24 Desember 2025

Pikiran yang Sering Kacau

Pernah nggak, badan lagi duduk manis, kopi masih panas, dunia kelihatan baik-baik saja, tapi di kepala sudah rame mirip terminal bus menjelang Lebaran?

Ada yang teriak, “Gimana nanti kalau begini?”

Yang lain nyamber, “Eh, tapi dulu kan pernah kejadian begitu.”

Belum sempat ditengahi, muncul satu suara sok bijak, “Semua ini akibat dari kesalahan yang kamu timbun sejak masih kuliah.”

Atas pengakuan karena sering mengalami kejadian seperti itu, saya menerima ucapan selamat dari para AI. Mereka sepakat, pikiran saya sedang overthinking, bukan rusak. Informasi ini seharusnya melegakan. Tapi entah kenapa, saya malah overthinking soal overthinking-nya.

Kenapa Pikiran Sering Kacau?

Pertama-tama perlu diluruskan dulu: pikiran itu alat, bukan penguasa. Masalahnya, alat ini terlalu rajin.

Tidak pernah libur, tidak kenal jam kerja, dan punya hobi melakukan simulasi bencana. Kalau saja ada piala Oscar untuk "Karyawan Paling Rajin tapi Paling Bikin Rusuh", pikiran saya sudah menang sejak lahir.

Fungsi asli pikiran itu sederhana: Menganalisa, mengingat dan mengantisipasi bahaya. Di jaman ketika nenek moyang kita masih berburu mammoth dan tidur di gua, kemampuan ini sangat berguna. "Eh, semak itu gerak. Jangan-jangan harimau." Dan boom, nyawa selamat.

Tapi entah sejak kapan, pikiran berkembang jadi sutradara film horor merangkap penulis skenario, sekaligus MC talkshow tengah malam di dalam kepala. Lebih parah lagi, dia produksi konten 24/7 tanpa permisi. Sedikit data, dipelintir. Sedikit pengalaman pahit, diputar ulang dengan slow motion dan soundtrack dramatis. Sedikit ketidakpastian, langsung dibuat 10 kemungkinan terburuk plus bonus ending alternatif yang lebih mengerikan.

Masih menurut para AI, semua itu terjadi bukan karena saya lemah, tapi justru karena pikiran saya terlalu kreatif, hanya kurang diawasi. Mungkin bisa dibilang, overthinking adalah talenta yang salah alamat. 

Overthinking: Googling Tanpa Filter

Tak pikir-pikir, overthinking itu seperti bertanya pada Google tanpa memberi filter. Saya pernah bertanya, kenapa gampang capek? Responnya singkat, jelas dan secara ilmu pengetahuan memang benar: Kurang tidur, stres, burnout, penyakit langka, dan faktor umur. Semua dirangkum dalam narasi dengan judul "Gejala Awal yang Sering Diabaikan." 

Tak lama kemudian, saya diyakinkan mengalami gejala penyakit autoimun, kekurangan vitamin D, dan mungkin juga diabetes tipe entah berapa. Padahal yang sebenarnya terjadi: saya cuma sering begadang di angkringan sebelah, nonton orang debat ijazah palsu Jokowi.

Pikiran bekerja persis begitu. Ketemu satu sensasi kecil, langsung browsing internal tanpa sensor. Semua file dibuka. Termasuk yang sudah diarsipkan dengan label "Jangan Dibuka Lagi."  Lucunya, saya sering percaya begitu saja tanpa cek sumbernya. Kalau pikiran bilang, "Kamu pasti gagal," saya langsung angguk. Padahal, kalau orang lain yang bilang, saya masih sempat debat. 

Masalah utamanya bukan pikiran, Tapi saya terlalu nurut

plot twist-nya: pikiran sebenarnya tidak jahat. Dia cuma terlalu bersemangat, seperti anak magang yang baru kerja seminggu tapi sudah mau reorganisasi seluruh perusahaan.

Ketika Pikiran bertanya: “Kalau nanti gagal gimana?” 

Mestinya itu cuma pertanyaan, bukan perintah, bukan ramalan, apalagi vonis. Tapi apa yang saya lakukan? Alih-alih tetap fokus pada tujuan, saya malah cenderung setuju. Bahkan ikut menambahkan skenario kegagalan versi extended director's cut.

