23 Desember 2021

Perang Sunyi Melawan Ketakutan

 Semula saya menyangka, musuh terberat datang dari luar. Penyakit, krisis finansial, atau tekanan hidup. Ternyata salah. Perang paling berat, paling melelahkan, dan paling menyedot tenaga, justru terjadi di dalam kepala saya sendiri.

Musuh tidak pernah menampakkan wajah. Dia tidak mengangkat senjata, tidak meneriakkan ancaman, tapi bisikannya terus-menerus, tanpa jeda, seperti siaran radio rusak, mengulang pesan sama, "Kamu tidak cukup kuat. Kamu pasti gagal. Untuk apa mencoba?"

Dulu saya pikir, asal cukup semangat, semua bisa dilawan. Kalau jatuh, bangkit. Kalau gagal, coba lagi. Kalau belum sukses, tinggal tambah kopi, tambah doa, tambah lembur. Tapi ternyata tidak segampang itu. Semangat bisa luntur, niat bisa menguap. Hanya menyisakan kecemasan, penundaan, dan rasa bersalah yang semakin menumpuk seperti utang lama yang tak kunjung lunas.

Saya pernah mengira kebiasaan menunda hanya berkaitan denganl malas. Ternyata tidak. Dia lebih mirip strategi bertahan dari otak yang kelelahan, membuat saya menjadi takut menghadapi hasil akhir, terlalu sering membayangkan kegagalan, sampai-sampai tidak berani mulai. Takut salah, takut kurang sempurna, takut dianggap bodoh. Aneh, padahal tidak ada orang lain yang tau. Tidak ada yang menilai. Hanya saya, dan suara-suara di dalam pikiran.

Saya pernah duduk diam berjam-jam di depan komputer, membuka dokumen, lalu menutupnya lagi. Bukan karena tidak punya ide, tapi takut ide itu akan terlihat konyol. Takut tulisan saya dibaca orang dan mereka berpikir: “Ini mah nggak penting, basi.” Padahal belum tentu juga dibaca orang.

Ironis ya. Kadang saya takut pada hal-hal yang bahkan belum terjadi.

Saya menyebutnya sebagai perang sunyi. Tidak ada ledakan, tidak ada dramatisasi. Sementara korban-korbannya sangat nyata, banyak waktu terbuang sia-sia, kesempatan lewat begitu saja, dan yang paling parah, keyakinan diri yang pelan-pelan tergerus sampai nyaris hilang.

Sampai suatu ketika, saya mulai mendengarkan tubuh. Napas yang dangkal, kepala berat, ketegangan di perut dan sensasi halus di tengkuk. Ternyata, tubuh saya menyimpan rekam jejak rasa takut lebih jujur daripada pikiran. Saat pikiran sibuk menyembunyikan kecemasan dengan berbagai dalih dan pembenaran, tubuh diam-diam mencatat semuanya melalui denyut jantung yang tak biasa, lewat otot yang mengeras tanpa sebab, atau keringat dingin di malam hari.

Kondisi ini sepertinya dipahami oleh dokter yang terakhir saya kunjungi, sehingga beliau cenderung menyarankan saya konsultasi ke psikolog ketimbang memberi obat -- Selama hampir tiga tahun saya menjadi pasien, beliau hanya sedikit saja memberi obat.

Berhubung saya tidak gampang berbagi perasaan dengan orang yang tidak saya kenal, saya memilih menemui seseorang yang 30an tahun lalu pernah menjadi pendamping spiritual saya. Beliau sudah sangat sepuh, tapi masih mengenali saya sebagai murid paling ngeyelan dan sering mengajukan pertanyaan kritis.   

Sebenarnya saya ingin curhat banyak, tapi melihat kondisi beliau, akhirnya kami hanya bernostalgia tentang masa lalu. Itupun tidak lama. Meskipun raut wajahnya nampak ceria, saya menangkap kelelahan di matanya.

Sebelum berpisah, beliau sempat mengingatkan tentang nasehat yang dulu pernah beliau sampaikan, “Jaga pikiranmu, jangan biarkan semaunya. Atau kamu akan menghadapi banyak kesulitan.”

