Saat itu,awal tahun 1979, sedang trend celana cut bray – celana panjang dengan bagian bawah gombrong, sepatu kulit hak tinggi depan belakang, dan rambut gondrong.
Menghadiri pesta ulang tahun menggunakan atribut celana katun jahitan sendiri model basic, kemeja salur lengan panjang digulung sepertiga – karena saya terlalu kurus untuk mengenakan kemeja lengan pendek, sepatu kanvas trepes dan kepala nyaris plontos, membuat penampilan saya di acara “ajeb-ajeb” itu jadi norak bin ndesit.
Sebetulnya saya punya celana gombrong, sepatu jangkung dan segala asesoris trend saat itu. Masalahnya, saat mengenakan atribut trendi itu saya tidak pernah merasa nyaman. Terutama urusan sepatu. Hak setinggi 5 senti rata depan belakang bukan cuma membuat langkah jadi berat dan badan terbungkuk-bungkuk. Manuver saya yang terbiasa pecicilan jadi rawan kepleset.
Disamping itu, badan saya yang kurus, pendek dan telinga japlang memang sering tidak pas kalau ditempeli asesoris macam-macam. Mau dipoles seperti apapun, selalu saja kelihatan wagu dan mengundang komentar miring.
Postur tubuh dengan kombinasi wajah yang unik membuat saya harus melalui masa kanak-kanak penuh cemoohan. Ada saja bagian tubuh saya yang bisa dijadikan obyek guyonan.
Saat-saat paling seru saya alami semasa SMP. Salah satu teman saya, Drajad Prasetyo, paling kreatif membidik apapun yang nempel pada diri saya untuk dijadikan bahan olok-olok.
Entah apa yang membuat teman satu ini nampak begitu kecanduan ngerjain saya, seolah dia tidak bisa hidup kalau satu jam saja bibirnya terkatup tanpa nyinyir mengolok-olok.
Satu lagi teman yang turut andil berperan dalam membentuk karakter saya . Namanya Winaryadi, juga teman sekelas di SMP. Kalau diibaratkan sambel, Drajad adalah sambel yang bisa membuat orang Padang sekalipun mules terberak-berak, sementara Winaryadi adalah sambel yang bisa membuat usus bolong ......... jadinya sami mawon.
Pengalaman seru di SMP tidak datang sekonyong-konyong, karena anatomi badan saya juga tidak berubah secara mendadak. Sejak SD saya sudah langganan jadi bahan bulan-bulanan teman-teman. Bahkan dulunya lebih seru. Selain diolok-olok, saya juga mengalami kekerasan fisik dan kena palak.
Waktu SD paling sering olahraga kasti dan sepak bola. Ada satu teman, Wahyu Widodo, yang getol memanfaatkan pelajaran olahraga untuk menyakiti saya. Tidak perduli menjadi teman satu regu atau sebagai lawan, Wahyu selalu mencari-cari kesempatan melempar atau menendang bola langsung kearah saya dengan keras, meskipun jarak diantara kami hanya sejengkal. Sasarannya kalau bukan dada, ya kepala.
Walaupun di sekolah sering terpaksa nangis, di rumah saya tidak pernah mengadu. Kadang, kalau ketahuan agak bonyok, terpaksa bohong, bilang habis berantem. Padahal waktu itu, mana berani saya berantem? Saking seringnya diembat dan diolok-olok, bahkan memandang mata lawan bicarapun gak punya nyali.
Akibat sering diembatpula, lama-lama kepala saya jadi sering pusing dan pandangan berkunang-kunang tanpa sebab. Sampai kemudian saya menderita tremor – badan, lengan dan telapak tangan, selalu gemetaran. Saat itu baru saya ceritakan semuanya pada ibu.
Bagi saya, ibu adalah superwoman. Belum pernah sekalipun saya mendengar atau melihat ibu berkeluh kesah atau sesambat, apapun yang dihadapi. Jadi saya benar-benar kaget ketika melihat air mata ibu menetes setelah mendengar pengakuan saya.