Ketika dia bertanya, "Bagaimana kalau orang lain menilai buruk?" lagi-lagi saya membiarkan saran itu menguasai nalar. Padahal, orang lain mungkin bahkan tidak ingat nama saya. Tapi di kepala, saya sudah jadi trending topic dengan 10 ribu komentar negatif.

Akhirnya saya tidak bisa menolak saat pikiran merasa jadi bos dan menganggap saya wajib nurut. Pikiran tidak melakukan kudeta. Tidak ada rapat darurat, tidak ada deklarasi kemerdekaan. Tapi saya sendiri yang membiarkan dia mengambil alih posisi sebagai pemimpin. Padahal seharusnya, pikiran hanya asisten.

Sedikit Rahasia: Kesadaran Itu Lebih Luas dari Pikiran

Konon katanya, sesuatu yang membuat kita merasa sebagai “aku”, adalah kesadaran, bukan pikiran. Kesadaran adalah ruang, sementara pikiran hanya sekedar suara. Mirip seperti lagu yang didengar melalui radio di ruang tamu. Yang berisik adalah lagunya. Ruang tetap tenang tanpa ikut rusuh. Tapi orang yang mendengar punya dua pilihan, cuek tidak terpengaruh, atau membiarkan emosinya larut dalam suasana, dan berujung mengalami kelelahan mental.

Kesadaran bukan kumpulan pikiran, melainkan tempat pikiran lewat. Seperti layar bioskop yang tidak berubah meski filmnya berganti-ganti. Layar tetap putih, entah yang tayang film horor atau komedi romantis. Kabar baiknya, apapun yang lewat, silakan lewat saja. Kita tidak wajib menanggapi, tidak harus percaya, apalagi mengikuti..

Yaaa, teorinya begitu. Prakteknya ternyata tidak gampang;

Tapi sekarang saya punya cara lumayan manjur untuk membuat yang tidak gampang itu menjadi lumayan tidak sulit. Satu kata saja: CUEK.

Bukan cuek dalam arti tidak peduli atau masa bodoh. Bukan juga cuek seperti orang yang nonton rumahnya kebakaran sambil minum es teh. Melainkan cuek versi bijak dari orang yang kenyang kena gampar paja. Cuek yang sadar. Cuek yang paham kalau tidak semua yang terlintas di kepala layak ditanggapi serius.

Kalau pagi-pagi kepala terasa kacau, tidak perlu buru-buru menyimpulkan ada yang salah. Santai saja. Meringis dikit juga boleh. Setelah itu tarik napas panjang, tahan sebentar, lalu hembuskan lebih pelan. Biarkan yang di kepala terus ngoceh. 

Ini trik yang paling aneh tapi paling ampuh: jangan melawan. Semakin kita berusaha mematikan pikiran, semakin ribut dia. Seperti anak kecil yang lagi tantrum. Kalau diabaikan, lama-lama capek sendiri.

Biasanya, semakin saya tenang, lama-lama pikiran akan ikut tenang. Dia masih ngomong, tapi volume-nya turun. Dari teriakan jadi bisikan. Dari bisikan jadi gumaman. Dari gumaman jadi diam. Kalaupun masih rewel, kemungkinan memang sudah waktunya sarapan. 

Pikiran tidak akan pernah diam sepenuhnya. Dan mungkin memang tidak perlu. Dia punya peran penting, selama kita tidak memberinya kekuasaan mutlak. Selama kita ingat bahwa dia cuma asisten, bukan CEO kehidupan kita.


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri PARADOKS

22 Desember 2025

Kepala yang Selalu Rame

Sepertinya, semua masalah yang saya alami bermula dari kepala yang selalu rame tanpa kenal waktu. Enggak perduli mata baru melek, siang, sore, sampai menjelang tidur lagi, ada saja celotehannya.

Kadang baru bangun tidur, mata masih setengah melek, nyawa belum ngumpul, tapi di kepala sudah ada demo akbar. Ada yang sekedar berkomentar, ada yang mengeluh. Yang lain mengingatkan hal-hal yang belum tentu penting tapi maksa masuk. Lengkap dengan nada mendesak, seolah semua harus dibereskan saat itu juga.

