Sendiri di rumah pada H+2 lebaran dengan perut keroncogan sementara kepala nyut-nyutan bukanlah saat yang menyenangkan. Sudah jam 8 lewat, tapi kepala saya masih belum mau diajak kompromi bahkan sekedar buat ke dapur untuk merebus Indomie.
Saya tinggal menekan tombol Ok di telepon seluler untuk menyuruh istri yang sedang kumpul dengan sanak saudara supaya cepat pulang ketika tampang Pepeng tiba-tiba nongol di TV. Semangat Pepeng yang luar biasa dalam menjalani kehidupannya membuat saya urung menyuruh istri pulang.
Saya jadi teringat ketika Pepeng tampil di Kick Andy terakhir kali sambil berbaring di tempat tidur. Konon, untuk mencapai studio, Pepeng harus berjuang melawan sakit yang luar biasa. Tentu Pepeng melakukan semua itu bukan sekedar untuk mendapat imbalan, karena saya yakin imbalan seberapapun tidak pernah layak ditukar dengan rasa sakit.
Bahkan seandainya ada iming-iming jutaan rupiah buat saya, saya yakin tetap tidak akan mampu bangkit dari tempat tidur dengan kepala serasa diinjak-injak Funky Papua kolaborasi bareng Brandon. Jangankan berdiri, baru menggerakkan kepala saja dunia serasa berputar. Jadi, kalau Pepeng mampu sampai studio, pasti punya sesuatu yang istimewa yang membuat dia bisa mengatasi rasa sakitnya.
Melihat wajah pepeng yang ceria saya teringat pak tua yang saya jumpai semalam, ketika saya terjebak macet. Orang tua itu juga ceria meskipun sebenarnya punya alasan untuk memasang wajah kusut. Tapi dia tidak mau dan memilih menikmati dengan sukacita apapun yang datang padanya.
Semalam saya juga sudah mencoba dan merasakan beda antara saat saya masih berkeluh kesah dengan setelah saya menerima dengan lapang dada segala kemacetan, lutut yang cenat-cenut, kepala yang nyut-nyutan dan temperatur mesin mobil yang bolak balik njeplak sebagai kenyataan yang tidak bisa saya hindari.
Lalu, kenapa sekarang saya harus memanggil istri pulang dan merusak kebahagiaan anak semata wayang saya bermain bersama saudara-saudara yang jarang ketemu hanya untuk sakit kepala?
Akhirnya saya memilih menerima saja apapun yang saya rasakan. Saya tutup mata, mengatur nafas sambil baca Al Fatihah. Sekali, dua kali, beberapa kali ………… Ternyata gak mempan. Dunia saya tetap gonjang ganjing dan Funky Papua tetap menari-nari di kepala.
Mungkin sebaiknya saya nonton Pepeng lagi dan tidak usah menggubris kepala saya. Bukankah dipikir atau tidak, kepala itu tidak akan ke mana-mana tanpa seijin saya?
Jadi, saya berhenti berikhtiar. Saya tumpuk bantal supaya bisa nonton TV sambil rebahan, dan saya lupakan keinginan untuk bangun. Kebetulan aqua dan roti sisa semalam saya taruh dekat tempat tidur. Lumayan buat ganjel perut.
Biasanya saya banyak menggerutui tayangan TV. Kali itu saya mencoba menikmati apa saja yang tersaji. Kalaupun bosan, tinggal pindah saluran, cari yang lain, tanpa ngomel. Lalu, ketika akhirnya benar-benar mentok tidak ada pilihan yang cocok, saya bangkit dari tempat tidur, ambil laptop di ruang tengah ………
Lha dalah, saya bisa bangun. Kepala masih senut-senut, tapi saya bisa jalan jejeg.
Sampai naskah ini selesai diedit, saya sudah menjalani lebih dari separo hari H+2 lebaran. Kepala tetap sakit, tapi tidak lebih dari itu. Dan meskipun menu sehari ini full Indomie rebus, yang penting saya tidak kelaparan.
Saya nonton upin ipin, bisa bercanda dengan anak sekalipun hanya by phone, dan banyak hal lain yang sebelumnya sulit saya kerjakan karena tidak ada waktu, hari itu bisa terwujud.
Kalau tidak mengeluh, ternyata ada banyak hal baik bisa saya dapatkan, dan membuat hidup saya menjadi lebih nyaman.
Menjelang tengah malam, sentakan gempa membangunkan saya. Sedikit sempoyongan karena begitu melek langsung bangkit dari tempat tidur mencari posisi aman, tapi badan terasa segar - meskipun lapar.
Setelah kaget berlalu dan selesai menyantap Indomie rebus, saya memutuskan untuk menetapkan H+2 sebagai lebaran Indomie buat saya. Hari kemenangan terhadap keluh kesah yang biasanya selalu mewarnai hidup saya.

0 comments:
Post a Comment