Content

Ketika Saya Belajar Ikhlas



Sudah lima menit berlalu dan mobil saya tidak beranjak barang satu sentipun. Di Jogja, keadaan seperti itu sudah menjadi pertanda kondisi lalulintas didepan jauh lebih parah. Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena di Jogja hampir tidak ada jalur alternatif yang bisa dipakai saat jalur utama macet.

Saya terjebak macet dalam perjalanan pulang pada lebaran H+1 malam. Setelah mengalami beberapa kali macet ringan, saya memutuskan untuk tidak lagi menyiksa dengkul dan mesin mobil. Maka, begitu ada kesempatan, saya langsung memotong jalur, minggir.

Saya berhenti di sebelah kios kaki lima. Setelah mengamankan kendaraan, saya jongkok di situ, beli sebotol aqua dan kue sekedar mengganjal perut yang mulai keroncongan.

Dimana anak istri saya, kok lebaran saya keluyuran sendiri? Mereka lagi kumpul-kumpul bersama sanak saudara. Dan seperti biasa setiap ada aktifitas yang mengharuskan anak istri nginap di manapun – asal masih diseputar Jogja, setiap malam saya selalu pulang ke rumah. Biasanya saya memakai alasan harus memberi makan ikan kesayangan anak saya, tapi yang sebenarnya, saya susah tidur kalau tidak nyungsep di kamar sendiri, dan tidak bisa poep di WC orang lain.

Kira-kira setengah jam disitu, saya mendapat kenalan baru. Orang tua yang sejak tadi mondar mandir menawarkan aqua kepada penumpang mobil yang terjebak macet, beristirahat di sebelah saya. Sebenarnya dia bukan pedagang asongan. Menurut pemilik kios, hanya orang yang sering nongkrong di situ. Tidak ketahuan di mana rumahnya.

- Capek ya mas?

Sebenarnya bukan cuma capek, tapi buangeeeet. Tapi melihat wajah pak tua yang selalu ceria dan tidak nampak lelah meskipun sejak tadi seliweran menawarkan dagangan yang dipinjam dari kios, saya jadi malu untuk mengakuinya.

Pak tua yang nampak segar dan lebih muda dari umurnya – yang menurut pengakuannya sudah lewat 80 tahun, mendapat 100 perak untuk setiap botol yang terjual. Sampai jam tujuh lebih malam itu nampaknya dia sudah menjual cukup banyak. Ketika kemudian hitung-hitungan dengan sang juragan, pak tua menerima 23 ribu. Lalu, uang itu dibagi begitu saja pada anak-anak di sekitar situ.

“Bapak tidak punya siapa-siapa. Istri sudah lama tidak ada, anak, mantu dan cucu meninggal waktu gempa. Keluarga yang lain di luar Jawa. Sekarang anak-anak itu keluarga saya.” Tanpa diminta pak tua itu bercerita. “Tadinya bapak sempat putus asa, lalu jadi gelandangan, keluyuran kesana kemari. Tapi, hidup dari belas kasihan orang ternyata tidak enak. Saya juga tidak ingin yang sudah duluan mati kecewa melihat saya seperti itu. Disamping itu, kalau Tuhan masih mengijinkan saya hidup, pasti bukan hanya untuk meratapi nasib.”


Saya jadi malu. Selama terjebak macet sejak sore tadi, entah sudah berapakali saya menggerutu dan uring-uringan. Bahkan di Prambanan, engkol dongkrak saya nyaris makan dua penumpang mobil lain yang mentang-mentang berdiri di jalan, bolak balik mencegat arus, memaksa membuat jalur sendiri supaya mobilnya tidak terjebak macet.

“Kalau ikhlas, hidup terasa lebih enak.”

Itu kalimat ajaib yang kemudian membuat perjalanan selanjutnya menjadi lebih ringan dibanding sebelumnya, walaupun lalulintas masih tetap macet. Ketika saya tidak menggerutu lagi dan ikhlas bahwa macet adalah macet, yang harus saya lewati karena tidak ada jalur lain menuju rumah, dengkul saya tetap nyut-nyutan, bahkan temperatur mesin mulai njeplak, tapi keadaan menjadi terasa lebih baik.

Jarak kurang lebih 3 km mulai dari tikungan KR sampai putar balik menjelang pertigaan ring road Maguwo saya tempuh hampir 2 jam. Anehnya, saya tidak merasa tersiksa seperti perjalanan sebelumnya. Karena sering berhenti, dengkul saya jadi lebih banyak istrirahat. Laju kendaraan yang hanya merayap membuat saya berani mematikan seluruh lampu, dan ternyata membantu menurunkan temperatur mesin. Tanpa tekanan psikologis, sakit kepala yang mendera sejak sore berangsur berkurang. Lepas macet saya bahkan masih punya tenaga untuk membantu pemudik membongkar ban dan mengantar sampai tukang tambal.

Walaupun sakit kepala saya masih berlanjut sampai keesokan harinya, tapi hari itu bagi saya berakhir dengan indah.




0 comments:

Post a Comment