Saya mulai kembali latihan pernapasan ringan. Bukan karena ingin jadi yogi atau spiritualis, tapi karena ingin bisa tidur nyenyak tanpa dihantui kekhawatiran imajiner. Dan pelan-pelan, saya bisa merasakan, ternyata pikiran bisa diajak berdamai. Asal saya tidak terus-terusan percaya pada semua yang dia bisikkan.

Saya juga mulai menulis. Bukan untuk dibaca orang lain, tapi untuk membongkar isi kepala sendiri. Kadang saya hanya menulis "hari ini takut", atau "malas banget, tapi tidak tahu kenapa". Dan pelan-pelan, saya mulai paham, rasa takut tidak harus dimusuhi. Hanya ingin didengar. Seperti veteran tua yang cuma ingin diberi pengertian.

Sekarang saya tahu, saya sedang menjalani misi. Misi untuk mengenali, menerima, dan melampaui ketakutan. Bukan untuk jadi sempurna. Tapi untuk bisa hidup dengan tenang, dan tetap bergerak walau pelan.

Tentu saja perjalanan masih panjang. Saya belum menang, bahkan sejujurnya, masih sering kalah. Saya masih suka menunda, masih suka kabur dari hal-hal yang penting. Tapi saya tidak lagi buta arah. Saya tahu di mana musuhnya. Dan saya tahu saya tidak sendiri. Ada banyak orang di luar sana, mungkin juga di balik layar blog ini, yang sedang bertempur dalam perang sunyi mereka masing-masing.

Saya tidak bisa memberi resep sukses. Tapi saya tahu satu hal, selama kita masih bisa menertawakan diri sendiri, masih bisa menulis satu kalimat jujur, dan masih bisa menarik napas dengan sadar—kita belum kalah.


Related Post: 
1. Menjelajah Medan Ranjau
2. Survival Kit di Medan Ranjau

21 Desember 2021

Menjelajah Medan Ranjau

 Ketika kesehatan mulai retak-retak, hidup terasa seperti tersesat di wilayah musuh yang penuh ranjau tak terlihat dan jebakan sunyi yang bisa meledak kapan saja . Sekarang, apapun ketika saya konsumsi sedikit agak banyak, membawa resiko menimbulkan masalah. Begitu juga sebaliknya, semua yang semula harus dipantang, kalau saya turuti saklek, sama sekali tidak makan, setelah beberapa hari, muncul masalah pula. Seakan-akan tubuh ini sudah kehilangan kemampuan kompromi, dan saya harus terus menegosiasikan hidup setiap hari, dari dalam tubuh saya sendiri.

Segala sesuatu yang dulunya hanya sekadar “makanan”, sekarang berubah menjadi kemungkinan bencana. Tapi menariknya, setelah bertahun-tahun mengamati dan belajar dari percobaan kecil yang saya lakukan pada diri sendiri, saya menemukan satu pola: hanya beberapa jenis makanan yang benar-benar harus saya coret permanen dari daftar. Kuning telur, daging merah, seafood, dan makanan olahan—ini adalah musuh tetap. Mereka konsisten membuat kekacauan, seperti agen infiltrasi yang selalu berhasil menyabotase sistem dari dalam.

Namun ada juga hal-hal yang tidak mutlak. Misalnya gula rafinasi—musuh besar versi media kesehatan.Jika saya benar-benar tidak menyentuh gula lebih dari empat hari, justru tubuh saya mulai berontak. Hari kelima atau ketujuh, tergantung angin, saya bisa mendadak limbung seperti prajurit kelaparan yang nyaris pingsan di medan perang. Gemetar, pusing, lemas. Sekadar berjalan keluar kamar pun harus hati-hati agar tidak kepentok kusen pintu.

Seperti prajurit yang nyasar di ladang ranjau wilayah musuh, saya tidak punya kemewahan untuk pasrah atau menyerah. Berusaha survive adalah satu-satunya pilihan. Maka saya belajar membaca setiap isyarat yang muncul—getaran kecil, nyeri ringan, atau perubahan suasana hati. Saya mulai mencatat, menelusuri, mencari benang merah antara apa yang saya konsumsi dan apa yang kemudian saya rasakan. Saya tidak merasa menjadi ahli, tapi saya tahu, tubuh saya menyimpan rahasia yang hanya bisa saya pahami sendiri, dengan sabar dan telaten.