Mending kalau sekedar rame seperti pasar malam – masih ada musik, ada lampu warna-warni. Setidaknya ada hiburan. Yang saya alami lebih mirip kejebak di tengah pasar senggol. Selain bising, berdiri diampun badan kena senggol dari segala arah.

Pada saat saya diam, kepala justru lebih puyeng ketimbang ketika saya mengerjakan sesuatu. Diam bengong membuat segala celotehan lebih terasa nendang. Tanpa ada distraksi dari luar, pikiran seolah mendapat panggung spesial untuk mengadakan pertunjukan tanpa jeda

Otak yang pada dasarnya memang kreatif, menjadi semakin produktif menciptakan skenario-skenario seru, tanpa perduli apakah bagi saya skenario itu bermanfaat atau malah kontra produktif. Ada kilas balik percakapan beberapa tahun lalu yang sebenarnya sudah tidak relevan. Ada juga simulasi peristiwa yang belum tentu terjadi, tapi sudah diproduksi dengan detail sinematik lengkap—dari prolog sampai credit title.

Yang sering bikin saya tambah stres bukan ramainya, tapi rasa cemas, kuwatir, bahkan kadang sampai ketakutan, yang muncul setelahnya. Kadang malah sampai kepikiran, jangan-jangan ada yang konslet di dalam. Apakah ini normal? Apakah orang lain juga begini? Atau jangan-jangan hanya otak saya satu-satunya kerja lembur meskipun tanpa dibayar.

Konsultasi dengan AI (Karena Psikolog Mahal)

Tapi, menurut para AI yang saya tanya, kepala rame bukan pertanda buruk. Justru sebaliknya, menunjukkan kalau saya terbiasa mikir, menyimpan banyak pengalaman, dan punya tanggungjawab – untuk jawaban terakhir saya terpaksa sedikit meringis. Apa hubungannya otak yang ngigau macam orang mabok dengan tanggungjawab?

.Ternyata, masih menurut AI, yang membuat saya kedodoran bukan jumlah “suaranya”, melainkan cara saya menanggapi. Bukan soal berapa banyak pikiran yang muncul, tapi seberapa serius saya menganggap setiap pikiran itu sebagai darurat nasional.

Berhubung saya tidak punya referensi lain, ya wis lah, penjelasan AI diterma dulu, ketimbang saya nebak-nebak sendiri, lalu merasa paling benar, padahal kesasar jauh.

Masih menurut AI, meskipun kepala saya selalu kebanjiran berbagai pikiran yang kebanyakan ngaco, tidak berarti saya ikut kacau. Pikiran-pikiran itu hanya salah satu hasil aktivitas otak. Awalnya saya ibaratkan asap kenalpot yang berasal dari proses pembakaran di mesin. Tapi kemudian dikoreksi oleh AI. Mungkin keberatan, pikiran disamakan dengan asap kenalpot yang kotor dan harus dibuang, AI memilih perumpamaan awan.

Mau berwujud gumpalan hitam kelam, bergulung-gulung membawa badai, atau seputih kapas dan merayap pelan, sama sekali tidak berpengaruh terhadap langit di atasnya. Mendung pekat tidak akan membuat langit retak.

Lah iya, bagaimana mau retak kalau sesungguhnya langit tidak pernah ada?

Beruntung saya segera sadar, konsultasi gratisan, gak boleh ngeyel.

Dari Melawan menjadi Membiarkan

Dulu saya sering mencoba mengusir keramaian di kepala itu. Saya suruh diam, saya sangkal, bahkan saya lawan, dengan harapan mereka akan tertib bubar dan meninggalkan kepala saya dalam ketenangan.

Ternyata malah tambah ribut. Macam demonstran bayaran enggak kebagian nasi bungkus.

Sampai suatu hari saya lelah sendiri, lalu berkata dalam hati: “Oh, kalian lagi kumpul? Ya sudah. Silakan.” Bukan dengan nada pasrah, tapi lebih ke... ya sudah, mau bagaimana lagi.

Seperti biasa, pikiran-pikiran itu tambah meriah. Tapi kali ini terasa sedikit beda. Seperti ada jarak. Saya tidak lagi merasa kena tonjok, tapi lebih mirip nonton demo dari kejauhan. Bisa melihat, bisa mendengar, tapi jauh dari resiko kena timpuk.

