Content

Mengeluh Tidak Menyelesaikan masalah

Suatu pagi mendadak gas di rumah saya habis. Jangankan sarapan pagi, air untuk nyeduh teh saja belum siap. Karena masih jam 5, tukang gas juga masih tidur, saya menyiapkan ketel listrik untuk masak air. Tapi ternyata guyonan pagi has just begun. Tanpa permisi listrik langsung mati begitu saja.

Jam 7 dengan penuh percaya diri saya nyambangi kios kelontong di pojok jalan, beli gas. Biasanya jam segitu sudah buka.

Memang buka, tapi tidak ada gas. Tabung biru yang bertumpuk di toko semuanya kosong. Di pintu tergantung tulisan cakar ayam dengan sepidol merah “Gas Habis!!”. Di tiga toko berikutnya juga sama, tidak ada gas.

Dalam perjalanan pulang – masih belum dapat gas, ban mobil ikutan ngajak bercanda. Sobek setelah melindas pecahan gelas.

Mestinya lengkap sudah penderitaan saya pagi itu. Tapi ternyata belum. Dongkrak terlalu tinggi, jadi tidak bisa masuk kolong mobil. Ban serep juga gembos.

Nah, sekarang baru komplet. Kepala saya juga mulai nyut-nyutan. Niat saya mau duduk sebentar, ngaso sambil menenangkan pikiran yang mulai negatif thinking. Tapi tidak bisa. Perut saya mendadak mules.

Setelah “buang sial” di WC pompa bensin yang jaraknya 1 km dari tempat mobil saya ngadat, saya ndheprok di bangku warung angkringan. Keadaan mungkin bisa menjadi lebih buruk, karena pagi itu sebenarnya saya punya janji ketemu customer. Tapi saya tidak perduli lagi. Isi perut saya tidak mbrojol di jalanan itu saja sudah untung, jadi tidak ada alasan lagi bagi saya untuk menggerutu.

Setelah menghabiskan segelas teh yang rasanya ngalor ngidul, pikiran saya menjadi lebih tenang. Lalu saya mulai mikir mencari cara untuk memberesi masalah saya satu persatu.

Tiba-tiba ada teman lewat. Ban serepnya bisa saya pinjam. Setelah itu tiba-tiba ada tukang gas lewat. Berikutnya serentetan kejadian kebetulan muncul silih berganti, sampai akhirnya semua masalah saya pagi itu beres dengan sendirinya. Terakhir, customer saya telepon, minta waktu meeting ditunda.

Tidak semua masalah saya selesai dengan mulus seperti itu. Tidak sedikit yang justru menjadi semakin berantakan. Tapi apapun yang terjadi, ada satu hal yang pasti tidak akan saya lakukan betapapun keadaan menjadi buruk dan kepala saya nyaris meledak: sebisa mungkin saya berusaha tidak mengeluh.

Seringan apapun, bahkan meskipun cuma sekedar aaaahhhhhh …….. keluhan sangat efektif mengacau pikiran, dan kalau pikiran sudah tidak terkontrol, garansi 1000 persen keadaan pasti akan cepat menjadi lebih buruk dan buruk, dan semakin buruk sampai akhirnya membawa kita ke jalan buntu

Masalah tetap akan menjadi masalah betapapun kita mengeluh, menggerutu atau memaki. Jadi, daripada uang tenaga untuk mengacau pikiran, mengapa tidak memanfaatkan tenaga untuk mencari solusinya?

Gas langka, BBM naik, listrik byar pet, customer bawel. So what? Itulah kehidupan yang harus kita jalani. Kalau kita membiarkan diri kita menjadi jengkel oleh segala sesuatu yang berada diluar kontrol kita, lalu kapan kita bisa menikmati hidup? Kapan kita merasa bahagia?

Hidup cuma sekali, kalau kita tidak menikmatinya SEKARANG, mau kapan lagi?




0 comments:

Post a Comment