Saat ini hidup saya memang "Beyond Enemy Lines". Tapi saya bukan korban. Ini bukan perkara kalah dan memang. Suka atau tidak, saya harus mengakui bahwa yang terjadi saat ini adalah refleksi dari masa lalu. Bukan untuk disesali, tapi untuk dijadikan pelajaran. Mumpung masih ada kesempatan, dengan langkah lambat, penuh kehati-hatian, tapi dengan mata yang lebih awas, saya bangun kembali jalan menuju finish yang sempat porak poranda.

Saya belajar memaafkan masa lalu, mencicil kesehatan, menabung semangat, dan yang terpenting, tetap bisa tertawa—karena dalam perang yang senyap ini, humor adalah peluru terakhir yang saya punya. Ia yang membuat saya tetap hidup, bukan sekadar bertahan.

Dan siapa tahu? Mungkin suatu hari kelak, saya bisa tiba juga di titik aman. Meskipun tanpa medali.  tanpa sorak sorai. Tapi dengan kepala tegak. Karena saya tidak menyerah.


Related Post:  Perang Sunyi Melawan Ketakutan

21 Juli 2021

Foto Keluarga

 Kagol lantaran kabut yang menutup Merapi menjadi semakin tebal, saya memutuskan pindah tempat, mencari obyek foto lain. 

Setelah cukup lama ngider tanpa tujuan, tiba-tiba saya teringat monyet-monyet di hutan wisata Telaga Putri. Sejak Merapi erupsi 2010 saya sudah beberapa kali berkunjung ke sana. Dua kali bersama anak dan istri, selebihnya sendiri. Suasananya tidak seindah ketika air terjum masih ngalir (embuh tahun berapa). Pada kunjungan pertama pasca 2010, di bagian atas bukit terlihat banyak pohon gundul, sisa tersengat wedhus gembel. 

Sejak air terjun mampet, hanya monyet yang membuat saya masih berkunjung ke sana. Saya suka memperhatikan polah tingkah kerabat jauh itu. Pernah nyaris setengah hari saya nongkrong sambil nenteng kamera, tapi tidak sekalipun ambil gambar. Saya justru lebih sibuk mengikuti gerak mereka menggunakan monokuler.




Di mata saya, monyet-monyet itu lucu dan sedikit menggemaskan, selama tidak lupa selalu waspada. Meleng sedikit, siap-siap saja ada barang tentengan pindah tangan. Pernah saya alami, tas kresek berisi sampah tisu dan bungkus bekal yang saya letakkan dekat kaki, amblas di bawa kabur. Geli, pengin ketawa, sekaligus iba, ketika melihat tas itu akhirnya dilempar dari atas pohon di kejauhan, setelah isinya diobok-obok.

Hari itu hutan wisata masih sepi orang. Setelah berkeliling beberapa saat, saya nemu spot bagus untuk mengabadikan aktifitas monyet-monyet di  pohon maupun di tanah tanpa terganggu lalu lalang pengunjung, cukup mendapat sinar matahari sekaligus tidak nantang back light.   

“Haloooo, pagiiiii. Mau kacang?” Saya melempar umpan, memancing beberapa ekor mendekat.

Belakangan saya baru tahu, memberi makan saat sepi pengunjung adalah tindakan sembrono. Ketika umpan habis,  yang datang belakangan dan belum kebagian, menjadi marah. Dua ekor berbadan besar, mbeker, pamer gigi sambil mondar mandir di sekitar saya.

Beruntung, tidak lama kemudian pengunjung mulai berdatangan, nyebar makanan pula. Monyet-monyet yang sempat berkerumun di sekitar saya langsung bubar, memburu makanan yang di tebar di beberapa tempat.

Lega. Saya bisa mulai jeprat-jepret.

Suatu saat, ketika sedang asyik nginceng monyet pacaran di atas pohon, bahu saya didorong lumayan keras.

“Siapa kasih kamu ijin ambil foto kami?”

