahan tanpa obat. Saya hanya tahu, sejak pandemi berakhir, nyeri di dada kiri, vertigo, sesak nafas, bengkak di kaki, kram yang dulu selalu kambuh setiap kali telat minum obat, tidak pernah muncul lagi. Itu sudah lebih dari cukup bagi saya sebagai alasan untuk menganggap tubuh sedang belajar pulih dengan caranya sendiri.

Sejak rutin jalan kaki keliling lapangan, saya merasa semakin baik. Hanya ada masalah baru di makanan. Apapun yang saya makan, sedikit saja berlebihan, tubuh bakal memberi tanda secara signifikan. Entah kencing jadi bau, lebih capek, atau lebih sulit konsentrasi. Tapi semua kembali “normal” setelah saya jeda dari makanan tertentu selama beberapa hari.

Dengan kondisi badan masih berat, sakit di sekujur tubuh, pusing dan sedikit sempoyongan, saya paksa kembali jalan kaki nyeker di rumput lapangan. Awalnya hanya kuat 3 putaran. Itupun sudah sangat memaksa. Dengkul protes keras. Tapi saya tidak segera pulang. Hanya istirahat, lesehan di pinggir lapangan.

Ketika dua lagu di headphone selesai, saya mencoba jalan lagi. Dua putaran, lalu istirahat kembali. Meskipun setelah istirahat berikutnya saya merasa masih mampu ngider, demi dengkul, saya memutuskan berhenti.

Entah sugesti atau memang beneran groundingnya ngaruh, hari berikutnya badan terasa lebih enteng. Dengkul tidak lagi menggigit sekeras sebelumnya. Saya belum kembali ngantor, tapi sudah tidak rebahan. Bahkan menjelang sore saya kembali bersih-bersih rumah. Kejutannya, ketika tanpa sengaja jongkok, ternyata dengkul tidak protes. Meski ketika berdiri masih terasa nylekit, tapi menurut saya, sudah lebih mendingan.

Setelah grounding saya lanjutkan, badan terasa semakin segar – kecuali capek dan pegelnya, masih setia menjadi menu harian, tapi seperti sebelumnya, gampang saya abaikan. Dengkul juga semakin ramah. Bisa jadi memang hanya sugesti, bodo amat. Saya memilih menikmati saja apapun yang terjadi, ketimbang terlalu banyak mikir lalu berujung stres.

Saya tidak lagi perduli apakah grounding benar-benar menyembuhkan, atau sekadar membantu tubuh mengingat cara alaminya untuk pulih. Tapi setiap kali menapak rumput tanpa alas, saya merasa seperti sedang tersambung kembali — bukan hanya dengan bumi, tapi juga dengan diri sendiri. Mungkin, disaat tidak muda lagi seperti sekarang, itulah bentuk kesehatan yang paling jujur: bukan bebas sakit, melainkan bisa berdamai dengan tubuh, apa adanya.


Related Post:
1. 
Menaklukkan Kemalasan dan Keraguan
2. Lebih Jauh Tentang Grounding