27 Desember 2024

Melukis Ulang Hidup: Dari Coretan Gelap Menuju Kedamaian

Kata orang, hidup hanya sekali. Tapi bagi saya, hidup bukanlah satu garis lurus yang dilewati sekali dan selesai. Hidup adalah lembaran-lembaran yang berganti setiap hari. Kalau umur saya sekarang 62, artinya saya sudah hidup lebih dari dari 22.600 kali. Sebanyak itu pula saya menggoreskan warna di atas kanvas kehidupan.

Namun, jika saya menengok kembali lukisan-lukisan itu, hasilnya tidak selalu indah. Diantara goresan-goresan yang membanggakan, kenangan manis, pencapaian kecil, momen-momen yang membuat hati berbinar, sebagian tertutup coreng-moreng warna gelap: kecemasan, kebiasaan buruk, keputusan yang terburu-buru, dan rutinitas yang hampa makna.

Sempat sedikit kecewa, tapi kemudian justru bersyukur, karena saya masih bisa melihat dengan jujur betapa berantakannya lukisan hidup saya saat ini. Bersyukur karena tanpa mencari kambing hitam, tanpa ngeles, tanpa menyalahkan masa lalu atau orang lain, hati saya mau diajak kompromi dan terbuka untuk memperbaikinya.

Saya memutuskan untuk kembali melukis. Bukan dengan ambisi menciptakan mahakarya, tapi dengan tekad sederhana, membuat goresan yang lebih tenang, lebih penuh perasaan, dan lebih bermakna. Karena saya tahu, kanvas kehidupan ini suatu hari nanti akan digulung untuk selamanya. Bila saat itu tiba, saya ingin mempersembahkan lukisan yang indah kepada alam semesta.

Setelah bertahun-tahun mencoba memperbaiki hidup dengan semangat menggebu, ritual rumit, atau mengejar solusi instan, saya akhirnya sadar, perubahan yang tahan lama tidak dimulai dari tindakan besar. Dia lahir dari hal-hal kecil, yang dilakukan dengan kesadaran dan sepenuh hati.

Tak ada yang melarang saya berangan-angan menciptakan karya terindah di sisa waktu ini—kecuali saya sendiri. Tapi, karena tidak ada buku panduan cara memulainya, saya mencoba mendengarkan suara hati. Sungguh-sungguh membuka telinga batin, agar tak ada lagi sinyal yang terlewat.

Hasilnya, setiap pagi, sebelum alarm jam setengah empat berbunyi, saya sudah terjaga. Bukan sekedar melek, tapi badan sudah benar-benar bangun. Semua “nyawa” yang semalam kelayaban sudah ngumpul.

Setelah berterimakasih, karena masih diberi kesempatan bernafas, saya mengawali hari dengan aktifitas rutin sederhana, beres-beres rumah. Lepas subuh, saya berangkat menuju lapangan. Jalan kaki tanpa alas di rumput yang masih basah oleh embun.

Awalnya saya berjalan cepat, mengikuti lagu dengan birama 4/4 dari headphone. Sepuluh putaran selesai dalam waktu setengah jam. Cukup membuat badan hangat dan otot-otot tidak kaku.

Tapi suatu pagi, saat lagu berganti dan langkah saya melambat, saya merasakan sensasi yang berbeda. Sentuhan rumput yang basah terasa lebih dingin di kaki, tapi menyegarkan, dan membuat tubuh terasa lebih ringan.

Saya mulai menikmatinya. Saya ganti lagu berirama riang dengan musik instrumentalia yang lebut diselingi kicau burung dan gemericik air. Saya berjalan lebih lambat, santai, dan tidak lagi menetapkan target aerobik. Tidak peduli ketika ada yang menganggap saya kurang. Tidak pula perduli durasinya menjadi lebih lama dua kali lipat. Satu-satunya yang masih saya perhatikan hanya detak jantung, sesuai pesan dokter, tidak boleh lebih dari 130 bpm.

Ternyata, menapakkan kaki atau jalan di tanah tanpa alas punya nama keren, Grounding. Menghubungkan tubuh secara langsung dengan medan elektromagnetik bumi. Menurut laman Alodokter, Grounding punya banyak manfaat untuk kesehatan. Diantaranya, meningkatkan imun tubuh, mengurangi peradangan dan menurunkan tekanan darah.

Saya tidak punya alasan untuk meragukannya, tapi bagi saya, sensasi selama berjalan itulah yang paling terasa nyata. Manfaat yang lain, seandainya terjadi, anggap saja bonus.