Sebentar, jangan salah paham ya, yang mendorong dan negur saya orang, bukan monyet. Badannya kecil, wajahnya tidak terlihat galak tapi ada kesan dipaksa sangar.

Kaget, merasa tidak motret orang, dan sedikit geli melihat wajah yang dibuat galak, saya sempat terbengong saja ketika dimaki-maki. Tapi kemudian saya sadar situasi, lalu saya persilakan orang itu melihat semua hasil jepretan saya di kamera. Kebetulan sore sebelumnya kartu memorinya saya format, jadi yang tersimpan hanya foto-foto di hutan wisata itu saja.

Setelah melihat semua foto, orangnya bertanya, “Cuma ini?”

“Iya”

“Tapi kameramu mengarah ke kami.” Orang itu menunjukkan beberapa foto di ponselnya, terlihat saya sedang ngintip kamera dengan lensa mengarah kerumunan keluarganya.

Kembali saya arahkan kamera menuju kerumunan, lalu saya zoom sampai mentok. “Silahkan dilihat lagi.” 

Lalu saya lanjut menjelaskan, “Ini kamera prosumer. Dengan focal length 2000mm, lensa mengarah ke sebuah obyek tidak selalu menyebabkan obyek itu masuk frame.”

Yang terlihat di layar LCD memang bukan orang, melainkan seekor monyet yang bertengger jauh di  pohon. Biar puas, zoom saya kurangi perlahan sampai beberapa orang terlihat di layar LCD.

“Oooooo …….”

Sumpah, melihat wajah polosnya yang rada-rada ndesit, saya sama sekali tidak punya rasa pengin marah. Jadi, ketika dia ngajak salaman sambil pringas pringis, sayapun menganggap urusan selesai.

“Sing difoto munyuk!” Sambil berjalan, orang itu berteriak ke arah keluarganya. Sebenarnya saya kebelet ketawa, tapi saya tahan-tahan, ketimbang jadi masalah lagi.


Related Post:
1. 
Ketika Tubuh Menggigil, Pikiran Berkelana dan Nyali Menyusut
2. Pasukan Elite Penjaga Rumah

18 Mei 2021

Ketika Tubuh Menggigil, Pikiran Berkelana, dan Nyali Menyusut

 


Kalau tidak salah hitung, sudah 7 hari saya ngantor tanpa aktivitas apa-apa, selain bengong mikir order mampet dan tengok-tengok komputer, berulangkali melakukan simulasi finansial seandainya pandemi berlangsung sampai Juni 2020. Tapi selalu berujung kopong.

Ternyata tidak melakukan apa-apa lebih melelahkan, terutama ketika penjualan mampet, sementara karyawan tetap harus digaji.

Di luar, kabar tentang covid 19 semakin simpang siur. Beberapa orang berusaha menekan pemerintah supaya lock down nasional, sebagian lagi ngumbar cerita betapa mengerikannya covid di belahan dunia sana: rumahsakit penuh, bahkan ada video Youtube menayangkan kondisi di Equador, mayat korban covid bergelimpangan di jalan.

Lalu tiba-tiba saya merasa meriang, mata panas, tenggorokan perih, badan pegel-pegel …….  Gejala seperti ini sebenarnya sudah langganan saya sejak muda. Bisa akibat telat ganti baju sehabis kehujanan, bisa juga karena sering telat tidur. Biasanya satu porsi nasi diberi kuah bakso pedes dan sedikit tidur siang sudah cukup untuk membuat badan kembali segar, tapi kali ini dibantu paracetamol sampai 4 kali minum, tidak ngefek. Bahkan hari berikutnya lidah saya mati rasa.

Saya terinfeksi Covid?

Saya bukan pemberani, bahkan cenderung gampang takut, sering deg-degan oleh kejadian sepele, tapi belum pernah ciut nyali. Kali ini saya benar-benar ketakutan.

Apakah saya mulai takut mati? Entahlah. Selama ini saya punya pemahaman, mati tidak lebih dari tidur dan tidak bangun lagi, dan saya tetap meyakini seperti itu. 

Belum rampung mikir, lidah mati rasa. Setelah itu saya sadar tidak bisa membaui aroma wedang kopi.

