• Post 1
  • Post 2
  • Post 3

Tentang Blog Ini

Hai ....... terimakasih sudah berkunjung.

Anda suka film Kung Fu Panda? Jangan bilang kalau belum nonton. Tapi seandainya memang belum, segeralah mencari, barangkali masih ada yang jual VCDnya.

Blog ini tidak ada kaitannya dengan film Kung Fu Panda, Kalaupun terpaksa nyerempet sedikit sebagai pembuka, itu hanya karena saya tidak tahu mesti nulis apa. Kalimat dua paragraf ini saja baru selesai tersusun setelah saya mantheng note book lebih dari tiga jam.

Tidak pernah ada yang gampang buat saya. Termasuk perjalanan hidup saya. Kalau bukan ketemu tanjakan terjal, bisa jadi malah mendapati tembok kokoh yang sulit ditembus. Alhamdulillah, saya memiliki ibu yang sangat pengertian. Berkat bimbingan beliau saya berhasil mengatasi banyak rintangan.

Blog ini saya dedikasikan bagi siapapun, terutama untuk anak-anak yang terpaksa harus meniti jalan terjal.

Sulit seperti apapun keadaan yang harus dihadapi, bukan alasan untuk mengambil jalan pintas. Selalu ada cara untuk keluar dari masalah dan menjalani hidup dengan lebih baik.














Sepenggal Hari-hari Hebohku

Postur tubuh dengan kombinasi wajah yang unik membuat saya harus melalui masa kanak-kanak penuh cemoohan. Ada saja bagian tubuh saya yang bisa dijadikan obyek guyonan.

Saat-saat paling seru saya alami semasa SMP. Salah satu teman saya, Drajad Prasetyo, paling kreatif membidik apapun yang nempel pada diri saya untuk dijadikan bahan olok-olok.

Entah apa yang membuat teman satu ini nampak begitu kecanduan ngerjain saya, seolah dia tidak bisa hidup kalau satu jam saja bibirnya terkatup tanpa nyinyir mengolok-olok ........... (BACA SELANJUTNYA)

Content

Sepenggal Hari-hari Hebohku

“Norak, lu!” salah satu teman tanpa tedeng aling aling, di hadapan banyak orang, mengomentari penampilan saya yang nyaris seadanya di acara ulangtahun ke 17 Nadia.

Saat itu,awal tahun 1979, sedang trend celana cut bray – celana panjang dengan bagian bawah gombrong, sepatu kulit hak tinggi depan belakang, dan rambut gondrong.

Menghadiri pesta ulang tahun menggunakan atribut celana katun jahitan sendiri model basic, kemeja salur lengan panjang digulung sepertiga – karena saya terlalu kurus untuk mengenakan kemeja lengan pendek, sepatu kanvas trepes dan kepala nyaris plontos, membuat penampilan saya di acara “ajeb-ajeb” itu jadi norak bin ndesit.

Sebetulnya saya punya celana gombrong, sepatu jangkung dan segala asesoris trend saat itu. Masalahnya, saat mengenakan atribut trendi itu saya tidak pernah merasa nyaman. Terutama urusan sepatu. Hak setinggi 5 senti rata depan belakang bukan cuma membuat langkah jadi berat dan badan terbungkuk-bungkuk. Manuver saya yang terbiasa pecicilan jadi rawan kepleset.

Disamping itu, badan saya yang kurus, pendek dan telinga japlang memang sering tidak pas kalau ditempeli asesoris macam-macam. Mau dipoles seperti apapun, selalu saja kelihatan wagu dan mengundang komentar miring.

Postur tubuh dengan kombinasi wajah yang unik membuat saya harus melalui masa kanak-kanak penuh cemoohan. Ada saja bagian tubuh saya yang bisa dijadikan obyek guyonan.

Saat-saat paling seru saya alami semasa SMP. Salah satu teman saya, Drajad Prasetyo, paling kreatif membidik apapun yang nempel pada diri saya untuk dijadikan bahan olok-olok.

Entah apa yang membuat teman satu ini nampak begitu kecanduan ngerjain saya, seolah dia tidak bisa hidup kalau satu jam saja bibirnya terkatup tanpa nyinyir mengolok-olok.