Apa pun narasi yang muncul—olok-olok saya akan gagal, nyinyiran yang menghakimi, atau ramalan masa depan suram—semua lewat begitu saja. Blas tidak nyenggol. Semakin lama saya perhatikan, justru terasa semakin asyik. Seperti nonton talk show, di mana semua tamu bicara seru, tapi tidak ada kewajiban untuk setuju atau tidak setuju.

Tenang Bukan Karena Sunyi

Saat itulah, untuk pertama kalinya, saya merasakan sesuatu yang berbeda: tenang bukan karena suara hilang, tapi karena saya tidak ikut berisik. Kepala masih ramai, tapi saya tidak lagi menjadi bagian dari kegaduhan. Saya bisa mendengar, tapi tidak harus menanggapi. Bisa melihat, tapi tidak harus bereaksi. Ada jarak tipis yang membuat segalanya terasa lebih ringan.

Sejak saat itu saya tidak lagi menganggap otak saya soak. Kalau kepala sedang ramai, mungkin tanda ada banyak “perangkat” di dalam yang sedang bekerja. Mungkin itu cara otak memproses informasi, mengurai emosi, atau sekadar mengisi waktu luang karena bosan.

Dan mungkin, yang lebih penting, saya tidak perlu memperbaiki apa pun. Yang perlu saya lakukan hanyalah belajar hidup berdampingan dengan segala keramaian itu—tanpa terlalu mengambil pusing, tanpa terlalu percaya, dan tanpa terlalu takut. Karena pada akhirnya, pikiran hanyalah pikiran. Lewat, muncul, hilang lagi. Seperti awan di langit. 


Tulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri PARADOKS

04 Desember 2025

Rasa Takut Adalah Alarm, Bukan Musuh

Seorang terapis pernah memberi tahu saya cara mengatasi fobia terhadap jarum suntik. Dia mengajarkan teknik pernapasan dalam dan berbagai cara mengalihkan perhatian. Dia mengaku, metode itu pernah digunakan untuk mengatasi rasa takutnya saat ngantri vaksin covid dan booster.

Tapi, dia nampak bingung ketika saya memberitahu bahwa teror jarum sudah mulai saya rasakan sejak sehari sebelum suntik, bukan hanya ketika nunggu antrian.

"Bagaimana cara mengalihkan perhatian dari rasa takut yang berlangsung sepanjang hari tanpa jeda?" tanya saya. "Bagaimana saya bisa melakukan pernapasan dalam kalau pikiran sudah dibajak rasa takut sejak pagi?"

Dia terdiam sejenak sebelum memberi nasehat klise yang membuat saya terpaksa pura-pura takjub sebelum memilih diam: "Bapak harus berusaha meyakinkan diri bahwa rasa sakit disuntik hanya sebentar dan bertujuan untuk kebaikan..."

Saya hampir tertawa getir. Dia tidak paham. Saya bukan takut sakitnya. Sesakit apa pun ketika disuntik, belum seberapa dibanding pijat petir yang pernah beberapa kali saya jalani. Padahal sebelum dipijat, saya tetap santai-santai saja.

Saya phobia terhadap jarum suntiknya. Bahkan melihat fotonyapun bisa membuat saya demam tinggi. 

Sejak 2016 saya rutin periksa darah sebulan sekali. Pengalaman disuntik berulang kali tidak banyak membantu. Gejala kacau tetap terjadi, dan selalu muncul sejak pagi, sehari sebelum jadwal suntik. 

Suara di Kepala yang Berubah Jadi Ancaman

Selalu ada suara di kepala yang mengingatkan, bahwa rasa deg-degan itu bisa memicu masalah baru. Awalnya, suara itu terasa sebagai nasehat, tapi belakangan malah menjadi ancaman halus.

Ketika istri saya menjalani perawatan cukup lama di rumah sakit, teror jarum menjadi menu harian. Gara-gara sering melihat perawat lalu-lalang membawa nampan berisi suntikan, di mata saya, senyum ramah mereka terlihat seperti senyum algojo.