Blaen ………

Selain saya, di kantor masih ada 3 lagi yang masuk kerja. Direktur pemasaran dan dua staff administrasi. Kami baru saja menyelesaikan SPT tahunan, dokumen-dokumen yang semula dibongkar dari lemari arsip, digunakan sebagai rujukan menyusun SPT, belum seluruhnya disimpan kembali. 

Perlahan saya mlipir dari ruang kantor. Saya tidak ingin nulari orang lain.

Sebenarnya saya pengin pulang. Dalam kondisi meriang berat biasanya selain nasi berkuah bakso dan teh anget, berada dekat istri membuat saya lebih nyaman. Tapi kali ini saya tidak punya nyali untuk langsung pulang.

Barangkali lantaran terlalu sering melihat saya sentlap sentlup dan demam (pernah sebulan pilek sampai 3 kali dan pernah juga setahun flu sampai lebih dari 10 kali), istri saya santai saja ketika saya pulang dengan kondisi berantakan :Mata merah, sentlap-sentlup, wajah kuyu. Bahkan dia tetap santai ketika saya menetapkan protokol covid di rumah. Anak dan istri tinggal di rumah induk, sementar saya mengungsi di kamar belakang. Keluar dan masuk rumah melalui pintu butulan yang selama ini jarang dibuka.

Kenapa tidak langsung ke dokter?

Gejala covid sangat mirip dengan kondisi saya saat itu. Saya tidak mau nantang resiko masuk karantina. Cerita seputaran karantina yang sempat saya dengar tidak ada enaknya. Disamping itu, saya tidak mau mati jauh dari anak dan istri. 

Lagipula, saat itu pengetahuan tenaga medis terhadap covid tidak beda jauh dengan saya, sama-sama tidak tahu. Seandainya saya terinfeksi, menurut saya akan lebih aman kalau saya tangani sendiri, ketimbang pasrah pada orang lain. Sama-sama buta covid dan sama-sama trial and error, saya lebih suka memilih menghadapi resiko dengan cara sendiri, ketimbang menggantikan peran tikus percobaan di tangan dokter.

Biasanya saya aleman. Demam dikit, tiduran. Nasi kuah bakso pedes dan teh anget selalu tersedia kapanpun saya mau. Sekarang saya bahkan tidak berani minta apapun. Saya tidak mau anak atau istri mondar-mandir di sekitar kamar.  

Malam pertama sejak memutuskan isolasi, menjadi malam yang berat bagi saya. Jam berapa, embuh, saya terbangun,  menggigil. Selimut tidak mempan, bahkan sampai nyelip di bawah bed coverpun tetap kedinginan. Sambil menahan dingin saya berusaha tidur, tapi yang terjadi kemudian justru pikiran saya kacau.

Antara tidur dan masih terjaga, saya merasa berada di tempat lain dengan kejadian-kejadian yang tidak jelas. Terakhir yang bisa saya ingat, saya rebutan botol minum, lalu terjengkang.

Ternyata saya jatuh beneran dari tempat tidur. Saya terkapar di lantai, masih menggigil. Sebelum kembali naik tempat tidur, saya melihat bayang-bayang botol air minum (mata saya minus lebih dari 10, tanpa kacamata, apapun hanya terlihat sebagai bayangan). Saya memaksa diri meraih botol, lalu menenggak isinya yang cuma tinggal separo, sampai habis.

Sesaat saya teringat, sejak awal demam saya jarang minum. Padahal biasanya dari pagi sampai siang saja selalu habis air putih satu botol ukuran 1,5 liter.

 Jangan-jangan saya dehidrasi!   

Saya paksa berjalan menuju galon air minum di ruang makan. Tidak jauh, dari kamar hanya sekitar 2 atau 3 meter, tapi butuh perjuangan keras untuk mencapai tempat itu. Apalagi setelah minum 2 gelas air hangat, tak lama kemudian kebelet pipis.

Seandainya tidak sedang pandemi, tentu tidak perlu sengsara seperti itu. Saya bisa minta dibuatkan teh anget dan tetap kemulan di tempat tidur. Tapi ada manfaatnya juga, kuwatir menularkan covid membuat saya terpaksa tegar.