Satu lagi teman yang turut andil berperan dalam membentuk karakter saya . Namanya Winaryadi, juga teman sekelas di SMP. Kalau diibaratkan sambel, Drajad adalah sambel yang bisa membuat orang Padang sekalipun mules terberak-berak, sementara Winaryadi adalah sambel yang bisa membuat usus bolong ......... jadinya sami mawon.

Pengalaman seru di SMP tidak datang sekonyong-konyong, karena anatomi badan saya juga tidak berubah secara mendadak. Sejak SD saya sudah langganan jadi bahan bulan-bulanan teman-teman. Bahkan dulunya lebih seru. Selain diolok-olok, saya juga mengalami kekerasan fisik dan kena palak.

Waktu SD paling sering olahraga kasti dan sepak bola. Ada satu teman, Wahyu Widodo, yang getol memanfaatkan pelajaran olahraga untuk menyakiti saya. Tidak perduli menjadi teman satu regu atau sebagai lawan, Wahyu selalu mencari-cari kesempatan melempar atau menendang bola langsung kearah saya dengan keras, meskipun jarak diantara kami hanya sejengkal. Sasarannya kalau bukan dada, ya kepala.

Walaupun di sekolah sering terpaksa nangis, di rumah saya tidak pernah mengadu. Kadang, kalau ketahuan agak bonyok, terpaksa bohong, bilang habis berantem. Padahal waktu itu, mana berani saya berantem? Saking seringnya diembat dan diolok-olok, bahkan memandang mata lawan bicarapun gak punya nyali.

Akibat sering diembatpula, lama-lama kepala saya jadi sering pusing dan pandangan berkunang-kunang tanpa sebab. Sampai kemudian saya menderita tremor – badan, lengan dan telapak tangan, selalu gemetaran. Saat itu baru saya ceritakan semuanya pada ibu.

Bagi saya, ibu adalah superwoman. Belum pernah sekalipun saya mendengar atau melihat ibu berkeluh kesah atau sesambat, apapun yang dihadapi. Jadi saya benar-benar kaget ketika melihat air mata ibu menetes setelah mendengar pengakuan saya.

Saya dipeluk, lamaaaaa. Kepala saya dielus-elus. Sekarang saya sering trenyuh kalau teringat kejadian itu, tapi pada saat itu malah cuma bengong. Barangkali karena otak saya terlanjur kopyor, sampai mati rasa.

Hari-hari dan tahun-tahun berikutnya masih tetap sama. Saya masih menerima perlakuan buruk dari teman-teman. Tapi saya tidak sendiri lagi. Ada ibu yang selalu membangkitkan semangat saya supaya berani menghadapi dan mengatasi apapun masalah yang datang.

Tidak mudah, tapi tidak sesulit sebelumnya.




Jalur I di Merapi



Diantara berbagai isu serem yang mampir ke telinga saya, ada satu yang harus saya akui sempat membuat saya keder.

Usai letusan tanggal 26 Oktober 2010 saya mendengar isu tentang jalur I (dibaca i, bukan satu) yang bakal menjadi target diterjang lahar dan awan panas manakala Merapi kembali meletus.

Isunya, jalur I adalah jalur prediksi arah luncuran lahar dari puncak yang mengarah langsung ke Kinahrejo setelah Geger Baya, bukit kecil yang selama bertahun-tahun, sebelum runtuh tahun 2006, membentengi kawasan itu dari terjangan awan panas.

Pada letusan tanggal 26 itu jalur I ternyata benar-benar terwujud. Lava dan awan panas meluncur lancar dari puncak, melibas sampai rumah mbah Marijan. Saat hari cerah, dari pinggir sawah di utara rumah, jalur itu nampak sangat jelas, celakanya, juga mengarah ke daerah sekitar rumah.

Sampai disitu saya masih adem ayem. Menurut peta Google, jarak dari puncak Merapi ke rumah saya lumayan jauh, sekitar 30 kilometer. Tapi masalahnya jadi beda setelah tanggal 4 November tengah malam Merapi kembali meletus. Wilayah yang terpapar lahar dan wedhus gembel bukan cuma meluas, tapi juga melorot lurus ke selatan sampai menyentuh separo lapangan golf cangkringan. Di sisi timur sepanjang kali Gendol malah turun lebih jauh lagi sampai jarak 17 kilometer dari puncak.