Saya bisa santai dan fokus saat ketemu dokter, membahas kondisi istri, tapi begitu berurusan dengan perawat—meski hanya untuk minta bantuan mengganti alas tidur—langsung keluar keringat dingin.

Suatu ketika, saat berpapasan di pintu kamar, salah satu perawat bertanya, “Bapak takut jarum suntik?”

Pertanyaan mendadak itu membuat saya hanya bisa meringis sambil mengangguk.

“Sebentar lagi shift saya selesai, kalau Bapak berkenan, saya ingin bicara sebentar.”

Sepertinya dia menyadari, saya selalu menatap ke arah tangannya setiap kali kami berpapasan—mungkin dengan ekspresi ketakutan yang terlalu jelas untuk diabaikan.

Pelajaran dari Simbah

Tak lama kemudian, di Hall lantai dua tempat kami bertemu, dia bercerita, "Saya juga pernah mengalami. Namanya trypanophobia. Setiap kali terbayang jarum suntik, kepala jadi pusing, jantung berdebar keras, kadang sampai demam."

Saya hanya diam. Antara kaget, heran, dan sedikit tidak percaya, orang yang sehari hari berurusan dengan alat suntik ternyata pernah mengalami nasib sama.

“Setiap kali saya mencoba menghalau, bayangan jarumnya semakin lengket di kepala. Semakin dilawan, semakin kuat.”

 Dia berhenti sesaat, seolah memastikan saya masih bisa diajak bicara.

“Kata Simbah, pikiran negatif tidak perlu dilawan. Otak kita punya mekanisme pertahanan kuat untuk menolak setiap perlawanan.”

Entah kenapa, kata “Simbah”, bukan Kakek atau Eyang, membuat saya merasa, di belakang perawat muda itu berdiri sosok yang kenyang menghadapi masalah dan mampu mengatasi kesulitan dengan bijak.

“Rasa takut bukan musuh, tapi peringatan terhadap potensi bahaya. Tidak perlu dilawan. Kalau potensi ancamannya tidak jelas, tidak perlu diladeni. Biarkan saja perasaan itu bermain sepuasnya di kepala, seperti Simbah membiarkan anak-anak tetangga bermain di halam rumahnya. Mungkin sedikit berisik dan mengganggu, tapi anggap saja sedang berada di tempat ramai.”

Sebenarnya, terapis saya juga pernah memberi petunjuk serupa: mengabaikan apa pun pikiran negatif yang muncul. Hanya saja saat itu saya merasa seperti berhadapan dengan guru yang sedang mendiktekan catatan, ketimbang terapis yang berusaha membantu saya mengatasi masalah.

Perawat itu hanya bercerita tentang pengalamannya sendiri, tapi saya merasa seperti melihat peta Google, lengkap dengan alternatif rute yang bisa saya tempuh. 

Ketika saya terapkan, meskipun tidak sepenuhnya membuat saya lepas dari fobia, saya mulai bisa tenang. Bahkan sekarang bisa mengisi cartridge tinta printer menggunakan suntikan tanpa membuat jantung gedubrakan.   

Ternyata, kadang yang kita butuhkan bukan instruksi klinis atau teknik canggih, melainkan cerita dari seseorang yang pernah berdiri di tempat yang sama. Mengalami ketakutan yang sama—dan selamat melewatinya.


ulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU

02 Desember 2025

Otak Membutuhkan Target yang Jelas dan Terukur

Salah satu teman hunting foto mengeluh, “Sudah Desember lagi dan kita masih begini-begini saja.” 

Pensiunan 2019 dari salah satu BUMN makmur itu menarik lipatan  kertas dari slender wallet berlogo LV. Di kertas itu tertulis beberapa target yang ingin dicapai tahun 2025, dan menurutnya, semua luput. Salah satu target yang sempat saya baca: Hidup tenang.

Sambil tetap memperhatikan LCD kamera, saya menanggapi singkat, “Kamu, bukan kita. Aku baik-baik saja.”

Begitu mulut saya mingkem, dia langsung nyaut, “Umurmu 64, terpaksa kembali mengais recehan, kamu merasa baik-baik saja?”  

Saya berpaling dari kamera, memandang wajah tuanya yang kinclong dan terawat. “Setelah ngebut di jalan tol, di luar gerbang ketemu macet sampai tidak bisa gerak, apakah sambat membuat jalan langsung lega?”