Saya sempat demam tiga hari, meskipun menggigilnya hanya pada malam pertama. Dua hari berikutnya saya memaksa diri keluar rumah. Saya punya kebiasaan buruk, kalau merasa tidak enak badan lalu hanya tiduran saja, tambah lama malah jadi parah.

Jadi, saya memaksa diri kembali pada aktifitas rutin, nyapu halaman, ngopeni kucing dan babat-babat tanaman karena kebun mulai terlihat gondrong. 

Hari ke empat saya ngantor lagi, bukan karena ada pekerjaan, tapi ketika buka WAG kantor, driver yang jago mijet sedang main ke kantor. 

Apakah setelah dipijet, sembuh? Lha embuh. Pegel-pegel dan sumengnya masih terasa, tapi sakit kepalanya ilang. Lebih enak dianggep sembuh saja, karena saya kepengin makan rujak es krim. 

Sebenarnya saya sedang diet. Berpantang karbo, gula, dan semua yang mengandung kuning telor, tapi bolehlah sekali-sekali dietnya libur. Terutama kalau lagi jauh dari dua satpam saya (anak dan istri).

Belum lagi habis satu mangkok es krim, hidung saya sudah sentlap-sentlup. Memang sering begitu, artinya butuh satu mangkok kuah bakso pedes, supaya tidak berlanjut banjir ingus. 

Lalu, apakah saya kena covid atau hanya demam biasa? Bodo amat. Yang penting karantina mandiri  tetap jalan, biar tidak nulari orang.


Related Post:
1. Tawa, Pisuhan dan Kenangan yang Tersisa
2. Foto Keluarga

12 Februari 2021

Tawa, Pisuhan, dan Kenangan yang Tersisa


Beberapa teman seumuran mengeluh, meskipun dekat anak dan cucu, hidup terasa lebih sepi. Kesempatan ketemu teman dekat berkurang akibat fisik sudah tidak mampu lagi diajak dolan jauh.

Saya tidak bisa memberi solusi karena sejak muda saya lone wolf, tidak dekat secara emosi dengan siapapun kecuali anak dan istri. Saya berteman dengan siapa saja dalam derajad sama, hanya teman., tidak ada  sahabat. Kalaupun ada beberapa yang sering ketemuan, dolan bareng, gojeg kere, pisuh-pisuhan, ya hanya sebatas kenal kebo, tidak lebih

Saya tidak memilih menjadi lone wolf, saya jalani saja sesuai perasaan. Disamping itu, saya tidak terlalu suka terlibat dalam urusan pribadi orang lain. Begitu pula sebaliknya, saya tidak suka seseorang nyelonong begitu saja ke dalam ranah pribadi saya, terutama urusan agama.

Terbiasa sendiri, ketika  kesempatan dolan menjadi berkurang di masa pandemi, saya tidak kehilangan siapapun, karena saya bisa menemukan teman lain di manapun dalam jangkauan fisik.

“Bedalah, teman yang cuma sekedar kenal dengan teman yang beneran care padamu.”

“Iya, waktu muda saya pernah punya, tapi saya kurang suka pada orang yang memberi perhatian dengan cara seperti itu.”

“Berarti jiwa sosialmu bermasalah.”

“Mungkin”

Seperti terhadap teman-teman lain, dengan orang ini saya cuma kenal kebo. Tapi entah kenapa, saya tidak perduli saat dia ngrusuhi ranah pribadi saya. Dan ketika dia,  saya panggil Gembul karena ukuran badannya yang extra large,  meninggal, ternyata saya merasa kehilangan.

Hampir setahun tidak ada lagi yang menyapa saya “Jek orep tah?”. Ketika saya melanggar diet, tidak ada lagi yang protes “Manganmu ngawur kok gak matek-matek?”.

Tidak ada lagi yang ngakak di telepon ketika mendengar kabar saya lari terkencing-kencing saat mendengar suara guguran Merapi atau saat saya uring-uringan ketika menerima surat cinta dari DitJend Pajak. 

Tidak ada lagi yang misuh, “Wedhussss!!!” Ketika dia menyuruh saya mulai rajin ibadah, “golek dalan padang”, lalu saya tunjukkan senter 6000 lumens sambil berujar, "Pakai snter ini mosok kurang padang?" karena ternyata senter miliknya menyala lebih terang. 