Barangkali, santai dan tanpa target justru membuat tubuh saya menjadi selaras dengan bumi, membuat pegel-pegel berkurang lumayan signifikan. Sementara dalam beberapa kali pengukuran pada kesempatan berbeda, tekanan darah saya anteng di 90/130 – dari biasanya di kisaran 95/160. Nafas juga menjadi lebih panjang.

Sebelumnya, otak saya mirip monyet liar. Lompat sana-sini, berpindah dari satu kecemasan ke kecemasan lain. Sekarang lebih tenang. Sapuan kuas di kanvas menorehkan warna yang cerah. Meskipun masih abstrak, tapi goresannya mulai teratur.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi kesempatan yang masih tersisa. Tapi saya tidak ingin mengisi kanvas kehidupan saya dengan coretan gelap lagi. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu spektakuler.  Saya ingin setiap hari jadi goresan yang lebih tenang, lebih penuh rasa, dan lebih bermakna.


LABEL: BANGKIT DARI ABU


19 Desember 2024

Nemu Dunia Baru

 


Ketika tekanan semakin kuat dan hidup terasa seperti kepentok jalan buntu, saya mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang terjadi, mengapa saya seperti terperosok semakin dalam, seolah terseret arus yang tak kasat mata?

Saya nyaris bertanya pada Tuhan, “Mengapa hidup saya seperti ini?”.

Kalimat itu keburu nyangkut di tenggorokan begitu saya teringat lelucon jawaban Tuhan terhadap pertanyaan serupa, “Kenapa tidak?”

Saya tetap yakin, apapun yang saya alami, bukan hukuman Tuhan. Lebih mirip masa panen, hasil dari benih yang dulu saya tabur sendiri. Dari kebiasaan hidup seenak udel, dari banyak pilihan yang dulu saya anggap remeh, dari keputusan-keputusan kecil yang seperti tak berarti tapi ternyata terakumulasi menjadi pusaran besar. Maka pertanyaan penuh keluh kesah itu kemudian saya ubah menjadi ucapan terima kasih, karena saya masih kuat, bukan hanya sekedar bertahan, tapi masih punya keinginan untuk bangkit.

Lalu, perlahan, saya merasa, ada yang mulai berubah.        

Menoleh ke Dalam

Di tengah bisingnya dunia luar, di antara kesibukan yang tak kunjung reda, kegelisahan yang menggantung, kelelahan yang menumpuk, bahkan rasa sakit yang kadang menusuk tanpa peringatan—saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Jawaban atas pertanyaan saya ternyata bukan lagi berada di luar sana. Tidak di seminar motivasi dengan pembicara karismatik, tidak di buku-buku pengembangan diri yang menjanjikan perubahan instan dalam hitungan hari. Jawaban itu ada di dalam. Di tempat yang selama ini tidak pernah saya sadari.

Kalau film Star Trek bercerita tentang eksplorasi ke luar angkasa, menjelajahi galaksi yang jauh, menemukan dunia baru, "to boldly go where no one has gone before"—saya justru menemukan dunia baru yang juga belum pernah saya jelajahi.  

Ironisnya, dunia itu tidak jauh. Bahkan sangat dekat. Begitu dekatnya, sehingga saya tidak membutuhkan wahana apapun untuk mencapainya. Tidak perlu warp drive, tidak perlu koordinat bintang. Cukup keberanian untuk berhenti sejenak dan menoleh ke dalam.

Memulai Perjalanan Tanpa Peta

Saya mengawali perjalanan ini bukan dengan ransel penuh bekal atau peta yang detail, melainkan dengan sesuatu yang sederhana sekaligus menakutkan: keberanian untuk duduk diam, mengamati tanpa menghakimi, dan mendengar tanpa terburu-buru memberi solusi.

Ini adalah perjalanan menjelajahi sebuah dunia yang tak bisa ditempuh dengan langkah kaki, tak bisa dipotret dengan kamera beresolusi tinggi, dan tak ada waktu kedatangan yang bisa diukur dengan jam tangan

Dunia itu ada di dalam diri saya, sunyi tapi riuh, gelap tapi kadang menyilaukan, akrab tapi juga asing. Di sana saya berjumpa dengan banyak hal: Ingatan lama yang membeku, keinginan yang tak terucap, ketakutan yang bersembunyi, dan harapan yang nyaris padam tapi baranya tetap menyala.

Saya berkenalan dengan dua wilayah besar yang dulu hanya saya dengar sekilas, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Keduanya seperti gunung es yang mengapung di lautan.

