APAKAH AKU BISA?
Pertanyaan ini sering muncul saat seseorang berniat melakukan sesuatu. Biasanya setelah itu lalu merasa gamang.
Semakin kita fokus pada tujuan, seringkali kesulitan dan rintangan yang semula tidak terbayangkan mulai bermunculan satu per satu.
Lebih dari 25 tahun yang lalu saya juga begitu.
Saya bukan keturunan pengusaha, tidak ada pengetahuan sedikitpun mengenai dunia usaha, ditambah lagi tidak ada restu dari ayah saya – terutama karena nilai rapot saya selalu pas-pasan. Jadi komplet sudah rintangan yang harus saya hadapi ketika saya punya niat untuk belajar berniaga.
Saya tidak gamang lagi. Tembok besar sudah membentang di depan mata. Jadi pilihan saya cuma balik kanan.
Tapi ibu saya bilang, kalau punya niat, kerjakan saja, tidak perlu banyak pertimbangan. Karena saya anak mami, saya turuti nasehat itu, hasilnya ………. gagal.
Nah, betul
Itu kata semua orang, kecuali ibu.
- Jangan pernah berpikir tidak bisa.
Saya percaya ibu saya tidak punya niat buruk, jadi saya turuti lagi nasehatnya.
Gampang ditebak, saya gagal lagi, gagal lagi dannnnn ……. gagal lagi sampai entah berapa kali. Bahkan terakhir bayarannya cukup mahal, saya naik kelas 3 SMA dengan nilai sangat mepet.
Satu-satunya yang membuat saya merasa beruntung adalah karena saat itu ayah saya sedang di luar negeri, jadi saya tidak digantung.
Saya putus asa, tapi ibu bilang, kalau saya menyerah, apapun yang saya lakukan kelak, akan selalu gagal. Saya tidak boleh bermain-main dengan masa depan.
Jadi, saya kerjakan lagi. Kali ini saya dipesan tidak perlu memikirkan apakah nanti akan gagal atau berhasil, pokoknya lakukan saja.
Ajaib, …………........... saya gagal lagi.
Lebih ajaib lagi, kali ini saya malah punya keyakinan, kalau saya tidak berhasil, itu bukan karena saya tidak bisa, tapi karena saya melakukan dengan cara yang keliru.
Saya rasa saat itu saya sudah menjadi setengah tidak waras. Apalagi saya kemudian juga pasang target masuk fakultas teknik, padahal nilai mata pelajaran IPA tertinggi cuma 7, itupun hanya untuk biologi.
Keyakinan positif apapun memang tidak memberi jaminan berhasil, tapi selalu membawa perbaikan.
Kalau kondisi kita menjadi lebih baik, pikiran menjadi tenang, maka tidak ada lagi yang tidak mungkin. Maksud saya, kemungkinan gagal tetap ada, tapi kalau kita berusaha dengan sepenuh hati, kemungkinan berhasil terbuka lebar.
Ini bukan permainan kata, tapi memang begitulah yang terjadi.
Beberapa bulan kemudian bisnis saya mulai lancar, meskipun skalanya masih gurem. Tapi yang penting running well. Saya juga diterima di fakultas teknik. Kali ini tidak ada keajaiban. Semua terjadi karena saya melakukannya dengan sepenuh hati.
Bertahun-tahun kemudian baru saya sadari bahwa kegagalan yang saya alami pada masa-masa awal memang tidak bisa dihindari. Itu seperti anak yang terjatuh saat pertamakali mencoba berdiri. Perkara jatuhnya berulang kali sampai lututnya babak belur, saya rasa itu cuma apes saja. Karena pada akhirnya nanti dia akan berdiri, berjalan lalu berlari.