Kenyataan itu membuat tekanan darah saya njeplak. “Separo jalur menuju rumah lu sudah jadi jalan tol. Duer dua kali lagi, rumah lu kena!”

Sebenarnya saya pengin menghajar orang yang asal ngejeplak itu. Masalahnya, selain gak berani karena orangnya tinggi besar, omongannya juga tidak terlalu salah. Berdasar rekaan yang saya buat di peta Google, jalur I memang mengarah menuju wilayah seputar rumah saya.

Nalar saya sempat kacau, sehingga saya memutuskan membawa anak istri dan kerabat lain ngungsi ke Wonosari.

Setelah ngantar ngungsi saya kembali ke rumah. Selain harus kerja, saya punya kewajiban memberi makan kucing kesayangan anak dan harus patroli, mengawasi rumah saya sendiri dan rumah ayah. Jelas tidak lucu seandainya nanti pulang ngungsi kami mendapati rumah kosong melompong dijarah.

Selama ditinggal ngungsi saya punya kegiatan ekstra, lebih serius memantau perkembangan Merapi. Saya memburu informasi kemanapun bisa saya jangkau, termasuk nyambangi beberapa tempat pengungsian untuk mendengar cerita langsung dari orang-orang yang mengalami. Sampai suatu saat seorang ibu tua memberi wejangan, supaya saya tidak usah terlalu mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi.

“Sedaya namung manut kersane gusti Allah. Menawi gusti ngersake sampeyan slamet, nggih slamet mawon.”

Saya terperangah. Sesungguhnya selain pindah rumah atau pasrah, memang tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mencegah awan panas nyambangi rumah saya. Semua semata-mata memang bergantung pada kehendakNya.

Hari ini saya menerima image citra satelit wilayah terdampak letusan Merapi tanggal 5 November dinihari. Prediksi jalur I seratus persen terbukti. Dan kalau ditarik garis lurus ke selatan, prediksi sayapun kemungkinan besar terjadi. Tapi bodo amatlah, biar Tuhan saja yang menentukan. Pilihan saya cuma pasrah atau pindah rumah. Itu saja. Dan saya memilih tetap tinggal di rumah saya yang sekarang.




Lebaran Indomie

Sendiri di rumah pada H+2 lebaran dengan perut keroncogan sementara kepala nyut-nyutan bukanlah saat yang menyenangkan. Sudah jam 8 lewat, tapi kepala saya masih belum mau diajak kompromi bahkan sekedar buat ke dapur untuk merebus Indomie.

Saya tinggal menekan tombol Ok di telepon seluler untuk menyuruh istri yang sedang kumpul dengan sanak saudara supaya cepat pulang ketika tampang Pepeng tiba-tiba nongol di TV. Semangat Pepeng yang luar biasa dalam menjalani kehidupannya membuat saya urung menyuruh istri pulang.

Saya jadi teringat ketika Pepeng tampil di Kick Andy terakhir kali sambil berbaring di tempat tidur. Konon, untuk mencapai studio, Pepeng harus berjuang melawan sakit yang luar biasa. Tentu Pepeng melakukan semua itu bukan sekedar untuk mendapat imbalan, karena saya yakin imbalan seberapapun tidak pernah layak ditukar dengan rasa sakit.

Bahkan seandainya ada iming-iming jutaan rupiah buat saya, saya yakin tetap tidak akan mampu bangkit dari tempat tidur dengan kepala serasa diinjak-injak Funky Papua kolaborasi bareng Brandon. Jangankan berdiri, baru menggerakkan kepala saja dunia serasa berputar. Jadi, kalau Pepeng mampu sampai studio, pasti punya sesuatu yang istimewa yang membuat dia bisa mengatasi rasa sakitnya.

Melihat wajah pepeng yang ceria saya teringat pak tua yang saya jumpai semalam, ketika saya terjebak macet. Orang tua itu juga ceria meskipun sebenarnya punya alasan untuk memasang wajah kusut. Tapi dia tidak mau dan memilih menikmati dengan sukacita apapun yang datang padanya.

