Diantara berbagai isu serem yang mampir ke telinga saya, ada satu yang harus saya akui sempat membuat saya keder.
Usai letusan tanggal 26 Oktober 2010 saya mendengar isu tentang jalur I (dibaca i, bukan satu) yang bakal menjadi target diterjang lahar dan awan panas manakala Merapi kembali meletus.
Isunya, jalur I adalah jalur prediksi arah luncuran lahar dari puncak yang mengarah langsung ke Kinahrejo setelah Geger Baya, bukit kecil yang selama bertahun-tahun, sebelum runtuh tahun 2006, membentengi kawasan itu dari terjangan awan panas.
Pada letusan tanggal 26 itu jalur I ternyata benar-benar terwujud. Lava dan awan panas meluncur lancar dari puncak, melibas sampai rumah mbah Marijan. Saat hari cerah, dari pinggir sawah di utara rumah, jalur itu nampak sangat jelas, celakanya, juga mengarah ke daerah sekitar rumah.
Sampai disitu saya masih adem ayem. Menurut peta Google, jarak dari puncak Merapi ke rumah saya lumayan jauh, sekitar 30 kilometer. Tapi masalahnya jadi beda setelah tanggal 4 November tengah malam Merapi kembali meletus. Wilayah yang terpapar lahar dan wedhus gembel bukan cuma meluas, tapi juga melorot lurus ke selatan sampai menyentuh separo lapangan golf cangkringan. Di sisi timur sepanjang kali Gendol malah turun lebih jauh lagi sampai jarak 17 kilometer dari puncak.
Kenyataan itu membuat tekanan darah saya njeplak. “Separo jalur menuju rumah lu sudah jadi jalan tol. Duer dua kali lagi, rumah lu kena!”
Sebenarnya saya pengin menghajar orang yang asal ngejeplak itu. Masalahnya, selain gak berani karena orangnya tinggi besar, omongannya juga tidak terlalu salah. Berdasar rekaan yang saya buat di peta Google, jalur I memang mengarah menuju wilayah seputar rumah saya.
Nalar saya sempat kacau, sehingga saya memutuskan membawa anak istri dan kerabat lain ngungsi ke Wonosari.
Setelah ngantar ngungsi saya kembali ke rumah. Selain harus kerja, saya punya kewajiban memberi makan kucing kesayangan anak dan harus patroli, mengawasi rumah saya sendiri dan rumah ayah. Jelas tidak lucu seandainya nanti pulang ngungsi kami mendapati rumah kosong melompong dijarah.
Selama ditinggal ngungsi saya punya kegiatan ekstra, lebih serius memantau perkembangan Merapi. Saya memburu informasi kemanapun bisa saya jangkau, termasuk nyambangi beberapa tempat pengungsian untuk mendengar cerita langsung dari orang-orang yang mengalami. Sampai suatu saat seorang ibu tua memberi wejangan, supaya saya tidak usah terlalu mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi.
“Sedaya namung manut kersane gusti Allah. Menawi gusti ngersake sampeyan slamet, nggih slamet mawon.”
Saya terperangah. Sesungguhnya selain pindah rumah atau pasrah, memang tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mencegah awan panas nyambangi rumah saya. Semua semata-mata memang bergantung pada kehendakNya.
Hari ini saya menerima image citra satelit wilayah terdampak letusan Merapi tanggal 5 November dinihari. Prediksi jalur I seratus persen terbukti. Dan kalau ditarik garis lurus ke selatan, prediksi sayapun kemungkinan besar terjadi. Tapi bodo amatlah, biar Tuhan saja yang menentukan. Pilihan saya cuma pasrah atau pindah rumah. Itu saja. Dan saya memilih tetap tinggal di rumah saya yang sekarang.

0 comments:
Post a Comment