01 April 2026

Dendam di Ujung Lorong


Sebelumnya disclaimer dulu: Kalau Anda sedang makan, ada baiknya tunda dulu niat membaca. Postingan ini punya potensi mampu membuat masakan chef kaliber Internasional sekalipun ditolak oleh mulut dan perut.

Bagi yang masih bertahan, saya ucapkan selamat membaca.


Saya punya kebiasaan bongkar sampah biologis setiap hari antara jam 5.30 sampai jam 7. semacam happy hour yang tidak boleh disia-siakan. Sekali saja berani absen, materi yang tertunda itu bakal marah, lalu akan melampiaskan dendamnya dua sampai tiga hari kemudian. Repotnya, mereka tidak sekedar mogok tidak mau keluar, tapi sekaligus memberi pelajaran keras sypaya lain kali saya tidak lagi main-main dengan kewajiban saya.

Biasanya, setelah lewat jam 7, saya masih diberi toleransi sekitar satu jam. Semacam kesempatan untuk bertobat. Tapi kalau tetap nekat mengabaikan, maka sanksi tegas segera diberikan. Bukan sekadar tidak mau keluar, mereka mulai unjuk rasa.

Entah guling-guling atau lompat lompatan, yang jelas mereka menciptakan sensasi seolah di bagian ujung lorong bakal terjadi bencana besar. Masalahnya, ketika akhirnya saya menyerah, lalu duduk di singgasana keramat dengan penuh harap—bahkan sampai pinggang pegal dan pantat kesemutan—Tidak ada satupun yang nongol.

Hanya ada kosong dan hening.

Tapi pelampiasan hukuman tidak berhenti sampai di situ. Selain pendendam, solidaritas mereka ternyata lumayan tinggi. Besok pagiya, kloter selanjutnya, alih-alih memaksa gerombolan yang sedang mogok  segera keluar, malah bergabung. Bersama sama menciptakan sensasi bakal terjadi erupsi besar. Tapi ketika saya kembali duduk di singgasana, bahkan sampai satu album orkestra Paul Mauriat rampung, tak satupun keluar. Yang terjadi kemudian, malah sensasinya ilang.

Saya pikir, mereka lelah, lalu Istirahat. Maka sayapun berangkat ngantor.

Ternyata mereka hanya mencari momen terbaik untuk menuntaskan dendam. Saat saya dalam perjalanan, jauh dari rumah, jauh pula dari kantor, di ujung lorong terjadi gempa tremor dengan intensitas tinggi.

Tentu saja saya kalang-kabut. Lalu lintas sedang padat-padatnya, sementara motor tua saya tidak mampu diajak adu balap, membuat keringat dingin sebesar biji jagung spontan berhamburan, mengiring perjuangan saya menjinakkan tremor supaya tidak keburu terjadi erupsi. Sumpah serapah di sepanjang perjalanan tidak lagi saya hiraukan. Saya hanya fokus berusaha supaya tidak ada lava mengalir.

Biasanya perjalanan menuju kantor saya tempuh sekitar 20an menit. Kali ini bukan hanya terasa lebih lama, tapi memang senyatanya lebih lama. Perjalanan saya terhalang kereta api. Bukan hanya satu rangkaian, tapi dua sekaligus berpapasan di depan hidung. Masih ditambah petugas pintunya tidak segera membuka palang meskipun kereta sudah melintas. Seolah dia solider dengan para demonstran di ujung lorong.

“Ndang buka-en cuuukkkk!!! Selak mbledhos iki lho.”

Begitu ujung palang sedikit terangkat, saya langsung menerobos sambil nunduk, lalu melaju secepat mungkin. Tapi apes, setiba di kantor baru ingat, hari itu tanggal merah. Libur nasional. Buru-buru saya ambil ponsel dari tas, lalu telepon penjaga kantor, mnta segera dibukakan pintu. Tapi setelah nyambung, ternyata dia sedang ke bengkel, kemarin memang saya suruh rotasi ban mobil.

Tidak ingin buang waktu, termasuk sekedar untuk misuh sekalipun, saya segera tancap gas, pulang. Tremor semakin kuat, intensitasnya semakin tinggi.

Sampai hari ini saya belum bisa membayangkan bagaimana kelakuan saya dijalan saat itu. Rel di perlintasan yang terlalu menonjol di permukaan aspal tidak lagi saya hiraukan. Terobos saja, asal tidak nyungsep. Saya sempat mendengar beberapa orang ngegas, mengucapkan kata-kata mutiara. Tapi bodo amat.

Menjelang tiba di rumah, ternyata perjuangan saya tidak dihargai. Bukan keburu erupsi, melainkan tremornya mendadak lenyap begitu saja. Di ujug lorong juga terasa sepi. Tidak ada demo. Tidak ada sensasi apapun. Bahkan setelah beberapa menit saya duduk di singgasana, suasana tetap tenang. Sampai akhirnya saya tahu diri, lalu minta maaf, dan berjanji, lain kali tidak akan mengabaikan happy hour lagi.

Ajaib. Setelah itu, dengan tertib dan santun, mereka keluar satu persatu, sampai tuntas. Tidak berisik dan tanpa drama. 


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri WOLES ZONE