Semalam saya juga sudah mencoba dan merasakan beda antara saat saya masih berkeluh kesah dengan setelah saya menerima dengan lapang dada segala kemacetan, lutut yang cenat-cenut, kepala yang nyut-nyutan dan temperatur mesin mobil yang bolak balik njeplak sebagai kenyataan yang tidak bisa saya hindari.

Lalu, kenapa sekarang saya harus memanggil istri pulang dan merusak kebahagiaan anak semata wayang saya bermain bersama saudara-saudara yang jarang ketemu hanya untuk sakit kepala?

Akhirnya saya memilih menerima saja apapun yang saya rasakan. Saya tutup mata, mengatur nafas sambil baca Al Fatihah. Sekali, dua kali, beberapa kali ………… Ternyata gak mempan. Dunia saya tetap gonjang ganjing dan Funky Papua tetap menari-nari di kepala.

Mungkin sebaiknya saya nonton Pepeng lagi dan tidak usah menggubris kepala saya. Bukankah dipikir atau tidak, kepala itu tidak akan ke mana-mana tanpa seijin saya?

Jadi, saya berhenti berikhtiar. Saya tumpuk bantal supaya bisa nonton TV sambil rebahan, dan saya lupakan keinginan untuk bangun. Kebetulan aqua dan roti sisa semalam saya taruh dekat tempat tidur. Lumayan buat ganjel perut.

Biasanya saya banyak menggerutui tayangan TV. Kali itu saya mencoba menikmati apa saja yang tersaji. Kalaupun bosan, tinggal pindah saluran, cari yang lain, tanpa ngomel. Lalu, ketika akhirnya benar-benar mentok tidak ada pilihan yang cocok, saya bangkit dari tempat tidur, ambil laptop di ruang tengah ………

Lha dalah, saya bisa bangun. Kepala masih senut-senut, tapi saya bisa jalan jejeg.

Sampai naskah ini selesai diedit, saya sudah menjalani lebih dari separo hari H+2 lebaran. Kepala tetap sakit, tapi tidak lebih dari itu. Dan meskipun menu sehari ini full Indomie rebus, yang penting saya tidak kelaparan.

Saya nonton upin ipin, bisa bercanda dengan anak sekalipun hanya by phone, dan banyak hal lain yang sebelumnya sulit saya kerjakan karena tidak ada waktu, hari itu bisa terwujud.

Kalau tidak mengeluh, ternyata ada banyak hal baik bisa saya dapatkan, dan membuat hidup saya menjadi lebih nyaman.

Menjelang tengah malam, sentakan gempa membangunkan saya. Sedikit sempoyongan karena begitu melek langsung bangkit dari tempat tidur mencari posisi aman, tapi badan terasa segar - meskipun lapar.

Setelah kaget berlalu dan selesai menyantap Indomie rebus, saya memutuskan untuk menetapkan H+2 sebagai lebaran Indomie buat saya. Hari kemenangan terhadap keluh kesah yang biasanya selalu mewarnai hidup saya.





Ketika Saya Belajar Ikhlas



Sudah lima menit berlalu dan mobil saya tidak beranjak barang satu sentipun. Di Jogja, keadaan seperti itu sudah menjadi pertanda kondisi lalulintas didepan jauh lebih parah. Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena di Jogja hampir tidak ada jalur alternatif yang bisa dipakai saat jalur utama macet.

Saya terjebak macet dalam perjalanan pulang pada lebaran H+1 malam. Setelah mengalami beberapa kali macet ringan, saya memutuskan untuk tidak lagi menyiksa dengkul dan mesin mobil. Maka, begitu ada kesempatan, saya langsung memotong jalur, minggir.

Saya berhenti di sebelah kios kaki lima. Setelah mengamankan kendaraan, saya jongkok di situ, beli sebotol aqua dan kue sekedar mengganjal perut yang mulai keroncongan.

Dimana anak istri saya, kok lebaran saya keluyuran sendiri? Mereka lagi kumpul-kumpul bersama sanak saudara. Dan seperti biasa setiap ada aktifitas yang mengharuskan anak istri nginap di manapun – asal masih diseputar Jogja, setiap malam saya selalu pulang ke rumah. Biasanya saya memakai alasan harus memberi makan ikan kesayangan anak saya, tapi yang sebenarnya, saya susah tidur kalau tidak nyungsep di kamar sendiri, dan tidak bisa poep di WC orang lain.