Pikiran sadar adalah bagian yang terlihat di permukaan— logis, teratur, berbicara dengan kalimat lengkap, dan merasa punya kendali penuh atas hidup. Suka membuat rencana, menyusun daftar, menganalisis pro dan kontra. Selalu merasa sebagai “aku" yang berbicara pada orang lain, yang menulis, yang berpikir tentang apa yang harus dilakukan besok.

Sementara pikiran bawah sadar tersembunyi jauh di bawah permukaan air, di kedalaman yang gelap dan dingin. Ia sunyi, tapi sangat kuat. Seperti arus laut dalam yang tidak terlihat dari permukaan, tapi diam-diam menentukan ke mana kapal hidup ini akan bergerak. Ia menyimpan memori yang saya kira sudah hilang, pola-pola reaksi yang terbentuk sejak kecil, keyakinan-keyakinan tersembunyi tentang diri sendiri yang bahkan tidak saya sadari saya pegang. Dan yang paling mengejutkan: ia punya kehendaknya sendiri.

Penghuni-Penghuni yang Tak Terduga

Yang menarik, dalam perjalanan itu, ternyata saya tidak sendirian. Saya ketemu banyak entitas yang tak bisa dijelaskan dengan logika sederhana. Mereka tidak memiliki wujud fisik, melainkan berupa kesan, suara batin, sosok samar, atau perasaan yang datang tiba-tiba dan begitu kuat. Mereka tidak selalu berbicara. Kadang hanya menoleh sekilas, lalu menghilang. Kadang datang ramai-ramai, membawa niat yang tak selalu saya pahami.

Awalnya membingungkan, bahkan sedikit mengganggu. Seperti ada pesta di dalam kepala yang saya sendiri tidak ingat pernah mengundang tamu-tamunya. Tapi saya tahu, mereka bukan hantu. Juga bukan sekadar imajinasi liar yang muncul karena kurang tidur atau terlalu banyak menonton film.

Mereka terasa terlalu nyata untuk diabaikan, terlalu konsisten untuk dianggap kebetulan.

Saya mulai menduga, mungkin mereka adalah bagian-bagian dari diri saya sendiri. Fragmen pengalaman, luka lama, naluri bertahan, atau kebijaksanaan yang lama terpendam dan kini mencari jalan untuk didengar. Mungkin juga sisa-sisa dari versi "saya" yang lebih muda—anak kecil yang dulu pernah saya tinggalkan, remaja yang pernah saya cemooh karena naif, atau orang dewasa muda yang pernah saya sesali karena terlalu banyak ambil risiko.

Belajar Mendengar Tanpa Menghakimi

Perjalanan ini baru dimulai, dan saya tidak tahu akan berakhir di mana atau kapan. Saya tidak sedang mencari pencerahan besar, apalagi kesaktian. Saya hanya belajar untuk mengenali diri sendiri, dan mendengarkan tanpa buru-buru menilai, mengkritik, atau membungkam.

Saya belajar bahwa tidak semua yang muncul dari dalam diri harus langsung "diperbaiki" atau "dihilangkan". Kadang, mereka hanya ingin diakui keberadaannya. Didengar. Dipeluk. Diberi ruang untuk ada, meski hanya sebentar.

Perlahan saya mulai mengerti: jalan buntu yang dulu terasa menakutkan, yang membuat saya merasa terjebak dan tak berdaya, ternyata bukan akhir perjalanan. Melainkan pintu masuk menuju dunia yang selama ini selalu saya bawa ke mana-mana, tapi tak pernah saya singgahi.


Related Post:
1. Hidup Mengajar Dengan Caranya Sendiri
2. Berdamai Dengan Emosi Berdamai Dengan Diri

06 Desember 2024

Kembali Melukis dengan Hati

Kata orang, hidup hanya sekali. Tapi bagi saya, hidup bukanlah satu garis lurus yang dilewati sekali dan selesai. Hidup adalah lembaran-lembaran yang berganti setiap hari. Kalau umur saya sekarang 62, artinya saya sudah hidup lebih dari dari 22.600 kali. Sebanyak itu pula saya menggoreskan warna di atas kanvas kehidupan.

Namun, jika saya menengok kembali lukisan-lukisan itu, hasilnya tidak selalu indah. Diantara goresan-goresan yang membanggakan, kenangan manis, pencapaian kecil, momen-momen yang membuat hati berbinar, sebagian tertutup coreng-moreng warna gelap: kecemasan, kebiasaan buruk, keputusan yang terburu-buru, dan rutinitas yang hampa makna.

