Sampai saat ini tidak ada yang tahu secara pasti, apa pemicunya. Tahu-tahu semua ambruk begitu saja seperti rumah-rumah yang porak poranda terkena gempa tanggal 27 Mei 2 tahun lalu. Saya shok berat ketika sadar tidak ada lagi yang tersisa dari seluruh aset saya. Tapi saya masih beruntung. Walaupun semuanya ludes, tidak sampai meninggalkan hutang satu rupiahpun. Bahkan menurut hitungan sebenarnya, masih ada piutang yang tersisa. Cuma, orang-orang yang berhutang sudah tidak ketahuan lagi rimbanya. Satu orang ketahuan meninggal jantungan. Yang lain, entah ngumpet atau ditelan bumi, saya tidak tahu.
Diantara sekian banyak orang, tinggal satu yang masih bisa saya temui. Kami melewati masa-masa sulit bersama. Kadang cuma saling diam, lain kali bercanda, tapi adakalanya sampai ribut berantem, saling menyalahkan. Namanya juga lagi stress.
Kios kelontong saya saat itu masih buka, tapi “jeroannya” sudah banyak berkurang, sampai akhirnya pada bulan Desember tahun 98 saya putuskan ditutup. Kalau dihitung-hitung mulai dari pertengahan 96, cukup lama saya bersandiwara dihadapan semua orang, berlagak jadi orang waras, padahal setiap hari pikiran saya semakin kacau saja.
Setelah itu saya sempat nganggur beberapa minggu, sebelum akhirnya berjualan plastik keliling. Terpaksa sih, karena kami berdua sama-sama pengantin baru. Saya menikah bulan Juni 1998, dia 2 bulan kemudian. Gila ya? Bangkrut tapi berani nikah.
Tanpa sadar kalau sesungguhnya sedang bersaing, saya dan teman yang cuma bersisa satu itu kemana-mana selalu bersama. Akibatnya, sehari-hari kami cuma bisa menjual sedikit. Saking sedikitnya, sampai untuk beli makan siangpun tidak ada uang - Kan uangnya buat yang di rumah. Terpaksa setiap siang perut diganjal pakai sebotol besar air putih. Cocok dengan bintang saya, aquarius, si manusia air.
Karena jualan plastik tidak memberi hasil, saya mencari lahan lain. Kebetulan ada teman di Jakarta membutuhkan pasokan beras raja lele. Kami lalu jalan sendiri-sendiri, dan setelah itu tidak pernah ketemu lagi.
20 Desember lalu tepat 10 tahun kios saya tutup. Iseng, saya lewat depan bekas kios. Keadaan sudah jauh berbeda. Bangunan kiosnya berubah menjadi toko, dan jalan didepan menjadi ramai. Alhamdulillah, kehidupan saya juga menjadi lebih baik.
alhamdulilah... seneg dengar cerita yang inspiratif kyak gini... artinya... saya tidak sendiri... semua orang punya permasalahan masing masing tapi yakin.. suatu saat ada jalan keuarnya pak... amiiin
ReplyDeletesetuju pak.......
ReplyDeletesemoga kehidupan menjadi lebih baik seiring doa yang selalu dipancarkan...