Kira-kira setengah jam disitu, saya mendapat kenalan baru. Orang tua yang sejak tadi mondar mandir menawarkan aqua kepada penumpang mobil yang terjebak macet, beristirahat di sebelah saya. Sebenarnya dia bukan pedagang asongan. Menurut pemilik kios, hanya orang yang sering nongkrong di situ. Tidak ketahuan di mana rumahnya.

- Capek ya mas?

Sebenarnya bukan cuma capek, tapi buangeeeet. Tapi melihat wajah pak tua yang selalu ceria dan tidak nampak lelah meskipun sejak tadi seliweran menawarkan dagangan yang dipinjam dari kios, saya jadi malu untuk mengakuinya.

Pak tua yang nampak segar dan lebih muda dari umurnya – yang menurut pengakuannya sudah lewat 80 tahun, mendapat 100 perak untuk setiap botol yang terjual. Sampai jam tujuh lebih malam itu nampaknya dia sudah menjual cukup banyak. Ketika kemudian hitung-hitungan dengan sang juragan, pak tua menerima 23 ribu. Lalu, uang itu dibagi begitu saja pada anak-anak di sekitar situ.

“Bapak tidak punya siapa-siapa. Istri sudah lama tidak ada, anak, mantu dan cucu meninggal waktu gempa. Keluarga yang lain di luar Jawa. Sekarang anak-anak itu keluarga saya.” Tanpa diminta pak tua itu bercerita. “Tadinya bapak sempat putus asa, lalu jadi gelandangan, keluyuran kesana kemari. Tapi, hidup dari belas kasihan orang ternyata tidak enak. Saya juga tidak ingin yang sudah duluan mati kecewa melihat saya seperti itu. Disamping itu, kalau Tuhan masih mengijinkan saya hidup, pasti bukan hanya untuk meratapi nasib.”


Saya jadi malu. Selama terjebak macet sejak sore tadi, entah sudah berapakali saya menggerutu dan uring-uringan. Bahkan di Prambanan, engkol dongkrak saya nyaris makan dua penumpang mobil lain yang mentang-mentang berdiri di jalan, bolak balik mencegat arus, memaksa membuat jalur sendiri supaya mobilnya tidak terjebak macet.

“Kalau ikhlas, hidup terasa lebih enak.”

Itu kalimat ajaib yang kemudian membuat perjalanan selanjutnya menjadi lebih ringan dibanding sebelumnya, walaupun lalulintas masih tetap macet. Ketika saya tidak menggerutu lagi dan ikhlas bahwa macet adalah macet, yang harus saya lewati karena tidak ada jalur lain menuju rumah, dengkul saya tetap nyut-nyutan, bahkan temperatur mesin mulai njeplak, tapi keadaan menjadi terasa lebih baik.

Jarak kurang lebih 3 km mulai dari tikungan KR sampai putar balik menjelang pertigaan ring road Maguwo saya tempuh hampir 2 jam. Anehnya, saya tidak merasa tersiksa seperti perjalanan sebelumnya. Karena sering berhenti, dengkul saya jadi lebih banyak istrirahat. Laju kendaraan yang hanya merayap membuat saya berani mematikan seluruh lampu, dan ternyata membantu menurunkan temperatur mesin. Tanpa tekanan psikologis, sakit kepala yang mendera sejak sore berangsur berkurang. Lepas macet saya bahkan masih punya tenaga untuk membantu pemudik membongkar ban dan mengantar sampai tukang tambal.

Walaupun sakit kepala saya masih berlanjut sampai keesokan harinya, tapi hari itu bagi saya berakhir dengan indah.




JANGAN PERNAH BERPIKIR "TIDAKBISA"



APAKAH AKU BISA?

Pertanyaan ini sering muncul saat seseorang berniat melakukan sesuatu. Biasanya setelah itu lalu merasa gamang.

Semakin kita fokus pada tujuan, seringkali kesulitan dan rintangan yang semula tidak terbayangkan mulai bermunculan satu per satu.

Lebih dari 25 tahun yang lalu saya juga begitu.