Selama pandemi 2020 saya punya banyak waktu luang. Ketimbang gabut, sekaligus menjajagi peluang bisnis baru, saya menjadi kurir belanja. Saya menerima order dari siapa saja yang butuh belanja tapi takut keluar rumah. Gembul menjadi salah satu pelanggan tetap saya.

Sebenarnya Gembul memberi order bukan karena butuh dibantu belanja, tapi sebagai pelampiasan sebel lantaran tahu saya bisa bebas keluyuran, sementara dia bahkan tidak diijinkan ke luar rumah sama sekali. Selain belanjaannya sering seenak udel, setiap kali saya datang mengantar belanjaan, dia selalu ngotot minta diijinkan ketemu. Maka, sebelum Gembul keluar, saya terpaksa menjalani ritual pembersihan badan terlebih dahulu. Disembur desinfektan, disuruh mengenakan jas lab yang selalu tersedia  untuk saya, dan mengganti masker. 

“Wong ndableg ngene iki lho, gak ketularan kopit, gak matek.” Gembul protes pada anak dan mantu yang menyekap dia sejak awal pandemi

Setelah itu giliran saya pula kena sembur,  “Tulung kau ikat anak dan mantuku di pohon.”

Saya berpaling ke arah menantu yang sedang momong bayi, “mBak, mertuamu ajaken jalan-jalan po-o?”

“Jancuk!!! Padakno kirik, dijak mlaku-mlaku”

“Ya gosah dicancang.”

“Pudel punya Mey Mey nek dijak mlaku-mlaku yo gak kathik ditaleni, cuuukkk!”

Berlagak bego, saya plesetkan pudel menjadi udel (puser), “Lah opo udelnya Mey Mey ditaleni?”

“nDuk ……” Gembul berteriakk ke arah menantunya, “Lain kali kalau bedhes satu ini datang gak usah disuguhi, tambah nemen budhege.”

“Kalau enggak disuguhi, ngapain aku ke sini?”

“Lek kamu gak ke sini, terus siapa sing tak pisuhi, wong kancaku yang berani klayaban cuma kamu?” 

Ketika PSBB berakhir dan semua orang mulai keluyuran, Gembul kembali sibuk dengan sepedanya. Sayapun kembali menjadi lone wolf yang merdeka tanpa diganggu telepon lebay si Gembul yang kebanyakan sambat, karena bosen jadi tahanan rumah.

Suatu saat Gembul ngajak tiga teman gowesnya nekad nyusul ketika saya sedang motret Merapi di Kalitalang. Sebenarnya mereka sudah beberapa kali bersepeda sampai bukit Klangon, masalahnya, meskipun diukur dari puncak Merapi posisi Kalitalang lebih di bawah ketimbang Klangon, tapi rutenya lebih terjal.  Sementara rombongan bocah tua seukuran karung beras 100 kilo itu sama sekali tidak kenal medan.

Menjelang pos Balerante akhirnya Gembul menyerah. Dia bengak-bengok di telepon. Sayapun turun menjemput.

“Bedheeessss!!!! Ternyata kamu naik motor?” Gembul muring-muring. Raut mukanya morat-marit antara jengkel dan ngap-ngapan.

“Lha rumangsamu?”

Saya telepon anak mbarep Gembul, “Bapakmu temangsang di Balerante.”

Gegerlah semuanya. Istri, anak, mantu, bayi dan sopir, sak rombongan nyusul ke Balerante.

“Tak kira si Doel peyot itu naik sepeda. Mosok dia kuat aku enggak?” Gembul berdalih ketika semua orang ngomel bergantian.

Tidak disangka, itu adalah pertemuan terakhir kami. Beberapa hari kemudian Gembul telepon, pamit ke Jakarta, “Nengok cucu.” Tapi setelah sempat mampir Rumahsakit, dia tidak pernah pulang. 

Sejak saat itu, setiap kali menuju Kalitalang saya selalu berhenti sesaat di tempat Gembul pernah ndheprok.

Saat itu, sambil nunggu jemputan tiba, saya bercerita banyak tentang Kalitalang.