“Lalu kamu menyerah begitu saja?”

“Aku menyesuaikan diri dengan irama, sambil menunggu peluang.”

“Peluang dibuat, bukan ditunggu.”

Saya tidak menjawab. Jauh di depan ada momen indah yang tak boleh dibiarkan berlalu tanpa diabadikan. 

Meskipun kamera prosumer saya kurang ideal untuk motret beruntun, dengan sedikit repot, saya berhasil motret seekor monyet betina mengendong anak sedang melompat di antara pohon.  

“Peluang seperti ini hanya bisa ditunggu” Saya tunjukkan hasil jepretannya.

Setelah memperhatikan pohon tempat monyet melompat, ternyata lumayan jauh dari tempat kami duduk, dia bertanya, “Bagaimana kamu bisa melihat ada monyet di sana?”

“Karena aku menunggu. Ketika otak diberi target, mata minus 16 bukan lagi masalah untuk mendapatkan obyek menarik di luar jangkauan.”

Barangkali tidak terima, lantaran merasa perlengkapannya yang lebih mahal dari motor Xmax dikalahkan oleh kamera prosumer tua yang sembilan tahun lalu saya beli 8 juta, dia langsung beraksi. Tapi, setelah beberapa jepretan, ternyata hasilnya tidak seindah harapan.

Komentar saya pendek saja, “You need emotional content”

Dengan sedikit repot melintasi medan yang lumayan sulit, dia menaiki batu besar untuk mendapatkan posisi bidikan lebih leluasa. Tapi hasilnya malah lebih kacau.

Sayapun berlagak Bruce Lee, “Emotional content, not anger.

Setelah dia berhasil menguasai diri, hasil fotonya jauh lebih bagus ketimbang yang bisa saya dapat. Bagaimanapun, kamera prosumer bukan tandingan EOS R5 Mark II.

Sambil menikmati cemilan bekal, saya menyinggung target resolusi yang menurut dia gagal total. 

“Dengan saldo rekening milyaran, ketika kamu menetapkan hidup tenang sebagai target resolusi, kamu seperti membidik pohon di depan hidung menggunakan lensa tele. Daun-daun dan ranting yang masuk frame tidak punya cerita. Ketika kamu membidik seekor monyet, fotomu punya point of view. Hasil jepretanmu lebih mudah dinikmati.”

“Kamu tidak pengin kembali seperti dulu lagi, hidup mapan, tidak harus memburu receh tiap hari?”

“Tentu pengin. Itu sebabnya aku terus belajar, biar kualitas panen kangkungku tambah bagus dan restoran-restoran istrimu tidak keberatan bayar lebih mahal.”

Dia terdiam sejenak, kemudian bicara sambil meringis. “Jadi menurutmu, targetku terlalu luas?”

“Terlalu kabur. Hidup tenang seperti apa yang kamu inginkan? Bebas dari kewajiban? Tidak punya masalah? Tidak ada yang mengganggu?” 

Saya jeda sebentar. “Kamu mestinya bisa hidup tenang. Pensiun dengan uang berlimpah, bisa jalan-jalan kapan saja, semua hobi mahalmu terfasilitasi. Kalau kamu masih merasa gagal, karena kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kamu cari. Seperti motret tanpa subjek yang jelas. Sekedar jepret-jepret sekenanya.”

Dia menatap kamera di tangannya, kemudian mengangguk pelan. “Awal pensiun aku merasa lega, bisa terbebas dari rutinitas, tapi sekarang aku malah bosan. Setiap hari hanya begitu saja. Monoton.”

Kami kembali mengamati pepohonan di depan, menunggu momen berikutnya. Kali ini dengan kesabaran berbeda.

Kita sering merasa gagal bukan karena keadaan buruk, tapi karena sasaran kita kabur. Tanpa tahu apa yang dicari, dompet tebal terasa kosong, waktu luang terasa bising, dan kamera paling canggih pun tak bisa menangkap apa-apa. 

Begitu targetnya jelas, hidup mendadak punya cerita. Dan sering kali, cerita itu muncul dari tempat yang tidak pernah kita duga.


ulisan lain yang bersesuaian bisa dilihat di Galeri BANGKIT DARI ABU