Saya bukan keturunan pengusaha, tidak ada pengetahuan sedikitpun mengenai dunia usaha, ditambah lagi tidak ada restu dari ayah saya – terutama karena nilai rapot saya selalu pas-pasan. Jadi komplet sudah rintangan yang harus saya hadapi ketika saya punya niat untuk belajar berniaga.

Saya tidak gamang lagi. Tembok besar sudah membentang di depan mata. Jadi pilihan saya cuma balik kanan.

Tapi ibu saya bilang, kalau punya niat, kerjakan saja, tidak perlu banyak pertimbangan. Karena saya anak mami, saya turuti nasehat itu, hasilnya ………. gagal.

Nah, betul kan, tidak bisa!

Itu kata semua orang, kecuali ibu.

- Jangan pernah berpikir tidak bisa.

Saya percaya ibu saya tidak punya niat buruk, jadi saya turuti lagi nasehatnya.

Gampang ditebak, saya gagal lagi, gagal lagi dannnnn ……. gagal lagi sampai entah berapa kali. Bahkan terakhir bayarannya cukup mahal, saya naik kelas 3 SMA dengan nilai sangat mepet.

Satu-satunya yang membuat saya merasa beruntung adalah karena saat itu ayah saya sedang di luar negeri, jadi saya tidak digantung.

Saya putus asa, tapi ibu bilang, kalau saya menyerah, apapun yang saya lakukan kelak, akan selalu gagal. Saya tidak boleh bermain-main dengan masa depan.

Jadi, saya kerjakan lagi. Kali ini saya dipesan tidak perlu memikirkan apakah nanti akan gagal atau berhasil, pokoknya lakukan saja.


Ajaib, …………........... saya gagal lagi.


Lebih ajaib lagi, kali ini saya malah punya keyakinan, kalau saya tidak berhasil, itu bukan karena saya tidak bisa, tapi karena saya melakukan dengan cara yang keliru.

Saya rasa saat itu saya sudah menjadi setengah tidak waras. Apalagi saya kemudian juga pasang target masuk fakultas teknik, padahal nilai mata pelajaran IPA tertinggi cuma 7, itupun hanya untuk biologi.

Keyakinan positif apapun memang tidak memberi jaminan berhasil, tapi selalu membawa perbaikan.

Kalau kondisi kita menjadi lebih baik, pikiran menjadi tenang, maka tidak ada lagi yang tidak mungkin. Maksud saya, kemungkinan gagal tetap ada, tapi kalau kita berusaha dengan sepenuh hati, kemungkinan berhasil terbuka lebar.

Ini bukan permainan kata, tapi memang begitulah yang terjadi.

Beberapa bulan kemudian bisnis saya mulai lancar, meskipun skalanya masih gurem. Tapi yang penting running well. Saya juga diterima di fakultas teknik. Kali ini tidak ada keajaiban. Semua terjadi karena saya melakukannya dengan sepenuh hati.

Bertahun-tahun kemudian baru saya sadari bahwa kegagalan yang saya alami pada masa-masa awal memang tidak bisa dihindari. Itu seperti anak yang terjatuh saat pertamakali mencoba berdiri. Perkara jatuhnya berulang kali sampai lututnya babak belur, saya rasa itu cuma apes saja. Karena pada akhirnya nanti dia akan berdiri, berjalan lalu berlari.




It's a Long Road

Semasa berniaga sarang burung walet, saya sering melakukan perjalanan luar kota. Rute saya Yogya, Wonosari, Sumpyuh, Yogya, Gresik, Trenggalek, Yogya, Semarang, Cirebon, Jakarta PP. Sebulan menempuh 2 trip, rutin, membuat perjalanan itu cukup membosankan. Bahkan saat saya mendapat keuntungan besar. Apalagi kalau hasilnya cuma mepet.

Tapi ketika saya mulai menikmati setiap jengkal, perjalanan membosankan itu justru kemudian membuat saya menjadi ketagihan. Kalau semula saya khawatir menjadi tua di jalan, setelah itu bahkan saya bisa menikmati setiap perjalanan sebagai bagian dari hidup saya.

Perjalanan itu memberi saya pelajaran bahwa sukses itu hanya kondisi sesaat. Sekedar batu pijakan untuk meraih sukses berikutnya. Setelah satu sukses tercapai kita harus berusaha lagi, kadang lebih keras, karena segera setelah itu akan muncul masalah lagi. Begitu seterusnya berulang-ulang.