“Kamu punya tempat bagus untuk ngadem, kenapa nggak pernah cerita?”

“Kapan-kapan kita camping di sana.”

“Bisa?”

“Yup.”

“Angker?”

“Setan mana berani sama kamu!”

 “Kalau gunungnya mbledhos?”

Gembul pringas-pringis ketika saya melotot.


********

Terimakasih mBul, untuk sesaat kamu sudah memberi warna lain dalam hidupku.


Related Post:
1. Teman dari Kaki Merapi
2. Ketika Tubuh Menggigil, Pikiran Berkelana dan Nyali Menyusu

03 Januari 2021

Teman dari Kaki Merapi

 Di salah satu spot favorit saya ngintip Merapi ternyata sering disambangi seekor anjing hitam. Entah siapa takut siapa, yang jelas setiap kali kami berpapasan kalau bukan saya yang manjat batu cari selamat, anjing itu ngacir sambil nggereng. 

Saya kemudian ambil inisiatif berdamai dengan berbagi bekal. Secuil kecil setiap kali dia datang, dan kami segera berteman. Kadang setelah makan dia duduk manis dekat tripod, menemani saya jepret-jepret Merapi sampai terdengar suitan panjang dari kejauhan.


Jangan heran fotonya compang-campig. Memang berasal dari banyak foto digabung

Sekitar sebulan sebelum pandemi saya sempat ketemu pemiliknya, seorang simbah-simbah, menurut pengakuannya berumur 82 tahun. Fisiknya terlihat masih kuat, bahkan harus saya akui lebih fit ketimbang saya. Paling tidak simbah itu masih kuat berjalan jauh sambil manggul seonggok besar rumput.

Saya bisa bilang jauh karena rumah penduduk paling dekat berjarak 3 kilometer dari tempat kami bertemu. Bagi saya, jarak segitu dengan kontur naik-turun, ditempuh jalan kaki sambil manggul beban bisa bikin boyok sempal.

Saat ngobrol sambil jalan, simbah bercerita tentang Merapi, wedhus gembel dan wisatawan yang mulai banyak berdatangan. Lalu tiba-tiba, “Mangga, kula aturi pirsa panggenan ingkang sae kangge motret redi Merapi.”. 

Tanpa menunggu persetujuan, simbah langsung ngunclug, meninggalkan saya keponthal-ponthal menyusul di belakang. Beberapa kali pengin rasanya berteriak, minta  istirahat, tapi mulut lebih sibuk megap-megap.

Edan tenan! Carrier yang saya gembol beratnya kurang dari 10 kg, tidak sebanding dengan rumput yang disunggi simbah itu, tapi saya harus berjuang keras hanya sekedar untuk menjaga jarak supaya tidak terlalu jauh tertinggal. Sementara si wedhus balap item malah lari bolak-balik antara saya dengan simbah sambil menggonggong

Di telinga saya gonggongan itu terdengar ngenyek, “cepetan dikit napa?” 

Akhirnya kami tiba juga di spot yang benar-benar waaoooowww. Merapi terlihat dari puncak sampai kaki.

Saya baru saja mulai selonjor ketika simbah mendadak pamit. Wo lha ndak bisa gitu, gara-gara jalan sambil ngap-ngapan saya tidak memperhatikan rute, kalau harus pulang sendiri bisa repot. Terpaksa saya keponthal-ponthal lagi, menyusul simbah sambil sebisanya memperhatikan rute.

Jangan tanya lokasi, saya lupa bertanya nama desanya. Yang saya tahu, di sana kartu hape saya bungkam seribu bahasa. Tapi saya hafal rutenya.

Tahun 2020 sudah berakhir 3 hari lalu, artinya sudah hampir setahun saya tidak ketemu simbah dan wedhus balapnya. Status Merapi masih siaga, tapi sejak malam tahun baru aktifitasnya lumayan nanjak. Tanggal 1 dan 2 Januari gempa di Merapi bahkan sampai lebih dari 600 kali per 24 jam.  Semoga simbah berdua dan seluruh warga kaki Merapi baik-baik saja.


Related Post:
1. Nonton Mobil Ciblon
2. Tawa, Pisuhan dan Kenangan yang Tersisa



HOME