Sempat sedikit kecewa, tapi kemudian justru bersyukur, karena saya masih bisa melihat dengan jujur betapa berantakannya lukisan hidup saya saat ini. Bersyukur karena tanpa mencari kambing hitam, tanpa ngeles, tanpa menyalahkan masa lalu atau orang lain, hati saya mau diajak kompromi dan terbuka untuk memperbaikinya.

Saya memutuskan untuk kembali melukis. Bukan dengan ambisi menciptakan mahakarya, tapi dengan tekad sederhana, membuat goresan yang lebih tenang, lebih penuh perasaan, dan lebih bermakna. Karena saya tahu, kanvas kehidupan ini suatu hari nanti akan digulung untuk selamanya. Bila saat itu tiba, saya ingin mempersembahkan lukisan yang indah kepada alam semesta.

Setelah bertahun-tahun mencoba memperbaiki hidup dengan semangat menggebu, ritual rumit, atau mengejar solusi instan, saya akhirnya sadar, perubahan yang tahan lama tidak dimulai dari tindakan besar. Dia lahir dari hal-hal kecil, yang dilakukan dengan kesadaran dan sepenuh hati.

Saya boleh berangan-angan menciptakan karya terindah di sisa waktu ini. Tidak ada yang melarang, tidak ada yang membatasi—kecuali diri saya sendiri. Tapi, karena tidak ada buku panduan cara memulainya, saya mencoba mendengarkan suara hati. Sungguh-sungguh membuka telinga batin, agar tak ada lagi sinyal yang terlewat.

Hasilnya, setiap pagi, sebelum alarm jam setengah empat berbunyi, saya sudah terjaga. Bukan sekedar melek, tapi badan sudah benar-benar bangun. Semua “nyawa” yang semalam kelayaban sudah ngumpul.

Setelah berterimakasih, karena masih diberi kesempatan bernafas, saya mengawali hari dengan aktifitas rutin sederhana, beres-beres rumah. Lepas subuh, saya berangkat menuju lapangan. Jalan kaki tanpa alas di rumput yang masih basah oleh embun.

Awalnya saya berjalan cepat, mengikuti lagu dengan birama 4/4 dari headphone. Sepuluh putaran selesai dalam waktu setengah jam. Cukup membuat badan hangat dan otot-otot tidak kaku.

Tapi suatu pagi, saat lagu berganti dan langkah saya melambat, saya merasakan sensasi yang berbeda. Sentuhan rumput yang basah terasa lebih dingin di kaki, tapi menyegarkan, dan membuat tubuh terasa lebih ringan.

Saya mulai menikmatinya. Saya ganti lagu berirama riang dengan musik instrumentalia yang lebut diselingi kicau burung dan gemericik air. Saya berjalan lebih lambat, santai, dan tidak lagi menetapkan target aerobik. Tidak peduli ketika ada yang menganggap saya kurang. Tidak pula perduli durasinya menjadi lebih lama dua kali lipat. Satu-satunya yang masih saya perhatikan hanya detak jantung, sesuai pesan dokter, tidak boleh lebih dari 130 bpm.

Ternyata, menapakkan kaki atau jalan di tanah tanpa alas punya nama keren, Grounding. Menghubungkan tubuh secara langsung dengan medan elektromagnetik bumi. Menurut laman Alodokter, Grounding punya banyak manfaat untuk kesehatan. Diantaranya, meningkatkan imun tubuh, mengurangi peradangan dan menurunkan tekanan darah.

Saya tidak punya alasan untuk tidak percaya, tapi bagi saya, sensasi yang saya rasakan selama berjalan, lebih penting. Manfaat yang lain, seandainya terjadi, anggap saja bonus.

Barangkali, santai dan tanpa target justru membuat tubuh saya menjadi selaras dengan bumi, membuat pegel-pegel berkurang lumayan signifikan. Sementara dalam beberapa kali pengukuran pada kesempatan berbeda, tekanan darah saya anteng di 90/130 – dari biasanya di kisaran 95/160. Nafas juga menjadi lebih panjang.

Sebelumnya, otak saya mirip monyet liar. Lompat sana-sini, berpindah dari satu kecemasan ke kecemasan lain. Sekarang lebih tenang. Sapuan kuas di kanvas menorehkan warna yang cerah. Meskipun masih abstrak, tapi goresannya mulai teratur.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi kesempatan yang masih tersisa. Tapi saya tidak ingin mengisi kanvas kehidupan saya dengan coretan gelap lagi. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu spektakuler.  Saya ingin setiap hari jadi goresan yang lebih tenang, lebih penuh rasa, dan lebih bermakna.


LABEL: JEJAK WAKTU