Satu-satunya cara supaya saya bisa menikmati sukses lebih lama adalah dengan menikmati seluruh rangkaian perjalanan. Jadi ketika perjalanan itu menjadi sangat panjaaaaaaaang …….. dan sukses tidak kunjung datang, saya tidak kehilangan moment indah hanya gara-gara belum sukses.




Mengeluh Tidak Menyelesaikan masalah

Suatu pagi mendadak gas di rumah saya habis. Jangankan sarapan pagi, air untuk nyeduh teh saja belum siap. Karena masih jam 5, tukang gas juga masih tidur, saya menyiapkan ketel listrik untuk masak air. Tapi ternyata guyonan pagi has just begun. Tanpa permisi listrik langsung mati begitu saja.

Jam 7 dengan penuh percaya diri saya nyambangi kios kelontong di pojok jalan, beli gas. Biasanya jam segitu sudah buka.

Memang buka, tapi tidak ada gas. Tabung biru yang bertumpuk di toko semuanya kosong. Di pintu tergantung tulisan cakar ayam dengan sepidol merah “Gas Habis!!”. Di tiga toko berikutnya juga sama, tidak ada gas.

Dalam perjalanan pulang – masih belum dapat gas, ban mobil ikutan ngajak bercanda. Sobek setelah melindas pecahan gelas.

Mestinya lengkap sudah penderitaan saya pagi itu. Tapi ternyata belum. Dongkrak terlalu tinggi, jadi tidak bisa masuk kolong mobil. Ban serep juga gembos.

Nah, sekarang baru komplet. Kepala saya juga mulai nyut-nyutan. Niat saya mau duduk sebentar, ngaso sambil menenangkan pikiran yang mulai negatif thinking. Tapi tidak bisa. Perut saya mendadak mules.

Setelah “buang sial” di WC pompa bensin yang jaraknya 1 km dari tempat mobil saya ngadat, saya ndheprok di bangku warung angkringan. Keadaan mungkin bisa menjadi lebih buruk, karena pagi itu sebenarnya saya punya janji ketemu customer. Tapi saya tidak perduli lagi. Isi perut saya tidak mbrojol di jalanan itu saja sudah untung, jadi tidak ada alasan lagi bagi saya untuk menggerutu.

Setelah menghabiskan segelas teh yang rasanya ngalor ngidul, pikiran saya menjadi lebih tenang. Lalu saya mulai mikir mencari cara untuk memberesi masalah saya satu persatu.

Tiba-tiba ada teman lewat. Ban serepnya bisa saya pinjam. Setelah itu tiba-tiba ada tukang gas lewat. Berikutnya serentetan kejadian kebetulan muncul silih berganti, sampai akhirnya semua masalah saya pagi itu beres dengan sendirinya. Terakhir, customer saya telepon, minta waktu meeting ditunda.

Tidak semua masalah saya selesai dengan mulus seperti itu. Tidak sedikit yang justru menjadi semakin berantakan. Tapi apapun yang terjadi, ada satu hal yang pasti tidak akan saya lakukan betapapun keadaan menjadi buruk dan kepala saya nyaris meledak: sebisa mungkin saya berusaha tidak mengeluh.

Seringan apapun, bahkan meskipun cuma sekedar aaaahhhhhh …….. keluhan sangat efektif mengacau pikiran, dan kalau pikiran sudah tidak terkontrol, garansi 1000 persen keadaan pasti akan cepat menjadi lebih buruk dan buruk, dan semakin buruk sampai akhirnya membawa kita ke jalan buntu

Masalah tetap akan menjadi masalah betapapun kita mengeluh, menggerutu atau memaki. Jadi, daripada uang tenaga untuk mengacau pikiran, mengapa tidak memanfaatkan tenaga untuk mencari solusinya?

Gas langka, BBM naik, listrik byar pet, customer bawel. So what? Itulah kehidupan yang harus kita jalani. Kalau kita membiarkan diri kita menjadi jengkel oleh segala sesuatu yang berada diluar kontrol kita, lalu kapan kita bisa menikmati hidup? Kapan kita merasa bahagia?

Hidup cuma sekali, kalau kita tidak menikmatinya SEKARANG, mau kapan lagi?